Chapter Thirteen
Bab 13: Meja Digeser
POV: Alesha
Kenzo membawakan bakso.
Aku ingin mencatat bahwa dia melakukannya dengan cara paling buruk yang mungkin, dan bahwa itu berhasil justru karena buruknya.
Senin pagi, sebelum bel, kelas setengah penuh. Kenzo masuk membawa satu kantong plastik yang jelas-jelas berisi mangkuk styrofoam, jalan lurus ke baris dua, dan menaruhnya di meja Callys dengan bunyi keras.
“Ini,” katanya.
Callys menatap kantong itu.
“Apa ini.”
“Bakso.”
“Aku nggak minta.”
“Ya emang.” Kenzo memasukkan tangan ke saku. “Yang kemarin aku makan punya kamu.”
“Itu udah tiga hari yang lalu.”
“Iya, makanya aku ganti.”
“Jam setengah tujuh pagi.”
“Warungnya buka jam enam.”
“KENZO.”
“Ya udah nggak usah dimakan!” Dia mengangkat tangan. “Aku cuma nggak mau punya utang bakso sama orang.”
Dia berbalik, jalan tiga langkah, lalu berhenti dan berbalik lagi.
“Dan maaf soal yang kemarin,” katanya, cepat, seperti orang membaca daftar belanja. “Yang di kelas. Yang bikin kamu nangis. Aku nggak sengaja. Maksudku aku sengaja yang di kantin tapi nggak sengaja yang di kelas. Yang di kantin aku juga minta maaf tapi setengah aja karena kamu emang nyebelin. Udah gitu doang.”
Dan dia jalan ke bangkunya sambil menggosok tengkuknya.
Callys duduk di baris dua sambil menatap kantong plastik itu selama hampir satu menit.
Lalu dia membukanya.
Dia makan bakso itu jam setengah tujuh pagi di kelas, dengan wajah orang yang sedang sangat, sangat kesal, dan dia menghabiskannya.
Dari sudut kanan belakang, Kenzo menoleh ke arahku dan mengacungkan dua jempol dengan wajah paling puas sedunia.
Aku menggeleng.
Jovan, tanpa mengangkat kepala dari bukunya, berkata:
“Bego.”
“KENAPA?”
“Kamu nggak nanya dia suka bakso apa nggak.”
“...Oh.”
“Dia suka soto.”
“KENAPA LO NGGAK BILANG.”
“Kamu nggak nanya.”
Yang menggeser meja pertama kali adalah Jovan.
Dan itu penting, karena kalau Kenzo yang melakukannya, itu akan jadi pertunjukan. Kalau Jovan yang melakukannya, itu jadi fakta.
Hari Selasa, jam istirahat pertama. Kelas hampir kosong.
Jovan berdiri, mengangkat mejanya — betul-betul mengangkat, bukan menyeret — jalan enam langkah ke sudut kanan belakang, dan menaruhnya menempel dengan meja Arga.
Lalu dia kembali, mengambil kursinya, dan duduk.
Dia tidak mengatakan apa-apa.
Arga mengangkat wajahnya.
“Van.”
“Hm.”
“Ngapain.”
“Duduk.”
“Di situ ada kursi kamu.”
“Sekarang di sini.”
Dan Jovan membuka bukunya dan mulai membaca dan itu selesai.
Kenzo masuk tiga menit kemudian, berhenti di pintu, melihat konfigurasi baru itu, dan berkata dengan volume yang tidak perlu:
“LOH.”
“Zo.”
“KENAPA MEJANYA—”
“Zo.”
“Van, kok kamu duluan? Aku yang biasanya—”
“Kamu kelamaan mikir.”
“AKU NGGAK MIKIR.”
“Aku tau.”
Kenzo mengangkat mejanya sendiri dan menaruhnya di sisi lain, dan sekarang ada tiga meja menempel di sudut kanan belakang kelas sebelas tiga.
Empat orang.
Dan tiga meja di sekitarnya yang, selama tiga tahun, selalu digeser sepuluh sampai lima belas sentimeter menjauh.
Aku memperhatikan Arga sepanjang jam istirahat itu.
Dia tidak bicara banyak. Dia tidak protes. Dia tidak menyuruh mereka memindahkan meja kembali.
Tapi dia terus memeriksa pintu.
Setiap kali ada yang lewat koridor, matanya bergerak. Setiap kali ada yang masuk kelas, dia berhenti mengunyah.
Aku menyenggol lututnya di bawah meja.
“Ga.”
“Hm.”
“Nggak ada yang motret.”
Dia tidak menjawab.
Tapi dia berhenti melihat ke pintu setelah itu, atau setidaknya dia berhenti melakukannya dengan cara yang bisa kulihat.
Callys bertahan tiga hari.
Aku tahu persis kapan pertahanannya jatuh, karena aku sedang melihat.
Hari Kamis, jam istirahat kedua. Empat meja di sudut kanan belakang — Jovan sudah menambah satu lagi untuk menaruh minuman, karena menurutnya “mejanya kurang.” Kenzo sedang menceritakan sesuatu yang panjang dan tidak masuk akal tentang tetangganya. Jovan mengoreksi tiga detail sepanjang cerita itu, semuanya benar, semuanya menghancurkan alur cerita Kenzo.
Dan aku tertawa.
Aku tertawa cukup keras, dan Arga — yang duduk di sebelahku, yang sedang membelah kue jadi empat bagian dengan presisi yang tidak masuk akal — menoleh ke arahku, dan dia tersenyum.
Bukan senyum yang jelas. Setengah sentimeter, di satu sudut bibirnya.
Tapi senyum.
Dan aku menoleh ke depan, dan Callys sedang melihat.
Dari baris dua, berbalik penuh di kursinya, dengan pulpen masih di tangan.
Kami saling menatap selama mungkin tiga detik.
Lalu dia berbalik ke depan.
Dan lima menit sebelum bel, dia berdiri, mengangkat tasnya, jalan ke belakang, dan menaruh tasnya di kursi kosong yang menempel dengan mejaku.
Dia tidak duduk. Dia tetap berdiri.
“Aku nggak pindah,” katanya.
“Oke,” kataku.
“Aku cuma naruh tas.”
“Oke.”
“Karena laci depan aku penuh.”
“Oke.”
“Berhenti bilang oke.”
“Oke.”
Callys mengeluarkan suara yang mirip geraman.
Kenzo, dari seberang meja, membuka mulut.
Dan Jovan menendang kursinya di bawah meja tanpa mengangkat kepala.
Kenzo menutup mulutnya lagi.
Dan aku ingin mencatat, untuk keperluan sejarah, bahwa itu adalah tindakan paling bijaksana yang pernah dilakukan Jovan Arsakha sepanjang hidupnya.
Dira pindah hari Jumat, dan Dira tidak berpura-pura.
Dia mengangkat kursinya, jalan ke belakang, menaruhnya di sebelah Callys, dan duduk.
“Aku sendirian di depan,” katanya. “Nggak enak.”
Dan itu saja.
Enam orang.
Lima meja, digabung jadi satu bentuk yang tidak beraturan, di sudut kanan belakang kelas sebelas tiga.
Aku ingat memandanginya dari pintu waktu aku kembali dari toilet, dan aku ingat berpikir bahwa dari luar, bentuknya kelihatan seperti pulau.
Dan aku ingat satu hal lagi, yang baru kusadari maknanya jauh kemudian.
Meja-meja di sekelilingnya tidak bergeser balik.
Selama tiga tahun, meja-meja di sekitar sudut itu selalu miring sepuluh sampai lima belas sentimeter menjauh. Aku sudah melihatnya di hari pertama, dari ambang pintu, waktu aku mengira itu cuma kebetulan.
Sekarang jaraknya sama.
Tapi bukan karena mereka bergeser mendekat.
Karena kami yang jadi lebih besar.
Minggu pertama, ketegangannya bisa dipotong pakai pisau.
Callys tidak bicara ke Arga. Sama sekali. Dia bicara ke aku, ke Dira, dan — dengan sangat terpaksa, dan selalu dalam bentuk hinaan — ke Kenzo.
Arga tidak bicara ke Callys.
Dan Arga, aku perhatikan, mulai melakukan sesuatu yang membuatku ingin memukulnya.
Dia mulai datang terlambat ke meja itu.
Bukan terlambat ke kelas — dia tidak pernah terlambat ke kelas. Tapi waktu istirahat, dia berdiri dan pergi ke tangga belakang sendirian, dan baru kembali lima menit sebelum bel.
Hari kedua, aku menyusul.
“Kenapa kamu di sini?”
“Nggak apa-apa.”
“Arganta.”
“Mereka lebih enak kalau aku nggak ada.”
“Itu meja kamu.”
“Itu meja mereka.” Dia membuka kotak makannya. “Aku cuma kebetulan duduk di sudut itu duluan.”
Aku duduk di anak tangga ketiga.
“Kamu tau nggak,” kataku, “kamu tuh punya satu kebiasaan yang paling nyebelin sedunia?”
“Apa.”
“Kamu selalu ngasih ruang ke orang yang nggak minta ruang.”
Dia tidak menjawab.
“Callys nggak pindah ke belakang buat kamu pergi.”
“Aku tau.”
“Terus?”
“Terus aku tetep nggak mau di situ waktu dia harus belajar duduk di situ.”
Dan aku membuka mulut untuk membantah, dan aku menutupnya lagi, karena — sialnya — itu masuk akal.
“Ya udah,” kataku. “Tapi aku ikut.”
“Alesha—”
“Aku ikut.”
“Nanti mereka—”
“Ga.” Aku bersandar ke pegangan tangga. “Kalau kamu bilang ‘nanti mereka’ sekali lagi hari ini, aku bakal duduk di pangkuan kamu.”
Dan dia tersedak.
Betul-betul tersedak, dengan nasi, dan batuk selama sepuluh detik, dan aku harus menepuk punggungnya, dan waktu dia berhenti batuk dia bilang dengan suara serak:
“Kamu udah pernah ngomong itu.”
“Iya.”
“Kamu selalu ngomong itu.”
“Iya.”
“Kamu nggak akan beneran ngelakuin.”
Aku menoleh.
Aku menatapnya.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Dan dia menutup kotak makannya, berdiri, dan berkata “ayo balik ke kelas” dengan suara yang naik satu oktaf penuh.
Ada satu hal yang terjadi di minggu kedua yang tidak dilihat siapa pun kecuali aku.
Hari Selasa, jam pelajaran keempat. Kelas sedang mengerjakan soal. Sunyi.
Dan Callys, dari kursinya di seberang meja, mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menaruhnya di tengah meja tanpa mengatakan apa pun.
Sebungkus permen. Yang murah, yang isinya dua puluh, yang biasa dijual di kantin.
Dia tidak melihat ke arah siapa pun. Dia mendorongnya ke tengah, dan kembali mengerjakan soalnya.
Kenzo mengambil dua. Dira mengambil satu. Jovan mengambil satu tanpa mengangkat kepala. Aku mengambil satu.
Dan bungkus itu berhenti di situ, dengan lima belas permen tersisa, di tengah meja.
Aku menunggu.
Arga tidak mengambil.
Sepuluh menit. Lima belas.
Dan waktu bel berbunyi dan semua orang berdiri, Callys mengambil bungkus itu, mengeluarkan satu permen, dan menaruhnya di sudut meja Arga.
Bukan di tengah. Di sudut mejanya. Di wilayahnya.
Lalu dia menyampirkan tasnya dan keluar tanpa menoleh.
Arga menatap permen itu.
Dia menatapnya cukup lama sampai kelas hampir kosong.
Lalu dia mengambilnya, dan memasukkannya ke saku.
Bukan dimakan.
Ke saku yang sama dengan bungkus bakwan, dan kertas dari Reyhan, dan entah apa lagi yang sudah dia simpan di sana selama bertahun-tahun.
Aku tidak mengatakan apa-apa soal itu. Tidak ke dia, tidak ke Callys, tidak ke siapa pun.
Ada hal-hal yang kalau kamu sebutkan, orangnya akan berhenti melakukannya.
Yang memecahkan es bukan aku, bukan Kenzo, dan bukan Callys.
Hari Rabu minggu kedua, Dira menjatuhkan botol minumnya.
Botol logam, penuh, jatuh dari meja ke lantai dengan bunyi yang membuat separuh kelas melompat, dan menggelinding ke bawah meja Arga.
Arga membungkuk, mengambilnya, dan menyodorkannya kembali.
Dan Dira — yang sepanjang dua minggu ini paling sedikit bicara di meja itu — berkata:
“Makasih.”
Lalu, sebelum siapa pun sempat melanjutkan:
“Aku cuma mikir aja.”
Semua orang berhenti.
“Mikir apa?” tanya Kenzo.
Dira memutar botolnya di tangan.
“Kalau kita semua di meja ini,” katanya, pelan, ke arah botolnya, “kenapa yang satu masih dianggap tamu?”
Hening.
Callys menoleh tajam. “Dira.”
“Aku cuma mikir.”
“Kamu selalu cuma mikir.”
“Iya.” Dira mengangkat wajahnya. “Tapi biasanya aku bener.”
Dan Callys membuka mulut untuk membalas, dan tidak ada yang keluar, dan dia menutupnya lagi.
Kenzo, dengan timing terburuk yang pernah ada, berkata:
“Nah kan.”
“KENZO.”
“APA.”
“KAMU DIEM.”
“Aku cuma—”
“DIEM.”
“Ya elah, aku setuju sama kamu sekali doang—”
“KAMU NGGAK SETUJU SAMA AKU, KAMU SETUJU SAMA DIRA—”
“SAMA AJA—”
“NGGAK SAMA.”
Dan mereka bertengkar selama enam menit penuh tentang apakah setuju dengan orang yang setuju dengan orang lain sama dengan setuju dengan orang itu, dan pertengkaran itu berpindah ke topik apakah Kenzo pernah setuju dengan Callys sebelumnya, lalu ke topik siapa yang lebih sering benar, lalu ke topik bakso versus soto.
Dan di tengah semua itu, aku menoleh ke sebelah kiriku.
Arga sedang menonton mereka.
Dan wajahnya — untuk pertama kalinya sejak aku duduk di kursi itu — bukan wajah orang yang sedang memeriksa pintu.
Wajah orang yang sedang menonton.
Aku menyenggol lututnya di bawah meja.
Dia menoleh.
“Apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu ngeliatin lagi.”
“Boleh?”
Jeda.
“...Boleh.”
Dan di bawah meja, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun, dia menggeser tangannya dua sentimeter ke arahku.
Cuma dua sentimeter.
Aku menggenggamnya.
Di seberang meja, Kenzo sedang berteriak bahwa soto itu bukan makanan tapi minuman, dan Callys sedang berdiri, dan Dira sedang meminum air dengan sangat tenang, dan Jovan sedang menulis sesuatu di bukunya yang belakangan ternyata adalah catatan skor pertengkaran mereka.
Dan tidak ada satu orang pun yang melihat.
Dan itu, hari itu, adalah bentuk kebahagiaan paling utuh yang pernah kurasakan sampai saat itu.
Pulangnya, Callys menungguku di gerbang.
Sendirian. Tanpa Dira.
Kami jalan ke halte tanpa bicara selama satu blok penuh.
Lalu dia berkata, ke arah trotoar:
“Aku baca kertas kamu.”
“Aku tau.”
“Kenapa kamu tau?”
“Karena kertasnya nggak ada di meja kamu waktu jam kedua.”
Callys mendengus. “Kamu ngeselin.”
“Aku tau.”
Kami jalan lagi.
“Sha.”
“Hm.”
“Yang dia bilang itu.” Dia menendang kerikil. “Soal ngetok pintu.”
“Iya?”
“Aku nggak minta dimaafin sama dia.”
“Aku tau.”
“Aku nggak butuh dia baik ke aku.”
“Aku tau, Callys.”
“Terus kenapa dia—” Dia berhenti jalan. “Kenapa dia ngomong gitu ke Kenzo? Buat apa? Aku benci sama dia. Aku ngomong jelek soal dia selama dua bulan. Aku—”
Suaranya berhenti.
Dan Callysta Aruna berdiri di trotoar antara sekolah dan halte, memegang tali tasnya dengan kedua tangan, dan bertanya dengan suara yang sangat kecil:
“Sha, kalau dia beneran kayak gitu... ”
Aku menunggu.
“...berarti tahun lalu ada orang yang berdiri di ujung koridor dan pengen bantu, dan nggak bisa.”
Aku tidak menjawab.
Karena tidak ada yang bisa kujawab, dan karena aku tahu — aku sudah tahu sejak percakapan ini dimulai — bahwa yang sedang Callys hitung bukan Arga.
Yang sedang dia hitung adalah berapa banyak orang lagi yang berdiri di ujung koridor sekolah ini, hari itu, dan tidak masuk.
“Aku masih nggak percaya sama dia,” katanya akhirnya.
“Aku tau.”
“Tapi aku...” Dia menarik napas. “Besok aku duduk. Beneran duduk. Bukan naruh tas.”
“Oke.”
“Dan aku nggak mau ada yang komentar.”
“Oke.”
“TERUTAMA KENZO.”
“Oke.”
Angkotku datang.
Dan waktu aku naik, Callys memanggil dari trotoar.
“Sha!”
Aku menoleh dari jendela.
“Bilang ke dia—” Dia berhenti. Menggosok wajahnya. “Ah. Nggak jadi.”
“Callys—”
“NGGAK JADI.”
Aku tertawa sepanjang jalan pulang.
Tapi malam itu, sebelum tidur, aku mengirim satu pesan ke Arga.
Callys duduk beneran besok.
Balasannya datang tiga menit kemudian, dan cuma dua kata, dan aku membacanya berkali-kali sebelum tidur.
Aku bawain soto.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser reading
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama