← Bangku Sebelah

Chapter Thirty Nine

Bab 39: Rebutan

POV: Alesha


Dia kembali hari Senin.

Bukan Senin berikutnya. Senin dua minggu kemudian, karena pembinaan harus mulai dulu dan karena ada surat yang harus ditandatangani ayahnya dan karena birokrasi tidak peduli pada apa pun.

Dua minggu itu berjalan begini:

Kami tidak bicara.

Aku ingin menuliskan itu dengan jujur, karena aku pikir orang akan mengira setelah hari itu semuanya langsung baik.

Tidak.

Kami tidak bicara selama dua minggu, dan itu bukan karena marah.

Aku menolak mendengarnya hari itu di koridor, dan setelah menolak sekali, aku tidak tahu bagaimana caranya membuka lagi. Dan dia tidak membuka karena dia tidak pernah membuka.

Jadi kami mengirim pesan tentang hal-hal yang tidak penting.

Portalnya udah dibetulin.

Beneran?

Iya. Pak Sudir nangis.

Ga.

Beneran nangis. Dikit.

Dan aku duduk di kamarku membaca pesan itu dan tertawa sendiri dan lalu menutup wajahku dengan bantal.


Yang terjadi di sekolah selama dua minggu itu bukan hal yang bisa kuringkas.

Aku akan menuliskan yang penting saja.

@fakta.sma__ dihapus hari Rabu.

Bukan diproses, bukan dilaporkan ke polisi, bukan hal-hal besar. Akunnya cuma hilang.

Dan tiga hari kemudian ada akun baru dengan nama mirip, dan akun itu bertahan sembilan hari sebelum juga hilang, dan sesudah itu tidak ada lagi.

Sean tidak dikeluarkan.

Aku ingin mencatat itu karena orang selalu menanyakannya.

Dia tidak dikeluarkan. Dia mendapat sanksi tertulis, dua kali skorsing, dan pembinaan wajib, dan yang paling penting — nama kasusnya ada di berkasnya, dan bunyinya bukan “insiden fisik.”

Bunyinya perundungan.

Dan pada akhir semester, keluarganya memindahkannya ke sekolah lain, dengan cara yang sama seperti Puspa dipindahkan setahun sebelumnya, kecuali bahwa kali ini semua orang tahu kenapa.

Aku tidak merasa senang soal itu.

Aku pikir aku akan merasa senang. Aku sudah membayangkan momen ini selama berbulan-bulan.

Yang kurasakan cuma lelah.


Bu Retno memanggilku hari Kamis.

“Alesha.”

“Iya, Bu.”

“Rekomendasi sekolah kamu masih jalan.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Bu—”

“Berkasnya nggak ngaruh,” kata beliau. “Ibu udah pastiin. Kamu saksi, bukan pihak.”

Beliau menutup mapnya.

“Kamu boleh kecewa kalau kamu mau.”

“Kenapa saya harus kecewa, Bu?”

Dan Bu Retno berkata:

“Karena kamu udah siap kehilangan itu.”

Dan beliau benar, dan aku duduk di ruang BK itu dan aku menyadari bahwa aku memang sudah siap, dan bahwa entah bagaimana itu terasa lebih penting daripada rekomendasinya sendiri.


Kelas sebelas tiga mulai bertengkar hari Jumat.

Aku tidak sedang menggunakan kiasan.

Bertengkar. Betulan.

Dimulai waktu Rani berkata, di tengah jam istirahat, dengan nada paling biasa sedunia:

“Eh, Senin Arga balik ya?”

“Iya,” kata Kenzo.

“Berarti kursinya dipakai lagi dong.”

“Ya iyalah.”

Dan Rani berkata:

“Yah. Padahal aku enak taruh tas di situ.”

Kenzo berdiri.


Aku akan meringkas empat puluh menit berikutnya.

Posisi Kenzo: kursi itu milik Arga, tidak bisa diganggu gugat, dan siapa pun yang menaruh tas di situ selama dua minggu terakhir sudah melanggar sesuatu yang tidak tertulis.

Posisi Rani: kursi itu kosong, dan kursi kosong itu untuk ditempati, dan lagipula Arga bisa duduk di mana saja karena mejanya sudah digabung.

Posisi Fajar: kalau mejanya sudah digabung, berarti sebenarnya ada enam kursi di pulau meja itu dan cuma lima yang terpakai, jadi masalahnya bukan kursi Arga tapi jumlah kursi.

Posisi Callys: semua orang diam.

Posisi Jovan: (dicatat di bukunya, tidak diucapkan.)

Dan di tengah semua itu, aku duduk di kursi yang sudah delapan bulan kududuki, memandangi kursi kosong di sebelahku, dan aku tidak bicara sama sekali.

Karena aku sedang memikirkan sesuatu.

Sembilan bulan lalu, aku berdiri di ambang pintu kelas ini dan Callys bilang “itu emang selalu kayak gitu”, dan aku berjalan delapan meter melewati dua puluh sembilan orang yang diam, dan aku menaruh tasku di kursi yang tiga tahun tidak pernah disentuh siapa pun.

Dan sekarang tiga orang bertengkar memperebutkannya.


Aku menceritakannya ke dia malam itu lewat pesan.

Ga.

Hm?

Kelas berantem hari ini.

Kenapa?

Rebutan kursi kamu.

Butuh tiga menit sampai dia membalas.

Rebutan gimana?

Rani mau naruh tas. Kenzo marah. Fajar bilang masalahnya jumlah kursi.

Terus?

Terus Callys teriak. Terus semua diem. Terus Jovan nyatet.

Dan balasannya datang, dan aku membacanya berkali-kali sebelum tidur.

Kenapa nggak ditambahin kursinya aja?

Dan aku mengetik:

Karena bukan itu masalahnya, Ga.

Dia tidak membalas selama sepuluh menit.

Lalu:

Iya.

Aku tau.


Dia datang hari Senin jam enam empat puluh dua.

Aku tahu jamnya karena aku menunggu di gerbang sejak jam setengah tujuh, dan karena Pak Sudir juga menunggu, dan karena Pak Sudir melihat jam tangannya tiga kali dalam lima menit.

Portalnya sudah dibetulkan.

Roda barunya dipasang Sabtu. Yayasan yang membayar. Bu Retno yang mengajukan.

Jadi jam enam empat puluh dua tidak ada apa-apa untuk diangkat.

Dan Arganta Bhumi datang dari arah timur, dan berhenti di depan pos satpam, dan berdiri di situ selama beberapa detik dengan wajah orang yang tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya.

Pak Sudir keluar dari pos.

“Ga.”

“Pak.”

“Udah dibetulin.”

“Iya, Pak.”

Dan Pak Sudir berdiri di situ, dan Arga berdiri di situ, dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bagaimana melanjutkan percakapan yang selama dua tahun cuma berlangsung sebelas detik dan tidak pernah butuh kata-kata.

Lalu Pak Sudir berkata:

“Yang di belakang masih macet.”

“Yang gerbang samping?”

“Iya.”

Dan Arga berkata:

“Besok saya lewat situ, Pak.”

Dan Pak Sudir mengangguk, dan masuk ke pos, dan aku berdiri di sebelah gerbang menonton dua orang menyelesaikan sesuatu yang tidak pernah mereka mulai.


“Sha.”

“Hm?”

“Kamu nungguin?”

“Iya.”

“Dari jam berapa?”

“Setengah tujuh.”

Dan dia berdiri di situ dengan tas di satu bahu, dan telinganya sudah merah.

Sudah lama sekali aku tidak melihat itu.

“Ga.”

“Hm?”

“Kuping kamu.”

“Alesha—”

“Aku cuma ngasih tau.”

Dan dia berjalan lebih cepat, dan aku menyusul, dan kami menaiki tangga ke lantai dua tanpa mengatakan apa-apa.

Dan di anak tangga kelima, aku sadar sesuatu.

Dia di sebelahku.

Bukan tiga langkah. Bukan dua.

Sebelah.

Dan aku tidak mengatakan apa-apa soal itu, karena kadang kamu harus membiarkan orang menang sedikit demi sedikit.


Kelas sebelas tiga sudah setengah penuh.

Dan waktu kami masuk, terjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sembilan bulan lalu.

Kelas tidak diam.

Aku sudah menyiapkan diri untuk keheningan. Aku sudah menyiapkan diri untuk tiga detik itu, yang selalu ada, yang sudah lama kupelajari cara melewatinya.

Yang terjadi: Rani berteriak dari baris tiga.

“GA. KURSI LO DIREBUTIN.”

Dan seluruh kelas meledak.


Aku akan mencoba menuliskannya, tapi aku tidak yakin aku bisa.

Kenzo berdiri di atas kursi — kursinya sendiri, bukan meja, karena Bu Retno sudah melarangnya tiga kali — dan berteriak bahwa dia sudah menjaga kursi itu selama empat belas hari dan tidak ada yang boleh mengklaim apa pun.

Rani berteriak balik bahwa menjaga bukan berarti memiliki.

Fajar mengangkat satu kursi dari baris tiga dan berkata “aku bawa kursi tambahan” dan ditolak semua orang tanpa alasan yang jelas.

Callys berteriak supaya semua orang diam.

Tidak ada yang diam.

Dan Jovan, di tengah semua itu, berdiri, berjalan ke sudut kanan belakang, menarik kursi yang selama sembilan bulan ada di situ, dan mendorongnya ke arah Arga.

“Duduk,” katanya.

Dan seluruh kelas berhenti.

Dan Kenzo berkata, dari atas kursinya, dengan suara yang sangat kecil:

“...Ya udah gitu doang?”

“Iya,” kata Jovan.

“GUE JAGAIN EMPAT BELAS HARI—”

“Iya.”

“VAN—”

“Kamu jagain,” kata Jovan. “Sekarang udah ada orangnya.”


Arga tidak duduk.

Dia berdiri di sudut kanan belakang kelas sebelas tiga dengan tas di satu bahu dan dua puluh sembilan orang menatapnya, dan dia tidak duduk.

Dan aku melihat wajahnya.

Aku sudah sembilan bulan belajar membaca wajah itu dan aku tahu persis apa yang sedang terjadi:

Dia tidak tahu apakah dia boleh.

“Ga,” kataku.

Dia tidak menoleh.

“Arganta.”

Dan dia menoleh.

Dan aku menarik kursi itu satu sentimeter lebih dekat ke mejaku — satu sentimeter, gerakan yang tidak berarti apa-apa, gerakan yang kebalikan dari dua sentimeter yang dia geser sembilan bulan lalu di hari pertama —

dan aku berkata:

“Duduk, sayang.”


Kelas menjerit.

Aku serius. Menjerit. Dua puluh sembilan orang, sekaligus.

Kenzo jatuh dari kursinya.

Callys berteriak “SHA” dengan volume yang memantul di koridor.

Rani menutup mulutnya dengan kedua tangan dan berteriak lewat sela jarinya.

Dan Arganta Bhumi berdiri di sudut kanan belakang dengan telinga yang merah sampai ke leher sampai ke bawah kerah seragamnya, dan berkata:

“...Alesha.”

“Duduk.”

“Alesha—”

“DUDUK, GA.”

Dan dia duduk.

Dan dia tidak menoleh ke kiri selama satu jam pelajaran penuh, dan aku duduk di sebelahnya menahan senyum sampai pipiku sakit, dan aku merasa lebih baik dari yang pernah kurasakan sejak bulan Januari.


Yang terjadi setelah itu bukan sesuatu yang direncanakan siapa pun.

Jam istirahat pertama, kami di tangga belakang.

Dua orang, delapan anak tangga, pintu yang dikunci permanen di ujungnya.

Dan aku duduk di anak tangga ketiga seperti selalu, dan dia duduk di anak tangga keempat seperti selalu, dan dia membuka kotak makannya seperti selalu.

Dan kami tidak bicara selama beberapa menit.

Lalu dia berkata:

“Alesha.”

“Hm?”

“Aku mau ngomong.”

Dan aku menoleh, dan aku melihat wajahnya, dan aku tahu.

“Ga—”

“Aku udah nunggu dua minggu.”

“Ga, hari ini—”

“Hari ini biasa aja,” katanya.

Aku berhenti.

“Apa?”

Dan Arganta Bhumi menutup kotak makannya dan berkata:

“Hari ini nggak ada apa-apa. Nggak ada sidang. Nggak ada yang dateng. Nggak ada yang nangis.”

Dia menatapku.

“Hari Senin biasa.”


Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Ga.”

“Aku udah ngitung.”

“Kamu ngitung?”

“Dua minggu.” Dia menaruh kotak makannya. “Aku nungguin hari yang nggak ada apa-apanya. Ini yang pertama.”

Dan dia mengelap tangannya ke celana.

Dua kali.

“Alesha.”

“Iya?”

“Kamu masih mau ngitung mundur?”


Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

Lalu aku menyeka mataku dengan lengan seragam, kasar, seperti Callys, karena aku sudah menghabiskan sembilan bulan di sebelah orang-orang ini dan aku sudah menular.

“Lima,” kataku.

Dia menarik napas.

“Empat.”

Dia menatap tangga.

“Tiga.”

Dan aku melihat bahunya turun, dan aku melihat dia memutuskan sesuatu.

“Dua.”


“Aku cinta kamu.”


Dia tidak sampai satu.

Aku ingin mencatat itu.

Dia tidak sampai satu.

Dan dia tidak terputus, dan dia tidak mengatakannya ke arah tangga atau ke arah lapangan atau ke arah kotak makannya.

Dia mengatakannya ke arahku, penuh, dengan mata yang tidak berpaling sekali pun, dan suaranya tidak bergetar.

Dan setelah dia mengatakannya, dia tidak berhenti.

“Aku udah mau ngomong dari bulan Oktober,” katanya. “Waktu pensi. Waktu kamu bilang duluan.”

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Terus aku bikin alasan,” katanya. “Aku bilang ke diri aku sendiri aku bakal ngomong kalau aku udah pantes.”

Dia menunduk.

“Itu bohong, Sha. Aku tau itu bohong pas aku bikinnya.”


“Ga—”

“Bentar.”

Dan dia menarik napas, dan dia melanjutkan, dan ini pertama kalinya dalam sembilan bulan aku mendengarnya bicara lebih dari empat kalimat berturut-turut tanpa berhenti.

“Aku nggak ngomong bukan karena aku nggak yakin,” katanya. “Aku yakin dari lama.”

Dia menoleh.

“Aku nggak ngomong karena kalau aku ngomong, aku ngeklaim kamu.”

“Ga—”

“Dan orang yang ngeklaim harus punya sesuatu buat dikasih.” Dia menatap tangannya. “Dan yang aku punya cuma nama yang dipake orang buat nakut-nakutin anak kelas sepuluh.”

Aku menurunkan tanganku dari wajahku.

“Terus sekarang?”

Dan dia berkata:

“Sekarang masih sama.”

Aku menoleh cepat.

“Ga—”

“Namanya masih ada, Sha.” Dia mengangkat bahu. “Ada satu baris di berkas aku dan bunyinya nggak bakal berubah. Aku nggak jadi bersih.”

Dan dia menoleh ke arahku, dan berkata:

“Bedanya cuma satu.”

“Apa?”

Dan Arganta Bhumi berkata:

“Aku berhenti mikir itu urusan aku sendiri.”


Aku memukul lengannya.

Aku ingin mencatat itu karena itu betul-betul terjadi dan karena aku tidak menyesalinya sama sekali.

Aku memukul lengannya, keras, dengan kepalan tangan, dan dia sama sekali tidak bergerak karena tentu saja dia tidak bergerak.

“KAMU KELAMAAN.”

“Sha—”

“SEMBILAN BULAN, GA.”

“Aku tau.”

“AKU NGITUNG MUNDUR TIAP HARI.”

“Aku tau.”

“AKU—”

Dan aku menangis, dan aku memukul lengannya lagi, dan dia menerima keduanya tanpa mengatakan apa-apa.

Lalu dia menarikku.

Dan aku menabrak dadanya seperti waktu pensi, dan aku meremas belakang seragamnya dengan dua tangan, dan dia menaruh dagunya di kepalaku dan menarik napas panjang yang tidak stabil.

Dan kami duduk seperti itu di anak tangga ketiga dan keempat sampai bel berbunyi.


Aku mengatakannya di tangga itu juga.

Bukan langsung. Sekitar sepuluh menit kemudian, waktu aku sudah berhenti menangis dan sudah menyeka wajahku tiga kali dan sudah menyerah untuk terlihat baik-baik saja.

“Ga.”

“Hm?”

“Aku mau bilang sesuatu dan aku cuma mau bilang sekali.”

Dia menoleh.

“Kamu inget nggak hari pertama?” kataku.

“Iya.”

“Kamu bilang apa?”

Dan dia berkata, tanpa ragu, karena dia mengingat semuanya:

“‘Besok kamu pindah ya.’”

“Iya.” Aku menoleh ke arahnya. “Dan kamu bilang itu kayak orang mohon.”

Dia tidak menjawab.

“Kamu udah sembilan bulan mikirin kenapa aku duduk di situ,” kataku. “Kamu udah nanya tiga kali. Aku selalu jawab ‘karena kosong’.”

Aku menarik napas.

“Itu bohong.”


“Aku duduk di situ karena kamu minta aku pindah,” kataku.

Dia menoleh.

“Dan cara kamu mintanya bikin aku sadar sesuatu.”

Aku menatapnya.

“Bahwa kamu udah tiga tahun mutusin sendiri siapa yang boleh deket sama kamu. Tanpa nanya orangnya.”

Suaraku bergetar.

“Dan aku nggak setuju, Ga.”

Aku menyeka mataku.

“Aku nggak setuju dari hari pertama.”

Dan aku berkata:

“Aku yang milih duduk di sebelah kamu.”


Dia tidak mengatakan apa-apa.

Dia menatapku dari anak tangga keempat, dan matanya basah, dan dia tidak mengatakan apa-apa selama mungkin sepuluh detik.

Lalu dia berkata:

“Iya.”

“Cuma iya?”

Dan Arganta Bhumi berkata:

“Aku nggak akan ngambil itu dari kamu lagi.”


Bel berbunyi.

Kami tidak bergerak.

“Kita telat,” katanya.

“Iya.”

“Delapan menit.”

“Sebelas.”

“Kamu ngitung?”

Dan aku berdiri dan menepuk celanaku dan berkata:

“Aku ngitung semuanya. Itu masalah aku.”


Kami jalan kembali ke kelas.

Terlambat sebelas menit, lewat koridor yang penuh karena kelas sebelah baru selesai olahraga.

Dan aku mengulurkan tanganku.

Telapak menghadap ke atas. Di antara kami, di koridor, di tempat yang secara teknis milik siapa saja.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku cuma menunggu.

Sembilan bulan lalu aku menghitung sampai empat puluh empat.

Kali ini aku sampai dua.


Dan kami jalan sepanjang koridor lantai dua sambil pegangan tangan, dan aku menghitung berapa orang yang menoleh, karena aku selalu menghitung.

Empat.

Empat orang, dari mungkin lima puluh.

Dan tiga dari empat itu menoleh karena kami berjalan cepat dan hampir menabrak mereka.

Aku menoleh ke arahnya.

“Ga.”

“Hm?”

“Empat.”

Dan dia berkata:

“Aku nggak ngitung.”

Aku berhenti jalan.

“Apa?”

Dan Arganta Bhumi berhenti juga, di tengah koridor lantai dua, dengan tanganku di tangannya, dan berkata — dengan nada paling biasa sedunia, seperti orang menyebutkan cuaca:

“Aku nggak ngitung, Sha.”

Dia mengangkat bahunya.

“Aku lupa.”


Kami masuk kelas terlambat sebelas menit.

Bu Retno berhenti di tengah kalimat.

Seluruh kelas sebelas tiga menoleh ke arah pintu, dua puluh sembilan orang, seperti sembilan bulan lalu.

Dan kali ini Kenzo tidak menjatuhkan pulpennya.

Kali ini Kenzo berdiri di atas kursinya dan bertepuk tangan, dan Callys menariknya turun sambil berteriak, dan Bu Retno bilang “Kenzo, duduk,” dan Kenzo bilang “Bu, sebentar aja, Bu,” dan Bu Retno bilang “duduk,” dan Kenzo duduk.

Dan kami berjalan ke sudut kanan belakang.

Dan aku duduk di kursiku.

Dan dia duduk di kursinya.

Dan di antara kami, di garis batas antara sisi mejaku dan sisi mejanya, di tempat yang secara teknis milik siapa saja, ada kotak kue putih kecil yang sudah ada di situ sejak pagi dan yang belum sempat kubuka.

Aku membukanya.

Dua potong. Cokelat dan keju, dipisah kertas roti. Satu lembar tisu dilipat di bawahnya.

Dan di bagian dalam tutupnya, di kertas putih polos, ada tulisan tangan.

Rapi, tegak, ukurannya sama, tidak ada satu pun coretan.

Dua kata.

Buat Alesha.