Chapter Thirty Six
Bab 36: Diam
POV: Alesha
Aku tidak ke sekolah hari Kamis.
Bukan bolos. Ibu yang menelepon. Beliau bilang aku sakit, yang mana setengah benar, karena aku memang muntah dua kali malam Rabu dan tidak bisa makan apa pun sampai siang.
Aku di kamar dari jam tujuh sampai jam empat.
Dan jam empat sore, ponselku bergetar.
Bukan dia.
Kenzo.
Sha.
Lo di rumah?
Iya.
Gue ke sana.
Dan dia datang dua puluh menit kemudian, dengan sepedanya, basah karena gerimis, dan berdiri di depan pagar rumahku tanpa masuk.
“Zo, masuk—”
“Nggak usah.”
“Kamu basah.”
“Gue cuma nganterin sesuatu.”
Dan dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Kotak putih.
Dua belas.
Dia menaruhnya di atas dudukan pagar, satu per satu, dan aku berdiri di situ menonton sampai dua belas kotak itu tersusun.
Sebagian sudah penyok.
“Zo.”
“Gue nggak tau harus diapain.”
“Kenzo—”
“Gue nyimpen di kamar gue.” Dia menggosok wajahnya dengan lengan basah. “Adek gue nanya kenapa ada kotak kue di lemari. Gue bilang punya temen.”
Aku menatap dua belas kotak itu.
“Ini yang di kursi?”
“Iya.”
“Kamu simpen semuanya?”
“Iya.”
Dan aku menyentuh salah satunya dan aku merasakan sesuatu naik dan aku menelannya.
“Zo, kenapa kamu nggak makan?”
Dan Kenzo Radiktya berdiri di depan pagar rumahku, di bawah gerimis, dan berkata:
“Karena kalau gue makan, artinya udah selesai.”
Dia tidak masuk.
Dia berdiri di situ selama sepuluh menit lagi dan tidak masuk, dan aku tahu kenapa: kalau dia masuk, dia harus duduk, dan kalau dia duduk, dia harus bicara lebih lama.
“Sha.”
“Hm?”
“Sidangnya Senin.”
“Aku tau.”
“Lo dipanggil.”
“Aku tau, Zo.”
Dan dia menarik napas.
“Lo udah ketemu dia?”
Aku tidak menjawab.
“Sha.”
“Belum.”
“Enam hari?”
“Enam hari.”
Dan Kenzo mengangguk pelan, dan menaiki sepedanya, dan berkata satu hal sebelum pergi:
“Gue juga.”
Aku ke sekolah hari Jumat.
Dan aku menemukan sesuatu di mejaku.
Bukan kotak.
Amplop.
Putih, polos, tanpa nama, ditaruh di tengah meja — di garis batas antara sisi mejaku dan sisi mejanya, di tempat yang secara teknis milik siapa saja.
Aku berdiri di sudut kanan belakang kelas sebelas tiga dan aku memegang amplop itu selama mungkin dua puluh detik sebelum membukanya.
Tulisan tangannya.
Rapi, tegak, ukurannya sama, tidak ada satu pun coretan.
Empat kalimat.
Alesha,
Hari Senin kamu jangan ngomong apa-apa selain yang ditanyain.
Jangan bawa folder. Jangan bawa screenshot. Jangan bawa tabel.
Kalau ditanya apa kamu tau soal akun itu, bilang nggak tau.
Tolong.
Aku duduk di kursi itu dan aku membacanya empat kali.
Kata terakhirnya bukan “makasih”. Bukan “maaf”. Bukan apa pun yang biasanya orang tulis.
Tolong.
Dia tidak pernah meminta apa pun.
Delapan bulan. Nol kali.
Dan permintaan pertamanya adalah supaya aku diam.
Aku mencarinya sore itu.
Aku tahu dia tidak boleh masuk lingkungan sekolah. Aku tahu dia di toko dari jam empat.
Aku tetap ke sana.
Dan aku sampai di seberang jalan, di depan warung kelontong, di tempat yang sama tempat aku berdiri delapan bulan lalu waktu aku pertama kali melihat toko itu dari dekat.
Pintu kacanya terbuka. Bunda Ratih di depan.
Tirai plastik di belakang tidak bergerak.
Aku berdiri di seberang jalan itu selama dua puluh menit.
Dan aku tidak menyeberang.
Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah memikirkannya ribuan kali sejak itu dan aku masih tidak tahu kenapa.
Bukan karena aku marah.
Aku pikir — dan aku baru menyusun ini bertahun-tahun kemudian — aku pikir aku takut.
Bukan takut dia mengusirku.
Takut dia tidak mengusirku.
Takut aku menyeberang, dan masuk, dan dia memberiku sepotong kue cokelat, dan kami berdiri di dapur itu seperti biasa, dan dia tetap tidak menjawab pertanyaanku.
Aku pulang.
Dan di angkot, aku mengeluarkan amplop itu dan membacanya untuk kesekian kalinya, dan aku memutuskan.
Aku menurut.
Aku ingin menuliskannya sesederhana itu, karena sesederhana itu.
Sabtu, aku membuka laptopku. Folder arsip mading 2 — empat puluh tujuh postingan, tabel jam unggah, pola tiga hari, tujuh belas kecocokan.
Aku tidak menghapusnya.
Aku cuma menutup laptopnya.
Minggu, aku mengeluarkan map yang sudah kusiapkan — kronologi hari Jumat, kesaksian tertulis, dua kertas dari Reyhan dan Tio yang kusimpan sejak bulan kedua.
Aku menaruhnya di laci paling bawah.
Dan aku menutup lacinya.
Callys datang hari Minggu sore.
Dia sudah menelepon delapan kali sejak Kamis dan aku sudah tidak mengangkat delapan kali, jadi dia melakukan hal yang paling Callys sedunia: dia datang dan duduk di ruang tamuku dan menolak pulang.
“Sha, keluar.”
“Aku capek.”
“AKU DUDUK DI SINI SAMPAI MALEM.”
Dan Ibu — yang sedang di dapur, yang mendengar semuanya — berkata:
“Sha, keluar.”
Aku keluar.
Callys mendengarkan sampai habis.
Aku menceritakan soal amplop. Soal empat kalimat. Soal kata “tolong.”
Dan waktu aku selesai, dia bertanya:
“Terus kamu mau nurut?”
“Iya.”
“KENAPA?”
“Callys—”
“Sha, kamu punya empat puluh tujuh—”
“Aku tau apa yang aku punya.”
“TERUS KENAPA—”
Dan aku berkata, dan suaraku pecah di tengah:
“Karena dia minta tolong, Callys.”
Dan Callysta Aruna berhenti.
“Dia nggak pernah minta apa-apa,” kataku. “Delapan bulan. Nol kali. Aku ngitung.”
Aku menyeka mataku.
“Dan yang pertama dia minta adalah supaya aku diem.”
Callys duduk di kursi teras rumahku dan tidak mengatakan apa-apa selama mungkin satu menit.
Lalu dia berkata:
“Sha.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak kamu lagi ngelakuin apa?”
“Apa?”
Dan dia berkata:
“Kamu lagi ngelakuin persis yang dia lakuin ke kamu.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Dia mutusin apa yang aman buat kamu tanpa nanya kamu,” kata Callys. “Terus kamu marah. Terus kamu teriak-teriak di tangga belakang.”
Dia menatapku.
“Sekarang dia mutusin lagi. Dan kamu nurut.”
“Ini beda.”
“Bedanya apa?”
Dan aku membuka mulut.
Dan aku tidak menemukan satu pun perbedaan.
Sidangnya hari Senin jam sepuluh.
Aku sampai sekolah jam setengah delapan.
Kelas sebelas tiga hari itu adalah tempat yang paling tidak nyaman yang pernah kumasuki. Semua orang tahu. Semua orang menoleh waktu aku masuk. Dan tidak ada satu pun yang bertanya, yang mana lebih buruk.
Aku duduk di sudut kanan belakang.
Kursi di sebelahku kosong.
Dan aku baru menyadari sesuatu di jam kedua, waktu aku mencari pulpen dan membuka tasku:
Buku catatan kecilku tidak ada.
Aku memeriksa tiga kali. Aku memeriksa laci meja. Aku memeriksa tasku sampai ke dasar.
Tidak ada.
Aku ingat persis kapan terakhir kali kubawa. Hari Rabu. Aku membawanya ke sekolah hari Rabu dan aku tidak membukanya sekali pun hari itu, dan malam Rabu aku muntah dua kali, dan hari Kamis aku tidak ke sekolah.
Dan aku tidak membawanya lagi sejak itu.
Aku tidak sengaja meninggalkannya.
Aku berhenti membawanya.
Dan aku duduk di sudut kanan belakang kelas sebelas tiga dan aku menyadari bahwa aku sudah berhenti mencatat selama enam hari dan aku bahkan tidak sadar kapan aku berhenti.
Bu Retno memanggilku jam sembilan.
Ruang BK. Kursi yang berderit di kaki kanan. Tanaman plastik di sudut yang debunya tidak pernah dilap.
“Duduk, Alesha.”
Aku duduk.
Dan beliau membuka laci ketiga, dan mengeluarkan map cokelat, dan menaruhnya di meja.
Lebih tebal dari yang terakhir kali kulihat.
“Ibu mau kamu tau sesuatu sebelum masuk,” kata beliau.
“Iya, Bu.”
“Rekomendasi dari pihak sekolah udah masuk ke komite Jumat kemarin.”
Aku memegang tepi kursi.
“Rekomendasinya apa, Bu?”
Dan Bu Retno menatapku.
“Pengembalian ke orang tua.”
Aku tahu istilahnya.
Semua anak SMA tahu istilahnya, dengan cara yang sama seperti mereka tahu istilah-istilah lain yang tidak pernah diucapkan langsung.
Pengembalian ke orang tua.
Bukan dikeluarkan. Sekolah tidak mengeluarkan siswa; itu tidak bagus untuk laporan. Sekolah mengembalikan siswa ke orang tuanya, dan orang tuanya mencari sekolah lain, dan di berkas tertulis “mengundurkan diri.”
“Bu—”
“Itu rekomendasi, Alesha. Bukan putusan.”
“Siapa yang bikin?”
“Ibu nggak bisa bilang.”
“Bu Retno—”
“Ibu nggak bisa bilang,” ulang beliau, “karena Ibu ikut rapatnya dan Ibu satu-satunya yang nolak.”
Ruangan itu jadi sunyi.
“Berapa suara, Bu?”
Dan beliau berkata:
“Empat satu.”
Aku menutup mataku.
“Bu.”
“Iya?”
“Yang empat itu alasannya apa?”
Dan Bu Retno melipat tangannya, dan menjawab dengan urutan, karena beliau selalu menjawab dengan urutan.
“Satu: ada rekaman.”
“Rekamannya cuma lima detik.”
“Iya. Tapi ada.”
“Bu—”
“Dua,” lanjut beliau. “Ada riwayat. Tiga insiden dalam tiga tahun.”
“Ketiganya dia yang bantuin orang.”
“Ibu tau.” Beliau menatapku. “Ibu bilang itu di rapat. Ibu bacain semuanya. Ibu bacain catatan tulisan tangan Ibu sendiri dari kasus parkiran tiga bulan lalu.”
“Terus?”
Dan Bu Retno berkata:
“Terus ada yang nanya kenapa catatannya nggak dimasukin ke berkas resmi waktu itu.”
Aku merasakan sesuatu dingin.
“Dan Ibu nggak punya jawaban yang bagus,” kata beliau, “karena alasan Ibu waktu itu adalah supaya berkas dia nggak makin tebel.”
Beliau menutup mapnya.
“Ibu ngelindungin dia tiga tahun dengan cara nggak nulis apa-apa,” kata Bu Retno. “Dan sekarang nggak ada apa-apa yang bisa Ibu tunjukin.”
Aku berdiri di koridor lantai satu jam setengah sepuluh dengan tiga puluh menit tersisa.
Dan aku memikirkan satu hal.
Ibu ngelindungin dia tiga tahun dengan cara nggak nulis apa-apa.
Dan sekarang nggak ada apa-apa yang bisa Ibu tunjukin.
Aku memikirkan buku catatan kecil yang tidak ada di tasku.
Aku memikirkan folder di laptopku yang sudah kututup.
Aku memikirkan map di laci paling bawah — kronologi hari Jumat, dua kertas dari dua anak kelas sepuluh yang menulis lima menit untuk dua kalimat karena mereka tidak berani bilang terima kasih di depan orang.
Aku memikirkan amplop putih dengan empat kalimat dan satu kata di akhir.
Tolong.
Dan aku berdiri di koridor itu dan aku sadar dengan sangat jelas bahwa aku sedang melakukan hal yang persis sama dengan yang Bu Retno lakukan selama tiga tahun.
Melindungi seseorang dengan cara tidak menulis apa-apa.
Dan bahwa hasilnya sudah kita lihat.
Aku mengeluarkan ponselku.
Aku membuka percakapan dengan Callys.
Callys.
di mana kamu
Koridor lantai satu.
aku ke situ
Nggak usah. Aku mau minta tolong.
apa
Dan aku mengetik, dan tanganku gemetar, dan aku menekan kirim sebelum aku sempat berubah pikiran.
Rumah aku. Laci paling bawah meja belajar. Ada map cokelat.
Bawa ke sini.
Ibu aku di rumah, bilang aja aku yang minta.
Balasannya datang dalam sembilan detik.
aku lari sekarang
Dan lalu, empat detik kemudian:
sha
Apa?
makasih
Aku menunggu di koridor.
Dan jam sepuluh kurang lima belas, sesuatu terjadi yang tidak ada hubungannya dengan apa pun yang kurencanakan.
Aku mendengar suara di ujung koridor.
Bukan suara anak sekolah.
Suara orang dewasa, beberapa, dan salah satunya suara perempuan yang sedang bertanya sesuatu dengan nada orang yang tidak biasa masuk ke gedung ini.
Aku menoleh.
Dan di ujung koridor lantai satu, di depan ruang piket, berdiri seorang perempuan paruh baya dengan tas selempang dan kerudung, memegang sesuatu di tangannya.
Aku mengenalinya sebelum aku mengenali apa yang dia pegang.
Bu Nur.
Dan yang dia pegang buku tulis biasa, sampul polos, sudah lecek di sudutnya.
Aku berjalan ke arahnya secepat yang bisa kulakukan tanpa berlari.
“Bu Nur?”
Beliau menoleh.
“Neng Alesha!” Wajahnya lega dengan cara yang membuat dadaku sakit. “Aduh, Ibu nggak tau harus ke mana.”
“Bu, Ibu ngapain di sini?”
Dan Bu Nur mengangkat buku tulis itu.
“Ibu mau ngasih ini.”
“Ke siapa, Bu?”
“Ke sekolah.” Beliau kelihatan bingung dengan pertanyaanku. “Ke yang ngurusin.”
Aku berdiri di koridor itu memegang tali tasku.
“Bu.”
“Iya?”
“Siapa yang ngasih tau Ibu?”
Dan Bu Nur berkata:
“Ical.”
“Ical?”
“Anak yang delapan tahun itu.” Beliau mengangguk. “Dia nanya terus kenapa Kak Gagah nggak dateng dua Jumat.”
Aku merasakan sesuatu naik ke tenggorokanku.
“Terus Ibu tanya-tanya ke tetangga,” lanjut Bu Nur. “Ada yang anaknya sekolah di sini.”
Beliau memegang buku itu dengan dua tangan.
“Ibu nggak ngerti urusan sekolah, Neng,” kata beliau. “Ibu cuma tau kalau ada yang mau dibilangin soal orang, ya dibilangin.”
Dan beliau membuka buku itu, ke halaman yang sudah beliau tandai dengan potongan kertas, dan menyodorkannya ke arahku.
“Ini dari dua tahun tiga bulan lalu,” kata beliau. “Sampai Jumat kemarin.”
Aku melihat halaman itu.
Kolom tanggal. Kolom nama. Kolom keterangan.
Dan kolom kelima.
Kolom yang dua kali kulihat dan dua kali tidak diizinkan kubaca.
“Bu—”
“Ibu udah mikir,” kata Bu Nur. “Dia bilang jangan ada yang tau.”
Beliau menutup bukunya.
“Tapi dia nggak pernah bilang jangan ada yang tau kalau dia lagi susah.”
Dan lalu pintu utama terbuka.
Aku menoleh.
Dan yang masuk bukan satu orang.
Pak Sudir, dengan seragam satpam, tidak sedang shift — aku tahu karena topinya tidak dipakai dan dia memegangnya di tangan seperti orang masuk ke rumah orang.
Dan di belakangnya, Mbak Yanti, dengan celemek yang masih dipakai.
Dan di belakangnya lagi, dari arah gerbang, jalan cepat, dengan wajah yang jelas-jelas panik karena datang terlambat —
Bu Ipah.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam reading
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama