← Bangku Sebelah

Chapter Two

Bab 2: Éclair

POV: Alesha


Aku tidak pindah.

Aku datang lima belas menit lebih pagi, supaya aku yang duduk duluan, supaya dia yang harus memutuskan mau bagaimana. Strategi murahan, aku tahu. Tapi aku sudah memikirkannya sampai jam setengah dua belas malam dan ini satu-satunya yang kudapat.

Kelas masih kosong. Cuma ada tiga orang di depan, mengerjakan PR yang jelas-jelas dikerjakan pagi ini.

Aku duduk. Aku keluarkan buku. Aku tunggu.

Dia datang jam tujuh kurang sepuluh, dan aku dengar langkahnya sebelum aku lihat orangnya. Berat, tidak buru-buru. Bunyi yang sama seperti kemarin.

Langkah itu berhenti di depan meja kami.

Aku tidak mengangkat kepala. Aku menghitung sampai tiga.

Lalu kursi di sebelahku ditarik, dan dia duduk.

Itu saja. Tidak ada kalimat kedua. Tidak ada pengulangan permintaan kemarin. Dia menaruh tasnya, mengeluarkan buku, dan menghadap jendela seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku menang.

Aku tidak tahu kenapa aku merasa seperti kalah.


Hari kedua berjalan seperti hari pertama, kecuali satu hal.

Kemarin dia tidak menoleh ke kiri sama sekali. Hari ini dia menoleh — sekali, waktu Bu Retno menyuruh kami bertukar buku untuk mengoreksi jawaban.

Aku menyodorkan bukuku. Dia menyodorkan bukunya.

Tangan kami tidak bersentuhan. Dia memastikan itu dengan cara yang hampir kelihatan seperti perhitungan: dia menaruh bukunya di tengah meja, menarik tangannya, baru mengambil bukuku setelah tanganku lepas.

Rapi sekali. Dan sedikit menyedihkan.

Aku membuka bukunya.

Dan aku berhenti.

Aku sudah bilang tulisannya rapi. Aku tidak bilang serapi apa. Semua hurufnya tegak, ukurannya sama, jaraknya sama. Tidak ada satu pun coretan. Tidak ada satu pun tipp-ex. Kalau ada yang salah, dia menulis ulang seluruh nomornya di bawah, dari awal.

Ada delapan nomor yang ditulis ulang.

Aku pernah lihat tulisan serapi ini satu kali, waktu SD, punya anak yang tangan kirinya dipukul terus sampai dia belajar menulis dengan sangat, sangat hati-hati.

Aku mengoreksi jawabannya. Delapan dari sepuluh benar.

Waktu bukunya kukembalikan, aku bilang, “Bagus.”

Dia tidak menjawab.

Tapi kupingnya merah lagi.


Percakapan pertama kami terjadi jam sepuluh lewat lima, dan itu sepenuhnya salahku.

Aku bosan. Guru Kimia sedang menjelaskan sesuatu di papan tulis yang sudah kubaca semalam. Dan di sebelahku ada orang yang sudah dua hari duduk sedekat ini tanpa mengeluarkan satu suku kata pun ke arahku.

Jadi aku menoleh dan bertanya.

“Kamu tinggal di mana?”

Reaksinya tidak seperti yang kuduga.

Aku menduga dia akan mengabaikanku. Atau menjawab pendek. Atau, kalau dia benar-benar seperti kata orang, menatapku sampai aku diam sendiri.

Yang terjadi: dia menegang.

Bukan menegang seperti orang marah. Menegang seperti orang yang baru dipanggil namanya di ruangan yang dia kira kosong. Bahunya naik satu sentimeter. Pensilnya berhenti di tengah huruf.

Dan dia tidak menjawab selama — aku menghitungnya, karena aku memang begitu — sembilan detik.

Sembilan detik itu lama sekali kalau kamu duduk di sebelah seseorang.

“Ha—” Dia berhenti. Menelan. “Hm.”

“Hm?”

“Nggak.” Dia menggeser bukunya dua sentimeter ke kanan tanpa alasan. “Maksudnya. Iya.”

“Iya apa?”

“...Iya.”

Aku menahan diri untuk tidak tertawa, dan aku bangga sekali dengan itu.

“Aku nanya kamu tinggal di mana.”

“Oh.” Dia mengangguk cepat, seperti orang yang akhirnya paham soal ujian. Lalu dia membuka mulut, dan yang keluar adalah:

“Éclair.”

Hening.

Guru Kimia masih bicara di depan. Kipas angin berputar. Seseorang di baris tiga menjatuhkan penghapus.

“Éclair,” ulangku.

Dia menutup mata. Sangat pelan, seperti orang yang sedang berharap lantai terbuka.

“Bukan.” Suaranya nyaris tidak terdengar. “Bukan itu.”

“Terus apa?”

“Aku— ” Dia mengelap telapak tangannya ke celana. Dua kali. “Jalan Melati.”

“Deket toko kue itu?”

Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin pagi, dia benar-benar menoleh. Penuh. Ke kiri.

Aku tidak siap.

Bukan karena tatapannya menakutkan. Justru sebaliknya. Dari jarak enam puluh sentimeter, wajah yang selama tiga tahun dipakai seluruh sekolah sebagai alasan untuk menyeberang jalan itu ternyata cuma wajah anak tujuh belas tahun yang sedang panik habis-habisan.

Alisnya memang tebal. Rahangnya memang keras. Matanya memang gelap dan tidak banyak berkedip.

Tapi ada satu titik kecil di pipi kanannya, bekas jerawat lama, dan entah kenapa titik itu yang bikin semuanya masuk akal.

“Kamu tau tokonya?” tanyanya.

“Aku lewat tiap pulang.”

“Oh.”

Dia menoleh lagi ke depan. Cepat. Terlalu cepat.

Merahnya kali ini turun sampai ke leher.


Yang tidak kusadari saat itu: kelas mendengar.

Bukan seluruh percakapannya. Cuma potongannya — cukup untuk tahu bahwa dua orang di sudut kanan belakang baru saja saling bicara untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Aku baru sadar waktu jam ganti dan seorang anak perempuan di baris dua, yang belum pernah kuajak bicara, berbalik penuh di kursinya dan menatapku dengan mata lebar.

“Kamu ngomong sama dia?”

“...Iya?”

“Dia jawab?”

“Iya.”

“Dia jawab apa?”

Aku membuka mulut.

Lalu aku sadar aku sedang berdiri di persimpangan yang cukup penting, walaupun aku belum tahu kenapa. Aku bisa bilang yang sebenarnya. Dia bilang éclair. Itu lucu. Itu akan diceritakan ulang ke lima orang sebelum jam makan siang, dan ke dua puluh orang sebelum bel pulang, dan besok akan ada yang meniru cara dia mengatakannya.

Aku pernah lihat itu terjadi ke orang lain. Aku tahu persis bentuknya.

“Dia jawab Jalan Melati,” kataku.

Anak itu kelihatan kecewa. “Cuma gitu?”

“Cuma gitu.”

Dia berbalik lagi ke depan, dan aku dengar dia bilang ke temannya, dengan nada yang tidak dia usahakan untuk dikecilkan, “Yah, nggak seru.”

Di sebelahku, pensilnya bergerak lagi. Aku tidak tahu sejak kapan berhenti.

Dia tidak bilang apa-apa. Tidak menoleh, tidak mengangguk, tidak apa pun.

Tapi tiga menit kemudian, waktu aku kehabisan tempat di buku dan mencari-cari kertas kosong di tas, ada satu lembar kertas folio bergaris didorong ke tengah meja.

Bukan disodorkan ke arahku. Ditaruh di tengah, di garis batas antara sisi mejaku dan sisi mejanya, tempat yang secara teknis bisa disebut milik siapa saja.

Aku ambil.

“Makasih.”

Tidak ada jawaban.

Tapi aku sudah mulai belajar bahwa tidak ada jawaban, dari orang ini, bukan berarti tidak ada apa-apa.


Aku menceritakan bagian éclair ke Callys waktu istirahat, dan Callys tidak tertawa.

“Itu ngeselin,” katanya.

“Itu lucu.”

“Itu ngeselin karena kamu ceritain sambil ketawa.” Dia menusuk-nusuk esnya dengan sedotan. “Kamu baru dua hari, Sha. Dua hari.”

“Terus?”

“Terus aku belum sempet nunjukin apa-apa ke kamu.”

“Ya tunjukin.”

“Nggak sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena—” Callys berhenti. Rahangnya bergerak. “Karena aku pengen kamu lihat pas kamu udah nggak lagi ketawa-ketawa kayak gini.”

Aku hampir membalas. Tapi aku lihat wajahnya, dan aku sadar sesuatu: Callys bukan sedang menang-menangan.

Dia takut.

Aku kenal Callysta Aruna dari kelas tujuh. Aku tahu bentuk marahnya, bentuk kesalnya, bentuk sok galaknya. Yang ini bukan salah satunya.

Jadi aku tidak membalas. Aku cuma bilang, “Oke. Kalau kamu udah siap.”

Dia mengangguk, dan langsung berganti topik ke hal paling remeh yang bisa dia temukan, dan aku membiarkannya.

Dira, di seberang meja, memperhatikan kami berdua bergantian sambil makan siomay, dan tidak berkata apa-apa sampai kami berdiri.

Waktu Callys duluan jalan, Dira menahan lenganku sebentar.

“Sha.”

“Hm?”

“Dia beneran bilang éclair?”

“Beneran.”

Dira mengangguk pelan. Lalu dia bilang, dengan suaranya yang selalu terlalu tenang untuk isi kalimatnya:

“Orang yang mau nakut-nakutin nggak gitu.”


Sepulang sekolah, aku ke ruang mading.

Ini kebiasaan yang tidak berubah walaupun kelasku berubah. Ekskul jurnalistik tidak peduli kamu di kelas berapa, yang penting deadline.

Kak Sean sudah di sana, menyusun foto-foto untuk edisi berikutnya. Dia melihatku masuk dan langsung menggeser kursi.

“Nah. Aku nunggu kamu.”

“Ada apa, Kak?”

“Layout halaman dua. Aku nggak sreg.” Dia mendorong printout ke arahku. “Kamu lebih jago soal ginian.”

Aku duduk. Kami bekerja empat puluh menit, dan itu menyenangkan dengan cara yang mudah — Kak Sean tipe orang yang mendengarkan penuh waktu kamu bicara, tidak memotong, dan selalu bilang terima kasih di akhir kalimat.

Waktu aku merapikan meja, dia bertanya sambil lalu.

“Gimana kelas barunya?”

“Rame.”

“Duduk sama siapa?”

Aku ragu setengah detik. Aku sendiri tidak tahu kenapa.

“Arganta.”

Tangan Kak Sean berhenti di atas tumpukan foto.

Cuma sebentar. Kalau aku tidak kebetulan sedang melihat ke arah tangannya, aku tidak akan sadar.

Lalu dia melanjutkan menyusun, dan suaranya sama sekali tidak berubah.

“Oh, Arga.”

“Kakak kenal?”

“Sekolah ini kecil, Sha.” Dia tersenyum. “Semua orang kenal dia.”

“Maksudnya?”

“Nggak maksud apa-apa.” Dia menumpuk foto terakhir, merapikan sisinya dengan mengetuk-ngetukkan tumpukan itu ke meja. Tuk. Tuk. Tuk. “Cuma... kamu hati-hati aja ya.”

Itu kedua kalinya dia bilang itu dalam dua hari.

“Hati-hati kenapa, Kak?”

Dan Kak Sean menoleh, dan senyumnya masih ada, dan dia bilang:

“Nggak apa-apa. Aku cuma nggak mau ada yang kenapa-kenapa sama kamu.”

Kalimatnya baik. Nadanya baik. Semuanya baik.

Aku pulang dan baru dua minggu kemudian aku menyadari bahwa dia tidak pernah menjawab pertanyaanku.


Aku sampai kelas jam setengah tujuh keesokan harinya, dan mejaku tidak kosong.

Ada kotak di atasnya.

Kotak kertas putih, kecil, seukuran telapak tangan. Tutupnya dilipat rapi. Tidak ada label. Tidak ada stiker. Tidak ada tulisan apa pun di keenam sisinya.

Kelas masih kosong. Bahkan anak-anak PR belum datang.

Aku berdiri di sana cukup lama, memandangi kotak itu, dan sesuatu di dadaku bergerak dengan cara yang aku tidak suka karena aku belum siap.

Karena aku pernah lihat kotak ini.

Bukan kotak yang mirip. Kotak ini. Kertas yang sama, ukuran yang sama, lipatan tutup yang sama — lipatan yang tidak simetris, ujung kanannya selalu masuk lebih dalam dari ujung kiri, seperti dilipat orang yang tangannya terlalu besar untuk kotak sekecil ini.

Bulan lalu. Pagar depan. Hujan. Payung biru pudar.

Kotak yang sama persis.

Aku duduk. Aku buka.

Isinya dua potong kue. Yang satu cokelat, yang satu keju, dipisah kertas roti supaya tidak menempel. Di bawah kertas roti ada satu lembar tisu, dilipat, seolah orang yang mengemasnya berpikir sampai ke bagian nanti tangannya kotor.

Tidak ada nama. Tidak ada pesan.

Aku duduk memandanginya cukup lama, dan pikiran pertama yang muncul di kepalaku bukan siapa, melainkan sesuatu yang jauh lebih kecil dan jauh lebih mengganggu:

Orang ini tahu aku duduk di mana.

Kelas ini baru kutempati tiga hari. Denah tempat dudukku belum ada di mana pun. Dan kotak ini tidak ditaruh di meja guru, tidak dititipkan ke siapa pun, tidak ditinggal di depan pintu.

Ditaruh persis di mejaku. Di sisi kiri, bukan tengah, karena sisi kanan meja itu bukan sisiku.

Aku menoleh ke sudut kanan belakang.

Kursi di sebelahku masih kosong.


Dia datang jam tujuh kurang lima, seperti biasa, dan duduk seperti biasa, dan tidak melihat ke arah mejaku sama sekali.

Aku menunggu sampai bel pertama selesai.

Lalu aku dorong kotak itu ke tengah meja. Pelan.

“Ini punya kamu?”

Reaksinya lebih cepat dari kemarin, dan itu justru yang membuktikan semuanya.

“Bukan.”

Satu kata. Tidak ada jeda sembilan detik. Tidak ada éclair.

Orang yang tidak tahu apa-apa akan bertanya ini apa. Orang yang tidak tahu apa-apa akan melihat ke kotaknya dulu.

Dia tidak melihat ke kotaknya. Sama sekali. Selama seluruh percakapan.

“Kamu belum lihat.”

“Bukan punya aku.”

“Aku belum bilang aku nemu ini di mana.”

Rahangnya bergerak. Dia mengambil pensilnya, dan aku lihat tangannya berhenti sepersekian detik sebelum menyentuh kertas.

“Mungkin salah taruh,” katanya.

“Mungkin.”

“Iya.”

“Iya.”

Aku menutup kotaknya. Aku masukkan ke tas.

Dan kemudian, karena aku memang tidak pernah bisa berhenti di tempat yang benar, aku bilang satu hal lagi:

“Kalau ketemu orangnya, tolong bilangin makasih ya.”

Pensilnya patah.

Bukan patah dramatis. Cuma ujungnya, karena dia menekan terlalu keras waktu menulis tanggal.

Dia menatap pensil itu seperti pensil itu baru saja mengkhianatinya.

“...Iya,” katanya.

Sepanjang jam kedua dia tidak menoleh ke kiri lagi.

Tapi waktu bel istirahat, waktu aku berdiri dan hampir menjatuhkan tasku, ada tangan yang menahannya dari bawah sebelum tasku sempat menyentuh lantai.

Cepat sekali. Refleks.

Dia menaruhnya kembali ke kursi, menarik tangannya, dan sudah berdiri menghadap pintu sebelum aku sempat bilang apa-apa.

Dari belakang, telinganya merah lagi.

Dan aku berdiri di sana, di sudut kanan belakang kelas sebelas tiga, memegang tali tas yang baru saja ditolong orang yang katanya harus kuhindari, dan aku sadar aku sedang tersenyum seperti orang bodoh.

Malam itu aku membuka laci meja belajarku dan mengeluarkan payung biru pudar yang sudah sebulan tidak kusentuh.

Lipatan tutup kotaknya. Ujung kanan masuk lebih dalam dari ujung kiri.

Aku ambil buku catatan kecilku — yang biasanya kupakai untuk deadline mading, jadwal, dan hal-hal yang tidak boleh kulupa.

Aku buka halaman baru.

Aku tulis satu kata di atas.

Lalu aku berhenti, karena aku tidak tahu apa yang sedang kutulis, atau kenapa, atau apa yang akan kulakukan dengan ini.

Tapi aku tetap menulis.

Satu.