Chapter Eight
Bab 8: Parkiran Belakang
POV: Alesha
Parkiran belakang bukan parkiran.
Itu sisa lahan di belakang gedung timur, dulunya lapangan voli, sekarang tempat parkir motor guru dan sekitar dua puluh motor siswa kelas dua belas yang punya SIM. Bagian belakangnya berbatasan dengan tembok pembatas setinggi dua meter, dan di antara tembok dan barisan motor terakhir ada jalur selebar tiga meter yang tidak kelihatan dari mana pun kecuali dari jendela lantai tiga.
Aku tahu ini karena aku pernah memotret dari sana untuk mading, edisi “Sudut Sekolah yang Kamu Nggak Tau”, yang tidak pernah terbit karena Kak Sean bilang temanya terlalu sepele.
Aku ingat pemandangannya. Aku ingat berpikir: tempat ini terlalu tersembunyi untuk sekolah.
Aku tidak berpikir apa-apa lagi setelah itu, sampai hari Selasa itu.
Aku ke sana karena hal paling membosankan sedunia: aku disuruh Bu Retno mengambil sesuatu dari mobil beliau.
Jam istirahat kedua. Panas. Aku jalan lewat samping gedung timur, memutari lapangan, dan aku sudah setengah jalan waktu aku dengar suara.
Bukan teriakan. Kalau teriakan aku akan langsung berlari atau langsung kabur, salah satunya.
Yang kudengar lebih buruk: suara orang tertawa.
Tiga atau empat orang, tertawa, dengan nada yang aku kenal betul karena setiap sekolah punya versinya sendiri. Tawa yang bukan karena ada yang lucu.
Aku berhenti di ujung barisan motor.
Dan aku lihat mereka, di jalur tiga meter itu.
Empat anak laki-laki. Kelas dua belas, dari ukuran badannya, atau mungkin sebelas. Dan di depan mereka, terjepit antara tembok dan bemper motor, seorang anak yang sangat kecil dan sangat jelas kelas sepuluh.
Ranselnya sudah di tangan salah satu dari mereka.
Anak itu sedang mengatakan sesuatu. Suaranya terlalu pelan untuk kudengar dari sini, tapi aku bisa lihat bahunya, dan bahunya sudah menyerah sebelum mulutnya.
Aku merogoh tas mencari ponselku.
Dan sementara tanganku masih di dalam tas, seseorang lewat di sebelahku.
Cepat. Sangat cepat, untuk orang sebesar itu.
Aku bahkan tidak sempat menoleh sebelum dia sudah lima meter di depan.
Yang terjadi berikutnya berlangsung mungkin dua puluh detik, dan aku sudah memutarnya di kepalaku ratusan kali sejak itu, dan aku masih yakin dengan urutannya.
Dia tidak berlari.
Dia jalan, cepat, langsung ke tengah jalur itu, dan berhenti sekitar satu setengah meter dari mereka.
Dan dia tidak bicara.
Dia cuma berdiri di situ.
Keempat anak itu menoleh, dan aku melihat wajah mereka berubah dengan urutan yang sangat spesifik: kaget, lalu mengenali, lalu — dan ini bagian yang membuatku merasa mual — takut.
Bukan takut yang membuat orang lari. Takut yang membuat orang mengecil.
Yang memegang ransel menjatuhkannya.
“Eh— ” katanya. “Kita cuma bercanda.”
Dia tidak menjawab.
“Serius. Kita cuma—”
Dia bergerak satu langkah ke samping.
Cuma satu langkah. Ke kiri.
Dan aku baru mengerti apa yang dia lakukan waktu anak kelas sepuluh itu langsung menyelinap lewat celah yang baru terbuka di antara tembok dan badannya.
Dia tidak memblokir mereka.
Dia membuka jalan keluar.
Anak kelas sepuluh itu berlari tiga langkah, berhenti, kembali mengambil ranselnya dari tanah, lalu berlari lagi ke arah gedung dan menghilang.
Empat anak itu masih berdiri di sana.
Dan dia masih berdiri di sana.
Salah satu dari mereka — yang paling besar, yang jelas paling ingin membuktikan sesuatu — melangkah maju.
“Lo mau apa?”
Dan untuk pertama kalinya, dia bicara.
Tiga kata. Aku mendengarnya jelas dari ujung barisan motor karena tidak ada suara lain sama sekali.
“Aku nggak ngapa-ngapain.”
Itu saja.
Dan yang aneh — yang membuatku berdiri terpaku sambil memegang ponsel yang bahkan belum kunyalakan — adalah bahwa kalimat itu benar.
Dia betul-betul tidak melakukan apa-apa. Dia berdiri, dan bergeser satu langkah ke kiri.
Yang besar itu menatapnya beberapa detik.
Lalu dia mengumpat, meludah ke tanah, dan berbalik. Yang lain mengikuti. Mereka lewat jalur di sisi lain, dan salah satu dari mereka menendang spion motor waktu lewat.
Dan aku, karena aku masih di ujung barisan motor dan mereka jalan ke arahku, langsung menunduk pura-pura mencari sesuatu di antara ban motor seperti orang paling tidak meyakinkan sedunia.
Mereka lewat. Mereka tidak melihatku.
Waktu aku mengangkat kepala, jalur tiga meter itu sudah kosong.
Aku menemukannya sepuluh menit kemudian, di belakang gedung timur, sedang membenahi spion motor yang ditendang.
Dia jongkok di sebelah motor orang yang tidak dia kenal, memutar tangkai spion, mengetesnya dengan melihat pantulannya, memutar lagi.
Aku berdiri di belakangnya cukup lama.
“Nggak lurus,” kataku.
Dia hampir menjatuhkan spionnya.
“Alesha—”
“Miring dikit ke kiri.”
Dia menoleh ke arahku, lalu ke spion, lalu ke arahku lagi.
“Kamu dari mana?”
“Dari sana.” Aku menunjuk ke arah parkiran. “Dari tadi.”
Aku lihat sesuatu berubah di wajahnya, dan itu bukan malu.
Itu panik.
“Kamu lihat?”
“Iya.”
“Berapa lama?”
“Semuanya.”
Dan dia berdiri, dan mengelap tangannya ke celana, dan mulai bicara lebih cepat dari yang pernah kudengar.
“Itu bukan— aku nggak mukul. Aku nggak nyentuh mereka. Aku cuma berdiri. Kamu lihat kan, aku cuma—”
“Arganta.”
“Aku nggak—”
“ARGANTA.”
Dia berhenti.
Dan aku berdiri di belakang gedung timur pada jam istirahat kedua, memandangi orang yang seluruh sekolah takuti, yang baru saja mengusir empat orang tanpa mengangkat satu jari pun, dan yang sekarang sedang menjelaskan dirinya sendiri padaku dengan panik seperti anak yang ketahuan memecahkan gelas.
“Aku tau kamu nggak mukul,” kataku.
“...Oh.”
“Aku lihat semuanya.”
“Oh.”
“Kamu geser satu langkah ke kiri biar dia bisa keluar.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu udah kepikiran itu sebelum jalan ke sana, kan?”
Dan dia menatapku dengan ekspresi yang benar-benar tidak bisa kubaca, dan berkata:
“Itu satu-satunya cara.”
“Cara apa?”
“Cara biar nggak jadi apa-apa.” Dia mengambil tasnya dari atas jok. “Kalau aku ngomong duluan, mereka bakal ngomong balik. Kalau mereka ngomong balik, terus ada yang dorong, terus—”
Dia berhenti.
“Terus jadi apa-apa,” kataku.
“Iya.”
“Terus difoto.”
Dia menoleh cepat.
Aku tidak menjelaskan. Aku tidak perlu.
“Kamu nggak boleh cerita,” katanya.
“Kenapa?”
“Nanti mereka cari anak itu.”
Aku membuka mulut untuk membantah, dan kemudian aku menutupnya, karena dia benar.
Kalau kejadian ini beredar, satu-satunya nama yang akan disebut adalah namanya. Dan anak kelas sepuluh itu akan jadi anak yang mengadu.
“Oke,” kataku.
“Beneran?”
“Beneran.”
Dia mengangguk, dan bahunya turun setengah sentimeter, dan aku sudah cukup lama duduk di sebelahnya untuk tahu apa artinya.
Aku menceritakan bagian parkiran ke Callys dan Dira dua hari kemudian, setelah aku memutuskan bahwa janjiku untuk tidak bercerita punya batas yang masuk akal.
Aku tidak menyebut nama Reyhan. Aku tidak menyebut kelasnya.
Callys mendengarkan sampai habis tanpa memotong sekali pun, yang mana rekor.
Waktu aku selesai, dia bertanya satu hal.
“Dia geser ke kiri?”
“Iya.”
“Bukan maju?”
“Bukan.”
Callys menatap mejanya.
“Kalau maju itu nantangin,” katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke kami. “Kalau geser itu... ”
Dia tidak menyelesaikannya.
“Itu ngasih jalan keluar,” kata Dira.
“Aku tau itu ngasih jalan keluar, Dira.”
“Aku cuma bantu.”
“Aku nggak butuh dibantu.”
“Oke.”
Callys mengetuk-ngetukkan jarinya di meja delapan kali, lalu berhenti.
“Sha.”
“Hm.”
“Kalau orang mau pamer, dia maju.” Dia mengangkat wajahnya, dan wajahnya sedang menahan sesuatu yang jelas tidak dia sukai. “Yang geser itu orang yang udah pernah kejadian.”
Aku tidak menjawab.
Dan Callys tidak melanjutkan, tapi malamnya dia mengirim pesan jam sebelas lewat, satu kalimat, tanpa konteks:
aku masih nggak percaya sama dia.
Lalu, empat menit kemudian:
tapi aku nyari-nyari foto parkiran belakang di akun itu dan nggak ada.
Lalu, dua menit kemudian:
kenapa nggak ada, sha.
kalau dia emang selalu difoto, kenapa yang ini nggak difoto.
Aku menatap layar itu lama sekali.
Lalu aku balas: Karena yang difoto cuma yang bisa dipakai.
Callys tidak membalas semalaman.
Namanya Reyhan.
Aku tahu karena dia mencariku dua hari kemudian.
Aku sedang di ruang mading sendirian waktu ada yang mengetuk pintu, dan waktu aku menoleh, ada anak kelas sepuluh berdiri di ambang pintu dengan wajah orang yang sudah berlatih tiga kalimat pertamanya di kamar mandi.
“Kakak yang di parkiran ya?”
Aku menaruh guntingku. “Yang mana?”
“Yang hari Selasa.”
Aku menatapnya.
“Aku Reyhan,” katanya cepat. “Kelas sepuluh dua.”
“Aku Alesha.”
“Aku tau.”
Dia berdiri di ambang pintu dan tidak masuk, dan aku sadar dia menunggu izin, jadi aku menggeser kursi.
Dia duduk di ujungnya. Setengah pantat. Siap lari.
“Kakak lihat semuanya?”
“Iya.”
“Kakak kenal sama— ” Dia berhenti. Menelan. “Sama Kak Arga?”
“Sekelas.”
“Oh.” Dia mengangguk berkali-kali. “Oh. Oke.”
Lalu dia diam.
“Reyhan.”
“Iya, Kak?”
“Kamu ke sini mau ngomong apa?”
Dan anak itu — yang badannya mungkin setinggi bahuku, yang seragamnya masih terlalu besar seperti seragam semua anak kelas sepuluh di semester pertama — menatap mejanya dan bicara sangat pelan.
“Aku mau bilang makasih. Tapi aku takut.”
“Takut sama dia?”
“Bukan.” Dia menggeleng cepat. “Takut nanti dia kenapa-kenapa.”
Aku merasakan sesuatu naik di tenggorokanku dan aku menahannya.
“Kenapa gitu?”
“Karena kalau aku bilang makasih di depan orang, nanti orang tau dia yang bantuin aku.” Reyhan meremas tali tasnya. “Terus nanti dia yang disalahin. Kayak yang di akun itu.”
“Kamu tau soal akun itu?”
“Semua anak sepuluh tau, Kak.” Dia mengangkat wajahnya. “Kita dikasih tau dari MPLS.”
Aku diam.
“Dikasih tau gimana?”
“Ya— ” Reyhan mengangkat bahu, dan gerakannya menunjukkan bahwa dia menganggap ini hal yang biasa. “Kakak kelas bilang, follow aja akun itu biar tau info. Terus di situ ada yang bilang ada satu orang yang harus dihindarin.”
“Nggak disebut namanya?”
“Nggak. Tapi semua orang nunjukin.”
Aku menatap anak ini, dan aku memikirkan tiga ribu pengikut, dan dua puluh sembilan postingan, dan satu setiap lima minggu selama tiga tahun.
Dan aku baru mengerti sesuatu yang seharusnya sudah jelas sejak awal.
Ini bukan reputasi.
Ini kurikulum.
Setiap tahun ada angkatan baru yang masuk sekolah ini tanpa tahu apa-apa, dan setiap tahun ada yang mengajari mereka satu hal sebelum mereka sempat melihat sendiri.
“Reyhan,” kataku.
“Iya, Kak?”
“Kamu masih mau bilang makasih?”
“Mau.”
“Tapi takut.”
“Iya.”
Aku mengambil selembar kertas dari tumpukan mading dan mendorongnya ke arahnya bersama pulpen.
“Tulis aja.”
Dia menatap kertas itu.
“Terus?”
“Terus nanti aku titipin.”
“Nggak usah pakai nama?”
“Terserah kamu.”
Reyhan menulis selama hampir empat menit. Untuk satu kalimat.
Lalu dia melipatnya empat kali, memberikannya padaku, mengucapkan terima kasih tiga kali, dan pergi.
Aku tidak membacanya.
Aku menaruhnya di garis tengah meja keesokan paginya.
Dia melihatnya.
“Ini apa?”
“Bukan dari aku.”
Dia tidak menyentuhnya selama dua jam pelajaran.
Jam ketiga, waktu kelas ribut karena ada yang menjatuhkan seluruh isi tempat pensil, dia mengambilnya. Membuka. Membaca.
Dan aku, yang sudah belajar untuk tidak menoleh, tetap menoleh.
Aku melihat wajahnya.
Aku tidak bisa membacanya. Aku belum bisa membaca wajahnya waktu itu — itu masih beberapa minggu lagi.
Tapi aku melihat tangannya.
Dia melipat kertas itu kembali. Empat lipatan. Rapi. Persegi kecil.
Dan dia memasukkannya ke saku, bukan ke tas.
Saku yang sama dengan bungkus bakwan.
Dia tidak bilang apa-apa sepanjang jam ketiga.
Waktu bel istirahat, dia berdiri, dan sebelum jalan ke pintu, dia berhenti di sebelah mejaku.
“Alesha.”
“Hm?”
“Anak itu nggak apa-apa?”
Bukan ini dari siapa. Bukan kamu tau dari mana. Bukan kenapa kamu ikut campur.
Anak itu nggak apa-apa?
“Nggak apa-apa,” kataku.
Dia mengangguk sekali, dan pergi.
Dan aku duduk di sudut kanan belakang kelas sebelas tiga sambil menatap punggungnya menjauh, dan aku menyadari dua hal sekaligus.
Yang pertama: aku tidak lagi mengumpulkan bukti.
Aku sudah berhenti mengumpulkan bukti sejak entah kapan. Buku catatan itu sekarang isinya bukan penyelidikan. Isinya daftar hal-hal yang tidak ada yang tahu, disimpan oleh satu orang yang kebetulan melihat.
Yang kedua, dan ini yang membuatku harus duduk diam selama satu menit penuh sebelum bisa berdiri:
Aku suka.
Bukan penasaran. Bukan kasihan. Bukan rasa keadilan yang tersinggung.
Aku suka, dan aku sudah suka sejak beberapa waktu yang lalu, dan aku baru saja mengakuinya pada diriku sendiri di jam istirahat kedua hari Kamis, di sudut kanan belakang, sambil menatap punggung orang yang barusan menanyakan kabar anak yang bahkan tidak dia kenal.
Aku menutup buku catatanku.
Dan aku tidak membukanya lagi selama tiga hari, karena tiba-tiba aku merasa curang menuliskannya.
Hari keempat aku membukanya lagi, karena aku tidak bisa tidak.
Tapi aku menulis di halaman yang berbeda, jauh di belakang, terbalik dari arah biasa.
Cuma satu baris, dan aku menulisnya dengan huruf kecil sekali supaya kalau ada yang tidak sengaja membuka, kelihatannya seperti coretan.
Kalau semua orang tau apa yang aku tau, dia nggak akan sendirian.
Lalu aku tambahkan, di bawahnya, dan ini yang belakangan jadi masalah:
Berarti tinggal bikin semua orang tau.
Aku belum tahu waktu itu betapa salahnya kalimat kedua.
Aku baru tahu jauh, jauh nanti — waktu aku sudah kehilangan hak untuk memperbaikinya.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang reading
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama