← Bangku Sebelah

Chapter Ten

Bab 10: Tangga Belakang

POV: Alesha


Tangga belakang sekolah ini menuju ke tempat yang tidak ada.

Dulu ada bangunan gudang olahraga di ujungnya. Bangunannya dibongkar tiga tahun lalu, tangganya tidak, jadi sekarang ada tangga beton delapan anak tangga yang naik ke pintu yang dikunci permanen.

Tidak ada yang ke sana. Tidak ada alasan untuk ke sana.

Aku menemukannya di hari kedua puluh sembilan.

Bukan karena dia mengajakku. Karena aku mencarinya, dan setelah dua puluh sembilan hari aku sudah mulai bisa menebak.

Dia duduk di anak tangga keempat, tas di sebelah kanan, kotak makan terbuka di pangkuan.

Dia melihatku datang dari jarak dua puluh meter dan tidak bergerak sama sekali, dan aku menganggap itu sebagai izin.

Aku duduk di anak tangga ketiga, di sebelah kirinya.

“Ini tempat kamu?”

“Bukan tempat siapa-siapa.”

“Berarti tempat kamu.”

Dia tidak membantah.

Aku melihat isi kotak makannya. Nasi, telur dadar, dan sesuatu yang kelihatan seperti tumis buncis tapi dipotong terlalu rapi untuk masakan rumah biasa.

“Ibu kamu yang masak?”

“Aku.”

“Kamu masak?”

Dia menoleh dengan ekspresi yang jelas-jelas berbunyi ya iyalah.

“Aku kerja di dapur, Alesha.”

“Itu kue.”

“Itu tetep dapur.”

Dan dia mengatakannya dengan begitu datar sampai aku tertawa cukup keras, dan aku lihat dia buru-buru menoleh ke depan seperti orang yang tidak siap dengan efek yang baru saja dia hasilkan.


Kami ke tangga itu tiap istirahat kedua selama sebelas hari.

Aku tidak memutuskan itu. Dia juga tidak. Hari pertama aku datang, hari kedua aku datang lagi, dan di hari ketiga waktu aku sampai, dia sudah memindahkan tasnya dari anak tangga ketiga ke pangkuannya.

Itu yang paling dekat dengan undangan yang bisa dia berikan.

Aku belajar banyak hal di sebelas hari itu.

Bahwa dia bangun jam empat. Setiap hari. Termasuk Minggu.

Bahwa dia tidak bisa berenang.

Bahwa dia sudah tiga kali diminta ikut ekskul basket dan tiga kali menolak, dan waktu kutanya kenapa, dia bilang, “Nanti kalau kalah orang nyalahin aku, kalau menang orang bilang aku kasar.” Dia mengatakan itu tanpa nada mengeluh sama sekali, seperti orang menyebutkan jadwal kereta.

Bahwa dia hafal nama semua anak di kelas kami. Semua dua puluh sembilan. Termasuk yang tidak pernah bicara padanya seumur hidup, yang berarti dua puluh empat orang.

Bahwa waktu aku tanya kenapa hafal, dia bilang, “Biar nggak salah kalau ada yang butuh.”

Aku menanyakan hal-hal kecil dan dia menjawab hal-hal kecil, dan pelan-pelan aku sadar bahwa dia tidak pernah sekali pun menanyakan apa pun tentangku.

Jadi di hari kesembilan, aku memancingnya.

“Kamu nggak penasaran soal aku?”

“Penasaran.”

“Terus kenapa nggak nanya?”

Dia mengunyah. Menelan. Menutup kotak makannya.

“Kalau aku nanya,” katanya, “berarti aku minta kamu cerita. Kalau kamu cerita, berarti kita jadi—”

Dia berhenti.

“Jadi apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Arganta.”

“Jadi temen,” katanya, sangat pelan, ke arah tangga.

Dan aku duduk di anak tangga ketiga sambil memandangi sisi wajahnya, dan aku merasakan sesuatu yang bukan gemas dan bukan kasihan tapi campuran keduanya dengan sesuatu yang lebih tajam.

“Kita udah temen,” kataku.

“Belum.”

“Kita duduk di tangga ini sebelas hari.”

“Itu beda.”

“Beda gimana?”

Dan dia menoleh, dan dia menatapku, dan dia mengatakan hal yang sampai sekarang masih bisa membuatku diam kalau aku memikirkannya terlalu lama:

“Karena temen itu ada namanya. Kalau ada namanya, orang bisa nyebutin. Kalau orang bisa nyebutin, kamu masuk ke cerita.”

Dia menutup kotak makannya.

“Selama belum ada namanya, kamu masih bisa keluar kapan aja.”


Hari kesepuluh, akun itu mengunggah lagi.

Bukan foto kali ini.

Teks polos di latar hitam, jenis postingan yang mereka pakai untuk hal-hal yang tidak mau mereka tanggung sendiri.

Ada yang mau ngasih tau nggak ya. Kadang orang baik itu dimanfaatin. Kadang orang yang keliatan nggak baik itu ya emang nggak baik. Jangan sampe nyesel belakangan.

Ini bukan buat siapa-siapa kok. Cuma nasihat umum.

Delapan puluh tujuh like. Empat puluh dua komentar.

Aku membaca komentarnya sampai habis, yang mana kesalahan, dan aku tidak akan menuliskan isinya di sini.

Yang penting cuma satu.

Di komentar ke tiga puluh sembilan, ada yang menulis:

serius deh gue kasian sama ceweknya. dia nggak tau aja

Dan yang membalas komentar itu — satu balasan, dari akun tanpa foto profil dengan nama acak — menulis:

yang kasian bukan ceweknya

Aku menatap balasan itu sampai jam dua belas malam.

Karena aku tahu, aku tahu dengan keyakinan yang tidak bisa kubuktikan ke siapa pun, bahwa itu bukan orang jahat yang menulisnya.


Hari kesebelas, dia tidak ada di tangga.

Aku menunggu dua puluh menit.

Aku cek kantin. Aku cek perpustakaan. Aku cek kelas.

Aku menemukannya di tempat terakhir yang kucek, yang seharusnya jadi tempat pertama: dia duduk sendirian di ujung koridor lantai satu, di lantai, punggung ke tembok, di tempat yang paling banyak orang lewat di seluruh sekolah.

Aku berdiri di depannya.

“Kenapa di sini?”

Dia tidak mengangkat kepala. “Nggak apa-apa.”

“Ini tempat paling rame di sekolah.”

“Iya.”

“Kamu benci tempat rame.”

“Iya.”

Aku jongkok supaya sejajar.

“Arganta.”

“Alesha, pulang aja.”

“Ini jam istirahat.”

“Ya udah, ke kantin.”

“Arganta Bhumi.” Aku menunggu sampai dia mengangkat wajahnya. “Kenapa kamu duduk di tempat paling rame di sekolah?”

Dan dia menjawab, dan jawabannya membuatku ingin memukul sesuatu:

“Biar keliatan aku sendirian.”


Aku menariknya berdiri.

Aku tidak minta izin. Aku pegang pergelangan tangannya — bukan lengan seragamnya kali ini, pergelangan tangannya, kulitnya — dan aku tarik.

Dia berdiri karena aku menarik. Bukan karena dia mau.

“Alesha—”

“Ikut.”

“Orang lihat.”

“Bagus.”

Aku menyeretnya sepanjang koridor lantai satu, lewat kantin, lewat lapangan, sampai tangga belakang, dan aku tidak melepaskan pergelangan tangannya sekali pun, dan sepanjang jalan aku bisa merasakan denyut nadinya di bawah ibu jariku dan denyut itu cepat sekali.

Sampai di tangga, aku lepaskan.

Aku berbalik.

Dia berdiri tiga langkah di bawahku, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku lebih tinggi darinya.

“Kamu marah?” tanyanya.

“Iya.”

“Sama aku?”

“IYA.”

Dia mengangguk. Menerima. Seperti orang yang sudah menduga dan sudah menyiapkan diri sejak lama.

Dan itu — cara dia menerimanya begitu saja, tanpa membantah, tanpa bertanya kenapa — itu yang akhirnya membuat semuanya keluar.

“Kamu pikir kamu ngelindungin aku,” kataku.

“Aku—”

“Kamu pikir kalau kamu duduk sendirian di koridor, terus semua orang lihat kamu sendirian, terus mereka bakal lupa aku ada.” Suaraku naik dan aku tidak berusaha menurunkannya. “Kamu pikir kamu lagi baik.”

“Aku nggak—”

“Kamu lagi mutusin buat aku.”

Dia berhenti.

“Kamu mutusin apa yang aman buat aku, tanpa nanya aku.” Aku turun satu anak tangga. “Kamu tau nggak itu namanya apa?”

“...Apa.”

“Itu sama aja kayak mereka.”

Aku menyesal mengatakannya begitu selesai kukatakan.

Aku lihat efeknya di wajahnya, dan efeknya bukan marah. Kalau dia marah, aku akan lega. Aku bisa berkelahi dengan marah.

Yang kulihat: dia percaya.

Langsung. Tanpa membantah. Seperti orang yang baru diberi tahu sesuatu yang sudah lama dia curigai tentang dirinya sendiri.

“Arganta—”

“Iya,” katanya.

“Bukan itu maksud aku.”

“Nggak. Kamu bener.”

“Aku nggak—”

“Alesha.” Dia duduk di anak tangga paling bawah, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan itu pemandangan paling salah yang pernah kulihat dalam hidupku: orang setinggi itu, dengan bahu selebar itu, duduk melipat diri sekecil mungkin. “Aku nggak tau caranya.”

“Caranya apa?”

“Caranya deket sama orang tanpa ngerusak orangnya.”

Dan suaranya pecah di kata terakhir.

Cuma sedikit. Cuma satu kata.

Aku duduk di sebelahnya.

Aku tidak bicara selama mungkin satu menit penuh, karena aku sedang berusaha keras tidak menangis, dan karena aku tahu kalau aku menangis dia akan menganggap itu bukti dan akan makin yakin.

Lalu aku bicara.

“Aku mau ngasih tau kamu satu hal,” kataku. “Dan aku cuma mau bilang sekali, terus aku nggak akan ngulang.”

Dia tidak mengangkat wajahnya.

“Tiga puluh sembilan hari,” kataku. “Kamu ngitung dua puluh tiga waktu itu. Sekarang tiga puluh sembilan.”

“Aku tau.”

“Aku tau kamu tau.” Aku menarik napas. “Dalam tiga puluh sembilan hari itu, aku dijauhin sekelas selama seminggu pertama. Aku difoto. Aku dikomentarin empat puluh dua kali di satu postingan. Ada yang bilang aku cari sensasi. Ada yang bilang aku dipaksa.”

Dia mengangkat wajahnya.

“Kamu—”

“Aku tau semuanya, Arganta. Aku baca semuanya.” Aku menatapnya. “Dan aku masih di sini.”

Dia menatapku.

“Kamu ngitung berapa orang yang pergi,” kataku. “Ya udah. Sekarang hitung yang nggak.”

Angin lewat. Ada bunyi bola basket dari lapangan, jauh.

“Satu,” katanya akhirnya.

“Tiga,” kataku. “Kenzo. Jovan. Aku.”

Dan dia diam sangat lama.


“Aku nggak bisa jamin apa-apa,” katanya akhirnya.

“Aku nggak minta jaminan.”

“Nanti kamu kena.”

“Aku udah kena.”

“Nanti lebih parah.”

“Mungkin.”

“Alesha.” Dia menoleh. “Aku serius.”

“Aku juga.”

“Kalau nanti kamu nyesel?”

“Ya aku nyesel.” Aku angkat bahu. “Terus?”

“Terus—”

“Terus aku yang nyesel, Arganta. Aku. Itu punya aku.” Aku menatapnya. “Kamu nggak boleh ngambil itu juga dari aku.”

Dan sesuatu di wajahnya runtuh.

Aku tidak punya kata yang lebih tepat. Runtuh. Seperti tembok yang sudah lama retak dan akhirnya seseorang bersandar di tempat yang salah.

Dia menunduk. Bahunya bergerak sekali.

Dan aku mengulurkan tangan.

Telapak menghadap ke atas. Di antara kami, di anak tangga, di tempat yang secara teknis milik siapa saja.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku cuma menunggu.

Sepuluh detik.

Dua puluh.

Aku menghitung sampai empat puluh tiga.

Dan di detik keempat puluh empat, dia menaruh tangannya di atas tanganku.

Pelan sekali. Seperti orang yang menyentuh sesuatu yang dia kira akan pecah.

Tangannya besar dan kasar dan hangat dan ada bekas-bekas kecil di punggungnya yang sekarang aku tahu itu dari oven, bukan dari berkelahi, dan tangannya gemetar.

Aku menggenggamnya.

Dia tidak menarik.

“Ini apa?” tanyanya, dan suaranya nyaris tidak ada.

“Menurut kamu?”

“Aku nggak tau.”

“Kamu tau.”

“Aku beneran nggak tau, Alesha, aku nggak pernah—”

“Arganta.”

Dia berhenti.

“Ini namanya pacaran,” kataku.

Hening.

Lalu, dengan nada orang yang baru menerima informasi teknis yang sangat rumit:

“...Oh.”

Aku menoleh. “Oh?”

“Iya.”

“Cuma ‘oh’?”

“Aku— ” Dia mengelap tangan kirinya ke celana. Tangan kanannya tidak dia lepaskan. “Aku harus ngomong apa?”

“Ya terserah kamu.”

“Aku nggak tau.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku beneran nggak tau.”

“Arganta, nggak apa-apa.”

Dia menoleh ke depan. Telinganya merah sampai ke leher, sampai ke bawah kerah seragamnya, dan aku bisa lihat urat di lehernya berdenyut cepat sekali.

Dia diam mungkin lima belas detik.

Lalu dia bilang:

“Croissant.”

Aku menoleh perlahan.

“Apa?”

“Bukan.” Dia menutup mata. “Bukan itu.”

“Arganta—”

“Aku panik.”

“Aku tau kamu panik.”

“Aku panik banget.”

Dan aku tertawa — tertawa keras, di tangga belakang, sambil memegang tangan orang yang seluruh sekolah takuti, yang baru saja menjawab pernyataan pacaran dengan nama roti Prancis.

Dan setelah beberapa detik, aku dengar sesuatu di sebelahku.

Bunyi napas yang patah-patah.

Aku menoleh.

Dia tertawa.

Bukan tawa keras. Bahunya bergetar dan wajahnya ditutupi tangan kirinya dan dari sela jarinya keluar bunyi yang lebih mirip orang tersedak daripada orang tertawa.

Tapi dia tertawa.

Dan aku duduk di anak tangga keempat sambil memegang tangannya, dan melihat itu, dan aku berpikir — dengan sangat jelas, dengan seluruh kesadaran, tanpa sedikit pun keraguan:

Aku nggak akan ke mana-mana.


Bel berbunyi.

Kami tidak bergerak.

“Kita telat,” katanya.

“Iya.”

“Delapan menit.”

“Iya.”

“Kamu nggak pernah telat.”

“Sekarang pernah.”

Dia menoleh, dan wajahnya masih merah, dan matanya masih basah di bagian bawah, dan dia bertanya dengan sangat hati-hati:

“Aku boleh nanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Kenapa kamu duduk di kursi itu hari pertama?”

Aku memikirkannya.

Aku bisa bilang tentang payung. Tentang majalah. Tentang ransel.

Tapi aku sudah bilang aku hanya akan mengatakan hal penting sekali saja hari itu, dan aku sudah memakai jatahku.

“Karena kosong,” kataku.

“Cuma itu?”

“Cuma itu.”

Dia mengangguk, jelas tidak percaya, jelas memutuskan untuk tidak mengejar.

Kami berdiri.

Dan waktu kami jalan kembali ke kelas — terlambat sembilan menit, lewat koridor yang penuh karena kelas sebelah baru selesai olahraga — dia tidak melepaskan tanganku.

Dia hampir. Aku merasakannya, di tikungan pertama, jari-jarinya melonggar.

Dan lalu mengencang lagi.

Dua puluh dua orang menoleh. Aku menghitungnya.

Dia menghitung juga. Aku tahu karena waktu kami sampai di depan pintu kelas, dia bilang, sangat pelan, ke arah lantai:

“Dua puluh dua.”

“Dua puluh dua,” kataku.

Dan dia membuka pintu, dan kami masuk bersamaan, dan Bu Retno berhenti di tengah kalimat, dan seluruh kelas sebelas tiga — dua puluh sembilan orang, semuanya, tanpa kecuali — menoleh ke arah pintu.

Kenzo menjatuhkan pulpennya.

Dan Jovan, dari baris ketiga, menaikkan kacamatanya dengan satu jari dan bersandar ke kursinya, dan tidak berkata apa-apa sama sekali.