← Bangku Sebelah

Chapter Twenty

Bab 20: Pensi

POV: Arga


Rapat kelas hari Senin memutuskan tiga hal.

Satu: kelas sebelas tiga akan buka stand makanan di pensi.

Dua: standnya jual kue.

Tiga: yang jaga front bukan aku.

Poin ketiga tidak dibahas. Tidak ada yang mengusulkan, tidak ada yang menolak. Waktu Bu Retno bertanya siapa yang jaga meja depan, delapan tangan naik, dan tidak ada satu pun mata yang melihat ke sudut kanan belakang.

Itu bukan kejahatan. Aku ingin mencatat itu.

Orang tidak memikirkannya. Mereka cuma tidak memikirkannya, dan tidak memikirkan adalah hal yang paling mudah dilakukan siapa pun.

Aku menulis “dapur” di kertas pembagian tugas dan aku sudah selesai dengan masalah ini.

Alesha yang belum.


“Kenapa kamu di dapur?”

“Karena aku bisa bikin kue.”

“Itu bukan alasannya.”

“Itu alasannya.”

“Ga.”

Aku menutup bukuku.

“Alesha, aku emang bisa bikin kue.”

“Kamu juga bisa berdiri di meja.”

“Nggak semua orang bisa berdiri di meja.”

“Kamu bisa.”

“Nggak.”

Dia menatapku dengan cara yang sudah kupelajari artinya dalam empat bulan terakhir, dan artinya adalah: percakapan ini belum selesai, cuma ditunda.

Aku sudah kalah tiga kali dari tatapan itu.

Aku akan kalah lagi. Aku tahu itu sambil duduk di situ.

Aku cuma belum tahu caranya.


Caranya: Callysta Aruna.

Jumat sore, seminggu sebelum pensi, dia menaruh kertas di depanku dengan bunyi keras.

“Jadwal shift.”

“Aku dapur.”

“Kamu baca dulu.”

Aku membacanya.

Sabtu 10.00–12.00 — meja depan: Callysta, Nadhira Sabtu 12.00–14.00 — meja depan: Kenzo, Jovan Sabtu 14.00–16.00 — meja depan: Alesha, Arganta

Aku menaruh kertasnya.

“Callysta.”

“Apa.”

“Ganti.”

“Nggak bisa.”

“Ganti aja.”

“Udah dicetak.”

“Itu cuma kertas.”

“UDAH DICETAK, BHUMI.”

Dan dia berbalik dan pergi, dan Kenzo — yang jelas sudah tahu, yang jelas terlibat — berkata dari seberang meja tanpa mengangkat kepala:

“Jangan lihat gue.”

“Zo.”

“Gue nggak ngapa-ngapain.”

“Zo.”

“Van yang bikin jadwalnya.”

Jovan membalik halaman bukunya.

“Aku cuma ngetik,” katanya.


Aku ingin menjelaskan kenapa ini masalah, karena dari luar ini kelihatan seperti hal yang sangat kecil.

Ini memang hal yang sangat kecil.

Masalahnya bukan mejanya.

Masalahnya begini: kalau aku berdiri di meja depan, ada orang yang datang. Kalau ada orang yang datang dan melihat aku, mereka berhenti. Kalau mereka berhenti, mereka pergi. Kalau mereka pergi, stand kelas ini rugi.

Dan yang rugi bukan aku. Yang rugi dua puluh sembilan orang yang sudah patungan modal.

Aku pernah menghitungnya. Aku menghitung hal seperti ini.

Toko kami buka jam tujuh pagi. Dulu, waktu aku kelas sembilan dan belum tahu, aku pernah berdiri di depan selama satu minggu penuh untuk membantu Ibu.

Rata-rata pembeli per hari turun dari empat puluh satu jadi dua puluh enam.

Ibu tidak pernah mengatakan apa-apa. Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Aku pindah ke dapur di hari kedelapan dan angkanya kembali dalam tiga hari.

Itu bukan perasaan. Itu data.

Jadi waktu aku bilang aku di dapur, aku tidak sedang bersembunyi.

Aku sedang menghitung.


Aku bilang itu ke Alesha hari Minggu, di tangga belakang.

Aku bilang semuanya. Empat puluh satu, dua puluh enam, delapan hari, tiga hari.

Aku menyiapkannya. Aku pikir kalau aku menunjukkan angkanya, dia akan mengerti, karena Alesha orang yang mengerti angka.

Dia mendengarkan sampai habis. Dia selalu begitu.

Lalu dia diam cukup lama.

Lalu dia bertanya:

“Kamu umur berapa waktu ngitung itu?”

“Lima belas.”

“Kamu lima belas tahun,” katanya, “dan kamu ngitung berapa orang yang nggak jadi masuk ke toko ibu kamu gara-gara muka kamu.”

Aku tidak menjawab.

“Ga.”

“Hm.”

“Itu bukan data.”

“Itu—”

“Itu anak lima belas tahun yang ngitung dirinya sendiri kayak kerugian.”

Aku memandangi tangga.

“Angkanya bener,” kataku.

“Aku nggak bilang angkanya salah.” Dia menoleh. “Aku bilang kamu nggak seharusnya jadi orang yang ngitungnya.”

Hujan mulai turun di lapangan, jauh.

“Dua jam,” kata Alesha.

“Apa?”

“Shift-nya cuma dua jam. Jam dua sampai empat, jam paling sepi. Callys yang atur.”

Aku menoleh cepat.

“Dia atur biar sepi?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan Alesha menjawab, sambil memandangi lapangan:

“Karena dia mikirin kamu, Ga. Kalian semua mikirin kamu. Kamu cuma nggak pernah kepikiran bahwa itu mungkin.”


Pensi hari Sabtu.

Aku sampai jam enam pagi karena kuenya harus dibawa dalam tiga trip sepeda, dan karena aku tidak percaya sama siapa pun soal cara menyusun kotak di keranjang.

Kenzo datang jam tujuh dan langsung berteriak.

“BAU APA INI.”

“Kue.”

“INI BAU TOKO.”

“Iya.”

“GA. INI BAU TOKO BENERAN.”

Dia membuka satu kotak dan mengeluarkan suara yang tidak bisa kudeskripsikan.

“Berapa lo bikin?”

“Empat ratus dua puluh.”

Kenzo menaruh kotaknya.

“Berapa?”

“Empat ratus dua puluh.”

“Kapan?”

“Semalem.”

“SEMALEM?”

“Sama Ibu sama Ayah.”

“Lo tidur nggak?”

Aku tidak menjawab.

“GA.”

“Nanti aku tidur.”

Kenzo menatapku selama tiga detik penuh, lalu berbalik dan berteriak ke seluruh lapangan:

“CALLYS. DIA NGGAK TIDUR.”

“APA?”

“DIA BIKIN EMPAT RATUS DUA PULUH KUE DAN NGGAK TIDUR.”

Dan aku berdiri di belakang stand kelas sebelas tiga jam tujuh pagi sambil dimarahi dua orang sekaligus, dan salah satu dari mereka empat bulan lalu tidak mau melihat ke arahku.


Standnya laku.

Aku ingin mencatat itu tanpa terdengar sombong: standnya sangat laku.

Jam sepuluh sampai dua belas, Callysta dan Nadhira menjual seratus tiga puluh potong. Jam dua belas sampai dua, Kenzo dan Jovan menjual seratus enam puluh — sebagian besar karena Kenzo berteriak ke arah orang lewat, yang mana ternyata strategi penjualan yang efektif dan sangat memalukan.

Aku di belakang. Mengisi ulang nampan, memotong, menata, mencuci.

Bagian yang paling aku suka dari seluruh hari itu adalah dua jam ini.

Lalu jam dua.


“Ga.”

“Bentar.”

“Ga.”

“Bentar, Alesha.”

“Jam dua lewat empat.”

Aku sedang mencuci nampan yang tidak perlu dicuci.

Aku tahu itu. Aku sedang mencuci nampan yang sudah bersih selama empat menit dan aku tahu persis apa yang sedang kulakukan.

Alesha berdiri di sebelahku dan tidak bicara selama beberapa detik.

Lalu dia berkata, pelan:

“Kalau kamu beneran nggak mau, aku nggak akan maksa.”

Aku berhenti mencuci.

“Aku serius,” katanya. “Aku bakal berdiri sendiri. Nggak apa-apa. Aku nggak akan marah dan aku nggak akan ngungkit.”

Aku memandangi nampan itu.

Ini bagian yang tidak bisa kujelaskan dengan benar.

Kalau dia memaksa, aku bisa menolak. Menolak orang yang memaksa itu mudah. Aku sudah melakukannya seumur hidup.

Yang tidak bisa kulakukan adalah menolak orang yang memberiku jalan keluar.

Aku menaruh nampannya.

Aku melepas apron.

“Dua jam,” kataku.

“Dua jam.”

“Kalau ada yang nggak jadi beli—”

“Ga.”

“Aku balik ke belakang.”

Dia menatapku.

“Oke,” katanya. “Deal.”


Yang terjadi dalam dua jam berikutnya adalah bencana.

Aku akan menceritakannya dengan urutan yang benar.

14.06. Pembeli pertama. Anak kelas sepuluh, perempuan, datang bertiga.

Mereka sampai tiga meter dari meja, melihat aku, dan berhenti.

Salah satu dari mereka menarik lengan temannya.

Mereka pergi.

Aku sudah mau berbalik ke belakang.

Alesha memegang lengan seragamku dan tidak melepaskannya selama empat puluh detik.

14.11. Pembeli kedua. Ibu-ibu, wali murid, tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini.

Dia bertanya harganya.

Aku menjawab.

Dia bertanya yang mana yang paling enak.

Dan aku — yang sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan harga, yang sudah menghafal seluruh daftar harga sejak jam enam pagi — tidak siap sama sekali untuk pertanyaan ini.

“...Semuanya,” kataku.

Ibu itu tertawa. “Ya nggak mungkin semuanya sama.”

“Iya.”

“Terus?”

“Semuanya.”

Alesha menutup mulutnya dengan tangan.

Ibu itu membeli empat potong dan bilang aku sopan sekali dan aku bilang terima kasih tiga kali sampai Alesha menendang kakiku pelan.

14.30. Aku menemukan bahwa aku tidak bisa memberikan kembalian tanpa menghitung ulang tiga kali.

14.45. Aku menemukan bahwa waktu aku menyerahkan kantong, aku otomatis membungkuk sedikit, dan bahwa itu membuat orang mundur setengah langkah karena tiba-tiba wajahku lebih dekat.

Aku berhenti membungkuk.

15.02. Rani datang.

Dari kelas kami. Bersama dua temannya.

Dia berdiri di depan meja, dan aku bersiap.

“Yang cokelat berapa, Ga?”

Aku menyebutkan harganya.

“Ini kamu yang bikin?”

“Iya.”

“Semuanya?”

“Iya.”

Dan Rani berkata, ke arah temannya, dengan volume yang jelas tidak dia kecilkan:

“Kan gue bilang.”

Mereka membeli enam.

15.20. Empat orang kelas dua belas datang. Aku mengenali salah satunya.

Parkiran belakang. Bulan lalu. Yang paling besar.

Dia melihatku.

Aku melihatnya.

Dan aku merasakan seluruh tubuhku bersiap untuk sesuatu yang tidak akan terjadi — bahu naik, berat pindah ke kaki belakang, tangan turun dari meja.

Dia mengambil dua potong dan menaruh uangnya di meja.

Dia tidak bilang apa-apa.

Aku memberikan kembaliannya. Dia mengambilnya.

Dan sebelum berbalik, dia berkata — cepat, pelan, ke arah kue di tangannya, bukan ke arahku:

“Adek gue kelas sepuluh dua.”

Aku tidak mengerti selama satu detik.

Lalu aku mengerti.

Reyhan. Sepuluh dua.

Dia pergi sebelum aku sempat mengatakan apa pun.

Aku berdiri di belakang meja itu memegang kotak uang dan aku tidak bisa memikirkan apa-apa selama mungkin dua puluh detik.

Alesha tidak bertanya.

Dia cuma menggeser bahunya sedikit sampai lengan kami bersentuhan, dan berdiri seperti itu, dan tidak bertanya.

15.55. Kue habis.

Empat ratus dua puluh potong, habis, lima menit sebelum shift kami selesai.


Kenzo yang menghitung uangnya.

Dia menghitung tiga kali karena dia terus lupa sampai mana, dan waktu selesai dia berdiri di atas kursi plastik dan berteriak angkanya ke seluruh lapangan, dan kelas sebelas tiga — dua puluh sembilan orang, sebagian besar sedang tidak melakukan apa-apa — berteriak balik.

Callysta memukul lengan Kenzo karena dia berteriak terlalu dekat dengan telinganya.

Kenzo jatuh dari kursi.

Jovan mencatat sesuatu di bukunya.

Dan aku berdiri di belakang stand yang sudah kosong, memegang nampan kosong, dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku.

Alesha menghampiriku.

“Empat ratus dua puluh,” katanya.

“Iya.”

“Kamu berdiri di depan dua jam.”

“Satu jam lima puluh empat menit.”

Dia tertawa.

Dan dia berdiri di sana sambil tertawa, dengan lampu lapangan yang baru dinyalakan di belakangnya, dan rambutnya lepas dari ikatannya di satu sisi karena dia sudah berdiri sejak pagi, dan aku—

Aku menaruh nampannya.

Dan aku memeluknya.


Aku tidak merencanakannya.

Aku ingin mencatat itu, karena empat bulan terakhir aku merencanakan setiap gerakan yang kulakukan di dekat orang ini. Berapa lama boleh menoleh. Berapa sentimeter jaraknya. Di mana berdiri supaya tidak ada yang memotret.

Yang ini tidak.

Tanganku bergerak sebelum aku memutuskan, dan aku menariknya, dan dia menabrak dadaku dengan bunyi kecil karena dia tidak siap sama sekali.

Dan aku memeluknya di tengah lapangan sekolah, jam empat sore, di depan stand kelas sebelas tiga, dengan dua puluh sembilan orang di sekitar kami.

Aku merasakan dia berhenti bernapas.

Lalu tangannya naik.

Lalu dia meremas belakang seragamku dengan kedua tangan, keras, dan menekan wajahnya ke dadaku.

Dan aku dengar Kenzo berteriak dari suatu tempat di belakang, dan aku dengar Callysta berteriak ke Kenzo untuk diam, dan aku dengar sesuatu jatuh, dan aku tidak menoleh.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak menghitung berapa orang yang melihat.


“Ga.”

“Hm.”

“Kamu duluan.”

“Iya.”

“Kamu yang mulai.”

“Iya.”

Dia mengangkat wajahnya, dan matanya basah, dan dia tersenyum dengan cara yang membuatku harus melihat ke arah lain sebentar.

“Aku sayang kamu,” katanya.


Aku ingin menulis apa yang terjadi berikutnya dengan jujur, karena aku sudah memikirkannya ribuan kali sejak hari itu.

Aku tahu kalimat yang harus kujawab.

Aku tahu bentuknya. Aku tahu berapa kata. Aku tahu urutannya.

Kalimat itu ada di dalam dadaku sejak — aku tidak tahu. Sejak tangga belakang. Sejak hujan. Sejak lebih lama dari itu, mungkin sejak dia duduk di kursi yang tidak boleh diduduki dan bertahan tiga puluh sembilan hari.

Dan aku tidak bisa mengeluarkannya.

Bukan karena aku ragu. Aku tidak ragu sama sekali.

Karena kalau aku mengatakannya, aku sedang mengklaim sesuatu.

Dan orang yang mengklaim harus punya sesuatu untuk diberikan sebagai gantinya, dan yang aku punya cuma nama yang tiga tahun dipakai orang untuk menakut-nakuti anak kelas sepuluh.

Aku membuka mulut.

Tidak ada yang keluar.

Aku membukanya lagi.

Dan Alesha — yang masih memegang belakang seragamku, yang sedang menatapku dari jarak dua puluh sentimeter, yang sudah menunggu entah berapa lama —

tertawa.

Pelan. Bukan tawa yang mengejek.

“Nggak apa-apa,” katanya.

“Alesha—”

“Nggak apa-apa, Ga.”

“Aku—”

“Aku tau.” Dia menaruh dahinya kembali ke dadaku. “Aku tau semuanya. Nggak usah.”

Dan dia berdiri seperti itu, memelukku di tengah lapangan sekolah, dengan seluruh kelas menonton, sambil membiarkanku tidak menjawab.

Aku melingkarkan tanganku lebih erat.

Itu satu-satunya yang bisa kulakukan.

Dan di dalam kepalaku, kalimat yang tidak bisa kukeluarkan itu berputar terus, dan aku berjanji pada diriku sendiri — di lapangan itu, jam empat sore, di tanggal yang masih bisa kusebutkan sampai sekarang —

bahwa aku akan mengatakannya suatu hari nanti.

Waktu aku sudah pantas.

Aku tidak tahu waktu itu bahwa “pantas” adalah alasan paling licik yang pernah kukarang untuk diriku sendiri.

Dan aku tidak tahu bahwa aku akan membuatnya menunggu sangat, sangat lama.