← Bangku Sebelah

Chapter Twenty One

Bab 21: Reyhan Datang

POV: Alesha


Yang berubah setelah pensi bukan hal besar.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sempat mengira akan ada perubahan besar. Aku sempat berpikir — dengan bodohnya, di malam setelah pensi, sambil tidak bisa tidur — bahwa mungkin ini titik baliknya.

Bukan.

Yang terjadi lebih kecil dan lebih lambat dan lebih baik.

Hari Senin: dua anak menyapanya di koridor. Bukan menyapa panjang. Cuma “Ga” sambil lewat.

Dia mengangguk dua kali dan tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya.

Hari Selasa: ada yang meminjam pulpen dari mejanya.

Ini kelihatan sepele. Ini tidak sepele. Aku sudah duduk di sudut kanan belakang selama empat bulan dan tidak ada satu orang pun yang pernah meminjam apa pun dari meja itu.

Anak itu — namanya Fajar, baris tiga — mengembalikannya sepuluh menit kemudian dan bilang makasih.

Arga bilang iya.

Dan setelah anak itu pergi, dia menatap pulpennya cukup lama sampai aku harus berkata “Ga” dua kali.

Hari Rabu: Rani duduk di kursi kosong di seberang meja kami selama satu jam istirahat.

Dia tidak minta izin. Dia cuma datang, duduk, dan mulai bicara ke Callys tentang PR Fisika, dan tinggal.

Kenzo hampir mengatakan sesuatu.

Jovan menendang kursinya.


Reyhan datang hari Kamis.

Jam istirahat kedua. Kelas penuh, karena hujan lagi dan tidak ada yang keluar.

Aku sedang mendengarkan Kenzo menjelaskan sesuatu tentang kucing tetangganya waktu aku melihat ada yang berdiri di ambang pintu.

Anak kelas sepuluh. Kecil. Seragam masih terlalu besar.

Dia membawa kantong plastik dengan dua tangan.

Aku berdiri.

“Reyhan?”

Seisi kelas menoleh — karena aku menyebut nama, dan karena tidak ada anak kelas sepuluh yang berdiri di pintu kelas sebelas kecuali disuruh guru.

Reyhan melihatku, dan wajahnya lega selama setengah detik, lalu berubah lagi jadi takut.

“Kak Alesha.”

“Kenapa?”

Dan dia melihat melewatiku, ke sudut kanan belakang.

“Aku nyariin Kak Arga.”


Kelas tidak diam.

Itu penting. Kelas tidak diam seperti hari pertama aku duduk di kursi itu.

Yang terjadi lebih halus: volume turun sekitar sepertiga, dan sekitar dua belas kepala berputar ke arah yang sama.

Reyhan berjalan masuk.

Dia berjalan melewati seluruh baris, dengan kantong plastik di dua tangan, sampai ke pulau meja di sudut kanan belakang.

Dan Arga — yang sudah berdiri sejak namanya disebut, yang sudah mengambil tasnya seperti orang yang siap keluar — berhenti.

“Rey.”

“Kak.”

“Kenapa?”

Reyhan menaruh kantong itu di meja.

“Dari Ibu aku.”

Arga tidak menyentuhnya.

“Buat apa?”

“Ya buat Kakak.”

“Aku nggak—”

“Ibu maksa.” Reyhan meremas tali tasnya. “Aku udah bilang Kakak nggak mau. Ibu bilang kalau nggak dikasih aku nggak boleh pulang.”

Kenzo mengeluarkan suara kecil.

Arga menatap kantong itu.

“Kamu bilang apa ke ibu kamu?”

Dan Reyhan — yang berdiri di tengah kelas sebelas tiga, di depan sekitar dua puluh lima orang yang semuanya sudah berhenti berpura-pura tidak mendengarkan — berkata:

“Aku cerita yang di parkiran.”


Arga bergerak cepat.

Aku belum pernah melihatnya bergerak secepat itu di dalam ruangan.

Dia mengambil kantong plastik itu, dan berkata “Ayo keluar,” dan sudah setengah jalan ke pintu.

Reyhan tidak ikut.

“Rey.”

“Nggak, Kak.”

Arga berhenti.

“Reyhan.”

“Nggak.” Anak itu berdiri di tengah kelas, dan suaranya bergetar, dan dia tetap berdiri di situ. “Aku udah tiga bulan mau ngomong.”

“Nggak usah.”

“Aku UDAH TIGA BULAN, Kak.”

Dan kelas sebelas tiga jadi sunyi.

Betul-betul sunyi kali ini.


Reyhan bercerita dengan suara yang pecah dua kali.

Aku tidak akan menuliskan seluruhnya, karena aku sudah menuliskan versi yang kulihat sendiri di halaman lain di buku catatanku. Tapi aku akan menuliskan bagian yang aku tidak tahu.

Bahwa itu bukan pertama kalinya.

“Aku dipalak dari bulan pertama masuk,” kata Reyhan. “Nggak tiap hari. Seminggu sekali, dua kali.”

“Rey—” kata Arga.

“Aku nggak lapor karena— ” Anak itu menggosok matanya dengan lengan seragam. “Karena mereka kelas dua belas.”

“Kamu nggak cerita ke aku bagian itu,” kata Arga.

Dan Reyhan menoleh ke arahnya, dan berkata sesuatu yang membuat perutku turun:

“Kakak nggak nanya.”

Hening.

“Kakak cuma nyuruh mereka pergi terus Kakak pergi juga,” kata Reyhan. “Aku bahkan nggak sempet bilang makasih.”

Dia menarik napas.

“Terus minggu depannya mereka nyariin aku lagi.”

Aku mendengar Callys menarik napas.

“Terus?” tanya Dira pelan.

“Terus mereka nggak jadi.” Reyhan menggosok matanya lagi. “Mereka lihat aku, terus mereka lihat ke arah gedung timur, terus mereka pergi.”

“Kenapa?”

Dan Reyhan berkata:

“Karena Kak Arga berdiri di situ.”

Aku menoleh ke sebelahku.

Arga tidak bergerak.

“Tiap hari,” kata Reyhan. “Jam pulang. Tiga bulan.”

“Rey.”

“Di depan gedung timur, di deket tangga, tiap jam tiga sampai jam setengah empat.” Anak itu menatapnya. “Kakak nggak ngapa-ngapain. Kakak cuma berdiri di situ.”

“Aku emang lewat situ.”

“Kakak nggak lewat, Kak. Kakak berdiri.”

“Aku—”

“Aku lihat, Kak.” Reyhan mengangkat wajahnya. “Aku lihat tiap hari. Aku nunggu Kakak pergi dulu baru aku pulang.”


Aku ingin menuliskan apa yang terjadi di kelas itu setelahnya, tapi tidak ada yang terjadi.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada yang berdiri. Tidak ada momen besar.

Yang terjadi: dua puluh lima orang duduk diam selama sekitar sepuluh detik.

Lalu Rani berkata, dari baris tiga, dengan suara biasa:

“Ga, itu yang di parkiran belakang bulan lalu ya?”

Arga menoleh.

“Yang mana?”

“Yang katanya ada berantem.”

“Nggak ada yang berantem.”

“Aku tau.” Rani mengangkat bahu. “Makanya aku nanya.”

Dan dia kembali ke bukunya.

Itu saja.

Tapi aku duduk di sudut kanan belakang dan aku menyaksikan sesuatu bergeser di ruangan itu, dan aku tidak bisa menunjuk apa persisnya.

Bukan Reyhan yang menggesernya.

Rani yang menggesernya, dengan satu kalimat, dengan nada paling biasa sedunia.

Nggak ada yang berantem. Aku tau.


Reyhan pulang setelah Arga memaksanya menerima uang angkot.

(Ini butuh empat menit dan diselesaikan oleh Callysta yang berkata “Reyhan, ambil aja, dia nggak akan berhenti” dengan nada yang membuat anak itu langsung mengambilnya.)

Kantong plastik itu tetap di meja.

Isinya rendang, dua kotak, masih hangat.

Arga menatapnya seperti orang yang tidak tahu benda itu untuk apa.

“Ga,” kata Kenzo.

“Hm.”

“Makan.”

“Nanti.”

“Sekarang.”

“Zo—”

“GA.”

Dan Kenzo membuka kotak itu, mengambil sendok dari tasnya sendiri, dan menaruhnya di depan Arga dengan bunyi keras.

Arga makan.

Dan di tengah makan, dia berhenti, dan menatap kotaknya, dan berkata sesuatu yang sangat pelan yang cuma bisa didengar orang-orang di pulau meja:

“Aku nggak berdiri tiap hari.”

“Ga,” kataku.

“Aku cuma— ” Dia menaruh sendoknya. “Aku pulangnya emang jam segitu.”

“Kamu pulang jam tiga lewat lima belas,” kata Jovan.

Arga menoleh.

“Van.”

“Kamu selalu pulang jam tiga lewat lima belas.” Jovan membalik halaman. “Tiga bulan terakhir kamu pulang jam setengah empat.”

“Itu—”

“Aku juga ngitung,” kata Jovan.

Dan Kenzo, dari seberang meja, menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berkata dengan suara teredam:

“Gue benci lo semua.”


Kenzo mengejarku di parkiran sepeda sore itu, sebelum aku ke ruang mading.

“Alesha.”

“Kenzo.”

“Bentar.” Dia mengatur napasnya. “Gue mau nanya.”

“Nanya.”

Dan dia berdiri di situ selama beberapa detik, dan aku sadar dia sedang menyusun sesuatu, dan Kenzo Radiktya menyusun sesuatu adalah pemandangan yang tidak biasa.

“Lo tau nggak,” katanya, “tadi pas Reyhan cerita, gue lihat ke Arga.”

“Terus?”

“Dia nggak kaget.”

Aku berhenti.

“Maksudnya?”

“Pas Reyhan bilang dia berdiri tiap hari di depan gedung timur.” Kenzo menggosok tengkuknya. “Gue lihat mukanya. Dia nggak kaget ketauan.”

“Terus?”

“Dia kaget karena Reyhan tau.”

Aku memikirkan itu.

“Bedanya apa?”

Dan Kenzo — yang berisik, yang tidak punya filter, yang menjawab sebelum ditanya — berkata dengan sangat pelan:

“Bedanya, dia pikir Reyhan nggak pernah lihat.”

Dia menendang kerikil.

“Dia berdiri tiga bulan di tempat yang bisa dilihat anak itu, tiap hari, dan dia pikir anak itu nggak pernah lihat.” Kenzo mengangkat wajahnya. “Sha, dia berdiri di situ bukan biar Reyhan ngerasa aman. Dia berdiri di situ biar preman-preman itu nggak balik.”

“Iya.”

“Tapi Reyhan ngerasa aman.”

“Iya.”

“Dan dia nggak tau.” Kenzo mengangkat kedua tangannya lalu menurunkannya lagi. “Gue kenal dia tiga tahun dan gue baru sadar hari ini.”

“Sadar apa?”

Dan Kenzo bilang:

“Dia nggak pernah ngitung yang bagus.”

Aku menoleh.

“Dia ngitung semuanya,” lanjut Kenzo. “Berapa orang yang nggak jadi masuk toko. Berapa orang yang pindah. Berapa detik dia boleh ngeliatin lo — jangan tanya gue tau dari mana, gue nggak mau ngomongin itu.”

Aku menutup mulutku.

“Tapi dia nggak pernah ngitung yang sebaliknya.” Kenzo mengambil sepedanya. “Berapa orang yang jadi aman gara-gara dia berdiri di situ.”

Dia menaiki sepedanya.

“Gue nggak tau itu artinya apa,” katanya. “Gue cuma kepikiran seharian.”

Dan dia mengayuh pergi, dan aku berdiri di parkiran sepeda memikirkan itu sampai aku terlambat lima menit ke ruang mading.


Sore itu Kak Sean menahanku di ruang mading.

Aku sudah setengah jalan keluar waktu dia bilang, sambil merapikan foto:

“Sha.”

“Iya, Kak?”

“Denger-denger kelas kamu rame tadi.”

Aku berhenti.

“Rame gimana?”

“Ada anak kelas sepuluh dateng.” Dia mengetuk-ngetukkan tumpukan fotonya ke meja. Tuk. Tuk. Tuk. “Katanya sampai nangis.”

Aku menaruh tasku kembali.

“Kakak denger dari siapa?”

“Sekolah ini kecil.”

“Kakak selalu bilang gitu.”

Dia tersenyum. “Karena bener.”

Aku berdiri di ambang pintu ruang mading dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan di ruangan ini sebelumnya.

Aku sudah tiga semester di ekskul ini. Aku sudah menghabiskan ratusan jam di ruangan ini. Kak Sean sudah mengajariku hampir semua yang kutahu tentang layout dan tentang menulis lead dan tentang kenapa berita yang diulang kecil-kecil lebih menempel daripada berita besar sekali.

Dan untuk pertama kalinya, aku menghitung sesuatu.

Aku menghitung berapa kali dia menanyakan Arga dalam empat bulan terakhir.

Sembilan.

Selalu sambil lalu. Selalu ringan. Selalu sambil merapikan sesuatu.

“Kak.”

“Hm?”

“Kenapa Kakak nanya terus soal dia?”

Tumpukan foto itu berhenti di tengah gerakan.

Setengah detik. Kalau aku tidak sedang melihat tangannya, aku tidak akan sadar.

“Aku nanya soal kamu, Sha,” katanya.

“Kakak nanya soal dia.”

“Aku nanya kelas kamu rame.”

“Kakak nanya sembilan kali dalam empat bulan.”

Dan Kak Sean menoleh.

Senyumnya masih ada. Senyumnya selalu ada.

“Kamu ngitung?”

“Aku ngitung semuanya,” kataku. “Itu masalah aku.”

Dia menaruh tumpukan fotonya.

Dan dia berkata, dengan nada yang sama sekali tidak berubah, dengan kesopanan yang persis sama seperti empat bulan lalu:

“Aku khawatir sama kamu.”

“Aku nggak apa-apa, Kak.”

“Kamu bilang gitu tiap kali.”

“Karena aku emang nggak apa-apa.”

“Sha.” Dia bersandar ke meja. “Kamu tau nggak, tahun lalu ada anak kelas sebelas yang pindah sekolah?”

Aku merasakan sesuatu dingin naik dari perutku.

“Pindah kelas,” kataku.

“Pindah kelas dulu.” Dia mengangguk. “Terus pindah sekolah, akhir tahun.”

Aku tidak tahu itu.

Callys tidak pernah bilang. Callys bilang Puspa pindah kelas dan menangis dua minggu di kamarnya. Callys tidak pernah bilang bagian akhirnya.

Atau Callys tidak tahu.

“Aku nggak mau itu kejadian lagi,” kata Kak Sean.

Dan dia mengatakannya dengan sangat lembut, dan sangat tulus, dan aku berdiri di ambang pintu itu dan aku tidak bisa menemukan satu pun celah di kalimatnya.

“Makasih, Kak,” kataku.

“Hati-hati ya.”

Tiga kali.

Dia sudah mengatakannya tiga kali dalam empat bulan, dan ketiganya persis sama.


Aku tidak pulang.

Aku ke perpustakaan, yang sudah tutup, dan aku duduk di depan pintunya di koridor lantai dua sambil membuka laptopku.

Folder arsip mading 2.

Aku scroll ke halaman ketiga.

21.04.

Dua postingan. Jarak sebelas bulan. Jam unggah sama persis sampai ke menit.

Aku scroll ke bawah dan mulai memeriksa yang lain.

Jam 21.04 tidak muncul lagi.

Tapi ada pola lain.

Dari empat puluh tujuh postingan yang kusimpan, tiga puluh satu diunggah antara jam 20.55 dan 21.15.

Rentang dua puluh menit. Tiga tahun.

Aku menutup laptopku.

Dan aku duduk di koridor lantai dua sekolah yang sudah kosong, jam setengah lima sore, dan aku memikirkan satu hal yang sudah kuhindari selama empat bulan:

Kalau seseorang mengunggah sesuatu di jam yang sama setiap malam selama tiga tahun, orang itu punya jadwal.

Dan orang yang punya jadwal seketat itu bukan anak yang iseng.

Itu orang yang menganggap ini pekerjaan.


Aku menulis di buku catatanku malam itu.

Bukan di halaman depan, yang isinya tiga puluh sembilan halaman tentang seseorang yang sudah berhenti kutambahkan.

Di halaman belakang, yang terbalik, di bawah dua baris yang kutulis dua bulan lalu.

Kalau semua orang tau apa yang aku tau, dia nggak akan sendirian.

Berarti tinggal bikin semua orang tau.

Aku menambahkan baris ketiga.

Salah. Bukan itu masalahnya.

Masalahnya bukan orang nggak tau.

Masalahnya ada yang kerja keras biar orang nggak tau.

Aku menatap tiga baris itu.

Lalu aku menambahkan satu baris lagi, dan setelah menulisnya aku duduk di meja belajarku selama sepuluh menit tanpa bergerak.

Kalau aku bikin semua orang tau, orang itu bakal ngelawan.

Dan yang dia serang bukan aku.

Aku menutup bukunya.

Aku mengambil ponselku. Aku membuka percakapan dengan Arga. Aku mengetik:

Ga, aku mau cerita sesuatu.

Aku menatapnya selama satu menit.

Lalu aku menghapusnya.

Aku mengetik lagi:

Kamu udah tidur?

Balasannya datang dalam empat puluh detik.

Belum. Ada apa?

Dan aku mengetik, dan menghapus, dan mengetik lagi, dan akhirnya yang kukirim adalah:

Nggak apa-apa. Besok aku bawain bakwan.

Oke.

Lalu, dua menit kemudian:

Alesha.

Iya?

Kalau ada apa-apa bilang ya.

Aku menatap layar itu sampai layarnya mati.

Lalu aku menaruh ponselku di laci, dan menutup lacinya, dan tidur.

Dan itu adalah kesalahan pertamaku yang benar-benar berarti — bukan yang di bulan-bulan awal, bukan yang soal Callys, bukan yang soal buku catatan.

Yang ini.

Malam itu. Jam sepuluh lewat. Waktu aku memutuskan untuk tidak bilang apa-apa karena aku pikir aku sedang melindungi seseorang.

Persis seperti yang dia lakukan padaku selama empat bulan.

Aku baru menyadari itu berbulan-bulan kemudian, dan waktu itu sudah tidak ada yang bisa kuperbaiki.