← Bangku Sebelah

Chapter Fifteen

Bab 15: Perpustakaan

POV: Alesha


Perpustakaan SMA Bhakti Persada punya satu keunggulan yang tidak dimiliki tempat lain di sekolah ini: tidak ada yang pernah ke sana.

Ada dua ratus meter persegi, delapan rak, empat belas meja, dan rata-rata tiga orang per hari, dua di antaranya tidur.

Bu Windri, penjaganya, sudah lima belas tahun di posisi itu dan sudah lama berhenti berpura-pura peduli. Beliau duduk di meja depan, merajut, dan mengangguk ke siapa pun yang masuk tanpa mengangkat kepala.

Kami mulai ke sana hari Selasa.

Bukan untuk belajar. Aku ingin jujur soal itu.

Alasannya: hujan. Tangga belakang tidak ada atapnya.

Alasan sebenarnya, yang kusadari di hari ketiga: tangga belakang ada di luar, dan di luar itu ada orang, dan Arga tidak pernah betul-betul bisa duduk tenang di tempat yang ada orangnya.

Perpustakaan tidak ada orangnya.

Dan di hari kelima, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dia bersandar.

Betul-betul bersandar, ke sandaran kursi, dengan bahu turun, dengan satu kaki diselonjorkan ke depan.

Aku sudah tiga bulan duduk di sebelah orang ini dan aku belum pernah melihat punggungnya menyentuh sandaran kursi.

Aku tidak mengatakan apa-apa soal itu.

Aku cuma mencatatnya, di kepalaku, di tempat yang aku simpan hal-hal yang tidak boleh disebut karena kalau disebut orangnya akan berhenti.


Kami punya rutinitas dalam dua minggu.

Meja pojok, dekat rak referensi, yang menghadap pintu. Dia selalu duduk di kursi yang menghadap pintu dan aku sudah berhenti berkomentar soal itu.

Dia membaca dua kali. Selalu.

Aku menulis, dia membaca, dan setiap dua puluh menit dia berdiri dan mengembalikan buku yang sudah selesai ke rak — bukan menumpuknya di meja seperti orang normal — dan kembali membawa buku baru.

Aku menghitungnya suatu hari: dia sudah mengembalikan buku ke rak yang benar tiga puluh satu kali. Termasuk buku yang bukan dia yang ambil.

“Ga.”

“Hm.”

“Kamu tau nggak Bu Windri dibayar buat ngerapiin rak?”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu—”

“Beliau lututnya sakit.”

Aku menaruh pulpenku.

“Kamu tau lutut Bu Windri sakit?”

“Rak paling bawah nggak pernah dirapiin.” Dia membalik halaman. “Yang atas rapi semua.”

Dan dia melanjutkan membaca seolah baru saja menyebutkan cuaca.


Hari Kamis minggu ketiga, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Aku sudah memikirkannya tiga hari. Aku sudah menghitung risikonya. Aku bahkan sudah menyiapkan kalimat untuk sesudahnya, kalimat ringan, supaya kalau gagal kami bisa pura-pura tidak terjadi.

Aku menutup bukuku.

Aku menggeser kursiku lima sentimeter ke kiri.

Dan aku menaruh kepalaku di bahunya.


Yang terjadi berikutnya berlangsung dua puluh menit dan aku ingat setiap detiknya.

Detik 0. Dia berhenti bernapas. Betul-betul berhenti — aku bisa merasakan dadanya berhenti bergerak.

Detik 3. Buku yang dia pegang turun dua sentimeter, lalu berhenti di situ, seperti orang yang lupa apa yang sedang dia lakukan.

Detik 8. Napasnya kembali. Terlalu cepat, terlalu dangkal.

Detik 15. Aku menghitung telinganya. Aku tidak bisa melihat telinganya dari posisi ini, tapi aku bisa melihat lehernya, dan lehernya sudah merah sampai ke kerah.

Rekor baru. Lima belas detik.

Detik 30. Dia belum bergerak sama sekali. Tidak satu milimeter.

Menit 2. Aku sadar dia sedang membaca halaman yang sama.

Menit 5. Masih halaman yang sama.

Menit 8. Bu Windri berdiri untuk ke belakang. Dia lewat meja kami. Dia tidak menoleh sama sekali karena Bu Windri sudah lima belas tahun berhenti peduli, dan itu adalah hal terbaik yang pernah beliau lakukan untuk siapa pun.

Aku merasakan bahu di bawah kepalaku menegang saat langkah kaki itu lewat, dan mengendur setelah lewat.

Menit 12. Dia membalik halaman.

Aku hampir tertawa. Aku menahannya, dan bahuku bergetar, dan dia langsung berhenti bergerak lagi.

Menit 15. Sesuatu berubah.

Aku merasakannya sebelum aku bisa menjelaskannya: bahunya turun.

Setengah sentimeter. Mungkin kurang.

Tapi turun.

Menit 18. Napasnya melambat.

Menit 20. Dia bergerak.

Bukan menjauh.

Dia menggeser bahunya — sangat pelan, dengan hati-hati yang menyakitkan, seperti orang yang memindahkan gelas penuh — sekitar satu sentimeter ke arahku, ke posisi yang lebih rata untuk kepalaku.

Lalu dia diam lagi.

Dan aku, dengan mata tertutup, dengan pipi di seragam yang berbau sedikit seperti mentega dan sedikit seperti sabun cuci, berpikir dengan sangat jelas:

Ini yang aku mau seumur hidup.

Aku tujuh belas tahun. Aku tahu kalimat itu berlebihan.

Aku tetap memikirkannya, dan aku tetap memikirkannya sekarang.


Bel berbunyi.

Aku mengangkat kepalaku.

Dan dia tidak bergerak sama sekali selama tiga detik penuh, seperti orang yang tidak yakin apa yang harus dilakukan tubuhnya sekarang.

“Ga.”

“Hm.”

“Kamu baca halaman yang sama dua puluh menit.”

“Nggak.”

“Halaman seratus dua belas.”

Dia melihat bukunya.

Dia menutupnya.

“...Iya,” katanya.

Aku memasukkan bukuku ke tas sambil tersenyum sampai pipiku sakit.

Dan waktu kami berdiri, dia berkata — pelan, cepat, ke arah rak referensi:

“Boleh lagi.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Nggak.” Dia mengangkat tasnya. “Nggak apa-apa.”

“Arganta.”

“Ayo.”

“Kamu bilang boleh lagi.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“KAMU BILANG—”

“Bu Windri lagi tidur, Alesha.”

Bu Windri memang sedang tidur.

Aku menurunkan suaraku dan berbisik dengan sangat, sangat pelan:

“Kamu bilang boleh lagi.”

Dan dia jalan ke pintu tanpa menjawab, dan telinganya merah sampai ke leher, dan itu jawabannya.


Ada satu percakapan di perpustakaan yang tidak lucu, dan aku menyimpannya di sini karena tempatnya memang di sini.

Hari Rabu minggu keempat. Hujan lagi. Bu Windri tidur.

Aku sedang menulis. Dia sedang membaca.

Dan tanpa mengangkat kepalanya, dia berkata:

“Alesha.”

“Hm?”

“Kamu masih nulis di buku kecil kamu?”

Aku berhenti.

Aku belum pernah menceritakan buku itu ke siapa pun. Bahkan Callys cuma tahu bahwa aku membawanya, bukan isinya.

“Kamu tau soal buku aku?”

“Kamu bawa tiap hari.”

“Semua orang bawa buku tiap hari.”

“Kamu buka pas nggak ada orang.” Dia membalik halaman. “Terus kamu tutup pas ada yang lewat.”

Aku menaruh pulpenku.

“Kamu merhatiin aku?”

“Iya.”

Dia mengatakannya begitu saja. Tanpa malu, tanpa panik, tanpa telinga merah.

Dan itu justru yang membuatku diam.

“Isinya apa?” tanyanya.

Aku memikirkan jawabannya cukup lama.

Aku bisa bohong. Aku bisa bilang jadwal, deadline, hal-hal remeh.

“Kamu,” kataku.

Dia menutup bukunya.

“Aku?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena nggak ada yang nyatet.” Aku menoleh. “Tiga tahun, Ga. Ada map di ruang BK yang isinya tiga baris tentang kamu dan tiga-tiganya salah. Itu satu-satunya catatan resmi yang ada.”

Dia tidak menjawab.

“Jadi aku bikin yang lain.”

Hening lama sekali.

Lalu dia bertanya, dan suaranya berubah — lebih hati-hati, seperti orang yang menanyakan sesuatu yang jawabannya bisa melukai:

“Buat apa?”

“Buat apa gimana?”

“Kamu mau apain catetan itu?”

Dan aku, yang sudah menulis di halaman terbalik di belakang buku itu berarti tinggal bikin semua orang tau, membuka mulut.

Dan menutupnya.

“Belum tau,” kataku.

Dia mengangguk.

Lalu dia bilang satu hal, sangat pelan, yang aku simpan dan yang aku abaikan, dan yang belakangan menghantuiku selama berbulan-bulan:

“Kalau nanti kamu tau,” katanya, “kasih tau aku dulu ya.”

“Kenapa?”

Dan Arganta Bhumi, yang sedang duduk bersandar di kursi perpustakaan pada hari hujan, membuka bukunya kembali dan berkata:

“Karena yang kena bukan cuma aku.”


Aku melakukannya lagi hari Jumat.

Dan hari Senin.

Dan hari Selasa.

Di hari Selasa, waktunya turun dari dua puluh menit jadi empat menit.

Empat menit sampai bahunya turun.

Aku menghitungnya dalam hati dan aku merasa seperti ilmuwan yang berhasil.

Di hari Rabu, dua menit.

Di hari Kamis, dia sudah menggeser bahunya ke posisi yang benar sebelum kepalaku sampai ke sana.

Dan itu — antisipasi kecil itu, gerakan setengah sentimeter yang dia lakukan tanpa sadar — adalah hal paling romantis yang pernah dilakukan siapa pun untukku.


Hari Jumat, Kenzo menemukan kami.

Aku tahu karena aku mendengar pintu perpustakaan terbuka, dan aku mendengar langkah, dan aku mendengar langkah itu berhenti.

Aku tidak mengangkat kepalaku.

Aku merasakan Arga menegang.

“Zo,” kata Arga.

Hening.

“Zo.”

“Aku nggak ngomong apa-apa,” kata Kenzo, dan suaranya sudah pecah di kata kedua karena dia jelas-jelas sedang menahan sesuatu yang besar sekali.

“Zo.”

“AKU NGGAK—”

“SST,” kata Bu Windri, tanpa mengangkat kepala dari rajutannya.

Kenzo menurunkan suaranya jadi bisikan yang justru lebih parah.

“Aku cuma mau ambil buku.”

“Kamu nggak pernah baca buku,” kata Arga.

“Aku BACA.”

“Buku apa?”

“...Buku.”

Aku mengangkat kepalaku akhirnya, dan Kenzo berdiri di ujung rak dengan kedua tangan menutupi mulutnya dan mata yang berair.

“Kenzo,” kataku.

“Jangan ngomong sama aku.”

“Kenzo.”

“Aku lagi banyak pikiran.”

Dan dia berbalik dan keluar dari perpustakaan, dan lewat pintu kaca aku bisa lihat dia berdiri di koridor dengan kedua tangan di kepalanya, berputar sekali, lalu berjalan pergi dengan sangat cepat.

Aku menoleh ke Arga.

Dia sedang menutup wajahnya dengan satu tangan.

“Ga.”

“Jangan.”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Dia bakal cerita ke Jovan.”

“Terus?”

“Jovan bakal nggak ngomong apa-apa.” Dia menurunkan tangannya. “Itu yang lebih parah.”


Jovan memang tidak mengatakan apa-apa.

Selama tiga hari.

Dia cuma menaikkan kacamatanya dengan satu jari setiap kali Arga lewat, yang mana ternyata bisa jadi tindakan paling menyebalkan di dunia kalau dilakukan dengan cukup konsisten.

Hari keempat, waktu kami berenam di meja, Jovan akhirnya bicara.

“Ga.”

“Hm.”

“Halaman berapa?”

Kenzo langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara seperti ketel.

“Van,” kata Arga.

“Aku cuma nanya.”

“Van.”

“Seratus dua belas,” kata Kenzo dari balik tangannya.

Dan Callys — yang tidak tahu apa-apa tentang konteksnya, yang sudah tiga hari menonton kelompok ini menyimpan sesuatu — menaruh sendoknya dengan bunyi keras.

“OKE. APA.”

“Nggak apa-apa,” kata Jovan.

“KALIAN UDAH TIGA HARI—”

“Callys,” kataku.

“NGGAK. Aku benci ini. Aku benci nggak tau.” Dia menunjuk Kenzo. “Kamu. Ngomong.”

Dan Kenzo, yang tidak pernah bisa menahan apa pun selama lebih dari empat hari, membuka mulutnya.

Dan Arga bilang, sangat pelan:

“Zo.”

Cuma itu. Satu suku kata.

Dan Kenzo menutup mulutnya.

Aku melihat itu terjadi dan aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku — bukan cemburu, bukan kagum persis.

Kenzo Radiktya, yang tidak bisa diam selama tiga puluh detik, berhenti karena satu suku kata.

“Ya udah,” kata Callys, dan dia jelas sekali tidak terima. “Ya udah! Nggak usah. Aku juga nggak peduli.”

“Kamu peduli,” kata Kenzo.

“NGGAK.”

“Kamu peduli banget.”

“KENZO—”

“Kamu nanya empat kali dalam sepuluh menit.”

“AKU—”

Dan mereka bertengkar selama sisa jam istirahat, dan di tengah pertengkaran itu Dira menoleh ke arahku dan berkata dengan sangat pelan, di bawah kegaduhan:

“Perpustakaan?”

Aku menoleh tajam.

Dira mengangkat bahu.

“Aku cuma mikir aja,” katanya. “Kalian dua minggu ini pulangnya bareng terus dan bajunya nggak pernah basah pas ujan.”

Aku menatapnya.

“Dira.”

“Hm.”

“Kamu serem.”

“Aku tau,” katanya, dan meminum airnya dengan sangat tenang.


Sore itu, di parkiran sepeda, sebelum kami pulang, aku bertanya.

“Ga.”

“Hm.”

“Kamu nggak keberatan kan?”

“Keberatan apa?”

“Yang di perpustakaan.”

Dia berhenti membuka kunci sepedanya.

“Nggak,” katanya.

“Beneran?”

“Beneran.”

“Kamu kaku banget hari pertama.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan dia berdiri, memegang setang sepedanya, dan menjawab dengan cara yang membuatku harus berpaling sebentar supaya dia tidak melihat wajahku.

“Aku nggak pernah dipeluk orang selain Ibu,” katanya.

Sangat biasa. Sangat datar. Seperti menyebutkan tinggi badannya.

“Ga.”

“Hm.”

“Itu bukan pelukan.”

“Bukan?”

“Bukan.”

Dia mengerutkan kening. “Terus apa?”

“Itu cuma nyender.”

“Oh.”

Jeda.

“Terus pelukan itu gimana?”

Dan aku berdiri di parkiran sepeda jam empat sore, memandangi orang seratus delapan puluh enam sentimeter yang baru saja bertanya bagaimana bentuk pelukan, dan aku memutuskan sesuatu yang belakangan aku syukuri.

“Nanti,” kataku.

“Nanti kapan?”

“Nanti kalau kamu yang mulai.”

Dia menatapku.

Lalu dia mengangguk, satu kali, seperti orang yang menerima tugas.

Dan kami pulang, dan dia mengayuh dengan sangat hati-hati seperti biasa, dan dia berhenti total di setiap polisi tidur seperti biasa.

Dan dua ratus meter sebelum rumahku, di perempatan, dia menurunkanku seperti biasa.

Tapi hari itu dia tidak langsung pergi.

Dia berdiri di sana, satu kaki di tanah, dan berkata:

“Alesha.”

“Hm?”

“Berapa lama biasanya?”

“Apa?”

“Sebelum orang mulai.”

Dan aku tertawa sampai aku harus memegang tiang listrik.

“Ga.”

“Apa.”

“Kamu nggak bisa nanya gitu.”

“Kenapa?”

“Karena—” Aku menyeka mataku. “Karena itu bukan hal yang ada jadwalnya.”

“Terus gimana tau kapan?”

“Ya tau aja.”

“Aku nggak tau.”

“Kamu bakal tau.”

Dia menatapku dengan wajah orang yang sedang diberi instruksi yang sangat tidak memuaskan.

“Alesha.”

“Hm?”

“Kalau aku salah gimana?”

Dan aku berhenti tertawa.

Karena pertanyaannya bukan bercanda. Dia betul-betul bertanya. Dia betul-betul takut melakukan sesuatu yang salah, dengan orang yang jelas-jelas tidak akan menganggapnya salah, dan dia sudah memikirkan itu cukup lama untuk menanyakannya di perempatan jam empat sore.

Aku maju satu langkah, dan memegang setang sepedanya, dan menatapnya.

“Ga.”

“Hm.”

“Kamu nggak bisa salah.”

“Semua orang bisa salah.”

“Sama aku, kamu nggak bisa.” Aku mengetuk setangnya dua kali. “Itu aturannya. Aku yang bikin.”

Dia menatapku lama.

Lalu dia mengangguk, sekali, seperti orang yang menerima tugas — lagi.

Dan waktu dia mengayuh pergi, dia berteriak kembali dari dua puluh meter, keras, dengan suara yang membuat tiga orang di warung menoleh:

“AKU CATET!”

Aku berdiri di perempatan itu sambil menutup wajahku dengan kedua tangan selama sepuluh detik penuh.