← Bangku Sebelah

Chapter Thirty Two

Bab 32: Lima Detik

POV: Alesha


Dia tidak melepaskannya.

Aku ingin menuliskan bagian ini persis, karena aku sudah menceritakannya empat kali kepada empat orang dewasa yang berbeda dan tiga di antaranya tidak percaya, dan karena aku sudah belajar bahwa satu-satunya hal yang kupunya adalah urutan yang benar.

Aku memegang map biru itu di sisi kanan.

Dia memegangnya di sisi kiri.

Aku menariknya. Dia tidak melepaskannya.

Aku menariknya lagi.

“Kak.”

“Bentar,” katanya.

Dan dia tersenyum.

“Aku mau ngomong.”


“Ngomong apa, Kak?”

“Nggak lama.”

Dan dia melepaskan map itu.

Aku ingin mencatat itu, karena ini bagian yang tidak dipercaya orang: dia melepaskan mapnya.

Dia melepaskan mapnya, dan mundur setengah langkah, dan berdiri dengan tangan di saku, dan sama sekali tidak melakukan apa pun yang bisa disebut mengancam.

Itu yang membuatnya bekerja.

“Kamu inget nggak semester lalu kita ngomongin frekuensi?” katanya.

Aku memegang map itu dengan dua tangan.

“Iya, Kak.”

“Kamu inget kesimpulannya?”

“Frekuensi ngalahin intensitas.”

“Nah.” Dia mengangguk. “Kamu selalu inget.”

Dan dia mengeluarkan ponselnya.

Bukan cepat. Bukan tiba-tiba. Dia mengeluarkannya seperti orang mengeluarkan ponsel.

“Aku mau nunjukin sesuatu.”


Dia menunjukkan tiga foto.

Yang pertama: aku, di halte ketiga, hari Senin. Dari seberang jalan.

Yang kedua: aku, di gerbang samping, entah hari apa. Dari atas — lantai dua.

Yang ketiga: toko kue. Jalan Melati. Jam sembilan malam. Dua orang duduk di lantai dapur.

Aku sudah melihat yang ketiga.

Aku belum melihat dua yang pertama.

Dan aku berdiri di jalur tiga meter itu dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya, dan itu bukan takut.

Itu marah.

“Kakak yang ngirim,” kataku.

Dan Sean Adhyaksa menaruh ponselnya kembali ke saku dan berkata:

“Bukan aku yang ngirim.”

“Kak—”

“Aku nggak pernah ngirim apa-apa ke kamu, Sha.” Dia mengangkat kedua tangannya sedikit. “Coba cek. Nggak ada satu pun pesan dari aku yang isinya jelek.”

Dan dia benar.

Itu bagian yang membuatku ingin muntah.

Dia benar.

“Terus foto ini apa?”

“Ini dikirim ke aku.”

“Sama siapa?”

“Nggak tau.” Dia mengangkat bahu. “Anonim. Kayak yang ke kamu.”

Aku menatapnya.

“Kak.”

“Hm?”

“Kenapa Kakak nunjukin ke aku?”

Dan Kak Sean — ketua ekskul jurnalistik, yang mengajariku layout dan lead dan struktur piramida terbalik, yang sudah menawariku posisi editor tahun depan — berkata:

“Karena aku khawatir sama kamu.”


“Aku udah bilang tiga kali, Sha,” katanya.

“Kak—”

“Aku bilang hati-hati waktu kamu pindah kelas. Aku bilang hati-hati waktu kamu duduk di sebelah dia. Aku bilang hati-hati waktu kamu jadian.”

Dia mengangkat tiga jari.

“Tiga kali.”

Dan lalu dia berkata sesuatu yang mengubah seluruh percakapan itu.

“Kamu tau nggak, semester lalu ada wali murid yang minta dia dipindah dari kelas anaknya?”

Aku berhenti bernapas.

“Kak—”

“Ditolak sama BK.” Dia mengangguk. “Aku tau kok. Aku juga tau siapa wali muridnya.”

“Dari mana Kakak tau?”

Dan dia tersenyum.

“Sekolah ini kecil, Sha.”


Ada bagian yang perlu kujelaskan.

Aku sudah menyusun seluruh percakapan ini di kepalaku selama tiga minggu. Aku sudah membayangkan momen ketika aku akhirnya berhadapan dengan orang ini, dan aku sudah menyiapkan apa yang akan kukatakan.

Aku menyiapkan: Dua puluh menit. Jam 20.55 sampai 21.15. Tiga tahun. Tiga puluh satu dari empat puluh tujuh.

Aku menyiapkan: Tiga hari sebelum, selalu ada postingan netral tentang orang yang sama. Tujuh belas kali.

Aku menyiapkan: Kakak nanya soal dia sembilan kali dalam empat bulan.

Aku tidak mengatakan satu pun.

Karena berdiri di depan orang itu, di jalur tiga meter, jam setengah enam sore, aku mengerti sesuatu yang tidak kumengerti selama tiga minggu:

Semua yang kupunya bisa dijelaskan.

Dua puluh menit itu jam bebas HP di rumah orang. Postingan netral itu kebetulan. Sembilan pertanyaan itu perhatian.

Aku punya empat puluh tujuh postingan dan nol bukti.

Dan dia tahu itu.

Itu sebabnya dia menunjukkan foto-foto itu.

Dia tidak sedang mengancamku.

Dia sedang memberitahuku bahwa dia bisa menunjukkan apa pun kepadaku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.


“Sha.”

“Iya, Kak.”

“Aku mau kamu mikirin satu hal.”

Dan dia melangkah maju.

Setengah langkah. Bukan mengancam. Cuma setengah langkah, jarak yang normal untuk orang yang mau bicara pelan.

Dan dia memegang pergelangan tanganku.


Aku ingin sangat berhati-hati di sini.

Dia tidak mencengkeram. Dia tidak menarik. Dia tidak menyakitiku.

Dia memegang pergelangan tanganku, di atas map biru, dengan cara yang — kalau ada yang lewat dan melihat sekilas — akan terlihat seperti orang yang sedang menenangkan temannya.

Dan dia berkata:

“Kalau ini semua jadi rame, yang rugi bukan dia.”

Aku mencoba menarik tanganku.

Dia tidak melepaskannya.

“Yang rugi kamu,” katanya.

“Kak, lepas.”

“Aku belum selesai.”

“KAK—”

“Sha, dengerin aku.” Suaranya masih pelan. Masih sopan. Masih persis sama seperti empat bulan terakhir. “Dia udah punya nama jelek. Nggak ada yang bisa lebih jelek dari itu. Kamu belum.”

Aku menarik tanganku lebih keras.

Dia tidak melepaskannya.

“Kalau kamu bawa ini ke sekolah,” katanya, “semua yang pernah ditulis tentang kamu bakal jadi berkas. Dicetak. Dibaca komite. Dibaca orang tua murid.”

Kata-kata Bu Retno.

Persis.

Kata per kata.

Dan aku berdiri di jalur tiga meter itu dengan pergelangan tangan yang dipegang dan aku sadar bahwa dia tahu percakapanku dengan guru BK, dan aku merasakan seluruh tubuhku dingin.

“LEPAS.”


Aku tidak tahu berapa lama.

Aku sudah mencoba mengingatnya ratusan kali dan aku tidak bisa. Mungkin enam detik. Mungkin dua puluh.

Yang kuingat: aku menarik dan dia tidak melepaskan dan aku menarik lagi dan map biru itu jatuh dan kertas-kertasnya berhamburan ke aspal.

Dan yang kuingat berikutnya adalah bunyi.

Bukan teriakan.

Langkah.

Berat. Tidak buru-buru.


Aku tidak melihatnya datang.

Aku merasakan tanganku lepas.

Dan waktu aku mengangkat kepalaku, ada punggung di depanku.

Seragam putih. Basah di bagian bahu karena dia jelas mengayuh sepeda dengan sangat cepat dari suatu tempat.

Dan lebar.

Aku pernah mendengar deskripsi ini. Di kelas kosong, sore hujan, dari seseorang yang bercerita dengan nada datar tentang gang di belakang stasiun.

Aku baru mengerti bentuknya sekarang.

Kamu tidak melihat apa-apa. Kamu cuma melihat punggung.


“Ga—” kataku.

“Berdiri di belakang.”

Suaranya tidak seperti biasa.

“Ga, aku nggak apa-apa—”

“Alesha.” Dia tidak menoleh. “Berdiri di belakang.”

Dan aku berdiri di belakang.


Yang kulihat dari belakang punggung itu, aku catat semuanya.

Sean tidak mundur.

Itu yang pertama. Dia tidak mundur satu langkah pun, dan wajahnya tidak berubah, dan senyumnya masih di situ.

“Arga,” katanya.

Arga tidak menjawab.

“Ini salah paham.”

Arga tidak menjawab.

“Aku lagi ngobrol sama dia. Kamu tanya aja.”

Dan Arga berkata — satu kalimat, pelan, dan aku mendengarnya dari empat puluh sentimeter di belakang:

“Aku nggak nanya.”

Hening.

“Kamu pegang tangannya,” kata Arga.

“Aku—”

“Dia bilang lepas.”

Dan Sean Adhyaksa mengangkat kedua tangannya, telapak menghadap ke depan, gerakan orang menyerah.

“Oke,” katanya. “Oke. Aku minta maaf.”

Dan dia melangkah ke samping, ke arah keluar, ke jalur di antara motor.

Dan waktu dia lewat — waktu dia lewat di sebelah Arga, dalam jarak setengah meter, dengan kedua tangannya masih terangkat —

dia bicara.

Sangat pelan.

Aku mendengarnya karena aku berdiri di belakang dan tidak ada suara lain di seluruh parkiran itu.

Aku tidak akan menuliskan seluruh kalimatnya.

Aku akan menuliskan bagian yang penting, karena bagian ini yang tidak masuk ke rekaman mana pun dan tidak masuk ke berita acara mana pun dan tidak dipercaya oleh siapa pun kecuali empat orang:

“...toko ibu kamu tutup jam sembilan, ya?”


Arga tidak bergerak.

Ini bagian yang aku bersaksi tentangnya empat kali dan yang tidak ada satu pun orang dewasa yang mau menuliskannya.

Arga tidak bergerak.

Sean berhenti berjalan. Dia sudah lewat. Dia sudah bebas. Dia sudah di jalur keluar.

Dan dia berhenti, dan berbalik, dan berkata sesuatu lagi yang lebih pendek.

Dan Arga bergerak.


Dia tidak memukul.

Aku bersumpah demi apa pun. Aku berdiri satu setengah meter di belakangnya dan aku melihat kedua tangannya sepanjang waktu.

Dia memegang bagian depan seragam Sean dengan tangan kiri.

Itu saja.

Dia memegang seragamnya, dan menariknya sekali, dan berkata sesuatu yang tidak kudengar karena suaranya terlalu rendah.

Dan Sean mendorongnya.


Sean mendorongnya dengan dua tangan, di dada, keras.

Arga tidak bergerak sama sekali. Berat badan mereka berbeda mungkin dua puluh kilo.

Dan Sean mendorongnya lagi.

Dan yang ketiga kalinya, dia mengayun.

Aku melihatnya. Tangan kanan. Ke arah wajah.

Dan Arga mengangkat lengan kirinya.

Menahan.

Cuma menahan — lengan bawah, diangkat, seperti orang menutupi wajah dari hujan.

Dan tangan Sean membentur lengan itu, dan Sean kehilangan keseimbangan karena dia mengayun terlalu keras ke sesuatu yang tidak bergerak, dan dia mundur dua langkah, dan tumitnya menyangkut standar motor.

Dan dia jatuh.


Bunyinya tidak keras.

Aku sudah menulis kalimat ini sebelumnya, tentang gerobak yang terguling, dan aku ingat berpikir betapa anehnya bahwa kecelakaan itu tidak berisik.

Ini juga tidak.

Kepalanya membentur sudut rak besi tempat helm.

Bunyinya seperti seseorang menaruh mangkuk terlalu cepat di meja.

Lalu dia di aspal.

Lalu ada darah.


Arga bergerak duluan.

Aku ingin mencatat itu karena tidak ada satu pun orang di seluruh proses ini yang mau mencatatnya.

Arga bergerak duluan.

Dia berlutut di sebelah Sean sebelum aku sempat berteriak. Dia melepas jaket seragamnya dan menekannya ke kepala Sean dan berkata “Alesha, panggil orang” dengan suara yang sangat tenang dan sangat jelas.

Dan aku lari.

Aku lari ke arah gedung timur sambil berteriak, dan ada dua orang di lapangan basket yang menoleh, dan salah satu dari mereka lari ke arah ruang guru.

Waktu aku kembali, Arga masih di posisi yang sama.

Menekan.

Sean sadar. Matanya terbuka. Dia bicara — sesuatu yang tidak jelas.

Dan Arga bilang, ke arahnya, dengan nada yang sama sekali tidak berubah:

“Jangan gerak dulu.”


Guru piket datang jam lima lewat empat puluh sembilan.

Aku tahu jamnya karena aku melihat jam dinding di ruang UKS dan menghitung mundur, karena menghitung adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan waktu itu.

Sebelas menit dari awal sampai akhir.

Dan dari sebelas menit itu, yang terekam CCTV parkiran belakang — kamera tunggal, di tiang, menghadap barisan motor, dengan sudut yang menutupi sekitar sepertiga jalur — adalah lima detik.

Lima detik terakhir sebelum jatuh.

Yang masuk kamera:

Tangan Arga memegang seragam Sean.

Sean mundur.

Sean jatuh.

Yang tidak masuk kamera:

Map biru. Pergelangan tanganku. Foto-foto di ponsel. Tiga kali dorongan. Ayunan tangan kanan. Lengan kiri yang diangkat untuk menahan.

Dan sebelas menit di mana aku memegang jaket seragam yang sudah basah sementara seseorang berlutut di aspal menekan luka di kepala orang yang baru saja memberitahunya jam berapa toko ibunya tutup.


Aku bersaksi malam itu.

Aku bersaksi di ruang guru, jam tujuh malam, di depan wakil kepala sekolah dan guru piket dan satu orang dari komite yang aku tidak tahu namanya.

Aku menceritakan semuanya. Dengan urutan yang benar. Tanpa satu pun bagian yang kulewati.

Dan waktu aku selesai, orang dari komite itu bertanya:

“Kamu pacarnya, ya?”


Aku ingin menuliskan apa yang terjadi di ruangan itu selama dua puluh menit berikutnya, karena aku sudah memikirkannya ratusan kali dan aku masih tidak tahu apakah ada yang bisa kulakukan berbeda.

“Iya, Pak.”

“Oh.” Dia mencatat sesuatu.

“Tapi saya lihat semuanya.”

“Iya, iya.” Dia masih mencatat. “Kamu bilang tadi dia megang tangan kamu.”

“Iya.”

“Kak Sean.”

“Iya, Pak.”

“Megang gimana?”

Dan aku mengangkat pergelangan tanganku dan menunjukkannya.

Dan dia melihatnya, dan mengangguk, dan bertanya:

“Ini yang bikin merah itu dia, atau kamu yang narik?”

Aku membuka mulut.

“Saya narik karena dia nggak lepas.”

“Iya. Tapi yang bikin merah yang mana?”

Aku tidak menjawab.

Karena aku tidak tahu jawabannya.

Karena aku memang menarik. Karena aku menarik keras. Karena kalau seseorang memegang pergelangan tanganmu dan kamu menarik keras, kulitmu memerah, dan tidak ada cara untuk memisahkan mana yang mana.

“Pak,” kataku, “dia nunjukin foto saya ke saya.”

“Foto apa?”

“Foto saya di halte. Foto saya di gerbang. Foto rumah pacar saya.”

“Di HP dia?”

“Iya.”

Wakil kepala sekolah mengangkat kepalanya.

“Kamu lihat langsung?”

“Iya, Pak.”

“Kamu bisa buktiin?”

Dan aku duduk di ruang guru jam tujuh malam dan aku sadar bahwa jawabannya adalah tidak.

Bahwa satu-satunya bukti keberadaan foto-foto itu ada di dalam ponsel milik anak yang sekarang sedang dijahit kepalanya di rumah sakit karena pacarku.

“Nggak, Pak.”

“Ya udah.”

Dan dia mencatat sesuatu lagi.

Dan lalu dia bertanya, dengan nada yang sama sekali biasa:

“Kamu udah pernah lihat Arganta marah sebelumnya nggak?”

“Belum pernah, Pak.”

“Nggak pernah sama sekali?”

“Nggak pernah.”

Dan dia mengangguk, dan mencatat, dan berkata:

“Berarti kamu nggak tau dia gimana kalau marah.”


Aku ingin mencatat bahwa aku tidak menangis di ruangan itu.

Aku menangis di koridor, sesudahnya, sendirian, sambil memegang map biru yang entah bagaimana masih ada di tanganku selama seluruh malam itu.

Kenzo menemukanku di situ jam setengah delapan.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia duduk di lantai di sebelahku dan tidak bertanya apa-apa selama mungkin lima menit.

Lalu dia berkata:

“Sha.”

“Hm.”

“Dia mukul?”

“Nggak.”

“Lo lihat?”

“Aku lihat semuanya.”

Dan Kenzo Radiktya menghela napas panjang dan menutup matanya dan berkata, dengan suara yang sangat lelah:

“Ya udah.”

“Zo—”

“Nggak ada bedanya, Sha.”

Aku menoleh.

“Apa?”

Dan Kenzo membuka matanya dan menatap koridor kosong di depan kami dan berkata:

“Gue lihat semuanya juga, lima tahun lalu.”


Jovan datang jam delapan.

Dia membawa dua botol air, memberikan satu padaku dan satu pada Kenzo, dan duduk di sisi lain.

“Gimana?” tanya Kenzo.

“Sean di rumah sakit.”

“Parah?”

“Empat jahitan. Nggak parah.”

Kenzo menghembuskan napas.

“Terus?”

Dan Jovan Arsakha melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung hoodie, memakainya lagi.

“Bapaknya udah di sekolah,” katanya.

Aku menoleh.

“Bapaknya?”

“Iya.”

“Sekarang?”

“Dari jam tujuh.”

Dan Jovan menatap koridor.

“Sama dua orang lagi,” katanya. “Salah satunya dari yayasan.”


Arga keluar dari ruang kepala sekolah jam sembilan lewat.

Aku berdiri.

Dia melihatku, dan berhenti, dan aku melihat wajahnya.

Wajahnya biasa saja.

Itu yang paling menakutkan dari seluruh malam itu. Bukan darah, bukan CCTV, bukan orang dari yayasan.

Wajahnya biasa saja.

“Ga—”

“Kamu belum pulang?”

“Ga, aku bersaksi. Aku ceritain semuanya, aku bilang kamu nggak—”

“Alesha.”

Aku berhenti.

Dia berjalan ke arahku, dan berhenti dua langkah, dan bertanya:

“Tangan kamu nggak apa-apa?”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Pergelangan tangan kamu.”

Dan aku melihat ke bawah dan aku baru sadar bahwa ada bekas merah di pergelangan tangan kananku yang sudah ada di situ selama tiga setengah jam dan yang tidak kusadari sama sekali.

“Ga—”

“Nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Oke.”

Dan dia mengangguk.

Dan dia berjalan melewatiku ke arah tangga.

“GA.”

Dia berhenti.

“Kamu nggak mau ngomong apa-apa?”

Dan Arganta Bhumi berdiri di koridor lantai satu, jam sembilan lewat, dengan seragam yang jaketnya sudah tidak ada karena dipakai menekan luka di kepala orang lain, dan berkata:

“Besok jam sembilan masih jadi?”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Ga—”

“Kamu mau cerita.”

“Ga, sekarang bukan—”

“Alesha.” Dan dia menoleh, dan untuk pertama kalinya malam itu wajahnya berubah, cuma sedikit, cuma di sekitar mata. “Aku mau denger.”

Dia menuruni tangga.

Dan aku berdiri di koridor itu sambil memegang map biru dan aku baru menyadari sesuatu yang membuatku harus berpegangan ke tembok:

Dia belum tahu.

Dia menarik orang lepas dari pergelangan tanganku dan dia berlutut di aspal selama sebelas menit dan dia duduk di ruang kepala sekolah selama tiga jam.

Dan dia belum tahu apa-apa.

Dia cuma tahu ada yang memegang tanganku.