Chapter Twenty Three
Bab 23: Punggung
POV: Alesha
Kolam renang sekolah dikuras hari Selasa, jadi jadwal olahraga kelas kami diganti jadi lari.
Delapan putaran lapangan. Panas. Jam sepuluh pagi.
Aku tidak akan menceritakan bagian larinya, kecuali satu hal: Kenzo pingsan di putaran keenam, yang mana bukan hal serius karena ternyata dia belum sarapan sejak hari Minggu karena — kutipan langsung — “gue lagi hemat.”
Callys memarahinya selama dua belas menit sambil mengipasinya dengan buku tulis.
Yang penting terjadi setelahnya.
Kami di lorong belakang ruang ganti, menunggu giliran.
Arga bersandar di tembok dengan seragam olahraga yang basah, memegang botol air, dan sedang menjelaskan sesuatu ke Jovan tentang jadwal.
Dan aku melihatnya.
Kain kaus olahraga itu lebih tipis dari seragam biasa. Basah, menempel.
Dan di punggung kirinya, dari bawah tulang belikat turun ke arah pinggang, ada garis.
Bukan bayangan. Bukan lipatan kain.
Garis.
Aku sudah tahu selama lima bulan. Aku sudah mendengar Kenzo menceritakannya di kelas kosong pada sore hujan. Aku sudah tahu angkanya — delapan — dan aku sudah tahu jam berapa Kenzo menanyakan namanya di rumah sakit.
Aku belum pernah melihatnya.
Ada perbedaan yang sangat besar antara tahu dan melihat, dan aku baru menyadari itu di lorong belakang ruang ganti, jam sepuluh lewat, sambil memegang botol airku sendiri dan tidak bisa bergerak.
Callys melihatku.
Lalu dia mengikuti arah pandanganku.
Dan dia berhenti bergerak juga.
Kami berdua berdiri di lorong itu, dan tidak ada satu pun dari kami yang mengatakan apa-apa, dan Arga terus menjelaskan sesuatu tentang jadwal ke Jovan yang mengangguk dua kali.
Callys mengambil tanganku.
Dia meremasnya sekali, keras, lalu melepaskannya.
Dan waktu Arga menoleh ke arah kami, kami berdua sudah berpura-pura membaca papan pengumuman yang isinya jadwal ekskul semester lalu.
Aku memikirkannya selama tiga hari.
Bukan garisnya. Angkanya.
Delapan jahitan itu kelas tiga SMP. Lima tahun lalu. Bukan hal yang bisa diperbaiki, bukan hal yang bisa dibalas, bukan hal yang bisa kulakukan apa pun terhadapnya.
Yang kupikirkan hal lain:
Berapa banyak orang di sekolah ini yang pernah melihat garis itu?
Anak laki-laki kelas kami. Semua yang pernah ganti baju di ruangan yang sama dengannya selama tiga tahun. Puluhan.
Dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu ceritanya.
Mereka melihat garis di punggung anak yang katanya berandalan, dan mereka menyimpulkan hal yang paling masuk akal, dan kesimpulan itu salah, dan tidak ada satu orang pun yang pernah mengoreksinya karena satu-satunya orang yang bisa mengoreksi tidak mau bicara dan satu-satunya saksi tidak dipercaya.
Aku menulis satu baris di buku catatanku malam itu.
Buktinya ada di badannya, dan buktinya dibaca kebalik.
Ada satu hal yang terjadi hari Rabu, di antara lorong ruang ganti dan hari Jumat, yang perlu kutulis di sini.
Callys menemuiku di ruang musik.
Dia tidak duduk. Dia berdiri di depan piano yang tidak pernah dipakai siapa pun dan menekan satu tuts dengan satu jari, berkali-kali, tanpa nada.
“Sha.”
“Hm?”
“Yang di lorong.”
“Iya.”
“Aku pernah lihat sebelumnya.”
Aku menoleh.
“Kapan?”
Dan Callys menekan tuts itu sekali lagi.
“Waktu aku ngikutin dia di Jalan Anggrek,” katanya. “Dua kilometer itu. Pas dia lepas jaketnya buat anak itu.”
Aku menaruh tasku.
“Kamu nggak pernah bilang.”
“Aku nggak tau itu apa.” Dia mengangkat bahu. “Aku lihat dari trotoar seberang. Aku cuma inget mikir, punggung orang nggak bentuknya kayak gitu.”
Dia berhenti menekan tuts itu.
“Terus Kenzo cerita di kelas waktu hujan,” katanya. “Dan aku duduk di situ dan aku nyocokin. Bentuknya. Panjangnya. Sisi kirinya.”
Dia berbalik.
“Sha, aku udah lihat buktinya dua bulan sebelum aku dengerin ceritanya,” katanya. “Dan aku nggak mikir apa-apa.”
“Callys—”
“Aku lihat luka di punggung orang,” katanya, “dan otak aku nggak nanya kenapa. Otak aku langsung mikir ‘oh, dia emang gitu orangnya.’”
Dia duduk di bangku piano.
“Itu yang aku nggak bisa lupain,” katanya. “Bukan yang screenshot. Yang itu aku hapus, selesai. Yang ini nggak bisa dihapus.”
Aku duduk di sebelahnya.
“Kamu mau aku bilang apa?”
“Nggak usah bilang apa-apa.” Dia menekan tuts itu lagi. “Aku cuma pengen ada satu orang yang tau.”
Kami duduk di bangku piano itu sampai bel.
Hari Jumat, toko tutup lebih awal.
Ada hajatan di gang sebelah dan Bunda Ratih memutuskan tidak ada yang akan beli kue sore itu, jadi jam lima toko sudah bersih.
Aku di sana. Aku sering di sana sekarang — cukup sering sampai Bunda Ratih berhenti memberiku makan tiap kali datang, yang kuanggap sebagai bentuk penerimaan tertinggi.
“Kami ke tempat Bu Har,” kata beliau, memakai kerudungnya. “Kalian jaga rumah ya.”
“Iya, Bu.”
“Ga, kalau ada yang ketok bilang tutup.”
“Iya, Bu.”
“Alesha, kamu makan dulu.”
“Udah, Bu.”
“BOHONG.”
Dan mereka pergi, dan pintu depan dikunci, dan tiba-tiba rumah di atas toko itu jadi sangat sunyi.
Kami duduk di lantai ruang tengah.
Ruang tengahnya kecil. Ada satu sofa yang tidak dipakai siapa pun karena semua orang di rumah ini duduk di lantai, satu televisi yang tidak dinyalakan, dan kipas angin berdiri yang berputar dengan bunyi klik tiap kali sampai ujung.
Dia sedang membetulkan gagang panci yang lepas.
Aku memperhatikan tangannya. Aku selalu memperhatikan tangannya.
“Ga.”
“Hm.”
“Boleh aku nanya sesuatu?”
“Boleh.”
“Sesuatu yang nggak boleh.”
Dia berhenti mengencangkan sekrup.
“Yang mana?”
Dan aku duduk di lantai ruang tengah rumahnya, dengan kipas angin yang berbunyi klik, dan aku melanggar aturan nomor tiga.
“Punggung kamu.”
Dia tidak marah.
Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah menyiapkan diri untuk kemarahan dan kemarahan tidak datang.
Dia menaruh obengnya.
“Kenzo cerita?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Sore hujan itu. Waktu kamu keluar beli minum.”
Dia mengangguk pelan.
“Aku udah nebak,” katanya.
“Kamu nebak?”
“Kalian semua aneh pas aku balik.” Dia mengangkat bahu. “Callysta bilang makasih.”
Aku hampir tertawa.
“Itu yang bikin kamu curiga? Callys bilang makasih?”
“Iya.”
Dan dia mengambil obengnya lagi, dan mengencangkan sekrup terakhir, dan menaruh pancinya di lantai.
“Kamu mau lihat?” tanyanya.
Aku berhenti bernapas.
“Ga—”
“Aku nanya beneran.”
“Kamu nggak harus—”
“Alesha.” Dia menoleh. “Kamu udah tau ceritanya. Kalau kamu nggak lihat, kamu bakal ngebayangin. Dan yang dibayangin biasanya lebih jelek.”
Dan aku duduk di lantai itu dan aku menyadari sesuatu:
Dia sudah memikirkan ini. Bukan sekarang. Sudah lama.
Dia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang belum pernah kutanyakan, dan dia menyimpannya, dan dia menunggu.
“Iya,” kataku. “Aku mau lihat.”
Dia berdiri, dan berbalik, dan mengangkat kausnya sampai ke bahu.
Aku ingin menuliskan ini dengan benar.
Bukan garis. Dari jarak tiga meter di lorong ruang ganti, itu kelihatan seperti garis.
Dari jarak setengah meter, itu bukan garis.
Panjangnya mungkin dua puluh sentimeter, dari bawah tulang belikat kiri turun miring ke arah pinggang. Lebarnya tidak rata — di bagian atas tipis, di bagian tengah melebar, lalu menyempit lagi.
Warnanya lebih terang dari kulit di sekitarnya. Bukan merah. Sudah lima tahun.
Dan di dua sisinya, ada titik-titik kecil.
Delapan.
Empat di kiri, empat di kanan, berpasangan, dengan jarak yang tidak rata karena orang yang menjahitnya jelas bekerja cepat.
Aku menghitungnya dua kali.
Bukan karena aku ragu.
Karena aku ingat Kenzo berdiri di pintu rumah sakit jam sebelas malam dan menghitung, dan aku ingin menghitung hal yang sama dengan anak laki-laki empat belas tahun itu.
“Alesha.”
“Bentar.”
“Kamu nggak apa-apa?”
“Bentar, Ga.”
Dan aku duduk di lantai ruang tengah dengan kipas angin yang berbunyi klik, memandangi punggung yang selama tiga tahun dibaca terbalik oleh seluruh sekolah, dan aku tidak bisa bicara selama mungkin setengah menit.
Lalu aku mengulurkan tangan.
“Boleh?”
Dia diam.
“Ga?”
“...Boleh.”
Aku menyentuhnya.
Dia menegang seluruhnya.
Bukan seperti di perpustakaan. Ini berbeda — ini bukan gugup. Seluruh punggungnya mengeras seperti orang yang bersiap menerima sesuatu.
Aku menarik tanganku.
“Sori—”
“Nggak.” Suaranya serak. “Nggak, lanjut aja.”
“Kamu—”
“Aku nggak biasa.” Dia menarik napas. “Nggak ada yang pernah.”
Aku berhenti.
“Nggak ada yang pernah apa?”
“Nyentuh.”
Dan aku duduk di lantai itu dan aku merasakan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kutampung.
Lima tahun.
“Ibu kamu?”
“Ibu ngelap pas masih perlu diganti perbannya.” Dia masih membelakangiku. “Habis itu nggak.”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak mau.”
“Kenapa?”
Dan dia bilang:
“Karena tiap kali ada yang lihat, mukanya berubah.”
Aku menaruh telapak tanganku di punggungnya.
Tidak menelusuri. Cuma menaruh, telapak penuh, di atas garis itu, dan membiarkannya di situ.
Dia menegang lagi.
Lalu, pelan sekali, dia mengendur.
“Muka aku berubah nggak?” tanyaku.
“Aku nggak lihat.”
“Balik badan.”
“Alesha—”
“Balik badan, Ga.”
Dia berbalik.
Dan dia melihat wajahku, dan aku melihat wajahnya, dan tidak ada satu pun dari kami yang mengatakan apa-apa selama beberapa detik.
“Kamu nangis,” katanya.
“Iya.”
“Alesha—”
“Aku boleh nangis.” Aku menyeka mataku dengan lengan. “Ini bukan muka kasian, Ga. Aku tau bedanya dan kamu juga tau bedanya.”
Dia duduk kembali di lantai.
Dan lalu — untuk pertama kali dalam lima bulan, tanpa kutanya, tanpa kupaksa, tanpa didahului apa pun —
dia bercerita.
“Aku nggak inget sakitnya,” katanya.
Kami duduk berhadapan di lantai. Kipas angin berbunyi klik.
“Orang selalu nanya sakit nggak. Aku bilang lupa. Itu bohong.” Dia memutar obeng di tangannya. “Aku bukan lupa. Aku emang nggak ngerasain waktu itu.”
“Kamu ngerasainnya kapan?”
“Di rumah sakit. Pas dijahit.”
Dia berhenti.
“Yang paling aku inget bukan itu juga,” katanya.
“Terus apa?”
Dan Arganta Bhumi menatap obeng di tangannya dan bercerita, dan ini pertama kalinya aku mendengar suaranya seperti itu — pelan, tanpa jeda, seperti orang yang sudah lama menyusun kalimat ini dan tidak pernah punya tempat untuk mengeluarkannya.
“Aku inget muka Ibu.”
Aku menutup mulutku.
“Ibu dateng jam sepuluh. Dari toko, masih pakai apron.” Dia mengangkat bahunya sedikit. “Ibu nggak nangis. Ibu nggak marah. Ibu cuma berdiri di pintu.”
“Terus?”
“Terus Ibu nanya satu hal.”
Dia meletakkan obengnya.
“Ibu nanya, ‘Anaknya selamat?’”
Aku merasakan sesuatu pecah di dadaku.
“Bukan ‘kamu ngapain’,” katanya. “Bukan ‘kenapa kamu ke situ’. Bukan ‘kamu tau nggak Ibu khawatir’.”
Dia menatap lantai.
“‘Anaknya selamat?’”
“Kamu jawab apa?”
“Aku bilang iya.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Terus Ibu bilang ‘ya udah’, terus Ibu duduk di sebelah kasur, terus Ibu nggak ngomong apa-apa lagi sampai pagi.”
“Yang bikin susah bukan malam itu,” katanya.
Dia mengambil obengnya lagi. Dia jelas butuh sesuatu untuk dipegang.
“Yang bikin susah dua minggu setelahnya.”
“Kenapa?”
“Karena aku balik sekolah.”
Dia memutar obeng itu di jarinya.
“Aku pikir orang bakal nanya. Aku udah nyiapin jawabannya.” Dia mengangkat bahu. “Aku nyusun kalimatnya di kepala selama dua minggu di rumah. Gimana ngomongnya, mulai dari mana, siapa aja yang perlu tau.”
“Terus?”
“Terus nggak ada yang nanya.”
Kipas angin klik.
“Semua orang udah punya ceritanya,” katanya. “Aku dateng ke sekolah bawa versi aku dan ternyata udah telat dua minggu.”
“Kamu nggak coba?”
“Coba.”
“Terus?”
Dan dia bilang, dengan nada paling datar sedunia:
“Wali kelas aku bilang, ‘Ya sudah, yang penting nggak diulang.’”
Aku menutup mataku.
“Aku baru ngerti tiga bulan kemudian apa artinya,” lanjutnya. “Beliau bukan nggak percaya. Beliau nggak dengerin. Beliau udah tau jawabannya sebelum aku ngomong, jadi yang aku omongin nggak masuk.”
Dia menaruh obengnya.
“Sejak itu aku berhenti.”
“Berhenti cerita?”
“Berhenti nyiapin kalimat.”
Aku pindah.
Aku bergeser di lantai sampai aku duduk di sebelahnya, bahu ke bahu, menghadap arah yang sama.
Dia tidak menjauh.
“Ga.”
“Hm.”
“Kalau ada yang nanya sekarang, kamu bakal cerita?”
Dia memikirkannya cukup lama.
“Nggak,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena sekarang lebih parah.”
Aku menoleh.
“Lebih parah gimana?”
Dan dia berkata, sambil memandangi kipas angin:
“Dulu kalau aku cerita, yang rugi cuma aku.”
Dia menoleh ke arahku.
“Sekarang ada lima orang.”
Aku menaruh kepalaku di bahunya.
Dua detik. Bahunya sudah turun.
Rekor baru, dan aku tidak mengomentarinya.
Kami duduk seperti itu cukup lama. Kipas angin berputar. Ada bunyi hajatan dari gang sebelah, jauh, musik dangdut yang terlalu keras di sistem suara yang terlalu kecil.
“Ga.”
“Hm.”
“Aku sayang kamu.”
Dia berhenti bernapas.
Aku tidak mengangkat kepalaku. Aku sengaja tidak mengangkat kepalaku, karena aku sudah belajar bahwa dia lebih bisa bicara kalau tidak ada yang menatapnya.
Aku menunggu.
Aku merasakan dadanya bergerak — dia menarik napas, dan aku merasakan dia membuka mulut, dan aku merasakan seluruh tubuhnya bersiap.
Tidak ada suara yang keluar.
Aku menunggu.
Dia menarik napas lagi.
Lagi tidak ada.
Dan pada percobaan ketiga, aku merasakan bahunya turun — bukan mengendur, tapi menyerah — dan tangannya naik dan melingkari punggungku dan menariknya lebih dekat, dan itu jawabannya.
“Nggak apa-apa,” kataku.
“Alesha.”
“Nggak apa-apa, Ga. Beneran.”
“Aku—”
“Aku tau.”
Dan aku merasakan dia menunduk, dan menaruh dagunya di kepalaku, dan menarik napas panjang yang tidak stabil.
Kami duduk di lantai ruang tengah rumahnya sampai orang tuanya pulang jam setengah delapan.
Malam itu, di rumah, aku membuka buku catatanku.
Aku membuka halaman depan — tiga puluh sembilan halaman yang sudah berhenti kutambahkan sejak sore hujan itu.
Aku membaca ulang dari awal.
Payung biru pudar. Majalah yang disusun berdasarkan ukuran. Ransel di perempatan. Galon dua tahun. Portal sebelas detik. Bakwan yang dilipat empat. Gerobak jam lima subuh. Motor dua kilometer. Kotak-kotak kue tiap Jumat selama dua tahun tiga bulan. Berdiri di depan gedung timur tiap hari selama tiga bulan.
Dan sekarang, delapan jahitan.
Aku menutup buku itu.
Lalu aku membukanya lagi, ke halaman terakhir yang terisi, dan aku menulis satu baris.
Bukan bukti. Bukan tanggal.
Semua yang ada di buku ini, orangnya sendiri nggak nganggep penting.
Aku menatapnya.
Lalu aku menambahkan:
Dan aku baru sadar itu bukan rendah hati.
Itu karena nggak ada yang pernah bilang ke dia bahwa itu penting.
Aku menutup bukunya, dan menaruhnya di laci, dan tidur.
Dan aku tidak membukanya lagi selama sepuluh hari, karena hari Senin berikutnya Bu Retno memanggilku ke ruang BK.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung reading
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama