Chapter Twenty Seven
Bab 27: Salah Ngomong
POV: Arga
Aku ingin mulai dengan mencatat bahwa aku tidak melakukan apa-apa.
Ini penting karena Kenzo, sampai sekarang, bersikeras bahwa aku “ngatur semuanya” dan bahwa aku “punya rencana” dan bahwa aku “diem-diem serem.”
Aku tidak punya rencana.
Aku cuma ada di ruangan itu.
Hari Selasa. Kelas kosong jam istirahat kedua karena ada latihan upacara di lapangan untuk kelas sepuluh, dan setengah sekolah keluar untuk menonton karena tidak ada hiburan lain.
Yang tinggal di kelas: aku, Kenzo, dan Callysta.
Alesha di ruang mading. Jovan mengantar Dira ke ruang musik dan tidak kembali selama empat puluh menit, yang mana adalah cerita terpisah yang belum kutahu waktu itu.
Aku sedang menyalin catatan Sejarah.
Kenzo sedang tidur di meja.
Callysta sedang mengerjakan sesuatu di seberang meja.
Dan selama sekitar dua puluh menit, tidak ada yang bicara, dan itu menyenangkan.
Lalu Kenzo bangun.
“Callys.”
“Apa.”
“Lo punya penghapus?”
“Punya.”
Jeda.
“Boleh pinjem?”
“Nggak.”
“KENAPA.”
“Karena kamu nggak pernah balikin.”
“Gue selalu balikin.”
“Kamu punya empat penghapus aku.”
“Gue nggak punya empat—”
“Empat, Kenzo. Aku ngitung.”
“KENAPA LO NGITUNG PENGHAPUS.”
“Karena kamu ambil terus.”
Aku menyalin catatan Sejarah dan tidak mengangkat kepala.
Aku sudah tiga bulan mendengar ini. Aku sudah bisa memprediksi urutannya. Kenzo akan mengklaim ketidakadilan, Callysta akan menyebutkan bukti, Kenzo akan mengganti topik, Callysta akan menolak ganti topik.
Kenzo mengklaim ketidakadilan.
Callysta menyebutkan bukti.
Kenzo mengganti topik.
“Lo tau nggak sih lo tuh kenapa nggak punya temen.”
Aku berhenti menulis.
Itu bukan bagian dari urutan.
Callysta menaruh pulpennya.
“Apa?”
“Lo galak.”
“Aku punya temen.”
“Lo punya Alesha sama Dira. Itu doang.”
“Itu cukup.”
“Gue nggak bilang nggak cukup.” Kenzo duduk tegak. “Gue bilang lo galak.”
“Terus?”
“Terus gue heran aja.”
“Heran kenapa?”
Dan Kenzo — yang belum sepenuhnya bangun, yang jelas belum menghitung apa yang sedang dia lakukan — berkata:
“Heran kenapa gue masih di sini.”
Ruangan itu jadi sunyi.
Aku tetap tidak mengangkat kepala. Aku sudah belajar bahwa mengangkat kepala di momen seperti ini membuat orang berhenti bicara, dan kadang orang perlu tidak berhenti bicara.
“Maksudnya apa,” kata Callysta.
“Nggak maksud apa-apa.”
“Kenzo.”
“Gue cuma—” Dia menggosok wajahnya. “Lupain.”
“Kamu nggak bisa ngomong gitu terus bilang lupain.”
“Bisa.”
“NGGAK BISA.”
“Callys—”
“Kamu bilang kamu heran kenapa kamu masih di sini.” Dia berdiri. “Itu artinya apa?”
Dan Kenzo berdiri juga, karena Kenzo selalu berdiri kalau Callysta berdiri, dan aku sudah memperhatikan itu selama tiga bulan dan belum pernah menyebutkannya ke siapa pun.
“Artinya lo nyebelin,” kata Kenzo.
“Aku tau aku nyebelin.”
“Artinya lo galak sama semua orang.”
“Aku tau.”
“Artinya lo teriak-teriak terus, lo ngitungin penghapus, lo marah kalau gue ngomong, lo marah kalau gue nggak ngomong—”
“IYA.”
“—dan gue tetep nyariin lo tiap istirahat!”
Aku menaruh pulpenku.
Ada jeda sekitar dua detik.
Dua detik itu cukup lama untuk seseorang menyadari apa yang baru dia katakan.
Kenzo menyadarinya.
Aku melihat wajahnya berubah — dari marah, ke bingung, ke sesuatu yang mirip orang yang baru sadar dia berdiri di tengah jalan.
“Itu bukan—” katanya.
Callysta tidak bergerak.
“Itu bukan gitu maksud gue.”
“Terus gimana.”
“Gue maksudnya—” Kenzo mengangkat kedua tangannya. “Gue maksudnya lo nyebelin tapi gue tetep—”
Dia berhenti.
“Tetep apa,” kata Callysta.
Dan suaranya sudah berbeda. Bukan marah lagi.
“Kenzo.”
“Gue tarik.”
“Kamu nggak bisa narik.”
“Gue tarik, Callys.”
“KAMU NGGAK BISA NARIK OMONGAN.”
“KENAPA NGGAK BISA.”
“KARENA AKU UDAH DENGER.”
Dan mereka berteriak berhadapan dengan jarak satu meter di kelas yang kosong, dan aku duduk di sudut kanan belakang memegang pulpen yang sudah tidak kupakai, dan aku sadar dengan sangat jelas bahwa aku sedang berada di tempat yang paling tidak tepat di seluruh sekolah ini.
Aku mempertimbangkan untuk keluar.
Aku bahkan sudah menggeser kursiku dua sentimeter.
Dan Kenzo menoleh ke arahku dan berkata:
“GA. BANTUIN.”
Aku membeku.
Aku ingin menjelaskan sesuatu tentang diriku.
Aku bisa mengangkat gerobak delapan puluh kilo. Aku bisa berdiri di antara empat orang dan tiga orang tanpa berkedip. Aku pernah masuk ke gang di belakang stasiun jam setengah delapan malam untuk orang yang bahkan tidak kukenal namanya.
Aku tidak bisa melakukan ini.
“Aku— ” kataku.
“Ga, lo bilang sesuatu.”
“Aku nggak ngerti apa-apa.”
“LO DENGERIN DARI TADI.”
“Aku nyalin Sejarah.”
“LO NGGAK NULIS SATU KATA PUN LIMA MENIT TERAKHIR.”
Callysta menoleh ke arahku juga.
Dan sekarang ada dua orang menatapku dan aku memegang pulpen dan tidak ada satu pun kalimat di kepalaku.
“Bhumi,” kata Callysta.
“Iya?”
“Menurut kamu dia barusan ngomong apa?”
Dan aku — yang tidak punya rencana, yang tidak ngatur apa pun, yang cuma kebetulan ada di ruangan itu — menjawab dengan hal paling jujur yang bisa kutemukan:
“Dia bilang dia nyariin kamu tiap istirahat.”
Kenzo menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“GA.”
“Kamu nanya.”
“BUKAN GUE YANG NANYA.”
“Kamu nyuruh aku bantuin.”
“ITU BUKAN BANTUIN, ITU—”
“Kenzo,” kata Callysta.
Dan Kenzo berhenti.
Aku ingin mencatat apa yang terjadi berikutnya dengan urutan yang benar, karena aku menyaksikannya dari jarak dua meter dan aku masih tidak sepenuhnya mengerti.
Callysta Aruna berdiri di tengah kelas kosong.
Dan dia bertanya, dengan suara yang jauh lebih kecil dari suara teriaknya:
“Kamu nyariin aku tiap istirahat?”
“Callys—”
“Jawab aja.”
Kenzo menurunkan tangannya dari wajahnya.
Dan dia berdiri di situ, dan bahunya turun, dan dia terlihat lelah dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya di orang yang tidak pernah diam.
“Iya,” katanya.
“Dari kapan?”
“Nggak tau.”
“Kenzo.”
“Gue nggak tau, Callys.” Dia mengangkat bahu. “Gue nggak ngitung kayak lo semua. Gue cuma—”
Dia berhenti.
“Gue cuma tiap istirahat jalan ke sini terus liat lo ada nggak.”
Callysta tidak bergerak.
“Terus kalau nggak ada?” tanyanya.
“Ya gue cari.”
“Ke mana?”
“Ruang musik. Perpus. Kantin.” Kenzo menggosok tengkuknya. “Ruang musik biasanya.”
“Kamu tau aku di ruang musik?”
“Lo selalu di ruang musik kalau lo lagi kesel.”
Dan Callysta Aruna — yang aku kenal sebagai orang yang paling cepat membalas di seluruh sekolah ini, yang tidak pernah kehabisan kalimat, yang bisa mematahkan Kenzo dalam empat detik —
tidak mengatakan apa-apa selama tujuh detik penuh.
Aku menghitungnya. Aku juga menghitung sekarang. Aku tidak tahu sejak kapan.
“Oh,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Oke.”
“Iya.”
“Ya udah.”
“Iya.”
Dan mereka berdiri di sana saling menatap dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu harus melakukan apa berikutnya.
Kemudian Callysta menoleh ke arahku.
“Bhumi.”
“Iya?”
“Kamu keluar bisa nggak.”
“Bisa.”
Aku berdiri.
“Bhumi.”
“Iya?”
“Makasih.”
“Iya.”
Dan aku mengambil bukuku dan berjalan ke pintu, dan waktu aku hampir sampai, Kenzo berkata:
“Ga.”
Aku menoleh.
Dan Kenzo Radiktya — yang lima tahun lalu berdiri di belakang punggungku di gang belakang stasiun, yang tiga puluh empat hari duduk di kursi yang kuusir tiap hari, yang tidak pernah sekali pun dalam tiga tahun meminta apa pun dariku —
berkata, dengan suara yang sangat kecil:
“Gue harus ngapain?”
Dan aku berdiri di ambang pintu kelas sebelas tiga dan aku tidak tahu jawabannya.
Aku betul-betul tidak tahu.
“Aku nggak tau, Zo.”
“Lo punya pacar.”
“Iya.”
“Terus?”
Dan aku memikirkannya sungguh-sungguh, karena dia bertanya sungguh-sungguh.
“Aku nggak ngapa-ngapain,” kataku akhirnya. “Dia yang ngomong.”
Kenzo menatapku.
“Serius?”
“Iya.”
“Lo nggak ngomong apa-apa?”
“Aku bilang croissant.”
Dan Callysta Aruna, di tengah momen paling serius dalam hidupnya, berbalik dan berkata:
“KAMU BILANG APA?”
Aku keluar dan menutup pintunya.
Aku berdiri di koridor selama dua puluh menit.
Aku tidak menguping. Aku ingin mencatat itu, walaupun aku sadar bahwa berdiri dua meter dari pintu sambil tidak melakukan apa-apa secara teknis adalah menguping.
Aku tidak dengar apa-apa. Mereka bicara pelan, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.
Alesha datang jam istirahat hampir habis.
“Ga? Kenapa di luar?”
“Sst.”
“Kenapa?”
Aku menunjuk pintu dengan daguku.
Dia mendekat, melihat lewat kaca kecil di pintu, dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Mereka—”
“Iya.”
“MEREKA—”
“Alesha.”
Dan dia menarikku menjauh dari pintu dan berbisik dengan volume yang tidak bisa disebut bisikan:
“Apa yang terjadi?”
“Kenzo salah ngomong.”
“Salah ngomong gimana?”
“Dia bilang dia nyariin Callysta tiap istirahat.”
Alesha menatapku.
“Terus?”
“Terus dia mau narik.”
“TERUS?”
“Terus Callysta bilang dia nggak bisa narik.”
Dan Alesha menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berjongkok di koridor dan berkata sesuatu yang teredam yang terdengar seperti “aku nggak kuat.”
Mereka keluar lima menit sebelum bel.
Kenzo keluar duluan. Wajahnya merah sampai ke telinga.
Callysta keluar delapan detik kemudian, dan wajahnya sama sekali biasa, kecuali bahwa dia sedang berjalan sangat cepat.
“Callys—” kata Alesha.
“Nggak.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“NGGAK, SHA.”
Dan dia jalan terus.
Kenzo berdiri di depan pintu memegang tali tasnya dengan kedua tangan.
“Zo,” kata Alesha.
“Jangan tanya.”
“Aku belum—”
“Alesha, gue mohon.”
“Oke.”
Dan Kenzo berdiri di situ selama beberapa detik lagi.
Lalu dia berkata, ke arah lantai:
“Gue jadian.”
“KENZO—”
“Gue jadian dan gue nggak inget gimana caranya.”
Dan dia jalan ke arah tangga sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan, dan Alesha mengejarnya sambil berteriak, dan aku berdiri di koridor sendirian.
Ada satu bagian yang belum kuceritakan, dan itu bagian Jovan.
Aku baru tahu tiga hari kemudian, dan aku tahunya karena Jovan sendiri yang cerita, yang mana adalah kejadian paling langka dalam sejarah pertemanan kami.
Kami sedang berdua di parkiran sepeda. Kenzo sudah pulang duluan — dengan Callysta, dan mereka bertengkar sepanjang jalan ke gerbang tentang siapa yang jalan terlalu cepat.
“Ga.”
“Hm.”
“Selasa kemarin.”
“Iya?”
“Aku di ruang musik.”
Aku menoleh.
“Empat puluh menit,” kataku.
“Kamu ngitung?”
“Iya.”
Jovan menaikkan kacamatanya.
“Aku nanya dia,” katanya.
Aku berhenti membuka kunci sepedaku.
“Nanya apa?”
“Nanya dia mau nggak.”
“Mau apa?”
Dan Jovan berkata, dengan nada paling datar sedunia:
“Ya mau.”
Aku menunggu.
“Terus?”
“Terus dia bilang mau.”
Aku menunggu lagi.
“Van.”
“Hm.”
“Itu doang?”
“Iya.”
“Empat puluh menit?”
“Tiga puluh delapan menitnya aku nyiapin.”
Dan aku berdiri di parkiran sepeda dengan kunci di tangan dan aku tidak tahu harus bilang apa.
“Kalian jadian?” tanyaku akhirnya.
“Iya.”
“Hari Selasa?”
“Iya.”
“Sebelum Kenzo?”
Jovan menaikkan kacamatanya lagi.
“Empat puluh menit sebelum,” katanya.
Dan aku menatapnya.
“Van.”
“Hm.”
“Kenzo nggak tau?”
“Belum.”
“Kamu nggak mau bilang?”
Dan Jovan Arsakha — yang bicara satu sampai lima kata, yang mencatat skor pertengkaran orang selama tiga bulan, yang menendang kursi Kenzo setiap kali Kenzo hampir merusak sesuatu —
berkata:
“Nanti aja.”
“Kenapa?”
“Biar dia seneng dulu.”
Dia mengambil sepedanya.
“Dia baru pertama kali,” kata Jovan. “Biar dia ngerasa dia yang pertama.”
Dan dia mengayuh pergi, dan aku berdiri di parkiran sepeda itu selama mungkin satu menit.
Sisa hari itu berjalan seperti biasa.
Ini yang paling aneh.
Mereka duduk di tempat masing-masing. Mereka bertengkar dua kali — sekali soal PR Kimia, sekali soal apakah bel istirahat berbunyi lebih cepat hari Selasa.
Tidak ada yang berubah.
Kecuali satu hal, yang aku perhatikan karena aku memang memperhatikan hal seperti ini.
Waktu bel pulang berbunyi dan semua orang berdiri, Kenzo mengambil tasnya dan tasnya Callysta.
Dua tas.
Dia melakukannya tanpa mengatakan apa-apa, dan Callysta membiarkannya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh ke arah siapa pun.
Jovan melihat itu.
Dia menaikkan kacamatanya dengan satu jari.
Dan berkata, ke arah tidak seorang pun:
“Akhirnya.”
Callysta berbalik. “APA?”
“Nggak apa-apa.”
“KAMU BILANG APA?”
“Aku bilang akhirnya.”
“AKHIRNYA APA?”
“Akhirnya kamu bawa tas dua,” kata Jovan. “Berat.”
Dan Kenzo, dari belakang, berkata:
“Van, lo dari tadi tau?”
“Iya.”
“DARI KAPAN?”
Jovan mengangkat bahu.
“Kelas sepuluh.”
Aku pulang dengan Alesha sore itu.
Dia duduk di boncengan seperti biasa, memegang belakang seragamku seperti biasa, dan bicara tanpa henti selama tujuh menit tentang seluruh kejadian hari itu.
Lalu dia diam.
Lalu dia berkata:
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak yang paling lucu?”
“Apa?”
“Kenzo bilang dia nggak inget gimana caranya jadian.” Dia tertawa. “Padahal dia nggak ngapa-ngapain. Dia cuma salah ngomong.”
Aku mengayuh melewati perempatan.
“Alesha.”
“Hm?”
“Itu bukan salah ngomong.”
“Maksudnya?”
Dan aku memikirkan cara mengatakannya selama setengah blok.
“Dia ngomongin itu tiap hari,” kataku akhirnya. “Tiga bulan. Dia bilang ‘gue nyariin dia’ ke aku dua puluh kali.”
“Ke kamu?”
“Ke aku.”
“Kamu nggak pernah cerita.”
“Itu bukan cerita aku.”
Dia diam di boncengan.
“Terus kenapa hari ini beda?” tanyanya.
Dan aku berkata:
“Karena hari ini dia ngomongnya ke orangnya.”
Sepeda itu melewati minimarket.
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak kamu barusan ngomong sesuatu yang cukup jahat ke aku.”
Aku hampir mengerem.
“Aku nggak—”
“Aku becanda.” Dan dia tertawa di boncengan, dan aku merasakan dahinya menempel sebentar di punggungku. “Aku becanda, Ga.”
Dan aku mengayuh dua ratus meter lagi dan tidak mengatakan apa-apa, dan dia juga tidak, dan kalimat yang tidak bisa kukeluarkan itu berputar di kepalaku sepanjang jalan seperti biasa.
Karena hari ini dia ngomongnya ke orangnya.
Aku menurunkannya di depan pagar.
“Alesha.”
“Hm?”
“Besok masih ngitung?”
Dan dia berdiri di depan pagar rumahnya dengan tas di satu bahu, dan tersenyum, dan bilang:
“Tiap hari sampai kamu bosen.”
“Aku nggak bakal bosen.”
“Aku juga.”
Dan dia masuk.
Dan aku mengayuh pulang lewat jalan yang lebih panjang, dan aku berlatih di kepalaku selama seluruh perjalanan itu, dan besoknya aku gagal lagi di hitungan satu.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong reading
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama