← Bangku Sebelah

Chapter Eighteen

Bab 18: Sembilan Belas Hari

POV: Alesha


Hujan mulai jam empat lewat dan tidak ada tanda-tanda berhenti.

Kami terjebak. Bukan terjebak yang serius — kami bisa saja lari ke halte, basah, dan pulang. Tapi tidak ada yang mengusulkan itu, dan setelah lima belas menit tidak ada yang mengusulkan apa-apa lagi, dan itu sudah cukup jadi keputusan.

Kelas sebelas tiga jam setengah lima sore adalah tempat yang berbeda.

Lantainya sudah dipel dan masih basah di sepertiga bagian. Kursi-kursi sudah dinaikkan kecuali di sudut kanan belakang. Lampu belum dinyalakan karena tidak ada yang tahu saklarnya yang mana, jadi ruangan itu abu-abu dengan cahaya dari jendela yang berair.

Kami berenam di pulau meja.

Kenzo sedang berdebat dengan Callys soal apakah hujan bisa berhenti kalau kamu berhenti memikirkannya.

“Bisa,” kata Kenzo.

“Nggak bisa.”

“Kamu belum nyoba.”

“Aku nggak perlu nyoba, Kenzo, itu bukan gitu cara kerja cuaca.”

“Kamu tau dari mana?”

“DARI SEKOLAH.”

“Kita nggak pernah diajarin itu.”

“KITA DIAJARIN SIKLUS AIR—”

“Siklus air nggak ada bagian ‘kalau kamu mikirin’.”

“YA KARENA EMANG NGGAK ADA.”

Dira meminum airnya dengan sangat tenang.

Jovan sedang menulis sesuatu di bukunya. Aku sudah tahu apa itu. Dia sudah mencatat skor pertengkaran mereka selama tiga minggu dan tidak pernah memberi tahu siapa pun kecuali aku, dan cuma karena aku memergokinya.

Dan di sebelahku, Arga sedang membelah kue jadi enam bagian.

Bukan empat. Enam.

Dia melakukannya tanpa mengatakan apa pun, dengan pisau plastik dari kotak makannya, dengan presisi yang sama sekali tidak sepadan dengan sepotong kue.

Aku menonton tangannya, dan aku tidak mendengarkan pertengkaran itu dengan benar, dan mungkin itu sebabnya aku tidak sempat menghentikannya.

“—dan itu bukan takut, itu namanya waspada,” kata Callys.

“Itu takut.”

“Waspada.”

“Kamu ngumpet di balik pintu ruang musik.”

“AKU NGGAK NGUMPET.”

“Aku lihat.”

“Aku lagi—” Callys mengangkat tangan. “Aku lagi ngambil sesuatu.”

“Di balik pintu?”

“IYA.”

“Callys. Kamu takut sama tikus.”

“AKU NGGAK TAKUT APA-APA.”

Dan Kenzo, yang tidak pernah tahu kapan harus berhenti, yang tidak akan pernah tahu kapan harus berhenti, berkata dengan nada paling ringan sedunia:

“Kamu takut sama Arga dua bulan.”

Ruangan itu tidak langsung diam.

Tidak secepat itu. Callys sudah membuka mulut sebelum kalimat itu selesai, karena Callys selalu membalas sebelum berpikir, dan yang keluar adalah refleks paling tua yang dia punya — kalimat yang sudah dia ucapkan puluhan kali selama dua bulan, ke tujuh orang, ke aku, ke dirinya sendiri:

“Ya semua orang takut! Kamu lihat aja mukanya—”

Dan berhenti.

Di tengah kata.

Aku melihat wajahnya berubah dan aku ingin menutup mataku.

Kenzo sudah tidak tersenyum lagi. Jovan sudah berhenti menulis. Dira menaruh botolnya di meja tanpa bunyi.

Dan di sebelahku, pisau plastik itu berhenti bergerak.

“Aku—” kata Callys.

Arga menaruh pisaunya.

Dia tidak marah. Aku ingin mencatat itu, karena aku mengawasinya dari jarak empat puluh sentimeter dan aku tahu bentuk wajahnya waktu dia menahan sesuatu.

Dia tidak menahan apa-apa.

Dia cuma mendorong kursinya ke belakang dan berdiri.

“Aku beliin minum,” katanya.

“Ga—” kata Kenzo.

“Kantin depan masih buka.”

“Ga, dia nggak maksud—”

“Aku tau.” Dia mengambil dompetnya dari tas. “Rasa apa?”

Tidak ada yang menjawab.

“Ya udah, aku pilihin.”

Dan dia keluar.

Pintunya tidak ditutup keras. Itu bagian yang paling tidak enak. Kalau dia membanting pintu, kami semua akan punya sesuatu untuk dipegang.

Langkahnya menjauh di koridor, dan hujan menutupinya setelah delapan langkah.


Callys menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku bego.”

“Callys—”

“Aku bego banget.”

“Kamu nggak—”

“Aku BEGO, Sha.”

Dan Kenzo berdiri.

Bukan untuk mengejar Arga. Dia berjalan tiga langkah ke jendela, berhenti, dan berdiri di situ membelakangi kami, memandangi hujan.

“Zo,” kata Jovan.

“Bentar.”

“Zo.”

“Aku bilang bentar, Van.”

Dan Jovan tidak bilang apa-apa lagi.

Kenzo berdiri di jendela itu selama mungkin dua puluh detik.

Lalu dia berbalik, dan dia melihat ke arahku, dan dia berkata:

“Alesha.”

“Iya?”

“Kamu masih di kursi itu.”

Aku tidak mengerti selama satu detik penuh.

Lalu aku mengerti.

Kalau kamu masih di kursi itu waktu aku udah nggak takut kamu pergi, aku ceritain.

“Kenzo,” kataku.

“Duduk aja.” Dia jalan kembali ke meja, tapi tidak duduk di kursinya. Dia duduk di meja, di ujung, di tempat dia selalu duduk kalau dia sedang tidak ingin nyaman. “Ini nggak lama.”

Dan dia menoleh ke Callys.

“Kamu juga dengerin.”


“Kelas tiga SMP. Bulan November.”

Kenzo bicara dengan nada yang belum pernah kudengar dari dia.

Datar. Seperti orang membacakan sesuatu.

“Aku pulang les. Jam setengah delapan. Aku lewat gang belakang stasiun karena angkot terakhir jam delapan dan aku telat.”

Dia menarik tali tasnya. Sekali.

“Aku udah lewat situ ratusan kali.”

Tidak ada yang bicara.

“Ada tiga orang. Bukan preman beneran. Anak-anak yang nggak sekolah, nongkrong di situ, umurnya mungkin dua puluhan.” Dia mengangkat bahu satu sentimeter. “Awalnya minta rokok. Aku bilang nggak punya. Terus minta duit.”

“Kamu kasih?” tanya Dira.

“Aku kasih semua. Dua belas ribu.”

Jeda.

“Itu yang bikin mereka marah,” kata Kenzo. “Karena dikit. Mereka pikir aku ngeledek.”

Hujan menabrak jendela.

“Aku dipojokin ke tembok. Tas aku dibuka. Isinya dibuang ke selokan.” Dia melihat ke arah pintu. “Aku nggak teriak. Aku nggak lari.”

“Kenzo—” kata Callys.

“Aku nutup mata.”

Dan Kenzo mengatakan bagian berikutnya dengan nada yang sama persis, tanpa naik, tanpa turun, dan itu yang membuatnya sulit didengarkan.

“Aku mikir, ya udah. Cepetan aja.”

Dira meletakkan tangannya di meja. Jovan tidak bergerak sama sekali.

“Terus aku denger langkah,” kata Kenzo. “Berat. Nggak buru-buru.”

Dia berhenti.

Dia melihat ke luar jendela, ke hujan, ke tempat yang tidak ada apa-apanya.

Lima detik.

“Waktu aku buka mata,” katanya, “yang aku lihat cuma punggung.”

Aku merasakan sesuatu naik ke tenggorokanku dan aku menelannya.

“Seragam SMP. Putih. Basah, karena hujan juga hari itu.” Kenzo menggenggam ujung mejanya. “Dan lebar. Waktu itu aku mikirnya lebar banget, tapi aku kelas tiga SMP dan badan aku segini, jadi mungkin nggak selebar itu.”

“Terus?” tanya Callys, dan suaranya sudah tidak stabil.

“Terus aku nggak lihat apa-apa lagi.”

Semua orang menoleh.

“Aku di belakang punggung itu terus,” kata Kenzo. “Dari awal sampai selesai.”

Dan itu — aku baru menyadarinya di detik itu — adalah alasan kenapa tidak ada satu orang pun di sekolah ini yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di gang belakang stasiun.

Karena satu-satunya saksi tidak melihat apa pun.

“Aku denger sih,” kata Kenzo. “Benturan. Umpatan. Ada sesuatu dari besi jatoh.”

Dia berhenti lagi.

Kali ini dia menggosok wajahnya dengan satu tangan, cepat, dan menurunkannya lagi.

“Dan tiap aku gerak, punggung itu gerak juga. Aku ke kiri, dia ke kiri. Aku ke kanan, dia ke kanan.” Kenzo menatap mejanya. “Kayak dia ngitung di mana aku, sambil ngurusin tiga orang.”

Hujan.

“Aku sempet manggil,” katanya. “Aku bilang, ‘Bang, udah, aku lari aja.’”

Dia berhenti.

Dia menarik tali tasnya lagi.

“Dia nggak jawab. Dia cuma bilang satu kata.”

Kenzo mengangkat wajahnya.

“‘Jangan.’”


“Terus mereka pergi,” katanya. “Aku nggak tau kenapa. Mungkin capek. Mungkin ada yang lewat.”

Dia mengambil botol air Dira tanpa izin, membukanya, minum, menutupnya lagi. Dira tidak protes.

“Dan orang itu masih berdiri.”

“Terus?” tanya Callys.

“Terus dia balik badan.” Kenzo menaruh botolnya. “Dan aku baru sadar dia seumuran aku.”

Dia tertawa sekali. Pendek. Tidak ada isinya.

“Aku manggil dia ‘Bang’ selama sepuluh menit dan dia kelas tiga SMP juga.”

“Kamu nggak kenal dia?” tanya Dira.

“Nggak.”

“Beda sekolah?”

“Beda sekolah, beda kelurahan, nggak pernah papasan.” Kenzo mengangkat kedua tangannya. “Nggak ada apa-apa. Nol.”

Dia menurunkan tangannya.

“Dia masuk ke gang itu buat orang yang bukan siapa-siapa.”

Callys menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku bilang makasih,” lanjut Kenzo, “dan dia bilang ‘iya’, terus dia mau jalan.”

“Mau jalan?”

“Mau pulang.” Kenzo menoleh ke arah pintu lagi. “Dia mau pulang gitu aja.”

“Terus kamu?”

“Terus aku lihat punggungnya.”

Ruangan itu jadi sangat sunyi.

“Waktu dia balik badan buat jalan,” kata Kenzo, dan suaranya akhirnya berubah — turun, jadi lebih tebal, “seragamnya udah nggak putih.”

Callys mengeluarkan suara.

Bukan tangis. Cuma napas yang salah masuk.

“Aku maksa dia ke rumah sakit,” kata Kenzo. “Dia nggak mau. Dia bilang ‘nanti Ibu khawatir’. Aku nangis di boncengan ojek dan dia bilang ‘jangan nangis, nanti abangnya kira aku ngapa-ngapain kamu’.”

Jovan menutup matanya.

“Delapan,” kata Kenzo.

“Apa?” tanyaku.

“Jahitan. Delapan.” Dia menatap mejanya. “Aku ngitung dari pintu. Aku nggak diizinin masuk.”

Dia berhenti.

Dan lalu dia mengatakan bagian yang, sejak hari itu sampai sekarang, tidak bisa kuceritakan ulang tanpa harus berhenti di tengah.

“Aku baru tanya namanya di rumah sakit,” kata Kenzo. “Jam sebelas malam. Dia lagi ditelungkupin, lagi dijahit, dan aku ngintip dari pintu dan aku tanya, ‘Nama abang siapa?’”

Kenzo menarik napas.

“Dia bilang, ‘Arga.’”

Hujan.

“Terus dia nanya, ‘Tas kamu ketemu nggak?’”


Tidak ada yang bicara selama mungkin dua puluh detik.

Lalu Kenzo berkata, dan kali ini nadanya berubah lagi — jadi cepat, jadi keras, jadi Kenzo yang biasa, dan itu justru lebih buruk:

“Terus dua hari kemudian aku denger versi lain di sekolah.”

Callys mengangkat kepalanya.

“Ada yang lihat bagian akhirnya,” kata Kenzo. “Ada yang lihat dia berdiri sendiri di gang, sama tiga orang yang lagi pergi, sama darah di bajunya. Nggak ada yang lihat awalnya.”

“Nggak ada yang tanya kamu?” tanya Dira.

“ADA.” Kenzo mengangkat suaranya untuk pertama kalinya. “Ada, Dira. Aku cerita ke wali kelas aku. Aku cerita ke guru BK. Aku cerita ke anak sekelas, aku cerita ke siapa aja yang mau dengerin, aku cerita SETAHUN.”

Dia berhenti sendiri.

Dia menurunkan suaranya.

“Nggak ada yang percaya.”

Dia mengangkat bahu, dan bahunya tidak turun lagi.

“Karena aku temennya. Karena aku ngebela. Karena mukanya emang kayak gitu.”

Dia menatap kursi kosong di sebelahku.

“Cap itu ada gara-gara aku,” katanya.

“Kenzo—”

“Aku nggak bilang ini buat dikasihanin.” Dia menggeleng. “Aku bilang ini biar kalian ngerti kenapa dia mikirnya kayak gitu.”

Dia turun dari meja.

“Dia bukan mikir dia bahaya,” kata Kenzo. “Dia mikir dia bukti.”


Hujan.

Aku tidak tahu berapa lama tidak ada yang bicara. Cukup lama sampai aku bisa mendengar bunyi air dari talang di luar jendela.

Lalu Jovan melepas kacamatanya.

Dia mengelapnya dengan ujung hoodie. Memakainya lagi.

Dan dia bicara.

Aku ingin mencatat sesuatu: Jovan Arsakha bicara satu sampai lima kata. Itu bukan gaya. Itu hukum. Dalam empat bulan aku belum pernah mendengarnya mengucapkan lebih dari dua kalimat berturut-turut.

Jadi waktu dia mulai, semua orang menoleh, bahkan sebelum dia mengatakan apa-apa yang penting.

“Kelas sepuluh,” katanya.

Dia menaruh kedua tangannya di meja.

“Ibuku sakit lama. Terus selesai.”

Callys menoleh cepat.

“Bapakku nikah lagi tiga bulan setelahnya.” Jovan menatap tangannya. “Aku nggak nyalahin dia. Dia juga nggak tau harus gimana.”

Dia berhenti.

“Cuma rumahnya jadi bukan rumah aku.”

Tidak ada yang bertanya apa-apa.

“Aku berhenti sekolah tiga minggu,” kata Jovan. “Nggak izin. Nggak sakit. Aku cuma berhenti.”

Dia menghitung dengan jarinya, pelan, di atas meja.

“Sembilan belas hari,” katanya. “Dua puluh kotak. Tiga minggu.”

“Van,” kata Kenzo pelan.

“Hari pertama ada kotak di depan pintu.” Jovan tidak berhenti. “Aku bangun jam dua siang, aku lihat dari jendela, ada kotak putih di keset.”

Dia menaikkan kacamatanya.

“Aku pikir salah alamat. Aku biarin.”

Hujan.

“Hari kedua ada lagi. Yang kemarin udah nggak ada.”

“Diambil lagi?” tanya Dira.

“Diambil lagi.” Jovan mengangguk sekali. “Tiap hari. Yang kemarin diambil, yang baru ditaruh.”

Aku menutup mataku.

“Hari keenam aku ngintip.” Jovan menatap meja. “Dari lantai dua. Ada orang duduk di teras.”

Dia berhenti.

“Nggak ngetok,” katanya. “Nggak manggil. Nggak nelfon. Duduk.”

“Berapa lama?” tanya Callys, dan suaranya sudah pecah.

“Dari pulang sekolah sampai jam lima.”

“Tiap hari?”

“Tiap hari.”

Jovan melepas kacamatanya lagi, dan kali ini dia tidak mengelapnya. Dia cuma memegangnya.

“Enam hari aku mikir dia nunggu orang lain,” katanya. “Salah rumah. Aku beneran mikir gitu.”

“Terus kapan kamu tau?”

“Hari ketujuh aku baca tulisan di kotaknya.”

Dia memakai kacamatanya lagi.

“Nggak ada nama,” katanya. “Cuma ditulis, dimakan ya.


Aku mendengar Callys menarik napas.

“Aku nggak turun,” kata Jovan. “Hari ketujuh, kedelapan, kesembilan. Aku nggak turun.”

“Kenapa?” tanyaku, dan aku sendiri kaget aku bertanya.

Jovan menoleh ke arahku.

“Karena kalau aku turun, aku harus ngomong,” katanya. “Dan aku nggak punya apa-apa buat diomongin.”

Dia kembali menatap mejanya.

“Hari kesembilan belas hujan.”

Kelas ini sunyi sekali.

“Deras. Kayak sekarang.” Jovan menatap jendela. “Aku lihat ke bawah dan dia masih di situ.”

Dia berhenti.

“Terasnya kecil,” katanya. “Nggak cukup.”

Jeda.

“Setengah badannya di luar.”

Callys menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku turun,” kata Jovan.

Dia mengatakannya begitu saja. Datar.

“Bukan hari itu. Besoknya. Hari kedua puluh.”

Dan dia mengangkat wajahnya, dan dia menatap kami satu per satu, dan dia bilang:

“Aku buka pintu bukan karena aku udah baikan.”

Dia berhenti.

“Karena aku kasian dia kehujanan.”


“Waktu aku buka pintu, dia berdiri,” kata Jovan.

“Terus?” bisik Dira.

“Terus dia nggak nanya apa-apa.”

Jovan mengangkat bahunya sedikit.

“Nggak nanya aku ke mana. Nggak bilang dia khawatir. Nggak bilang aku bego.” Dia menatap mejanya. “Dia cuma nyodorin kotaknya.”

Dia berhenti.

“Terus dia bilang—”

Dan untuk pertama kalinya, Jovan Arsakha berhenti di tengah kalimat.

Dia melepas kacamatanya untuk ketiga kalinya, dan menaruhnya di meja, dan menutup matanya dengan ibu jari dan telunjuk.

Lima detik.

“Dia bilang, ‘Ini yang isinya cokelat. Yang kemarin-kemarin keju semua. Maaf.’”

Callys mengeluarkan suara.

Jovan memakai kacamatanya lagi.

“Aku ketawa,” katanya. “Pertama kali dalam tiga minggu.”

Dia mengetuk meja sekali dengan buku jarinya.

“Terus aku nangis di depan pintu rumah aku sendiri, di depan orang yang baru aku ajak ngomong hari itu.”

Dia berdiri, dan mendorong kursinya masuk.

“Dia nggak meluk aku. Nggak nepuk bahu. Nggak ngomong apa-apa.” Jovan mengangkat tasnya, lalu menaruhnya lagi, seperti orang yang lupa dia mau ke mana. “Dia cuma duduk di teras. Sampai aku selesai.”

“Berapa lama?” tanya Kenzo pelan.

“Aku nggak ngitung yang itu.”

Dan Jovan duduk kembali, dan menutup bukunya, dan berkata satu kalimat terakhir.

“Dua hari kemudian aku masuk sekolah. Dia nggak pernah nyinggung lagi. Sampai sekarang.”

Dia menatap kursi kosong di sebelahku.

“Kayak nggak pernah kejadian.”


Callys tidak menangis.

Aku sudah menyiapkan diri untuk itu — aku kenal dia sejak kelas tujuh dan aku tahu bentuk tangisnya, yang berisik dan marah dan biasanya diakhiri dengan dia memukul sesuatu.

Yang terjadi bukan itu.

Dia mengeluarkan ponselnya.

Dia membukanya, dan aku duduk cukup dekat untuk melihat layarnya, dan dia membuka album yang sudah dia bawa ke mana-mana selama dua bulan.

Tiga puluh empat.

Dia mulai menghapus.

Satu per satu.

Bukan pilih semua. Bukan sekaligus. Dia membuka satu, menghapus, menunggu layarnya kembali, membuka yang berikutnya.

Aku menghitung tanpa bermaksud menghitung.

Di nomor sebelas, tangannya berhenti.

Dia menatap layar itu selama mungkin lima detik. Aku tidak bisa lihat yang mana.

Lalu dia melanjutkan.

Dan Kenzo — yang selama empat bulan tidak pernah membiarkan satu kesempatan mengejek Callysta Aruna lewat begitu saja, yang bertengkar dengannya sembilan menit soal roti, yang membuatnya menangis dua kali dalam dua hari —

Kenzo bangun dari kursinya.

Dia mengangkat kursi itu, memindahkannya, dan menaruhnya di sebelah Callys.

Dia duduk.

Dia menghadap ke depan. Bukan ke arah Callys.

Dan dia tidak mengatakan apa-apa.

Aku menatap mereka berdua dan sesuatu di dadaku terasa salah, dan butuh beberapa detik sampai aku sadar apa: ini pertama kalinya mereka berada di dalam satu ruangan dan tidak bertengkar.

Dira menggeser tangannya di atas meja.

Dia tidak menggenggam. Dia cuma menaruh tangannya di sebelah tangan Callys, dekat, dan membiarkan Callys yang memutuskan.

Callys menggenggamnya di nomor dua puluh sembilan.

Dia tidak berhenti menghapus.

Di nomor tiga puluh empat, layarnya kosong.

Dia menaruh ponselnya di meja, layar ke bawah.

Dan dia berkata, pelan, ke arah tidak seorang pun:

“Aku pernah nulis di kolom komentar.”

Tidak ada yang menjawab.

“Dua kali.”

Tidak ada yang bilang tidak apa-apa. Tidak ada yang bilang kamu tidak tahu. Tidak ada yang bilang apa pun.

Dan aku pikir itu hal terbaik yang bisa kami lakukan untuknya.


Aku mengeluarkan buku catatanku.

Refleks. Empat bulan aku mencatat semuanya, dan tanganku bergerak sebelum aku memutuskan.

Aku membuka halaman baru.

Aku menulis dua kata.

Gang belakang—

Dan aku berhenti.

Aku menatap dua kata itu cukup lama sampai tintanya kering.

Lalu aku menutup bukunya tanpa menyelesaikan kalimatnya, dan aku memasukkannya kembali ke tas, dan aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu sampai berbulan-bulan kemudian.


Pintu terbuka jam lima kurang sepuluh.

Dia masuk sambil menunduk, menahan enam kaleng minuman di dua tangan, dengan bahu dan seluruh lengan atasnya basah karena dia jelas tidak membawa payung dan jelas tidak berpikir untuk lari.

Dia berhenti tiga langkah di dalam kelas.

Aku menyaksikan wajahnya memindai ruangan.

Callys dengan mata merah dan ponsel tertelungkup. Kenzo duduk di kursi yang bukan kursinya, menghadap ke depan. Dira memegang tangan Callys. Jovan tanpa kacamata, memegang kacamatanya. Aku dengan tas di pangkuan.

Kelas abu-abu. Hujan. Tidak ada yang bicara.

Dan Arganta Bhumi berdiri di tengah semua itu dengan enam kaleng di tangan, dan tidak tahu apa-apa, dan berkata:

“Aku salah rasa ya?”

Kenzo mengeluarkan suara.

Bukan tawa. Sesuatu yang bentuknya seperti tawa dan patah di tengah.

Dan Callys berdiri.

Dia berjalan ke tengah kelas — enam langkah, dan aku menghitungnya karena aku menghitung semuanya — dan berhenti di depannya.

Arga tidak mundur.

Callys mengambil satu kaleng dari tangannya.

“Makasih,” katanya.

Dua suku kata.

Tanpa nada bermusuhan, untuk pertama kalinya dalam empat bulan.

Arga berkedip.

Dia jelas-jelas tidak tahu harus menjawab apa. Dia jelas-jelas sedang mencari sesuatu di kepalanya dan tidak menemukan apa pun.

“...Iya,” katanya akhirnya.

Callys kembali ke kursinya.

Dan dia duduk, dan membuka kalengnya, dan minum, dan tidak melihat ke arah siapa pun.

Arga membagikan sisanya. Kenzo. Jovan. Dira. Aku.

Lalu dia duduk di kursinya, dan menaruh kalengnya sendiri di meja, dan menatap tangannya.

Dia mengangkat kalengnya lagi.

Dia melihat ke arah meja.

Aku menyadari apa yang sedang dia lakukan sekitar dua detik sebelum dia selesai: dia menghitung.

Satu di tangan Callys. Satu di tangan Kenzo. Jovan. Dira. Aku.

Dan yang di tangannya sendiri.

Dia menghitungnya sekali. Lalu sekali lagi, lebih pelan, seperti orang yang yakin dia salah.

Jumlahnya pas.

Enam.