← Bangku Sebelah

Chapter Four

Bab 4: Tiga Langkah

POV: Alesha


Tugas Sejarah itu tentang pergerakan nasional, dan aku sudah menyiapkan tiga sumber sebelum aku sempat bertanya dia mau bagian mana.

“Kamu mau bagian mana?”

“Terserah.”

“Aku nggak nanya terserah. Aku nanya kamu mau mana.”

Dia mengetuk-ngetukkan pensilnya sekali. Berhenti. Menaruhnya.

“Yang mana yang nggak kamu mau.”

Aku menoleh. “Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban.”

“Itu jawaban orang yang mau ngerjain semuanya sendiri terus nyerahin ke aku pas udah jadi.”

Aku lihat sesuatu bergerak di rahangnya. Kalau aku mau bermurah hati, aku akan menyebutnya senyum. Kalau aku jujur, itu cuma otot yang bergerak setengah milimeter.

“Kamu ambil bagian tokoh,” katanya akhirnya. “Aku bagian tanggal.”

“Kenapa gitu?”

“Bagian tanggal gampang.”

“Bagian tanggal paling ribet.”

“Nggak.”

“Iya.”

“Nggak.”

“Arganta Bhumi.” Aku menaruh pulpenku. “Kamu ngasih aku bagian yang gampang.”

Kali ini sembilan detik itu datang lagi.

“...Iya,” katanya.

Dan entah kenapa, dia mengakuinya dengan begitu polos — tanpa pembelaan, tanpa alasan, cuma iya — sampai aku tidak bisa marah walaupun aku sudah menyiapkan marahnya.


Kami mengerjakannya di perpustakaan, jam istirahat kedua, tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga aku menyadari sesuatu.

Kami selalu berangkat dari kelas bersamaan. Kami selalu sampai perpustakaan bersamaan. Tapi tidak sekali pun, dalam tiga hari, kami jalan bersebelahan.

Aku menghitungnya di hari keempat.

Dari pintu kelas ke tangga: dia di belakangku. Aku pelankan langkah — dia ikut pelan. Aku percepat — dia ikut cepat. Jaraknya tetap sama.

Tiga langkah.

Aku berhenti mendadak di tengah koridor.

Dia juga berhenti. Tiga langkah di belakang.

Aku berbalik.

“Kenapa?” tanyanya.

“Kamu ngapain di belakang?”

“Jalan.”

“Kenapa nggak di sebelah?”

Dia melihat ke koridor. Ke arah anak-anak yang lewat. Ke arah sekelompok siswi kelas sepuluh yang, begitu melihat dia berdiri di tengah koridor, otomatis memilih jalur memutar lewat sisi lain.

Aku juga melihat itu.

Dia melihatku melihat itu.

“Ya udah,” katanya, dan jalan duluan.

Empat langkah di depan.

Aku berdiri di sana beberapa detik, dan hal yang paling aneh adalah aku tidak marah. Aku cuma merasa seperti orang yang baru menemukan satu keping puzzle dan langsung tahu, dari bentuknya, bahwa gambar keseluruhannya bukan gambar yang menyenangkan.


Hari kedua di perpustakaan, aku belajar tiga hal tentang cara dia bekerja.

Yang pertama: dia membaca dua kali. Selalu. Paragraf yang sama, dari awal, sebelum menulis apa pun. Aku sempat mengira dia lambat menangkap sampai aku sadar catatannya jauh lebih lengkap dari catatanku.

Yang kedua: dia tidak pernah menandai buku perpustakaan. Aku pakai sticky note, dia pakai ingatan. Waktu kutanya kenapa, dia bilang, “Nanti yang minjem berikutnya keganggu.”

Yang ketiga: dia duduk di kursi yang menghadap pintu.

Aku baru sadar di hari ketiga, waktu kami datang lebih telat dan kursi itu sudah diduduki orang. Dia berdiri di tengah ruangan selama beberapa detik lebih lama dari yang wajar, lalu memilih meja lain — meja yang juga menghadap pintu, di ujung, di tempat yang tidak ada orang lewat di belakangnya.

“Kamu nggak suka duduk mepet tembok?” tanyaku.

“Nggak apa-apa.”

“Tadi kamu bengong.”

“Nggak.”

“Bengong.”

Dia membuka bukunya. “Aku suka lihat pintu.”

“Kenapa?”

Dan dia menjawab dengan nada paling biasa di dunia, seperti orang menjelaskan bahwa air itu basah:

“Biar tau siapa yang masuk.”

Lalu dia mulai membaca, dua kali, seperti biasa.

Dan aku duduk di seberangnya sambil berpura-pura membaca juga, sambil menghitung berapa banyak hal yang harus terjadi pada seseorang sampai dia berhenti bisa duduk membelakangi pintu.


Callys menunjukkan buktinya hari Kamis, pulang sekolah, di kantin yang sudah kosong.

Dia menaruh ponselnya di meja dan mendorongnya ke arahku dengan dua jari, seperti orang menyerahkan berkas.

“Aku udah bilang aku punya.”

“Ini apa?”

“Buka aja.”

Album foto. Screenshot. Aku scroll ke atas dan yang paling lama tanggalnya dua tahun lalu.

Aku baca satu per satu.

Postingan dari akun yang namanya kukenal — semua anak sekolah ini kenal — @fakta.sma__. Akun anonim yang isinya campuran: pengumuman, gosip, foto candid, hasil pertandingan, dan sesekali sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Yang di-screenshot Callys semuanya tentang satu orang.

Awas kalau lewat parkiran belakang jam pulang. Yang tau, tau.

Update: yang kemarin di gerbang udah dilaporin ke BK. Ketiga kalinya. Sekolah kayaknya emang nggak berani.

Info aja buat adek-adek kelas 10 yang baru masuk: ada satu orang di angkatan atas yang mendingan kalian hindarin. Nggak usah disebut namanya, nanti juga tau sendiri.

Ada dua puluh lebih. Sebagian besar tidak menyebutkan nama.

Sebagian besar tidak perlu.

Aku berhenti di satu foto. Diambil dari jauh, agak buram, dari balik pagar. Seorang anak laki-laki tinggi berdiri di parkiran belakang, membelakangi kamera, berhadapan dengan tiga orang. Salah satu dari tiga orang itu sedang mundur.

Captionnya satu kalimat.

Nggak usah ditanya lagi ya.

“Kapan ini?” tanyaku.

“Semester lalu.”

“Kamu ada videonya?”

“Nggak ada video. Cuma ini.”

“Terus yang tiga orang itu siapa?”

Callys mengerjap. “Ya— nggak tau. Bukan itu intinya.”

“Itu justru intinya.”

“Sha—”

“Callys.” Aku dorong ponselnya balik. “Foto ini nggak nunjukin siapa yang mulai.”

“Kamu bercanda ya.”

“Aku serius.”

“Ada tiga orang mundur, Sha. Tiga. Sama satu orang.”

“Iya. Dan aku nggak tau mereka mundur karena apa.”

Callys berdiri.

Bukan berdiri marah. Berdiri seperti orang yang tidak tahan duduk lagi.

“Aku mau nanya kamu satu hal,” katanya, dan suaranya berubah — turun, dan itu lebih menakutkan daripada kalau dia berteriak. “Kamu nyari apa sih sebenernya?”

“Aku nggak nyari apa-apa.”

“Bohong.”

“Callys—”

“Kamu ngitungin langkah orang, Sha.” Dia menunjuk tasku. “Dira cerita kamu bawa buku catetan itu ke mana-mana sekarang. Kamu nanya-nanya ke tukang gorengan. Kamu—”

“Dira cerita?”

“Dira khawatir.” Callys duduk lagi, sama tiba-tibanya seperti dia berdiri. “Kita berdua khawatir. Dan kamu nggak jawab pertanyaanku.”

Aku diam.

Karena dia benar. Aku memang tidak menjawabnya. Dan alasannya sederhana: aku tidak punya jawabannya.

Aku bisa bilang tentang payung. Tentang majalah yang disusun berdasarkan ukuran. Tentang tarikan di ranselku di perempatan.

Tapi kalau aku bilang itu sekarang, Callys akan bertanya mana buktinya itu dia, dan aku akan bilang nggak ada, dan seluruh hal ini akan jadi kelihatan seperti apa adanya: seorang anak perempuan yang membangun cerita di kepalanya sendiri dari tiga kebetulan.

Jadi aku bilang hal yang lain. Hal yang benar, tapi bukan yang paling penting.

“Dia minta izin ngerjain tugas kelompok sendirian,” kataku.

Callys berkedip. “Apa?”

“Hari Senin. Bu Retno bagi kelompok. Dia berdiri, minta izin ngerjain dua bagian sendirian.”

“Karena dia nggak mau kerja bareng kamu.”

“Alasannya biar nggak ngerepotin.”

Callys membuka mulut.

Aku lanjutkan sebelum dia sempat.

“Dan waktu ngomong gitu, dia nggak lihat ke Bu Retno. Dia lihat ke lantai.” Aku menatapnya. “Callys, orang yang mau nakut-nakutin nggak lihat ke lantai.”

Hening.

Callys mengambil ponselnya. Dia tidak membuka apa pun. Dia cuma memegangnya, membolak-balik di tangannya.

“Sha,” katanya akhirnya. “Kalau kamu salah, gimana?”

“Kalau aku salah, ya aku salah.”

“Nggak segampang itu.”

“Kenapa nggak?”

“Karena—” Dia berhenti. Menarik napas. “Karena aku nggak bisa jagain kamu dari sesuatu yang kamu jalanin sendiri.”

Dan itu.

Itu yang membuatku diam selama sepuluh detik penuh, karena selama empat hari ini aku terus mengira Callys sedang menghakimi orang, padahal yang dia lakukan sejak awal adalah berdiri di depan pintu sambil panik.

Aku tarik tangannya.

“Callysta Aruna.”

“Apa.”

“Aku nggak akan hilang.”

“Kamu nggak tau itu.”

“Aku tau.” Aku genggam tangannya lebih kencang. “Aku bakal cerita semuanya ke kamu. Semua. Tiap hari kalau perlu. Kamu boleh marah, boleh ngelarang, boleh ngomel. Tapi jangan berhenti nanya, oke?”

Callys menatapku lama.

Lalu dia menarik tangannya, menyeka wajahnya dengan lengan seragam dengan gerakan kasar seperti orang yang kesal pada matanya sendiri, dan bilang:

“Ya udah. Tapi aku tetep nggak suka.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku tetep nggak suka, Sha.”

“Iya.”

“AKU TETEP—”

“Iya, Callys.”

Dari meja sebelah, Dira — yang ternyata sudah duduk di situ entah sejak kapan sambil pura-pura mengerjakan PR — mengangkat kepalanya.

“Udah selesai?”

“Belum,” kata Callys.

“Udah,” kataku.

“Belum.”

Dira menutup bukunya. “Aku cuma mikir aja,” katanya. “Kalau kalian mau tau orangnya kayak gimana, kenapa nggak tanya orang yang paling deket sama dia?”

Callys dan aku menoleh bersamaan.

“Siapa?”

Dira menunjuk dengan dagunya ke arah pintu kantin.

Dua orang baru masuk. Yang satu tinggi jangkung, berkacamata, tangannya di saku hoodie. Yang satu lebih pendek, berjalan sambil bicara tanpa henti walaupun tidak jelas apakah temannya mendengarkan.

Mereka melihat kami.

Yang berisik itu langsung berhenti bicara.

Yang berkacamata menatap kami — menatapku — selama tiga detik penuh, dan tatapannya sama seperti hari pertama: datar, lama, tidak bisa dibaca.

Lalu dia menyenggol temannya, dan mereka berbalik keluar tanpa membeli apa pun.


Pulangnya, aku sengaja.

Aku tahu ini curang. Aku tetap melakukannya.

Aku keluar gerbang, jalan pelan ke arah halte, dan lima puluh meter kemudian aku berhenti di depan etalase toko fotokopi dan pura-pura membaca daftar harga laminating.

Di pantulan kaca, aku lihat dia berhenti juga.

Tiga puluh meter di belakang.

Dia berdiri di depan warung, memegang ponselnya. Dia tidak melihat ponselnya. Layarnya bahkan tidak menyala.

Aku jalan lagi. Dia jalan lagi.

Aku belok ke gang kecil yang bukan jalanku. Dia berhenti di mulut gang, tidak masuk, berdiri di situ sampai aku keluar dari ujung satunya.

Ini sudah lima hari, dan aku baru sadar sekarang.

Bukan tiga langkah di koridor saja.

Sepanjang jalan pulang. Setiap hari. Dari gerbang sampai halte.

Aku berhenti di halte dan menunggu angkot, dan aku tidak berbalik, tapi aku tahu persis dia berdiri di seberang jalan, di depan minimarket, tidak masuk, tidak beli apa-apa.

Angkot datang. Aku naik.

Dari jendela, aku lihat dia baru mulai jalan setelah angkotnya bergerak.

Dan dia jalan ke arah yang berlawanan dengan Jalan Melati.


Malamnya aku buka buku catatanku.

Aku tulis:

Empat.

Lalu aku coret.

Karena ini bukan pertolongan yang keempat. Ini bukan kejadian. Ini bukan sesuatu yang bisa kuhitung, karena aku tidak tahu sudah berapa kali terjadi sebelum aku menyadarinya.

Aku ganti halamannya.

Aku tulis, di tengah halaman kosong:

Jalan pulang. Tiap hari. Sejak kapan?

Aku menatapnya lama.

Lalu aku tambahkan di bawahnya, dan tanganku agak gemetar waktu menulisnya, karena aku baru menyadari implikasinya sambil menulis:

Kalau dia jalan di belakang aku tiap hari sampai halte —

— dan dia berhenti di depan minimarket perempatan tiap hari —

— berarti dua bulan lalu dia emang lagi di situ.

Aku menutup buku itu.

Aku tidak membukanya lagi sampai pagi.


Hari Jumat, dia tidak masuk.

Kursinya kosong dari jam tujuh sampai jam tiga, dan seluruh kelas jelas-jelas lebih berisik dari biasanya, dan tidak ada satu orang pun yang bertanya kenapa.

Aku bertanya ke Bu Retno waktu istirahat. Beliau bilang ada izin. Beliau tidak bilang izin apa.

Sore itu aku pulang lewat jalan yang berbeda.

Bukan Jalan Melati. Aku belum berani ke sana.

Sepanjang jalan aku terus merasa ada yang kurang, dan butuh dua blok sampai aku sadar apa: tidak ada langkah di belakangku. Lima hari, dan ternyata aku sudah terbiasa dengan bunyi itu tanpa pernah memutuskan untuk terbiasa.

Tapi jalur yang kuambil kebetulan melewati perempatan minimarket, dan dari perempatan itu, kalau kamu berdiri di sisi utara, kamu bisa lihat dua blok ke arah timur.

Aku berdiri di situ, entah kenapa, selama mungkin tiga menit.

Dan di ujung blok kedua, di depan sebuah bangunan bercat kuning pudar dengan pagar besi rendah, ada motor terparkir.

Dan ada anak laki-laki tinggi berseragam putih abu sedang jongkok di halaman, punggungnya menghadap jalan, dikelilingi — aku menghitungnya dari jauh dan aku mungkin salah — sekitar enam atau tujuh anak kecil.

Salah satu dari mereka memanjat punggungnya.

Dan bahu itu, bahu yang selama lima hari ini selalu kulihat tegak dan kaku dan seperti tidak tahu cara membungkuk, sekarang membungkuk sampai hampir menyentuh rumput supaya anak yang memanjat itu tidak jatuh.

Aku tidak bisa dengar apa-apa dari jarak sejauh itu.

Tapi aku bisa lihat mereka semua tertawa.

Dan aku bisa lihat, walaupun aku tidak akan bisa membuktikannya ke siapa pun, bahwa dia juga tertawa.

Aku berdiri di perempatan itu sampai lampu hijau berganti tiga kali.

Dan sebelum aku pergi, aku sempat melihat satu hal lagi.

Dia berdiri. Anak-anak itu menarik-narik tangannya, jelas meminta sesuatu, dan dia menggeleng sambil menunjuk ke arah motor. Lalu dia membuka jok motornya, mengeluarkan sesuatu, dan membagikannya.

Kotak-kotak putih kecil. Aku tidak bisa menghitung berapa dari sejauh itu.

Tapi aku tahu persis lipatan tutupnya seperti apa.

Lalu aku pulang, dan aku tidak menulis apa pun di buku catatanku malam itu, karena ada hal-hal yang kalau kamu tulis jadi kelihatan lebih kecil dari aslinya.