← Bangku Sebelah

Chapter Thirty Eight

Bab 38: Kenapa Aku Diam

POV: Arga


Ayah menandatangani suratnya hari Minggu malam.

Surat pengunduran diri. Satu halaman. Formatnya sudah disiapkan sekolah — aku cuma perlu mengisi nama, kelas, dan alasan.

Aku mengisi alasannya dengan tiga kata.

Pindah sekolah.

Ayah membacanya. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia menandatanganinya di meja makan jam sepuluh malam, dengan pulpen yang dipakai untuk menulis pesanan, dan menyerahkannya kembali padaku.

Dan lalu dia berkata satu hal.

“Ga.”

“Iya, Yah.”

“Ayah tanda tangan karena kamu yang minta.”

Aku memasukkan surat itu ke map.

“Bukan karena Ayah setuju,” katanya.

Dan dia berdiri, dan mencuci gelasnya, dan naik ke atas.


Aku sampai sekolah jam dua belas lewat dua puluh.

Aku dipanggil jam satu. Aku datang lebih awal karena aku selalu datang lebih awal.

Suratnya di dalam map di dalam tasku.

Rencananya sederhana: aku menyerahkan surat itu sebelum sidang selesai, dan sidangnya tidak perlu memutuskan apa-apa, dan tidak ada yang perlu dicatat di berkas siapa pun.

Aku sudah memikirkannya empat belas hari.

Aku menaiki tangga ke lantai dua sambil menghitung anak tangganya, kebiasaan yang tidak pernah kuhilangkan.

Dan waktu aku sampai di koridor lantai dua, aku berhenti.


Ada orang.

Itu hal pertama yang kupikirkan, dan aku ingat betapa bodohnya pikiran itu: ada orang.

Duduk di lantai koridor.

Pak Sudir, dengan seragam satpam dan topi di pangkuannya.

Mbak Yanti, dengan celemek yang masih dipakai.

Bu Ipah, dengan tas plastik di sebelahnya.

Reyhan. Tio.

Kenzo. Jovan. Callysta.

Dan di ujung, berdiri, memegang buku tulis bersampul polos dengan dua tangan —

Bu Nur.


Aku tidak bisa bergerak.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena selama tiga tahun aku sudah belajar bahwa hal pertama yang harus kulakukan di ruangan mana pun adalah memutuskan ke mana aku bergerak.

Aku tidak bisa bergerak.

Kenzo yang berdiri duluan.

Dia berdiri dari lantai, dan berjalan ke arahku, dan berhenti dua meter.

Dan dia berkata:

“Bukan gue.”

“Zo—”

“Bukan gue, Ga.” Suaranya serak. “Bukan Alesha. Bukan siapa-siapa.”

Aku menatap koridor itu.

“Terus kenapa—”

Dan Pak Sudir berdiri.

Beliau merapikan seragamnya. Beliau memegang topinya dengan dua tangan.

Dan beliau berkata:

“Bapak mau ngomong, Ga.”


Aku berjalan ke ujung koridor.

Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku ingat berpikir bahwa aku harus mengeluarkan semua orang ini dari gedung ini secepat mungkin, dan aku ingat memikirkan berapa banyak dari mereka yang akan kena.

Bu Ipah punya gerobak di depan sekolah. Kalau ada yang tidak suka, gerobaknya yang pertama kena.

Mbak Yanti bekerja di kantin sekolah ini.

Pak Sudir digaji oleh yayasan.

“Bu Ipah,” kataku.

“Eh, Ga.”

“Ibu balik aja.”

Dan Bu Ipah menoleh ke arahku dengan wajah bingung.

“Balik ke mana?”

“Ke gerobak, Bu.”

“Gerobaknya udah Ibu titipin ke Mang Ujang.”

“Bu—”

“Ibu udah nunggu dua jam, Ga.”

Dan aku berdiri di koridor lantai dua dan aku tidak punya satu pun kalimat.


“Mbak Yanti.”

“Iya?”

“Mbak masih shift.”

“Ibu izin.”

“Izin sama siapa?”

Dan Mbak Yanti berkata:

“Sama diri Ibu sendiri.”


Aku sampai ke Bu Nur terakhir.

Dan aku melihat buku itu di tangannya, dan aku tahu persis buku apa itu, dan aku merasakan sesuatu turun di dalam dadaku dengan cara yang belum pernah kurasakan.

“Bu.”

“Nak.”

“Bu, itu—”

“Ibu tau kamu bilang jangan.”

“Bu Nur.”

Dan pengasuh Panti Asuhan Sinar Kasih menatapku dari jarak satu meter, memegang buku catatan kunjungan dua tahun tiga bulan, dan berkata:

“Kamu bilang jangan ada yang tau.”

Aku tidak bisa bicara.

“Kamu nggak pernah bilang jangan ada yang tau kalau kamu lagi susah.”


“Bu, siapa yang ngasih tau Ibu?”

Dan Bu Nur berkata:

“Ical.”


Aku ingin mencatat apa yang terjadi di dalam diriku di detik itu, dan aku tidak bisa, karena tidak ada namanya.

Yang bisa kucatat: aku memegang pegangan tangga.

Aku memegang pegangan tangga koridor lantai dua dengan tangan kanan dan aku tidak melepaskannya selama mungkin lima belas detik.

“Ical,” kataku.

“Iya.”

“Dia—”

“Dia nanya terus dua Jumat,” kata Bu Nur. “Ibu bilang mungkin Kak Gagah sibuk. Terus dia bilang nggak.”

Aku menutup mataku.

“Ibu tanya kenapa nggak,” lanjut beliau. “Terus dia bilang—”

Beliau berhenti.

Dan Bu Nur — yang sudah dua puluh tahun mengasuh anak-anak yang ditinggalkan, yang tidak pernah dalam ingatanku menaikkan suaranya, yang selalu memberi teh yang kebanyakan gula —

berkata, dengan suara yang mulai pecah:

“Dia bilang, ‘Kak Gagah selalu dateng, Bu. Kayak dulu ke rumah aku.’”


Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan ini.

Ical delapan tahun. Tiga bulan pertama dia di panti, dia tidak bicara dengan siapa pun.

Aku tidak pernah bertanya kenapa. Aku tidak pernah bertanya apa pun. Aku cuma duduk dua meter dari pintu, membelakanginya, dan membetulkan roda mobil-mobilan sampai dia datang sendiri.

Aku tidak tahu ada yang pernah datang ke rumahnya.

Aku tidak tahu dia pernah menunggu.

Dan aku berdiri di koridor lantai dua sekolahku sendiri, jam dua belas lewat empat puluh, dan aku menyadari bahwa selama dua tahun tiga bulan aku sudah melakukan hal yang sama persis dengan yang dilakukan seseorang kepada Jovan sembilan belas hari berturut-turut, dan bahwa aku belajar melakukannya dari orang yang tidak pernah kutemui.


Pintu terbuka jam satu kurang lima.

Bu Retno keluar.

Beliau melihatku. Beliau melihat koridor.

Dan beliau berkata:

“Arganta, masuk.”


Ruang rapat komite lebih kecil dari yang kubayangkan.

Meja panjang. Sembilan kursi. Tujuh terisi.

Aku mengenali empat orang. Kepala sekolah. Wakil kepala sekolah. Bu Retno. Dan satu orang di ujung yang wajahnya mirip Sean, yang tidak melihat ke arahku sekali pun.

Aku duduk.

Dan aku mengeluarkan map dari tasku.

“Pak,” kataku.

“Iya?”

Dan aku menaruh surat itu di meja dan mendorongnya.

“Saya mau nyerahin ini.”


Kepala sekolah membacanya.

Dia membacanya cukup lama untuk satu halaman yang isinya tiga baris.

Lalu dia menaruhnya.

“Kamu tau ini apa?”

“Iya, Pak.”

“Ini artinya kamu mengundurkan diri.”

“Iya, Pak.”

“Sebelum sidang selesai.”

“Iya, Pak.”

Dan kepala sekolah SMA Bhakti Persada menatapku dari seberang meja, dan bertanya:

“Kenapa?”


Aku sudah menyiapkan jawaban ini empat belas hari.

“Biar nggak ada yang perlu diputusin, Pak,” kataku.

“Maksudnya?”

“Kalau saya mundur, komite nggak perlu ngeluarin putusan. Nggak ada yang masuk berkas. Nggak ada yang perlu tanda tangan.”

Aku menaruh tanganku di pangkuan.

“Termasuk Ibu Retno, Pak.”

Ruangan itu jadi sunyi.

Aku tidak melihat ke arah Bu Retno. Aku sengaja tidak melihat ke arah Bu Retno.

“Dan,” kataku, “saksi-saksinya nggak perlu bersaksi.”


“Arganta,” kata wakil kepala sekolah.

“Iya, Pak.”

“Kamu tau nggak sidang ini udah jalan dari jam sepuluh?”

“Iya, Pak.”

“Kamu tau nggak siapa aja yang udah masuk?”

Dan aku berkata:

“Saya baru tau tadi, Pak. Di koridor.”

Dan aku menambahkan, dan aku ingat suaraku bergetar di kalimat ini untuk pertama kalinya:

“Saya minta maaf mereka ke sini. Itu bukan saya yang minta.”


Dan lalu seseorang berkata sesuatu yang mengubah seluruh sisa hari itu.

Bukan kepala sekolah. Bukan Bu Retno.

Seorang perempuan di sisi kiri meja, yang belum bicara sekali pun, yang aku tidak tahu namanya sampai sekarang.

Dia berkata:

“Kamu minta maaf mereka ke sini?”

“Iya, Bu.”

“Kenapa?”

Dan aku berkata:

“Karena mereka jadi kelihatan.”


Ada jeda.

“Jelasin,” katanya.

Dan aku duduk di kursi itu dan aku tidak tahu harus mulai dari mana, jadi aku mulai dari yang paling gampang.

“Bu Ipah jualan di depan sekolah, Bu,” kataku. “Kalau ada yang nggak suka, gerobaknya yang kena.”

Aku menaruh tanganku di meja.

“Mbak Yanti kerja di kantin. Pak Sudir digaji yayasan. Reyhan sama Tio kelas sepuluh.”

Aku menarik napas.

“Kalau mereka bersaksi buat saya, nama mereka nempel ke nama saya.”

Dan aku berkata:

“Dan itu nggak bisa dilepas lagi, Bu.”


Pintu ruangan diketuk jam satu lewat sepuluh.

Bu Retno berdiri untuk membukanya.

Dan yang masuk Alesha.


Aku ingin mencatat bahwa aku tidak menoleh.

Aku mendengar pintu. Aku mendengar langkahnya — aku hafal langkahnya, aku sudah hafal langkahnya sejak bulan kedua — dan aku tidak menoleh.

Dia duduk di kursi kedua dari ujung.

Dan aku melihat, dari sudut mata, bahwa dia membawa map cokelat.

Aku menutup mataku.


“Alesha Naraya?”

“Iya, Pak.”

“Kamu saksi yang dipanggil.”

“Iya, Pak.”

Dan wakil kepala sekolah membuka berkasnya.

“Kamu udah kasih keterangan malam kejadian.”

“Iya, Pak.”

“Ada yang mau ditambahin?”

Dan aku duduk di kursi itu dengan kedua tangan di pangkuan dan aku mengulangi di kepalaku empat kalimat yang kutulis di amplop putih dengan tulisan tangan yang rapi.

Jangan bawa folder.

Jangan bawa screenshot.

Jangan bawa tabel.

Kalau ditanya apa kamu tau soal akun itu, bilang nggak tau.

Tolong.

Dan Alesha Naraya berkata:

“Ada, Pak.”


Aku menoleh.

Aku tidak bisa menahannya. Aku menoleh dan dia sudah menatapku, dan dia sudah menatapku sejak dia duduk, dan aku tahu itu karena wajahnya sudah siap.

“Alesha—”

“Pak,” katanya, tanpa melepaskan pandangannya dariku, “saya mau nyerahin sesuatu.”

“Alesha.”

“Dan saya mau bilang di depan bahwa dia nggak tau.”

Dia berdiri.

“Dia nulis surat ke saya minggu lalu. Dia minta saya nggak bawa apa-apa hari ini.”

Dan dia mengeluarkan amplop putih itu dari tasnya, dan menaruhnya di meja, di sebelah map cokelat.

“Ini suratnya, Pak. Silakan dibaca juga.”


“Alesha, jangan.”

“Ga.”

“Alesha—”

“Ga.” Dan dia menoleh ke arahku, dan matanya sudah basah tapi suaranya tidak. “Kamu udah minta tolong sekali.”

Aku tidak bisa bicara.

“Delapan bulan, dan kamu minta tolong sekali.”

Dia menghadap ke depan lagi.

“Dan aku nggak bisa ngasih yang itu.”


Yang terjadi berikutnya berlangsung empat puluh menit dan aku tidak akan menuliskan semuanya.

Aku akan menuliskan apa yang kulihat, karena aku duduk di kursi itu dan aku menonton dan aku tidak bisa menghentikan apa pun.

Map cokelat itu dibuka.

Empat puluh tujuh halaman tercetak. Tabel jam unggah. Pola tiga hari.

Dan dua kertas — sobekan buku tulis, dilipat empat, tulisan tangan anak kelas sepuluh yang butuh lima menit untuk menulis dua kalimat.

Aku belum pernah melihat kertas kedua.

Aku baru tahu Tio pernah menulis satu.


Dan lalu tiga anak perempuan masuk.

Aku mengenali satu — kelas dua belas, aku pernah membetulkan rantai sepedanya dua tahun lalu dan dia tidak pernah tahu siapa yang membetulkannya.

Mereka tidak melihat ke arahku sekali pun.

Mereka duduk. Mereka menaruh tiga ponsel di meja.

Dan salah satu dari mereka berkata:

“Kami bukan ke sini buat dia, Pak.”

Dia menoleh ke arah orang di ujung meja — orang yang wajahnya mirip Sean, yang sejak tadi tidak melihat ke arah siapa pun.

“Kami ke sini buat kami sendiri.”


Aku dipanggil jam dua lewat.

Semua orang sudah keluar kecuali komite. Alesha diminta menunggu di luar. Dia berdiri dan berjalan ke pintu dan berhenti sebentar di sebelah kursiku.

Dia tidak mengatakan apa-apa.

Dia cuma menaruh tangannya di meja, di sebelah tanganku, di garis batas yang secara teknis milik siapa saja.

Dua detik.

Lalu dia pergi.


“Arganta.”

“Iya, Pak.”

“Kami mau nanya satu hal.”

“Iya, Pak.”

Dan kepala sekolah menutup berkasnya, dan melipat tangannya, dan bertanya:

“Kenapa kamu nggak pernah cerita apa-apa?”


Aku duduk di kursi itu cukup lama.

Aku ingin mencatat berapa lama, karena aku menghitung semuanya, dan yang ini aku tidak menghitungnya.

“Arganta?”

“Iya, Pak.”

“Kamu tiga tahun di sekolah ini,” kata kepala sekolah. “Tiga insiden. Tiga-tiganya kamu nggak ngasih keterangan apa-apa.”

Dia menunjuk map di depannya.

“Kalau kamu cerita dari awal, ini semua nggak perlu terjadi.”


Dan aku berkata:

“Saya pernah cerita, Pak.”

“Kapan?”

“Kelas tiga SMP.”

Ruangan itu diam.

“Saya cerita ke wali kelas saya,” kataku. “Dua minggu setelah kejadian di gang. Saya siapin kalimatnya di rumah, waktu saya nggak masuk.”

Aku menaruh tanganku di pangkuan.

“Saya cerita lima menit, Pak. Saya inget karena saya latihan.”

“Terus?”

Dan aku berkata:

“Beliau bilang, ‘Ya sudah, yang penting nggak diulang.’”


Aku ingin mencatat bahwa tidak ada yang mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

“Saya nggak marah sama beliau, Pak,” kataku. “Saya baru ngerti tiga bulan kemudian.”

“Ngerti apa?”

“Bahwa beliau bukan nggak percaya.” Aku menatap meja. “Beliau udah punya jawabannya sebelum saya ngomong. Jadi yang saya omongin nggak masuk.”

Aku menarik napas.

“Orang nggak nyari kebenaran soal orang lain, Pak,” kataku. “Orang nyari konfirmasi.”

Dan aku mengangkat wajahku.

“Dan muka saya konfirmasi yang bagus.”


“Itu alasan kamu diam?”

Dan aku berkata:

“Bukan, Pak.”

Kepala sekolah mengangkat alisnya.

“Itu alasan saya waktu SMP,” kataku. “Alasan saya sekarang beda.”

“Apa?”


Dan aku duduk di ruang rapat komite SMA Bhakti Persada, jam dua lewat dua puluh, dengan tujuh orang dewasa menunggu, dan aku mengatakan hal yang belum pernah kukatakan ke siapa pun.

Bukan ke Ibu.

Bukan ke Kenzo. Bukan ke Jovan.

Bukan ke Alesha.

“Saya diem bukan karena nggak ada yang percaya, Pak,” kataku.

Aku memegang pinggiran meja.

“Saya diem karena tiap kali ada yang percaya, mereka yang kena.”


Ruangan itu tidak bergerak.

“Ada anak namanya Kenzo Radiktya,” kataku. “Dia satu-satunya yang lihat kejadian di gang itu. Dia cerita ke semua orang selama setahun.”

Aku menarik napas.

“Nggak ada yang percaya. Dan dia dapet nama ‘temennya si itu’ selama tiga tahun.”

Aku menatap meja.

“Ada Ibu Retno.”

Aku tidak melihat ke arahnya.

“Beliau nolak permintaan pemindahan tiga tahun lalu. Beliau tulis di berita acara. Dan tadi pagi beliau ditanya kenapa catatannya nggak dimasukin ke berkas resmi.”

Aku menelan.

“Beliau nggak masukin karena beliau ngelindungin saya, Pak. Dan sekarang itu jadi masalah beliau.”


“Ada anak namanya Puspa,” kataku. “Kelas sebelas, tahun lalu. Dia duduk di sebelah saya tiga minggu.”

Aku berhenti.

“Dia pindah kelas. Terus dia pindah sekolah.”

Aku memegang pinggiran meja lebih keras.

“Ada anak namanya Danu. Waktu saya SMP. Dia satu-satunya temen saya.”

Dan aku berkata:

“Saya berhenti main ke rumahnya dua bulan sebelum dia pindah, Pak. Saya nggak pernah kasih tau kenapa. Dia nggak pernah tau sampai sekarang.”


Aku mengangkat wajahku.

“Dan sekarang ada Alesha Naraya.”

Aku menatap map cokelat di meja.

“Dia jalur prestasi. Dia kandidat rekomendasi sekolah. Dan sekarang semua yang pernah ditulis orang tentang dia ada di dalam map itu, dan Bapak-Ibu semua udah baca.”

Aku menaruh tanganku di pangkuan.

“Itu yang saya minta jangan, Pak.”


Aku ingin mencatat kapan persisnya, karena aku sudah memikirkannya ribuan kali.

Bukan waktu aku menyebut nama Kenzo.

Bukan waktu aku menyebut Bu Retno, atau Puspa, atau Danu.

Bukan waktu aku menyebut Alesha.

Yang terjadi adalah kepala sekolah bertanya satu pertanyaan tambahan, dan pertanyaannya kecil, dan sama sekali tidak penting.

Dia bertanya:

“Anak yang di panti itu, yang namanya Ical. Kamu kenal?”

Dan aku berkata:

“Kenal, Pak.”

“Dia bilang kamu selalu datang.”

Dan aku membuka mulut untuk menjawab.

Dan tidak ada yang keluar.


Aku menunduk.

Aku ingin mencatat bahwa aku tidak menangis dengan berisik. Aku tidak sanggup melakukan itu. Aku menunduk ke arah meja dan aku menutup mataku dan air mataku jatuh ke pahaku dan aku tidak bersuara sama sekali.

Tujuh belas tahun.

Aku menghitungnya di kursi itu, karena menghitung adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan.

Tujuh belas tahun, dan aku tidak ingat kapan terakhir kali.

Bu Retno mendorong kotak tisu ke arahku dan tidak mengatakan apa-apa.

Dan seseorang di ujung meja berkata “kita break sepuluh menit,” dan kursi-kursi bergerak, dan aku tetap duduk di situ dengan kepala menunduk sampai ruangannya kosong.


Aku tidak keluar waktu break.

Bu Retno tinggal.

Beliau duduk di kursi yang sama dan tidak mengatakan apa-apa selama mungkin lima menit.

Lalu beliau berkata:

“Ga.”

“Iya, Bu.”

“Kamu tau nggak apa yang paling bikin Ibu marah dari semua ini?”

Aku menyeka wajahku dengan lengan.

“Apa, Bu?”

Dan Bu Retno berkata:

“Anak umur delapan tahun yang lebih ngerti dari orang dewasa di ruangan ini.”


Putusannya dibacakan jam empat lewat.

Aku akan menuliskannya persis, karena aku menyimpan salinannya sampai sekarang.

Satu. Surat pengunduran diri ditolak. Ditolak karena “tidak dapat diterima dalam keadaan siswa berada di bawah proses pemeriksaan.”

Aku tidak mengerti kalimatnya waktu itu. Bu Retno menjelaskannya belakangan: kalau surat itu diterima, sekolah tidak perlu memutuskan apakah aku bersalah.

Dan kalau sekolah tidak memutuskan, aku pergi dengan status yang tidak jelas selamanya.

Bu Retno yang mengusulkan penolakan itu.

Dua. Sanksi skorsing empat belas hari kerja tetap tercatat di berkas siswa, dengan keterangan: “terlibat dalam insiden fisik di lingkungan sekolah.”

Tidak dihapus. Tidak diperingan.

Tiga. Rekomendasi pengembalian ke orang tua dibatalkan.

Empat. Kasus dipisah. Laporan mengenai akun @fakta.sma__ dan tiga belas berkas keterangan dari tujuh siswa perempuan diproses sebagai perkara terpisah, dengan pemeriksaan yang dijadwalkan minggu berikutnya.

Lima. Aku wajib mengikuti pembinaan di ruang BK dua kali seminggu selama satu semester.


Aku ingin mencatat bahwa aku tidak senang.

Aku tahu itu terdengar aneh.

Aku duduk di ruangan itu waktu putusan dibacakan dan yang kurasakan bukan lega.

Yang kurasakan: ada satu baris di berkasku yang akan ada di situ selamanya, dan baris itu berbunyi terlibat dalam insiden fisik di lingkungan sekolah, dan baris itu benar.

Aku memang memegang seragamnya.

Tidak ada satu pun dari empat belas hari itu yang bisa mengubah bagian itu.

Dan aku duduk di kursi itu dan aku berpikir: ya, memang segini.

Bukan bebas. Bukan menang.

Segini.


Aku keluar jam empat lewat dua puluh.

Koridor lantai dua masih ada orang.

Bukan semua. Pak Sudir sudah pulang — shift sore. Mbak Yanti sudah kembali ke kantin. Bu Ipah sudah dijemput Mang Ujang tiga jam lalu.

Yang tinggal: Kenzo. Jovan. Callysta. Bu Nur.

Dan Alesha, duduk di lantai koridor dengan punggung ke dinding, memegang map cokelat yang sudah kosong.

Mereka semua berdiri waktu pintunya terbuka.

Dan tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya.

Empat orang berdiri di koridor lantai dua selama mungkin sepuluh detik tanpa bertanya apa pun, dan aku baru mengerti kenapa belakangan: mereka sedang menunggu aku bilang duluan.

Karena kalau mereka bertanya dan jawabannya jelek, aku harus mengucapkannya.

“Nggak jadi dikeluarin,” kataku.


Kenzo duduk di lantai.

Bukan pelan. Dia langsung duduk, di tengah koridor, seperti orang yang kakinya dilepas.

Dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tidak mengeluarkan suara apa pun.

Callysta berbalik dan menghadap dinding.

Jovan melepas kacamatanya, dan mengelapnya dengan ujung hoodie, dan memakainya lagi, dan tidak melakukan apa-apa lagi setelah itu.

Dan Bu Nur berkata “alhamdulillah” tiga kali dan mulai menangis dan memelukku, yang mana aku sama sekali tidak siap, dan aku berdiri di koridor itu dipeluk pengasuh panti asuhan sambil memegang tas dengan satu tangan dan tidak tahu harus melakukan apa dengan tangan yang satunya.


Dan Alesha tidak bergerak.

Dia berdiri di ujung koridor dengan map cokelat kosong di tangannya, dan dia tidak mendekat, dan aku tahu persis kenapa.

Karena aku belum mengatakan apa-apa padanya.

Karena empat belas hari lalu aku berdiri membelakanginya di dapur dan mengatakan satu kalimat dan menolak menjawab satu pertanyaan.

Dan karena semua ini — koridor ini, orang-orang ini, putusan ini — tidak menghapus bagian itu.

Aku berjalan ke arahnya.

Aku berhenti dua langkah.

“Alesha.”

“Hm?”

Dan aku berkata:

“Aku mau ngomong sesuatu.”

Dan Alesha Naraya menatapku dari jarak dua langkah, dengan mata yang bengkak dan seragam yang kusut dan map cokelat kosong yang masih dipegangnya dengan dua tangan, dan berkata:

“Nggak sekarang.”


Aku berhenti.

“Sha—”

“Nggak sekarang, Ga.”

Dia menoleh ke koridor. Ke Kenzo yang masih duduk di lantai. Ke Callysta yang masih menghadap dinding.

“Hari ini hari yang bagus,” katanya.

Dan dia menoleh kembali ke arahku, dan sudut bibirnya naik sedikit, dan matanya basah.

“Kamu inget nggak aku pernah bilang apa?”

Dan aku ingat.

Aku ingat persis, karena aku memutarnya di kepalaku setiap malam selama empat belas hari.

Aku mau kamu ngomong pas hari yang biasa aja. Pas nggak ada apa-apa. Pas nggak ada alasannya.

“Iya,” kataku.

“Ya udah.”

Dan dia menyeka matanya dengan lengan seragam, dan berjalan melewatiku ke arah Kenzo yang masih di lantai, dan berjongkok di sebelahnya, dan berkata “Zo, berdiri, lantainya kotor.”

Dan Kenzo berkata “gue nggak bisa berdiri.”

Dan Callysta, dari dinding, berkata “kamu selalu bisa berdiri, cengeng.”

Dan Kenzo berkata “LO NANGIS JUGA.”

Dan Callysta berkata “AKU NGGAK NANGIS.”

Dan aku berdiri di koridor lantai dua sekolah yang hampir kosong, jam setengah lima sore, dan aku menonton empat orang bertengkar di lantai, dan aku memikirkan sesuatu yang tidak kupikirkan selama tujuh belas tahun.

Bahwa aku harus mencari ruangan yang lebih besar.