← Bangku Sebelah

Chapter Thirty Seven

Bab 37: Mereka Datang Sendiri

POV: Alesha


Aku perlu mencatat satu hal sebelum apa pun.

Aku tidak mengumpulkan siapa pun.

Aku memikirkannya berkali-kali sejak hari itu — apakah ada satu pesan, satu telepon, satu kalimat yang kuucapkan ke seseorang yang menyebabkan ini.

Tidak ada.

Aku bahkan tidak tahu nomor Bu Nur. Aku tidak pernah menyimpan nomor Pak Sudir. Aku tidak tahu Mbak Yanti punya ponsel.

Yang kuminta ke Callys pagi itu cuma satu map dari laci meja belajarku.

Sisanya bukan aku.


Kenzo dan Jovan ada di lobi.

Aku baru melihat mereka setelah Bu Ipah masuk. Mereka berdiri di dekat pintu, dan Kenzo sedang bicara dengan Pak Sudir, dan Jovan sedang menunjukkan arah ke Mbak Yanti.

Aku menghampiri.

“Zo.”

Dia menoleh.

“Sha.”

“Kamu yang—”

“Bukan.”

“Kenzo—”

“Sha, bukan gue.” Dia mengangkat kedua tangannya. “Sumpah.”

“Terus?”

Dan Kenzo menoleh ke arah pintu, ke arah orang-orang yang masuk, dan berkata:

“Mereka nanya jalan.”

“Apa?”

“Pak Sudir nyamperin gue di gerbang jam setengah sepuluh.” Dia menggosok tengkuknya. “Dia nanya ruang rapat komite di mana.”

“Kamu nggak nanya kenapa?”

“Gue nanya.”

“Terus?”

Dan Kenzo berkata:

“Dia bilang, ‘Bapak mau ngomong.’”


Jovan menghampiri kami dengan dua orang di belakangnya.

Aku mengenali yang satu.

“Kak Alesha.”

Reyhan.

Dan di sebelahnya, anak yang lebih tinggi sedikit, yang wajahnya kukenal dari ruang mading, yang menulis lima menit untuk dua kalimat.

Tio.

“Rey—”

“Aku nggak izin, Kak.” Suaranya sudah bergetar sebelum dia selesai. “Aku bolos jam pelajaran. Aku nggak apa-apa nanti dihukum.”

“Reyhan—”

“Aku mau ngomong.”

Dan aku berdiri di lobi sekolah jam sepuluh kurang sepuluh, dengan tujuh orang di sekitarku yang tidak satu pun kuundang, dan aku tidak bisa bicara.


Ruang rapat komite ada di lantai dua, sayap barat, ruangan yang biasanya dipakai untuk rapat wali murid.

Aku belum pernah masuk.

Pintunya ditutup jam sepuluh lewat lima.

Dan aku berdiri di koridor lantai dua bersama tujuh orang yang tidak punya urusan apa pun di gedung ini, dan tidak ada satu pun dari kami yang tahu apa yang harus dilakukan.

Kenzo yang bertanya ke guru piket.

Guru piket bilang sidang tertutup. Bilang cuma yang dipanggil boleh masuk. Bilang siapa nama-nama ini.

Dan Bu Ipah — yang berdiri paling belakang, yang memegang tas plastik berisi entah apa, yang jelas-jelas belum pernah masuk ke gedung sekolah seumur hidupnya —

berkata:

“Ibu tukang gorengan depan, Pak.”

Guru piket menatapnya.

“Ibu ada urusan apa?”

Dan Bu Ipah berkata:

“Ibu mau cerita soal anak yang mau dikeluarin.”


Kami menunggu satu jam dua puluh menit.

Aku ingin menuliskan satu jam dua puluh menit itu, karena bagian ini yang paling kuingat dari seluruh hari itu, dan bukan bagian yang terjadi di dalam ruangan.

Kami duduk di lantai koridor.

Delapan orang. Di lantai. Di depan ruang rapat komite.

Pak Sudir menolak duduk selama dua puluh menit pertama karena menurut beliau tidak sopan, dan akhirnya duduk setelah Mbak Yanti memarahinya.

Bu Ipah membuka tas plastiknya dan ternyata isinya gorengan, dan beliau membagikannya ke semua orang, dan tidak ada satu pun dari kami yang bisa menolak.

Jadi kami makan bakwan di lantai koridor lantai dua sambil menunggu.

Callys datang jam setengah sebelas, berlari, dengan map cokelat di tangan dan napas yang habis.

Dia berhenti di ujung koridor.

Dia melihat delapan orang duduk di lantai.

Dan dia berkata, dengan suara yang sangat kecil:

“Ini apa?”


Pintu terbuka jam sebelas lewat dua puluh lima.

Yang keluar wakil kepala sekolah.

Dia melihat koridor.

Dan aku ingin mencatat ekspresinya, karena aku memikirkannya berkali-kali: dia tidak marah. Dia tidak kesal.

Dia bingung.

Dia berdiri di ambang pintu melihat delapan orang duduk di lantai koridor sekolahnya sendiri dan dia tidak tahu ini apa.

“Ini... ”

Dan Pak Sudir berdiri.

Beliau berdiri lebih cepat dari semua orang, dan merapikan seragamnya, dan memegang topinya dengan dua tangan.

“Selamat siang, Pak,” kata beliau.

“Pak Sudir? Bapak nggak shift hari ini.”

“Nggak, Pak.”

“Terus?”

Dan Pak Sudir berkata:

“Saya mau ngomong soal Arganta, Pak.”


Aku tidak diizinkan masuk.

Aku ingin mencatat itu karena penting: aku ada di daftar saksi, tapi aku dipanggil belakangan, dan waktu pintu itu dibuka untuk orang-orang ini aku tetap di koridor.

Jadi yang kutuliskan berikutnya bukan yang kulihat.

Ini yang kudengar — dari pintu yang tidak ditutup rapat, dari Callys yang duduk paling dekat, dan dari Bu Retno yang menceritakan sisanya padaku tiga hari kemudian dengan air mata di matanya, yang mana adalah satu-satunya kali aku melihat Bu Retno seperti itu.


Pak Sudir masuk pertama.

Beliau tidak duduk. Beliau menolak kursi.

Dan beliau berbicara selama empat menit tentang portal gerbang.

Empat menit. Tentang portal gerbang.

Tentang roda yang aus di satu sisi. Tentang titik di mana portal itu macet tiap hari. Tentang bagaimana beliau harus mendorong sambil menendang bagian bawahnya dua kali.

Dan tentang bagaimana sejak dua tahun lalu, ada anak yang berhenti tiap pagi jam enam empat puluh dua, menaruh tasnya di pos, dan mengangkat ujung portal itu sepuluh sentimeter.

“Sebelas detik, Pak,” kata Pak Sudir.

Ada yang bertanya sesuatu.

“Nggak, Pak. Nggak pernah minta. Nggak pernah dibayar.”

Ada yang bertanya lagi.

Dan Pak Sudir berkata:

“Dua tahun, Pak. Bapak nggak pernah ngitung harinya. Tapi Bapak inget dia nggak dateng tiga kali. Yang pertama pas dia sakit. Yang kedua pas Bapak sakit — dia yang gantiin buka portalnya sendirian dari jam enam.”

Hening.

“Yang ketiga hari Senin dua minggu lalu,” kata Pak Sudir. “Waktu suratnya keluar.”


Mbak Yanti kedua.

Beliau duduk. Beliau tidak melepas celemeknya.

Dan beliau bicara selama tiga menit tentang galon.

Bahwa Pak Herman pensiun. Bahwa beliau mengangkat sendiri selama seminggu. Bahwa pinggangnya sakit.

Bahwa lalu tiba-tiba ada yang mengangkatkan.

“Saya nggak minta,” kata beliau. “Saya nggak kenal anaknya. Saya nggak tau namanya sampai setahun kemudian.”

Dan lalu ada yang bertanya bagaimana beliau akhirnya tahu namanya.

Dan Mbak Yanti berkata:

“Ada yang nanyain dia, Pak. Anak perempuan. Tahun ini.”


Bu Ipah ketiga.

Dan Bu Ipah tidak bisa berhenti bicara.

Aku bisa mendengarnya dari koridor. Beliau bicara selama sembilan menit dan ada dua kali orang mencoba menyela dan dua kali beliau tidak berhenti.

Tentang gerobak yang rodanya patah jam lima subuh.

Tentang bengkel yang belum buka sampai jam tujuh.

Tentang anak SMA yang menunggu dua jam di depan bengkel yang tutup dan lalu terlambat sekolah.

Dan tentang sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.

“Terus minyak Ibu tumpah semua, Pak,” kata Bu Ipah. “Sepuluh liter. Ibu nangis di trotoar.”

Aku menoleh ke Callys.

Callys menggeleng. Dia juga tidak tahu.

“Terus sorenya dia dateng lagi,” lanjut Bu Ipah, “bawa jerigen.”

Ada yang bertanya sesuatu.

“Ya nggak, Pak, Ibu nggak minta. Ibu bahkan nggak cerita ke dia soal minyaknya.”

Dan lalu Bu Ipah berkata, dan suaranya berubah:

“Dia lihat sendiri pas subuh. Dia inget sepuluh jam.”


Aku duduk di lantai koridor dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

Dan Callys, di sebelahku, berkata dengan suara yang hampir tidak ada:

“Sha, ini yang di kolom kanan?”

“Apa?”

“Buku kamu.” Dia menoleh. “Yang dua kolom. ‘Yang dia lakuin’ sama ‘yang orang lihat’.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Kolom kanannya kosong, kan?”

“Iya.”

Dan Callysta Aruna menunjuk pintu ruang rapat dengan dagunya.

“Nggak kosong, Sha.”


Tio dan Reyhan masuk berdua.

Mereka meminta masuk berdua karena Reyhan tidak berani sendirian, dan itu diizinkan.

Reyhan bercerita selama enam menit dan menangis di menit keempat dan tidak berhenti bercerita.

Tentang parkiran belakang. Tentang empat orang kelas dua belas. Tentang bagaimana dia dipalak dari bulan pertama masuk sekolah, seminggu sekali, dua kali.

Dan tentang tiga bulan.

“Tiap hari, Pak. Jam tiga sampai setengah empat. Di depan gedung timur.”

Ada yang bertanya sesuatu.

“Nggak, Pak. Dia nggak ngapa-ngapain. Dia cuma berdiri.”

Dan lalu Reyhan berkata sesuatu yang aku dengar dari koridor dan yang membuat Kenzo berdiri dari lantai dan berjalan ke ujung koridor dan berdiri di situ membelakangi kami.

“Saya nunggu dia pergi dulu baru saya pulang, Pak,” kata Reyhan. “Tiga bulan. Biar saya aman.”

Hening.

“Terus sekarang dia mau dikeluarin,” kata anak kelas sepuluh itu, “gara-gara dia berdiri di depan orang lagi.”


Tio bicara dua menit.

Cuma dua menit, karena Tio tidak punya cerita panjang.

Ban bocor. Dua kilometer. Tambal ban yang dibayarkan.

Dan uang yang dikembalikan diam-diam ke saku tasnya.

“Saya baru tau pas nyampe rumah, Pak,” kata Tio. “Saya mau balikin. Saya nanya namanya tiga kali dan dia bilang nggak usah.”

Ada yang bertanya sesuatu.

Dan Tio berkata:

“Saya baru tau namanya bulan kemarin, Pak. Dari mading.”


Dan lalu Bu Nur.


Aku perlu berhenti sebentar di sini, karena bagian ini yang paling sulit kutulis.

Bu Nur masuk membawa buku tulis biasa, sampul polos, lecek di sudutnya.

Beliau tidak bercerita panjang.

Beliau bilang beliau pengasuh di Panti Asuhan Sinar Kasih, Jalan Kenanga, dua blok dari Jalan Melati.

Beliau bilang beliau membawa buku catatan kunjungan.

Dan beliau menaruh buku itu di meja dan membukanya.


Yang kudengar dari koridor setelah itu adalah tidak ada apa-apa.

Selama mungkin empat puluh detik.

Tidak ada suara sama sekali.


Lalu ada yang bertanya, dan suaranya pelan sehingga aku tidak mendengar pertanyaannya.

Dan Bu Nur menjawab:

“Dari tanggal empat belas, dua tahun tiga bulan lalu, Pak.”

Jeda.

“Tiap Jumat. Ada yang bolong tiga kali. Yang pertama pas dia sakit, yang kedua pas dia—”

Beliau berhenti.

“Yang kedua dan ketiga dua minggu terakhir ini, Pak.”


Dan lalu ada yang bertanya soal kolom kelima.

Aku tahu ada yang bertanya soal kolom kelima karena Bu Nur diam cukup lama sebelum menjawab, dan karena waktu beliau menjawab, suaranya berubah.

“Itu jumlahnya, Pak.”

Jeda.

“Iya, Pak. Uang.”

Jeda yang lebih panjang.

“Dia kerja di toko orang tuanya. Digaji harian.”

Dan lalu Bu Nur berkata:

“Ibu udah larang, Pak. Berkali-kali. Ibu bilang bawa kuenya aja udah cukup.”

Ada yang bertanya lagi.

Dan pengasuh Panti Asuhan Sinar Kasih berkata, di ruang rapat komite SMA Bhakti Persada, jam dua belas lewat sepuluh:

“Dia bilang, ‘Nggak apa-apa, Bu. Saya nggak butuh.’”


Aku menangis di lantai koridor.

Aku ingin mencatat bahwa aku bukan satu-satunya.

Callys menangis. Kenzo menangis di ujung koridor sambil membelakangi kami dan berpura-pura tidak. Reyhan, yang sudah keluar, duduk di lantai dan menangis lagi.

Jovan tidak menangis.

Dia melepas kacamatanya, dan mengelapnya dengan ujung hoodie, dan memakainya lagi, dan duduk menghadap dinding.

Dan aku duduk di lantai koridor lantai dua dan aku memikirkan satu hal yang membuatku hancur dengan cara yang berbeda:

Aku tidak tahu angkanya.

Aku sudah delapan bulan mengumpulkan. Tiga puluh sembilan halaman. Aku pernah berdiri di ruang tamu panti itu memegang buku ini di tanganku sendiri.

Dan aku tidak diizinkan membaca kolom kelima.

Dan aku menurut.


Aku dipanggil jam setengah satu.

Bu Retno keluar dari ruangan dan berdiri di depanku, dan aku berdiri, dan beliau melihat map cokelat di tanganku.

“Itu apa?”

Aku menatap map itu.

Kronologi hari Jumat. Empat puluh tujuh postingan tercetak. Tabel jam unggah. Pola tiga hari. Dua kertas dari dua anak kelas sepuluh.

Dan di dalam tasku, amplop putih dengan empat kalimat.

Jangan bawa folder. Jangan bawa screenshot. Jangan bawa tabel.

Kalau ditanya apa kamu tau soal akun itu, bilang nggak tau.

Tolong.

“Bu,” kataku.

“Iya?”

Dan aku berkata:

“Saya bawa sesuatu.”


Yang terjadi berikutnya bukan aku yang memutuskan.

Aku sudah memutuskan — aku sudah memutuskan di koridor jam setengah sepuluh, waktu Bu Retno bilang beliau melindungi seseorang selama tiga tahun dengan cara tidak menulis apa-apa.

Yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang tidak ada dalam rencana siapa pun.

Pintu di ujung koridor terbuka.

Dan tiga anak perempuan masuk.


Aku mengenali satu.

Kelas dua belas. Namanya Vira. Aku pernah mewawancarainya untuk mading tahun lalu soal lomba paduan suara.

Yang dua lagi aku tidak kenal.

Mereka berjalan menyusuri koridor, bertiga, dan berhenti di depan pintu ruang rapat.

Dan Vira melihat ke arahku.

“Kamu Alesha?”

“Iya.”

Dan dia berkata:

“Puspa yang ngasih tau kami.”


Aku merasakan seluruh koridor itu bergerak.

“Puspa—”

“Dia nelepon aku semalem.” Vira memegang tali tasnya dengan dua tangan. “Dia bilang ada yang mau dikeluarin gara-gara Sean.”

Aku tidak bisa bicara.

“Dia nanya aku masih nyimpen nggak,” kata Vira.

“Nyimpen apa?”

Dan Vira mengeluarkan ponselnya.

“DM,” katanya.

Dia menyalakan layarnya.

“Dari kelas sepuluh sampai sekarang. Aku nggak pernah hapus.”

Dan dia menoleh ke dua temannya.

“Kanya juga,” katanya. “Sama Selin.”


Callys berdiri sangat pelan di sebelahku.

“Kalian bertiga?” katanya.

Dan Vira menoleh ke arahnya.

“Bertiga yang mau ke sini,” katanya.

Dia memasukkan ponselnya kembali ke saku.

“Ada tujuh.”