Chapter Fourteen
Bab 14: Ban Bocor
POV: Alesha
Arga bawa soto.
Dia membawanya dalam wadah plastik bertingkat, yang jelas-jelas bukan wadah beli, dengan kuah dipisah, dengan bawang goreng di kompartemen sendiri.
Dia menaruhnya di meja Callys jam setengah tujuh pagi dan langsung jalan ke sudut kanan belakang tanpa mengatakan apa pun.
Callys datang jam tujuh kurang seperempat.
Berhenti di mejanya.
Melihat wadah itu.
Lalu dia berbalik pelan ke arah sudut kanan belakang, dan Arga sudah membuka bukunya dan menghadap jendela seolah tidak ada apa-apa di dunia ini yang bisa mengganggunya.
Callys mengambil wadah itu, berjalan ke belakang, menaruh tasnya, dan duduk.
Dan berkata, ke arah meja, tanpa melihat siapa pun:
“Ini terlalu enak.”
“Makasih,” kata Arga.
“Itu bukan pujian.”
“Oh.”
“Itu—” Callys menusuk sotonya. “Itu nyebelin. Kamu ngerti nggak sih.”
Dan Kenzo, yang sudah menunggu momen ini sejak dia duduk, membuka mulutnya.
Dan Jovan menendang kursinya.
Kenzo menutup mulutnya lagi.
Aku mulai berpikir Jovan Arsakha satu-satunya alasan kelompok ini masih ada.
Yang perlu kuceritakan sekarang bukan itu.
Yang perlu kuceritakan adalah hari Kamis, dan hari Kamis itu aku tidak ada.
Aku sedang rapat mading sampai jam setengah lima. Callys pulang sendirian, jam tiga lewat, naik angkot dari halte seperti biasa.
Dan yang terjadi selanjutnya aku dapat dari tiga sumber berbeda yang tidak saling kenal, dan ketiganya cocok, jadi aku yakin ini benar.
Angkot yang Callys naiki lewat jalur timur, melewati Jalan Anggrek, yang panjang dan lurus dan tidak ada apa-apa di kanan kirinya kecuali tembok pabrik dan trotoar yang terlalu panas untuk dijalani jam tiga siang.
Di kilometer kedua, dia melihat dua orang.
Yang satu anak kelas sepuluh — dia tahu dari warna dasi — menuntun motor bebek yang ban belakangnya kempes total, jalan di aspal karena trotoarnya terlalu tinggi.
Yang satu lagi jalan di sebelahnya, membawa dua tas sekaligus, yang satu miliknya dan yang satu jelas milik anak itu.
Callys bilang dia sempat berpikir dia salah lihat.
Angkotnya lewat. Dia menoleh ke belakang lewat kaca. Dia menghitung sampai sepuluh.
Lalu dia berteriak ke sopir untuk berhenti.
“Aku nggak turun buat bantuin,” katanya waktu dia menceritakannya padaku dua hari kemudian, dan dia mengatakannya dengan wajah orang yang membenci dirinya sendiri. “Aku turun buat lihat.”
“Callys—”
“Aku turun buat mastiin dia yang lagi ngerjain anak itu.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Aku beneran mikir gitu, Sha.” Dia menutup wajahnya sebentar. “Aku lihat orang gedhe jalan sama anak kecil di jalan sepi terus otak aku langsung mikir yang paling jelek.”
“Terus?”
“Terus aku ngikutin dari trotoar seberang.”
“Berapa lama?”
Dan Callys mengangkat wajahnya, dan matanya sudah merah, dan dia bilang:
“Satu setengah kilometer.”
Ini yang dia lihat, dan aku menuliskannya persis seperti yang dia ceritakan, karena dia mengulanginya tiga kali dan tiga kali sama.
Arga tidak bicara banyak. Anak itu yang bicara — cerita panjang, sepanjang jalan, tentang apa saja. Arga sesekali mengangguk.
Di kilometer pertama, ada tanjakan kecil. Arga mengambil alih motornya. Anak itu protes. Arga tidak menyerahkannya kembali sampai tanjakan selesai.
Di depan minimarket, mereka berhenti. Arga masuk, keluar dengan dua botol air. Memberikan satu.
Anak itu mengeluarkan uang. Arga menolak dengan menggeleng sekali.
Anak itu memaksa. Arga menerima uangnya.
Lalu — dan ini bagian yang membuat Callys berhenti di trotoar seberang selama hampir satu menit — Arga memasukkan uang itu ke saku depan tas anak itu waktu anak itu sedang menuntun motornya lagi.
Anak itu tidak tahu sampai sekarang, kemungkinan besar.
Di kilometer kedua, matahari paling parah. Arga melepas jaket seragamnya.
Dan menyampirkannya ke kepala anak itu.
Dan Callys, dari trotoar seberang, akhirnya melihat punggung seragam putih itu tanpa terhalang jaket.
Dia bilang dia tidak bisa melihat apa-apa dari sejauh itu.
Tapi dia bilang dia melihat sesuatu.
Bentuknya samar, memanjang, dari bawah tulang belikat kiri turun ke arah pinggang, kelihatan sedikit lebih terang dari kain di sekitarnya karena keringat membuat seragamnya menempel.
Callys tidak tahu itu apa waktu itu.
Dia baru tahu di Bab yang datang jauh setelah ini.
Tapi dia bilang, dan aku mengutipnya persis:
“Aku berdiri di trotoar dan aku mikir, punggung orang nggak bentuknya kayak gitu.”
Bengkel tambal ban ada di ujung Jalan Anggrek.
Mereka sampai jam empat kurang.
Callys berhenti di warung seberang, memesan sesuatu yang tidak dia minum, dan menonton.
Arga membayar tambal bannya.
Anak itu berdebat. Cukup lama — Callys bilang hampir lima menit. Anak itu mengeluarkan dompet, membuka, dan Callys bisa lihat dari seberang bahwa isinya kosong.
Anak itu menunduk.
Dan Arga mengatakan sesuatu yang pendek, dan anak itu mengangkat wajahnya, dan mengangguk.
Callys tidak dengar apa.
Tapi dia bertanya ke tukang tambal ban keesokan harinya. Dia betul-betul kembali ke sana keesokan harinya, sendirian, naik angkot dua kali, untuk bertanya.
Tukang tambal ban itu bilang anak SMA yang tinggi itu bilang begini:
“Nanti aja. Kalau kamu udah kerja, tambalin ban orang lain.”
Callys tidak pulang setelah itu.
Dia menunggu di warung sampai keduanya pergi — anak itu naik motornya, membunyikan klakson dua kali, dan Arga mengangkat tangan setinggi bahu tanpa menoleh.
Dan lalu Arga jalan.
Ke arah yang berlawanan.
Balik ke arah sekolah, dua setengah kilometer, jam empat sore, jalan kaki.
Callys mengikutinya sampai perempatan.
“Kenapa kamu ngikutin terus?” tanyaku.
“Aku pengen tau dia mau ke mana.”
“Terus?”
“Dia nggak ke mana-mana.” Callys menaruh dagunya di meja. “Dia balik ke sekolah, ambil sepeda dia yang diparkir di deket pos satpam, terus pulang.”
“Sepeda?”
“Iya.”
“Dia bawa sepeda?”
“Iya, Sha.” Callys menoleh. “Dia bawa sepeda. Dia bisa aja nganterin anak itu pakai sepeda dan pulang sejam lebih cepet.”
Aku diam.
“Dia jalan,” kata Callys. “Empat setengah kilometer. Bolak-balik. Sambil bawa dua tas.”
Aku tidak menjawab.
“Dan yang paling bikin aku pengen ngamuk,” lanjutnya, dan suaranya sudah tidak stabil, “adalah dia nggak cerita ke siapa-siapa. Aku nunggu. Aku nunggu tiga hari. Aku sengaja nanya ‘kemarin Kamis kamu ngapain’ pas di meja, di depan semua orang.”
“Dia jawab apa?”
Callys tertawa. Bukan tawa yang menyenangkan.
“Dia bilang, ‘Nggak ngapa-ngapain.’”
Namanya Tio.
Aku baru tahu tiga minggu kemudian, dan aku tahunya dari arah yang tidak kuduga sama sekali.
Aku sedang di ruang mading, sendirian, menempel layout untuk edisi berikutnya. Ada yang mengetuk pintu.
Anak kelas sepuluh. Rambutnya masih basah karena baru olahraga.
“Kak, boleh nanya?”
“Boleh.”
“Kakak anak jurnalistik kan?”
“Iya.”
“Kalau mau masukin ucapan terima kasih di mading, caranya gimana?”
Aku berhenti menempel.
“Ucapan terima kasih?”
“Iya.” Dia berdiri di ambang pintu, memindahkan berat badannya dari satu kaki ke kaki lain. “Kayak, buat orang. Tapi nggak usah disebut namanya.”
“Nggak disebut namanya gimana?”
“Ya nggak usah aja.”
Aku menaruh guntingku.
“Boleh masuk,” kataku.
Dia duduk di ujung kursi, setengah pantat, siap lari, dan aku sudah pernah melihat postur ini sebelumnya di kursi yang sama.
“Namanya siapa?”
“Tio, Kak. Sepuluh empat.”
“Alesha.”
“Aku tau.”
Semua orang selalu tahu. Aku sudah berhenti terkejut.
“Kamu mau bilang makasih ke siapa?”
Dan Tio menggosok telapak tangannya di celana — gerakan yang membuatku harus berhenti sebentar, karena aku sudah melihat gerakan itu ratusan kali dalam tiga bulan terakhir, dari orang lain — dan berkata:
“Kakak kelas. Yang bantuin motor aku.”
“Ban bocor?”
Dia mengangkat kepalanya. “Kakak tau?”
“Denger.”
“Oh.” Dia mengangguk. “Ya itu.”
“Kenapa nggak bilang langsung ke orangnya?”
“Udah. Waktu itu.”
“Terus?”
“Terus dia bilang nggak apa-apa terus dia pergi.” Tio meremas tali tasnya. “Tapi itu kurang, Kak.”
“Kurang gimana?”
Dan anak kelas sepuluh itu, dengan seragam yang masih terlalu besar untuk badannya, berkata:
“Dia bayarin tambal ban aku, terus uang aku dibalikin diem-diem ke tas aku, dan dia pikir aku nggak tau.”
Aku menatapnya.
“Kamu tau?”
“Aku baru tau pas nyampe rumah.” Tio menunduk. “Aku mau balikin. Tapi aku nggak tau dia siapa. Aku nggak tau namanya.”
“Kamu nggak nanya?”
“Aku nanya, Kak.” Dia mengangkat wajahnya, dan wajahnya frustrasi dengan cara yang membuat dadaku sakit. “Aku nanya tiga kali. Dia bilang ‘nggak usah’.”
Aku duduk di kursi seberangnya.
“Tio.”
“Iya?”
“Kamu tau nggak, di sekolah ini ada akun yang namanya fakta sma?”
“Tau.”
“Kamu ikut?”
“Ikut.” Dia mengerutkan kening. “Kenapa, Kak?”
“Nggak apa-apa.”
Aku memberinya kertas dan pulpen, dan dia menulis lima menit untuk dua kalimat, dan aku menyimpannya di map yang isinya sudah mulai tidak sedikit lagi.
Dan setelah dia pergi, aku duduk di ruang mading sendirian sambil memandangi map itu.
Dua kertas. Reyhan dan Tio.
Dua orang kelas sepuluh yang ingin mengucapkan terima kasih dan tidak bisa, karena orangnya menolak menerima, dan karena sekolah ini sudah mengajari mereka bahwa mengaitkan nama sendiri dengan nama itu adalah hal yang berbahaya.
Aku menulis di buku catatanku malam itu:
Bukan cuma dia yang nggak boleh punya nama baik.
Orang yang ditolongnya juga nggak boleh punya hak berterima kasih.
Aku tidak menanyakannya ke Arga.
Aku ingin. Aku menyusun tiga cara berbeda untuk membawanya ke pembicaraan, semuanya di kepalaku, semuanya waktu aku tidak bisa tidur.
Tapi aku sudah belajar sesuatu di tiga bulan terakhir: kalau kamu tanya, dia menyangkal. Dan kalau dia menyangkal terlalu sering, dia mulai menjauh.
Jadi aku melakukan hal lain.
Hari Senin, di tangga belakang, aku bertanya:
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu bawa sepeda kan?”
“Iya.”
“Kenapa kamu nggak pernah nganterin aku?”
Dia berhenti mengunyah.
“Kamu naik angkot.”
“Iya. Tapi kenapa kamu nggak pernah nawarin?”
Dan aku melihat wajahnya, dan aku melihat dia menyusun kalimat, dan aku tahu persis kalimat apa yang akan keluar sebelum keluar.
“Nanti orang—”
“Arganta.”
“...Iya.”
“Aku mau dianterin.”
“Alesha.”
“Aku mau.” Aku menaruh daguku di atas lutut. “Sekali aja.”
“Boncengan itu—”
“Boncengan itu apa?”
Dia mengelap tangannya ke celana.
“Nggak apa-apa.”
Dan aku duduk di anak tangga ketiga sambil memandangi orang yang jalan kaki empat setengah kilometer di bawah matahari untuk anak yang bahkan tidak dia kenal, dan yang sekarang panik total karena diminta membonceng pacarnya sendiri.
“Ga.”
“Hm.”
“Berapa kali kamu pernah bonceng orang?”
Jeda.
“Nol.”
“Nol?”
“Kenzo nggak mau.”
“Kenapa Kenzo nggak mau?”
“Katanya aku ngerem kayak orang benci hidup.”
Aku tertawa sampai batuk.
Dia mengantarku hari Rabu.
Aku ingin mencatat detailnya karena aku mengingat semuanya.
Sepedanya tua. Warnanya hijau tentara, ada karat di beberapa tempat, tapi rantainya bersih dan diberi pelumas, dan boncengannya — boncengan besi biasa — dilapisi karpet potongan yang dijahit tangan.
Dijahit tangan.
Aku menatap jahitan itu terlalu lama.
“Kapan kamu jahit ini?”
“Kemarin.”
“KEMARIN?”
“Malem.” Dia memegang setangnya dan tidak melihat ke arahku. “Besinya keras.”
Aku berdiri di parkiran sepeda dengan tas di tangan dan aku tidak bisa bicara selama lima detik penuh.
“Ga.”
“Naik aja.”
“Ga.”
“Nanti telat.”
“Arganta Bhumi—”
“NAIK AJA, ALESHA.”
Aku naik.
Dan dia mengayuh, dan dia mengayuh dengan sangat, sangat hati-hati, seperti orang yang membawa telur di keranjang belakang, dan setiap kali ada polisi tidur dia berhenti hampir total dan melewatinya dengan kecepatan orang berjalan.
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu bisa lebih cepet.”
“Nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Nanti kamu jatoh.”
“Aku pegangan.”
Dan seluruh sepeda itu goyang.
“KAMU PEGANG APA.”
“Baju kamu.”
“Oh.” Dia mengembalikan keseimbangannya. “Oh. Ya udah.”
“Emang aku harus pegang apa?”
“Nggak tau.”
“Pinggang?”
Sepeda itu goyang lagi, lebih parah, dan kami hampir menabrak tiang listrik, dan aku tertawa begitu keras sampai ada ibu-ibu di warung yang menoleh.
Dia menurunkanku dua ratus meter sebelum rumahku, di perempatan.
“Kenapa di sini?”
“Nggak apa-apa.”
“Ga.”
“Nanti ibu kamu—”
Dan dia berhenti sendiri, karena aku sudah menatapnya.
“Aku takut,” katanya akhirnya, sangat pelan.
Dan itu — kejujuran mentah itu, tanpa alasan, tanpa pembelaan — membuatku tidak bisa memaksa.
“Ya udah,” kataku. “Di sini aja dulu.”
“Dulu?”
“Iya. Dulu.”
Dia mengangguk.
Dan waktu aku sudah jalan lima langkah, dia memanggil.
“Alesha.”
Aku menoleh.
Dia masih di atas sepedanya, satu kaki di tanah, dan dia bertanya dengan nada orang yang menanyakan sesuatu yang sudah dia latih:
“Besok mau lagi?”
Callys tahu hari berikutnya, karena Callys selalu tahu.
Dia menghadangku di kantin.
“Kamu diboncengin.”
“Iya.”
“Sepeda?”
“Iya.”
Callys duduk di seberangku, dan menaruh dagunya di tangan, dan menatapku dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa kubaca.
“Sha.”
“Hm.”
“Aku mau nanya sesuatu dan aku nggak mau kamu ketawa.”
“Oke.”
“Boncengan sepedanya dilapis nggak?”
Aku menaruh sendokku.
“Kenapa kamu nanya itu?”
Dan Callysta Aruna — yang dua bulan lalu menaruh ponselnya di meja ini dan mendorongnya ke arahku dengan dua jari seperti orang menyerahkan berkas — menatap mejanya dan berkata:
“Karena kalau iya, aku harus mikirin ulang banyak hal.”
Aku tidak menjawabnya.
Aku cuma mengeluarkan ponselku, membuka galeri, dan menaruhnya di meja.
Aku mendorongnya ke arahnya dengan dua jari.
Foto boncengan sepeda. Karpet potongan. Jahitan tangan yang tidak rapi, benang hitam di karpet abu-abu, sekitar dua puluh jahitan yang jelas dikerjakan orang yang tangannya terlalu besar untuk jarum sekecil itu.
Callys menatap layar itu lama sekali.
Lalu dia mengembalikan ponselku, berdiri, dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Dan dua jam kemudian, di kelas, dia melakukan sesuatu untuk pertama kalinya.
Dia bertanya langsung ke Arga.
Bukan lewat aku. Bukan lewat sindiran. Bukan lewat Kenzo.
“Bhumi.”
Arga mengangkat kepalanya.
“Kamu Kamis kemarin ngapain?”
Dan Arga — yang sudah menjawab pertanyaan ini sekali dengan “nggak ngapa-ngapain” — berhenti.
Dia menatap Callys.
Callys menatapnya balik, dan tidak mundur, dan tidak mengalihkan pandangan, dan tangannya mencengkeram pulpennya cukup keras sampai buku-buku jarinya putih.
Dan Arga bilang:
“Nganterin orang.”
Cuma itu.
Tapi itu bukan “nggak ngapa-ngapain.”
Callys mengangguk sekali, dan kembali ke bukunya, dan tidak bicara lagi sepanjang jam itu.
Tapi waktu bel pulang, dia mengeluarkan ponselnya, dan aku duduk cukup dekat untuk melihat layarnya.
Dia membuka album screenshot itu.
Dia tidak menghapus apa pun hari itu.
Tapi dia menutupnya tanpa membaca satu pun, dan itu pertama kalinya dalam dua bulan.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor reading
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama