← Bangku Sebelah

Chapter Twenty Two

Bab 22: Notifikasi

POV: Alesha


Yang pertama datang hari Selasa, jam sembilan lewat.

Bukan postingan. Cuma komentar, di bawah postingan lama — postingan tentang jadwal ujian, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa pun.

Aku tidak akan menuliskan isinya.

Aku akan menuliskan ini: aku membacanya, aku menghitung sampai lima, dan aku menghapus notifikasinya.

Lalu aku menaruh ponselku di laci.

Lalu aku mengambilnya lagi empat menit kemudian, membuka aplikasi itu, dan membaca komentar itu tujuh kali.

Aku tahu persis apa yang sedang kulakukan. Itu bagian yang paling memalukan.

Aku sudah menulis artikel tentang ini. Semester lalu, untuk mading, delapan ratus kata: kenapa orang membaca ulang hal yang menyakitinya. Aku menulis bahwa itu bentuk mencari kendali. Kalau kamu membaca cukup sering, kamu akan terbiasa, dan kalau kamu terbiasa, kamu menang.

Aku menulis bahwa itu tidak berhasil.

Aku membacanya tujuh kali.


Yang kedua datang hari Kamis.

Yang ketiga hari Jumat, dua sekaligus.

Dan mulai minggu berikutnya, hampir tiap hari.

Polanya begini, dan aku memperhatikan polanya karena aku tidak bisa berhenti memperhatikan pola:

Tidak ada satu pun yang menyerangku secara langsung.

Semuanya berbentuk kasihan.

Kasian sih ceweknya.

Dia nggak tau aja kali ya.

Semoga cepet sadar.

Aku kenal dia dari kelas 10, dulu nggak gini.

Yang terakhir itu yang paling lama kupikirkan.

Dulu nggak gini.

Bukan tuduhan. Tidak ada yang bisa kulaporkan. Tidak ada satu kata pun yang bisa kutunjuk dan kubilang ini kasar.

Cuma kalimat-kalimat yang menyiratkan bahwa ada versi diriku yang lebih baik dan versi itu sudah hilang, dan bahwa semua orang tahu penyebabnya.


Aku menghapus aplikasinya hari Rabu minggu kedua.

Aku memasangnya lagi hari Kamis.

Aku menghapusnya lagi hari Sabtu.

Dan hari Minggu aku sadar aku bisa membukanya lewat browser tanpa perlu memasang apa pun, dan sejak itu aku berhenti berpura-pura.


Aku tidak bilang ke siapa-siapa.

Alasannya berlapis, dan aku sudah memikirkan semuanya, dan semuanya masuk akal waktu itu.

Alasan pertama: kalau aku bilang ke Callys, Callys akan mengamuk. Dan kalau Callys mengamuk, dia akan mencari orangnya, dan aku belum tahu siapa orangnya, dan aku tidak mau dia mencari sebelum aku tahu.

Alasan kedua: kalau aku bilang ke Kenzo, seisi sekolah akan tahu dalam dua hari.

Alasan ketiga: kalau aku bilang ke Dira, Dira tidak akan melakukan apa-apa kecuali bertanya satu pertanyaan yang tepat, dan aku belum siap dengan pertanyaan yang tepat.

Alasan keempat, yang sebenarnya cuma satu alasan yang kubagi jadi empat supaya kelihatan lebih banyak:

Kalau Arga tahu, dia akan pergi.

Bukan marah. Bukan mencari orangnya.

Pergi.

Aku sudah punya cukup data tentang orang ini untuk tahu persis apa yang akan dia lakukan. Aku sudah punya empat bulan, dua puluh tiga hari yang dia hitung, tiga orang sebelum aku, dan satu kalimat yang dia ucapkan di tangga belakang waktu dia mengira aku tidak akan mengerti:

Aku nggak tau caranya deket sama orang tanpa ngerusak orangnya.

Kalau dia melihat satu saja dari komentar itu, dia akan menganggapnya bukti.

Dan dia sudah punya terlalu banyak bukti.


Jadi aku melakukan hal-hal kecil.

Aku berhenti membuka ponsel di kelas.

Aku mengganti rute pulang — bukan karena ada yang mengikuti, tapi karena rute lama lewat depan gedung timur dan gedung timur adalah tempat orang berkumpul jam pulang.

Aku berhenti memakai jepit rambut merah yang biasa kupakai, karena ada satu komentar yang menyebutkannya, dan karena aku tidak suka gagasan bahwa ada orang yang cukup memperhatikan untuk menyebutkannya.

Aku mulai menghapus notifikasi sebelum layarnya menyala penuh. Aku jadi sangat cepat. Aku bisa menghapus notifikasi dalam waktu kurang dari satu detik, sebelum otakku sempat membaca kalimatnya, dan aku bangga pada kemampuan itu selama sekitar dua minggu sampai aku sadar betapa mengerikannya punya kemampuan itu.

Dan aku mulai berbohong.

Bukan bohong besar. Bohong-bohong kecil yang tidak ada isinya.

“Sha, kamu kenapa?” “Ngantuk.”

“Kamu nggak makan?” “Udah tadi.”

“Kamu kok jalan lewat sini?” “Iseng.”

Aku tidak menghitung berapa kali. Itu satu-satunya hal yang tidak kuhitung selama periode itu, dan aku pikir itu disengaja.


Dira memergokiku hari Rabu minggu ketiga.

Aku sedang di koridor lantai dua, sendirian, dengan ponsel di tangan, dan aku tidak mendengar dia datang.

“Sha.”

Aku mematikan layarku terlalu cepat.

Itu kesalahannya. Kalau aku mematikannya dengan wajar, dia tidak akan sadar.

Dira berhenti sekitar dua meter dariku.

Dia tidak bertanya apa yang kubaca. Itu bukan gaya Dira.

Dia cuma berdiri di situ.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak apa-apa.”

“Dira.”

“Aku cuma mikir aja,” katanya.

Dan aku merasakan sesuatu dingin di tengkukku, karena aku sudah kenal kalimat pembuka itu selama empat bulan dan aku tahu persis apa yang biasanya datang setelahnya.

“Mikir apa?”

Dira memindahkan tasnya ke bahu satunya.

“Kamu mau denger?”

“Nggak.”

“Oke.”

Dan dia jalan.

Dia betul-betul jalan. Dia tidak memaksa, dia tidak mengulang, dia tidak melempar kalimat terakhir dari ujung koridor.

Dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia memaksa.

Aku berdiri di koridor itu selama dua puluh detik.

“Dira.”

Dia berhenti.

“Aku mau denger.”

Dan Nadhira Ayudia berbalik, jalan kembali dua meter, berdiri di depanku, dan berkata dengan suaranya yang selalu terlalu tenang untuk isi kalimatnya:

“Kamu tau nggak, Sha, kalau kamu lagi nyembunyiin sesuatu, kamu jadi mirip dia?”


Aku tidak menjawabnya hari itu.

Aku bilang aku telat rapat mading, yang mana bohong, dan aku jalan ke ruang mading yang kosong dan duduk di situ selama empat puluh menit tanpa melakukan apa pun.

Tapi kalimat itu menempel.

Kamu jadi mirip dia.

Dan yang paling tidak enak: aku tidak bisa membantahnya, karena aku tahu persis bentuknya.

Menyembunyikan sesuatu supaya orang lain tidak perlu memikirkannya. Memutuskan sendiri apa yang aman untuk orang lain tahu. Berbohong kecil-kecil, tiap hari, dengan sangat sopan, dengan niat yang sangat baik.

Aku sudah marah pada orang lain karena melakukan itu.

Aku sudah berdiri di tangga belakang dan berteriak padanya karena melakukan itu.

Kamu mutusin apa yang aman buat aku, tanpa nanya aku.

Itu sama aja kayak mereka.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan di ruang mading yang kosong dan aku duduk seperti itu cukup lama.


Callys hampir memergokiku hari Jumat.

Kami di kantin. Ponselku bergetar di meja, layarnya menyala, dan aku membaliknya dengan kecepatan yang tidak wajar.

Callys mengangkat alis.

“Siapa?”

“Ibu.”

“Ibu kamu nggak pernah WA jam istirahat.”

“Sekarang pernah.”

“Sha.”

“Callys, aku laper.”

Dan aku mengalihkan pembicaraan ke soal ulangan Kimia, dan dia mengikutinya, dan aku pikir aku selamat.

Aku baru tahu aku tidak selamat tiga minggu kemudian.

Callys tidak menanyakannya lagi hari itu. Tapi malam itu dia mengirim satu pesan, jam sebelas lewat, dan aku membacanya dan tidak membalas.

sha kalau ada apa2 kamu bilang ya

Dan di bawahnya, lima menit kemudian:

aku nggak akan langsung marah kok

Dan di bawahnya lagi, tujuh menit kemudian:

ya mungkin marah dikit

Dan yang terakhir, jam dua belas kurang:

tapi aku bakal dengerin dulu.

Aku menatap empat pesan itu.

Aku mengetik: Aku nggak apa-apa.

Aku menghapusnya.

Aku mengetik: Nanti aku cerita.

Aku menghapusnya.

Aku mengirim emoji jempol dan menaruh ponselku di laci.


Dan Arga.

Aku sudah menunda bagian ini.

Arga tidak curiga.

Aku ingin menuliskannya begitu, karena begitu yang kupikirkan selama enam minggu.

Yang sebenarnya terjadi lebih pelan dan lebih menyakitkan, dan aku baru bisa menyusunnya belakangan.

Minggu pertama: dia tidak melakukan apa-apa.

Minggu kedua: dia mulai menungguku di gerbang.

Dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Selama ini aku yang menunggunya, sejak hari pertama kami jadian, karena dia datang lebih pagi.

Minggu kedua, dia mulai berdiri di gerbang sampai aku datang.

Aku menanyakannya. Dia bilang portalnya sudah dibetulkan jadi dia tidak perlu buru-buru.

Portalnya belum dibetulkan. Aku memeriksanya hari Kamis.

Minggu ketiga: rute pulangku berubah, dan tiga hari kemudian aku sadar dia berubah juga.

Dia tidak bertanya kenapa aku lewat jalur yang menambah tujuh menit. Dia cuma ikut.

Minggu keempat: dia berhenti melepasku di perempatan dua ratus meter sebelum rumahku.

Dia mengantarku sampai depan pagar.

Aku ingat memprotes. Aku ingat bilang “kamu takut ketemu Ibu aku,” dan aku ingat dia bilang “iya” — dan tetap mengayuh sampai depan pagar.

Minggu kelima, hari Selasa, aku menemukan sesuatu.

Aku mencari ponselku di tasnya — dia sering menaruh barangku di tas dia karena tasku penuh — dan aku membuka saku depan.

Ada tiga hal di situ.

Satu bungkus bakwan yang dilipat empat, sudah kusam.

Satu permen dari Callys, belum dibuka, sudah setengah meleleh dan menempel ke bungkusnya.

Dan satu kertas.

Kertas itu bukan dari Reyhan. Kertas dari Reyhan sudah lama tidak di situ.

Ini kertas baru. Sobekan buku tulis, dilipat empat, dan waktu aku membukanya — dan aku tahu aku tidak seharusnya membukanya, dan aku tetap membukanya — isinya bukan tulisan.

Isinya daftar.

Tulisan tangannya. Rapi seperti biasa.

Sepuluh baris. Semuanya nama.

Aku mengenali empat di antaranya sebagai anak kelas kami. Dua anak kelas dua belas. Sisanya aku tidak tahu.

Dan di sebelah tiap nama, ada tanggal.

Aku menatap kertas itu selama mungkin satu menit penuh sebelum aku mengerti apa yang sedang kulihat.

Itu bukan daftar orang yang dia benci.

Itu daftar orang yang berkomentar.


Dia menemukanku memegangnya.

Aku tidak sempat memasukkannya kembali. Aku bahkan tidak mencoba.

Dia berdiri di ambang pintu kelas dengan dua gelas es teh, dan dia melihat kertas itu di tanganku, dan seluruh wajahnya berubah.

Bukan marah.

Panik.

“Alesha—”

“Ini apa?”

“Balikin.”

“Ga.”

“Alesha, balikin.”

Dan dia menyeberangi kelas — kelas kosong, jam istirahat, cuma kami berdua — dan mengambil kertas itu dari tanganku, dan melipatnya, dan memasukkannya ke saku celananya, bukan ke tas.

Tangannya gemetar.

Aku belum pernah melihat tangannya gemetar.

“Kamu tau,” kataku.

“Nggak.”

“Ga.”

“Aku nggak tau apa-apa.”

“KAMU PUNYA DAFTARNYA.”

Dan dia berhenti.

Dia berdiri di tengah kelas sebelas tiga dengan dua gelas es teh di satu tangan dan sepuluh nama di sakunya, dan dia tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Sejak kapan?” tanyaku.

“Alesha—”

“SEJAK KAPAN, GA?”

Dia menaruh es tehnya di meja terdekat.

“Minggu kedua,” katanya.

Enam minggu.

Enam minggu dia tahu.

Enam minggu dia menungguku di gerbang, mengubah rute pulangnya, mengantarku sampai depan pagar, dan tidak mengatakan satu kata pun.

Persis seperti aku.

“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyaku.

Dan dia menjawab, dan jawabannya adalah kalimat yang paling ingin dan paling tidak ingin kudengar dalam hidupku:

“Kenapa kamu nggak bilang?”


Kami berdiri di kelas kosong itu selama beberapa detik.

Dan lalu aku menangis, dan aku benci itu, karena aku ingin marah dan aku tidak bisa marah pada orang yang melakukan persis hal yang sama denganku.

Dia tidak menghampiriku.

Dia berdiri di tempatnya, tiga meter, dan menunggu.

“Aku takut kamu pergi,” kataku.

“Aku tau.”

“Kalau kamu tau, kenapa—”

“Karena aku emang mau pergi.”

Aku mengangkat wajahku.

Dia menatap lantai.

“Minggu kedua,” katanya. “Aku udah nyusun kalimatnya. Aku udah mikirin cara ngomongnya. Aku udah mikirin kamu bakal duduk di mana kalau aku pindah.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Terus?”

“Terus aku nggak jadi.”

“Kenapa?”

Dan Arganta Bhumi mengangkat wajahnya, dan dia berkata:

“Karena kamu nggak bilang apa-apa.”

Aku tidak mengerti selama satu detik.

“Kamu tau,” katanya. “Kamu tau dari minggu pertama, aku lihat kamu hapus notifikasi. Kamu tau, dan kamu tetep dateng, dan kamu tetep duduk, dan kamu tetep nggak bilang apa-apa.”

Dia mengambil es tehnya lagi.

“Kalau kamu bilang, aku bakal pergi,” katanya. “Karena itu artinya kamu minta tolong, dan cara aku nolongin orang cuma satu.”

Dia menaruh satu gelas di mejaku.

“Tapi kamu nggak minta tolong.”

Dan dia duduk di kursinya, dan menatap jendela, dan berkata dengan suara yang sangat pelan:

“Jadi aku nggak tau harus ngapain.”


Kami tidak menyelesaikannya hari itu.

Kami menyelesaikan sebagiannya, yang ternyata bukan hal yang sama.

Aku bilang aku akan cerita mulai sekarang. Dia bilang dia juga.

Kami berdua berbohong, dan kami berdua tahu kami berbohong, dan tidak ada satu pun dari kami yang cukup berani untuk mengatakannya.

Yang berubah cuma satu hal, dan itu hal kecil.

Malam itu, jam sepuluh lewat, ponselku bergetar.

Alesha.

Iya?

Kalau ada notifikasi lagi, screenshot terus kirim ke aku.

Aku menatap layar itu.

Kenapa?

Dan balasannya datang, dan aku membacanya sampai hafal.

Biar bukan cuma kamu yang nyimpen.


Aku mengirimkannya mulai malam itu.

Dan dia tidak pernah membalas satu pun dari screenshot itu — tidak ada “sabar ya”, tidak ada “jangan dipikirin”, tidak ada apa pun.

Dia cuma membacanya.

Dan tiap kali, tanpa gagal, dalam waktu kurang dari satu menit, dia mengirim satu pesan yang sama sekali tidak berhubungan.

Ibu bikin bolu pandan hari ini.

Portalnya masih macet.

Kucing di toko balik lagi.

Besok aku bawain yang cokelat.

Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu sampai berminggu-minggu kemudian, waktu Kenzo menceritakan sesuatu tentang sembilan belas hari dan kotak kue yang ditaruh di teras tanpa pernah diketuk pintunya.

Dia tidak sedang menghibur.

Dia sedang duduk di teras.