← Bangku Sebelah

Chapter Forty

Bab 40: Kotak dengan Nama

POV: Arga


Toko buka jam tujuh.

Itu tidak berubah. Tidak ada yang berubah soal jam tujuh, atau soal adonan yang harus diuleni jam empat, atau soal Ibu yang selalu sudah di dapur waktu aku turun.

Yang berubah cuma satu hal, dan butuh delapan bulan.

Aku di depan.


Aku tidak melakukannya sekaligus.

Aku ingin mencatat itu, karena aku pernah membaca cerita di mana orang berubah dalam satu adegan dan aku tidak percaya cerita seperti itu.

Minggu pertama: dua jam sehari, jam dua sampai jam empat, waktu paling sepi.

Minggu ketiga: tiga jam.

Bulan kedua: Ibu berhenti menghitung, dan aku juga.

Aku masih menghitung pembeli. Aku tidak bisa berhenti menghitung pembeli — itu sudah terlalu lama jadi bagian dari cara kepalaku bekerja.

Yang berubah: aku berhenti menghitungnya sebagai kerugian.


Angkanya turun.

Aku akan jujur soal itu karena aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak berbohong soal angka.

Bulan pertama, rata-rata harian turun sebelas persen.

Bulan kedua, turun empat persen dari angka normal.

Bulan ketiga, kembali.

Bulan keempat, naik.

Aku tidak tahu kenapa naik. Aku menanyakannya ke Ibu dan Ibu bilang “ya mungkin kuenya enak,” yang mana adalah jawaban yang tidak berguna.

Aku menanyakannya ke Alesha dan dia bilang:

“Karena orang balik lagi.”

“Maksudnya?”

Dan dia berkata:

“Ga, orang yang nggak jadi masuk itu nggak bilang ke siapa-siapa. Tapi orang yang masuk terus dilayanin sopan banget sampai canggung, itu mereka cerita.”

Aku memikirkan itu selama tiga hari.


Ada satu hal lagi yang perlu kucatat soal front toko.

Aku tidak bisa berhenti membungkuk.

Itu refleks yang tidak bisa kuhilangkan — waktu menyerahkan kantong, badanku otomatis turun sedikit, dan itu membuat wajahku lebih dekat, dan orang mundur setengah langkah.

Aku sudah mencoba berhenti selama dua bulan.

Alesha yang menyelesaikannya.

Dia datang hari Sabtu, berdiri di depan etalase selama satu jam menonton, dan lalu berkata:

“Kamu bukan mundurin badan.”

“Terus?”

“Kamu majuin muka.”

Dia mengambil kantong dari tanganku.

“Coba tangannya aja yang maju. Badannya diem.”

Dan aku mencobanya, dan itu berhasil, dan aku menatapnya cukup lama sampai dia harus berbalik.

“Apa?” katanya.

“Kamu ngitung?”

“Aku ngitung semuanya.”

“Berapa lama kamu perhatiin?”

Dan Alesha Naraya berkata:

“Dua bulan.”


Kelas dua belas dimulai bulan Juli.

Kami tetap sekelas, karena penjurusan tidak berubah, dan karena Bu Retno yang menyusun denah kelas dan Bu Retno tidak memindahkan siapa pun.

Sudut kanan belakang. Lima meja digabung. Enam kursi.

Kursi ketujuh ditambahkan bulan Agustus untuk Rani, yang bergabung dengan cara paling khas Rani: dia menyeret mejanya, tidak minta izin, dan berkata “aku nggak nanya, ya” ke arah tidak seorang pun.

Kursi kedelapan bulan Oktober untuk Fajar.

Dan di bulan November, Bu Retno berhenti mencoba mengatur denah tempat duduk kelas dua belas tiga, karena separuh kelas sudah pindah ke belakang dan tidak ada satu pun yang mau kembali ke depan.


Yang perlu kucatat soal kelas dua belas:

Kenzo naik sepuluh peringkat karena Callysta mengancam akan berhenti berbicara dengannya kalau nilainya di bawah tujuh. Ancaman itu bertahan sebelas hari dan berhasil.

Jovan diterima di jalur undangan bulan Februari dan tidak memberitahu siapa pun selama enam hari sampai Dira keceplosan di kantin.

Dira bergabung dengan ekskul jurnalistik, yang mana mengejutkan semua orang termasuk Alesha, dan menjadi editor tahun berikutnya.

Callysta menelepon Puspa satu kali sebulan sampai lulus. Aku tahu karena Alesha bilang. Aku tidak pernah bertanya isinya.

Reyhan naik ke kelas sebelas dan mulai membawa kotak makannya sendiri dan berhenti dipalak, walaupun tidak ada satu pun dari kami yang tahu persis kapan itu berhenti.

Tio masuk ekskul otomotif.

Dan aku masuk ruang BK dua kali seminggu selama satu semester, dan di bulan keempat Bu Retno berhenti membuka mapku, dan kami menghabiskan sebagian besar sesi itu membicarakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pembinaan.

Di sesi terakhir beliau bertanya:

“Ga, kamu masih nyimpen yang jelek di ruangan kecil?”

Dan aku bilang:

“Ruangannya masih ada, Bu.”

“Terus?”

Dan aku berkata:

“Tapi udah nggak penuh.”


Ada satu percakapan yang perlu kucatat, dan itu terjadi di bulan September kelas dua belas.

Ibu Alesha datang ke toko.

Sendirian. Sore hari. Tanpa memberitahu siapa pun, termasuk Alesha.

Aku sedang di front.

Bel pintu berbunyi dua nada dan aku mengangkat kepala dan aku melihat Bu Renata berdiri di ambang pintu dengan tas kerja masih di bahu, dan aku merasakan seluruh tubuhku bersiap untuk sesuatu.

“Selamat sore, Bu.”

“Sore.”

Dan beliau berdiri di depan etalase selama beberapa detik tanpa mengatakan apa-apa.

Lalu beliau berkata:

“Kamu di depan sekarang.”

“Iya, Bu.”

“Sejak kapan?”

“Bulan Mei.”

Dan Bu Renata mengangguk.

Dan beliau membeli enam potong kue, dan membayar, dan menunggu kembaliannya, dan berdiri di situ.

Dan lalu beliau berkata:

“Arganta.”

“Iya, Bu.”

“Saya pernah bilang saya bakal minta maaf ke anak saya suatu hari.”

Aku menaruh kantongnya.

“Iya, Bu.”

Dan Bu Renata berkata:

“Saya udah.”


Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Bulan lalu,” lanjut beliau. “Dan dia bilang nggak apa-apa, yang mana bukan jawaban yang saya mau.”

Beliau mengambil kantongnya.

“Jadi saya mau ngomong ke kamu juga.”

“Bu—”

“Saya nggak minta maaf soal isinya,” kata beliau. “Semua yang saya bilang malam itu bener, dan saya masih berpikir gitu.”

Beliau menatapku.

“Saya minta maaf soal caranya.”

Dan Bu Renata — notaris, yang setiap kalimatnya disusun sebelum diucapkan — berkata:

“Saya datang ke rumah kamu dan saya jelasin konsekuensi ke anak umur tujuh belas tahun sambil tau persis dia bakal ngambil kesimpulan apa.”

Beliau memegang tali tasnya.

“Itu bukan ngasih informasi. Itu nyuruh, tapi saya bikin kelihatan kayak ngasih pilihan.”


Aku memegang pinggiran meja kasir.

“Bu.”

“Iya?”

Dan aku berkata:

“Saya bakal ngelakuin hal yang sama, Bu.”

Beliau mengangkat alis.

“Waktu itu,” lanjutku. “Kalau saya di posisi Ibu.”

Dan Bu Renata berkata:

“Saya tau.”

Beliau berjalan ke pintu.

Dan di ambang pintu, beliau berhenti, dan berkata satu hal terakhir yang aku pikirkan berkali-kali sesudahnya:

“Itu yang bikin saya khawatir sama kamu, Nak.”

Bel pintu berbunyi dua nada.


Kami lulus bulan Mei.

Aku tidak akan menuliskan upacara kelulusan, karena tidak ada yang menarik tentang upacara kelulusan.

Yang akan kutuliskan: apa yang terjadi sesudahnya.


Alesha diterima di universitas negeri dengan jalur rekomendasi sekolah.

Bu Retno yang mengurus berkasnya. Kepala sekolah yang menandatanganinya. Dan di hari berkasnya dikirim, Bu Retno memanggil Alesha ke ruang BK dan menunjukkan satu lembar yang tidak wajib ditunjukkan ke siapa pun.

Kolom catatan tambahan.

Kosong.

“Ibu bisa nulis sesuatu di situ,” kata Bu Retno.

“Nulis apa, Bu?”

Dan Bu Retno bilang:

“Ibu mau nulis bahwa kamu bersaksi buat orang yang nggak ada yang mau bersaksi buatnya.”

Alesha menceritakan ini padaku sambil menangis di boncengan sepeda, yang mana sangat berbahaya, dan aku harus berhenti di pinggir jalan.

“Terus Ibu nulis?” tanyaku.

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dan Alesha berkata:

“Karena aku bilang jangan.”

Dia menyeka matanya.

“Aku bilang, ‘Bu, itu bukan prestasi. Itu harusnya biasa.’”


Aku tidak kuliah tahun itu.

Aku ingin mencatat itu tanpa membuatnya terdengar sedih, karena tidak sedih.

Toko butuh orang. Ayah sudah lima puluh dua. Dan aku sudah menghitung — aku menghitung semuanya — dan angkanya tidak cukup untuk dua hal sekaligus tahun itu.

Jadi aku bekerja satu tahun.

Dan aku mengambil kelas malam di tahun kedua, jurusan manajemen, di kampus swasta yang dua puluh menit naik sepeda dari toko.

Alesha marah selama tiga minggu waktu aku memberitahunya.

Bukan marah karena aku tidak kuliah. Marah karena aku memutuskan sendiri dan memberitahunya setelah semuanya diputuskan.

“KAMU NGELAKUIN LAGI.”

“Sha—”

“KAMU MUTUSIN SENDIRI TERUS KAMU KASIH TAU AKU BELAKANGAN.”

“Ini soal uang, Alesha.”

“AKU NGGAK PEDULI ITU SOAL APA.”

Dan dia benar, dan aku minta maaf, dan aku minta maaf lagi tiga hari kemudian karena permintaan maaf yang pertama menurutnya “kayak orang ngaku kalah, bukan orang yang ngerti.”

Dan sejak itu aku memberitahunya dulu.

Setiap kali.

Aku masih harus mengingatkan diriku sendiri sampai sekarang. Refleksnya tidak hilang. Yang berubah cuma jaraknya — dulu aku sadar dua bulan kemudian, sekarang aku sadar sebelum aku selesai memutuskan.


Ical berumur sebelas tahun sekarang.

Dia masih di panti. Dia sudah bicara dengan semua orang selama tiga tahun terakhir dan tidak ada yang ingat kapan itu mulai.

Dia yang mengurus antaran Jumat sekarang — dia yang membagikan kotaknya, dia yang menghitungnya, dia yang memarahi anak-anak yang mengambil dua.

Dan Jumat sore itu, tiga tahun setelah semuanya, dia menghampiriku di halaman dan menyerahkan sesuatu.

Kotak putih kecil.

Kotak dari toko kami. Kotak yang aku sendiri yang melipat tutupnya pagi itu.

“Ini apa?”

“Buat Kak Gagah.”

“Ini punya aku, Cal.”

“Bukan.”

Dan aku membalik kotak itu.


Di bagian atasnya, dengan spidol, dengan tulisan tangan anak-anak — beberapa huruf terbalik, ukurannya tidak sama, garisnya miring ke atas di ujung —

ada tulisan.

KAK GAGAH

Dan di bawahnya, lebih kecil, dengan tulisan yang berbeda:

makasih ya

Dan di bawahnya lagi, tulisan yang lain lagi:

jangan lupa dateng

Dan tujuh nama.


Aku memegang kotak itu di halaman panti asuhan jam enam sore.

“Cal.”

“Iya?”

“Ini siapa yang nulis?”

“Semua.”

“Semua?”

“Iya. Aku yang atur.” Dia mengangkat bahunya. “Puti nulisnya paling gede terus nggak muat, jadi dia nulis di samping.”

Aku membalik kotak itu ke samping.

Ada satu nama lagi di situ, dengan huruf sebesar dua sentimeter, dengan huruf T terbalik.

PUTI


“Kak Gagah kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Kakak nangis?”

“Nggak.”

“Bohong.”

Dan aku duduk di teras panti asuhan memegang kotak kue dengan namaku di atasnya, dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Dua tahun tiga bulan sebelum hari itu, ditambah tiga tahun sesudahnya.

Ratusan kotak.

Dan tidak ada satu pun yang pernah ada namanya.

“Cal.”

“Iya?”

“Kenapa baru sekarang?”

Dan anak berumur sebelas tahun itu berkata:

“Kata Bu Nur Kakak nggak suka ditulisin.”

Dia menendang kerikil.

“Tapi aku bilang itu beda.”

“Beda gimana?”

Dan Ical berkata:

“Kalau Kakak yang nulis, itu Kakak ngasih. Kalau aku yang nulis, itu aku ngasih.”


Aku membawa kotak itu pulang.

Aku tidak membuka isinya. Aku tahu isinya — aku yang mengisinya pagi itu, cokelat dan keju, dipisah kertas roti, dengan satu lembar tisu di bawahnya.

Aku menaruhnya di rak dapur.

Dan aku masih menyimpannya sampai sekarang, kosong, di rak paling atas, dan Alesha sudah tiga kali menawarkan untuk membingkainya dan tiga kali aku bilang tidak usah.


Enam orang di satu meja.

Ini bagian terakhir yang mau kutulis.

Sabtu malam, di toko, setelah tutup. Meja panjang yang biasanya dipakai menyusun loyang, dibersihkan, dan dipakai makan.

Kenzo sudah datang jam lima dan sudah makan dua kali sebelum yang lain datang.

Callysta memarahinya soal itu selama enam menit.

Jovan datang jam tujuh dari kampus, masih membawa tas laptop, dan langsung ditanya Kenzo apakah dia sudah melamar Dira, dan Jovan bilang “belum” dan Kenzo bilang “LO UDAH TIGA TAHUN” dan Jovan bilang “iya.”

Dira datang jam setengah delapan dan tidak mengatakan apa-apa tentang percakapan itu, tapi aku melihat dia tersenyum ke arah gelasnya.

Ibu memasak terlalu banyak, seperti selalu.

Ayah duduk selama dua puluh menit, tertawa dua kali, lalu bilang “saya tidur duluan” dan naik ke atas.

Dan Alesha duduk di sebelahku.

Di sebelah kiriku.

Karena itu sudah jadi kebiasaan yang tidak pernah kami bicarakan, dan karena aku sudah berhenti menoleh ke kanan waktu ada yang memanggil.


Jam sepuluh lewat, Kenzo bertanya sesuatu.

Dia sudah setengah tidur, bersandar ke lemari, dan dia bertanya dengan mata setengah tertutup:

“Ga.”

“Hm?”

“Lo inget nggak lo pernah bilang croissant?”

Meja itu berhenti.

“Zo,” kata Alesha.

“Gue serius. Gue kepikiran dari tadi.”

“Kenzo—”

“Gue mau tau kenapa croissant.”

Dan Callysta berkata:

“Aku juga mau tau.”

Dan Dira berkata:

“Aku juga.”

Dan Jovan, tanpa mengangkat kepalanya dari piringnya, berkata:

“Aku udah tau.”

“LO UDAH TAU?”

“Dia cerita kelas sepuluh.”

“KAPAN—”

“Bukan soal croissant.” Jovan menaikkan kacamatanya. “Soal kenapa nama kue.”


Semua orang menoleh ke arahku.

Dan aku duduk di meja panjang di dapur toko orang tuaku, dengan lima orang yang sudah kukenal antara tiga sampai delapan tahun, dan aku memikirkan bahwa tiga tahun lalu aku tidak akan bisa menjelaskan ini ke siapa pun.

“Kalau aku panik,” kataku, “aku nggak bisa mikir.”

“Terus?”

“Terus yang keluar apa yang paling deket.”

Aku mengangkat bahuku.

“Dan yang paling deket selalu isi etalase.”

Hening.

Lalu Kenzo membuka matanya penuh.

“Jadi selama ini lo panik—”

“Iya.”

“—terus otak lo langsung ke toko?”

“Iya.”

Dan Kenzo Radiktya duduk tegak dan menunjuk ke arahku dan berkata, dengan suara yang membangunkan seluruh ruangan:

“ITU MANIS BANGET DAN GUE BENCI LO.”


Alesha tertawa sampai dia harus menaruh kepalanya di bahuku.

Dua detik.

Bahuku sudah turun.

Dan dia tidak berkomentar soal itu, karena dia sudah berhenti berkomentar soal itu sejak lama, karena kadang kamu harus membiarkan orang menang sedikit demi sedikit.

Dan lalu, dari bahuku, dia berkata:

“Ga.”

“Hm?”

“Aku laper.”

“Kamu baru makan.”

“Aku mau yang cokelat.”

“Habis.”

“Ga.”

“Alesha, habis beneran.”

Dan dia mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahku dari jarak dua puluh sentimeter, dan menarik ujung apronku dua kali, dan berkata:

“Sekaraaang.”


Dan aku menatapnya.

Dan aku merasakan seluruh tubuhku panik dengan cara yang sudah tujuh tahun tidak berubah dan mungkin tidak akan pernah berubah.

Dan aku berkata:

“Éclair.”


Alesha berhenti.

Meja itu berhenti.

Dan dia menoleh ke arahku dengan mata yang melebar, dan aku melihat momen persisnya — momen ketika dia sadar aku melakukannya dengan sengaja.

“Ga.”

“Hm?”

“Kamu—”

“Aku nggak ngomong apa-apa.”

“KAMU BILANG ÉCLAIR.”

“Nggak.”

“ARGANTA BHUMI.”

Dan aku berdiri dan berjalan ke rak dan mengambil kotak yang sudah kusiapkan sejak sore — dua potong, cokelat dan keju, dipisah kertas roti, dengan satu lembar tisu dilipat di bawahnya —

dan menaruhnya di depannya.

Dan di bagian dalam tutupnya, dengan tulisan tangan yang rapi dan tegak dan tanpa satu pun coretan, ada dua kata.

Buat Alesha.


Kenzo berteriak.

Callysta memukul meja.

Dira menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Jovan melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung hoodie, memakainya lagi, dan berkata satu kata:

“Akhirnya.”

Dan Alesha Naraya memegang kotak itu dengan dua tangan dan menatapnya cukup lama, dan aku tahu dia sedang melihat lipatan tutupnya — ujung kanan yang selalu masuk lebih dalam dari ujung kiri, karena tanganku terlalu besar untuk kotak sekecil itu.

Dan dia berkata, tanpa mengangkat kepalanya:

“Ga.”

“Hm?”

“Aku cinta kamu.”

Dan aku berkata:

“Aku juga.”

Tanpa terputus.

Tanpa hitungan mundur.

Di hari Sabtu biasa, jam sepuluh lewat, di dapur toko kue di Jalan Melati, dengan empat orang berisik di meja yang sama dan kipas exhaust yang berbunyi seperti orang batuk.


[TAMAT]