Chapter Thirty Four
Bab 34: Ibu
POV: Alesha
Ibu tahu hari Selasa.
Bukan dariku.
Itu bagian yang paling tidak bisa kumaafkan dari diriku sendiri, dan aku sudah memikirkannya berkali-kali dan aku masih tidak bisa.
Surat panggilan saksi dikirim ke rumah. Amplop cokelat. Ditujukan ke wali murid.
Aku pulang jam lima sore dan Ibu sudah di meja makan dengan amplop itu di depannya, sudah terbuka, sudah dibaca.
Dan beliau tidak marah.
Aku sudah menyiapkan diri untuk marah. Aku sudah menyusun pembelaan sepanjang perjalanan dari halte begitu aku melihat mobil beliau di garasi jam lima sore, yang mana tidak pernah terjadi.
Beliau tidak marah.
Beliau berkata:
“Duduk, Sha.”
Dan aku duduk.
Dan Ibu menaruh amplop itu di tengah meja, memutarnya ke arahku, dan berkata:
“Ceritain dari awal.”
Aku bercerita selama satu jam empat puluh menit.
Aku tahu durasinya karena Ibu meletakkan ponselnya di meja dengan layar menyala, dan aku bisa melihat jamnya, dan aku terus melihat jamnya karena aku tidak bisa melihat wajah beliau.
Aku menceritakan semuanya.
Bangku kosong. Payung biru pudar. Empat puluh tujuh postingan. Dua puluh menit dari jam 20.55 sampai 21.15. Tiga akun. DM soal rok biru. Rute pulang yang tiga kali kuganti. Halte ketiga.
Map biru. Jalur tiga meter. Foto-foto di ponsel. Pergelangan tangan. Sebelas menit di aspal.
Aku menceritakan bagian panti asuhan dan buku Bu Nur.
Aku menceritakan gang belakang stasiun dan delapan jahitan.
Aku menceritakan sembilan belas hari dan kotak kue yang ditaruh di teras tanpa pernah diketuk.
Aku menceritakan semuanya, dan Ibu tidak memotong sekali pun, dan waktu aku selesai beliau duduk di situ selama mungkin satu menit tanpa bicara.
Lalu beliau berkata:
“Kamu simpen sebelas minggu.”
“Bu—”
“Ibu nggak nanya kenapa.”
Dan beliau berdiri, dan mengambil gelas, dan menuang air, dan duduk lagi.
“Ibu mau nanya yang lain,” kata beliau.
“Iya, Bu.”
Dan Bu Renata bertanya:
“Kamu tau nggak apa yang bakal ditanyain komite ke kamu?”
“Mereka bakal nanya soal hari Jumat, Bu.”
“Nggak.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Mereka bakal nanya soal kamu,” kata Ibu. “Bukan soal hari Jumat.”
“Bu—”
“Sha.” Beliau menaruh gelasnya. “Ibu udah dua puluh tahun kerja di ruangan yang isinya orang saling nyalahin. Ibu tau bentuknya.”
Beliau menghitung dengan jari.
“Satu: mereka bakal nanya hubungan kamu sama dia. Bukan buat tau. Buat masukin ke berkas.”
“Aku bakal jawab jujur.”
“Dua: mereka bakal nanya berapa lama kamu simpen sendiri.”
Aku merasakan sesuatu dingin.
“Kenapa itu penting, Bu?”
Dan Ibu menatapku dan berkata:
“Karena kalau kamu simpen sebelas minggu, mereka bakal nanya kenapa.”
Aku tidak menjawab.
“Dan jawaban yang bener — bahwa kamu takut dia pergi — itu jawaban yang nggak bisa dipakai.” Ibu melipat tangannya. “Karena begitu kamu bilang itu, kamu ngasih tau mereka bahwa kamu tau dia bakal ngelakuin sesuatu.”
Aku membuka mulut.
“Sha,” kata Ibu. “Kamu ngerti nggak?”
Dan aku mengerti.
Aku mengerti dan aku ingin muntah.
Kalau aku bilang aku menyembunyikannya karena aku takut dia berkelahi, aku sedang bersaksi bahwa aku sudah memperkirakan dia akan berkelahi.
Aku adalah saksi paling meyakinkan yang mereka punya untuk membuktikan bahwa Arganta Bhumi adalah orang yang bisa diprediksi akan melakukan kekerasan.
“Tiga,” kata Ibu.
“Bu—”
“Tiga,” ulangnya. “Mereka bakal minta semua bukti kamu.”
“Aku punya semua, Bu. Aku punya folder—”
“Iya. Semua.” Ibu menatapku. “Termasuk yang tentang kamu.”
Aku pergi ke kamar setelah itu dan tidak keluar sampai jam sembilan.
Waktu aku keluar, Ibu masih di meja makan.
Beliau tidak memasak. Tidak ada makan malam. Beliau cuma duduk di situ dengan amplop cokelat dan ponsel dan gelas air yang sudah kosong.
“Bu.”
“Duduk.”
Aku duduk.
Dan Ibu berkata:
“Ibu mau ketemu dia.”
Aku tidak bisa menuliskan perjalanan ke Jalan Melati hari Rabu itu dengan benar.
Aku ingat mobilnya. Aku ingat Ibu menyetir dan tidak menyalakan radio. Aku ingat aku bilang “Bu, jangan hari ini” tiga kali dan beliau bilang “Ibu nggak akan lama” tiga kali.
Aku ingat berhenti di depan toko dan melihat tenda kain bergaris yang sudah pudar jadi merah muda pucat, dan menyadari bahwa aku sudah lewat sini ratusan kali sebelum aku pernah benar-benar melihatnya.
Dan aku ingat Ibu duduk di mobil selama sepuluh detik sebelum membuka pintu.
“Bu.”
“Hm?”
“Ibu mau ngomong apa?”
Dan Bu Renata melepas sabuk pengamannya dan berkata:
“Ibu mau lihat dulu.”
Bunda Ratih di depan.
Beliau mengangkat kepala waktu bel pintu berbunyi dua nada, dan melihatku, dan senyumnya sudah setengah jalan sebelum beliau melihat siapa yang di belakangku.
Dan senyum itu berubah.
Bukan hilang. Berubah — jadi lebih hati-hati, jadi lebih tegak.
“Selamat sore,” kata Ibu.
“Sore, Bu.”
“Saya ibunya Alesha.”
“Iya.” Bunda Ratih melepas apronnya. “Ibu Renata ya.”
Dan aku berdiri di antara dua perempuan itu dan aku merasakan sesuatu yang tidak bisa kunamai.
“Ibu tau nama saya?” tanya Ibu.
Dan Bunda Ratih berkata:
“Anak saya nyebutin.”
Kami duduk di ruang tengah lantai atas.
Ruangan yang sama. Sofa yang tidak dipakai siapa pun. Kipas angin berdiri yang berbunyi klik tiap kali sampai ujung.
Bunda Ratih membuat teh. Ibu bilang tidak usah. Bunda Ratih tetap membuat.
Pak Bhumi masuk, menyalami Ibu, duduk selama tiga menit, lalu berkata “saya ke depan dulu” dan keluar, dan aku tahu itu bukan karena beliau tidak peduli.
Itu karena beliau tahu ini bukan bagiannya.
Dan Arga duduk di lantai.
Bukan di sofa. Di lantai, dengan punggung ke dinding, di tempat yang sama tempat kami duduk malam itu waktu dia bercerita tentang delapan jahitan.
Dia tidak bicara selama dua puluh menit pertama.
Ibu tidak berteriak.
Aku ingin menuliskan itu di depan, karena kalau tidak, seluruh bab ini akan salah dibaca.
Ibu tidak berteriak, tidak menuduh, tidak menaikkan suaranya satu oktaf pun.
Beliau memulai dengan berterima kasih.
“Saya mau bilang makasih dulu,” kata Ibu.
Bunda Ratih menoleh.
“Anak saya cerita banyak,” lanjut Ibu. “Termasuk soal panti asuhan. Termasuk soal gerobak gorengan. Termasuk soal anak kelas sepuluh yang bannya bocor.”
Bunda Ratih melihat ke arah lantai, ke arah anaknya.
“Ibu tau soal itu?” tanya Bunda Ratih.
“Baru semalam.”
Dan Bunda Ratih berkata, pelan:
“Saya juga nggak tau semuanya.”
“Saya mau ngomong terus terang,” kata Ibu.
“Silakan, Bu.”
Dan Bu Renata menaruh cangkirnya, dan melipat tangannya di pangkuan, dan berkata:
“Anak saya dipanggil jadi saksi.”
“Iya, Bu.”
“Saya udah baca surat panggilannya. Saya udah nanya ke beberapa orang.”
Beliau menoleh ke arah lantai.
“Arganta.”
Dan Arga mengangkat kepalanya.
“Iya, Bu.”
“Kamu tau nggak apa yang bakal terjadi ke anak saya di ruangan itu?”
Aku ingin menuliskan seluruh dua puluh menit berikutnya, tapi aku tidak bisa.
Aku akan menuliskan bagian yang penting.
Ibu menjelaskan tiga hal.
Yang pertama: setiap bukti yang kubawa akan masuk berkas. Termasuk empat puluh tujuh screenshot yang isinya tentang aku. Termasuk tiga akun. Termasuk DM yang isinya sudah kuceritakan ke beliau semalam.
Berkas itu akan dibaca komite. Komite itu ada tujuh orang. Dua di antaranya wali murid.
“Dan itu bukan rahasia, Nak,” kata Ibu. “Sekolah nggak akan nyebar. Tapi tujuh orang itu punya mulut, dan punya anak, dan anaknya sekolah di situ.”
Yang kedua: kesaksianku akan dipatahkan.
“Bukan karena bohong,” kata Ibu. “Karena kamu pacarnya.”
Beliau menoleh ke arahku.
“Sha, kamu udah pernah ditanya itu malam Jumat kemarin, kan?”
Aku mengangguk.
“Berapa detik setelah kamu selesai cerita?”
Dan aku bilang, dan suaraku hampir tidak keluar:
“Langsung, Bu.”
Yang ketiga, dan ini yang menghancurkan segalanya:
“Anak saya jalur prestasi,” kata Ibu. “Dia kandidat rekomendasi sekolah tahun depan. Itu bukan hal kecil buat kami.”
Bunda Ratih menunduk.
“Rekomendasi sekolah itu ditandatangani kepala sekolah,” lanjut Ibu. “Dan yang direkomendasikan bukan cuma nilainya.”
Beliau menoleh ke arah lantai lagi.
“Kamu ngerti maksud saya?”
Dan Arga berkata:
“Ngerti, Bu.”
Ini yang membuatku hancur.
Dia tidak membantah.
Dia tidak membantah satu kalimat pun.
Dan bukan karena dia tidak berani. Aku sudah delapan bulan mengenal orang ini dan aku tahu bentuk dia yang takut dan itu bukan ini.
Dia setuju.
Aku melihat wajahnya sepanjang dua puluh menit itu dan dia setuju dengan setiap kata, dan lebih buruk lagi — dia sudah tahu semuanya sebelum Ibu mengatakannya.
Dia sudah menghitungnya.
Entah kapan. Mungkin di dapur, jam empat pagi, di antara hari kesatu dan hari keempat belas.
“Bu,” kataku.
“Sha.”
“Bu, dia nggak—”
“Alesha.” Ibu menoleh. “Ibu belum bilang apa-apa soal dia.”
Dan itu benar.
Itu yang paling mengerikan dari seluruh sore itu.
Ibu tidak mengatakan satu pun hal buruk tentang Arga. Tidak sekali pun. Beliau bahkan berterima kasih di awal.
Beliau cuma menjelaskan konsekuensi, dengan tenang, dengan urutan yang benar, tanpa satu pun kesalahan logika.
Dan itu cukup.
“Bu Renata,” kata Bunda Ratih.
Semua orang menoleh.
Dan Bunda Ratih — yang sejak tadi cuma menuang teh dan mendengarkan — menaruh tekonya dan duduk tegak.
“Saya mau nanya satu hal,” kata beliau.
“Silakan.”
“Ibu mau anak saya ngapain?”
Ruangan itu jadi sunyi.
Dan Bu Renata — notaris, yang setiap kalimatnya disusun sebelum diucapkan, yang tidak pernah dalam hidupku mengucapkan sesuatu yang tidak beliau maksud —
diam.
Beliau diam selama mungkin delapan detik.
Lalu beliau berkata:
“Saya nggak tau, Bu.”
“Ibu nggak tau?”
“Saya nggak tau.” Ibu menaruh cangkirnya. “Saya bukan datang buat minta sesuatu. Saya datang buat ngasih tau.”
“Ngasih tau apa?”
Dan Ibu berkata:
“Ngasih tau bahwa ada harganya.”
Beliau menoleh ke arah lantai.
“Dan yang bayar bukan yang salah.”
Aku mengenali kalimat itu.
Aku mengenalinya dengan cara yang membuat seluruh kulit kepalaku dingin, karena aku sudah pernah mendengarnya, di meja makan rumahku, delapan bulan lalu, waktu aku bertanya pada Ibu tentang orang yang semua orang bilang jahat.
Yang namanya nama baik itu ada harganya. Kadang yang bayar bukan orang yang salah.
Aku mengangguk waktu itu. Aku bahkan bilang iya.
Aku tidak mengerti apa-apa waktu itu.
Ibu berdiri jam setengah tujuh.
Beliau menyalami Bunda Ratih. Beliau bilang terima kasih untuk tehnya. Beliau bilang maaf sudah mengganggu jam kerja.
Semuanya sopan. Semuanya benar. Semuanya persis seperti yang harus dilakukan orang dewasa.
Dan di ambang pintu, beliau berhenti.
“Arganta.”
Arga berdiri dari lantai.
“Iya, Bu.”
Dan Bu Renata menatapnya — dari bawah ke atas, karena beliau setinggi bahunya — dan berkata:
“Saya nggak benci kamu.”
“Iya, Bu.”
“Saya mau kamu tau itu.”
“Iya, Bu.”
Dan lalu Ibu berkata satu hal lagi, satu kalimat, dan itu kalimat yang membuat seluruh sisa cerita ini terjadi.
“Kalau kamu di posisi saya,” kata beliau, “kamu bakal ngomong apa ke anak saya?”
Arga tidak menjawab cepat.
Dia berdiri di ruang tengah itu, dengan kipas angin yang berbunyi klik, dan dia memikirkannya sungguh-sungguh.
Dan lalu dia berkata:
“Saya bakal ngomong hal yang sama, Bu.”
Ibu mengangguk sekali.
Dan beliau pergi.
Aku tidak ikut turun.
Aku bilang aku menyusul. Ibu bilang beliau tunggu di mobil.
Dan aku berdiri di ruang tengah itu dengan orang yang baru saja menyetujui seluruh alasan kenapa dia sebaiknya tidak ada di dekatku, dan aku tidak tahu harus mengatakan apa.
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu nggak boleh setuju.”
Dia tidak menjawab.
“Arganta.”
“Alesha—”
“Kamu nggak boleh setuju sama dia.” Suaraku naik. “Ibu aku salah.”
Dan dia mengangkat wajahnya dan bertanya:
“Yang mananya salah?”
Aku membuka mulut.
Dan aku berdiri di ruang tengah itu selama mungkin sepuluh detik mencari satu kalimat, satu bagian, satu kalimat dari dua puluh menit itu yang bisa kubantah.
Tidak ada.
Setiap kalimat benar.
Berkas akan dibaca tujuh orang. Kesaksianku akan dipatahkan. Rekomendasi ditandatangani kepala sekolah. Ada harganya. Yang bayar bukan yang salah.
Semuanya benar.
“Ga—”
“Alesha.”
“Jangan.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“AKU TAU KAMU MAU NGOMONG APA.”
Dan dia berdiri di situ, dan dia tidak membantah, dan dia tidak menjelaskan, dan dia tidak melakukan apa pun kecuali menatapku.
Dan lalu dia berkata:
“Turun. Ibu kamu nunggu.”
Aku turun.
Aku masuk mobil. Ibu menyalakan mesin.
Dan waktu kami sudah di ujung Jalan Melati, aku menoleh ke belakang lewat kaca spion.
Dia berdiri di depan toko.
Di bawah tenda kain bergaris yang sudah pudar jadi merah muda pucat.
Dan dia tidak melambaikan tangan.
“Sha.”
“Iya, Bu.”
“Kamu marah sama Ibu?”
Aku memandangi jalan.
“Nggak, Bu.”
Dan itu jujur, dan itu yang paling buruk.
Aku tidak marah.
Aku sudah menghabiskan delapan bulan marah pada orang-orang yang menilai seseorang dari wajahnya, dan sekarang ada orang yang tidak menilai apa pun dari wajahnya, yang bahkan berterima kasih, yang menyusun seluruh argumennya dari fakta yang benar —
dan aku tidak bisa marah.
Aku cuma bisa duduk di kursi penumpang sambil merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk dari marah.
“Bu.”
“Hm?”
“Ibu tau nggak Ibu barusan ngapain?”
Dan Bu Renata, dengan kedua tangan di setir, berkata:
“Ibu tau, Sha.”
Beliau berhenti di lampu merah.
“Ibu tau persis,” kata beliau, “dan Ibu bakal ngelakuin lagi.”
Lampu hijau.
“Dan Ibu bakal minta maaf ke kamu suatu hari nanti,” kata Ibu. “Tapi bukan hari ini.”
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu reading
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama