← Bangku Sebelah

Chapter Six

Bab 6: Galon dan Lengan Seragam

POV: Alesha


Postingan itu dapat seratus dua puluh tiga like dalam semalam.

Aku tahu angkanya karena aku mengeceknya empat kali sebelum berangkat sekolah, yang mana bodoh, dan aku tahu itu bodoh sambil melakukannya.

Yang tidak kuduga adalah efeknya di kelas.

Bukan orang jadi membicarakan aku. Itu sudah biasa dan aku sudah punya cara menghadapinya.

Yang terjadi lebih halus: orang jadi memperhatikan.

Aku bisa merasakannya sepanjang jam pertama. Kepala yang menoleh sedikit terlalu lama. Dua anak perempuan di baris tiga yang berbisik lalu menoleh lalu berbisik lagi. Seseorang yang, waktu lewat ke belakang untuk membuang sampah, memperlambat langkahnya melewati mejaku.

Sudut kanan belakang kelas sebelas tiga sudah tiga tahun jadi tempat yang dihindari orang.

Sekarang tempat itu jadi tontonan.

Aku sempat mengira aku melebih-lebihkan sampai jam ketiga, waktu seorang anak perempuan dari kelas sebelah — bukan kelasku, kelas sebelah — berdiri di depan pintu 11-3 selama hampir satu menit sambil pura-pura mencari seseorang.

Dia tidak masuk. Dia tidak memanggil siapa pun.

Dia cuma berdiri di ambang pintu, melihat ke arah sudut kanan belakang, lalu pergi.

Dan yang paling membuatku kesal: dia tahu.

Aku tahu dia tahu karena hari itu dia menggeser kursinya lagi. Dua sentimeter, seperti hari pertama. Dan sepanjang jam pertama sampai keempat, dia tidak menoleh ke kiri sekali pun — bukan gaya “tidak menoleh” yang biasa, tapi gaya yang aktif, yang butuh usaha, seperti orang yang sedang memaksa lehernya diam.

Waktu bel istirahat, dia berdiri dan pergi tanpa mengambil apa-apa dari tasnya.

Aku duduk sendiri di sudut kanan belakang, dan untuk pertama kalinya sejak Senin minggu lalu, aku merasa marah.

Bukan pada orang yang memotret.

Pada orang yang menggeser kursinya dua sentimeter dan mengira itu menolong.


Aku menemukannya di kantin, dan aku tidak akan menemukannya kalau aku tidak mencari.

Kantin sekolah ini bentuknya L. Bagian panjangnya penuh meja dan orang. Bagian pendeknya di belakang, tempat dapur, tempat galon, tempat kardus-kardus disusun, tempat yang orang lewati kalau mau ke toilet dan itu saja.

Dia di situ.

Berdiri di depan rak galon, mengangkat satu galon penuh ke rak atas dengan satu gerakan yang jelas sudah ratusan kali diulang.

Dan Mbak Yanti, penjaga kantin, berdiri di sebelahnya sambil menunjuk-nunjuk rak yang lain.

“Yang itu juga, A. Yang belakang.”

Dia mengangkat satu lagi.

“Aduh, jangan dua-dua. Nanti pinggangnya.”

“Nggak apa-apa, Mbak.”

“Nggak apa-apa nggak apa-apa. Nanti kalau encok baru tau rasa.”

Aku berdiri di ujung koridor kantin, di balik kardus-kardus yang ditumpuk, dan aku menonton seperti orang tidak sopan, dan aku tidak berhenti.

Karena ini pertama kalinya aku mendengar dia berbicara lebih dari lima kata berturut-turut.

“Yang di gudang perlu dipindah nggak, Mbak?”

“Perlu. Tapi nanti aja, kamu udah mau bel.”

“Masih lima belas menit.”

“Ya udah, kalau kamu mau.”

Dan dia masuk ke gudang.

Mbak Yanti berbalik, dan langsung melihatku.

Aku tertangkap basah dengan cara paling memalukan yang bisa dibayangkan — berdiri di belakang tumpukan kardus, tas masih di bahu, jelas-jelas sedang mengintip.

Mbak Yanti tidak kaget. Beliau cuma mengangkat alis.

“Mau beli, Neng?”

“...Es teh, Mbak.”

Beliau menuangkan es teh dengan gerakan yang sudah otomatis, dan sambil menuang, beliau bicara ke arah gelas.

“Dia nggak gigit, kok.”

Aku hampir menjatuhkan uangku.

“Mbak?”

“Yang barusan.” Beliau menyerahkan gelasnya. “Anak-anak semua kayak lihat setan kalau dia lewat. Padahal ya begitu itu orangnya.”

“Begitu gimana, Mbak?”

Mbak Yanti mengelap tangannya di celemek, dan menjawab dengan nada orang yang sedang menyampaikan informasi paling membosankan sedunia.

“Ya begitu. Angkat galon.”

“Sering?”

“Tiap hari.” Beliau menoleh ke arah gudang. “Dari kelas sepuluh.”

Aku memegang gelas es teh itu dan lupa untuk minum.

“Dua tahun, Mbak?”

“Ya kira-kira. Ibu nggak ngitung.” Beliau mulai menyusun gelas. “Dulu kan yang bantuin Pak Herman, tukang kebun. Terus beliau pensiun, terus ya udah, nggak ada yang bantu. Ibu angkat sendiri seminggu, terus pinggang Ibu sakit, terus—” Beliau berhenti, menghitung sesuatu di kepalanya. “Terus tiba-tiba ada yang angkatin.”

“Mbak minta tolong?”

“Nggak.” Mbak Yanti menoleh, dan untuk pertama kalinya wajahnya berubah sedikit — bukan haru, cuma bingung, seperti orang yang baru diminta menjelaskan sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan. “Nggak pernah minta. Dia dateng aja.”

“Terus Mbak bilang apa?”

“Ya makasih.”

“Terus dia bilang apa?”

Mbak Yanti berpikir.

“Nggak bilang apa-apa. Terus besoknya dateng lagi.”

Aku menaruh uangku di meja dan aku tidak ingat mengambil kembaliannya.

“Mbak.”

“Hm?”

“Mbak pernah cerita ini ke orang lain?”

Mbak Yanti menoleh, dan wajahnya menunjukkan kebingungan yang tulus.

“Ya nggak. Ngapain?”

“Nggak apa-apa.”

“Emang kenapa?”

“Nggak, Mbak.” Aku memaksakan senyum. “Nggak apa-apa.”

Dan beliau kembali menyusun gelas, dan aku berdiri di situ memegang es teh yang mulai berair, memikirkan satu hal yang tidak bisa kulepaskan sejak beliau mengucapkannya:

Beliau tidak menganggap ini cerita.

Selama dua tahun, ada orang yang melakukan hal yang sama tiap hari, dan orang yang paling diuntungkan olehnya menganggapnya sebiasa cuaca. Bukan karena beliau tidak peduli. Justru sebaliknya — karena bagi beliau, itu bukan hal luar biasa, itu cuma Arganta.

Tidak ada yang menceritakannya karena tidak ada yang menganggapnya cerita.

Dan sementara itu, ada akun dengan tiga ribu pengikut yang menceritakan hal lain tentang orang yang sama, dua puluh sembilan kali dalam tiga tahun, dengan sangat rapi dan sangat teratur.

Satu pihak bekerja keras.

Pihak yang lain bahkan tidak tahu sedang bertanding.


Dia keluar dari gudang membawa dua kardus, dan berhenti.

Aku masih berdiri di situ. Dengan es teh. Menatapnya.

Untuk sepersekian detik, wajahnya menunjukkan sesuatu yang belum pernah kulihat: dia ketahuan.

Bukan malu. Bukan takut. Ketahuan — seperti orang yang sedang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya orang lain tahu.

Dia menaruh kardus itu di rak. Dia mengelap tangannya ke celana.

Lalu dia jalan melewatiku, ke arah pintu kantin, tanpa satu kata.

Dan aku, karena aku sudah kesal sejak jam pertama, dan karena aku sudah menahan diri selama satu jam dua puluh menit, melakukan hal yang tidak kurencanakan.

Aku raih lengan seragamnya.

Bukan tangannya. Lengan seragamnya, bagian bawah, kain.

Dia berhenti seperti orang yang membentur dinding.

Dan yang terjadi berikutnya adalah tiga detik paling panjang dalam hidupku sampai saat itu.

Dia tidak menarik diri.

Aku menunggu dia menarik diri. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu — aku sudah menyusun kalimat untuk sesudahnya, kalimat yang ringan supaya kami berdua bisa pura-pura ini tidak terjadi.

Tapi dia berdiri di situ, dengan lengan seragam yang kupegang, dan dia tidak bergerak sama sekali.

Bahunya naik. Napasnya berhenti. Aku bisa lihat urat di lehernya.

Tapi dia tidak menarik diri.

“Jangan geser kursi kamu,” kataku.

“...Apa?”

“Tadi pagi. Kamu geser kursi kamu dua senti.”

Dia menoleh. Perlahan.

Dan wajahnya — aku tidak akan pernah bisa menjelaskan wajahnya dengan benar. Yang paling dekat: wajah orang yang baru saja diberi tahu bahwa ada yang memperhatikan hal yang dia kira tidak ada yang perhatikan seumur hidupnya.

“Kamu ngitung?”

“Aku ngitung semuanya. Itu masalah aku.”

“Alesha—”

“Kamu geser kursi karena foto itu.”

Dia diam.

“Iya kan?”

Diam.

“Arganta Bhumi.” Aku tidak melepaskan lengannya. “Kalau kamu geser kursi, orang bakal ngira aku ngerepotin kamu. Kalau aku yang geser, orang bakal ngira aku takut. Dua-duanya salah.”

“Terus maunya gimana?”

“Maunya kita duduk aja kayak biasa.”

“Kamu nggak—”

“Kalau kamu bilang ‘kamu nggak ngerti’ sekali lagi, aku sumpah aku bakal duduk di pangkuan kamu.”

Aku mengatakan itu.

Aku mengatakan itu keras-keras, di kantin, di belakang tumpukan kardus, sambil memegang lengan seragam orang yang seluruh sekolah takuti.

Ada jeda.

Lalu telinganya berubah warna dengan kecepatan yang menurutku secara medis tidak mungkin.

“Jangan,” katanya.

“Ya udah kalau gitu.”

“Jangan— ” Dia mengelap tangannya ke celana. Tiga kali. “Jangan ngomong gitu.”

“Kenapa?”

“Nggak boleh.”

“Siapa yang nggak bolehin?”

Dan dia membuka mulut, dan menutupnya, dan aku bisa lihat dengan sangat jelas bahwa dia sedang mencari jawaban dan tidak menemukan satu pun, karena jawabannya adalah aku, dan dia tidak bisa mengatakannya.

Aku lepaskan lengannya.

“Bel lima menit lagi,” kataku.

Dia mengangguk.

Kami jalan ke kelas.

Dan untuk pertama kalinya, dia tidak tiga langkah di belakang.

Dua.

Aku menghitungnya sepanjang koridor, dan aku tidak bilang apa-apa, karena kadang kamu harus membiarkan orang menang sedikit demi sedikit.


Sore itu Callys menyeretku ke belakang lapangan basket dan menunjukkan ponselnya lagi.

Bukan screenshot lama kali ini.

Kolom komentar postingan semalam.

siapa tuh ceweknya

11-3 kayaknya

serius dia mau duduk sebelah situ??

kasian sih. mungkin disuruh

jangan sok tau, mungkin emang mau

mau apaan, ada yg mau??

eh gue kenal, itu alesha 11-1 yg pindah

OH DIA. yaudah paham. cari sensasi

Dan di bawahnya, satu komentar dengan tiga puluh dua like:

tenang aja, paling seminggu juga pindah kayak yang lain

Callys tidak bicara sampai aku selesai membaca.

“Aku nggak nunjukin ini buat nakut-nakutin kamu,” katanya akhirnya.

“Terus buat apa?”

“Buat kamu tau.” Dia mengambil ponselnya kembali. “Kamu selalu bilang mau ngumpulin bukti sendiri, Sha. Ya udah. Ini bukti juga. Bukan bukti tentang dia. Bukti tentang mereka.”

Aku menatap layar yang sudah mati di tangannya.

“Callys.”

“Hm.”

“Yang komen tiga puluh dua like itu.”

“Kenapa?”

“‘Paling seminggu juga pindah kayak yang lain.’” Aku menoleh. “Berarti sebelum aku, ada yang pernah.”

Callys mengerjap.

“Ya— iya. Anak kelas sepuluh itu, yang aku ceritain.”

“Bukan cuma satu.”

“Maksudnya?”

“‘Yang lain,’” kataku. “Jamak.”

Kami berdua diam.

Di lapangan, ada yang berteriak minta bola.

“Aku tanya Dira,” kata Callys akhirnya, pelan. “Dia inget lebih banyak dari aku.”


Aku menemui Dira sendirian sepulang sekolah, di depan ruang musik, karena Dira selalu di situ hari Kamis.

Dia tidak kaget aku datang.

“Callys udah cerita?” tanyaku.

“Callys nggak pernah nggak cerita.” Dira menutup buku partiturnya. “Kamu mau tau soal yang sebelum kamu.”

“Iya.”

Dira berpikir cukup lama sebelum menjawab. Ini kebiasaannya. Dia tidak pernah menjawab sebelum yakin dia mengingat dengan benar, dan aku sudah lama berhenti mendesaknya di jeda itu.

“Aku inget dua,” katanya akhirnya. “Mungkin tiga.”

“Siapa?”

“Yang satu anak kelas sepuluh, tahun ini. Yang aku dan Callys ceritain waktu itu.” Dia mengangkat satu jari. “Yang satu lagi kakak kelas. Waktu aku kelas sepuluh, jadi dia kelas sebelas. Namanya— ” Dira mengerutkan kening. “Puspa? Kayaknya Puspa.”

“Kenapa dia?”

“Dia duduk di sebelah Arganta sekitar tiga minggu.” Dira menaruh partiturnya di pangkuan. “Terus ada foto yang beredar.”

“Foto apa?”

“Aku nggak lihat fotonya,” kata Dira cepat. “Beneran. Aku cuma denger. Katanya fotonya biasa aja, cuma mereka berdua lagi di koridor. Tapi captionnya—”

Dia berhenti.

“Captionnya kenapa?”

“Captionnya nggak jelek ke Arganta.” Dira menatapku. “Captionnya jelek ke Puspa.”

Aku merasakan sesuatu bergerak di dadaku, dan bukan hal yang menyenangkan.

“Terus?”

“Terus dia pindah kelas dua minggu kemudian.”

“Dan yang ketiga?”

Dira menggeleng pelan. “Yang ketiga aku nggak yakin. Kayaknya ada, tapi udah lama banget. Mungkin waktu kita masih SMP.”

Aku duduk di lantai depan ruang musik, dan Dira duduk di sebelahku tanpa diminta.

“Sha.”

“Hm.”

“Aku cuma mikir aja,” katanya, dan suaranya lebih pelan dari biasanya. “Kalau ada tiga orang yang pindah, dia juga ngitung, kan?”

Aku menoleh.

“Maksudnya?”

“Kamu ngitung langkah dia. Kamu ngitung detik.” Dira memeluk lututnya. “Menurut aku, dia juga ngitung. Dia ngitung berapa orang yang pergi.”

Aku tidak menjawab, karena tidak ada yang bisa kujawab.

Kami duduk di lantai itu sampai bunyi latihan band dari dalam ruangan berhenti, dan Dira tidak bicara lagi, dan aku bersyukur untuk itu.


Malam itu aku menambah halaman baru di buku catatan.

Bukan tentang kebaikan.

Aku bagi halamannya jadi dua kolom.

Kolom kiri kutulisi: YANG DIA LAKUKAN.

Kolom kanan: YANG ORANG LIHAT.

Kolom kiri sudah ada delapan baris. Payung. Majalah. Ransel. Kotak kue. Bakwan yang dibungkus dan disimpan di saku. Galon, dua tahun, tanpa diminta. Kertas folio di garis tengah meja. Portal gerbang, sebelas detik sehari.

Kolom kanan masih kosong.

Aku menatapnya lama, lalu aku menulis satu baris di kolom kanan, dan begitu selesai aku sadar aku sudah menemukan bentuk seluruh masalahnya:

Nggak ada.

Nggak ada yang lihat, karena dia selalu selesai sebelum ada yang sampai.

Aku menutup buku itu.

Dan aku baru mau mematikan lampu waktu ponselku bergetar.

Nomor tidak dikenal. Bukan aplikasi chat. SMS, yang sudah hampir tidak ada yang pakai lagi.

Dua baris.

besok istirahat pertama, belakang lab.

kita mau ngomong. berdua.

Aku menatap layar itu.

Lalu aku balas satu kata.

Siapa?

Balasannya datang empat puluh detik kemudian.

yang selalu duduk di meja dia pas istirahat.

Aku membaca ulang tiga kali.

Lalu aku balas: Berdua?

iya. berdua.

jangan bilang dia.

Aku menatap layar itu lama sekali.

Dan aku sadar, sambil mengetik balasanku, bahwa ini pertama kalinya ada orang di sekolah ini yang memintaku merahasiakan sesuatu darinya — bukan tentang dia.

Oke.