← Bangku Sebelah

Chapter Twenty Five

Bab 25: Enam Orang di Halte

POV: Alesha


Hujan mulai jam tiga lewat sepuluh, tepat lima menit setelah bel pulang, yang mana adalah waktu paling menyebalkan yang bisa dipilih hujan.

Halte depan sekolah muat sepuluh orang kalau semuanya berdiri dan tidak ada yang bawa tas.

Kami berenam, semuanya bawa tas, dan ada empat anak kelas sepuluh yang sudah lebih dulu di situ dan yang langsung pergi setelah tiga menit dengan alasan yang jelas-jelas dibuat-buat.

“Mereka pergi gara-gara lo,” kata Kenzo.

“Iya,” kata Arga.

“Gue becanda.”

“Iya.”

“GA.”

“Aku tau kamu becanda, Zo.”

“Terus kenapa lo bilang iya?”

“Karena emang gara-gara aku.”

Kenzo membuka mulut, menutupnya, lalu berbalik ke arah kami semua dengan wajah orang yang mencari dukungan.

Tidak ada yang membantu.

“Gue benci lo semua,” katanya.


Angkot pertama lewat jam setengah empat dan sudah penuh.

Angkot kedua jam empat kurang sepuluh, juga penuh.

Jam empat lewat, Jovan mengumumkan hasil pengamatannya:

“Ada demo di jalan besar.”

“Kok tau?”

“Grup RT bapak aku.”

“Kenapa lo di grup RT?”

“Bapak aku ketua RT.”

Hening.

“LO NGGAK PERNAH BILANG,” kata Kenzo.

“Nggak ada yang nanya.”

“GUE KENAL LO TIGA TAHUN.”

“Tiga tahun kamu nggak nanya.”

Dan Kenzo mengeluarkan suara panjang yang tidak berbentuk kata sambil menendang tiang halte.


Jam setengah lima, kami masih di situ.

Dan sesuatu terjadi yang tidak pernah terjadi sebelumnya: kami kehabisan hal untuk dibicarakan.

Bukan canggung. Justru sebaliknya.

Kami duduk berjajar di bangku halte — Callys, Kenzo, aku, Arga, Dira, Jovan — dan kami diam selama mungkin empat menit, dan tidak ada satu pun dari kami yang merasa perlu mengisinya.

Aku ingat memperhatikan itu waktu terjadi. Aku ingat berpikir: ini baru.

Lalu Kenzo merusaknya, karena tentu saja.

“Gue punya pertanyaan.”

“Nggak,” kata Callys.

“Lo belum denger.”

“Aku nggak perlu denger.”

“Kalau lo harus milih—”

“NGGAK.”

“—antara nggak bisa duduk seumur hidup, atau nggak bisa berdiri seumur hidup—”

“Kenzo.”

“—lo pilih mana?”

Dan pertanyaan itu memakan waktu dua puluh menit berikutnya dari hidup kami.


Aku akan meringkasnya, karena kalau kutulis semuanya, tidak akan cukup.

Callys memilih tidak bisa duduk, dengan argumen bahwa dia bisa berbaring, dan berbaring itu hampir duduk.

Kenzo menyatakan itu curang.

Callys menyatakan bahwa aturan tidak melarang berbaring.

Kenzo menyatakan bahwa aturan tersirat.

Callys menyatakan bahwa “tersirat” adalah kata yang dipakai orang yang kalah.

Jovan bertanya apakah jongkok dihitung.

Seluruh perdebatan berhenti selama sepuluh detik.

“Anjir,” kata Kenzo pelan.

“Jongkok itu duduk atau berdiri?” tanya Dira.

“Jongkok itu jongkok,” kata Jovan.

“ITU BUKAN JAWABAN.”

Dan aku duduk di halte itu sambil menonton lima orang berdebat tentang klasifikasi jongkok selama delapan menit, dengan hujan di depan kami dan tidak ada satu pun angkot yang lewat, dan aku sadar aku sangat, sangat bahagia.

Arga tidak ikut berdebat.

Dia duduk di sebelahku dengan tas di pangkuan, dan sesekali menoleh ke arah orang yang sedang bicara, dan sudut bibirnya naik setengah sentimeter beberapa kali.

Waktu Jovan menjatuhkan pertanyaan jongkok, dia menoleh ke arahku.

Dan aku melihat wajahnya.

Dia sedang menikmati ini.

Aku tidak tahu kenapa itu yang membuat dadaku sesak, tapi itu yang membuat dadaku sesak.


Jam lima, Callys mengumumkan bahwa dia lapar.

“Semua orang lapar,” kata Kenzo.

“Aku lebih lapar.”

“Lapar nggak ada tingkatannya.”

“Ada.”

“Nggak ada.”

“Kenzo, aku belum makan dari jam dua belas.”

“Gue belum makan dari jam tujuh.”

Callys berbalik penuh.

“Kamu belum makan dari jam tujuh?”

“Iya.”

“Pagi?”

“Iya.”

Dan seluruh nada Callysta Aruna berubah dalam waktu kurang dari satu detik.

“Kenzo.”

“Apa.”

“Kenapa kamu belum makan?”

“Ya belum aja.”

“Kamu bilang lagi hemat waktu itu.”

“Itu dua minggu lalu.”

“KENZO.”

“Callys, gue nggak apa-apa—”

Dan Callys sudah berdiri, sudah membuka tasnya, sudah mengeluarkan kotak makan yang jelas belum dia sentuh, dan sudah menaruhnya di pangkuan Kenzo dengan gerakan yang lebih mirip melempar.

“Makan.”

“Ini punya lo.”

“Aku bilang MAKAN.”

“Lo bilang lo lapar—”

“AKU BOHONG.”

Hening di halte.

Kenzo memegang kotak makan itu di pangkuannya.

“Lo bohong soal lapar,” katanya.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak akan mau kalau aku nawarin biasa.”

Dan Kenzo menatap kotak makan itu, dan menatap Callys, dan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia membukanya, dan makan, dan berkata dengan mulut penuh:

“Ini kurang asin.”

“KAMU—”

“Tapi enak.”

“AKU NGGAK NANYA—”

“Gue cuma ngasih tau.”

Callys duduk kembali dengan hentakan yang membuat seluruh bangku halte bergetar.

Dan Kenzo menghabiskan seluruh isinya, dan waktu selesai dia menutup kotaknya, mengelapnya dengan tisu dari saku, dan mengembalikannya.

“Makasih,” katanya, dan itu satu-satunya kali dia mengatakannya tanpa embel-embel apa pun sepanjang sore itu.

Callys mengambil kotaknya dan tidak melihat ke arahnya dan berkata:

“Besok bawa bekal sendiri.”

“Iya.”

“Aku serius, Kenzo.”

“Iya, Callys.”

Dan dari sisi lain halte, Dira menoleh ke arahku, dan mengangkat alis satu sentimeter, dan aku harus menutup mulutku dengan tangan.


Jam setengah enam. Masih hujan. Masih tidak ada angkot.

Kami sudah pindah ke lantai halte karena bangkunya basah kena tempias.

Dan di titik ini, terjadi hal yang tidak diduga siapa pun: Jovan bicara.

“Aku mau nanya.”

Semua orang menoleh, karena Jovan tidak pernah memulai apa pun.

“Nanya,” kata Dira.

Dan Jovan — yang duduk di ujung, dengan kacamata yang berembun sedikit, dengan hoodie yang sudah setengah basah — bertanya:

“Kamu suka lagu apa?”

Halte itu jadi sunyi.

Kenzo membuka mulutnya.

Callys menendang kakinya.

“Aku?” tanya Dira.

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan Jovan berkata, dengan nada paling datar sedunia:

“Kamu ekskul musik dan aku nggak pernah nanya.”

Dira menatapnya.

Lalu dia menoleh ke depan, ke hujan, dan menjawab.

Dan dia menjawab selama enam menit.

Aku tidak tahu Dira bisa bicara selama enam menit. Aku sudah kenal dia lima bulan dan kalimat terpanjangnya biasanya delapan kata.

Dia bicara tentang lagu-lagu yang dia dengarkan waktu SMP. Tentang kenapa dia berhenti main piano dan mulai lagi. Tentang satu lagu yang tidak dia sukai tapi tidak bisa berhenti dia dengarkan.

Jovan tidak memotong sekali pun.

Dan waktu Dira selesai, dia diam sebentar, lalu berkata:

“Sori, kepanjangan.”

“Nggak,” kata Jovan.

“Aku ngomong enam menit.”

“Aku ngitung.”

Dira menoleh.

“Kamu ngitung?”

“Enam menit dua puluh.”

Dan hujan turun, dan tidak ada angkot, dan dua orang di ujung halte duduk berdampingan tanpa mengatakan apa-apa selama sisa waktu itu.


Kenzo bertahan selama empat menit sebelum meledak.

Dia menarikku dan Callys ke sudut halte — sudut yang jaraknya satu setengah meter dari mereka, yang sama sekali tidak cukup jauh — dan berbisik dengan volume yang lebih keras dari suara bicaranya yang normal.

“KALIAN LIHAT?”

“Kenzo, mereka denger,” kata Callys.

“KALIAN LIHAT NGGAK BARUSAN?”

“Kami lihat.”

“Van nanya lagu.”

“Iya.”

“VAN NANYA LAGU.”

“Kenzo—”

“Gue kenal dia tiga tahun dan dia nggak pernah nanya gue suka apa.”

“Ya kamu nggak pernah berhenti ngomong,” kata Callys. “Dia nggak perlu nanya.”

“...Anjir.”

“Iya.”

“Itu bener sih.”

Dan Kenzo berbalik, dan menatap dua orang yang duduk di ujung halte dalam diam yang sangat nyaman, dan berkata dengan nada putus asa:

“Mereka gonna mati sendirian.”

“Kenzo.”

“Gue serius. Lima puluh tahun lagi mereka masih gini.”

“Kenzo, mereka DENGER.”

Dan dari ujung halte, tanpa menoleh, Jovan berkata:

“Iya.”

Kenzo menjerit.


Jam enam kurang, angkot pertama akhirnya lewat.

Kosong.

Dan terjadi sesuatu yang aku pikirkan berkali-kali sejak hari itu.

Kami semua berdiri. Semua enam. Angkotnya berhenti.

Dan tidak ada satu pun dari kami yang naik.

Aku tidak tahu siapa yang memulai. Aku tidak yakin ada yang memulai.

Callys bilang “duluan aja” ke sopirnya. Sopirnya mengumpat dan jalan lagi.

Dan kami duduk kembali.

“Kenapa kita nggak naik?” tanya Dira akhirnya.

Tidak ada yang menjawab.

Lalu Kenzo bilang:

“Gue belum mau pulang.”

Dan itu adalah kalimat paling jujur yang pernah dia ucapkan sepanjang yang kutahu.


Kami sampai jam tujuh malam di halte itu.

Empat jam.

Dan aku akan mencatat apa saja yang terjadi di empat jam itu, karena bertahun-tahun kemudian aku masih memikirkannya:

Kami menghabiskan tiga puluh menit mengarang nama band kalau kami berenam bikin band. (Kalah suara: “Bangku Sebelah.” Menang: “Enam Orang Nggak Pulang,” usulan Jovan, yang mengejutkan semua orang termasuk Jovan.)

Kenzo mengajari kami cara bersiul dengan dua jari. Tidak ada yang berhasil. Kenzo juga tidak berhasil. Ternyata Kenzo tidak bisa bersiul dengan dua jari, dan sudah berpura-pura bisa selama tiga tahun.

Dira menyanyikan satu bait lagu, sangat pelan, waktu Kenzo menantangnya. Dan seluruh halte diam mendengarkan, dan waktu selesai Kenzo berkata “anjir” dengan nada yang benar-benar tulus, dan Dira menutup wajahnya dengan tangan selama satu menit penuh.

Callys menangis selama sekitar tiga menit karena Kenzo bertanya kabar sepupunya, dan menghentikannya sendiri, dan berkata “aku nggak apa-apa” empat kali, dan tidak ada yang memaksa lebih jauh.

Jovan menemukan bahwa dia dan Dira lahir di rumah sakit yang sama dengan selisih sebelas hari.

Aku dan Arga tidak melakukan apa-apa yang bisa diceritakan.

Kami duduk di lantai halte, bahu ke bahu, dan dia memegang tanganku di antara tas kami di mana tidak ada yang bisa lihat, dan kadang dia meremasnya kalau ada yang mengatakan sesuatu yang lucu.

Itu saja.

Aku tidak punya cara membuatnya terdengar sebesar rasanya.


Jam enam lewat, ada satu percakapan yang tidak lucu, dan aku menyimpannya di sini karena tempatnya memang di sini.

Kenzo sedang membeli gorengan di gerobak Bu Ipah — yang ternyata masih buka, di seberang, di bawah tenda barunya yang kami jahit sendiri dan yang ternyata bocor di satu sudut.

Tinggal berlima di halte.

Dan Callys, tanpa didahului apa pun, berkata:

“Aku nelepon Puspa kemarin.”

Aku menoleh cepat.

Arga tidak menoleh. Tapi aku merasakan dia berhenti bergerak.

“Terus?” tanyaku.

“Dia baik.” Callys memandangi hujan. “Sekolahnya bagus. Dia masuk ekskul teater.”

“Kamu bilang apa?”

“Aku minta maaf.”

Hening.

“Dia bilang apa?” tanya Dira pelan.

Dan Callys tertawa satu kali, pendek, tanpa isi.

“Dia bilang, ‘buat apa?’”

Aku menutup mataku.

“Aku bilang buat yang tahun lalu.” Callys mengangkat bahunya. “Dia bilang aku nggak ngapa-ngapain.”

“Kamu emang nggak ngapa-ngapain,” kata Jovan.

“Aku ngetok pintu satu jam terus aku pulang, Van.”

“Kamu ngetok satu jam.”

“Terus aku pulang.”

“Kamu ngetok satu jam,” ulang Jovan.

Dan Callys tidak membantahnya, dan itu pertama kalinya.

Kemudian dia berkata, dan suaranya berubah:

“Dia nanya soal Arga.”

Semua orang menoleh.

Termasuk Arga.

“Nanya apa?” tanyanya.

Dan Callys menoleh ke arahnya — langsung, tanpa perantara, dengan seluruh wajahnya.

“Dia nanya kamu masih di sekolah ini nggak.”

Arga tidak bicara.

“Aku bilang masih.”

“Terus?”

Dan Callys berkata:

“Terus dia bilang ‘syukur.’”

Hujan menabrak atap halte.

“Cuma itu?” tanya Arga.

“Cuma itu.” Callys memandangi tangannya. “Terus dia ganti topik.”

Dan Arga mengangguk pelan, dan tidak mengatakan apa-apa lagi, dan aku tidak tahu apa yang dia rasakan karena aku tidak bisa membaca wajahnya waktu itu.

Baru malamnya, waktu aku sudah di rumah, aku menerima satu pesan darinya.

Satu kalimat, jam sebelas lewat.

Aku kira dia benci aku.

Aku mengetik lima balasan dan menghapus semuanya.

Yang kukirim akhirnya:

Nggak ada yang benci kamu, Ga.

Dan dia tidak membalas, dan aku tahu itu artinya dia tidak percaya, dan aku juga tahu bahwa itu bukan hal yang bisa diselesaikan lewat pesan jam sebelas malam.


Yang paling kuingat terjadi jam tujuh kurang.

Kenzo tertidur.

Dia tertidur duduk, bersandar di tiang halte, dengan mulut sedikit terbuka, di tengah kalimatnya sendiri tentang kenapa hari Selasa sebenarnya lebih buruk dari hari Rabu.

Callys memperhatikannya selama beberapa detik.

Lalu dia melepas jaket seragamnya.

Dan dia menaruhnya di bahu Kenzo — pelan, dengan dua tangan, dengan hati-hati yang tidak masuk akal untuk seseorang yang menghabiskan tiga jam terakhir berteriak ke orang itu.

Lalu dia duduk kembali dan menatap hujan.

Tidak ada yang berkomentar.

Aku menoleh ke Dira.

Dira sudah melihat.

Dia mengangkat satu jari ke bibirnya, sangat pelan, dan aku mengangguk.

Dan waktu Kenzo bangun sepuluh menit kemudian, jaket itu jatuh dari bahunya dan dia melihatnya di lantai dan berkata:

“Ini punya siapa?”

“Nggak tau,” kata Callys.

“Ini punya lo.”

“Bukan.”

“Ini ada nama lo di dalemnya.”

“Itu bukan nama aku.”

“‘C. ARUNA’. Itu lo.”

“Itu bisa siapa aja.”

“CALLYSTA.”

“BANYAK ORANG NAMANYA C ARUNA.”

Dan mereka bertengkar selama sebelas menit tentang berapa banyak orang bernama C. Aruna yang mungkin ada di kota ini, dan pertengkaran itu berakhir tanpa kesimpulan, dan Callys mengambil jaketnya kembali dan memakainya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Angkot terakhir jam tujuh lewat lima.

Kami naik semuanya, berenam, angkot yang sama, dan sopirnya jelas menyesali keputusannya berhenti.

Callys turun pertama. Lalu Dira. Lalu Jovan.

Kenzo turun di perempatan yang salah, dua halte terlalu jauh, karena dia sedang bicara dan tidak memperhatikan, dan dia berteriak “GUE JALAN AJA” dari trotoar sambil melambaikan tangan.

Tinggal aku dan Arga.

Angkotnya kosong. Sopirnya menyetel radio.

“Ga.”

“Hm.”

“Kamu seneng nggak tadi?”

Dia tidak langsung menjawab.

Dia menatap keluar jendela, ke jalan yang basah, ke lampu-lampu toko yang sudah menyala.

“Iya,” katanya.

“Cuma iya?”

Dan dia menoleh, dan berkata sesuatu yang membuatku harus melihat keluar jendela selama beberapa detik supaya dia tidak melihat wajahku.

“Aku nggak pernah nggak pulang sama orang,” katanya.

“Maksudnya?”

“Aku selalu pulang tepat waktu.” Dia mengangkat bahu. “Bukan karena disuruh. Karena nggak ada alasan buat telat.”

Angkot itu melewati perempatan minimarket.

“Empat jam,” katanya.

“Iya.”

“Aku telat empat jam.”

Dan Arganta Bhumi menoleh ke jendela lagi dan berkata, sangat pelan, ke arah kaca:

“Enak ya.”


Aku turun di depan pagar rumahku jam setengah delapan.

Ibu belum pulang. Lampu teras menyala karena timer.

Dan sebelum aku masuk, aku berbalik.

“Ga.”

Dia sudah setengah jalan menuju angkot berikutnya.

“Hm?”

“Besok kita bikin telat lagi.”

Dia berhenti.

“Bikin telat gimana?”

“Ya bikin aja.” Aku membuka pagar. “Nggak usah ada alasannya.”

Dan aku masuk sebelum dia sempat menjawab, dan dari balik pintu aku mendengar dia berdiri di trotoar itu selama beberapa detik lebih lama dari yang perlu.

Malam itu aku tidak menulis apa-apa di buku catatanku.

Bukan karena tidak ada yang bisa ditulis.

Karena untuk pertama kalinya dalam lima bulan, tidak ada satu pun kejadian hari itu yang perlu kusimpan sebagai bukti.