← Bangku Sebelah

Chapter Thirty One

Bab 31: Yang Disembunyikan

POV: Alesha


Hari Jumat pagi, akun ketiga muncul.

Aku sudah memblokir dua. Yang ketiga dibuat hari Kamis malam — aku bisa melihatnya dari tanggal bergabung — dan mengirim pesan pertamanya jam enam pagi.

Aku membacanya di angkot.

Aku tidak akan menuliskan isinya.

Aku akan menuliskan ini: setelah membacanya, aku turun dua halte lebih awal dan jalan kaki sisanya, dan aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu.

Aku baru mengerti belakangan.

Aku sedang mencari alasan untuk tidak sampai.


Ada bagian dari pesan itu yang harus kujelaskan, karena tanpanya seluruh hari itu tidak masuk akal.

Bukan isinya yang membuatku turun dari angkot.

Yang membuatku turun: ada foto.

Foto itu diambil hari Kamis malam, jam sembilan lewat, dari seberang jalan.

Toko Kue Bunda Ratih. Pintu kaca. Dan di dalam, dua orang duduk di lantai dapur yang terlihat lewat tirai plastik yang tersibak.

Kualitasnya buruk. Tidak jelas siapa. Kalau kamu tidak tahu, kamu tidak akan tahu.

Aku tahu.

Dan yang membuatku turun dua halte lebih awal, dan berdiri di trotoar selama tiga menit sambil memegang ponselku, bukan bahwa ada yang memotretku.

Tapi bahwa ada yang berdiri di Jalan Melati jam sembilan malam.

Di depan toko orang tuanya.


Callys menemukanku di toilet lantai satu jam istirahat pertama.

Aku tidak sedang menangis. Aku ingin mencatat itu.

Aku sedang berdiri di depan wastafel, memegang ponsel, membaca sesuatu untuk kesekian kalinya.

Dan aku tidak mendengar pintu.

“Sha.”

Aku mematikan layarku.

Terlambat.

Callys sudah di belakangku dan Callys punya penglihatan yang tidak masuk akal untuk jarak dua meter.

“Itu apa?”

“Bukan apa-apa.”

“Sha.”

“Callys, aku lagi—”

Dan dia mengambil ponselku dari tanganku.

Dia betul-betul mengambilnya. Dengan tangan. Dari tanganku.

“CALLYS—”

Dia sudah membuka layarnya.

Dan dia berdiri di toilet lantai satu SMA Bhakti Persada, membaca layar itu, dan aku melihat wajahnya berubah tiga kali dalam waktu delapan detik.

Bingung.

Lalu paham.

Lalu sesuatu yang lain, yang membuatku ingin mengambil ponsel itu kembali.

“Berapa lama,” katanya.

“Callys—”

“Berapa lama, Alesha.”

“Tiga minggu.”

“BOHONG.”

Suaranya memantul di dinding keramik.

“Callys, pelan—”

“Berapa lama.”

Dan aku berdiri di situ dan aku tidak bisa berbohong ke wajah itu.

“Sebelas minggu,” kataku.


Dira masuk empat puluh detik kemudian.

Aku tidak tahu bagaimana. Aku bertanya belakangan dan dia bilang dia lewat dan mendengar suara Callys, yang mana adalah penjelasan yang cukup karena semua orang di lantai satu kemungkinan mendengar suara Callys.

Dia menutup pintu toilet di belakangnya.

Dan menguncinya.

“Dira—” kataku.

“Bentar.” Dia bersandar ke pintu. “Callys, kamu teriak lagi, aku panggil Bu Retno.”

Callys tidak menjawab. Dia masih memegang ponselku.

“Sha,” kata Dira. “Kamu cerita ke siapa?”

“Nggak ke siapa-siapa.”

“Ke Arga?”

Aku tidak menjawab.

Dan Dira — yang tidak pernah menaikkan suaranya, yang bicara pelan bahkan waktu marah — menutup matanya sebentar.

“Sha.”

“Aku kirim yang komentar publik,” kataku cepat. “Aku kirim semua yang publik. Tiap hari.”

“Yang DM?”

Hening.

“Alesha,” kata Dira.

“Dia bakal pergi.”

“Kamu nggak tau itu.”

“AKU TAU.”

Dan sekarang aku yang berteriak, di toilet lantai satu, dan Callys menoleh ke arahku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat.

“Aku tau persis apa yang bakal dia lakuin,” kataku. “Aku udah delapan bulan, Dira. Aku udah punya cukup data.”

“Data.”

“Iya, data.”

“Kamu ngomong kayak dia.”

“AKU TAU AKU NGOMONG KAYAK DIA.”

Dan aku duduk di lantai toilet, di keramik, dengan punggung ke tembok, dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan.


Callys duduk di sebelahku.

Dia menaruh ponselku di lantai di antara kami.

Dan dia bertanya, dengan suara yang jauh lebih pelan dari yang kuduga:

“Kamu takut dia pergi?”

“Iya.”

“Cuma itu?”

Dan aku menurunkan tanganku dan aku menatap keramik lantai toilet dan aku mengatakan hal yang belum pernah kukatakan ke siapa pun, termasuk ke diriku sendiri.

“Nggak.”

“Terus apa?”

“Aku takut dia nyari orangnya.”

Hening.

“Sha,” kata Dira dari pintu.

“Kalau dia tau ada yang berdiri di depan toko orang tuanya jam sembilan malem—” Suaraku patah. “Kalau dia tau ada yang motret Ibunya di dalam toko—”

Aku berhenti.

“Dia bakal apa?” tanya Callys pelan.

Dan aku bilang:

“Dia bakal berdiri di depan orang itu.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Dia nggak akan mukul, Callys. Dia nggak pernah mukul.” Aku menyeka mataku. “Dia bakal cuma berdiri di depan orang itu dan nggak ngomong apa-apa.”

“Terus?”

“Terus itu cukup.”

Dan aku melihat wajah Callysta Aruna, dan aku melihat momen ketika dia mengerti, dan aku melihat wajahnya jadi putih.

“Orangnya cukup mundur,” kataku. “Terus jatuh. Terus ada yang lihat.”

“Sha—”

“Dan yang orang lihat cuma bagian akhirnya, Callys.” Aku menatapnya. “Orang selalu cuma lihat bagian akhirnya.”


Dira duduk di lantai juga.

Tiga orang, di lantai toilet lantai satu, jam istirahat pertama.

“Kamu udah tau siapa?” tanya Dira.

Aku tidak menjawab.

“Sha.”

“Aku nggak punya bukti.”

“Aku nggak nanya bukti.”

Dan aku menatap keramik itu selama mungkin lima belas detik.

“Iya,” kataku. “Aku udah tau.”

Callys berbalik penuh.

“SIAPA?”

“Callys—”

“SHA, SIAPA.”

Dan aku membuka mulutku.

Dan aku menutupnya lagi.

Karena aku memikirkan apa yang akan terjadi kalau aku menyebutkan nama itu di ruangan ini, kepada orang ini, yang tidak pernah bisa menahan apa pun selama lebih dari empat jam.

“Nggak,” kataku.

“ALESHA.”

“Aku nggak bisa, Callys.”

“KENAPA.”

“Karena kamu bakal ngamuk.”

“YA IYALAH AKU NGAMUK.”

“Dan kalau kamu ngamuk, semua orang tau,” kataku. “Dan kalau semua orang tau, dia tau bahwa aku tau. Dan begitu dia tau aku tau, dia berhenti.”

“BAGUS DONG DIA BERHENTI.”

Dan aku menoleh ke arahnya, dan aku berkata:

“Kalau dia berhenti sekarang, dia nggak akan pernah ketauan.”

Callys membuka mulut.

Lalu menutupnya.

Dan dia duduk di lantai toilet itu, dan bahunya turun, dan dia berkata dengan suara yang sangat kecil:

“Puspa.”

“Iya.”

“Kamu mikirin Puspa.”

“Iya.”

“Kamu mau dia—”

“Aku mau dia ketauan, Callys.” Aku menyeka mataku lagi. “Bukan berhenti. Ketauan.”


Kami tidak menyelesaikannya.

Kami tidak menyelesaikan apa pun, karena bel berbunyi, dan karena Callys masih memegang ponselku dan tidak mau mengembalikannya sampai Dira memintanya, dan karena aku harus mencuci muka dua kali sebelum bisa keluar.

Tapi ada satu hal yang kami putuskan.

Dan itu kesalahanku, dan aku yang mengusulkannya, dan aku memikirkannya setiap hari selama bertahun-tahun setelahnya.

“Satu minggu,” kataku.

“Satu minggu apa?”

“Kasih aku satu minggu.”

Callys menatapku.

“Buat apa?”

“Buat nyari bukti.”

“Sha—”

“Satu minggu, Callys. Kalau dalam satu minggu aku nggak dapet apa-apa, aku cerita ke dia. Semuanya.”

“Kamu janji?”

“Aku janji.”

Dan Dira, dari lantai, berkata:

“Callys, jangan.”

Kami berdua menoleh.

“Kenapa?” tanya Callys.

Dan Nadhira Ayudia berkata, dengan suaranya yang selalu terlalu tenang untuk isi kalimatnya:

“Karena satu minggu itu tujuh hari, dan dia butuh satu.”


Aku memikirkan kalimat itu sepanjang jam pelajaran ketiga.

Dia butuh satu.

Dan aku tidak melakukan apa-apa dengan pemikiran itu, karena aku sudah membuat rencana dan aku tidak mau membongkarnya.

Yang kulakukan justru sebaliknya.

Aku menyusun jadwal.

Senin: cocokkan jadwal ekskul tiga tahun dengan tanggal unggah. Selasa: cari tahu siapa yang punya akses ke ruang guru sore hari. Rabu: hubungi Puspa lewat Callys. Kamis: susun semuanya. Jumat: bawa ke Bu Retno.

Aku menulis jadwal itu di buku catatanku, di halaman yang sudah lama tidak kupakai, dan aku merasa lebih baik setelah menulisnya.

Karena kalau ada jadwal, artinya ada rencana.

Dan kalau ada rencana, artinya aku sedang melakukan sesuatu.

Itu bohong. Aku tahu sekarang bahwa itu bohong.

Yang sebenarnya kulakukan adalah menunda percakapan yang harusnya terjadi hari itu juga, dan aku memberinya bentuk yang rapi supaya kelihatan seperti strategi.


Aku bertemu Arga jam istirahat kedua di tangga belakang.

Dia sudah di sana. Dia selalu sudah di sana.

Dan dia melihat wajahku dan langsung berdiri.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Alesha.”

“Beneran.”

“Mata kamu merah.”

“Aku kelilipan.”

Dan dia berdiri di anak tangga keempat, dan dia menatapku, dan dia tidak bertanya lagi.

Itu yang paling menyakitkan.

Dia tidak bertanya lagi karena dia sudah belajar bahwa bertanya lagi membuatku menutup, dan dia sudah belajar itu dariku, dan dia sudah menerapkannya dengan sangat baik.

Aku duduk di anak tangga ketiga.

“Ga.”

“Hm?”

“Besok Sabtu.”

“Iya.”

“Kita jadi ke tempat kamu?”

Dan dia duduk kembali, dan membuka kotak makannya, dan berkata:

“Kalau kamu mau.”

“Kamu mau nggak?”

“Aku mau.”

Dan lalu dia berkata sesuatu yang membuat seluruh isi perutku dingin.

“Tapi aku Sabtu ada urusan sore,” katanya. “Bisa nggak paginya?”

“Urusan apa?”

Dan dia mengunyah, dan menelan, dan berkata dengan nada paling biasa sedunia:

“Nggak apa-apa. Ada yang mau aku temuin.”


Aku ingin menuliskan apa yang kupikirkan di detik itu dengan jujur.

Aku berpikir: dia tahu.

Aku berpikir itu selama sekitar dua detik dan lalu aku membuangnya, karena kalau dia tahu, dia akan mengatakannya, karena kami sudah berjanji, karena kami sudah berdiri di kelas kosong dan berjanji.

Kami berdua berbohong waktu itu.

Aku tahu kami berdua berbohong.

Dan aku tetap membuang pikiran itu, karena membuangnya lebih mudah.

“Ya udah, paginya aja,” kataku.

“Oke.”

“Jam sembilan?”

“Oke.”

Dan dia menutup kotak makannya, dan menyodorkan setengah kuenya ke arahku seperti biasa, dan aku memakannya.


Yang tidak kutahu sampai berbulan-bulan kemudian:

Arga sudah tahu sejak hari Selasa.

Bukan tahu tentang DM. Dia tidak pernah tahu tentang DM sampai jauh setelahnya.

Yang dia tahu: hari Selasa sore, waktu dia menungguku di seberang halte ketiga seperti biasa, ada orang lain yang juga menunggu.

Di sisi yang sama dengan halte. Di depan toko kelontong. Memegang ponsel.

Dan Arga berdiri di seberang jalan selama dua puluh menit sampai aku naik angkot, dan orang itu berdiri di sana selama dua puluh menit juga, dan pergi setelah angkotku berangkat.

Arga tidak menghampiri.

Dia mengikutinya.

Empat blok, di seberang jalan, sampai orang itu masuk ke sebuah rumah di komplek yang aku tidak tahu ada.

Dan dia pulang, dan dia tidak mengatakan apa-apa ke siapa pun, dan hari Rabu dia melakukan hal yang sama, dan hari Kamis juga.

Dia sedang mengumpulkan.

Persis seperti aku.

Dua orang yang saling melindungi dengan cara yang sama persis, di kota yang sama, di sekolah yang sama, tanpa satu pun dari mereka mengatakan sepatah kata.


Aku pulang jam empat sore hari Jumat itu.

Dia mengantarku, seperti biasa. Sampai depan pagar, seperti biasa.

Dan di depan pagar, dia berkata:

“Alesha.”

“Hm?”

“Besok jam sembilan.”

“Iya.”

“Kamu mau cerita, kan?”

Aku berhenti.

“Iya.”

“Oke.”

Dan dia mengangguk, dan memutar sepedanya.

Dan lalu dia berhenti, dan berkata — tanpa menoleh, ke arah setang sepedanya:

“Aku juga.”

Aku menoleh cepat.

“Kamu juga apa?”

“Aku juga mau cerita sesuatu.”

Dan aku berdiri di depan pagar rumahku dan aku merasakan sesuatu yang seharusnya jadi peringatan dan yang kuanggap sebagai kelegaan.

“Cerita apa?”

Dan Arganta Bhumi berkata:

“Besok aja.”

Dia mengayuh pergi.


Dan besok tidak pernah datang.

Karena hari Jumat itu belum selesai.

Aku sampai rumah jam empat lewat sepuluh. Aku mandi. Aku makan. Aku duduk di meja belajar dan membuka jadwal yang kubuat tadi siang dan merasa puas dengan diriku sendiri.

Jam lima kurang, ponselku bergetar.

Bukan akun tanpa foto profil.

Bukan nomor tidak dikenal.

Sean Adhyaksa.

Akun aslinya. Yang dipakai dua ribu orang untuk melihat foto kegiatan OSIS. Yang aku sudah ikuti sejak kelas sepuluh.

Sha, layout edisi bulan depan ketinggalan di ruang mading. Yang map biru.

Aku masih di sekolah sampai jam 4an, ada rapat. Kalau kamu bisa ambil sekarang aku tungguin. Kalau nggak nanti dikunci OB sampai Senin.

Aku menatap pesan itu.

Aku ingin mencatat dengan sangat jujur apa yang kupikirkan.

Aku berpikir: sial, map biru.

Aku benar-benar berpikir itu. Aku sedang memikirkan deadline. Aku sedang memikirkan bahwa kalau map itu terkunci sampai Senin, aku harus mengulang layout dari awal.

Aku tidak curiga sedikit pun.

Dan aku ingin mencatat itu bukan sebagai pembelaan.

Aku mencatatnya karena itulah keseluruhan masalahnya.

Delapan bulan aku menyusun pola. Empat puluh tujuh postingan. Jam 20.55 sampai 21.15. Tiga hari sebelum. Sembilan pertanyaan. Laci ketiga. Tiga kali “hati-hati ya.”

Aku sudah tahu.

Dan waktu orang itu mengirim pesan yang wajar, aku memakai sepatu.

Oke Kak, aku ke sana.


Aku sampai sekolah jam setengah enam.

Gerbang utama sudah setengah ditutup. Pak Sudir tidak ada — sudah ganti shift.

Sekolah jam setengah enam hari Jumat itu kosong dengan cara yang aneh. Ada dua orang di lapangan basket. Ada satu kelas kelas dua belas yang lampunya menyala.

Ruang mading di lantai dua, ujung koridor.

Terkunci.

Aku berdiri di depan pintu itu memegang gagangnya, dan aku mengeceknya dua kali, dan aku mengirim pesan.

Kak, ruang madingnya kekunci.

Balasannya datang dalam empat puluh detik.

Ah iya sori, kuncinya aku bawa. Aku lagi ambil motor. Aku ke situ ya.

Lalu, dua puluh detik kemudian:

Atau kamu turun aja ke parkiran belakang, biar cepet. Aku udah di sini.


Aku turun.

Aku turun ke parkiran belakang gedung timur jam setengah enam sore, hari Jumat, dengan sekolah yang hampir kosong, karena seseorang meminta map biru dan aku sedang memikirkan deadline.

Dan sekitar dua kilometer dari situ, di dapur toko kue di Jalan Melati, ada orang yang sedang menutup adonan terakhir dan melihat jam dan berpikir bahwa dia masih punya waktu dua puluh menit sebelum harus berangkat ke tempat yang tidak dia ceritakan ke siapa pun.

Dan di seberang halte ketiga, di depan tukang fotokopi, tidak ada siapa-siapa hari itu.

Karena aku tidak lewat halte ketiga hari itu.

Karena aku pulang jam empat, dan dia mengantarku, dan dia sudah melihatku masuk pagar.


Aku sampai di ujung barisan motor jam lima lewat tiga puluh delapan.

Jalur tiga meter di antara tembok pembatas dan barisan motor terakhir.

Tempat yang tidak kelihatan dari mana pun kecuali dari jendela lantai tiga.

Aku tahu itu.

Aku yang menulis tentang itu, dua tahun lalu, untuk edisi mading yang tidak pernah terbit karena Kak Sean bilang temanya terlalu sepele.

Dia berdiri di ujung jalur itu.

Dengan map biru di tangan.

Dan dia tersenyum, dan senyumnya rapi seperti seragamnya, dan dia berkata:

“Sha. Cepet ya.”

Dan aku menyeberangi jalur tiga meter itu dan mengambil map biru itu dari tangannya dan berkata terima kasih.

Dan dia tidak melepaskannya.