← Bangku Sebelah

Chapter Twenty Six

Bab 26: Hitungan Mundur

POV: Alesha


Aku mulai menghitung mundur hari Rabu.

Bukan rencana besar. Ini terjadi begitu saja, di tangga belakang, waktu aku sedang kesal karena hal yang sudah tidak kuingat.

“Ga.”

“Hm.”

“Bilang sesuatu.”

“Sesuatu apa?”

“Yang kamu belum pernah bilang.”

Dia berhenti mengunyah.

Dan aku melihat wajahnya, dan aku melihat dia tahu persis apa yang kumaksud, dan aku melihat seluruh tubuhnya bersiap seperti orang yang mau lompat dari ketinggian.

“Lima,” kataku.

“Apa?”

“Empat.”

“Alesha—”

“Tiga.”

“Kamu ngapain—”

“Dua.”

Dan dia membuka mulutnya, dan aku melihat dia membuka mulutnya, dan aku menunggu, dan aku menghitung dalam hati lebih lambat dari yang seharusnya karena aku curang.

“Satu.”

Tidak ada suara.

Aku menutup kotak makanku.

“Ya udah,” kataku.

“Alesha.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku—”

“Aku tau.” Aku berdiri dan menepuk celanaku. “Besok lagi.”

Dan dia duduk di anak tangga keempat memegang kotak makannya, dan berkata dengan suara orang yang baru saja gagal ujian yang tidak dia tahu ada:

“Besok lagi?”

“Iya.”

“Tiap hari?”

“Sampai kamu bisa.”

Dan dia menatapku dengan ekspresi yang membuatku hampir tidak jadi.

Hampir.


Ini yang harus kujelaskan, karena kalau tidak, aku terdengar kejam.

Aku tidak memaksanya.

Aku tahu bedanya. Aku sudah menghabiskan lima bulan belajar bedanya.

Kalau aku memaksa, aku akan bertanya kenapa. Aku akan menuntut penjelasan. Aku akan bilang “kamu nggak sayang aku?” — kalimat yang bahkan memikirkannya saja membuatku merasa kotor, karena aku tahu persis apa yang akan dia lakukan kalau aku mengucapkannya.

Dia akan percaya.

Dia akan langsung percaya bahwa dia memang tidak cukup, dan dia akan minta maaf, dan dia akan pergi.

Jadi aku tidak memaksa.

Aku menghitung mundur dari lima, tiap hari, sekali, dan kalau habis aku bilang “besok lagi” dan kami lanjut makan.

Itu saja.

Aku ingin dia tahu bahwa aku menunggu, dan aku ingin dia tahu bahwa menunggu tidak sakit buatku.

Dua hal itu tidak bisa disampaikan lewat kalimat. Aku sudah mencoba.

Bisa disampaikan lewat hitungan mundur yang diulang tiap hari tanpa marah.


Hari kedua: dia gagal di hitungan tiga.

Dia gagal lebih cepat dari hari pertama, yang mana aneh, sampai aku sadar dia sudah bersiap sejak pagi dan itu justru membuatnya lebih buruk.

Hari ketiga: aku menghitung dan dia langsung berdiri dan pergi ke arah keran air.

Aku tertawa sampai batuk.

Dia kembali tiga menit kemudian dan bilang “aku haus”, dan aku bilang “iya,” dan dia bilang “beneran haus,” dan aku bilang “iya, Ga.”

Hari keempat: dia mencoba menawar.

“Alesha.”

“Hm?”

“Boleh nggak aku tulis?”

Aku menoleh.

“Tulis?”

“Di kertas.”

Dan aku menatapnya cukup lama sampai dia mengalihkan pandangan.

“Nggak,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena kalau ditulis, kamu bisa hapus.”

“Aku nggak akan hapus.”

“Ga.”

Dia diam.

“Kamu bakal nulis, terus kamu bakal baca ulang, terus kamu bakal mikir kalimatnya kurang bener, terus kamu bakal tulis ulang,” kataku. “Terus tiga hari kemudian kertasnya masih di saku kamu.”

Dia tidak membantah.

Dan itu jawabannya.

Hari kelima: dia gagal di hitungan satu.

Bukan tiga. Bukan dua.

Satu.

Aku sudah sampai “satu” dan aku sudah mau bilang “ya udah” dan dia berkata:

“A—”

Satu huruf.

Lalu tidak ada lagi.

Dan aku duduk di anak tangga ketiga dan aku merasakan sesuatu yang aneh — bukan kecewa, bukan senang, tapi sesuatu yang lebih dekat ke sakit.

Karena satu huruf itu artinya dia sedang berusaha.

Bukan tidak mau. Berusaha, dan gagal, tiap hari, dan datang lagi besoknya.

“Ga.”

“Aku bisa,” katanya cepat. “Aku bisa. Bentar.”

“Ga—”

“Bentar aja, Alesha.”

Dan dia duduk di tangga itu dengan kedua tangan di lututnya, mencoba, selama mungkin dua puluh detik.

Dan aku duduk di sebelahnya dan menunggu dan tidak mengatakan apa-apa.

Lalu aku memegang tangannya.

“Ga.”

“Bentar.”

“Nggak usah.”

“Aku hampir—”

“Nggak usah, sayang.”

Dan dia berhenti.

Betul-betul berhenti, seperti orang yang dicabut kabelnya.

Dan aku sadar apa yang baru saja kukatakan sekitar dua detik setelah mengatakannya.

“...Sori,” kataku.

“Nggak.”

“Aku nggak sengaja.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku nggak akan—”

“Alesha.” Dia menoleh, dan telinganya sudah merah sampai ke leher, dan suaranya nyaris tidak ada. “Nggak apa-apa.”

Kami duduk di tangga itu sampai bel.

Dan sepanjang jam pelajaran berikutnya dia tidak bisa menulis dengan rapi, dan aku tahu itu karena aku melihat bukunya, dan itu satu-satunya kali dalam lima bulan aku melihat tulisannya berantakan.


Ada satu hari di antara hari kelima dan hari Jumat yang tidak kutulis di urutan itu, karena hari itu aku tidak menghitung mundur sama sekali.

Hari Kamis, dia tidak masuk.

Aku tahu dia tidak akan masuk karena dia mengirim pesan jam lima pagi:

Ibu demam. Aku jaga toko.

Dan lalu, dua menit kemudian:

Maaf.

Aku menatap kata “maaf” itu selama sarapan.

Aku ke toko sepulang sekolah.

Aku tidak izin. Aku cuma datang.

Dan yang kutemukan adalah pemandangan yang membuatku berdiri di seberang jalan selama dua menit sebelum menyeberang.

Dia di depan.

Di kasir, di front, di tempat yang selama tujuh belas tahun dia hindari.

Dengan apron. Dengan wajahnya. Dengan tinggi seratus delapan puluh enam sentimeter di ruangan yang muat delapan orang.

Aku masuk.

Bel pintu berbunyi dua nada.

Dia mengangkat kepalanya, dan melihatku, dan seluruh bahunya turun tiga sentimeter sekaligus.

“Alesha.”

“Ibu gimana?”

“Udah mendingan. Lagi tidur di atas.”

“Ayah kamu?”

“Belanja bahan.”

Aku menaruh tasku di kursi plastik sudut.

“Ramai nggak?” tanyaku.

Dan dia diam.

“Ga.”

“Nggak apa-apa.”

“Berapa?”

Dia menutup laci kasir.

“Alesha—”

“Berapa, Ga.”

Dan dia berkata, dengan nada orang yang melaporkan cuaca:

“Sembilan.”

“Sembilan?”

“Dari jam sepuluh.”

Aku melihat jam dinding. Setengah empat.

Lima setengah jam. Sembilan pembeli.

Aku tahu angka normalnya. Aku sudah cukup sering di sini untuk tahu bahwa hari biasa itu tiga puluh sampai empat puluh.

“Ga.”

“Nggak apa-apa.”

“Berhenti bilang nggak apa-apa.”

“Ini emang biasa.”

“Ini nggak biasa.”

Dan dia mengangkat wajahnya, dan berkata — dan ini yang membuatku harus berpegangan ke etalase:

“Biasa buat aku.”

Aku berdiri di toko itu sampai jam tujuh.

Aku yang di kasir. Dia yang di dapur.

Dan dalam tiga setengah jam berikutnya, ada dua puluh dua pembeli.

Aku menghitungnya, dan aku tidak memberi tahu dia angkanya, dan dia tidak bertanya.

Tapi waktu kami menutup toko, dia berkata satu hal, sambil menurunkan tenda:

“Makasih.”

“Buat apa?”

Dan dia bilang:

“Buat nggak bilang angkanya.”


Hari keenam adalah hari Jumat.

Dan hari Jumat berarti panti.

Aku sudah ikut empat kali sekarang. Anak-anak sudah tahu namaku, yang mana adalah pencapaian yang butuh tiga kunjungan karena mereka bersikeras memanggilku “Kak Temen” selama dua minggu.

Kami sampai jam enam. Kotak-kotaknya dibagikan. Yang paling kecil — namanya Puti, lima tahun, yang berteriak paling keras — sudah menyerbu sebelum sepedanya berhenti.

Dan hari itu, sesuatu terjadi yang membuatku harus keluar ke halaman selama dua menit.

Ada anak baru.

Namanya Ical. Delapan tahun. Masuk tiga minggu lalu.

Dan Ical tidak ikut menyerbu.

Dia berdiri di ambang pintu, di belakang semua orang, memegang tiang pintu dengan satu tangan.

Aku melihat Arga menyadarinya.

Aku melihat momen persisnya — dia sedang melepaskan dua anak dari lengannya, dan matanya bergerak ke pintu, dan berhenti.

Dan dia tidak melakukan apa-apa.

Itu yang membuatku memperhatikan.

Dia tidak menghampiri. Dia tidak memanggil. Dia tidak berkata “sini, nggak apa-apa.”

Dia melanjutkan apa yang sedang dia lakukan, membagikan kotak, membiarkan Puti memanjat punggungnya, mengoreksi seseorang soal hari apa kemarin.

Dan pelan-pelan, tanpa kelihatan, dia bergeser.

Setengah meter. Lalu setengah meter lagi.

Sepuluh menit kemudian dia duduk di lantai teras sekitar dua meter dari pintu, membelakangi Ical, sambil membetulkan roda mobil-mobilan yang dibawakan seseorang.

Dia tidak menoleh sekali pun.

Dan Ical berjalan keluar dari ambang pintu, dan berdiri di sebelahnya, dan menonton.

Dan lalu duduk.

Dan Arga menyerahkan roda itu ke tangannya tanpa mengatakan apa-apa, dan Ical memasangnya, dan itu saja.

Aku keluar ke halaman dan berdiri di sana selama dua menit.


Bu Nur menemukanku di halaman.

“Kenapa, Neng?”

“Nggak apa-apa, Bu.”

Beliau melihat ke dalam, ke teras, ke dua orang yang sedang membetulkan mobil-mobilan.

“Oh,” kata beliau.

“Ical baru ya, Bu?”

“Tiga minggu.” Bu Nur melipat tangannya. “Belum mau ngomong sama siapa-siapa.”

“Sama sekali?”

“Sama Ibu udah, dikit. Sama anak-anak belum.”

Aku memandangi teras itu.

“Bu.”

“Iya?”

“Kak Arga tau?”

Dan Bu Nur menoleh ke arahku dengan wajah bingung yang tulus.

“Tau apa?”

“Tau kalau Ical belum mau ngomong sama siapa-siapa.”

“Ya nggak,” kata beliau. “Ibu belum sempet cerita.”

Aku menoleh kembali ke teras.

Dan Bu Nur berdiri di sebelahku, dan setelah beberapa detik beliau berkata:

“Oh.”

Cuma itu.

Kami berdiri di halaman itu berdua sampai anak-anak dipanggil makan malam.


Kami pulang jam setengah tujuh.

Dan di depan toko — di trotoar, di bawah tenda kain bergaris yang sudah pudar jadi merah muda pucat — aku berhenti.

“Ga.”

“Hm?”

“Aku mau ngitung.”

Dia menegang seluruhnya.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

“Alesha, ini di depan—”

“Lima.”

“—toko.”

“Empat.”

Dia melihat ke pintu kaca. Bunda Ratih sedang membereskan etalase di dalam, membelakangi kami.

“Tiga.”

“Alesha.”

“Dua.”

Dan dia menoleh ke arahku, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat selama enam hari terakhir.

Dia tidak panik.

Dia sedang memutuskan.

“Satu,” kataku.

Dan dia membuka mulutnya.

Dan dia bilang:

“Aku—”

Dan berhenti.

Dan aku menunggu.

Dan setelah tiga detik, dia menutup matanya, dan menghela napas, dan seluruh bahunya turun.

“Nggak bisa,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Alesha, aku beneran—”

“Ga.”

“Aku hampir. Aku hampir banget.”

“Aku tau.”

Dan aku menaruh kedua tanganku di depan seragamnya dan menariknya turun sedikit, karena dia terlalu tinggi dan aku tidak sabar.

“Nunduk.”

“Kenapa?”

“Nunduk aja.”

Dia menunduk.

Dan aku mencium keningnya.


Aku merasakan seluruh tubuhnya berhenti.

Bukan menegang. Berhenti — seperti mesin yang dimatikan.

Aku menahannya di situ sekitar tiga detik.

Lalu aku melepaskannya dan mundur setengah langkah.

“Hadiah hiburan,” kataku.

Dia tidak bicara.

Dia berdiri di trotoar depan toko orang tuanya, memegang setang sepedanya dengan satu tangan, dan menatapku dengan ekspresi yang tidak ada namanya.

“Ga?”

Tidak ada jawaban.

“Arganta.”

Dia mengerjap.

“Hah?”

“Kamu masih di situ nggak?”

“...Iya.”

“Kamu yakin?”

“Nggak.”

Dan aku tertawa, dan dia masih tidak bergerak, dan sepedanya miring karena tangannya lupa memegang dengan benar.

Dan di detik itu — persis di detik itu — pintu kaca toko terbuka.


“NENG ALESHA.”

Aku melompat mundur satu meter.

Bunda Ratih berdiri di ambang pintu dengan lap di tangan dan wajah yang tidak bisa kubaca sama sekali.

“Bu—” kataku.

“Udah dari tadi ya di luar?”

“Baru, Bu.”

“Baru?”

“Baru banget.”

“Oh.” Beliau mengangguk. “Ibu kira dari tadi.”

Dan aku ingin lantai membuka.

“Masuk dulu, Neng. Ibu bikinin teh.”

“Nggak usah, Bu—”

“Masuk.”

“Iya, Bu.”

Dan waktu aku lewat, Bunda Ratih menahan lenganku sebentar dan berkata, dengan suara yang jelas-jelas dia usahakan pelan tapi sama sekali tidak pelan:

“Dia belum pernah kayak gitu lho, Neng.”

“Bu—”

“Ibu lihat dari kaca.”

“BU.”

Dan dari trotoar, dengan suara yang sangat, sangat kecil, ada yang berkata:

“Bu Ratih.”

“IYA?”

“Nggak apa-apa.”


Aku pulang jam delapan.

Dia mengantarku sampai depan pagar seperti biasa, dan tidak mengatakan apa-apa sepanjang jalan, dan aku membiarkannya.

Di depan pagar, dia berhenti.

“Alesha.”

“Hm?”

“Besok masih ngitung?”

Aku menoleh.

“Kamu mau?”

Dan dia berkata, sambil memandangi setang sepedanya:

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan Arganta Bhumi mengangkat wajahnya dan menjawab dengan kalimat yang aku simpan sampai sekarang:

“Karena aku pengen suatu hari kamu ngitung terus nggak sampai satu.”


Aku masuk rumah dan aku duduk di lantai kamarku dengan punggung ke pintu selama sepuluh menit.

Lalu aku membuka buku catatanku.

Dan aku menulis satu hal, di halaman baru, bukan di daftar bukti, bukan di halaman terbalik di belakang.

Cuma satu kalimat, dan aku menulisnya karena aku takut aku akan lupa persis bentuknya.

Dia nggak nolak.

Dia lagi belajar.

Aku menutup bukunya.

Dan aku berbaring di kasur dan berpikir tentang seorang anak delapan tahun yang berdiri di ambang pintu, dan seseorang yang bergeser setengah meter dua kali tanpa menoleh sekali pun, dan bagaimana orang itu tidak pernah tahu bahwa yang dia lakukan itu punya nama.

Dan aku berpikir: mungkin memang begitu caranya.

Mungkin kamu tidak bisa memanggil orang keluar dari ambang pintu.

Kamu cuma bisa duduk dua meter di depannya, membelakangi, dan membetulkan roda mobil-mobilan sampai dia datang sendiri.

Dan aku tertidur sambil memikirkan itu, dan aku bangun keesokan paginya dan menghitung mundur dari lima lagi, dan dia gagal lagi di hitungan satu.

Dan aku bilang “besok lagi.”

Dan besoknya lagi.

Dan besoknya lagi.