Chapter Thirty Five
Bab 35: Nama
POV: Arga
Aku menyusun kalimatnya semalaman.
Aku mulai jam sebelas, setelah Ibu naik ke atas, dan aku masih di dapur jam tiga pagi waktu adonan pertama harus diuleni.
Tiga puluh dua versi.
Aku tidak melebih-lebihkan. Aku menghitungnya, karena aku menghitung semuanya.
Versi pertama terlalu panjang. Versi ketujuh terlalu menyalahkan diri sendiri — kalau aku menyalahkan diri sendiri, dia akan membantah, dan kalau dia membantah, dia menang, karena dia selalu menang kalau ada yang bisa dibantah.
Versi kelima belas menyebutkan ibunya. Aku membuangnya karena kalau aku menyebutkan ibunya, dia akan marah pada ibunya, dan itu akan berlangsung bertahun-tahun.
Versi kedua puluh sembilan yang paling dekat.
Aku mengulanginya sampai jam tiga.
Aku mengulanginya sambil menguleni. Aku mengulanginya sambil memanaskan oven. Aku mengulanginya sambil menyusun loyang, dan aku mengulanginya cukup sering sampai kata-katanya berhenti punya arti, yang mana adalah tujuannya.
Kalau kata-katanya punya arti, aku tidak akan bisa mengucapkannya.
Dia datang jam empat sore.
Seperti tiap hari selama enam belas hari.
Bel pintu berbunyi dua nada. Aku mendengar Ibu menyapanya di depan. Aku mendengar dia bilang “sore, Bu” dan aku mendengar Ibu bilang sesuatu yang tidak jelas dan aku mendengar dia tertawa.
Dia tertawa.
Aku berdiri di depan meja stainless dengan kedua tangan di adonan dan aku mendengar orang itu tertawa di ruangan sebelah dan aku mengulangi versi kedua puluh sembilan di kepalaku untuk yang terakhir kalinya.
Lalu tirai plastik tersibak.
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu udah makan?”
“Udah.”
“Bohong.”
“Udah, Alesha.”
Dan dia menaruh tasnya di kursi plastik sudut — kursi dia, yang sudah delapan bulan jadi kursi dia — dan berjalan ke arahku dan menarik ujung apronku.
“Ga.”
“Apa.”
“Aku mau yang cokelat.”
“Nanti.”
“Sekarang.”
“Alesha.”
“Sekaraaang.”
Dan dia menarik apronku lagi, dua kali, dengan cara yang sudah dia lakukan mungkin dua ratus kali dalam enam bulan terakhir dan yang selalu berhasil.
Dan aku memberikan satu potong kue cokelat dari nampan yang seharusnya untuk pesanan.
Dia memakannya di sebelahku, berdiri, sambil bicara tentang ulangan Fisika dan tentang Kenzo yang mendapat nilai empat puluh dua dan tentang Callys yang mengomelinya selama dua puluh menit di kantin.
Aku mendengarkan.
Aku mendengarkan semuanya, karena aku selalu mendengarkan semuanya, dan karena aku tahu ini yang terakhir.
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu diem banget.”
“Aku emang diem.”
“Diem yang beda.”
Dan dia berdiri di sebelahku dan menoleh ke arahku dan aku tidak menoleh balik.
“Ga.”
“Hm.”
“Sidangnya hari Kamis kan?”
“Iya.”
“Aku udah nyiapin semuanya.” Dia menaruh piringnya. “Aku udah nyusun kronologinya. Aku udah print empat puluh tujuh postingannya. Aku bikin tabel jam unggahnya, sama—”
“Alesha.”
“—sama aku minta Callys buat nanya Puspa, kalau dia mau—”
“Alesha.”
Dia berhenti.
Dan aku menaruh adonan itu, dan mengelap tanganku ke apron, dan aku merasakan seluruh tiga puluh dua versi itu hilang dari kepalaku sekaligus.
Semuanya.
Aku berdiri di dapur itu dengan tangan yang sudah dilap dan tidak ada satu pun kalimat yang tersisa.
“Ga?”
Dan aku menoleh ke arahnya.
Dan dia sedang menatapku dengan wajah yang sudah mulai berubah — bukan takut, belum takut, cuma bingung — dan rambutnya lepas di satu sisi seperti biasa karena dia selalu mengikatnya terlalu longgar, dan ada remah kue di sudut bibirnya.
Dan aku memikirkan sesuatu yang tidak boleh kupikirkan.
Aku memikirkan: dia nunggu.
Enam bulan dia menghitung mundur dari lima. Tiap hari. Tanpa marah sekali pun.
Karena aku pengen suatu hari kamu ngitung terus nggak sampai satu.
Dan aku berdiri di dapur itu dan aku tahu — dengan sangat jelas, dengan seluruh kesadaran — bahwa aku punya dua kalimat di dadaku dan aku cuma bisa mengeluarkan satu.
“Alesha.”
“Iya?”
Dan aku berkata:
“Aku nggak mau namamu kotor karena aku.”
Dia tidak langsung bereaksi.
Itu bagian yang tidak kuduga.
Aku sudah menyiapkan diri untuk teriakan. Aku sudah menyiapkan diri untuk dia marah, untuk dia membantah, untuk dia menyebutkan tiga belas alasan kenapa aku salah.
Yang terjadi: dia diam.
Dan aku melihat wajahnya berubah — pelan sekali, seperti sesuatu yang tenggelam — dan aku melihat momen persisnya.
Momen ketika dia sadar kalimat apa yang baru saja dia terima.
Dan kalimat apa yang tidak.
“Ga.”
“Aku udah mikirin ini lama.”
“Ga—”
“Ibu kamu bener.” Aku berbalik ke meja. “Semuanya bener. Aku udah ngecek satu-satu dan nggak ada yang salah.”
“Aku nggak nanya soal Ibu aku.”
“Alesha—”
“Aku nanya kamu ngomong apa barusan.”
Dan aku memegang pinggiran meja stainless dan aku tidak menoleh.
“Kamu udah denger,” kataku.
Hening.
Kipas exhaust berputar dengan bunyi seperti orang batuk.
“Enam bulan,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Enam bulan aku ngitung mundur, Ga.”
Aku tidak menjawab.
“Tiap hari.” Suaranya masih pelan. Itu yang paling buruk. “Aku nggak pernah marah sekali pun. Aku nggak pernah maksa. Aku bilang besok lagi, terus besoknya lagi, terus besoknya lagi.”
Aku memegang pinggiran meja lebih keras.
“Dan yang akhirnya keluar,” katanya, “itu.”
Aku ingin menuliskan bagian ini dengan jujur.
Ini bagian yang aku putar ulang paling sering, selama bertahun-tahun, dan tiap kali aku memutarnya aku berharap ada satu detik di mana aku bisa masuk dan mengubah sesuatu.
Aku bisa berbalik.
Itu saja. Aku cuma perlu berbalik.
Aku tidak berbalik.
Aku berdiri menghadap meja stainless dengan kedua tangan memegang pinggirannya dan aku tidak berbalik, karena aku tahu kalau aku melihat wajahnya, aku akan mengucapkan kalimat yang satunya.
Dan kalau aku mengucapkan kalimat yang satunya, seluruh tiga puluh dua versi itu jadi sia-sia.
“Alesha,” kataku.
“Jangan.”
“Kamu jalur prestasi.”
“Jangan, Ga.”
“Rekomendasinya ditandatanganin kepala sekolah.”
“BERHENTI.”
Dan dia berteriak, sekali, dan aku merasakan seluruh tubuhku ingin berbalik.
Aku tidak berbalik.
Dia diam lama sekali setelah itu.
Aku mendengar dia menarik napas dua kali dengan cara yang salah.
Lalu dia bertanya.
Satu pertanyaan. Pendek. Dan aku sudah menyiapkan jawaban untuk tiga puluh dua versi kalimat pembuka tapi aku tidak menyiapkan jawaban untuk ini.
“Kamu sayang aku nggak?”
Aku tidak menjawab.
Aku ingin mencatat itu dengan sangat jelas, karena aku sudah membaca ulang seluruh hidupku sampai titik itu dan aku tidak menemukan satu pun hal yang lebih buruk yang pernah kulakukan.
Aku tidak menjawab.
Bukan karena aku tidak tahu jawabannya.
Karena aku tahu bahwa kalau aku menjawab, dia tidak akan pergi.
Dan dia harus pergi.
Aku mendengar dia mengambil tasnya dari kursi plastik.
Aku mendengar resletingnya. Aku mendengar dia menaruh sesuatu di meja — aku tidak tahu apa, aku tidak berbalik, aku baru melihatnya empat jam kemudian dan itu adalah piring bekas kue cokelat yang sudah dia cuci.
Dia mencuci piringnya.
Dia berdiri di dapur itu, setelah semua itu, dan mencuci piringnya, karena dia selalu mencuci piringnya di rumah ini sejak bulan kedua karena Ibu pernah bilang sekali bahwa itu tidak perlu dan dia tetap melakukannya.
Lalu langkah kaki.
Lalu tirai plastik.
Lalu suara Ibu di depan, menyapa, bertanya sesuatu.
Lalu suara dia menjawab — pendek, dua kata, aku tidak bisa mendengar apa.
Lalu bel pintu berbunyi dua nada.
Lalu tidak ada apa-apa.
Aku menyalakan oven.
Aku menimbang tepung. Empat ratus gram.
Aku menimbang gula. Seratus delapan puluh.
Aku memecahkan telur ke mangkuk. Empat butir. Aku memeriksa apakah ada cangkang yang jatuh, seperti biasa, dan tidak ada.
Aku mencampur.
Aku menguleni delapan menit. Aku menghitung waktunya seperti biasa. Tidak kurang, tidak lebih — adonan yang terlalu lama diuleni jadi keras.
Aku menutupnya dengan kain dan mendiamkannya empat puluh lima menit.
Aku mencuci mangkuk. Aku mengelap meja. Aku menyusun loyang.
Aku melihat jam.
Jam lima kurang sepuluh.
Empat puluh lima menit lagi sebelum adonannya siap.
Aku mencuci mangkuk yang sudah kucuci.
Kenzo datang jam enam.
Aku mendengar sepedanya di depan. Aku mendengar dua sepeda.
Aku mendengar suara Ibu, dan suara Kenzo yang tidak menjawab, yang mana adalah hal pertama yang salah, karena Kenzo selalu menjawab Ibu dengan tiga kalimat.
Lalu tirai plastik tersibak.
Dia berdiri di ambang pintu dapur.
Jovan di belakangnya.
Dan Kenzo tidak berteriak.
Itu bagian yang paling tidak kuduga. Aku sudah menyiapkan diri untuk teriakan sejak aku mendengar sepedanya.
Dia berdiri di ambang pintu dan berkata, dengan suara biasa:
“Lo ngomong apa ke dia?”
Aku terus menyusun loyang.
“Ga.”
“Kamu tau.”
“Gue nanya lo ngomong apa.”
“Zo—”
“GUE NANYA LO NGOMONG APA.”
Dan dia meledak.
Bukan pelan-pelan. Tidak ada tangga naiknya. Dari suara biasa ke teriakan dalam satu kalimat.
“DIA NANGIS DI HALTE, GA.”
Aku menaruh loyang.
“Dua jam. Dua jam dia duduk di halte terus Callys nemuin dia terus dia nggak mau ngomong sepatah kata pun sampai jam setengah enam.”
Aku tidak berbalik.
“Terus dia bilang lo ngomong apa,” kata Kenzo, “dan gue naik sepeda ke sini, dan gue mikirin sepanjang jalan gimana caranya gue nggak marah.”
Aku mendengar dia melangkah masuk.
“Terus gue sampe sini dan lo lagi nyusun loyang.”
“Zo,” kata Jovan.
“Nggak, Van.”
“Zo.”
“NGGAK.”
Dan aku berbalik.
Kenzo berdiri di tengah dapur tiga kali empat meter itu dengan wajah yang belum pernah kulihat selama lima tahun.
Tangannya gemetar.
“Lo tau nggak kenapa gue marah?” katanya.
“Zo—”
“Bukan gara-gara Alesha.”
Dia melangkah maju.
“Gue marah karena gue udah pernah lihat ini.”
“Kelas sepuluh,” katanya. “Puspa.”
“Zo.”
“Lo ngomong apa ke dia waktu itu?”
Aku tidak menjawab.
“Lo nggak ngomong apa-apa,” kata Kenzo. “Lo nggak ngomong apa-apa dan lo pindah duduk dan dua minggu kemudian dia pindah kelas.”
“Itu beda.”
“ITU SAMA.”
Dan dia berteriak, dan aku mendengar sesuatu bergerak di ruangan depan, dan aku tahu Ibu berdiri di sana.
Aku tahu Ibu berdiri di ambang pintu depan, di balik tirai, dan mendengar semuanya.
Aku tahu itu karena aku bisa melihat bayangannya lewat celah tirai plastik.
Dan aku tahu Ibu tidak akan masuk.
“Gue mau cerita sesuatu,” kata Kenzo.
“Zo, jangan.”
“Gue mau cerita sesuatu, Ga.”
“Zo—”
“Ada gang di belakang stasiun,” katanya.
Dan aku merasakan seluruh isi dadaku turun.
“Zo, jangan.”
“Bulan November. Jam setengah delapan malem.”
“Kenzo—”
“Ada anak kelas tiga SMP yang dipojokin ke tembok sama tiga orang,” katanya, dan suaranya sudah pecah, “dan dia nutup mata, dan dia pasrah, dan terus ada orang masuk ke gang itu.”
Aku memegang pinggiran meja.
“Dia nggak kenal gue,” kata Kenzo. “Beda sekolah. Beda kelurahan. Nol.”
Dia melangkah maju lagi.
“Dan dia berdiri di depan gue,” katanya. “Punggungnya di depan muka gue. Dan tiap gue gerak, dia gerak. Gue ke kiri, dia ke kiri.”
Air matanya sudah jatuh dan dia tidak menyekanya.
“Gue manggil dia. Gue bilang ‘Bang, udah, gue lari aja.’”
Dia menunjuk.
“Dia bilang apa, Ga?”
Aku tidak menjawab.
“DIA BILANG APA?”
Dan aku berkata, dan suaraku hampir tidak ada:
“Jangan.”
“Iya,” kata Kenzo. “‘Jangan.’”
Dia menurunkan tangannya.
“Sampai punggungnya sobek, dia nggak minggir.”
Dapur itu jadi sangat sunyi.
Kipas exhaust berputar.
“Delapan jahitan,” kata Kenzo. “Gue ngitung dari pintu. Gue nggak diizinin masuk.”
Dia menarik napas dengan cara yang patah.
“Dan gue tanya namanya jam sebelas malem, dan dia bilang Arga, terus dia nanya tas gue ketemu apa nggak.”
Dia berdiri di tengah dapur.
Dan dia berkata:
“Sekarang lo minggir.”
Aku tidak membantah.
Aku ingin mencatat itu bukan sebagai pembelaan. Aku mencatatnya karena itu yang terjadi.
Aku tidak membantah satu kata pun, karena tidak ada satu kata pun yang salah.
“Gue nggak minta lo ngelakuin apa-apa,” kata Kenzo. “Gue nggak minta lo berantem. Gue nggak minta lo bela diri di sidang. Gue nggak peduli sama sidangnya.”
Dia menyeka wajahnya dengan lengan, kasar, sekali.
“Gue cuma minta lo jangan pindah ke kiri.”
Aku menutup mataku.
“Lo ngerti nggak?” katanya. “Lo geser satu langkah ke kiri buat ngasih jalan keluar ke anak kelas sepuluh yang lo nggak kenal.”
Suaranya turun.
“Terus lo pake gerakan yang sama ke orang-orang yang sayang sama lo.”
Kenzo berhenti bicara setelah itu.
Dia berdiri di tengah dapur dengan bahu naik turun, dan tidak mengatakan apa-apa lagi, dan setelah beberapa detik dia berbalik dan berjalan ke ambang pintu dan berdiri di situ membelakangi kami.
Dan Jovan melangkah masuk.
Dia melepas kacamatanya.
Dia mengelapnya dengan ujung hoodie. Dia memakainya lagi.
Dan dia berkata, pelan:
“Sembilan belas hari kamu duduk di teras rumahku.”
Aku memegang pinggiran meja.
“Nggak ngetok. Nggak ngomong. Cuma duduk.”
Aku menunduk.
“Hari kesembilan belas hujan,” katanya. “Terasnya kecil. Setengah badan kamu di luar.”
Dia berdiri di tengah dapur itu, dan tidak menaikkan suaranya sekali pun, dan itu jauh lebih buruk daripada teriakan Kenzo.
“Aku buka pintu di hari kedua puluh,” kata Jovan. “Bukan karena aku udah baikan.”
Dia menatapku.
“Karena aku tau kamu bakal balik lagi besoknya.”
Hening.
“Kamu selalu balik, Ga.”
Aku tidak bisa mengangkat kepalaku.
Dan Jovan Arsakha — yang bicara satu sampai lima kata, yang tidak pernah menyentuh siapa pun, yang mencatat skor pertengkaran orang di buku tulisnya —
berkata:
“Sekarang aku yang nungguin kamu buka pintu.”
Dia berhenti.
“Dan aku nggak yakin kamu bakal balik.”
Mereka pergi jam tujuh kurang.
Kenzo tidak menoleh. Jovan berhenti sebentar di ambang pintu, seperti orang yang mau mengatakan sesuatu, lalu tidak jadi.
Aku mendengar dua sepeda di depan.
Aku mendengar Ibu tidak mengatakan apa-apa waktu mereka lewat.
Aku mendengar bel pintu berbunyi dua nada.
Lalu tidak ada apa-apa.
Aku membuka kain penutup adonan.
Sudah lewat. Delapan puluh menit, bukan empat puluh lima. Adonannya sudah mengembang terlalu jauh dan teksturnya sudah salah dan aku bisa tahu itu cuma dengan menyentuhnya.
Aku membuangnya.
Aku menimbang tepung lagi. Empat ratus gram.
Gula seratus delapan puluh.
Empat butir telur.
Aku menguleni delapan menit dan aku menghitung waktunya dan aku tidak lebih dari delapan menit.
Aku menutupnya dengan kain.
Aku menyalakan timer.
Ibu masuk jam delapan.
Beliau tidak mengatakan apa-apa selama beberapa menit. Beliau cuma mengambil lap dan mulai mengelap rak yang sudah bersih.
Kami bekerja seperti itu selama mungkin sepuluh menit.
Lalu beliau berkata:
“Ga.”
“Iya, Bu.”
“Ibu denger.”
“Iya, Bu.”
Dan Ibu terus mengelap rak, dan berkata:
“Ibu nggak masuk.”
“Iya, Bu.”
“Ibu berdiri di situ setengah jam dan Ibu nggak masuk.”
Aku memegang pinggiran meja.
“Nggak apa-apa, Bu.”
Dan Bunda Ratih berhenti mengelap.
“Ga,” kata beliau. “Ibu mau kamu tau kenapa Ibu nggak masuk.”
Aku tidak menjawab.
“Karena Ibu nggak punya kalimatnya,” kata beliau.
Beliau menggantung lapnya.
“Ibu udah lima tahun nyari kalimatnya dan Ibu belum nemu.”
Beliau naik ke atas.
Aku menyelesaikan pesanan jam setengah sebelas.
Empat puluh kotak untuk hajatan di Jalan Kenanga besok pagi. Delapan kotak untuk toko. Satu kotak untuk pesanan kecil yang diambil sore.
Aku menyusunnya di rak.
Tanganku tidak berhenti sekali pun sepanjang malam itu. Aku ingin mencatat itu, karena itu satu-satunya hal yang bisa kucatat.
Ponselku bergetar jam sebelas kurang.
Bu Nur.
Nak, Jumat besok jadi datang?
Ical nanyain terus.
Aku memegang ponsel itu dengan tangan yang masih berbau tepung.
Aku membacanya empat kali.
Aku tidak membalas.
Aku mematikan lampu dapur jam sebelas lewat.
Dan waktu aku mau naik, aku berhenti di depan rak.
Aku menghitung kotaknya.
Empat puluh untuk hajatan. Delapan untuk toko. Satu untuk pesanan sore.
Empat puluh sembilan.
Ada lima puluh.
Aku menghitungnya lagi. Dua kali.
Lima puluh.
Aku berdiri di depan rak itu cukup lama, mencoba mengingat pesanan mana yang kulupa, dan aku tidak bisa mengingat satu pun.
Aku biarkan saja di situ.
Aku mematikan lampunya.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama reading
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama