← Bangku Sebelah

Chapter Eleven

Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar

POV: Alesha


Aku tidak tidur sampai jam dua pagi, dan bukan karena cemas.

Aku berbaring menatap langit-langit sambil memikirkan satu hal berulang-ulang, dan hal itu adalah: aku boleh.

Selama tiga puluh sembilan hari aku menahan diri tanpa sadar sedang menahan diri. Aku tidak boleh terlalu dekat karena nanti dia menjauh. Aku tidak boleh terlalu banyak bertanya karena nanti dia menutup. Aku sudah menyusun seluruh cara berinteraksi dengan orang ini seperti orang menyeberangi es tipis.

Sekarang esnya sudah kupijak dan tidak retak.

Aku sampai sekolah jam setengah tujuh dengan energi yang menurutku secara ilmiah tidak masuk akal untuk orang yang tidur empat jam.

Dan aku berdiri di gerbang.

Bukan masuk. Berdiri, di sisi dalam gerbang, di sebelah pos Pak Sudir, sambil memainkan tali tas.

Pak Sudir melihatku. “Nunggu jemputan, Neng?”

“Nunggu orang, Pak.”

“Oh.” Beliau mengangguk. Lalu, tiga detik kemudian, mengangguk lagi dengan cara yang berbeda. “Oh.”

Aku tidak menanggapi itu.

Jam enam empat puluh dua, dia datang dari arah timur.

Dia melihatku dari jarak dua puluh meter, dan aku melihat seluruh urutan ekspresinya dari jarak itu: mengenali, lalu bingung, lalu memeriksa sekeliling seolah aku mungkin sedang menunggu orang lain, lalu — waktu dia sampai sekitar sepuluh meter dan aku melambaikan tangan — panik.

Dia berhenti.

Betul-betul berhenti, di tengah trotoar, dengan orang-orang lewat di kedua sisinya.

“Pagi,” kataku.

“...Pagi.”

“Portalnya belum macet?”

Dia menoleh ke portal. Lalu ke aku. Lalu ke portal lagi.

“Belum.”

“Ya udah, aku tungguin.”

Dan dia mengangkat portal itu bersama Pak Sudir sambil mencuri lihat ke arahku setiap tiga detik seperti orang yang takut aku menghilang kalau tidak diawasi, dan Pak Sudir — yang sudah dua tahun melakukan ini dengan dia dalam sebelas detik hening — kali ini membutuhkan sembilan belas detik dan tersenyum sepanjang waktu itu.


“Kamu nggak perlu nungguin aku di gerbang,” katanya di tangga.

“Aku mau.”

“Nanti orang—”

“Arganta.”

Dia berhenti.

Aku berhenti juga, satu anak tangga di atasnya, dan berbalik.

“Kita udah bahas itu kemarin,” kataku.

“Aku tau.”

“Terus?”

Dia mengelap tangannya ke celana. “Aku cuma— refleks.”

Dan aku memutuskan, di anak tangga itu, jam enam lewat lima puluh, bahwa refleks itu tidak akan hilang kalau aku menunggu.

Jadi aku turun satu anak tangga.

Dia mundur setengah langkah.

Aku turun lagi.

Dia mundur lagi, dan punggungnya kena pegangan tangga, dan dia tidak punya tempat mundur lagi.

“Alesha.”

“Hm?”

“Kenapa kamu—”

“Aku cuma berdiri.”

“Kamu berdiri deket banget.”

“Empat puluh senti.”

“Itu deket.”

“Kemarin kita pegangan tangan.”

“ITU BEDA.”

Dia mengatakannya cukup keras sampai ada anak kelas sepuluh yang sedang naik tangga berhenti, memutuskan bahwa ini bukan urusannya, dan lewat dengan sangat cepat.

Aku melihat telinganya. Aku menghitung dalam hati.

Empat detik.

“Empat detik,” kataku.

“Apa?”

“Kuping kamu.”

Dia menutup telinganya dengan satu tangan, yang mana gerakan paling tidak efektif sedunia, dan langsung sadar itu, dan menurunkan tangannya lagi.

Aku tertawa sepanjang sisa tangga.


Kelas sudah setengah penuh waktu kami masuk.

Dan kelas langsung tahu.

Aku tidak tahu bagaimana. Kami masuk dengan jarak normal. Kami tidak pegangan tangan. Aku bahkan sengaja masuk duluan tiga detik.

Tapi ada dua puluh empat pasang mata di ruangan itu dan semuanya sudah menghabiskan tiga puluh sembilan hari memperhatikan sudut kanan belakang, dan mereka membaca sesuatu di cara kami berjalan yang aku sendiri tidak sadar sedang kami lakukan.

Suara kelas turun setengah oktaf.

Kenzo berdiri dari kursinya seperti orang kesetrum.

“EH.”

“Duduk, Zo,” kata Jovan tanpa mengangkat kepala.

“NGGAK BISA.”

“Bisa.”

“Van, lo lihat nggak sih—”

“Aku lihat kemarin. Kamu juga lihat kemarin.”

“IYA TAPI SEKARANG PAGI.”

Aku duduk. Arga duduk.

Dan Kenzo, yang masih berdiri, perlahan-lahan duduk kembali sambil menatap kami berdua dengan ekspresi orang yang sedang menyaksikan hukum fisika dilanggar.


Yang terjadi sepanjang hari itu bisa kuringkas jadi satu kalimat: aku menemukan mainan baru dan mainan itu tingginya seratus delapan puluh enam sentimeter.

Aku minta pinjam penghapus, padahal punyaku ada. Dia memberikannya. Aku bilang terima kasih. Kupingnya merah.

Aku bergeser dua sentimeter ke kanan — mengembalikan dua sentimeter yang dulu dia geser. Dia tidak bergeser balik. Tapi bahunya tegang selama dua puluh menit.

Waktu jam ketiga, aku menaruh daguku di atas tangan dan menoleh ke arahnya dan menatapnya tanpa berkedip.

Dia bertahan sembilan detik.

“Kenapa,” katanya, masih menghadap depan.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu ngeliatin.”

“Boleh?”

Jeda.

“...Boleh.”

“Ya udah.”

Dia tidak bertahan tiga puluh detik lagi. Dia mengambil bukunya, membukanya di halaman acak, dan mulai membaca sesuatu yang jelas-jelas bukan pelajaran hari itu.

Aku merasa sangat, sangat puas.


Puncaknya jam keempat.

Bu Retno keluar sebentar meninggalkan tugas. Kelas langsung ribut. Dan aku, karena aku sudah punya izin resmi sejak kemarin sore, condong ke arahnya dan bicara pelan di dekat telinganya.

“Ga.”

Dia melonjak.

Betul-betul melonjak. Kursinya berbunyi.

“Kenapa?” tanyaku, sepolos mungkin.

“Kamu—” Dia menoleh, dan wajahnya sudah merah sampai ke pelipis. “Jangan gitu.”

“Gitu gimana?”

“Yang barusan.”

“Aku cuma manggil.”

“Kamu manggil deket kuping.”

“Aku nggak mau kedengeran orang.”

“Kamu bisa manggil biasa.”

“Nanti kedengeran.”

“ALESHA.”

Setengah kelas menoleh.

Dan aku duduk di sudut kanan belakang dengan wajah paling tidak bersalah yang bisa kuproduksi, sementara di sebelahku ada orang seukuran lemari yang sedang mengelap tangannya ke celana untuk kesekian kalinya hari itu.

“Kenapa kamu manggil aku Ga?” tanyanya akhirnya, pelan.

“Karena Arganta kepanjangan.”

“Semua orang manggil Arga.”

“Aku bukan semua orang.”

Dia diam.

Lalu, sangat pelan, ke arah bukunya:

“Iya.”


Kenzo menghadangku di kantin waktu istirahat, tanpa Jovan, dengan wajah orang yang sudah menyimpan sesuatu sejak jam tujuh pagi.

“Alesha.”

“Kenzo.”

“Kamu tau nggak lo— eh, kamu. Kamu tau nggak kamu ngapain.”

“Aku tau.”

“Nggak. Kamu nggak tau.” Dia menunjuk ke arah kantin, ke arah meja tempat Arga duduk membelakangi kami. “Orang itu.”

“Kenapa?”

“Dia SD nggak pernah pegangan tangan sama siapa-siapa.”

“Ya iyalah, SD.”

“Aku serius.” Kenzo menggosok wajahnya. “Kelas sepuluh dia pernah nanya ke aku — serius, dia nanya ini ke aku, dan aku inget persis karena aku ketawa selama lima menit terus dia marah — dia nanya, ‘kalau cewek ngomong sambil senyum itu artinya apa.’”

Aku menatapnya.

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku jawab ‘artinya dia lagi senyum, Ga.’” Kenzo mengangkat tangan. “Dia bilang ‘oh’, terus dia nggak nanya apa-apa lagi selama setahun.”

Aku harus duduk.

“Kenzo.”

“Apa.”

“Aku pegang tangannya kemarin dan dia bilang croissant.”

Kenzo membeku.

Lalu dia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara yang tidak bisa kudeskripsikan.

“CROISSANT?”

“Sst—”

“CROISSANT, ALESHA?”

“KENZO.”

Dan dari seberang kantin, tanpa berbalik, tanpa menoleh, punggung yang membelakangi kami berkata dengan suara datar yang jelas terdengar sampai ke sini:

“Aku denger.”

Kenzo langsung menunduk ke meja dan tidak bisa berhenti selama dua menit penuh.


Ada satu hal lagi yang terjadi hari itu, dan aku hampir melewatkannya.

Jam terakhir, waktu Bu Retno sudah keluar dan kelas sedang berkemas, ada anak perempuan dari baris tiga — namanya Rani, aku belum pernah bicara dengannya lebih dari lima kalimat — yang berhenti di sebelah mejaku.

Dia tidak melihat ke arahku. Dia melihat ke arah Arga.

“Ga.”

Arga mengangkat kepalanya.

Dan wajahnya — aku melihat wajahnya, dan itu wajah orang yang sedang bersiap menerima sesuatu yang tidak enak.

“Iya?”

“Tempat pensil aku kemarin.”

Aku merasakan diriku menegang.

“Kenapa?” tanya Arga.

“Yang jatoh terus isinya berhamburan.” Rani memindahkan tasnya ke bahu satunya. “Kamu yang ambilin, kan?”

Hening.

“Bukan,” kata Arga.

“Aku lihat.”

“Bukan aku.”

“Ga.” Rani mengerutkan kening. “Aku lihat dari pintu. Kelasnya kosong, kamu ngumpulin pensilnya, terus kamu taruh di meja aku.”

Arga menutup bukunya.

“Mungkin orang lain.”

Dan Rani menatapnya beberapa detik, dan lalu — ini bagian yang membuatku ingin berteriak — dia mengangkat bahu.

“Ya udah,” katanya. “Ya udah deh.”

Dan dia pergi.

Aku menunggu sampai dia keluar dari kelas.

“Kenapa kamu bohong?”

“Aku nggak bohong.”

“Arganta.”

Dia memasukkan bukunya ke tas.

“Kalau aku bilang iya, dia harus bilang makasih,” katanya. “Terus dia bakal ngerasa nggak enak. Terus besok dia bakal ngerasa harus ngobrol sama aku. Terus lusa dia bakal ngerasa nggak enak lagi karena nggak ngobrol.”

“Itu masalah dia.”

“Itu masalah yang aku bikin.”

Dia menyampirkan tasnya.

“Lebih gampang kalau nggak ada yang tau.”

Dan aku duduk di sudut kanan belakang, memandangi punggungnya, dan aku menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin.

Selama ini aku mengira orang tidak tahu kebaikan Arga karena tidak ada yang melihat.

Tapi ada yang melihat.

Rani melihat. Mungkin sepuluh orang melihat, sepuluh hal berbeda, selama tiga tahun.

Dan setiap kali, dia menyangkalnya.

Bukan orang yang buta.

Dia yang menghapus.


Callys tidak bicara padaku sepanjang hari.

Aku menyadarinya jam pertama. Aku mengabaikannya jam kedua. Jam keempat aku mulai merasa tidak enak, dan jam terakhir aku sudah tidak bisa memikirkan hal lain.

Dia tidak melihat ke arahku. Tidak sekali pun. Waktu aku lewat mejanya, dia sibuk dengan bukunya. Waktu bel istirahat, dia keluar duluan bersama Dira dan tidak menungguku.

Aku mengejarnya sepulang sekolah, di lorong depan ruang guru.

“Callys.”

Dia jalan terus.

“Callysta.”

Dia berhenti.

Dan waktu dia berbalik, wajahnya bukan wajah marah yang biasa. Wajah marah Callys yang biasa itu berisik. Wajah ini diam, dan itu jauh lebih buruk.

“Kamu jadian,” katanya.

“Iya.”

“Kapan?”

“Kemarin.”

“Kemarin.” Dia mengangguk. “Terus kamu cerita ke aku kapan?”

Aku membuka mulut.

Dan aku sadar bahwa aku tidak punya jawaban, karena jawabannya adalah belum, dan alasannya adalah aku takut, dan tidak satu pun dari keduanya boleh kukatakan.

“Aku baru mau—”

“Aku tau dari Vina, Sha.” Suaranya bergetar sedikit, dan dia langsung mengeraskannya. “Vina. Yang aku bahkan nggak suka.”

“Callys, aku—”

“Aku bilang apa waktu itu di halte?” Dia melangkah maju. “Aku bilang aku tetep nggak percaya sama dia, terus kamu bilang apa? Kamu bilang kamu bakal cerita semuanya. Tiap hari kalau perlu.”

“Aku tau.”

“Terus?”

“Aku takut kamu marah.”

“YA AKU MARAH.”

Suaranya memantul di lorong.

Ada dua guru yang keluar dari ruang guru, melihat kami, dan memutuskan untuk lewat.

Callys menarik napas. Dia menutup matanya sebentar.

“Aku marah bukan karena kamu jadian,” katanya, lebih pelan. “Aku marah karena kamu nggak cerita. Itu dua hal beda dan kamu tau itu.”

“Aku tau.”

“Terus kenapa kamu—”

“Karena kalau aku cerita, kamu bakal minta aku mikir lagi.” Aku menatapnya. “Dan aku nggak mau mikir lagi, Callys. Aku udah mikir empat puluh hari.”

Callys menatapku lama sekali.

Dan lalu dia mengatakan hal yang tidak kuduga sama sekali, dan yang belakangan aku sadari adalah hal yang sudah dia simpan sejak minggu pertama.

“Kamu tau nggak,” katanya, “gimana rasanya jadi orang yang selalu salah?”

“Callys—”

“Aku nggak pernah bener sekali pun soal ini.” Dia menghitung dengan jari. “Aku bilang jangan duduk. Kamu duduk. Aku bilang dia bahaya. Kamu bilang aku nggak punya bukti. Aku bilang kamu bakal kenapa-kenapa. Kamu nggak kenapa-kenapa.” Tangannya turun. “Aku salah terus, Sha. Empat puluh hari. Dan sekarang kamu bahkan nggak cerita ke aku.”

Dan aku baru mengerti.

Ini bukan soal Arga.

Ini soal seorang anak perempuan yang sudah menghabiskan enam minggu berdiri di depan pintu untuk menghalangi sesuatu, dan pintunya dibuka dari dalam.

“Callys,” kataku.

“Apa.”

“Kamu nggak salah.”

“Aku salah.”

“Kamu salah soal dia. Kamu nggak salah soal aku.” Aku maju. “Kamu satu-satunya yang khawatir waktu semua orang cuma nonton.”

Rahangnya bergerak.

“Itu nggak ngebantu.”

“Itu ngebantu.”

“Sha, dia—” Callys berhenti. Menutup matanya lagi. “Kamu nggak ngerti. Aku bukan cuma nggak percaya sama dia.”

“Terus?”

Dan Callys membuka matanya, dan matanya merah, dan dia bilang:

“Aku takut kamu jadi kayak Puspa.”

Aku merasakan sesuatu turun di dadaku.

“Kamu kenal Puspa?”

“Sepupu aku.”

Lorong itu jadi sangat sunyi.

“Callys—”

“Dia nangis dua hari di kamar mandi sekolah, terus dua minggu di kamar dia.” Suaranya sudah tidak stabil sama sekali sekarang. “Dan aku ada di situ, Sha. Aku yang ketok pintunya. Aku yang dengerin.”

“Kenapa kamu nggak—”

“Karena kalau aku cerita, kamu bakal nanya siapa yang bikin captionnya.” Callys menyeka matanya dengan lengan seragam, kasar, seperti biasa. “Dan aku nggak tau. Aku nggak tau sampai sekarang. Dan itu yang bikin aku gila.”

Aku mendekat.

Dia mundur.

“Jangan,” katanya. “Aku belum selesai.”

Dia menarik napas.

Dan lalu, di lorong depan ruang guru, jam tiga lewat dua puluh, Callysta Aruna berdiri di depanku dan mengatakan kalimat yang mengakhiri seluruh bagian pertama dari cerita ini.

“Aku nggak bisa gini terus,” katanya. “Aku nggak bisa jadi orang yang kamu takutin buat dikasih tau.”

“Callys—”

“Jadi aku mau kamu pilih.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Kamu pilih.” Dia menatapku lurus, dan air matanya sudah jatuh dan dia tidak menghapusnya lagi. “Aku bukan minta kamu putus. Aku nggak sejahat itu.”

“Terus apa?”

“Aku minta kamu pilih siapa yang kamu cerita duluan.”

Dan dia berbalik, dan jalan ke ujung lorong, dan berhenti di pintu.

“Besok aku nggak duduk sama Dira,” katanya tanpa menoleh. “Aku pindah ke depan.”

Lalu dia pergi.


Aku berdiri di lorong itu sampai bel terakhir berbunyi.

Lalu aku jalan ke kelas, dan kelas sudah kosong kecuali satu orang di sudut kanan belakang yang jelas-jelas sedang menunggu dan jelas-jelas berpura-pura tidak.

Dia melihat wajahku dan langsung berdiri.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Alesha.”

“Beneran nggak apa-apa.”

Dan dia melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan.

Dia tidak bertanya lagi.

Dia mengambil tasku dari mejaku, menyampirkannya ke bahunya sendiri, dan berdiri di sebelahku.

“Ayo,” katanya.

“Ke mana?”

“Nggak ke mana-mana.”

Dan kami jalan keluar dari kelas, dan menyusuri koridor, dan turun tangga, dan keluar gerbang, dan dia tidak bertanya apa pun sepanjang jalan.

Di halte, waktu angkotku datang, aku bilang:

“Ga.”

“Hm?”

“Kalau nanti ada yang harus aku pilih—”

“Pilih dia,” katanya.

Aku menoleh.

Dia tidak melihatku. Dia melihat ke arah angkot.

“Kamu nggak tau siapa yang aku maksud.”

“Nggak usah tau.” Dia menyerahkan tasku. “Kalau kamu sampai harus mikir, berarti dia penting.”

Aku naik angkot.

Dan dari jendela, aku lihat dia berdiri di halte sampai angkotnya belok, dan aku menangis sepanjang jalan pulang, dan aku tidak yakin karena yang mana.