Chapter Three
Bab 3: Tiga Kali
POV: Alesha
Buku catatanku ukurannya sebesar telapak tangan, sampulnya karet abu-abu, dan sudah kupakai sejak kelas sepuluh untuk hal-hal yang tidak boleh kulupa.
Deadline mading. Nomor kontak narasumber. Daftar belanja Ibu. Tanggal ulang tahun orang-orang yang kalau kulupa akan jadi masalah selama tiga minggu.
Sekarang ada halaman baru di dalamnya, dan halaman itu isinya satu kata dan aku sudah menatapnya selama dua puluh menit.
Satu.
Aku tambahkan di bawahnya:
Payung biru pudar. Kotak putih. Lipatan tutup nggak simetris, kanan lebih dalam.
Tanggal? — sekitar 14 atau 15 bulan lalu. Hujan besar. Pulang telat karena rapat mading.
Lalu aku berhenti lagi, karena begitu satu ditulis, dua dan tiga datang sendiri tanpa diundang.
Ternyata aku sudah menyimpan semuanya. Aku cuma tidak pernah menaruhnya di satu halaman.
Satu.
Hujan itu turun jam empat lewat dan tidak berhenti sampai jam enam.
Aku berdiri di bawah atap gerbang bersama sekitar dua belas orang lain, semuanya menunggu jemputan atau menunggu hujan atau menunggu keajaiban. Satu per satu mereka pergi. Jam setengah enam tinggal aku dan satpam.
Ponselku mati. Ibu masih di kantor notaris sampai jam tujuh dan aku sudah tahu itu sejak pagi. Aku sudah menghitung: jalan ke halte lima menit, dan lima menit di bawah hujan seperti itu artinya basah total sampai ke tas, dan di tasku ada draf layout yang belum di-scan.
Aku ke toilet sebentar, tiga menit paling lama, untuk mencuci muka dan berhenti merasa kesal pada diriku sendiri.
Waktu aku kembali, ada payung tersangkut di pagar.
Payung lipat, biru, warnanya sudah pudar di bagian atasnya karena kelamaan kena matahari. Gagangnya sedikit longgar. Dan di bawahnya, ditaruh di atas dudukan pagar supaya tidak kena genangan, ada kotak putih kecil.
Aku tanya ke satpam. Beliau bilang beliau tidak lihat.
Aku tanya ke lima orang keesokan harinya, termasuk Callys dan Dira. Tidak ada yang mengaku.
Yang paling kuingat bukan payungnya. Yang paling kuingat: kotak itu ditaruh di tempat kering. Bukan di lantai. Bukan di rak sepatu di sebelahnya yang kena tempias.
Orang yang menaruhnya berhenti dulu untuk memikirkan itu.
Dua.
Ini kejadian di tangga lantai dua, bulan berikutnya, dan ini yang paling memalukan.
Aku turun sambil membawa tumpukan majalah dinding lama yang mau diarsipkan — dua puluh eksemplar, tidak berat, cuma tidak stabil. Aku juga sedang membaca pesan di ponsel, yang mana bodoh, dan aku tahu itu bodoh sejak sebelum aku melakukannya.
Kakiku meleset di anak tangga keempat dari bawah.
Aku tidak jatuh. Aku menangkap pegangan. Tapi seluruh tumpukan itu terbang, dua puluh eksemplar, dan sebagian meluncur sampai ke bawah tangga dan sebagian lagi tersangkut di sela pegangan.
Ponselku juga jatuh. Meluncur, membentur dinding, berhenti entah di mana.
Dan aku, karena aku ini orangnya begitu, langsung mengecek lutut dulu — ada yang sobek atau tidak, karena rok abu-abu itu tidak boleh sobek — dan itu memakan waktu mungkin sepuluh detik, dan waktu aku mengangkat kepala aku dengar langkah di bawah tangga.
Cepat. Menjauh.
Aku turun.
Dua puluh eksemplar itu sudah tersusun di anak tangga paling bawah. Bukan asal ditumpuk — disusun, sisinya rata, urut menurut ukuran karena memang ada tiga ukuran berbeda.
Ponselku di atasnya. Layarnya menghadap ke atas. Retak di satu sudut, tapi menyala.
Aku berteriak ke arah koridor. Tidak ada yang menoleh.
Yang kuingat dari kejadian ini: kalau kamu cuma mau membantu, kamu tumpuk saja majalahnya. Tidak ada yang menyusun berdasarkan ukuran kecuali orang yang otomatis melakukannya, karena tangannya sudah terbiasa merapikan barang.
Tiga.
Yang ini paling pendek dan paling tidak jelas dan paling sering kupikirkan.
Perempatan depan minimarket, arah pulang, sekitar dua bulan lalu. Aku menyeberang sambil mendengarkan sesuatu di earphone, dan ada motor yang belok tanpa memberi tanda dari arah kiri.
Aku tidak melihatnya. Aku betul-betul tidak melihatnya.
Yang terjadi berikutnya berlangsung mungkin satu setengah detik: ada yang menarik tas ranselku dari belakang, keras, sampai aku mundur tiga langkah dan hampir jatuh ke belakang. Motor itu lewat sekitar setengah meter di depan kakiku. Pengendaranya mengumpat dan terus jalan.
Aku berbalik untuk bilang terima kasih.
Yang kulihat cuma punggung, sudah tujuh atau delapan meter jauhnya, menyeberang ke arah berlawanan.
Seragam putih abu. Bahu lebar. Tangan kanan menenteng dua kantong plastik putih besar, dan kantong itu berayun karena orangnya jalan cepat.
Aku sempat berpikir untuk mengejar. Aku tidak. Aku berdiri di trotoar selama satu menit penuh sambil jantungku menabrak-nabrak, lalu pulang, lalu tidak bercerita ke siapa pun karena aku tidak ingin Ibu tahu aku hampir tertabrak karena earphone.
Yang kuingat: kantong plastiknya. Dua, besar, penuh, tidak ada logo. Bukan belanjaan sekolah. Bukan makan siang.
Aku menutup buku catatanku jam sebelas malam.
Tiga halaman. Tiga kejadian. Nol nama.
Dan di kepalaku, satu kalimat yang tidak mau pergi, yang bukan kesimpulan karena aku tidak punya bukti apa-apa, tapi yang juga tidak mau kuusir:
Orang yang menaruh kotak di tempat kering.
Orang yang menyusun majalah berdasarkan ukuran.
Orang yang menarik ranselku lalu pergi sebelum aku sempat berbalik.
Semuanya orang yang tidak mau kelihatan.
Ibu pulang jam delapan malam, dan aku masih di meja makan dengan buku catatan terbuka.
Beliau menaruh tasnya, melepas sepatu, dan langsung tahu ada sesuatu — Ibu selalu tahu, dan itu satu-satunya hal darinya yang tidak pernah bisa kulawan.
“Kenapa mukanya?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Ibu masuk dapur, menuang air, lalu duduk di seberangku. Beliau tidak menanyakan lagi. Beliau cuma minum, pelan, dan menunggu.
Ini teknik. Aku tahu ini teknik. Ibu memakainya di kantor pada orang-orang yang sedang menyembunyikan sesuatu di dalam berkas, dan beliau memakainya di rumah padaku sejak aku kelas tiga SD.
Dan seperti biasa, aku menyerah dalam waktu kurang dari satu menit.
“Bu.”
“Hm.”
“Kalau ada orang yang semua orang bilang jahat, tapi Alesha lihat sendiri dia nggak jahat, Alesha harus percaya yang mana?”
Ibu menaruh gelasnya.
Beliau tidak langsung menjawab. Ini juga kebiasaan yang aku turunkan dari beliau, cuma versiku lebih berisik.
“Kamu lihat sendiri berapa kali?”
“Beberapa.”
“Berapa, Sha?”
“...Tiga. Mungkin empat.”
“Dan orang-orang itu lihat berapa kali?”
Aku diam.
“Itu pertanyaan beneran,” kata Ibu. “Bukan jebakan.”
“Alesha nggak tau.”
“Nah.” Ibu mengangguk sekali. “Itu jawabannya. Kamu nggak tau mereka lihat apa. Mereka nggak tau kamu lihat apa. Yang kalian punya sama-sama sedikit.”
“Terus Alesha harus gimana?”
Ibu berdiri, membawa gelasnya ke wastafel, dan bicara sambil membelakangiku.
“Kamu kumpulin sendiri. Jangan pinjem punya orang, dan jangan maksa orang pinjem punya kamu.” Beliau menutup keran. “Tapi Sha.”
“Iya, Bu.”
“Yang namanya nama baik itu ada harganya.” Ibu menoleh. Wajahnya tidak keras. Justru itu yang bikin kalimatnya menempel. “Kadang yang bayar bukan orang yang salah.”
Aku bilang iya. Aku bahkan mengangguk.
Aku baru betul-betul mengerti maksudnya jauh, jauh nanti — dan waktu itu sudah terlambat.
Pagi berikutnya aku berangkat lebih pagi lagi, dan bukan untuk merebut kursi.
Aku turun dari angkot dua halte sebelum sekolah dan jalan kaki sisanya, lewat jalur yang tidak biasa kulewati kalau sedang buru-buru — lewat depan toko-toko kecil yang buka sejak subuh.
Gerobak gorengan Bu Ipah ada di ujung, sebelum belokan ke arah sekolah. Aku sering beli di situ waktu kelas sepuluh, sebelum jadwal ekskul membuatku selalu terlambat.
“Ya ampun, Neng.” Bu Ipah langsung berdiri waktu melihatku. “Ke mana aja? Udah lama nggak keliatan.”
“Sibuk, Bu.”
“Sibuk mulu. Yang mana? Bakwan? Tahu?”
“Bakwan dua, Bu.”
Beliau menggoreng ulang supaya panas, dan sambil menunggu, beliau cerita. Bu Ipah selalu cerita. Itu bagian dari harganya.
Cerita tentang cucunya yang mulai sekolah. Cerita tentang harga minyak. Cerita tentang tukang parkir yang pindah.
Lalu, sambil menyaring bakwan, beliau menoleh ke arah jalan dan mengangkat tangan.
“Eh, itu dia.”
Aku ikut menoleh.
Yang ada cuma orang lalu-lalang. Anak-anak sekolah, pedagang, tukang ojek.
“Siapa, Bu?”
“Itu, yang tinggi.” Beliau menunjuk dengan sudut mulutnya, cara orang Sunda menunjuk yang tidak pernah bisa kutiru. “Aduh, udah lewat.”
“Kenal?”
“Ya kenal atuh. Tiap pagi lewat sini.” Bu Ipah membungkus bakwanku. “Anaknya baik pisan.”
“Anak sekolah saya?”
“Iya. Sekolah Neng.” Beliau menyerahkan bungkusan itu. “Delapan ribu.”
Aku memberikan uangnya.
Dan karena aku ini memang tidak bisa berhenti, aku bertanya, “Baik gimana, Bu?”
Bu Ipah menerima uangnya, memasukkannya ke kaleng, dan menjawab dengan nada orang yang menganggap ini pertanyaan paling biasa di dunia:
“Ya baik. Dulu gerobak Ibu kan pernah—”
Klakson.
Motor. Dua. Ngebut dari arah belokan, dan salah satunya nyaris menyerempet ujung gerobak, dan Bu Ipah langsung berdiri sambil berteriak ke arah mereka dengan bahasa yang tidak akan kutulis di sini.
Waktu beliau duduk lagi, beliau sudah lupa sedang bicara apa.
“Sampai mana tadi, Neng?”
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Ya udah, sekolah gih. Nanti telat.”
Aku jalan, dan lima langkah kemudian aku berhenti dan hampir berbalik.
Aku tidak berbalik.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku belum siap dengan jawabannya. Mungkin karena aku masih ingin ini jadi pertanyaan sedikit lebih lama.
Di gerbang, portal macet lagi. Sudah ada yang membantu Pak Sudir mendorongnya, dan aku terlambat lima detik untuk melihat siapa.
Di kelas, dia sudah duduk.
Bukan biasanya. Dia selalu datang setelah aku, kecuali hari pertama.
Aku duduk. Aku keluarkan bungkusan bakwan dan menaruhnya di meja, dan aku sadar aku sedang melakukan sesuatu yang bodoh sebelum aku selesai melakukannya.
Aku sobek bungkusnya. Aku dorong satu ke arahnya.
“Buat kamu.”
Sembilan detik.
Kali ini aku menghitungnya sengaja.
“...Kenapa?”
“Kenapa apa?”
“Kenapa buat aku.”
“Karena aku beli dua dan aku nggak lapar.”
Ini bohong. Aku sangat lapar. Tapi aku sudah terlalu jauh untuk mundur.
Dia menatap bakwan itu seperti orang yang sedang menghadapi soal matematika yang tidak ada di silabus. Aku bisa lihat dia menimbang beberapa kemungkinan, dan aku bisa lihat momen persis ketika semua kemungkinan itu habis dan dia tidak punya jalan keluar.
Dia mengambilnya.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
“Aku ganti uangnya.”
“Nggak usah.”
“Nggak enak.”
“Arganta.”
Dia berhenti.
Aku baru sadar itu pertama kalinya aku memanggil namanya.
“Empat ribu doang,” kataku. “Nanti kalau aku butuh sesuatu, aku minta.”
Dia mengangguk. Pelan. Seperti orang yang baru menandatangani sesuatu tanpa membaca isinya.
Lalu dia makan bakwannya, dan dia makan dengan cara yang membuatku ingin tertawa dan sekaligus tidak — dia makan menghadap jendela, membelakangi kelas, seperti orang yang tidak ingin ada yang melihatnya sedang menerima sesuatu dari orang lain.
Waktu selesai, dia melipat bungkus kertasnya. Empat lipatan. Rapi. Persegi kecil.
Dia masukkan ke saku, bukan ke tempat sampah.
Aku tidak tahu kenapa itu yang membuat dadaku terasa aneh.
Jam terakhir, Bu Retno mengumumkan pembagian kelompok untuk tugas Sejarah, dan seperti biasa, sistemnya berdasarkan urutan tempat duduk.
Yang duduk sebangku, satu kelompok.
Ada suara di baris depan. Bukan tawa. Lebih seperti helaan napas kolektif yang isinya aduh.
Dan di sebelahku, orang itu — yang seharian ini sudah memberikan satu kata, satu anggukan, dan satu lipatan kertas persegi kecil — mengangkat tangannya.
Bu Retno berhenti. “Ya, Arganta?”
Kelas diam.
Aku menoleh.
Dia berdiri. Dan dia bicara, pelan, sopan berlebihan, dengan kalimat yang jelas sudah dia susun di kepalanya selama entah berapa lama.
“Bu, boleh kalau saya sendiri aja?”
Bu Retno mengerjap. “Sendiri?”
“Iya, Bu.”
“Tugasnya untuk dua orang, Arganta.”
“Saya bisa kerjain dua bagian.”
“Kenapa?”
Dan di sinilah aku sadar, untuk pertama kalinya, bahwa aku sama sekali tidak mengerti orang yang duduk di sebelahku.
Karena dia tidak melihat ke arah Bu Retno waktu menjawab.
Dia melihat ke lantai.
“Biar nggak ngerepotin, Bu.”
Bu Retno diam cukup lama.
Aku juga.
Dan sebelum beliau sempat menjawab, aku berdiri.
Aku tidak merencanakan ini. Aku bahkan tidak sadar aku sudah berdiri sampai aku sudah berdiri.
“Bu, saya nggak keberatan.”
Seluruh kelas menoleh untuk kedua kalinya dalam tiga hari.
Bu Retno melihat kami berdua bergantian — dua orang berdiri di sudut kanan belakang, satu menatap lantai dan satu menatap papan tulis — lalu beliau menghela napas, mencatat sesuatu di buku, dan bilang:
“Kelompok tujuh. Arganta dan Alesha. Duduk, dua-duanya.”
Kami duduk.
Dia tidak menoleh ke kiri selama sisa pelajaran.
Tapi waktu bel pulang berbunyi dan semua orang berdiri, aku dengar dia bicara, sangat pelan, ke arah jendela, dan aku tidak yakin kalimat itu ditujukan untukku.
“Kamu nggak ngerti.”
Aku memasukkan buku ke tas.
“Ya udah,” kataku. “Jelasin.”
Dia tidak menjelaskan.
Tapi malam itu, waktu aku membuka buku catatan kecilku dan menambahkan halaman baru, aku menulis satu baris yang bukan bukti, bukan tanggal, bukan kejadian.
Dia nggak takut sama aku.
Dia takut aku kenapa-kenapa.
Aku menutup bukunya, dan aku tidak bisa tidur sampai jam dua belas lewat.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali reading
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama