← Bangku Sebelah

Chapter Nineteen

Bab 19: Maaf

POV: Alesha


Callys butuh sembilan hari.

Aku tahu karena aku menghitungnya, dan karena dia mengumumkan hitungannya sendiri di hari kesembilan dengan cara yang sangat khas Callys.

Hari pertama sampai keempat: dia normal. Terlalu normal. Dia bertengkar dengan Kenzo soal tiga hal berbeda, mengomel soal PR Fisika, dan sama sekali tidak menyinggung apa pun.

Hari kelima: dia mulai membawa dua kotak makan.

Tidak ada yang berkomentar. Kotak kedua itu ditaruh di tengah meja tiap hari, tidak ditawarkan ke siapa pun secara spesifik, dan tiap hari isinya berkurang karena Kenzo tidak punya rem.

Hari keenam, Kenzo bilang: “Ini kayaknya buat—”

Dan Jovan menendang kursinya.

Hari ketujuh dan kedelapan: dia berlatih.

Aku tahu dia berlatih karena aku menemukannya di depan cermin toilet lantai satu, jam istirahat pertama, menggerakkan mulutnya tanpa suara.

“Callys.”

Dia melonjak. “AKU LAGI—”

“Kamu lagi apa?”

“Aku lagi ngecek gigi.”

“Kamu lagi ngecek gigi selama enam menit?”

“Kamu ngitung?”

“Aku ngitung semuanya. Itu masalah aku.”

Dia menatapku lewat cermin.

Lalu dia berkata, ke arah cermin, bukan ke arahku:

“Sha, kalau aku minta maaf, dia bakal bilang apa?”

“Dia bakal bilang nggak apa-apa.”

“Aku tau.” Dia menutup keran. “Itu masalahnya.”


Ada satu hal yang terjadi di antara hari kelima dan keenam yang tidak dilihat Callys, dan yang sampai sekarang belum kuceritakan ke dia.

Kotak kedua itu.

Hari kelima, Callys menaruhnya di tengah meja dan tidak berkata apa-apa, dan Kenzo langsung mengambil dua suap sebelum ada yang sempat menghentikannya.

Dan Arga menggeser kotak itu.

Sangat pelan. Sekitar lima sentimeter, ke arah Kenzo.

Aku melihatnya dan aku tidak mengerti.

Sampai hari keenam, waktu dia melakukannya lagi.

Dan hari ketujuh.

Tiap hari, kotak itu ditaruh Callys di tengah, dan tiap hari Arga menggesernya menjauh dari dirinya sendiri.

Aku menanyakannya di tangga belakang hari Kamis.

“Ga.”

“Hm.”

“Kotak kedua Callys.”

Dia berhenti mengunyah.

“Kenapa?”

“Kamu geser terus.”

“Aku nggak geser.”

“Kamu geser lima senti tiap hari.”

Dia menutup kotak makannya.

“Alesha, kamu ngitung sampai segitunya?”

“Iya.”

Dia menghela napas.

“Itu bukan buat aku,” katanya.

“Kamu tau itu buat kamu.”

“Aku nggak tau.”

“Ga.”

Dan dia memandangi lapangan, dan berkata:

“Kalau aku ambil, terus ternyata bukan buat aku, dia bakal nggak enak. Kalau aku nggak ambil, terus ternyata emang buat aku, dia juga nggak enak.”

“Terus kamu geser?”

“Kalau aku geser, dia bisa milih.” Dia mengangkat bahu. “Dia yang taruh, dia yang tau.”

Aku menatapnya.

“Kamu nunggu dia bilang.”

“Iya.”

“Sembilan hari?”

“Dia bakal bilang.”

Dan dia mengatakannya dengan begitu yakin — tanpa kesal, tanpa lelah, tanpa nada apa pun kecuali kesabaran biasa — sampai aku harus melihat ke arah lain sebentar.


Hari kesembilan, dia melakukannya.

Dan aku ingin mencatat sejelas mungkin bahwa itu adalah salah satu peristiwa paling canggung yang pernah kusaksikan dalam hidupku.

Jam istirahat kedua. Kami berenam di pulau meja. Kenzo sedang menjelaskan teori tentang kenapa hari Rabu adalah hari terburuk dalam seminggu, dengan bukti-bukti yang semuanya dia karang.

Callys menutup kotak makannya.

Dia berdiri.

Semua orang berhenti, karena orang tidak berdiri di tengah istirahat kecuali mau ke toilet, dan Callys jelas tidak mau ke toilet karena dia berdiri menghadap ke dalam.

“Bhumi.”

Arga mengangkat wajahnya.

“Iya?”

Callys menarik napas.

“Aku minta maaf.”

Hening.

Aku bisa melihat wajah Arga dari jarak empat puluh sentimeter, dan aku bisa melihat dengan sangat jelas bahwa dia tidak mengerti sama sekali.

“...Buat apa?” tanyanya.

“Buat semuanya.”

“Semuanya apa?”

Dan Callys — yang sudah berlatih dua hari di depan cermin, yang jelas-jelas sudah menyiapkan satu paragraf utuh — kehilangan seluruh susunannya dalam satu detik.

“Ya semuanya!” Suaranya naik. “Yang dua bulan itu!”

“Yang dua bulan yang mana?”

“YANG AKU BENCI SAMA KAMU.”

Kelas menoleh.

Bukan kelas kami saja — ada tiga anak di koridor yang berhenti.

Callys menutup matanya.

“Bisa nggak kamu bantuin dikit,” katanya.

“Bantuin gimana?”

“Bantuin— ” Dia mengibaskan tangan. “Bantuin ngerti.”

“Aku beneran nggak ngerti.”

Dan Kenzo, dari seberang meja, dengan wajah orang yang sedang menyaksikan pertandingan terbaik dalam hidupnya, berkata:

“Ini bagus banget.”

“KENZO.”

“Aku nggak ngomong apa-apa.”

“KAMU NGOMONG.”

“Aku ngomong satu kalimat.”

“SATU KALIMAT ITU NGOMONG.”

Jovan mengetuk meja dengan pulpennya. Satu kali.

Semua orang diam.

Dan Jovan berkata, tanpa mengangkat kepala:

“Ga.”

“Hm.”

“Dia minta maaf karena dua bulan dia nyebarin screenshot tentang kamu ke tujuh orang.”

Kelas jadi sangat sunyi.

Callys menoleh ke Jovan dengan wajah orang yang baru saja dilempar dari gedung.

“VAN—”

“Kamu nggak akan bisa ngomong sendiri,” kata Jovan.

“AKU BISA—”

“Kamu udah sembilan hari.”

“KAMU NGITUNG?”

“Semua orang ngitung,” kata Dira.

Callys menutup wajahnya dengan kedua tangan dan duduk kembali di kursinya dengan bunyi keras.


Arga tidak bicara selama beberapa detik.

Aku mengawasinya. Aku sudah cukup lama duduk di sebelahnya untuk tahu perbedaan antara diam karena tidak tahu harus bilang apa, dan diam karena sedang berpikir.

Ini yang kedua.

“Callysta.”

Callys mengintip dari balik tangannya.

“Apa.”

“Kamu bilang ke tujuh orang?”

“...Iya.”

“Yang mana aja?”

Dan Callys menurunkan tangannya, dan wajahnya berubah — dari malu jadi bingung, lalu jadi sesuatu yang lebih tidak nyaman.

“Kenapa kamu nanya itu?”

“Biar aku tau siapa aja yang perlu dijauhin.”

Aku merasakan sesuatu turun di perutku.

“Ga—” kataku.

“Bukan gitu.” Dia menoleh ke arahku cepat. “Maksudnya, biar aku nggak duduk deket mereka. Biar mereka nggak kena.”

Dan aku melihat momen persis ketika kalimat itu masuk ke kepala Callysta Aruna.

Wajahnya kosong selama satu detik penuh.

“Kamu—” katanya.

Dia berhenti.

“Kamu mau ngejauhin diri dari orang yang aku bikin benci sama kamu?”

“Iya.”

“Biar mereka nggak kena?”

“Iya.”

“KENAPA KAMU—”

Callys berdiri lagi, dan kali ini kursinya jatuh ke belakang.

“Kenapa kamu nggak marah?!”

Arga berkedip.

“Marah?”

“IYA. MARAH.” Dia menunjuk. “Aku nyebarin foto kamu. Aku bilang kamu bahaya. Aku bilang ke tujuh orang dan mereka percaya karena mereka percaya sama aku. Aku nulis di kolom komentar dua kali. DUA KALI, Bhumi.”

Ruangan itu sudah tidak ada yang berpura-pura tidak mendengarkan.

“Terus kamu duduk di situ,” kata Callys, dan suaranya sudah pecah, “dan kamu nanya siapa aja yang perlu kamu jauhin biar mereka nggak kena?”

Arga menaruh pisau plastiknya.

“Iya,” katanya.

“KENAPA?”

Dan Arganta Bhumi menjawab, dengan kalimat pendek seperti biasa, tanpa naik suara, tanpa membela diri:

“Kamu nggak salah, Callysta.”

“AKU SALAH.”

“Kamu punya sepupu yang nangis dua hari di kamar mandi dan nggak ada yang tau kenapa.” Dia menatapnya. “Kamu ngumpulin bukti buat ngelindungin temen kamu. Itu yang aku juga lakuin, cuma caranya beda.”

Callys tidak bergerak.

“Bedanya,” kata Arga, “aku ngelindungin dengan cara pergi. Kamu ngelindungin dengan cara berdiri di depan pintu.”

Dia mengambil pisau plastiknya lagi.

“Cara kamu lebih bener.”


Callys menangis di kelas.

Bukan diam-diam. Bukan versi yang dia tahan seperti minggu lalu.

Dia menangis dengan berisik, marah, dengan tangan menutup wajah, sambil berkata “aku benci ini” berkali-kali ke arah tidak seorang pun.

Dan Kenzo — yang punya kesempatan paling sempurna dalam sejarah persahabatan mereka untuk mengejeknya —

berdiri, mengambil kursi Callys yang jatuh, menegakkannya, dan mendorongnya ke belakang lutut Callys.

“Duduk,” katanya.

“Aku nggak mau duduk.”

“Kaki kamu goyang.”

“KAKI AKU NGGAK—”

“Callys, duduk.”

Dan dia duduk.

Kenzo mengambil kotak makan kedua dari tengah meja — yang sudah sembilan hari ada di situ, yang tidak pernah ditawarkan ke siapa pun secara spesifik — dan menaruhnya di depan Arga.

“Ini punya kamu dari hari Senin minggu lalu,” katanya.

“Zo—” kata Callys dari balik tangannya.

“Apa.”

“Itu bukan—”

“Callysta.” Kenzo duduk. “Kamu bawa dua kotak sembilan hari dan kamu nggak makan yang kedua sekali pun.”

Hening.

“Aku ngitung,” katanya.

Dan Callys menangis lebih keras, dan berkata sesuatu yang teredam oleh tangannya, dan yang terdengar seperti “kamu nyebelin banget.”

“Iya,” kata Kenzo.

Arga membuka kotak itu.

Isinya soto.

Dia menatapnya beberapa detik.

Lalu dia berkata, dengan nada paling biasa sedunia:

“Ini terlalu enak.”

Callys mengeluarkan suara yang setengah tangis dan setengah tawa.

“Itu bukan pujian,” katanya.

“Aku tau,” kata Arga. “Kamu yang ngajarin.”


Sisa hari itu berjalan aneh.

Bukan aneh yang buruk. Aneh yang seperti ruangan yang jendelanya baru dibuka setelah lama tertutup.

Callys mengomeli Arga soal cara dia menyimpan buku. Arga menerimanya dan mengubah caranya. Callys bilang dia tidak menyuruh, cuma berkomentar. Arga bilang iya. Callys bilang jangan bilang iya terus. Arga bilang iya.

Callys mengeluarkan suara frustrasi yang bisa didengar sampai baris depan.

Kenzo tertawa selama dua menit penuh dan Callys melemparinya dengan penghapus.

Dan di tengah semua itu, Dira menoleh ke arahku.

“Sha.”

“Hm?”

“Lihat.”

Dia menunjuk dengan dagunya — pelan, tanpa gerakan besar — ke arah baris tiga.

Ada tiga anak duduk di situ. Rani, dan dua orang yang aku belum pernah bicara serius dengan mereka.

Mereka menonton.

Bukan menonton seperti orang menonton pertengkaran. Menonton seperti orang yang sedang menghitung ulang sesuatu.

Dan Rani, waktu Callys melempar penghapus dan Kenzo berteriak dan Arga mengambil penghapus itu dari lantai dan mengembalikannya ke meja Callys tanpa diminta — Rani tersenyum.

Kecil. Setengah detik.

Tapi dia tersenyum.

Aku menoleh ke Dira.

“Kamu lihat juga?”

“Aku selalu lihat.”

“Kamu serem.”

“Aku tau,” kata Dira, dan meminum airnya.


Sore itu Callys menahanku di gerbang.

“Sha.”

“Hm?”

“Aku mau nanya sesuatu.”

“Nanya.”

Dia menarik tali tasnya dengan kedua tangan, dan aku sadar dia sudah menyiapkan pertanyaan ini sejak siang.

“Kamu marah nggak sama aku?”

Aku berhenti jalan.

“Callys.”

“Aku serius.” Dia tidak menoleh. “Aku dua bulan bikin susah semuanya. Aku pindah duduk. Aku ngambek. Aku bikin kamu harus milih.”

“Kamu nggak bikin aku milih.”

“Aku ngasih ultimatum di lorong.”

“Kamu ngasih ultimatum yang paling nggak masuk akal sedunia,” kataku. “Kamu minta aku milih siapa yang aku cerita duluan.”

Dia mendengus.

“Itu emang nggak masuk akal ya.”

“Nggak sama sekali.”

“Aku panik.”

“Aku tau.”

Kami jalan.

“Aku nggak marah,” kataku. “Aku nggak pernah marah.”

“Kenapa?”

Dan aku memikirkannya sungguh-sungguh, karena pertanyaannya layak dipikirkan.

“Karena kamu satu-satunya yang khawatir waktu semua orang cuma nonton,” kataku. “Aku udah pernah bilang itu. Aku tetep berpikir gitu.”

Callys diam sepanjang setengah blok.

Lalu dia berkata:

“Sha.”

“Hm.”

“Aku belum minta maaf ke Puspa.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Karena dia bakal bilang nggak apa-apa juga.” Dia menendang kerikil. “Semua orang di cerita ini bilang nggak apa-apa dan nggak ada satu pun yang nggak apa-apa.”

Aku tidak menjawab.

“Aku bakal telepon dia,” kata Callys. “Nggak sekarang. Nanti.”

“Oke.”

“Aku serius.”

“Aku percaya.”

Dia menoleh ke arahku, dan matanya masih agak bengkak dari siang, dan dia berkata:

“Sha, kalau aku minta maaf ke dia, aku harus bilang siapa yang bikin captionnya. Dan aku nggak tau.”

Angkotku datang.

Aku tidak naik.

“Callys.”

“Apa.”

“Kamu masih punya screenshot yang lain?”

“Aku hapus semua.”

“Aku tau. Aku nanya yang lain.” Aku menatapnya. “Yang bukan tentang Arga.”

Callys mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Dan aku berdiri di halte itu, dan aku memikirkan dua puluh sembilan postingan dalam tiga tahun, tersebar merata, satu setiap lima minggu.

Aku memikirkan surat peringatan yang difoto lengkap dengan kop suratnya.

Aku memikirkan Reyhan yang bilang anak kelas sepuluh diberi tahu soal akun itu sejak MPLS.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Nanti aja.”

Angkot berikutnya datang delapan menit kemudian dan aku menaikinya dan aku tidak memikirkan hal lain sepanjang jalan.


Malam itu aku membuka laptopku.

Aku membuat folder baru.

Aku memberinya nama yang membosankan supaya kalau ada yang melihat layarku, tidak ada yang bertanya: arsip mading 2.

Dan aku mulai menyimpan.

Bukan tentang Arga. Aku sudah punya tiga puluh sembilan halaman tentang Arga di buku catatan kecil, dan aku sudah berhenti menambahkannya sejak sore hujan itu.

Yang kusimpan hal lain.

Setiap postingan @fakta.sma__ yang menyebut orang. Bukan pengumuman, bukan hasil pertandingan — yang menyebut orang.

Tanggal. Jam unggah. Jumlah like. Siapa yang bisa dikenali dari fotonya.

Aku mengerjakannya sampai jam satu pagi dan aku baru sampai delapan bulan ke belakang.

Dan di halaman ketiga, aku menemukan sesuatu.

Sebuah postingan tentang seorang anak perempuan kelas sebelas, tahun lalu, foto koridor, caption dua kalimat.

Aku tidak menuliskan captionnya di sini.

Yang kucatat cuma satu hal: jam unggahnya 21.04.

Dan aku sudah punya satu postingan lain dengan jam yang sama persis.

Foto dua orang di sudut kanan belakang kelas sebelas tiga, empat bulan lalu, dengan caption empat kata.

Ada yang baru nih.

21.04.

Aku menatap dua angka itu di layar sampai mataku perih.

Lalu aku menutup laptopku, dan aku tidak menceritakannya ke siapa pun.

Termasuk ke orang yang pernah memintaku, di perpustakaan pada hari hujan, untuk memberitahunya dulu.