← Bangku Sebelah

Chapter Seven

Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima

POV: Alesha


Belakang lab IPA adalah tempat paling tidak strategis di sekolah ini untuk bertemu diam-diam.

Ada satu jalur beton selebar satu setengah meter, diapit tembok lab dan pagar belakang, dengan tiga bak air bekas yang sudah tidak dipakai. Bau kaporit. Bunyi kipas exhaust. Tidak ada yang lewat kecuali orang yang mau merokok, dan tidak ada yang berani merokok di situ karena ruang guru ada di lantai atas.

Aku sampai jam istirahat lewat dua menit.

Mereka sudah di sana.

Yang tinggi jangkung berkacamata bersandar di tembok, tangan di saku hoodie, menatap ke arah pagar. Yang satu lagi mondar-mandir di jalur selebar satu setengah meter itu dengan kecepatan yang membuatku pusing.

Yang mondar-mandir langsung berhenti begitu melihatku.

“Nah!” Dia menunjuk. “Dateng!”

“Ya kan udah keliatan,” kata yang berkacamata.

“Aku cuma ngasih tau.”

“Aku juga punya mata.”

“Aku nggak bilang kamu nggak punya mata, aku cuma—” Dia menoleh ke arahku, lalu balik lagi, lalu ke arahku lagi. “Eh. Halo. Sori. Kita nggak jahat kok.”

“Itu kalimat orang jahat,” kata yang berkacamata.

“ANJIR.”

Aku berdiri di ujung jalur beton, memegang tali tasku, dan aku sadar sesuatu yang cukup penting:

Aku tidak takut sama sekali.

“Aku Alesha,” kataku.

“Iya tau. Aku Kenzo. Ini Jovan.” Dia menunjuk temannya dengan seluruh tangan. “Kita satu kelas sama kamu.”

“Aku tau.”

“Oh iya ya. Ya iyalah tau.” Kenzo menggosok tengkuknya. “Oke. Jadi gini.”

Dia berhenti.

“Jadi gimana?” tanyaku.

“Jadi—” Dia melihat ke Jovan. “Van, kamu aja.”

“Kamu yang maksa ketemu.”

“Iya tapi kamu yang lebih pinter.”

“Aku nggak mau ngomong.”

“Kamu nggak pernah mau ngomong.”

“Makanya.”

Kenzo berbalik ke arahku dengan wajah orang yang baru saja dikhianati negara.

“Oke. Aku aja.” Dia tarik napas. “Kamu mau apa sih?”


Ada beberapa cara menjawab pertanyaan itu.

Aku memilih yang paling jujur, yang mana keputusan yang belakangan kusyukuri.

“Aku nggak tau.”

Kenzo berkedip. “Hah?”

“Aku nggak tau aku mau apa.”

“Ya masa nggak tau.”

“Beneran nggak tau.” Aku turunkan tasku. “Aku cuma duduk di kursi yang kosong.”

“Itu bukan kursi kosong.”

“Aku juga udah dikasih tau.”

“Terus kenapa masih duduk?”

Dan di sinilah aku berhenti, karena aku sadar aku belum pernah menjawab pertanyaan ini ke siapa pun. Tidak ke Callys. Tidak ke Ibu. Tidak ke diriku sendiri.

“Karena dia minta aku pindah,” kataku.

Kenzo mengerutkan kening. “Ya itu justru—”

“Nadanya salah.”

Jovan bergerak.

Cuma sedikit. Dia mengangkat kepalanya dari pagar dan menoleh ke arahku, dan itu gerakan pertamanya sejak aku datang.

“Salah gimana?” tanyanya.

Suaranya lebih dalam dari yang kuduga dan sangat, sangat datar.

“Dia nggak nyuruh,” kataku. “Dia minta.”

“Bedanya?”

“Orang nyuruh itu buat dirinya sendiri.”

Jovan menatapku selama kira-kira empat detik.

Lalu dia menoleh ke Kenzo, dan mereka bertukar tatapan yang isinya jelas-jelas seluruh percakapan yang tidak bisa kudengar.

“Anjir,” kata Kenzo pelan.

“Hm,” kata Jovan.

“Nggak. Van. Anjir.”

“Iya.”

“AKU BILANG APA.”

“Kamu bilang banyak hal. Sebagian besar salah.”

Kenzo mengabaikannya total dan menoleh ke arahku dengan energi yang naik tiga tingkat.

“Oke. Oke, jadi gini.” Dia mulai mondar-mandir lagi. “Kita mau minta tolong.”

“Minta tolong?”

“Iya.”

“Bukan ngancem?”

“Ngancem?” Kenzo berhenti. “Kenapa kita ngancem kamu?”

“Kalian ngirim SMS jam sepuluh malem minta ketemu di belakang lab.”

Hening.

“...Oh,” kata Kenzo.

“Aku udah bilang,” kata Jovan.

“Kamu nggak bilang apa-apa!”

“Aku bilang ‘jangan malem.’”

“Itu bukan bilang, itu tiga kata—”

“Tiga kata itu bilang.”

Aku tertawa.

Aku tidak bermaksud, tapi aku tertawa, dan begitu aku tertawa, seluruh ketegangan di jalur beton selebar satu setengah meter itu hilang seperti seseorang membuka jendela.

Kenzo langsung nyengir. “Nah gitu dong.”

“Kalian minta tolong apa?”

Dan senyumnya hilang.

Itu yang membuatku sadar ini serius. Bukan karena dia berubah galak. Karena dia berhenti bercanda, dan orang seperti Kenzo tidak berhenti bercanda kecuali dia sedang menahan sesuatu.

“Kalau kamu cuma iseng,” katanya, “berhenti sekarang.”

“Aku nggak iseng.”

“Semua orang bilang gitu.”

“Emang udah ada yang lain?”

Kenzo membuka mulut.

Lalu dia menutupnya.

Dan itu — jeda persis di situ — adalah momen aku tahu jawabannya iya.


“Ada tiga,” kata Jovan.

“VAN.”

“Dia bakal tau sendiri.”

Kenzo mengangkat kedua tangannya dan berbalik menghadap tembok, seperti orang yang butuh waktu.

Jovan melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung hoodie, memakainya lagi.

“Kelas sepuluh, ada anak namanya Reza. Duduk di sebelah dia dua minggu.” Dia bicara datar, tanpa nada sama sekali. “Terus mulai dijauhin. Terus dia minta pindah.”

“Terus?”

“Terus Arga yang bantuin dia minta pindah.” Jovan menatapku. “Dia yang ngomong ke Bu Retno. Bilang dia yang nggak nyaman.”

Aku merasakan sesuatu di tenggorokanku.

“Yang kedua?”

“Anak namanya Puspa. Kelas sebelas, tahun lalu. Tiga minggu.” Jovan mengangkat bahu satu sentimeter. “Namanya masuk akun itu. Fotonya, terus captionnya— ” Dia berhenti. “Ya. Pokoknya masuk.”

“Terus?”

“Terus dia nangis di kamar mandi dua hari, terus pindah kelas.”

“Yang ketiga?”

Jovan diam.

Kenzo yang menjawab, masih menghadap tembok.

“Yang ketiga aku.”

Aku menoleh.

“Kelas sepuluh semester satu,” katanya. Suaranya berubah — masih Kenzo, masih cepat, tapi ada yang tertahan di bawahnya. “Aku sengaja duduk di situ. Aku maksa. Dia ngusir aku tiap hari selama satu bulan.”

“Satu bulan?”

“Tiga puluh empat hari.” Kenzo berbalik. Dia sedang nyengir, dan senyumnya sama sekali tidak sampai ke matanya. “Aku ngitung. Aku nggak pindah-pindah. Terus akhirnya dia nyerah.”

“Kenapa kamu nggak pindah?”

Dan Kenzo membuka mulut, dan aku lihat — dengan sangat jelas, karena dia berdiri tiga meter dariku dan tidak ada tempat untuk menyembunyikan apa pun di jalur beton selebar satu setengah meter — aku lihat wajahnya berubah.

Cuma sebentar. Setengah detik.

Lalu dia menutupnya lagi dengan senyum.

“Ya nggak kenapa-kenapa,” katanya. “Aku emang keras kepala.”

“Kenzo.”

“Nggak, nggak. Bukan cerita aku.” Dia menggeleng cepat, terlalu cepat. “Intinya gini.”

Dia melangkah maju satu langkah.

“Dua orang sebelum kamu, dua-duanya pindah dalam sebulan. Dan tiap kali ada yang pindah, dia makin— ” Kenzo mencari katanya. Dia tidak menemukannya. “Dia makin gitu.”

“Gitu gimana?”

“Makin yakin,” kata Jovan.

Satu kata. Dan itu yang membuat seluruh kepingnya jatuh ke tempatnya.

“Yakin bahwa dia nggak boleh deket sama siapa-siapa,” kataku pelan.

Kenzo dan Jovan sama-sama diam.

“Jadi tiap orang yang pindah, dia bukan cuma kehilangan orang,” lanjutku. “Dia dapet bukti.”

“Iya,” kata Jovan.

Kenzo menendang kerikil ke arah bak air.

“Makanya aku bilang, kalau kamu iseng, berhenti sekarang.” Dia tidak melihatku waktu mengatakannya. “Dua minggu doang nggak apa-apa. Nanti dia lupa. Tapi kalau kamu lebih lama dari itu terus kamu pergi—”

Dia tidak menyelesaikannya.

“Aku nggak akan pergi,” kataku.

“Semua orang bilang gitu.”

“Aku tau.”

“Terus aku harus percaya kamu kenapa?”

Aku memikirkan itu sungguh-sungguh, karena pertanyaannya adil.

“Kamu nggak harus,” kataku akhirnya. “Kamu lihat aja.”

Kenzo menatapku lama.

Lalu dia mengangguk sekali, dan seluruh energinya kembali seperti tombol dinyalakan.

“Oke. Oke oke oke.” Dia menepuk tangannya. “Aturan main.”

“Aturan main?”

“Kalau kamu mau deket sama dia, ada hal-hal yang kamu harus tau, karena dia nggak akan bilang.” Kenzo mengangkat satu jari. “Satu: jangan pernah bilang makasih lebih dari sekali. Dua kali dia langsung ilang tiga hari.”

“Serius?”

“Serius. Dua: kalau dia bilang ‘nggak apa-apa’, artinya apa-apa.” Dua jari. “Tiga: jangan pernah tanya soal punggungnya.”

Aku berhenti.

“Punggungnya kenapa?”

Dan untuk kedua kalinya dalam sepuluh menit, jalur beton itu jadi sangat sunyi.

Kenzo menurunkan tangannya.

“Nggak apa-apa,” katanya.

“Kenzo.”

“Nggak. Beneran.” Dia nyengir lagi, dan senyumnya lebih rapuh dari sebelumnya. “Itu bukan cerita aku juga.”

“Itu cerita kamu,” kata Jovan.

“VAN.”

“Kamu yang bilang duluan.”

“Aku nggak—” Kenzo mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Ya udah. Ya udah!”

Dia menoleh ke arahku.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku datang, dia berdiri diam. Betul-betul diam, tanpa mondar-mandir, tanpa tangan bergerak.

“Nanti,” katanya.

“Nanti kapan?”

“Nanti kalau kamu masih di situ.”

“Berapa lama?”

Kenzo mengangkat bahu.

“Kalau kamu masih di kursi itu waktu aku udah nggak takut kamu pergi,” katanya, “aku ceritain.”

“Itu bisa lama.”

“Iya.”

“Berbulan-bulan.”

“Iya.” Kenzo mengangkat bahu lagi. “Aku nunggu dia tiga puluh empat hari. Kamu bisa nunggu aku.”

Dan itu, entah kenapa, adalah kalimat paling adil yang pernah dilemparkan orang ke arahku.

Dia mengambil tasnya dari atas bak air.

“Eh, satu lagi.” Dia berbalik. “Kalau dia ngasih kue, jangan dibuang.”

“Ya nggak lah.”

“Bukan, maksudnya—” Kenzo menggosok tengkuknya. “Jangan dibuang bungkusnya juga.”

“Kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.” Dia nyengir. “Cuma dia suka ngitung.”

“Ngitung apa?”

“Berapa yang balik.” Kenzo menepuk pundak Jovan. “Ayo, Van. Bel.”

Jovan mendorong badannya lepas dari tembok. Waktu melewatiku, dia berhenti.

“Satu hal,” katanya.

“Iya?”

“Kalau dia ngomong nama kue,” kata Jovan, “itu artinya dia panik.”

Aku menatapnya.

“Kamu tau soal éclair?”

“Seluruh kelas tau soal éclair.”

“Aku nggak cerita ke siapa-siapa.”

“Aku tau.” Jovan memasukkan tangannya ke saku hoodie. “Kamu bilang Jalan Melati.”

Dan dia jalan, dan aku berdiri di situ, dan butuh tiga detik sampai aku sadar apa artinya.

Dia mendengar percakapan itu. Dari seberang kelas.

Dan dia mendengar aku berbohong untuk melindungi temannya.

Dan dia tidak bilang apa-apa selama seminggu.

“JOVAN.”

Dia tidak berbalik. Tapi dia mengangkat satu tangan, setinggi bahu, dan melambaikannya sekali tanpa menoleh.


Callys menghadangku di depan gerbang pulang sekolah dengan tangan bersedekap.

“Kamu ke belakang lab tadi.”

“Kamu ngikutin aku?”

“Aku nggak ngikutin, aku— ” Dia mengibaskan tangan. “Rani lihat. Rani cerita ke Vina. Vina cerita ke aku. Sekolah ini kecil, Sha.”

“Kamu tau nggak itu namanya apa?”

“Namanya peduli.”

“Namanya ngikutin lewat perantara.”

“Sama aja.” Dia jalan di sebelahku. “Terus? Mereka ngapain? Kalau mereka macem-macem aku—”

“Mereka minta tolong.”

Callys berhenti jalan.

“Minta tolong?”

“Iya.”

“Minta tolong apa?”

Aku memikirkan cara menjelaskannya, dan aku sadar tidak ada cara yang tidak terdengar aneh.

“Minta tolong jangan pergi,” kataku.

Callys menatapku.

“Itu—” Dia membuka mulut, menutupnya. “Itu aneh.”

“Iya.”

“Itu aneh banget, Sha.”

“Iya.”

“Kenapa mereka harus minta tolong ke orang buat jangan pergi dari temennya sendiri?”

Dan kami berdua berdiri di trotoar depan sekolah, dan aku bisa lihat momen persisnya di wajah Callys — momen ketika pertanyaan retorisnya sendiri menjawab dirinya.

Dia menoleh ke arah gerbang.

“Oh,” katanya pelan.

“Iya.”

“Berarti sebelum kamu ada yang—”

“Tiga.”

Callys diam sepanjang jalan ke halte.

Dan waktu angkotku datang, dia menahan lenganku sebentar.

“Aku tetep nggak percaya sama dia,” katanya.

“Aku tau.”

“Tapi...” Dia melepas lenganku, dan kelihatan sangat kesal pada dirinya sendiri. “Tapi aku juga nggak suka sama orang yang bikin foto itu.”

“Itu awal yang bagus.”

“Itu bukan awal apa-apa.”

“Itu awal, Callys.”

“BUKAN.”

Aku naik angkot sambil tertawa, dan dari jendela aku lihat dia masih berdiri di halte sambil menendang-nendang kerikil.


Aku kembali ke kelas dua menit setelah bel.

Dia sudah duduk. Dia melihatku masuk — cuma sekilas, langsung kembali ke jendela.

Aku duduk.

Aku keluarkan buku.

Dan sepuluh menit kemudian, waktu Bu Retno menulis di papan tulis dan seluruh kelas menyalin, aku bicara pelan tanpa menoleh.

“Kenzo sama Jovan ngajakin aku ngomong.”

Pensilnya berhenti.

“Kapan?”

“Barusan.”

Jeda.

“Mereka ngomong apa?”

Aku memikirkan Reza. Aku memikirkan Puspa. Aku memikirkan tiga puluh empat hari.

Aku memikirkan wajah Kenzo yang berubah setengah detik, dan aturan nomor tiga.

“Mereka bilang kamu nggak bakal cerita apa-apa,” kataku.

Dia diam cukup lama.

Lalu, sangat pelan:

“Mereka bener.”

“Aku tau.” Aku menyalin kalimat berikutnya dari papan tulis. “Nggak apa-apa.”

“Alesha.”

“Hm?”

“Kenapa kamu nggak nanya?”

Aku berhenti menulis.

Dan aku menoleh, dan dia sedang menatapku — betul-betul menatapku, dari jarak enam puluh sentimeter, dan matanya bukan mata orang yang sedang menantang.

Mata orang yang betul-betul tidak mengerti.

“Karena kamu bakal jawab kalau kamu mau,” kataku.

Dia menatapku dua detik lagi.

“Kalau aku nggak pernah mau?”

“Ya nggak apa-apa.”

“Itu nggak adil buat kamu.”

“Yang nggak adil itu kalau kamu jawab cuma karena aku maksa.” Aku kembali menyalin dari papan tulis. “Aku bisa nunggu. Aku orangnya sabar.”

Dia diam.

“Kamu bohong,” katanya akhirnya.

Aku hampir menjatuhkan pulpen.

“Apa?”

“Kamu ngetuk meja dua puluh sembilan kali tadi pagi pas nunggu Bu Retno.”

Aku menoleh penuh.

Dia sudah menghadap ke depan lagi, dan telinganya sudah merah, dan dia menulis seolah tidak baru saja mengaku bahwa dia menghitung ketukan jariku.

“Kamu ngitung?” tanyaku.

“...Nggak.”

“Arganta.”

“Nggak.”

Lalu dia menoleh ke depan, dan menulis, dan aku lihat tangannya sedikit tidak stabil di tiga huruf pertama sebelum kembali serapi biasanya.

Sisa pelajaran itu berjalan normal.

Kecuali satu hal, yang aku tidak sadari sampai bel pulang.

Dia tidak menggeser kursinya kembali.