Chapter Twenty Nine
Bab 29: Nggak Jadi
POV: Alesha
Kenzo bertahan sembilan hari sebagai orang yang paling bahagia di sekolah ini.
Sembilan hari.
Dan aku ingin mencatat bahwa sembilan hari itu adalah salah satu periode paling menghibur dalam hidupku, karena Kenzo Radiktya yang sedang pacaran ternyata adalah bencana alam.
Hari pertama: dia membawa dua tas.
Hari kedua: dia membawa dua tas dan satu payung, padahal tidak hujan.
Hari ketiga: dia mulai menyebut “kita” untuk hal-hal yang tidak masuk akal.
“Kita nggak suka soto instan.”
“Sejak kapan aku bilang gitu?” tanya Callys.
“Lo bilang kemarin.”
“Aku bilang aku nggak suka merek itu.”
“Sama aja.”
“NGGAK SAMA.”
Hari keempat: dia mulai mengoreksi orang yang salah menyebut nama Callys.
“Callysta.”
“Aku bilang Callys.”
“Nama dia Callysta.”
“Semua orang manggil Callys.”
“Gue nggak semua orang.”
Dan dari seberang meja, Callys menendang kaki kursinya dan berkata “berisik,” dan Kenzo bilang “iya,” dan tidak berhenti melakukannya sampai hari ini.
Hari kelima: dia memberi tahu Bu Retno.
Tidak ada yang menyuruhnya. Dia mengangkat tangan di tengah pelajaran dan berkata “Bu, izin, saya mau umumin sesuatu,” dan Bu Retno bilang “jangan,” dan Kenzo bilang “sebentar aja, Bu,” dan Bu Retno bilang “Kenzo, duduk,” dan Kenzo duduk.
Seluruh kelas sudah tahu dalam waktu empat menit.
Hari ketujuh: dia mulai menasihati orang.
Ini bagian yang paling tidak bisa kutahan.
“Ga.”
“Hm.”
“Lo tau nggak kunci hubungan itu apa?”
Arga mengangkat wajahnya dari bukunya.
“Nggak.”
“Komunikasi.”
“Oh.”
“Lo harus ngomong, Ga. Ngomong itu penting.”
Dan aku harus menaruh kepalaku di meja selama sepuluh detik.
Hari kedelapan: dia menasihati Jovan.
Ini bagian yang, kalau aku tahu apa yang akan terjadi, akan kurekam.
“Van.”
“Hm.”
“Lo harus berani.”
“Berani apa?”
“Berani ngomong sama Dira.”
Jovan tidak mengangkat kepalanya dari bukunya.
“Oke,” katanya.
“Gue serius, Van.” Kenzo duduk di meja. “Gue tau lo takut. Gue juga dulu takut.”
“Kamu takut dua hari yang lalu.”
“IYA. GUE INGET GIMANA RASANYA.”
“Oke.”
“Nggak, denger dulu.” Kenzo mencondongkan badan. “Yang penting itu momen, Van. Lo harus nunggu momen yang pas.”
Dan Jovan Arsakha membalik halaman bukunya dan berkata:
“Oke.”
Dan itu saja.
Dan aku duduk di sudut kanan belakang dan aku tidak tahu apa-apa, dan Arga juga tidak mengatakan apa-apa, dan aku baru tahu belakangan bahwa Arga sudah tahu selama sembilan hari dan tidak berkedip sekali pun.
Ada satu hal yang terjadi di sela sembilan hari itu yang tidak lucu, dan yang perlu kutulis.
Hari keenam, Kenzo menemukanku sendirian di ruang mading.
Dia berdiri di ambang pintu selama beberapa detik sebelum masuk, yang mana bukan gaya Kenzo sama sekali.
“Alesha.”
“Hm?”
“Boleh gue nanya sesuatu?”
“Nanya.”
Dia duduk di kursi seberangku, dan tidak bicara selama beberapa detik lagi.
“Zo.”
“Gue lihat lo di halte ketiga.”
Aku menaruh guntingku.
“Kapan?”
“Senin. Rabu.” Dia menggosok tengkuknya. “Gue lewat situ kalau pulang lewat komplek.”
“Aku cuma—”
“Alesha.” Dia mengangkat wajahnya. “Gue nggak nanya kenapa.”
“Terus kamu nanya apa?”
Dan Kenzo Radiktya berkata:
“Gue nanya lo udah bilang belum.”
Aku tidak menjawab.
“Ya udah,” katanya. “Gue tau jawabannya.”
Dia berdiri.
“Zo—”
“Gue nggak akan bilang ke dia.” Dia mengangkat kedua tangannya. “Gue janji. Itu bukan urusan gue.”
“Terus kenapa kamu nanya?”
Dan Kenzo berhenti di ambang pintu.
“Karena gue pernah di posisi lo,” katanya.
Aku menoleh.
“Kelas sepuluh,” katanya. “Waktu gue tiga puluh empat hari duduk di sebelah dia.”
Dia bersandar ke kusen.
“Ada yang ngatain gue di kantin. Gara-gara gue duduk di situ.” Dia mengangkat bahunya. “Gue nggak bilang. Gue takut kalau gue bilang, dia bakal ngusir gue beneran.”
“Terus?”
“Terus dia tau dari orang lain.”
Aku merasakan sesuatu dingin.
“Terus?”
Dan Kenzo berkata:
“Terus dia nggak masuk sekolah dua hari.”
Ruang mading itu jadi sangat sunyi.
“Waktu dia balik, gue tanya dia ke mana,” lanjut Kenzo. “Dia bilang ‘nggak apa-apa’.”
Dia menendang kusen pintu pelan.
“Gue baru tau setahun kemudian dia ke ruang BK dua kali di dua hari itu. Minta dipindah kelas.”
“Dia nggak jadi pindah?”
“Bu Retno nolak.” Kenzo mengangkat bahu. “Kata Bu Retno nggak ada alasannya.”
Dia berbalik ke pintu.
“Alesha.”
“Iya?”
“Yang gue pelajarin dari situ bukan ‘jangan nyimpen’,” katanya. “Gue tau lo pikir gue mau bilang gitu.”
“Terus apa?”
Dan Kenzo Radiktya berkata, dari ambang pintu ruang mading, sore hari:
“Yang gue pelajarin: dia bakal tau. Dia selalu tau. Yang lo bisa pilih cuma dia taunya dari lo, atau dari orang lain.”
Dia keluar.
Dan aku duduk di ruang mading itu memegang gunting yang tidak kupakai selama sepuluh menit.
Yang membongkarnya adalah Bu Ipah.
Aku ingin mencatat itu dengan jelas, karena tidak ada satu pun dari kami yang menduganya, dan karena itu sepenuhnya kecelakaan.
Hari Sabtu. Kami berenam di gerobak gorengan, pulang dari kerja bakti.
Bu Ipah sedang menggoreng, dan bicara, seperti biasa.
“Wah, sekarang rame ya.”
“Iya, Bu.”
“Dulu cuma bertiga.”
“Iya, Bu.”
Dan lalu, sambil menyaring bakwan, beliau menoleh ke Jovan dan Dira — yang berdiri di ujung, dua puluh senti berjarak, tidak melakukan apa pun — dan berkata:
“Yang ini kapan jadiannya?”
Hening.
“Bu—” kata Jovan.
“Ibu lihat kalian di depan warung Pak Somad hari Selasa,” lanjut Bu Ipah, sepenuhnya tidak sadar. “Sore-sore. Beli es.”
Kenzo berdiri sangat pelan.
“Hari Selasa?” katanya.
“Iya. Hari apa ya, minggu berapa.” Bu Ipah menghitung dengan jarinya. “Yang hujan itu bukan? Bukan. Sebelumnya.”
“Bu Ipah.”
“Iya, Neng?”
Dan Kenzo Radiktya berbalik sangat pelan ke arah dua orang paling pendiam di kelompok ini.
“Selasa yang mana,” katanya.
Jovan menaikkan kacamatanya.
“Van.”
“Hm.”
“SELASA YANG MANA.”
Aku akan mencoba menuliskan sepuluh menit berikutnya seakurat mungkin.
“Selasa waktu latihan upacara,” kata Jovan.
Kenzo tidak bergerak.
“Itu hari yang sama,” katanya.
“Iya.”
“Itu hari yang sama, Van.”
“Iya.”
“Jam berapa.”
Dan Jovan berkata, dengan nada paling datar sedunia:
“Istirahat kedua.”
“ISTIRAHAT KEDUA GUE JUGA—”
“Iya.”
“JAM BERAPA.”
“Sekitar jam sebelas lewat.”
Kenzo menghitung dengan jarinya di udara.
Kami semua menonton dia menghitung dengan jarinya di udara.
“Gue jam dua belas kurang dua puluh,” katanya.
“Iya.”
“BERARTI LO DULUAN.”
“Iya.”
“EMPAT PULUH MENIT?”
“Empat puluh dua,” kata Jovan.
Dan Kenzo mengeluarkan suara yang tidak bisa kutuliskan.
Callys tertawa selama satu menit penuh.
Bukan tertawa kecil. Dia harus berpegangan ke gerobak Bu Ipah, dan Bu Ipah harus memintanya menjauh dari minyak panas, dan dia pindah ke trotoar dan duduk di situ dan terus tertawa.
“KENAPA LO KETAWA,” kata Kenzo.
“Karena—” Callys tidak bisa menyelesaikannya. “Karena kamu—”
“CALLYS.”
“Kamu nasihatin dia HARI SENIN.”
“AKU—”
“Kamu bilang ‘nunggu momen yang pas’—”
“CALLYS.”
“—ke orang yang udah jadian lima hari sebelumnya.”
Dan Callysta Aruna jatuh ke samping di trotoar.
Kenzo duduk di trotoar dengan kedua tangan di kepalanya.
“Van.”
“Hm.”
“Kenapa lo nggak bilang?”
Dan ini bagian yang mengubah nada seluruh sore itu.
Jovan tidak menjawab dengan lelucon.
Dia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung hoodie, memakainya lagi.
Dan berkata:
“Karena kamu seneng.”
Kenzo mengangkat kepalanya.
“Hah?”
“Kamu seneng banget, Zo.” Jovan mengangkat bahunya sedikit. “Kamu bawa dua tas. Kamu bawa payung padahal nggak hujan. Kamu mau ngumumin ke Bu Retno.”
Dia menaikkan kacamatanya.
“Kamu belum pernah gitu.”
Kenzo tidak bicara.
“Kalau aku bilang, kamu bakal ngerasa kamu bukan yang pertama.” Jovan memasukkan tangannya ke saku hoodie. “Terus kamu bakal berhenti bawa payung.”
Trotoar itu jadi sangat sunyi.
Bu Ipah menggoreng.
“Van,” kata Kenzo, dan suaranya sudah berubah.
“Hm.”
“Lo tuh nyebelin banget.”
“Iya.”
“Lo tuh nyebelin banget, Van.”
“Iya.”
Dan Kenzo berdiri, dan berjalan ke arah Jovan, dan memeluknya dengan cara paling kasar yang pernah kulihat — satu tangan di leher, kepala Jovan ditekan ke bawah, sambil berteriak “GUE BENCI LO” ke telinganya.
Kacamata Jovan jatuh.
Dira mengambilnya dari trotoar tanpa berkomentar dan memegangnya sampai selesai.
“Sha.”
Callys, masih di trotoar, sudah berhenti tertawa.
“Hm?”
“Kamu tau nggak yang paling gila?”
“Apa?”
Dan dia menunjuk ke arah Arga, yang sedang membantu Bu Ipah memindahkan tabung gas dan tidak berpartisipasi dalam apa pun sejak sepuluh menit lalu.
“Dia tau.”
Aku menoleh.
“Kamu tau dari mana?”
“Lihat mukanya.”
Aku melihat mukanya.
Dan Callys benar, karena tidak ada satu pun perubahan di wajah itu selama sepuluh menit terakhir. Nol. Dia tidak kaget waktu Bu Ipah bilang. Dia tidak kaget waktu Kenzo menghitung dengan jarinya. Dia tidak kaget sama sekali.
“BHUMI,” teriak Callys.
Arga menaruh tabung gasnya.
“Iya?”
“Kamu tau?”
Dan Arga — yang tidak pernah bisa berbohong, yang seluruh sistem kebohongannya adalah menjawab pendek dan berharap orang berhenti bertanya — menjawab:
“Iya.”
“DARI KAPAN?”
“Hari Selasa.”
Kenzo melepaskan leher Jovan.
“HARI SELASA?”
“Kamis,” koreksi Arga. “Van cerita hari Kamis.”
“HARI KAMIS?!”
“Iya.”
“LO TAU DARI KAMIS DAN LO DIEM AJA WAKTU GUE NASIHATIN DIA HARI SENIN?”
Dan Arganta Bhumi mengangkat tabung gas berikutnya dan berkata, dengan nada paling biasa sedunia:
“Kamu lagi seneng.”
Kenzo duduk di trotoar dan tidak berdiri selama enam menit.
Kami pulang jalan kaki sore itu.
Enam orang, trotoar, jam lima lewat.
Kenzo dan Callys di depan, bertengkar tentang apakah Jovan curang atau tidak. (Posisi Kenzo: curang. Posisi Callys: “kamu cuma nggak terima.” Posisi Kenzo: “IYA GUE NGGAK TERIMA.”)
Jovan dan Dira di tengah, tidak bicara.
Aku dan Arga di belakang.
Dan aku menoleh ke arahnya dan bertanya:
“Ga.”
“Hm.”
“Kamu nyimpen itu sembilan hari.”
“Lima hari.”
“Sembilan hari, Ga. Kamis sampai Sabtu minggu depannya.”
“...Sembilan.”
“Kamu nggak capek?”
Dan dia berpikir sebentar.
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dan dia berkata, sambil memandangi dua orang yang bertengkar di depan:
“Karena itu bukan rahasia aku.”
Aku berhenti jalan.
“Apa?”
“Rahasia orang itu beda sama rahasia sendiri.” Dia berhenti juga. “Kalau rahasia sendiri, kamu nyimpen buat diri kamu. Itu capek.”
“Terus?”
“Kalau rahasia orang, kamu nyimpen buat dia.” Dia mengangkat bahunya. “Itu nggak capek. Itu enak.”
Dan dia jalan lagi.
Dan aku berdiri di trotoar selama dua detik sebelum menyusul, karena ada sesuatu di kalimat itu yang menusuk dan aku belum sempat menamainya.
Aku menamainya malam itu, jam sebelas, sambil menatap langit-langit.
Kalau rahasia sendiri, kamu nyimpen buat diri kamu. Itu capek.
Aku sedang menyimpan rahasia sendiri.
Dua akun yang sudah kublokir. Satu yang belum. Rute pulang yang sudah tiga kali kuganti. Folder di laptopku yang namanya membosankan supaya tidak ada yang bertanya.
Dan aku capek.
Aku capek dengan cara yang tidak kusadari sampai seseorang menyebutkan bahwa ada dua jenis capek dan aku sedang mengalami yang salah.
Aku mengambil ponselku.
Aku membuka percakapan dengan Arga.
Aku mengetik: Ga, ada tiga akun.
Dan aku menatapnya.
Dan aku berpikir tentang apa yang akan dia lakukan.
Bukan marah. Bukan mencari orangnya.
Dia akan menghitung.
Dia akan menghitung berapa banyak yang sudah terjadi dalam berapa lama, dan dia akan membandingkannya dengan Reza dan Puspa, dan dia akan sampai pada satu kesimpulan yang sudah dia percayai selama lima tahun.
Dan dia akan pergi.
Bukan karena tidak sayang.
Karena sayang, dengan cara yang salah, yang tidak pernah ada yang mengajarinya untuk memperbaiki.
Aku menghapus pesan itu.
Dan aku menulis:
Besok jemput lagi ya.
Oke.
Setengah tujuh?
Oke.
Dan lalu, dua menit kemudian, dari dia:
Alesha.
Iya?
Aku bawain yang cokelat.
Aku membaca pesan itu, dan aku menutup mataku, dan aku sadar dengan sangat jelas apa yang sedang dia lakukan.
Dia sedang duduk di teras.
Dia sudah duduk di teras selama berminggu-minggu, tanpa mengetuk, tanpa memanggil, tanpa menelepon.
Dan aku adalah orang di lantai dua yang mengintip dari balik tirai dan berpikir mungkin kotak itu untuk orang lain.
Aku mengetik satu kalimat.
Ga, hari Sabtu kita ke tempat kamu ya. Aku mau cerita sesuatu.
Kirim.
Balasannya datang dalam dua belas detik.
Oke.
Lalu:
Aku tunggu.
Aku tidak tidur sampai jam satu.
Aku menyusun kalimatnya di kepala. Semuanya. Dari awal.
Tiga akun. DM pertama, soal rok biru. Rute pulang. Folder di laptop. Empat puluh tujuh postingan. Pola tiga hari. Dua puluh menit dari jam 20.55 sampai 21.15. Peringatan Bu Retno.
Dan bagian terakhir, yang paling sulit, yang belum kukatakan ke siapa pun:
Bahwa aku sudah tahu siapa orangnya.
Bukan tahu dengan bukti. Tahu dengan cara yang tidak bisa kubawa ke mana pun — tahu karena sembilan pertanyaan dalam empat bulan, karena laci ketiga, karena tumpukan foto yang berhenti setengah detik, karena tiga kali “hati-hati ya” yang persis sama.
Aku menyusun seluruhnya sampai jam satu pagi.
Dan hari Sabtu itu tidak pernah datang.
Karena hari Jumat sore, sehari sebelumnya, terjadi sesuatu di parkiran belakang gedung timur yang memakan waktu lima detik.
Dan aku tidak jadi cerita.
Dan aku memikirkan malam itu — malam Rabu, jam satu pagi, dengan seluruh kalimat sudah tersusun rapi di kepalaku — selama bertahun-tahun setelahnya.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi reading
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama