← Bangku Sebelah

Chapter Thirty Three

Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi

POV: Arga


Surat skorsingnya keluar hari Senin.

Empat belas hari kerja. Terhitung sejak Senin. Dengan catatan bahwa keputusan final menunggu sidang komite yang jadwalnya belum ditentukan.

Ayah yang mengambilnya ke sekolah. Aku tidak boleh masuk lingkungan sekolah selama masa skorsing, jadi aku menunggu di seberang jalan, di depan warung, seperti orang menunggu jemputan.

Ayah keluar dari gerbang jam sembilan lewat.

Dia menyeberang, menyerahkan amplopnya padaku, dan berkata:

“Sudah?”

“Sudah, Yah.”

Dan kami pulang.

Tidak ada percakapan lain sepanjang jalan.

Aku ingin mencatat bahwa itu bukan karena Ayah marah.

Ayah tidak pernah marah. Dalam tujuh belas tahun aku belum pernah melihatnya marah. Yang dia lakukan kalau ada masalah adalah bekerja lebih awal, dan pagi itu dia sudah menyalakan oven jam tiga.

Dan waktu kami sampai rumah, dia berkata satu hal.

“Adonan yang manis belum.”

“Iya, Yah.”

Dan aku ke dapur.


Ini yang perlu kujelaskan tentang empat belas hari itu.

Aku tidak duduk diam.

Orang mengira skorsing itu tinggal di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Bukan begitu. Toko tetap buka jam tujuh. Adonan tetap harus diuleni jam empat. Antaran Jumat tetap ada.

Aku bekerja lebih banyak dari sebelumnya, karena aku ada di rumah sepanjang hari, dan karena Ibu tidak bisa menghentikanku.

Ibu mencoba di hari kedua.

“Ga, istirahat.”

“Nggak capek, Bu.”

“Ibu nggak nanya kamu capek atau nggak.”

Aku terus menguleni.

Dan Ibu berdiri di ambang pintu dapur cukup lama.

Lalu beliau berkata:

“Kamu nggak nanya Ibu marah apa nggak.”

Aku berhenti.

“Ibu marah?”

“Nggak.”

“Ya udah.”

“Kamu nggak nanya kenapa Ibu nggak marah.”

Dan aku berdiri di dapur dengan tangan di adonan dan aku tidak menjawab, karena aku tahu jawabannya dan aku tidak mau mendengarnya diucapkan.

Ibu tetap mengucapkannya.

“Karena Ibu udah tau ceritanya dari lima tahun lalu,” kata beliau.

Dan beliau kembali ke depan.


Hari ketiga.

Kenzo datang jam empat sore.

Dia tidak menelepon dulu. Dia cuma muncul di depan toko dengan sepedanya, dan Ibu membiarkannya masuk ke dapur, dan dia duduk di kursi plastik sudut selama dua jam sambil bicara tanpa henti tentang hal-hal yang tidak penting.

Jadwal ulangan. Kucing di depan rumahnya. Pertengkarannya dengan Callysta soal warna.

Dia tidak menyebut sekolah satu kali pun.

Aku tahu itu disengaja karena Kenzo tidak bisa tidak menyebut sesuatu kecuali dia sedang berusaha keras.

Jam enam dia berdiri.

“Gue balik.”

“Iya.”

“Besok gue ke sini lagi.”

“Nggak usah.”

Dan Kenzo Radiktya berhenti di ambang pintu dapur, dan berkata — dan nadanya berubah, cuma sedikit:

“Ga.”

“Hm.”

“Lo bilang ‘nggak usah’ ke gue tiga puluh empat hari dulu.”

Aku tidak menjawab.

“Gue tetep dateng,” katanya.

Dan dia pergi.

Dan dia datang lagi besoknya. Dan besoknya lagi.


Hari kelima.

Jovan datang bersama Kenzo, dan sejak itu mereka selalu berdua.

Jovan tidak bicara banyak. Dia duduk di kursi plastik yang satunya dan mengerjakan PR-nya sendiri, dan sesekali menyodorkan bukunya ke arahku waktu ada bagian yang menurutnya perlu kuketahui.

Dia yang membawa catatan pelajaran tiap hari. Ditulis tangan. Lengkap.

Aku tidak pernah memintanya.

Di hari kesembilan aku menyadari sesuatu tentang catatan itu.

Tulisannya bukan tulisan Jovan.

“Van.”

“Hm.”

“Ini bukan tulisan kamu.”

Dia tidak mengangkat kepalanya.

“Bukan.”

“Punya siapa?”

Dan Jovan berkata:

“Callysta.”

Aku menatap catatan itu.

“Dia yang nulis?”

“Dia yang nulis ulang.” Jovan membalik halaman bukunya. “Punya aku jelek.”

“Kenapa dia nggak bawa sendiri?”

Dan Jovan Arsakha berhenti menulis, dan menaikkan kacamatanya, dan berkata:

“Dia nggak berani ke sini.”


Hari keenam.

Aku mengantar kue ke panti hari Jumat seperti biasa.

Bu Nur tidak tahu. Aku tidak menceritakannya.

Yang tahu cuma Ical, dan Ical tahu karena Ical adalah satu-satunya orang di seluruh panti itu yang memperhatikan hal-hal yang tidak dia tanyakan.

Dia duduk di teras di sebelahku sambil memegang mobil-mobilan yang rodanya sudah kami betulkan tiga minggu lalu.

Dia tidak bicara selama dua puluh menit.

Lalu dia berkata:

“Kak Gagah kok sore-sore?”

“Kenapa?”

“Biasanya jam enam.”

Aku melihat jam. Setengah lima.

“Iya,” kataku.

Dan Ical mengangguk, dan tidak bertanya lagi.

Dan setelah lima menit dia berkata:

“Kakak nggak sekolah?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dan aku duduk di teras panti asuhan dengan anak berumur delapan tahun yang sudah tiga bulan tidak mau bicara dengan siapa pun kecuali aku dan Bu Nur, dan aku tidak bisa berbohong padanya.

“Aku nakal,” kataku.

Ical menoleh.

Dan dia menatapku cukup lama, dengan wajah anak delapan tahun yang sedang memeriksa sesuatu.

Lalu dia berkata:

“Bohong.”

Dan dia kembali memainkan mobil-mobilannya.

Aku duduk di teras itu selama sisa waktu itu dan tidak mengatakan apa-apa.


Hari kedelapan.

Alesha datang setiap hari.

Aku belum menuliskan itu karena aku tidak tahu cara menuliskannya.

Dia datang jam empat, tiap hari, tanpa kecuali. Dia duduk di kursi plastik sudut. Dia mengerjakan tugasnya. Kadang dia membantu di depan waktu Ibu ke belakang.

Dan dia tidak bicara tentang hari Jumat itu.

Aku juga tidak.

Kami berdua tidak, selama delapan hari, dan aku tahu persis kenapa aku tidak, dan aku tidak tahu kenapa dia tidak.

Hari kedelapan, dia bicara.

“Ga.”

“Hm.”

“Sabtu itu.”

Aku berhenti menakar.

“Iya?”

“Kamu bilang kamu mau cerita sesuatu.”

Aku menaruh takarannya.

Dan aku berdiri di dapur membelakanginya, dan aku memikirkan tiga hal sekaligus:

Bahwa aku memang mau cerita.

Bahwa aku sudah menyiapkan seluruhnya — hari Selasa, hari Rabu, hari Kamis, orang di depan toko kelontong, empat blok, rumah di komplek yang aku sudah tahu nomornya.

Dan bahwa sekarang aku tidak bisa mengatakan satu pun dari itu.

Karena kalau aku bilang aku sudah mengikuti orang itu selama tiga hari sebelum hari Jumat, maka seluruh kesaksianku berubah bentuk.

Dari orang yang kebetulan datang, jadi orang yang sudah lama mengamati.

Aku bukan pengacara. Tapi aku sudah cukup lama hidup dengan nama seperti namaku untuk tahu bentuk apa yang orang cari.

“Nggak jadi,” kataku.

“Ga.”

“Nggak penting.”

“Ga, kamu—”

“Alesha.” Aku berbalik. “Beneran nggak penting.”

Dan dia menatapku dari kursi plastik di sudut dapur, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuatku harus berbalik lagi.

Dia tidak percaya.

Dan dia tidak mengejar.

Persis seperti yang kuajarkan padanya, selama delapan bulan, tanpa pernah bermaksud mengajarkannya.


Hari kesepuluh.

Kenzo membawa berita.

Dia masuk ke dapur dan tidak duduk, yang mana pertama kalinya.

“Ga.”

“Hm.”

“Gue mau ngasih tau sesuatu dan gue nggak mau lo marah.”

Aku menutup oven.

“Apa.”

“Sidang komitenya udah dijadwalin.”

“Kapan?”

“Belum tau tanggalnya.” Kenzo menggosok tengkuknya. “Tapi bukan itu.”

Aku menunggu.

“Bapaknya Sean masuk komite,” katanya.

Aku tidak bergerak.

“Bukan yang baru,” lanjut Kenzo cepat. “Dia udah dari dulu. Dari tahun lalu. Bukan gara-gara ini.”

“Oke.”

“Ga—”

“Oke, Zo.”

Dan Kenzo berdiri di tengah dapur dengan kedua tangan di kepalanya.

“Kenapa lo selalu bilang oke,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Ga, gue nanya.”

Dan aku mengambil loyang berikutnya dan berkata:

“Karena marah nggak ngubah komitenya.”


Hari kesebelas.

Aku menerima pesan dari nomor yang tidak kukenal.

Bukan ancaman.

Ini Ibunya Reyhan. Rey mau ketemu tapi takut ganggu. Boleh ya Nak?

Aku menatap layar itu cukup lama.

Aku mengetik: Nggak usah, Bu. Nanti dia kena.

Aku menghapusnya.

Aku mengetik: Boleh, Bu.

Aku menghapusnya juga.

Akhirnya aku mengirim: Suruh dia belajar aja, Bu. Ujian dia bulan depan.

Balasannya datang dua puluh menit kemudian.

Iya Nak. Makasih ya.

Lalu, lima menit kemudian:

Dia nangis kemarin.

Aku mematikan ponselku dan menaruhnya di rak dan tidak menyentuhnya sampai malam.


Hari kedua belas.

Ini bagian yang paling ingin kutulis dan paling tidak bisa kutulis.

Alesha bercerita tentang kelas.

Dia tidak bermaksud. Dia sedang menceritakan hal lain — soal PR Kimia — dan di tengahnya dia menyebutkan sesuatu tentang tempat duduk.

Dan aku bertanya.

Aku seharusnya tidak bertanya.

“Kelas gimana?”

Dia berhenti.

“Biasa aja.”

“Alesha.”

“Beneran biasa.”

Dan aku menaruh spatula dan aku berbalik dan aku bilang:

“Kamu duduk di mana?”


Dia tidak menjawab selama beberapa detik.

Lalu dia bilang:

“Di tempat aku.”

“Sendiri?”

“Iya.”

“Mejanya masih digabung?”

Dan Alesha Naraya menunduk ke arah bukunya dan berkata:

“Iya.”

“Semuanya?”

“Semuanya.”

“Kenzo?”

“Tiap pagi.” Dia masih tidak mengangkat kepalanya. “Dia geser mejanya tiap pagi, Ga. Sendirian. Kayak dia takut kalau nggak digeser nanti nggak ada yang inget bentuknya.”

Aku tidak bicara.

“Callys marah-marah ke dia hari ketiga,” lanjutnya. “Katanya berisik, katanya nggak usah tiap pagi, mejanya kan nggak pindah.”

“Terus?”

“Terus Callys yang bantuin geser hari keempat.”

Aku memegang pinggiran meja stainless.

“Sha.”

“Hm?”

“Kursinya gimana?”

Dan dia mengangkat kepalanya.

“Kursi yang mana?”

“Yang di sebelah kamu.”


Aku ingin menjelaskan kenapa aku menanyakan itu.

Bukan karena aku ingin tahu.

Aku sudah tahu. Aku sudah menghitungnya sejak hari pertama skorsing, sambil menguleni adonan jam empat pagi.

Tiga tahun bangku itu kosong. Delapan bulan tidak.

Dan sekarang kosong lagi.

Aku menanyakannya karena aku ingin mendengarnya dari orang yang duduk di sebelahnya, karena aku sudah menghabiskan dua belas hari mencoba tidak memikirkannya dan gagal setiap kali.

Alesha menutup bukunya.

“Nggak ada yang duduk,” katanya.

“Aku tau.”

“Ga—”

“Nggak apa-apa.”

“Nggak ada yang duduk,” ulangnya, dan suaranya berubah. “Tapi bukan kayak dulu.”

Aku menoleh.

“Maksudnya?”

Dan dia berkata:

“Dulu orang jauhin. Sekarang orang jagain.”


“Rani naruh tasnya di situ hari Selasa,” katanya.

“Terus?”

“Terus Fajar bilang ‘eh, jangan.’”

Aku menaruh spatula.

“Bukan nakut-nakutin,” lanjut Alesha cepat. “Dia bilangnya kayak—” Dia mencari katanya. “Kayak orang bilang jangan duduk di kursi yang udah ada orangnya.”

Dan dia mengangkat wajahnya.

“Rani mindahin tasnya, Ga. Terus dia bilang sori. Ke kursi.”

Aku berdiri di dapur tiga kali empat meter itu dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa selama mungkin sepuluh detik.

“Dan tiap pagi,” kata Alesha, “Kenzo naruh satu kotak kue di meja itu.”

Aku menoleh cepat.

“Kotak apa?”

“Yang dari sini.” Dia menatapku. “Yang aku bawa tiap hari. Yang kamu titipin buat aku.”

Aku tidak tahu itu.

Aku memberinya dua kotak tiap pagi selama dua belas hari. Aku pikir dia memakannya.

“Kenzo naruh di kursi kamu,” katanya. “Terus jam pulang dia ambil lagi.”

“Terus dimakan?”

“Nggak.”

“Terus?”

Dan Alesha berkata:

“Dia bawa pulang. Dia simpen.”


Dua belas hari.

Dua belas kotak.

Aku memegang pinggiran meja stainless itu dengan dua tangan dan aku menunduk dan aku tidak bisa bernapas dengan benar selama beberapa detik.

Dan aku tidak menangis.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah memikirkan berkali-kali apakah aku seharusnya menangis di titik itu, dan jawabannya adalah aku tidak bisa.

Ada sesuatu yang rusak di dalam diriku soal itu, dan sudah lama rusak, dan aku baru tahu betapa rusaknya di dapur itu, di hari kedua belas, sambil memegang pinggiran meja stainless.

Alesha berdiri.

Dia berjalan ke arahku.

Dan dia tidak memelukku. Dia berdiri di sebelahku, bahu ke lengan, menghadap arah yang sama, dan menaruh telapak tangannya di punggungku.

Di sisi kiri.

Di atas garis itu.

Dan membiarkannya di situ.

“Sha.”

“Hm.”

“Kamu tau nggak yang paling aneh?”

“Apa?”

Dan aku berkata:

“Dulu waktu bangku itu kosong, aku yang jagain.”

Aku menoleh.

“Sekarang mereka yang jagain.”

Dan aku berkata satu hal lagi, dan aku menyesalinya sekitar tiga detik kemudian karena aku melihat wajahnya.

“Padahal isinya sama.”


Hari ketiga belas.

Ibu turun ke dapur jam sebelas malam.

Aku masih di situ. Aku tidak tidur di hari ketiga belas, tidak sepenuhnya, karena aku sudah menyelesaikan semua pesanan dan tidak ada lagi yang bisa dikerjakan dan aku tetap di dapur.

“Ga.”

“Iya, Bu.”

“Kamu ngapain?”

“Bersih-bersih.”

“Ini udah bersih dari jam sembilan.”

Aku tidak menjawab.

Dan Ibu masuk, dan duduk di kursi plastik sudut — kursi Alesha — dan menghela napas seperti orang yang duduk setelah berdiri lama.

“Ga.”

“Iya, Bu.”

“Ibu mau nanya satu hal.”

“Iya, Bu.”

Dan Bunda Ratih berkata:

“Kamu udah mulai mikirin cara pergi belum?”


Aku tidak menjawab.

Aku berdiri di depan bak cuci dengan spons di tangan dan aku tidak menjawab, dan itu jawabannya, dan kami berdua tahu.

“Ibu tau tandanya,” kata beliau. “Ibu udah lihat dua kali.”

“Bu—”

“Yang pertama waktu kamu kelas satu SMP. Anak yang namanya Danu.”

Aku memegang bak cuci.

“Yang kedua waktu kelas sebelas. Yang namanya Puspa.” Ibu melipat tangannya. “Kamu berhenti makan malam dua minggu. Kamu bilang kekenyangan.”

Aku tidak bergerak.

“Sekarang kamu bersih-bersih dapur yang udah bersih,” kata Ibu, “sampai jam sebelas malam.”

Kipas exhaust berputar.

“Bu,” kataku.

“Iya?”

Dan aku bertanya sesuatu yang tidak pernah kutanyakan ke siapa pun seumur hidupku.

“Kalau saya nggak pergi, gimana?”

Ibu tidak menjawab cepat.

Beliau duduk di kursi plastik itu cukup lama.

Lalu beliau berkata:

“Ibu nggak tau, Ga.”

Dan itu jawaban yang jujur, dan itu yang paling tidak bisa kutanggung.

“Ibu cuma tau satu hal,” lanjut beliau.

“Apa, Bu?”

Dan Bunda Ratih berdiri dari kursi plastik itu, dan berjalan ke ambang pintu, dan berhenti.

“Kamu ninggalin Danu duluan sebelum dia pindah,” kata beliau. “Dua bulan sebelumnya kamu udah nggak main ke rumahnya.”

Aku menutup mataku.

“Dia pindah karena bapaknya dipindah tugas, Ga,” kata Ibu. “Itu beneran. Ibu yang ngobrol sama ibunya.”

Beliau mematikan lampu depan.

“Tapi kamu udah pergi duluan dua bulan sebelumnya,” kata beliau, “dan Ibu nggak pernah tau kenapa.”

Beliau naik ke atas.

Dan aku berdiri di dapur itu sampai jam satu pagi memegang spons yang sudah kering.


Suratnya datang hari keempat belas.

Amplop cokelat, dari sekolah, dibawa satpam ke toko jam sepuluh pagi.

Ibu yang menerima. Ibu yang membuka. Ibu yang membacanya lebih dulu.

Dan Ibu berdiri di depan etalase memegang surat itu selama mungkin satu menit sebelum berbalik ke arah tirai plastik.

Beliau tidak masuk ke dapur.

Beliau cuma berkata, dari balik tirai:

“Ga.”

“Iya, Bu.”

“Sidangnya minggu depan.”

“Iya, Bu.”

Hening.

“Ga.”

“Iya, Bu?”

Dan Ibu berkata, dan suaranya berubah dengan cara yang belum pernah kudengar seumur hidupku:

“Ada satu nama lagi di suratnya.”

Aku berhenti menguleni.

“Nama siapa, Bu?”

Dan Bunda Ratih membaca dari balik tirai plastik, dengan suara yang datar dan hati-hati, satu baris:

“‘Saksi yang dipanggil: Alesha Naraya, kelas XI IPA 3.’”