← Bangku Sebelah

Chapter Sixteen

Bab 16: Gerobak Bu Ipah

POV: Alesha


Gerobak itu terguling hari Sabtu pagi.

Ada truk pasir yang mundur terlalu lebar di belokan depan sekolah, dan ujung baknya menyerempet gerobak yang sedang diparkir, dan gerobak itu jatuh ke sisi kirinya dengan seluruh isinya.

Aku tahu detail ini karena aku ada di sana. Kami semua ada di sana.

Sabtu itu ada kerja bakti kelas — mengecat ulang pagar belakang, kegiatan yang diadakan sekolah setiap semester dan yang tidak pernah dihadiri lebih dari sepertiga kelas.

Kelas sebelas tiga dapat giliran jam delapan.

Kami berenam datang jam setengah delapan karena Kenzo salah baca jadwal, dan kami sedang berdiri di depan gerbang menunggu Pak Sudir membuka portal waktu truk itu mundur.

Bunyinya tidak keras.

Itu yang aneh. Aku selalu mengira kecelakaan itu berisik. Yang terjadi cuma bunyi kayu berderak, lalu bunyi logam, lalu bunyi wajan penggorengan besar jatuh ke aspal dan minyaknya tumpah.

Lalu suara Bu Ipah.


Yang bergerak pertama bukan Arga.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sendiri kaget.

Yang bergerak pertama adalah Callys.

Dia sudah setengah jalan menyeberang sebelum siapa pun sempat berpikir, sudah berteriak ke arah truk supaya berhenti, dan sudah berjongkok di sebelah Bu Ipah — yang jatuh terduduk, yang tangannya kena minyak panas di sisi luar, yang lebih panik soal gerobaknya daripada soal tangannya.

“Ibu, jangan diangkat dulu—”

“Dagangan Ibu—”

“IBU. Tangannya dulu.”

Dan aku berdiri di trotoar seberang selama mungkin tiga detik sebelum aku ikut lari, dan di tiga detik itu aku sempat melihat sesuatu.

Arga tidak lari.

Dia jalan cepat ke arah pos satpam.

Dan waktu aku sudah menyeberang dan berjongkok di sebelah Callys, dia sudah kembali dengan botol air lima liter dari dispenser pos, dan menuangkannya ke tangan Bu Ipah sebelum siapa pun sempat menyuruhnya.

“Air dulu, Bu,” katanya. “Lima belas menit.”

“Nggak apa-apa, Ga—”

“Lima belas menit, Bu.”

Dan Bu Ipah — yang jelas-jelas sedang lebih memikirkan gerobaknya, yang jelas-jelas mau berdiri — melihat wajahnya dan berhenti membantah.

Kenzo sudah menelepon entah siapa. Jovan sudah di sisi lain gerobak, memeriksa apakah tabung gasnya bocor. Dira mengumpulkan pisang goreng yang berhamburan ke dalam kantong plastik yang entah dia dapat dari mana.

Dan Arga jongkok di sebelah Bu Ipah memegang botol lima liter itu selama lima belas menit penuh, sambil sesekali mengganti posisinya supaya airnya rata, dan tidak melakukan apa pun yang lain sampai lima belas menit itu selesai.

Aku menghitung waktunya. Tepat lima belas.


Gerobaknya rusak di dua tempat: roda kiri dan satu tiang penyangga tenda.

Truk pasirnya pergi. Nomornya tidak ada yang catat, termasuk aku, yang mana adalah kegagalan profesional dari seseorang yang mengaku anak jurnalistik.

Kerja bakti dibatalkan untuk kelas kami. Bu Retno datang jam sembilan, melihat situasinya, dan bilang kami boleh pulang.

Tidak ada yang pulang.

Kami menghabiskan Sabtu itu, dari jam sembilan sampai jam satu, membenahi gerobak gorengan di trotoar depan sekolah.

Ini bagian yang harus kuceritakan, karena ini hari paling menyenangkan sepanjang semester itu.

Jovan ternyata bisa mengelas. Bukan mengelas betulan — dia tidak punya alat. Tapi dia tahu di mana bengkel las terdekat, dia tahu berapa harga yang wajar, dan dia yang menawar sampai turun tiga puluh ribu dengan wajah datar total sambil berkata “ya udah kalau gitu di tempat lain aja” dan berbalik pergi, yang mana berhasil dalam waktu empat detik.

Kenzo tidak berguna sama sekali dalam hal teknis, tapi dia menghilang selama dua puluh menit dan kembali dengan enam gelas es dan seorang tukang kayu dari gang belakang yang katanya “temen bapak gue.”

Dira menyortir seluruh dagangan yang jatuh, memisahkan yang masih bisa dijual dan yang tidak, dan mencuci wadah-wadahnya di keran belakang pos satpam. Dia melakukannya tanpa diminta dan tanpa berhenti, dan waktu Bu Ipah bilang jangan repot-repot, dia bilang “aku cuma mikir aja, nanti bau kalau nggak dicuci sekarang.”

Callys mengurus Bu Ipah. Membeli salep di apotek dua blok. Memaksa beliau duduk. Mengancam beliau — betul-betul mengancam — bahwa kalau berdiri lagi, Callys akan menelepon anaknya.

“Ibu punya nomor anak Ibu?”

“Punya.”

“Kasih ke saya.”

“Nanti dia khawatir.”

“Ya bagus.”

Aku memegang senter dan menyerahkan alat, yang mana adalah tugas yang diberikan Jovan padaku setelah dia melihatku mencoba memegang obeng.

Dan Arga mengangkat gerobaknya.

Sendirian.

Aku ingin memberikan konteks. Gerobak gorengan itu, dengan wajan besi, tabung gas, dan seluruh kerangka kayunya, beratnya mungkin delapan puluh kilo. Tukang kayu itu bilang butuh tiga orang.

Arga mengangkatnya sendiri supaya Jovan bisa memasang roda penggantinya, dan dia menahannya selama empat menit sambil Jovan bekerja di bawah, dan waktu Jovan bilang “udah,” dia menurunkannya pelan-pelan supaya tidak menghentak.

Lalu dia duduk di trotoar dan minum air dan tidak mengatakan apa-apa tentang itu sama sekali.

Kenzo berkata, ke arah tidak seorang pun:

“Gue selalu lupa dia bisa gitu.”

“Iya,” kata Jovan.

“Kayak, gue tau dia gede. Tapi gue lupa dia GEDE.”

“Iya.”

Dan Callys — yang sedang mengoleskan salep ke tangan Bu Ipah, yang tidak berpartisipasi dalam percakapan ini sama sekali — berkata tanpa mengangkat kepala:

“Dia nggak pernah pakai itu.”

Semua orang berhenti.

“Apa?” kata Kenzo.

Callys mengangkat wajahnya, dan sepertinya dia sendiri kaget bahwa dia mengucapkannya keras-keras.

“Nggak apa-apa,” katanya.

“Nggak, kamu bilang—”

“Aku bilang nggak apa-apa, Kenzo.”

Tapi dia sudah mengatakannya, dan aku mendengarnya, dan aku tahu persis apa yang sedang dia hitung.

Orang yang bisa mengangkat delapan puluh kilo sendirian, yang tiga tahun dicap sebagai orang paling berbahaya di sekolah ini, tidak punya satu pun catatan tentang orang yang dia lukai.


Ada satu hal lagi yang terjadi hari itu, dan ini yang paling kecil dan yang paling kuingat.

Sekitar jam sebelas, waktu gerobaknya sudah setengah jadi dan semua orang sedang istirahat, ada rombongan anak sekolah lewat.

Bukan sekolah kami. Seragam biru, dari SMP di ujung jalan, sekitar delapan orang, pulang latihan.

Mereka lewat trotoar seberang.

Dan salah satu dari mereka melihat ke arah kami, dan menarik lengan temannya, dan mereka semua menyeberang ke sisi lain jalan.

Delapan orang. Menyeberang.

Aku melihatnya. Callys melihatnya. Kenzo melihatnya dan langsung membuka mulut untuk berteriak sesuatu, dan Jovan menahan lengannya lagi.

Dan Arga — yang sedang memegang tiang tenda supaya tukang kayu bisa mengukur — tidak menoleh sama sekali.

Aku yakin dia tidak melihat. Aku yakin sekali selama sekitar dua menit.

Lalu, waktu tukang kayunya selesai mengukur dan pergi mengambil kayu, Arga melepaskan tiang itu, dan pindah.

Dia pindah ke sisi gerobak yang membelakangi jalan.

Dia melakukannya tanpa mengatakan apa pun, dan dia bekerja dari sisi itu selama sisa hari itu, dan tidak ada satu orang pun yang berkomentar.

Kecuali Dira.

Dira, yang sedang mencuci wadah di keran, berkata sangat pelan — cukup pelan sehingga cuma aku yang dengar:

“Dia lihat.”

“Aku tau.”

“Dia selalu lihat, Sha.” Dira mematikan keran. “Aku cuma mikir aja. Kita semua ngira dia nggak sadar. Tapi dia yang paling sadar dari kita semua.”


Bu Ipah bercerita jam dua belas.

Kami sedang duduk di trotoar makan pisang goreng yang tidak bisa dijual — yang mana ternyata jumlahnya sangat banyak, dan yang mana Bu Ipah bersikeras kami habiskan.

“Ibu jadi nggak enak,” kata beliau untuk kesekian kalinya.

“Ibu udah bilang itu sebelas kali,” kata Jovan.

“Ya abisnya—”

“Dua belas.”

Bu Ipah tertawa.

Dan lalu, sambil menata ulang wadahnya dengan satu tangan yang tidak diperban, beliau bilang:

“Untung ada kalian. Kemarin-kemarin mah Ibu sendirian.”

“Emang pernah kejadian lagi, Bu?” tanya Kenzo.

“Ya pernah atuh.”

“Kapan?”

“Tahun kemarin. Bukan ketabrak, tapi rodanya patah pas Ibu dorong.” Bu Ipah mengelap tangannya ke celemek. “Jam lima subuh. Belom ada siapa-siapa.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku sebelum beliau melanjutkan.

“Terus gimana, Bu?” tanya Dira.

“Ya untung ada yang lewat.”

“Siapa?”

Dan Bu Ipah menunjuk dengan dagunya — cara orang Sunda menunjuk yang tidak pernah bisa kutiru — ke arah trotoar, ke arah orang yang sedang duduk paling ujung dan yang sedang sangat, sangat sibuk memandangi pisang gorengnya.

“Itu.”

Lima kepala menoleh bersamaan.

“Bu—” kata Arga.

“Ibu belum selesai.”

“Bu Ipah.”

“Dia dorong gerobak Ibu sampai ke bengkel,” lanjut Bu Ipah, sepenuhnya mengabaikannya. “Jam lima subuh. Bengkelnya belom buka, jadi dia nunggu sampai jam tujuh.”

“Bu—”

“Terus dia telat sekolah.”

Hening total di trotoar itu.

“Bu Ipah,” kata Arga lagi, dan suaranya sudah berubah — bukan marah, tapi mendesak, seperti orang yang mencoba menghentikan sesuatu yang sudah terlanjur jalan. “Pisangnya kurang mateng.”

“Hah?”

“Yang ini.” Dia mengangkat pisang gorengnya. “Kurang mateng.”

“Mana ada.”

“Ada, Bu. Yang tengahnya.”

“Itu emang pisangnya yang beda, Ga. Ibu pakai dua jenis.”

“Oh.”

“Kamu baru tau?”

“Baru.”

“Kamu beli tiap hari, masa nggak tau—”

Dan Bu Ipah berhenti sendiri.

Karena beliau baru saja mengatakan sesuatu yang lain.

Kenzo sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dira sedang menatap Arga dengan tatapan yang sangat panjang dan sangat tenang. Jovan tidak mengubah ekspresinya sama sekali, yang mana dari Jovan berarti sesuatu.

Dan Callys berdiri.

Dia berdiri, mengambil kantong plastik kosong, dan mulai memungut sampah pisang goreng dari trotoar dengan gerakan-gerakan pendek dan keras, dan dia tidak melihat ke arah siapa pun.

Aku melihat bahunya.

Bahunya bergetar.

Aku berdiri dan menghampirinya, dan dia langsung berkata, sebelum aku sempat membuka mulut:

“Jangan.”

“Callys—”

“Aku lagi mungutin sampah.”

“Oke.”

“Aku CUMA lagi mungutin sampah.”

“Oke, Callys.”

Dan dia terus memungut, dan aku ikut memungut di sebelahnya, dan kami tidak bicara selama lima menit.

Lalu dia bilang, sangat pelan, ke arah trotoar:

“Sha.”

“Hm.”

“Aku bawa screenshot itu ke mana-mana selama dua bulan.”

“Aku tau.”

“Aku nunjukin ke tujuh orang.”

Aku berhenti memungut.

“Tujuh?”

“Iya.” Suaranya datar. “Tujuh orang. Dan mereka semua percaya. Karena aku yang nunjukin, dan aku ini orangnya yang— ” Dia menutup matanya. “Orang percaya sama aku, Sha. Itu masalahnya.”

Aku tidak menjawab.

“Kalau ada yang nggak suka sama dia gara-gara aku,” katanya, “aku nggak bisa balikin.”


Kami selesai jam satu.

Gerobaknya berdiri lagi. Rodanya baru, tenda barunya jelek karena kami menjahit terpalnya sendiri dan tidak ada satu pun dari kami yang bisa menjahit kecuali Dira dan Arga.

(Arga bisa menjahit. Ini tidak mengejutkan siapa pun kecuali Kenzo, yang bereaksi seolah menyaksikan mukjizat, dan yang langsung meminta kancing seragamnya dipasang ulang, dan yang seragamnya memang dipasangi kancing di trotoar itu juga.)

Bu Ipah menolak menerima uang dari kami. Kami menolak menerima gorengan dari beliau. Ini berlangsung sebelas menit dan akhirnya diselesaikan oleh Jovan yang berkata “ya udah, Ibu kasih gratis buat besok aja” dan semua orang setuju karena semua orang capek.

Kami jalan pulang bersama sampai perempatan.

Dan di perempatan itu, Callys melakukan sesuatu.

Dia berhenti, berbalik, dan berkata ke arah Arga — langsung, tanpa perantara, dengan seluruh wajahnya:

“Bhumi.”

Arga berhenti.

“Iya?”

Callys membuka mulut.

Lalu menutupnya.

Lalu membukanya lagi.

“Hari Sabtu depan,” katanya akhirnya. “Kerja baktinya diundur ke Sabtu depan.”

“...Iya.”

“Kamu dateng?”

“Iya.”

“Ya udah.”

Dan dia berbalik dan jalan.

Kenzo berkata, dengan suara yang sangat keras: “ITU DOANG?”

“Kenzo,” kata Dira.

“Dia mikir dua puluh detik buat nanya jadwal—”

“KENZO,” kata Callys dari sepuluh meter di depan, tanpa berbalik.

Dan Kenzo mengejarnya sambil berteriak sesuatu, dan Callys balas berteriak, dan mereka bertengkar sepanjang dua blok, dan Dira mengikuti di belakang mereka dengan wajah orang yang sudah pasrah.

Aku dan Arga tertinggal di belakang.

“Ga.”

“Hm.”

“Kamu nggak marah sama Bu Ipah kan?”

Dia mengerutkan kening. “Kenapa aku marah?”

“Beliau cerita.”

“Beliau nggak tau.”

“Nggak tau apa?”

Dan dia menggeser tas ke bahu satunya, dan menjawab dengan sangat biasa:

“Beliau nggak tau itu rahasia. Beliau kira itu biasa aja.”

Dia jalan dua langkah lagi.

Lalu, lebih pelan:

“Emang biasa aja, sih.”

Dan aku berhenti di trotoar itu, jam satu siang, di antara sekolah dan perempatan, dan aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya tentang orang ini.

Bukan gemas. Bukan kagum.

Marah.

Marah pada semua orang yang pernah membuatnya percaya bahwa mendorong gerobak dua kilometer jam lima subuh dan terlambat sekolah karenanya adalah sesuatu yang biasa saja.

“Ga.”

“Hm?”

“Nggak apa-apa,” kataku. “Ayo.”

Tapi malam itu aku tidak bisa tidur, dan jam sebelas aku membuka grup yang baru dibuat Kenzo tiga minggu lalu — grup berenam, yang namanya diganti Kenzo rata-rata dua kali seminggu, dan yang saat itu bernama “TIM GEROBAK”.

Callys sedang online.

Aku mengetik: Kamu masih bangun?

iya

Kamu nggak apa-apa?

Butuh empat menit sampai dia membalas.

sha

aku mau nanya sesuatu tapi jangan diketawain

Nggak.

kalau aku minta maaf ke dia, dia bakal bilang apa

Aku menatap layar itu.

Dan aku mengetik jawaban yang jujur, walaupun aku tahu itu bukan jawaban yang dia inginkan.

Dia bakal bilang nggak apa-apa.

itu yang aku takutin

Kenapa?

Dan balasannya datang, dan aku membacanya tiga kali sebelum tidur.

karena kalau dia bilang nggak apa-apa, artinya dia nggak nganggep aku pernah nyakitin dia

dan itu artinya dia udah biasa

dan aku nggak mau jadi salah satu dari orang yang bikin dia biasa, sha

Aku tidak membalas.

Dan Callys mengirim satu pesan lagi, jam dua belas kurang, dan itu pesan terakhir malam itu.

besok aku bawa soto.

dua.