Chapter Twenty Four
Bab 24: Ruang BK
POV: Alesha
Bu Retno memanggilku hari Senin, jam istirahat pertama.
Aku sudah menyusun kemungkinannya sepanjang koridor. Ada empat, dan aku sudah menyiapkan jawaban untuk keempatnya, dan tidak satu pun dari keempatnya benar.
“Duduk, Alesha.”
Aku duduk.
Kursinya berderit di kaki kanan. Ada tanaman plastik di sudut yang debunya tidak pernah dilap. Aku memperhatikan dua hal itu karena aku pernah mendengarnya diceritakan orang lain, dan mendapati bahwa keduanya persis seperti yang diceritakan membuatku merasa aneh.
Bu Retno tidak mengeluarkan map apa pun.
Beliau cuma melipat tangannya di meja.
“Kamu jalur prestasi kan?”
“Iya, Bu.”
“Nilai kamu masih bagus.”
“Alhamdulillah, Bu.”
“Nilai kamu turun tiga koma dua di semester ini.”
Aku diam.
“Itu masih bagus,” lanjut beliau. “Itu masih di atas rata-rata angkatan. Tapi kamu turun dan kamu nggak pernah turun.”
“Saya—”
“Ibu nggak nanya kenapa.” Beliau mengangkat tangan. “Ibu manggil kamu bukan buat itu.”
Aku menunggu.
Dan Bu Retno menatapku beberapa detik, lalu berkata:
“Kamu tau nggak kenapa Ibu manggil kamu, bukan manggil dia?”
Aku tidak menjawab.
Aku tidak bisa menjawab, karena aku baru menyadari sesuatu yang seharusnya sudah jelas sejak lama.
Dalam lima bulan, Bu Retno tidak pernah sekali pun memanggil Arga ke ruang BK karena aku.
Padahal seluruh sekolah tahu. Padahal ada foto. Padahal ada empat puluh dua komentar di satu postingan.
“Karena kalau Ibu manggil dia,” kata Bu Retno, “namanya masuk catatan.”
Beliau menunjuk laci ketiga dengan dagunya.
“Dan catatannya udah cukup tebal.”
“Boleh saya lihat, Bu?”
Aku tidak merencanakan itu. Kalimat itu keluar sebelum aku memutuskan.
Bu Retno mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Saya cuma—”
“Alesha, itu dokumen sekolah.”
“Saya tau, Bu.”
“Kamu bukan wali murid. Kamu bukan siapa-siapa secara administratif.”
“Saya tau.”
Beliau menatapku.
Dan aku duduk di kursi yang berderit itu dan aku memutuskan untuk jujur, karena aku sudah kehabisan strategi.
“Bu,” kataku, “saya udah lima bulan ngumpulin catatan sendiri tentang dia. Tiga puluh sembilan halaman. Saya tau apa yang dia lakuin buat penjaga kantin, buat penjual gorengan, buat dua anak kelas sepuluh, buat panti asuhan di Jalan Kenanga.”
Bu Retno tidak bergerak.
“Dan saya tau nggak ada satu pun dari itu yang ada di laci Ibu.”
Hening.
“Saya cuma pengen tau,” kataku, “apa yang ada.”
Bu Retno membuka lacinya.
Aku tidak menduga itu. Aku sudah menyiapkan diri untuk ditolak, dan penolakan itu tidak datang, dan aku duduk di kursi itu sambil melihat map cokelat ditaruh di meja dan tiba-tiba aku tidak yakin aku mau membukanya.
“Ibu nggak ngasih kamu,” kata beliau. “Ibu naruh ini di meja terus Ibu mau ke belakang. Kamu jangan foto.”
“Iya, Bu.”
“Ibu serius soal foto.”
“Iya, Bu.”
Dan beliau berdiri, dan keluar, dan menutup pintunya.
Isinya lebih tipis dari yang kubayangkan.
Itu hal pertama yang mengejutkanku. Aku membayangkan tumpukan. Yang ada dua belas lembar.
Lembar 1: data diri. Nama, tempat tanggal lahir, alamat, nama orang tua, pekerjaan orang tua. Wiraswasta.
Lembar 2–4: rapor kelas sepuluh dan sebelas. Nilainya bagus. Bukan bagus sekali — bagus. Rata-rata tujuh koma sembilan, konsisten, tanpa satu pun nilai merah dalam tiga semester.
Aku berhenti di kolom kehadiran.
Alfa: 0.
Tiga semester. Nol.
Aku memikirkan Jumat waktu dia tidak masuk di minggu pertama aku pindah kelas, dan aku memeriksa lagi, dan ada di kolom izin.
Dia mengurus surat izin untuk hari itu.
Lembar 5: surat dari SMP.
Surat rekomendasi standar, satu halaman, dari kepala sekolah SMP-nya. Isinya normal sampai paragraf ketiga.
Yang bersangkutan pernah terlibat dalam insiden perkelahian di luar lingkungan sekolah pada bulan November tahun ajaran sebelumnya. Yang bersangkutan telah menerima pembinaan.
Itu saja.
Tidak ada konteks. Tidak ada penjelasan. Tidak ada nama Kenzo, tidak ada tiga orang di gang, tidak ada delapan jahitan, tidak ada jam sebelas malam.
Telah menerima pembinaan.
Aku membaca kalimat itu empat kali dan aku merasakan sesuatu yang panas naik dari perutku.
Lembar 6–8: tiga laporan insiden. Semuanya di SMA ini.
Insiden 1 — kelas sepuluh, semester satu. Dua paragraf.
Terjadi keributan di area parkir belakang. Siswa AB terlibat. Tidak ada laporan luka. Siswa AB diberikan peringatan lisan.
Tanggalnya bulan September.
Aku mengingat sesuatu. Aku mengeluarkan buku catatanku — yang sudah lima bulan kubawa ke mana-mana — dan aku membuka halaman yang kutulis setelah percakapan di belakang lab.
Kenzo. Kelas sepuluh semester satu. Aku sengaja duduk di situ. Dia ngusir aku tiap hari selama satu bulan. Tiga puluh empat hari.
Bukan itu.
Aku membalik lagi.
Dan aku menemukannya, dari percakapan lain, dari Dira, dari bulan kedua: anak kelas sepuluh, tahun ini, yang duduk di sebelah dia dua minggu terus dijauhin.
Bukan itu juga.
Aku tidak tahu insiden pertama ini apa.
Dan aku duduk di ruang BK yang kosong dan aku menyadari bahwa lima bulan mengumpulkan catatan pun tidak cukup, karena ada tiga tahun sebelum aku datang dan aku tidak punya apa-apa tentang tiga tahun itu.
Insiden 2 — kelas sebelas, semester satu. Satu paragraf.
Siswa AB dilaporkan terlibat cekcok dengan siswa dari kelas lain di area kantin. Tidak ada saksi yang bersedia memberikan keterangan.
Aku berhenti di kalimat terakhir.
Tidak ada saksi yang bersedia memberikan keterangan.
Bukan tidak ada saksi.
Ada saksi.
Tidak ada yang bersedia.
Insiden 3 — tiga bulan lalu. Parkiran belakang.
Dilaporkan terjadi perundungan terhadap siswa kelas X. Pelaku diduga empat siswa kelas XII. Terdapat pihak ketiga yang menghentikan kejadian. Kasus tidak dilanjutkan karena korban tidak bersedia membuat laporan resmi.
Dan di bawahnya, ditulis tangan, dengan pulpen yang berbeda:
Pihak ketiga: AB. Tidak melakukan kekerasan. Catatan tidak dimasukkan ke berkas siswa yang bersangkutan atas pertimbangan BK.
Aku menatap tiga kalimat tulisan tangan itu untuk waktu yang lama.
Lembar 9–12 adalah bagian yang membuatku harus berhenti membaca dua kali.
Bukan laporan. Bukan surat.
Fotokopi.
Empat lembar fotokopi tangkapan layar, dicetak hitam putih, kualitasnya buruk.
Postingan @fakta.sma__.
Aku mengenali dua di antaranya. Salah satunya ada di album Callys sebelum dia menghapusnya.
Dan di pojok kanan atas lembar pertama, ditulis tangan, dengan pulpen yang sama seperti catatan tadi:
Diserahkan oleh wali murid, [nama disensor], tanggal 14 Maret. Meminta agar siswa AB dipindahkan dari kelas anaknya.
Aku menutup mapnya.
Aku duduk di ruang BK yang kosong dengan map cokelat tertutup di depanku dan aku tidak bergerak selama mungkin satu menit.
Bu Retno kembali sepuluh menit kemudian.
Beliau melihat map yang sudah tertutup, dan duduk, dan tidak menanyakan apa pun.
“Bu.”
“Hm.”
“Yang lembar terakhir.”
“Iya.”
“Wali murid yang mana?”
“Nggak bisa Ibu bilang.”
“Dipindahin nggak?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dan Bu Retno melipat tangannya.
“Karena Ibu nolak.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Ibu nolak?”
“Ibu bilang nggak ada dasarnya.” Beliau mengangkat bahu sedikit. “Screenshot akun anonim bukan dasar. Ibu tulis itu di berita acara. Ibu masih punya salinannya.”
“Terus wali muridnya?”
“Naik ke kepala sekolah.”
“Terus?”
Bu Retno menghela napas.
“Terus kepala sekolah nanya Ibu, ‘Bu Retno yakin?’”
“Ibu bilang apa?”
“Ibu bilang yakin.”
Beliau menatapku.
“Dan itu tiga tahun lalu, Alesha. Waktu dia kelas sepuluh.”
Aku ingin menuliskan apa yang kurasakan di ruangan itu, tapi aku tidak yakin ada satu kata untuknya.
Yang paling dekat: aku merasa bodoh.
Selama lima bulan aku membangun cerita di kepalaku bahwa tidak ada satu orang dewasa pun di sekolah ini yang berpihak padanya.
Dan ternyata ada. Satu.
Dan satu orang tidak cukup, dan itu bukan salah orang itu.
“Bu.”
“Iya?”
“Kenapa Ibu nggak pernah cerita ke dia?”
Bu Retno diam cukup lama.
“Ibu pernah nyoba,” kata beliau akhirnya.
“Terus?”
“Terus dia bilang, ‘Nggak apa-apa, Bu. Nanti Ibu yang kena.’”
Aku menutup mataku.
“Umur lima belas,” kata Bu Retno pelan.
“Bu,” kataku. “Boleh saya nanya satu hal lagi?”
“Boleh.”
“Kalau ada bukti yang bagus, sekolah bakal ngapain?”
Bu Retno menaruh pulpennya.
“Bukti apa?”
“Bukti soal akun itu.”
Dan Bu Retno menatapku dengan cara yang membuatku sadar aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak bisa kutarik kembali.
“Alesha.”
“Saya cuma nanya, Bu.”
“Kamu nggak cuma nanya.”
Aku tidak menjawab.
Bu Retno bersandar ke kursinya.
“Ibu jawab pertanyaan kamu,” kata beliau. “Terus Ibu mau kamu dengerin jawaban yang kedua juga.”
“Iya, Bu.”
“Kalau ada bukti yang cukup kuat buat nunjukin siapa yang ngelola akun itu, sekolah harus bertindak. Itu udah masuk perundungan. Ada aturannya, ada prosedurnya, ada sanksinya.”
Aku merasakan sesuatu naik di dadaku.
“Tapi,” kata Bu Retno.
Dan beliau mengangkat satu jari.
“Prosesnya butuh saksi.”
“Saya bisa jadi saksi.”
“Kamu saksi yang paling gampang dipatahkan.”
Aku berhenti.
“Kenapa?”
“Karena kamu pacarnya.” Bu Retno mengatakannya tanpa nada sama sekali. “Yang pertama ditanya orang bukan ‘buktinya apa’. Yang pertama ditanya ‘kenapa dia yang lapor’.”
Aku menutup mulutku.
“Dan yang kedua,” kata beliau, dan suaranya berubah — lebih pelan, lebih hati-hati, “kalau kamu lapor, semua yang pernah ditulis tentang kamu jadi barang bukti.”
Aku merasakan tanganku dingin.
“Semua, Alesha,” kata Bu Retno. “Yang di kolom komentar. Yang di DM kalau ada. Semuanya dicetak, dimasukin ke berkas, dibaca sama komite, dibaca sama orang tua yang duduk di komite.”
Beliau menatapku.
“Kamu siap orang tua kamu baca itu?”
Aku tidak menjawab pertanyaan itu.
Aku bilang terima kasih, dan aku keluar, dan aku berjalan ke kelas dan aku duduk di sudut kanan belakang dan aku tidak bicara selama satu jam pelajaran penuh.
Arga tidak bertanya.
Dia cuma menggeser satu kotak kecil ke garis tengah meja, tanpa mengatakan apa pun, dan kembali menghadap jendela.
Aku membukanya.
Isinya satu potong kue cokelat, dipisah kertas roti, dengan satu lembar tisu yang dilipat di bawahnya.
Aku memakannya dan aku hampir menangis di kelas.
Aku menemukan Kenzo di parkiran sepeda sore itu.
Dia sedang duduk di boncengan sepeda Arga — sepeda Arga, bukan sepedanya sendiri — sambil makan sesuatu dari kantong plastik.
“Itu sepeda dia.”
“Iya.”
“Kamu ngapain di situ?”
“Nungguin dia.” Kenzo mengunyah. “Dia lagi dipanggil Pak Sudir. Portalnya.”
Aku duduk di boncengan sepeda di sebelahnya.
“Zo.”
“Hm.”
“Kamu inget nggak, kelas sepuluh semester satu ada insiden di parkiran belakang?”
Kenzo berhenti mengunyah.
Dia berhenti terlalu lama.
“Zo?”
“Kenapa lo nanya itu?”
“Aku cuma—”
“Alesha.” Dia menaruh kantongnya. “Lo dari mana tau soal itu?”
Dan aku duduk di parkiran sepeda dan aku menyadari bahwa aku baru saja tersandung sesuatu.
“Ruang BK,” kataku.
“Bu Retno cerita?”
“Bu Retno naruh mapnya di meja terus keluar.”
Kenzo tertawa satu kali. Tidak ada isinya.
“Beliau emang gitu,” katanya.
Dia mengambil kantongnya lagi. Dia tidak makan.
“Itu bukan cerita gue,” katanya akhirnya.
“Itu cerita siapa?”
“Bukan gue.”
“Kenzo.”
“Sha, gue serius.” Dia menoleh, dan wajahnya bukan wajah Kenzo yang biasa. “Yang gang belakang itu gue kasih tau karena itu cerita gue. Gue yang di situ. Gue yang punya.”
Dia menendang kerikil dari boncengan.
“Yang kelas sepuluh semester satu itu punya orang lain.”
“Siapa?”
Dan Kenzo bilang:
“Orang yang udah nggak di sini.”
Aku merasakan sesuatu dingin.
“Zo—”
“Gue nggak akan cerita.” Dia turun dari boncengan. “Bukan karena gue jahat. Karena kalau gue cerita, terus lo cari orangnya, terus orang itu harus inget lagi.”
Dia mengambil kantongnya.
“Lo nggak boleh maksa orang inget, Sha.”
Dan dia jalan ke arah gerbang, dan berhenti setelah lima langkah, dan berbalik.
“Tapi,” katanya.
“Tapi apa?”
Kenzo Radiktya berdiri di parkiran sepeda dengan kantong plastik di tangan, dan berkata sesuatu yang mengubah arah tiga bulan berikutnya.
“Kalau orangnya sendiri yang mau inget,” katanya, “itu beda cerita.”
Dia mengangkat bahu.
“Gue cuma bilang gitu doang.”
Dan dia pergi.
Malam itu aku duduk di depan laptopku dengan folder arsip mading 2 terbuka.
Empat puluh tujuh postingan. Tiga puluh satu di rentang dua puluh menit. Dua di jam yang sama persis.
Aku punya pola.
Aku tidak punya nama.
Dan sekarang aku tahu bahwa bahkan kalau aku punya nama, aku bukan orang yang bisa membawanya.
Aku membuka dokumen baru.
Aku mengetik judul: YANG DIBUTUHIN.
Lalu aku mengetik daftar.
1. Bukti siapa yang ngelola akun. Bukan pola. Bukti.
2. Saksi yang bukan aku.
3. Saksi yang bukan pacarnya, bukan sahabatnya, bukan orang yang keliatan ngebela.
Aku berhenti di nomor tiga.
Aku menatapnya lama.
Lalu aku menambahkan nomor empat, dan begitu selesai mengetiknya, aku tahu aku sudah menemukan jawabannya, dan aku juga tahu bahwa jawabannya adalah hal yang paling tidak ingin kulakukan.
4. Orang yang pernah kena duluan.
Aku menutup laptopku.
Puspa.
Aku duduk di kamarku sampai jam satu pagi memikirkan bahwa untuk membantu satu orang, aku mungkin harus meminta orang lain membuka kembali sesuatu yang sudah dia tutup setahun lalu dan bawa pindah sekolah.
Dan aku memikirkan sesuatu yang Arga katakan di lantai ruang tengah rumahnya, dengan kipas angin yang berbunyi klik, empat hari sebelumnya.
Dulu kalau aku cerita, yang rugi cuma aku. Sekarang ada lima orang.
Aku mengerti kalimat itu untuk pertama kalinya malam itu.
Dan aku tidak suka bahwa aku mengerti.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK reading
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama