Chapter Five
Bab 5: Akun Itu
POV: Alesha
Senin pagi, dia sudah kembali.
Aku ingin bertanya kenapa dia tidak masuk Jumat. Aku menyiapkan tiga versi pertanyaan yang berbeda sepanjang perjalanan, dan aku membuang ketiganya begitu aku duduk.
Karena ada masalah dengan bertanya: kalau dia menjawab jujur, aku harus mengaku bahwa aku berdiri di perempatan selama tiga menit menonton dia dari jauh.
Jadi aku bilang, “Kamu ketinggalan tugas Sejarah.”
“Aku udah kerjain.”
“Kamu kan nggak masuk.”
Dia mengeluarkan map dari tasnya dan menaruhnya di garis tengah meja. Bagian tanggal. Selesai. Ditulis tangan, rapi seperti biasa, tiga halaman penuh.
Ditambah satu halaman lagi yang tidak kuminta: daftar tokoh dengan tahun kelahiran dan wafat, disusun kronologis, jelas-jelas untuk membantu bagianku.
“Ini bagian aku.”
“Itu cuma tanggalnya.”
“Ini nama-namanya.”
“Tanggalnya yang aku tulis.”
Aku menatapnya. Dia menatap jendela.
Aku sudah mulai paham cara kerja percakapan ini. Kalau aku mendorong, dia mundur. Kalau aku diam, dia juga diam, dan diamnya lebih tahan lama dari diamku.
Jadi aku pakai cara ketiga.
“Makasih,” kataku.
Dan aku lihat bahunya turun setengah sentimeter, seperti orang yang baru saja lolos dari sesuatu.
Aku baru punya waktu membuka @fakta.sma__ dengan serius malam itu.
Aku bilang “dengan serius” karena aku sudah tahu akun ini sejak kelas sepuluh. Semua orang tahu. Yang belum pernah kulakukan adalah membacanya dari awal seperti membaca arsip.
Aku scroll ke bawah sampai jempolku pegal.
Dan aku menemukan tiga hal.
Yang pertama: akun ini bagus.
Ini bukan pujian. Ini pengamatan teknis, dan justru itu yang membuatku tidak nyaman.
Postingannya konsisten. Waktu unggahnya teratur — antara jam sembilan dan sepuluh malam, hampir tiap hari, dengan sesekali unggahan siang untuk hal-hal yang mendesak. Fotonya jelas. Captionnya pendek. Tidak ada typo.
Aku mengurus mading selama satu setengah tahun. Aku tahu berapa banyak usaha yang dibutuhkan untuk konsisten selama tiga tahun.
Ini bukan iseng. Ini pekerjaan.
Yang kedua: akun ini tahu terlalu banyak.
Bukan cuma gosip. Jadwal rapat guru. Hasil rapat komite yang belum diumumkan. Nama-nama yang masuk daftar calon ketua OSIS sebelum pengumuman resmi. Sekali, tahun lalu, akun ini mengunggah foto surat peringatan seorang siswa — bagian namanya disensor, tapi kop suratnya asli.
Foto surat.
Surat itu tidak beredar. Surat itu ada di satu tempat.
Aku menaruh ponselku, dan mengambilnya lagi tiga puluh detik kemudian.
Yang ketiga, dan ini yang membuatku duduk lurus di kasur:
Aku mencari dengan pola.
Aku hitung berapa postingan tentang orang yang sama dalam tiga tahun.
Dua puluh sembilan.
Dua puluh sembilan postingan, tidak satu pun menyebut nama, semuanya bisa dikenali. Tersebar merata — tidak menumpuk, tidak menghilang. Rata-rata satu setiap lima minggu. Cukup jarang untuk tidak kelihatan sebagai kampanye. Cukup sering untuk tidak pernah dilupakan.
Aku pernah belajar ini. Kak Sean sendiri yang mengajarkannya, semester lalu, waktu kami membahas kenapa berita yang diulang kecil-kecil lebih menempel daripada berita besar sekali.
Frekuensi mengalahkan intensitas.
Aku menulis angka dua puluh sembilan di buku catatanku, dan di sebelahnya aku tulis:
Ini bukan gosip. Ini pemeliharaan.
Lalu aku matikan lampu, dan tidak tidur.
Hari Selasa aku ke ruang mading lebih awal dari jadwal.
Kak Sean sudah di sana. Dia selalu sudah di sana.
“Sha! Pas banget.” Dia menggeser kursi dengan kakinya, tanpa berdiri, gerakan yang sudah otomatis di antara kami. “Aku butuh mata kedua.”
Aku duduk. Di meja ada dua puluh foto tercetak, sisa liputan kegiatan bulan lalu.
“Kita cuma bisa pakai enam,” katanya. “Aku udah bolak-balik dan tetep nggak bisa mutusin.”
Aku menyortir. Ini bagian yang aku suka — tidak perlu bicara, cuma memindahkan kertas.
Sembilan menit, aku menyisakan enam.
Kak Sean mengambilnya, melihat satu per satu, lalu tertawa pelan.
“Kamu buang semua yang ada wajah gurunya.”
“Karena semua yang ada wajah gurunya, gurunya kelihatan bosen.”
“Itu kejam.”
“Itu jujur.”
“Itu kejam dan jujur.” Dia menyusun keenamnya jadi tumpukan rapi, lalu mengetukkan sisinya ke meja. Tuk. Tuk. Tuk. “Ini kenapa aku pengen kamu jadi editor tahun depan.”
Aku berhenti.
“Serius?”
“Serius.” Dia menaruh tumpukan itu. “Aku lulus, kamu naik. Nggak ada yang lain.”
“Ada Dinar. Ada Kak Bagas.”
“Dinar nggak mau. Bagas nggak bisa.” Dia tersenyum. “Kamu bisa dan kamu mau. Itu kombinasi langka, Sha.”
Aku tidak tahu harus bilang apa, jadi aku bilang terima kasih, dan dia bilang jangan berterima kasih dulu karena tahun depan aku akan menyesalinya.
Lalu, sambil merapikan meja, dia bertanya dengan nada paling ringan di dunia:
“Oh iya, kamu masih duduk di sebelah Arga?”
“Masih.”
“Nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa gimana, Kak?”
“Ya, nggak apa-apa aja.” Dia memasukkan foto ke map. “Aku cuma nanya.”
Dan aku — mungkin karena aku belum tidur, mungkin karena angka dua puluh sembilan masih menempel di kepalaku — bertanya balik.
“Kak Sean tau nggak, siapa yang pegang akun fakta itu?”
Tangannya tidak berhenti kali ini.
Itu yang kuperhatikan. Kali ini tangannya sama sekali tidak berhenti.
“Kenapa nanya itu?”
“Penasaran aja. Kan Kakak ketua jurnalistik.”
“Justru karena aku ketua jurnalistik, aku nggak mau tau.” Dia menutup map. “Serius, Sha. Kalau kita mulai ngurusin akun kayak gitu, kita jadi sama kayak mereka. Kita ada halaman resmi, ada nama, ada tanggung jawab. Mereka nggak.”
Jawabannya bagus.
Jawabannya sangat, sangat bagus, dan itu bertahan di kepalaku selama kira-kira empat jam sebelum aku menyadari bahwa dia tidak menjawab pertanyaanku.
Lagi.
Jumat pagi aku sengaja datang jam setengah tujuh, dan berdiri di seberang gerbang selama enam menit.
Portal itu memang rusak. Aku baru benar-benar melihatnya sekarang: rodanya sudah aus di satu sisi, jadi kalau didorong dari tengah, ujungnya akan menggesek beton dan macet di titik yang sama tiap hari.
Pak Sudir mendorongnya sendirian jam enam empat puluh. Macet. Beliau mundur, menendang bagian bawah rodanya dua kali, mendorong lagi.
Jam enam empat puluh dua, seseorang datang dari arah timur, menaruh tasnya di pos satpam, dan mengangkat ujung portal itu sekitar sepuluh sentimeter dari tanah sementara Pak Sudir mendorong.
Portal terbuka dalam empat detik.
Yang menarik bukan itu.
Yang menarik: mereka tidak berbicara sama sekali.
Tidak ada aba-aba. Tidak ada “satu, dua, tiga”. Pak Sudir tidak menoleh untuk memastikan ada yang membantu. Dia sudah tahu akan ada.
Setelah portal terbuka, orang itu mengambil tasnya dari pos, dan Pak Sudir bilang sesuatu yang pendek. Orang itu mengangguk. Selesai.
Aku menghitung total interaksinya: sebelas detik.
Dua tahun, kalau Mbak Yanti benar tentang polanya. Sebelas detik sehari.
Aku menyeberang dan lewat gerbang, dan Pak Sudir menyapaku seperti biasa, dan aku hampir bertanya.
Aku tidak bertanya.
Tapi aku menulisnya malam itu, di kolom kiri, baris kedelapan.
Rabu, aku melakukan hal yang sudah kutunda seminggu.
Aku pulang lewat Jalan Melati.
Aku bilang pada diriku sendiri bahwa ini jalur alternatif yang wajar. Ini bohong. Jalur ini menambah delapan menit dan satu perempatan yang lampu merahnya lama.
Tokonya ada di sisi kanan, sekitar setengah jalan.
TOKO KUE BUNDA RATIH.
Kecil. Satu pintu kaca, dua etalase. Cat dindingnya krem, sudah agak kusam di bagian bawah. Ada tenda kain bergaris di atas etalase, warnanya merah putih, sudah pudar jadi merah muda pucat dan krem.
Aku pernah lewat sini ratusan kali. Aku tidak pernah benar-benar melihatnya.
Aku berhenti di seberang jalan, di depan warung kelontong, dan pura-pura mencari sesuatu di tas.
Di dalam, ada ibu-ibu di balik etalase. Rambutnya diikat, memakai apron, sedang melayani seorang pembeli. Beliau tertawa waktu pembeli itu bilang sesuatu, dan tawanya sampai ke luar — bukan keras, tapi jenis tawa yang memenuhi ruangan.
Wajahnya sama sekali tidak mirip.
Aku mencari-cari kemiripan, dan aku tidak menemukan satu pun, sampai beliau berbalik untuk mengambil sesuatu dari rak belakang dan aku melihat cara beliau melipat kertas pembungkus.
Empat lipatan. Ujung kanan masuk lebih dalam.
Aku berdiri di seberang jalan itu selama entah berapa lama.
Ada pintu di belakang etalase, ditutup tirai plastik bergaris — jenis tirai yang dipasang di pintu dapur supaya lalat tidak masuk. Tirainya bergerak dua kali. Sekali, ada nampan yang keluar, dipegang tangan yang tidak kelihatan seluruhnya. Kedua kalinya, tangan yang sama mengambil nampan kosong.
Tangan itu besar. Ada bekas-bekas kecil mengkilap di punggung tangannya.
Dua kali. Cuma itu.
Tirainya tidak pernah dibuka penuh.
Ibu itu berbicara ke arah tirai beberapa kali. Aku tidak bisa dengar apa. Dari gerakan bahunya, kelihatan seperti beliau sedang menawarkan sesuatu.
Dan tirai itu tidak bergerak sama sekali.
Ada satu pembeli lagi, ibu-ibu dengan anak kecil. Anak itu berjinjit di depan etalase, menunjuk-nunjuk, dan Bunda Ratih mengambilkan sesuatu untuknya sambil mengatakan sesuatu yang membuat anak itu tertawa.
Aku menyeberang.
Aku tidak berencana masuk. Aku betul-betul tidak berencana masuk. Kakiku menyeberang duluan.
Aku sampai di depan pintu kaca.
Dan aku berhenti.
Karena kalau aku masuk, aku harus punya alasan, dan alasan satu-satunya yang kupunya adalah aku ingin melihat.
Aku membeli dua roti dari warung di seberang, dan pulang.
Di angkot, aku terus memikirkan tirai plastik itu.
Bukan soal dia tidak keluar. Itu masuk akal — dia bekerja di dapur, dapur ada di belakang, selesai.
Yang mengganggu: ibu itu tiga kali bicara ke arah tirai, dan tiga kali tirai itu tidak bergerak.
Aku tidak tahu apa yang beliau tawarkan. Mungkin makan. Mungkin istirahat. Mungkin cuma “sini bentar.”
Tapi ada bentuk tertentu pada bahu seseorang yang menawarkan sesuatu dan sudah tahu jawabannya akan tidak, dan tetap menawarkan.
Ibuku punya bentuk bahu yang sama waktu menawariku ikut ke kantor.
Aku sampai rumah dan langsung ke kamar dan membuka buku catatanku, dan aku tidak menulis apa-apa selama sepuluh menit.
Lalu aku tulis satu baris, dan langsung kucoret, karena kedengarannya seperti aku menghakimi orang yang belum pernah kuajak bicara lebih dari lima puluh kata.
Baris itu berbunyi: Dia nggak ke depan bukan karena disuruh.
Kamis pagi, aku menaruh sesuatu di meja.
Bukan kotak. Aku tidak akan meniru itu — itu miliknya, dan lagipula aku tidak bisa membuat kue.
Aku menaruh secarik kertas, dilipat dua, di garis tengah meja. Di tempat yang secara teknis milik siapa saja.
Dia melihatnya. Dia tidak menyentuhnya selama satu jam pelajaran penuh.
Jam kedua, waktu aku pura-pura sibuk mencatat, aku lihat dari sudut mata: dia mengambilnya. Membuka. Membaca.
Isinya satu kalimat.
Tokonya bagus.
Aku tidak berani menoleh selama sepuluh menit.
Waktu akhirnya aku menoleh, kertas itu sudah tidak ada di meja, dan dia sedang menulis sesuatu di bukunya dengan kecepatan yang tidak wajar untuk seseorang yang biasanya menulis serapi itu.
Bel istirahat.
Dia berdiri lebih cepat dari biasanya. Dia menyampirkan tas. Dia jalan tiga langkah ke arah pintu.
Lalu dia berhenti, berbalik, dan kembali.
Dia berdiri di depan mejaku. Dia tidak duduk. Tangannya mengelap celana sekali.
“Kamu ke sana?”
“Lewat.”
“Lewat.”
“Iya. Lewat.”
“Kemarin sore?”
“...Iya.”
Dia mengangguk. Sekali. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, dan aku sudah cukup lama duduk di sebelahnya untuk tahu bahwa wajah yang tidak menunjukkan apa-apa adalah wajah yang sedang menahan banyak sekali hal.
“Jangan lewat situ lagi,” katanya.
Aku merasakan sesuatu turun di perutku.
“Kenapa?”
“Jalannya jauh.”
“Cuma delapan menit.”
Dia berkedip. Aku baru sadar aku baru saja mengaku menghitung.
“Alesha.”
Pertama kalinya dia menyebut namaku.
Aku tidak siap dengan efeknya, dan aku benci itu.
“Jangan lewat situ lagi,” ulangnya, lebih pelan.
Lalu dia pergi.
Malam itu, jam sembilan lewat, ponselku bergetar.
Notifikasi dari akun yang kuikuti sejak kelas sepuluh dan tidak pernah kupikirkan lagi.
@fakta.sma__ baru saja mengunggah sesuatu.
Foto. Diambil dari jauh, agak buram, dari sudut yang lebih tinggi — mungkin dari lantai dua.
Sudut kanan belakang sebuah kelas. Dua orang. Yang satu sedang menoleh ke kiri.
Captionnya empat kata.
Ada yang baru nih.
Aku menatap layar itu sampai layarnya mati sendiri.
Lalu aku nyalakan lagi, dan aku perbesar fotonya, dan aku lihat sesuatu di sudut kanan bawah — bagian dari jendela di seberang koridor, dan pantulan samar di kacanya.
Terlalu buram. Tidak ada bentuk yang bisa kubaca.
Aku pindahkan fotonya ke laptop. Aku terangkan. Aku tajamkan. Aku sudah melakukan ini ratusan kali untuk mading dan aku tahu persis batas di mana foto berhenti memberi informasi dan mulai memberi bayangan yang kamu inginkan sendiri.
Aku sampai batas itu dalam dua puluh menit.
Yang kudapat cuma satu: tinggi.
Kalau pantulan itu memang orang, dan kalau tinggi kusen jendela itu standar seperti semua jendela di lantai dua, maka orangnya berdiri, bukan jongkok, dan tidak menempel ke kaca.
Artinya dia tidak sembunyi.
Aku menutup laptop.
Tapi ada satu hal yang bisa kubaca, dan itu bukan dari fotonya.
Postingan ini diunggah jam sembilan lewat empat.
Foto ini diambil hari ini.
Dan sudut pengambilannya bukan dari dalam kelas.
Seseorang berdiri di koridor lantai dua, di luar kelas sebelas tiga, dan mengangkat ponselnya, dan tidak ada satu orang pun yang menganggap itu aneh.
Aku scroll ke bawah, ke kolom komentar, dan aku berhenti di satu balasan yang sudah dihapus sebagian — cuma tersisa potongan notifikasi di atas.
Lalu aku matikan ponsel, dan aku taruh di laci, dan aku tutup lacinya.
Aku tidak tidur sampai jam satu.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu reading
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama