← Bangku Sebelah

Chapter Twenty Eight

Bab 28: Ganti Rute

POV: Alesha


Postingan itu naik hari Senin, jam sembilan lewat delapan.

Bukan postingan baru.

Itu yang membuatku duduk tegak di kasur.

@fakta.sma__ mengunggah ulang sesuatu dari dua tahun lalu — foto buram dari balik pagar, parkiran belakang, satu orang tinggi berhadapan dengan tiga orang, salah satunya sedang mundur.

Foto yang sama persis yang pernah kulihat di ponsel Callys, di kantin yang kosong, delapan bulan lalu.

Captionnya baru.

Throwback. Buat yang baru masuk tahun ini dan belum tau sejarah sekolah ini.

Kadang orang berubah. Kadang orang cuma lagi pinter aja.

Dua ratus empat puluh tiga like dalam semalam.


Aku menghitungnya.

Aku sudah punya empat puluh tujuh postingan di folder itu, dan aku sudah menyortirnya berdasarkan tanggal, dan aku tahu ritmenya.

Satu setiap lima minggu. Tiga tahun. Sangat teratur.

Postingan terakhir tentang Arga sebelum ini: sebelas minggu lalu.

Sebelas.

Dua kali lipat jeda normalnya.

Dan aku duduk di kasurku jam setengah sepuluh malam dan aku mengerti apa artinya, dan pemahaman itu masuk seperti air dingin.

Bukan dia berhenti.

Dia sedang menunggu.

Sebelas minggu terakhir adalah sebelas minggu di mana Reyhan datang ke kelas, di mana Rani berkata nggak ada yang berantem, di mana anak-anak mulai meminjam pulpen dari meja itu, di mana stand kelas kami habis empat ratus dua puluh potong.

Sebelas minggu di mana sesuatu bergerak.

Dan dia menunggu sampai gerakan itu cukup terlihat untuk ditarik mundur.


Aku ke sekolah keesokan harinya dan aku bisa merasakannya sebelum aku sampai kelas.

Tidak ada yang berubah secara kasar. Tidak ada yang menunjuk. Tidak ada yang berbisik dengan cara yang mencolok.

Yang berubah lebih halus dan lebih efektif.

Anak kelas sepuluh yang biasanya menyapa Arga di koridor — dua orang, sejak pensi — tidak menyapa.

Fajar, yang sudah tiga minggu meminjam pulpen dari mejanya, tidak meminjam.

Dan waktu kami lewat koridor lantai satu, ada satu kelompok yang menepi.

Bukan menyeberang jalan. Cuma menepi, setengah meter, seperti orang memberi jalan.

Arga tidak berkomentar.

Aku tahu dia melihatnya. Aku sudah tahu selama delapan bulan bahwa dia melihat semuanya.

Dia cuma menggeser tasnya ke bahu satunya, dan jalan terus, dan tidak mengatakan apa-apa.


“Sha.”

Callys, jam istirahat, di kantin.

“Hm?”

“Kamu udah lihat?”

“Udah.”

“Itu foto yang—”

“Iya.”

Dia menaruh sendoknya.

“Aku udah hapus punya aku.”

“Aku tau.”

“Aku HAPUS, Sha. Tiga puluh empat. Satu-satu.”

“Callys, aku tau.”

Dan dia duduk memandangi mangkuknya, dan aku sadar apa yang sedang dia pikirkan, dan aku tidak bisa mencegahnya.

“Berarti percuma,” katanya.

“Callys—”

“Aku hapus punya aku terus dia posting ulang.”

“Itu bukan salah kamu.”

“Aku nggak bilang salah aku.” Dia mengangkat wajahnya. “Aku bilang percuma.”

Dan aku tidak punya jawaban untuk itu, karena dia benar.


Yang pertama kusadari tentang rute pulang bukan soal keamanan.

Aku ingin jujur soal ini.

Rute lamaku lewat depan gedung timur, lalu keluar gerbang utama, lalu halte.

Aku menggantinya minggu itu — keluar lewat gerbang samping, memutar lewat belakang lapangan, dan naik angkot dari halte kedua, tujuh menit lebih jauh.

Alasan yang kuberikan pada diriku sendiri: gerbang utama terlalu ramai jam pulang.

Alasan sebenarnya: di gerbang utama ada spot di mana orang berdiri dan memegang ponsel, dan aku sudah cukup melihat foto diriku dari sudut yang sama tiga kali.


Dira menyadarinya di hari ketiga.

Tentu saja Dira.

Aku sedang menunggu di halte kedua waktu dia muncul di sebelahku, tanpa suara, seperti biasa.

“Sha.”

Aku melonjak.

“Dira. Kamu—”

“Halte kamu bukan yang ini.”

“Aku iseng.”

“Tiga hari?”

Aku menoleh.

“Kamu ngitung?”

“Aku lewat sini tiap hari,” katanya. “Aku lihat kamu Senin, Selasa, Rabu.”

Angkot lewat. Penuh. Kami tidak naik.

“Aku cuma pengen jalan lebih jauh,” kataku.

“Oke.”

“Beneran.”

“Oke, Sha.”

Dan dia berdiri di sebelahku dan tidak bertanya lagi, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia bertanya.

Aku bertahan empat menit.

“Dira.”

“Hm?”

“Kalau aku cerita sesuatu, kamu bisa nggak nggak cerita ke Callys?”

Dira memikirkannya.

Dan lalu dia berkata sesuatu yang membuatku menghormatinya lebih dari sebelumnya:

“Nggak.”

“Nggak?”

“Nggak bisa.” Dia menoleh. “Kalau isinya bikin dia harus tau.”

“Kalau nggak?”

“Kalau nggak, ya nggak aku cerita.”

“Gimana kamu tau bedanya?”

Dan Dira berkata, dengan suaranya yang selalu terlalu tenang:

“Kalau kamu harus nanya duluan, biasanya isinya yang harus dia tau.”

Aku menutup mulutku.

Angkot kedua datang.

Aku menaikinya.


Yang tidak kuceritakan ke Dira, dan tidak ke siapa pun:

DM pertama datang hari Kamis.

Dari akun tanpa foto profil, nama acak, dibuat tiga hari sebelumnya.

Isinya bukan ancaman.

Isinya satu kalimat:

rok kamu ketuker ya kemarin, yang biru itu bukan seragam kelas 11

Aku duduk di kasurku memegang ponsel dan aku merasakan seluruh kulit kepalaku dingin.

Rok biru. Aku memakainya hari Selasa, waktu seragam abu-abuku basah karena kena hujan pagi dan aku memakai rok cadangan dari kelas sepuluh yang masih muat.

Itu hal yang tidak akan diperhatikan siapa pun.

Kecuali orang yang memperhatikan.

Aku memblokir akun itu.

Akun kedua datang hari Sabtu.


Aku tidak bilang ke Arga.

Aku sudah janji. Aku ingat janjinya. Aku ingat kami berdiri di kelas kosong dan aku bilang aku akan cerita mulai sekarang dan dia bilang dia juga.

Aku ingat kami berdua tahu kami berbohong.

Yang kulakukan: aku mengirim screenshot komentar-komentar publik, seperti biasa, karena itu sudah jadi kebiasaan dan menghentikannya akan mencurigakan.

Yang tidak kukirim: DM.

Aku menyusun alasan yang sangat rapi.

Komentar publik ada di ruang publik. Itu tentang kami berdua. Itu boleh dibagi.

DM masuk ke ruang pribadiku. Itu tentang aku. Itu urusanku.

Aku betul-betul mempercayai pembedaan itu selama sekitar tiga minggu.


Minggu kedua, aku menemukan sesuatu di folder arsipku.

Aku sedang menyortir ulang berdasarkan siapa yang bisa dikenali dari fotonya, dan aku sampai ke bagian yang selama ini kulewati: postingan yang tidak menyebut orang.

Pengumuman. Jadwal. Hasil pertandingan.

Aku tidak pernah memeriksanya karena tidak ada gunanya.

Aku memeriksanya malam itu karena aku tidak bisa tidur.

Dan aku menemukan pola kedua.

Setiap kali ada postingan tentang seseorang — postingan yang menyerang — dua atau tiga hari sebelumnya selalu ada postingan yang sangat netral tentang orang yang sama.

Pengumuman prestasi. Foto kegiatan. Ucapan selamat.

Aku memeriksanya mundur delapan bulan.

Tujuh belas kali. Polanya cocok tujuh belas kali.

Aku menatap layar itu jam dua belas malam dan aku mengerti apa yang sedang kulihat.

Dia memperkenalkan orangnya dulu.

Dia membuat orang mengenali wajah dan namanya, secara netral, tanpa curiga. Lalu tiga hari kemudian, waktu orang sudah tahu siapa yang dimaksud, dia menyerang tanpa menyebut nama.

Sehingga tidak ada satu pun postingan yang bisa dituduh menyerang siapa pun.

Aku menulis di dokumen YANG DIBUTUHIN:

Ini bukan anak SMA yang iseng.

Ini orang yang tau caranya bikin sesuatu nggak bisa dibuktiin.

Dan lalu aku scroll ke atas, ke postingan sepuluh hari terakhir.

Ada satu postingan netral hari Kamis kemarin.

Foto kegiatan ekskul jurnalistik. Empat orang. Aku di antaranya, sedang menempel layout, tidak menghadap kamera.

Captionnya: Tim mading lagi kerja buat edisi bulan depan. Semangat!

Seratus dua belas like.

Dan aku duduk di kamarku jam dua belas malam dan aku menghitung mundur tiga hari dari hari Kamis, dan hari itu adalah hari Minggu, dan hari ini hari Minggu, dan sekarang jam dua belas lewat.

Aku membuka aplikasinya.

Tidak ada apa-apa.

Aku menutupnya, dan membukanya lagi empat menit kemudian, dan tidak ada apa-apa.

Dan aku duduk seperti itu sampai jam dua pagi.


Tidak ada yang naik hari itu.

Tidak juga hari berikutnya.

Dan itu, aku sadari belakangan, adalah bagian dari caranya.


Dira menemuiku lagi hari Selasa, dan kali ini dia tidak menunggu di halte.

Dia menahanku di depan ruang musik, jam istirahat pertama, dengan cara yang sama sekali tidak seperti Dira: dia berdiri di tengah pintu.

“Sha.”

“Dira—”

“Aku mau nanya satu hal terus aku nggak nanya lagi.”

Aku berhenti.

“Nanya.”

Dan Nadhira Ayudia berkata:

“Kamu takut nggak?”

Aku membuka mulut.

“Jangan jawab cepet,” katanya. “Aku nggak nanya kamu kenapa. Aku nanya kamu takut atau nggak.”

Dan aku berdiri di depan ruang musik dan aku memikirkannya sungguh-sungguh, karena dia memintaku sungguh-sungguh.

Takut.

Bukan takut yang besar. Aku tidak takut dipukul. Aku tidak takut ada yang mengikutiku pulang — aku sudah memeriksanya, tidak ada.

Yang kutakuti lebih kecil dan lebih terus-menerus.

Aku takut membuka ponselku.

Aku takut lewat gerbang utama.

Aku takut ada orang berdiri memegang ponsel di jarak lima belas meter.

Aku takut memakai jepit rambut.

“Iya,” kataku.

Dira mengangguk.

“Ya udah,” katanya.

Dan dia menggeser badannya dari pintu.

“Itu doang?” tanyaku.

“Itu doang.”

“Kamu nggak mau tanya—”

“Nggak.” Dia masuk ruang musik, dan berhenti, dan berbalik. “Sha.”

“Hm?”

“Kamu tau nggak kenapa aku nanya itu?”

“Kenapa?”

Dan Dira berkata:

“Karena orang yang takut nggak bisa mikir bener. Dan kamu lagi mikirin sesuatu yang gede.”

Dia menutup pintunya.

Dan aku berdiri di koridor sambil merasa seperti orang yang baru saja diperiksa dokter.


Hari Rabu, aku melakukan sesuatu yang bodoh.

Aku ke ruang mading sore hari, waktu aku tahu Kak Sean tidak ada karena ada rapat OSIS.

Dan aku membuka lemari arsip.

Aku punya alasan yang sah. Aku pengurus. Aku punya akses. Aku sedang mencari file layout lama.

Aku tidak sedang mencari file layout lama.

Aku mencari sesuatu yang sudah kupikirkan selama dua minggu: jadwal.

Kalau seseorang mengunggah di rentang dua puluh menit yang sama selama tiga tahun, orang itu punya rutinitas yang sangat tetap. Dan orang yang punya rutinitas tetap punya jadwal yang bisa dicocokkan.

Jadwal piket ekskul. Jadwal rapat. Jadwal deadline.

Aku mengeluarkan map berisi arsip tiga tahun.

Aku mulai memeriksanya.

Dan aku sampai halaman keenam waktu pintu terbuka.


“Sha?”

Aku menutup mapnya terlalu cepat.

Kak Sean berdiri di ambang pintu dengan map lain di tangan.

“Kak. Rapat OSIS-nya—”

“Selesai cepet.” Dia masuk. “Kamu ngapain?”

“Nyari layout lama.”

“Yang mana?”

“Yang edisi Februari.”

Dan Kak Sean berjalan ke lemari arsip, membuka laci kedua, mengeluarkan satu map, dan menyerahkannya padaku.

“Ini,” katanya.

Aku menerimanya.

“Makasih, Kak.”

“Kamu buka laci ketiga.”

Aku berhenti.

“Iya, Kak.”

“Laci ketiga isinya notulen rapat,” katanya. “Bukan layout.”

Ruangan itu jadi sangat sunyi.

Dan aku berdiri di ruang mading dengan map di tangan dan aku memikirkan lima kebohongan berbeda dalam waktu dua detik dan aku membuang semuanya.

“Aku salah laci, Kak.”

“Iya,” katanya.

Dan dia tersenyum.

“Lain kali tanya aja. Aku hafal isinya.”


Aku pulang sore itu lewat rute yang lebih panjang lagi.

Bukan halte kedua. Halte ketiga, di seberang komplek, lima belas menit jalan kaki.

Dan aku berhenti di tengah jalan karena aku sadar sesuatu.

Aku sudah menghitung ulang seluruh rute pulangku dalam dua minggu. Aku sudah menghitung mana yang paling sedikit orangnya. Aku sudah menghitung jam berapa gerbang samping paling sepi.

Aku sudah melakukan persis apa yang orang lakukan kalau mereka mengukur diri sendiri sebagai kerugian.

Empat puluh satu jadi dua puluh enam.

Sembilan pembeli dari jam sepuluh.

Berapa detik boleh menoleh.

Aku berdiri di trotoar di seberang komplek dan aku memikirkan orang berumur lima belas yang menghitung berapa orang tidak jadi masuk ke toko ibunya, dan aku memikirkan diriku sendiri delapan bulan kemudian menghitung rute pulang, dan aku merasa mual.


Aku sampai rumah jam setengah lima.

Ibu ada. Ibu jarang ada jam segitu.

“Sha.”

“Iya, Bu.”

“Sini dulu.”

Aku menaruh tasku dan duduk di meja makan, dan Ibu menaruh gelas air di depanku dan duduk di seberang.

Dan Ibu menatapku dengan cara yang membuatku ingin lari ke kamar.

“Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa, Bu.”

“Alesha.”

“Beneran nggak kenapa-kenapa.”

Ibu tidak menjawab.

Beliau cuma minum, pelan, dan menunggu.

Teknik itu.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menyerah dalam satu menit.

Aku bertahan tiga menit penuh.

Dan Ibu meletakkan gelasnya dan berkata:

“Ibu nggak nanya lagi.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Bu—”

“Ibu nggak akan maksa.” Beliau berdiri. “Tapi Ibu mau kamu tau satu hal.”

Dan Bu Renata — notaris, yang tidak pernah berteriak, yang setiap kalimatnya disusun sebelum diucapkan — berkata:

“Kalau kamu diem terus, yang Ibu bayangin bakal lebih parah dari yang sebenernya.”

Beliau mengambil gelasnya ke wastafel.

“Dan Ibu bakal ngambil keputusan berdasarkan yang Ibu bayangin.”

Aku duduk di meja makan itu sampai gelap.


Malam itu aku membuka percakapan dengan Arga.

Aku mengetik: Ga, ada yang DM aku.

Aku menatapnya selama dua menit.

Aku menghapusnya.

Aku mengetik: Kamu masih bangun?

Aku menghapusnya juga, karena aku sudah memakai kalimat itu, dan karena aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Akhirnya aku mengetik:

Besok aku dijemput ya.

Balasannya datang dalam dua puluh detik.

Jam berapa?

Setengah tujuh.

Oke.

Lalu, satu menit kemudian:

Alesha.

Iya?

Kamu ganti halte.

Aku menatap layar itu.

Iya.

Tiga minggu.

Aku duduk di kasurku memegang ponsel dan aku merasakan sesuatu naik ke tenggorokanku.

Kamu ngitung?

Dan balasannya datang, dan aku membacanya, dan aku menaruh ponselku di kasur dan menutup wajahku dengan kedua tangan.

Aku selalu ngitung.

Aku nggak nanya karena kamu belum mau cerita.

Tapi aku ada di halte ketiga tiap hari, di seberang, di depan fotokopi.

Kamu nggak perlu lihat.

Aku cuma pengen kamu tau ada.