Chapter Seventeen
Bab 17: Kak Gagah
POV: Alesha
Aku memaksanya selama empat hari.
“Aku mau lihat kamu kerja.”
“Nggak ada yang menarik.”
“Aku mau lihat.”
“Alesha—”
“Aku mau LIHAT.”
Dan di hari keempat, di parkiran sepeda, dia menyerah dengan cara yang sangat khas: dia tidak bilang iya. Dia cuma bilang, sambil melepas kunci sepedanya:
“Jumat toko tutup jam tujuh.”
“Aku dateng jam empat.”
“Jangan jam empat.”
“Kenapa?”
“Jam empat aku lagi—” Dia berhenti. “Ya udah, jam empat.”
Aku ingat jeda itu. Aku ingat memikirkannya selama tiga detik lalu melupakannya sama sekali, karena aku sedang terlalu senang.
Toko Kue Bunda Ratih dari dalam lebih kecil dari yang kelihatan dari seberang jalan.
Dua etalase, satu meja kasir, satu rak roti, dan lantai keramik putih yang sudah tidak putih lagi di jalur yang sering dilewati.
Dan di belakang, tirai plastik bergaris merah putih.
Bunda Ratih menyambutku seperti aku ini keponakan yang lama tidak berkunjung.
“Neng Alesha! Duduk, duduk.”
“Nggak usah repot, Bu.”
“Repot apanya.” Beliau sudah mengambil piring. “Kamu belum makan kan?”
“Udah, Bu.”
“Bohong.”
“Belum, Bu.”
“Nah.”
Aku duduk di kursi plastik di sudut, dan Bunda Ratih memberiku sepiring nasi dengan telur dadar yang dipotong terlalu rapi, dan aku menatapnya cukup lama.
“Ini yang masak siapa, Bu?”
Beliau menoleh ke tirai.
“Ya tanya aja sendiri.”
Dapurnya sempit.
Itu hal pertama yang mengejutkanku. Aku membayangkan dapur besar, oven industri, meja panjang.
Yang ada: ruangan sekitar tiga kali empat meter, satu oven yang jelas sudah tua, dua meja stainless, rak-rak berisi loyang, dan kipas exhaust yang berputar dengan bunyi seperti orang batuk.
Dan panas.
Panas yang bukan panas biasa — panas yang menempel, yang membuat keringat langsung muncul di leher dalam waktu sepuluh detik.
Dia di meja sebelah kiri, membelakangi pintu.
Ini yang membuatku berhenti di tirai.
Dia membelakangi pintu.
Tiga bulan aku duduk di sebelah orang yang tidak pernah bisa duduk membelakangi pintu, yang memilih kursi berdasarkan garis pandang ke pintu, yang berdiri di tengah perpustakaan selama beberapa detik ketika kursi favoritnya diduduki orang.
Di ruangan ini, dia membelakangi pintu.
Aku berdiri di tirai selama mungkin dua puluh detik sebelum dia sadar aku ada.
Dan dia bekerja seperti orang yang berbeda.
Aku tidak punya cara lain untuk mengatakannya.
Di sekolah, seluruh tubuhnya adalah perhitungan. Cara dia duduk, cara dia jalan, cara dia memilih tempat berdiri di koridor — semuanya diatur, semuanya dihitung, semuanya untuk mengambil ruang sesedikit mungkin.
Di sini, dia mengambil ruang.
Sikunya lebar waktu menguleni. Dia jalan dari meja ke oven dengan tiga langkah panjang, tidak memutar, tidak menghindar. Dia meraih rak paling atas tanpa berjinjit dan tanpa berpikir dulu apakah gerakannya akan mengagetkan orang.
Dia memindahkan loyang panas dengan tangan kosong — bukan tanpa alas, tapi dengan lap yang dilipat empat, dengan gerakan yang jelas sudah ribuan kali diulang — dan waktu loyangnya miring dia menyeimbangkannya dengan pergelangan tangan tanpa melihat.
Dan dia bersenandung.
Sangat pelan. Tidak ada lagunya. Cuma nada-nada acak, di antara bunyi kipas dan bunyi oven.
Aku berdiri di tirai plastik itu dan aku merasakan sesuatu yang aneh dan tidak nyaman di dadaku, dan butuh waktu untuk menamainya.
Aku iri.
Aku iri pada ruangan tiga kali empat meter ini, karena ruangan ini punya bagian dari dia yang tidak pernah kudapat.
“Alesha.”
Dia sudah menoleh. Aku tidak tahu sejak kapan.
“Sori.”
“Nggak apa-apa.” Dia mengelap tangannya. “Panas di situ.”
“Aku tau.”
“Mau di depan aja?”
“Nggak.”
Aku masuk.
Dan seluruh tubuhnya langsung berubah.
Aku melihatnya terjadi dalam waktu satu detik: sikunya masuk, bahunya naik setengah senti, langkahnya memendek. Dia bergeser ke sisi meja supaya ada ruang lewat yang sebenarnya tidak kubutuhkan.
“Ga.”
“Hm.”
“Balik kayak tadi.”
“Tadi gimana?”
“Yang tadi. Waktu kamu nggak tau aku lihat.”
Dia berhenti mengelap tangannya.
“Aku nggak ngerti.”
“Kamu ngerti.”
Dia tidak menjawab.
Jadi aku duduk di kursi plastik di sudut dapur, di tempat yang paling tidak menghalangi apa pun, dan aku bilang:
“Aku nggak akan ngapa-ngapain. Aku cuma duduk. Anggep aja aku nggak ada.”
“Itu susah.”
“Kenapa susah?”
Dan dia berbalik ke mejanya, dan mulai menguleni lagi, dan menjawab ke arah adonan:
“Karena kamu ada.”
Aku menutup mulutku dengan tangan dan tidak bicara selama lima menit penuh.
Aku belajar hal-hal ini dalam satu setengah jam di kursi plastik itu:
Dia menakar dengan timbangan untuk semuanya, tapi untuk garam dia pakai tangan. Waktu kutanya kenapa, dia bilang timbangannya tidak akurat di bawah lima gram.
Dia mencuci alat sambil menunggu. Tidak pernah menumpuk. Waktu ada jeda dua menit, dia mencuci. Waktu ada jeda tiga puluh detik, dia mengelap meja.
Ayahnya masuk sekali, jam lima, mengambil sesuatu dari rak. Pak Bhumi lebih pendek dari Arga — lebih pendek dariku, kalau dihitung dengan benar — dan tidak mengatakan apa-apa selain “Ga” waktu masuk dan “Ya” waktu keluar.
Tapi waktu beliau lewat di belakang Arga, beliau menepuk punggungnya sekali.
Dan Arga tidak menegang.
Aku mencatat itu.
Dia hafal semua harga. Semua. Bunda Ratih memanggil dari depan lima kali dengan pertanyaan harga dan dia menjawab lima kali tanpa mengangkat kepala.
Dan sekitar jam setengah enam, dia mulai mengisi kotak.
Kotak putih kecil. Yang itu.
Dan dia mengisinya dengan cara yang membuatku berhenti bernapas sebentar: dia memilih. Satu per satu. Yang bentuknya paling bagus masuk kotak, yang agak penyok ditaruh di nampan terpisah.
“Ga.”
“Hm.”
“Itu buat apa?”
Dan dia berhenti.
Cuma sepersekian detik.
“Sisa,” katanya.
“Sisa?”
“Iya.”
“Yang penyok itu sisa?”
Jeda.
“Iya.”
“Terus yang bagus-bagus ini?”
Dan dia tidak menjawab, dan dia terus mengisi kotak, dan aku duduk di kursi plastik itu memandangi tangan yang memilih kue satu per satu, dan aku tidak bertanya lagi.
Ada dua belas kotak waktu dia selesai.
Jam enam, dia melepas apronnya.
“Aku keluar bentar.”
“Ke mana?”
“Nganterin.”
“Aku ikut.”
“Alesha—”
“Aku ikut.”
Dan dia berdiri di tengah dapur memegang apronnya, dan aku melihat wajahnya, dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Bukan panik.
Malu.
“Ga?”
“Nggak apa-apa.” Dia menggantung apronnya. “Ya udah. Ayo.”
Dua blok ke arah timur, lalu belok kiri.
Aku tahu jalan ini. Aku pernah berdiri di perempatan ini selama tiga menit, dua bulan lalu, menonton dari jauh.
Bangunan bercat kuning pudar. Pagar besi rendah. Papan nama yang catnya sudah mengelupas di dua huruf.
PANTI ASUHAN SINAR KASIH
Dia memarkir sepedanya di luar pagar.
Dan sebelum dia sempat mengangkat kotak-kotak itu dari keranjang, pintu depan terbuka.
Aku tidak siap.
Aku ingin mencatat itu dengan jelas: aku tidak siap sama sekali.
Yang keluar pertama anak perempuan mungkin lima tahun, dan dia berteriak satu kata dengan volume yang tidak masuk akal untuk badan sekecil itu:
“KAK GAGAAAAH!”
Dan lalu pintu itu meledak.
Aku tidak punya kata lain. Meledak. Enam anak, tujuh, mungkin delapan — mereka bergerak terlalu cepat untuk dihitung — keluar dari pintu itu dan menyeberangi halaman dan menabrak orang yang seluruh sekolah menyeberang jalan untuk menghindarinya.
Yang paling kecil memeluk kakinya.
Dua anak menggantung di lengan kanannya, satu di masing-masing, dan mereka mengangkat kaki mereka dari tanah dan dia menahannya seperti itu tidak berat sama sekali.
Yang paling besar — mungkin sepuluh tahun — memanjat dari belakang dan sudah di punggungnya sebelum dia sempat bereaksi.
Dan mereka semua bicara bersamaan.
“Kak Gagah lama!”
“Kak Gagah kemarin nggak dateng!”
“Kemarin bukan Jumat,” katanya.
“KEMARIN JUMAT!”
“Kemarin Kamis.”
“BOHONG!”
“Tanya Bu Nur.”
“BU NUUUUR! KAK GAGAH BILANG KEMARIN KAMIS!”
Dan aku berdiri di luar pagar besi rendah itu memegang tali tasku, dan aku tidak bisa bergerak.
Ini bagian yang harus kuceritakan dengan hati-hati, karena kalau aku ceritakan dengan salah, jadinya terdengar seperti sesuatu yang dibuat-buat.
Mereka tidak takut.
Itu saja. Itu seluruh isinya.
Delapan anak kecil, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berhenti sebentar untuk melihat wajahnya dulu. Tidak ada yang mundur setengah langkah. Tidak ada yang memeriksa dulu apakah aman.
Anak yang paling kecil menarik-narik tangannya dan berkata “Kak Gagah jongkok” dan dia jongkok, dan anak itu memegang kedua pipinya dan menariknya ke samping dan berkata “Kak Gagah senyum” —
dan dia senyum.
Bukan setengah senti di satu sudut bibir.
Senyum.
Dan aku, dari luar pagar, menutup mulutku dengan tangan.
“Ada tamu.”
Perempuan sekitar empat puluhan, di pintu, memegang lap.
Anak-anak berhenti.
Delapan kepala menoleh ke arahku bersamaan, dan aku tiba-tiba merasa seperti sedang diinterogasi.
“Itu siapa?” tanya yang paling besar.
“Temen,” kata Arga.
“Temen doang?”
“Temen.”
“Kak Gagah bohong.”
“Nggak.”
“Kupingnya merah.”
Dan delapan anak itu berteriak bersamaan dengan volume yang membuat tetangga sebelah membuka jendela.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Bu Nur mengajakku masuk sementara Arga dikeroyok di halaman.
Ruang tamunya kecil. Ada tiga sofa yang tidak seragam, satu kipas angin berdiri, dan dinding penuh gambar anak-anak yang ditempel dengan selotip.
Beliau memberiku teh yang tidak kuminta dan duduk di seberangku.
“Neng temennya Arga?”
“Iya, Bu.”
“Satu sekolah?”
“Satu kelas.”
Beliau mengangguk. Lalu tersenyum.
“Dia jarang bawa temen.”
“Jarang?”
“Nggak pernah, sih.” Beliau tertawa kecil. “Ini pertama.”
Aku memegang gelas tehku.
“Bu.”
“Iya?”
“Udah berapa lama?”
Dan Bu Nur menoleh ke arah jendela, ke arah halaman, di mana ada orang seratus delapan puluh enam sentimeter yang sedang mencoba melepaskan dua anak dari lengannya secara diplomatis dan gagal total.
“Dua tahun,” kata beliau. “Lebih, mungkin. Bentar.”
Beliau berdiri, membuka laci meja, dan mengeluarkan buku tulis biasa. Buku tulis anak sekolah, sampul polos, sudah lecek di sudutnya.
Beliau membalik halaman-halamannya.
“Ini buku tamu?” tanyaku.
“Ini buku Ibu sendiri.” Beliau membalik lagi. “Ibu catet siapa aja yang bantu. Buat laporan yayasan.”
Beliau menemukan halamannya, dan memutar bukunya ke arahku.
Kolom tanggal. Kolom nama. Kolom keterangan.
Halaman itu penuh.
Aku membalik satu halaman ke belakang. Juga penuh.
Aku membalik lagi.
A. Bhumi — kue 12 kotak A. Bhumi — kue 10 kotak A. Bhumi — kue 12 kotak, benerin kran kamar mandi A. Bhumi — kue 12 kotak A. Bhumi — kue 8 kotak, sepeda Dimas A. Bhumi — kue 12 kotak
Tiap Jumat.
Kolom demi kolom, halaman demi halaman, tulisan tangan Bu Nur yang makin lama makin disingkat karena beliau jelas sudah bosan menulis nama yang sama.
Aku membalik ke depan, ke halaman terakhir yang terisi.
Lalu ke belakang, terus, sampai halaman pertama yang ada namanya.
Tanggalnya dua tahun tiga bulan yang lalu.
“Bu.”
“Iya, Neng?”
Aku menunjuk satu kolom, dan tanganku tidak stabil.
“Ini apa?”
Ada kolom kelima yang tidak kusadari di awal. Kolom paling kanan. Angka.
Bu Nur melihatnya.
“Oh, itu.”
“Itu apa, Bu?”
Dan Bu Nur menutup bukunya, pelan, dan menaruhnya di pangkuan.
“Nggak usah dibaca yang itu,” kata beliau.
“Bu—”
“Dia nggak mau ada yang tau.”
“Ibu Nur.”
Dan perempuan itu menatapku beberapa detik, lalu menghela napas, dan berkata dengan suara yang lebih pelan:
“Dia kerja di toko orang tuanya. Digaji harian.”
Aku menutup mataku.
“Ibu udah bilang jangan,” kata Bu Nur. “Berkali-kali. Ibu bilang bawa kuenya aja udah cukup.”
“Terus dia bilang apa?”
Dan Bu Nur tersenyum dengan cara yang sangat lelah.
“Dia bilang, ‘Nggak apa-apa, Bu. Saya nggak butuh.’”
Aku keluar ke halaman jam setengah tujuh.
Anak-anak sudah dipanggil masuk untuk makan malam. Dia sedang mengumpulkan kotak-kotak kosong dan memasukkannya ke keranjang sepedanya.
Aku berdiri di sebelahnya dan tidak bicara.
“Kamu udah dikasih teh?” tanyanya.
“Udah.”
“Bu Nur suka kebanyakan gula.”
“Iya.”
Dia menutup keranjangnya.
“Ga.”
“Hm.”
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
Dan dia mengangkat sepedanya dari standar, dan menjawab dengan nada orang yang menjelaskan sesuatu yang sangat jelas kepada seseorang yang aneh karena tidak mengerti:
“Kuenya kalau nggak dibawa ya kebuang.”
Cuma itu.
“Dua tahun tiga bulan,” kataku.
Dia berhenti.
“Bu Nur nunjukin bukunya?”
“Iya.”
Dia mengangguk pelan, dan mendorong sepedanya keluar pagar, dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Kami jalan berdua sampai perempatan. Dia menuntun sepedanya, tidak menaikinya.
Dan di perempatan itu, aku berhenti.
“Ga.”
“Hm?”
“Aku boleh minta sesuatu?”
“Boleh.”
Aku menoleh.
“Berdiri di situ.”
“Di mana?”
“Situ. Jangan gerak.”
Dan dia berdiri di trotoar di bawah lampu jalan yang baru menyala, memegang setang sepedanya, dengan wajah bingung total.
Aku berjalan ke arahnya.
Aku melingkarkan kedua tanganku di badannya.
Dan aku memeluknya.
Dia tidak bergerak selama empat detik.
Lalu sepeda itu jatuh.
Bunyinya keras — logam ke aspal, pedal yang berputar — dan aku hampir tertawa tapi tidak jadi karena di detik yang sama, tangannya naik.
Satu, di punggungku. Ragu-ragu, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang panas.
Lalu yang satu lagi.
Dan lalu dia menunduk, dan menaruh dahinya di bahuku, dan menarik napas satu kali yang sangat panjang dan sangat tidak stabil.
Aku tidak melepaskan.
Aku berdiri di perempatan itu, di bawah lampu jalan, memeluk orang yang selama dua tahun tiga bulan menyisihkan gaji hariannya untuk anak-anak yang bahkan tidak dia sebutkan ke pacarnya sendiri, dan aku menangis di bahunya dan berusaha keras supaya dia tidak tahu.
Dia tahu.
“Alesha.”
“Aku nggak nangis.”
“Oke.”
“Aku beneran nggak nangis.”
“Oke.”
Dan dia tidak melepaskan juga, dan sepedanya masih di aspal, dan kami berdiri seperti itu sampai ada mobil lewat dan menyalakan klakson dan kami berdua melompat.
Malam itu aku membuka buku catatanku.
Aku membalik ke halaman terakhir, yang terbalik, yang isinya dua baris yang kutulis dua bulan lalu.
Kalau semua orang tau apa yang aku tau, dia nggak akan sendirian.
Berarti tinggal bikin semua orang tau.
Aku menatapnya lama sekali.
Lalu aku ingat sesuatu yang dia katakan di perpustakaan, hari Rabu, waktu hujan.
Kalau nanti kamu tau, kasih tau aku dulu ya.
Aku menutup buku itu tanpa menambahkan apa pun.
Dan aku berbaring di kasur sambil memandangi langit-langit, dan aku berpikir — untuk pertama kalinya, dengan sangat jelas — bahwa mungkin ada masalah dengan rencanaku.
Lalu aku tidur, dan aku melupakannya sampai jauh, jauh nanti.
- 1 Bab 1: Bangku yang Tidak Boleh Diduduki
- 2 Bab 2: Éclair
- 3 Bab 3: Tiga Kali
- 4 Bab 4: Tiga Langkah
- 5 Bab 5: Akun Itu
- 6 Bab 6: Galon dan Lengan Seragam
- 7 Bab 7: Dua Orang yang Tidak Terima
- 8 Bab 8: Parkiran Belakang
- 9 Bab 9: Kenapa Kamu Masih di Situ
- 10 Bab 10: Tangga Belakang
- 11 Bab 11: Hari Pertama Punya Pacar
- 12 Bab 12: Gencatan Senjata
- 13 Bab 13: Meja Digeser
- 14 Bab 14: Ban Bocor
- 15 Bab 15: Perpustakaan
- 16 Bab 16: Gerobak Bu Ipah
- 17 Bab 17: Kak Gagah reading
- 18 Bab 18: Sembilan Belas Hari
- 19 Bab 19: Maaf
- 20 Bab 20: Pensi
- 21 Bab 21: Reyhan Datang
- 22 Bab 22: Notifikasi
- 23 Bab 23: Punggung
- 24 Bab 24: Ruang BK
- 25 Bab 25: Enam Orang di Halte
- 26 Bab 26: Hitungan Mundur
- 27 Bab 27: Salah Ngomong
- 28 Bab 28: Ganti Rute
- 29 Bab 29: Nggak Jadi
- 30 Bab 30: Hari Terbaik
- 31 Bab 31: Yang Disembunyikan
- 32 Bab 32: Lima Detik
- 33 Bab 33: Bangku Itu Kosong Lagi
- 34 Bab 34: Ibu
- 35 Bab 35: Nama
- 36 Bab 36: Diam
- 37 Bab 37: Mereka Datang Sendiri
- 38 Bab 38: Kenapa Aku Diam
- 39 Bab 39: Rebutan
- 40 Bab 40: Kotak dengan Nama