← Udah, Aku di Sini

Chapter Nine

Bab 9 — Tol Pertama

POV: Nadira


Aku memikirkan kata itu selama tiga hari.

Udah.

Hanya satu kata. Diucapkan di bawah payung, di tengah hujan, di tepi jalan Senopati, dengan suara yang tenggelam di antara klakson dan deru air. Mungkin aku salah dengar. Mungkin memang cuma “udah, jalan aja”, seperti kata Ryan. Orang bilang “udah” ribuan kali sehari. Udah makan. Udah sampai. Udah, jangan nangis.

Tapi waktu itu, di detik itu, ada sesuatu di belakang kepalaku yang berdenyut. Tepat di titik yang dulu benjol sebesar telur puyuh.

Aku menceritakannya pada Zaza di telepon hari Jumat malam, dengan nada yang kubuat seringan mungkin, seperti menceritakan mimpi aneh.

“Terus?” tanya Zaza.

“Terus nggak ada apa-apa. Dia bilang ‘ayo’. Kami nyebrang.”

“Terus kamu mikirin itu tiga hari?”

“Nggak tiga hari. Kadang-kadang aja.”

“Nad.”

“Oke, tiga hari.”

Zaza diam lama. Begitu lama sampai aku mengira sinyalnya putus.

“Za?”

“Kamu capek,” katanya akhirnya. “Kamu kecewa sama Evan, kamu kehujanan, kamu ketakutan di jalan. Otakmu nyambungin hal-hal yang nggak nyambung. Itu normal.”

“Iya, kan? Itu normal.”

“Normal,” ulang Zaza. Suaranya aneh. Datar, tapi bukan datar yang biasa. Datar seperti orang yang sedang menahan sesuatu dengan sangat keras. “Tidur, Nad. Besok kamu latihan lagi.”

“Kok kamu tahu besok aku latihan?”

“Karena Ryan selalu Sabtu.”

Dia menutup telepon sebelum aku sempat bertanya kenapa dia tahu jadwal Ryan lebih baik dariku.


Sabtu pagi, Ryan menjemputku pukul 05.45, seperti biasa. Kopi susu, gula sedikit, di dudukan gelas sebelah kiri, seperti biasa. Sandal jepit biru muda masih di jok belakang, labelnya masih belum dicopot.

Yang tidak biasa: Ryan tidak menyetir ke parkiran atau komplek.

Dia menyetir ke gerbang tol.

“Yan.”

“Hm.”

“Ini gerbang tol.”

“Iya.”

“Kenapa kita di gerbang tol?”

“Karena hari Rabu kamu ke Cikarang.”

Aku menatapnya. Aku menatap gerbang tol di depan, palang-palang oranye dan papan hijau besar bertuliskan JAKARTA OUTER RING ROAD. Aku menatapnya lagi.

“Aku belum siap.”

“Kamu sudah siap dari minggu lalu.”

“Minggu lalu aku ngerem pas ada kucing. Itu bukan siap tol, Yan. Itu siap komplek.”

“Kucing di tol lebih jarang.” Dia membelokkan Si Lumut ke bahu jalan sebelum gerbang, di area kosong dekat pos petugas, dan mematikan mesin. “Jam segini sepi. Kita masuk, jalan sepuluh kilo, keluar. Selesai.”

“Sepuluh kilo?!”

“Lima kilo, keluar, putar balik, lima kilo lagi.”

“Itu tetap sepuluh kilo!”

“Iya.” Dia membuka pintunya. “Tapi kedengarannya lebih pendek.”


Aku tidak akan menceritakan lima menit pertama di balik kemudi, karena lima menit pertama itu terdiri dari aku yang duduk di sana dengan tangan di setir dan mata menatap gerbang tol seperti menatap mulut naga.

Yang akan kuceritakan adalah apa yang dilakukan Ryan.

Dia tidak menyuruhku jalan. Dia tidak bilang “ayo, kamu pasti bisa”, atau “nggak apa-apa, pelan-pelan”, atau kalimat-kalimat penyemangat lain yang membuatku ingin melempar ponsel ke kepala orang. Dia hanya duduk di kursi penumpang, memutar badannya sedikit ke arahku, dan bilang:

“Napasmu pendek.”

“Aku tahu napasku pendek.”

“Coba gini.” Dia mengangkat satu tangan, telapak menghadap ke bawah. “Tarik napas, hitung sampai empat.”

Aku menarik napas. Satu, dua, tiga, empat.

“Tahan. Empat.”

Aku menahan. Paru-paruku protes.

“Buang. Pelan. Hitung sampai enam.”

Aku membuang napas. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam.

“Lagi.”

Kami melakukannya lima kali. Tangannya naik waktu aku menarik napas, berhenti di udara waktu aku menahan, turun pelan waktu aku membuang. Seperti dirigen orkestra. Seperti orang yang menenangkan kuda.

Di putaran kelima, bahuku turun dari telinga. Aku tidak sadar bahuku naik sampai ke telinga.

“Kok kamu tahu cara ini?” tanyaku.

Tangannya berhenti di udara. Sebentar. Lalu turun ke pangkuannya.

“Fisioterapis,” katanya. “Dulu. Waktu kakiku.”

“Waktu kecelakaan motor?”

“Iya.”

“Dia ngajarin kamu napas?”

“Katanya napas itu satu-satunya hal yang bisa kita kontrol waktu badan nggak mau nurut.”

Aku menatapnya. Dia menatap gerbang tol.

“Kamu sering pakai?” tanyaku pelan.

“Kadang-kadang.”

“Kapan?”

“Kalau hujan.”

Itu jawaban yang paling panjang yang pernah dia berikan tentang kecelakaannya. Empat kata. Aku menyimpannya di tempat yang sama dengan tempat aku menyimpan hal-hal yang tidak kumengerti tapi tidak mau kulupakan.

Lalu aku memutar kunci.


Gerbang tol berjalan lancar sampai kartu tolku berbunyi tit-tit-tit dengan nada yang tidak menyenangkan.

SALDO TIDAK CUKUP.

Aku menatap layar kecil itu. Aku menatap kartu di tanganku, kartu tol yang kubeli tiga tahun lalu untuk naik bus bandara dan tidak pernah kuisi lagi.

Di belakangku, sebuah truk boks membunyikan klakson. Panjang.

“Yan.”

“Hm.”

“Saldoku nggak cukup.”

“Aku lihat.”

Truk di belakang membunyikan klakson lagi. Lalu mobil di belakang truk. Lalu mobil di belakang mobil itu. Dalam sepuluh detik, terbentuk orkestra klakson pagi hari di gerbang tol JORR, dan aku adalah dirigennya.

“YAN.”

“Nad.” Dia mengulurkan kartu tolnya sendiri, kartu biru dengan stiker kecil bergambar peta Indonesia. “Pakai ini.”

Aku merebutnya, menempelkannya ke mesin. Tit. Palang naik.

Aku menginjak gas terlalu dalam. Si Lumut melompat—bukan lompatan kodok seperti minggu lalu, tapi lompatan kodok yang panik, kodok yang dikejar truk boks—dan kami melesat melewati gerbang tol dengan kecepatan yang tidak seharusnya mungkin untuk mobil setua itu.

“Pelan,” kata Ryan.

“AKU PANIK.”

“Aku tahu. Pelan.”

“KARTU TOLKU MALU-MALUIN.”

“Kartu tolmu nggak salah. Kamu yang nggak ngisi.”

“YAN!”

“Lihat depan. Ada jalur masuk. Tetap di kiri.”

Aku tetap di kiri. Jalan tol terbentang di depan, lebar dan abu-abu dan hampir kosong. Hanya ada beberapa mobil di jalur kanan, melaju cepat, dan satu truk tangki di jalur tengah, besar dan lamban. Matahari baru muncul di sebelah timur, memantul di kaca-kaca gedung di kejauhan.

Speedometer: 40.

“Naik sedikit,” kata Ryan.

“Ini sudah cepat.”

“Ini tol, Nad. Empat puluh di tol itu bahaya. Orang di belakang bakal kaget.”

Aku melirik spion. Ada mobil di belakang, jauh, tapi mendekat cepat. Aku menginjak gas sedikit.

Speedometer: 60.

Jantungku di tenggorokan.

“Napas,” kata Ryan.

Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.

Speedometer: 60. Stabil.

Mobil di belakang menyalip lewat kanan, tanpa klakson, tanpa marah. Hanya lewat. Seperti orang yang lewat di trotoar.

“Bagus,” kata Ryan.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Seluruh tubuhku sedang berkonsentrasi untuk tidak membiarkan Si Lumut melayang ke luar dari jalan tol. Tanganku di jam sepuluh dan jam dua. Mataku di depan. Napasku dalam hitungan.

Lalu, pelan-pelan, sesuatu berubah.

Aku tidak tahu kapan tepatnya. Mungkin di kilometer dua. Mungkin di kilometer tiga. Tapi suatu saat, tanganku berhenti mencengkeram setir seperti mencengkeram pelampung. Bahuku turun. Mataku mulai melihat lebih dari sekadar garis putih di depan Si Lumut. Aku melihat langit. Matahari yang naik. Burung-burung di atas pagar pembatas.

Aku melihat diriku sendiri, di kaca spion tengah, dan perempuan di kaca itu tidak lagi pucat. Pipinya merah. Matanya berbinar.

Dia sedang menyetir di jalan tol.

“Yan,” bisikku.

“Hm.”

“Aku di tol.”

“Iya.”

“Aku nyetir di tol.”

“Iya, Nad.”

“Lima tahun—” Suaraku pecah. Aku menelan. “Lima tahun aku nggak berani duduk di balik setir. Dan sekarang aku di tol.”

Ryan diam. Aku meliriknya sekilas. Dia menatapku—bukan jalan, bukan spion, tapi aku—dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat di wajahnya. Tidak datar. Tidak tersenyum juga. Sesuatu di antara keduanya. Sesuatu yang lembut, yang membuat matanya kelihatan lebih tua dan lebih muda sekaligus.

“Kamu cantik kalau nyetir,” katanya.

Setirku oleng.

Bukan banyak. Hanya sedikit. Si Lumut bergeser setengah meter ke kanan, melewati garis putih, lalu kembali ke jalurnya dengan bunyi berdecit dari ban.

“Fokus,” kata Ryan, dengan nada persis sama.

“KAMU YANG BIKIN AKU NGGAK FOKUS!”

“Aku cuma bilang fakta.”

“Fakta itu nggak diucapin pas orang lagi nyetir di tol, Yan!”

“Oke. Lain kali aku bilang pas kamu parkir.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Wajahku panas sampai ke telinga, dan aku menatap jalan di depan dengan intensitas seorang pilot pesawat tempur, dan aku tidak berani melirik ke kiri sama sekali sampai kami keluar tol.


Kami merayakan dengan martabak manis.

Pukul delapan pagi, martabak manis tidak mudah ditemukan. Tapi Ryan tahu satu gerobak di dekat stasiun Pondok Ranji yang buka dari subuh untuk melayani orang-orang yang pulang kerja shift malam. Martabaknya tebal, kejunya tumpah-tumpah, dan cokelatnya jenis cokelat meses murah yang membuat lidahmu terasa seperti dilapisi lilin dan entah bagaimana justru itu enaknya.

Kami makan di dalam Si Lumut, di parkiran stasiun, dengan kotak martabak terbuka di atas dasbor dan kaca jendela sedikit diturunkan.

“Mbak Sinta,” kataku dengan mulut penuh, “nggak bakal percaya.”

“Dia nggak perlu tahu.”

“Dia nggak tahu aku nggak bisa nyetir. Aku bilang aku bisa.”

“Sekarang kamu bisa. Jadi kamu nggak bohong.”

“Mundur ke belakang. Retroaktif.”

“Bohong retroaktif.”

Aku tertawa. Lalu, karena aku sedang bahagia dan martabak terlalu manis dan matahari pagi terlalu hangat, aku melakukan sesuatu yang biasanya hanya kulakukan di depan Zaza: aku menirukan Mbak Sinta.

Aku menegakkan punggung. Aku menurunkan kacamata imajiner ke ujung hidung. Aku mengangkat satu jari dengan gaya dramatis.

“Nadira,“ kataku dengan suara serak dan lambat, “aku punya kabar baik, dan kabar yang... bukan kabar buruk... tapi kabar yang membutuhkan... penyesuaian.“

Ryan berhenti mengunyah.

“Mobil kamu,“ lanjutku, “mengalami... momen refleksi kolektif... dengan truk boks.“

Lalu aku menirukan ibu senam yang paling gemuk, dengan tangan di pinggang dan suara melengking: “Pelan-pelan lepas koplingnya, Mbak! Kayak lepas mantan!“

Dan Ryan tertawa.

Bukan sudut bibir yang bergerak. Bukan bahu bergetar di balik punggung tangan. Bukan mata yang tertawa sementara wajah tetap datar.

Ryan tertawa. Keras. Dengan kepala menunduk dan tangan menutupi wajah dan suara yang keluar dari dadanya, dalam, serak, seperti sesuatu yang sudah lama tidak dipakai lalu tiba-tiba dinyalakan. Bahunya berguncang. Dia tersedak martabak. Dia batuk. Dia tertawa lagi.

Aku menatapnya dengan mulut terbuka.

Delapan tahun. Delapan tahun aku mengenalnya, dan aku belum pernah mendengar suara itu. Aku bahkan tidak tahu Ryan punya suara itu.

“Yan,” kataku. “Yan. Kamu ketawa.”

“Nggak.” Dia masih tertawa. “Aku—” Batuk. Tertawa. “—aku keselek.”

“Kamu ketawa! Keras! Ada suaranya!”

“Kayak lepas mantan,” ulangnya, dan tertawa lagi, sampai matanya berair.

Aku ikut tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tawanya menular, seperti menguap. Kami berdua tertawa di dalam Si Lumut di parkiran stasiun Pondok Ranji pukul delapan pagi, dengan martabak cokelat keju di dasbor dan remah-remah meses di pangkuan, sampai seorang bapak yang lewat membawa karung menatap kami dengan heran.

Waktu tawa kami akhirnya reda, Ryan bersandar ke jok dan menyeka matanya dengan punggung tangan. Wajahnya merah. Rambutnya berantakan. Dia kelihatan lebih muda lima tahun.

“Sudah lama,” katanya pelan, ke langit-langit mobil.

“Apanya?”

Dia tidak menjawab. Dia mengambil potongan martabak terakhir dan membaginya dua, menyerahkan bagian yang lebih banyak kejunya padaku.

Aku menerimanya. Aku menatap tangannya. Tangan yang tadi pagi naik dan turun mengatur napasku. Tangan yang minggu lalu menutupi tanganku di tuas persneling.

“Yan,” kataku.

“Hm.”

“Tadi di tol.” Aku menggigit martabak supaya tidak perlu menatapnya. “Kamu bilang aku cantik.”

“Iya.”

“Kamu serius?”

Dia diam. Di luar, kereta komuter lewat dengan bunyi gemuruh yang panjang, menggetarkan kaca jendela Si Lumut.

“Aku nggak pernah ngomong yang nggak serius, Nad,” katanya, setelah kereta lewat.

Lalu dia menyalakan mesin, dan aku harus pindah ke kursi penumpang, dan kami tidak membicarakannya lagi.

Tapi sepanjang jalan pulang, aku menatap jendela dengan martabak di tangan dan jantung yang berdebar seperti sedang menyetir di tol lagi.

Aku tidak minum kopi kali ini. Kopinya sudah habis dua jam lalu.

Aku tidak tahu harus menyalahkan apa.