← Udah, Aku di Sini

Chapter Nineteen

Bab 19 — Dua Puluh Delapan

POV: Nadira


Gaun itu warnanya emas pucat, seperti sampanye yang dituang di bawah lampu.

Zaza yang memilihnya. Dia menyeretku ke butik temannya di Kemang hari Rabu, membuatku mencoba sebelas gaun, dan menolak sepuluh di antaranya dengan komentar satu kata: tua, norak, sinetron, pengantin, tante, salah, nggak, jangan, nggak banget, dan Nad, kamu mau ke pesta atau ke kondangan sunatan?

Gaun kesebelas, dia diam.

Gaun itu sederhana. Satin tipis, panjang sampai betis, potongan leher persegi yang memperlihatkan tulang selangka, dengan tali tipis di bahu. Tidak ada payet. Tidak ada renda. Hanya kain yang jatuh lurus mengikuti tubuh dan berkilau setiap kali aku bergerak.

Zaza menatapku di cermin butik lama sekali.

“Itu,” katanya akhirnya.

“Bagus?”

“Nad.” Dia berdiri di belakangku, menatap pantulan kami berdua. “Kamu cantik. Kamu selalu cantik. Tapi malam itu kamu harus cantik dengan cara yang bikin orang lupa napas.”

“Orang siapa?”

Zaza tidak menjawab. Dia hanya merapikan rambutku dengan jari, pelan, seperti merapikan rambut pengantin sebelum keluar ke pelaminan.


Sabtu malam pukul tujuh, aku berdiri di depan cermin kamar kos dengan gaun emas pucat, rambut yang ditata bergelombang lembut oleh penata rambut langganan Zaza, dan riasan yang menurut penata rias itu “natural tapi mahal”. Bibirku warna nude kemerahan. Mataku diberi sedikit kilau emas di kelopak. Anting kecil berbentuk tetes air.

Aku menatap perempuan di cermin itu.

Aku tidak sering merasa cantik. Aku tahu aku cantik, dengan cara orang tahu langit itu biru: itu fakta, tapi bukan sesuatu yang kau pikirkan setiap hari. Orang-orang bilang aku cantik sejak SMA. Kasir minimarket kadang lupa memberi kembalian. Dimas di kantor bilang senyumku kayak iklan pasta gigi. Aku menerima semua itu seperti menerima cuaca.

Tapi malam ini, perempuan di cermin itu terlihat seperti seseorang yang akan mengatakan sesuatu yang penting.

Aku hanya tidak tahu lagi apa.


Rooftop lounge di Senopati itu ternyata lebih indah dari sketsa Zaza.

Lantai kayu yang luas, dikelilingi pagar kaca setinggi dada. Lampu-lampu bulat warna emas digantung di tali-tali yang menyilang di atas kepala, seperti ribuan bintang kecil yang dipanggil turun. Meja-meja tinggi dengan taplak putih dan vas kecil berisi mawar putih dan ranting emas. Di ujung, bar dengan lampu kuning hangat. Di sudut lain, panggung kecil dengan pemain saxophone yang memainkan lagu jazz pelan. Dan di bawah, empat belas lantai di bawah, Jakarta berkilau seperti sungai cahaya yang tidak pernah tidur.

Di meja panjang dekat bar, dua ratus kue sus emas buatan Bu Ratna disusun dalam bentuk piramida di atas nampan kaca bertingkat. Taburan emasnya berkilau di bawah lampu. Di sebelahnya, ada kartu kecil bertuliskan dengan tulisan tangan rapi dan miring: Kue Bu Ratna. Selamat ulang tahun, Nak Evan. Semoga selalu jujur dan bahagia.

Aku berhenti di depan kartu itu.

Semoga selalu jujur.

“Nad!”

Gilang melambai dari pojok. Dia memakai kemeja putih dan dasi kupu-kupu emas, dan di sebelahnya ada meja kecil dengan tulisan POS KESEHATAN yang ditempel pakai selotip. Di atas meja: kotak P3K oranye, tensimeter, oksimeter, tiga jenis obat maag, plester dinosaurus, dan sepiring permen jahe.

“Lang. Kamu serius bikin pos kesehatan.”

“Ini acara rooftop dengan tiga puluh tamu dan alkohol. Aku orang yang bertanggung jawab.” Dia menatapku dari atas ke bawah. Lalu dia diam. Mulutnya terbuka sedikit.

“Kenapa?”

“Nad,” katanya pelan. “Kamu kayak piala.”

“Piala?”

“Piala emas. Yang di lemari kaca. Yang nggak boleh disentuh karena takut sidik jari.” Dia mengedip beberapa kali. “Itu pujian. Secara farmasi.”

“Secara farmasi gimana?”

“Aku juga nggak tahu. Aku panik.” Dia mengambil oksimeter dan menjepitkannya ke jarinya sendiri. “Nadiku naik. Kamu bahaya buat kesehatan kardiovaskular.”

Aku tertawa. Dua tamu di meja tinggi terdekat menoleh ke arahku. Satu laki-laki berjas yang tidak kukenal menatapku lebih lama dari yang sopan, lalu berbisik pada temannya.


Ryan datang pukul tujuh empat puluh, membawa Evan.

Rencana Zaza sederhana: Ryan menjemput Evan di apartemennya dengan alasan palsu—”Gilang kecelakaan, kita harus ke Senopati”—lalu membawanya ke rooftop, dan kami semua akan berteriak kejutan. Evan sudah tahu tentang pesta ini sejak tiga minggu lalu, dan kami semua tahu dia tahu, tapi Zaza bersikeras bahwa “kejutan itu bukan soal informasi, kejutan itu soal ritual”.

Lampu dimatikan. Tiga puluh tamu berjongkok di balik meja-meja tinggi. Gilang menyalakan senter ponsel dan mematikannya lagi tujuh kali karena gugup. Zaza memukul tangannya.

Pintu lift terbuka.

“KEJUTAN!”

Evan berdiri di ambang lift, memakai kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Dia pura-pura kaget dengan cara yang sangat buruk, menutup mulut dengan dua tangan dan membelalakkan mata seperti aktor sinetron. Semua orang tertawa. Lampu-lampu emas menyala. Pemain saxophone memainkan lagu ulang tahun versi jazz.

Dan di belakang Evan, keluar dari lift, Ryan.

Dia memakai kemeja hitam. Bukan kaos. Kemeja. Lengan panjang, kancing sampai satu di bawah leher. Rambutnya disisir rapi, lebih rapi dari yang pernah kulihat, seperti seseorang—mungkin Bu Ratna—memaksanya berdiri di depan cermin sepuluh menit. Dia membawa nampan kecil berisi tambahan kue sus, karena dia memang selalu membawa sesuatu.

Dia melangkah keluar dari lift. Matanya menyapu rooftop, mencari sesuatu, seperti mata yang selalu mencari sisi jalan.

Lalu matanya menemukanku.

Dan Ryan berhenti.

Dia berhenti di tengah langkah, satu kaki di luar lift, satu kaki masih di dalam. Pintu lift mulai menutup dan memantul di bahunya, terbuka lagi, menutup lagi, memantul lagi. Dia tidak bergerak. Nampan kue sus di tangannya miring, sedikit, lalu lebih banyak, dan satu kue sus emas meluncur dari tepinya dan jatuh ke lantai kayu dengan bunyi pluk yang pelan.

Dia tidak melihat kue itu. Dia melihatku.

Wajahnya tidak datar. Wajahnya kosong, dengan cara yang lain. Kosong seperti orang yang tiba-tiba lupa semua kata yang dia tahu.

“Yan,” panggil Gilang. “Kue! Kuenya jatuh! Lima detik! Masih bisa dimakan kalau di bawah lima detik!”

Ryan mengedip. Dia menunduk, menatap nampan di tangannya, menatap kue di lantai. Lalu dia keluar dari lift, membungkuk memungut kue itu, dan berjalan ke meja kue dengan langkah yang sedikit terlalu cepat, tanpa menoleh ke arahku lagi.

Aku berdiri di tengah rooftop dengan gaun emas pucat, dan jantungku melakukan sesuatu yang sangat bodoh.

Bukan karena Evan.


Rundown Zaza berjalan seperti mesin.

Segmen satu: pembukaan. Segmen dua: welcome drink, mocktail berwarna emas yang terasa seperti jus jeruk dicampur soda. Segmen tiga: sambutan panitia, di mana Gilang berbicara selama sembilan menit tentang “nilai-nilai persahabatan dari perspektif farmakologi” sampai Zaza mencabut mikrofonnya. Segmen empat: slideshow.

Lampu diredupkan. Layar proyektor di dinding menampilkan foto-foto kami. Dua ratus tujuh puluh tujuh foto, bukan dua ratus delapan puluh. Tiga foto sudah dihapus. Semua orang tertawa melihat poni rata Zaza dan belah tengah Gilang. Semua orang bersorak waktu foto Evan dan Ryan adu panco di kantin muncul.

Lalu foto di bioskop. Tahun kedua. Film robot.

Aku di tengah, menangis dengan mata bengkak dan hidung merah, memegang setumpuk tisu. Di sebelahku, kepala sedikit menunduk, tangan masih terulur dengan bungkus tisu yang sudah setengah kosong—

Ryan.

Aku tidak pernah melihat foto itu sebelumnya. Aku tidak tahu ada yang memotret. Aku tahu ada yang memberiku tisu waktu itu, satu bungkus penuh, tanpa bicara sepatah kata pun. Aku ingat tangan yang terulur. Aku tidak ingat wajahnya. Aku terlalu sibuk menangis.

Aku pikir itu Gilang. Gilang yang selalu bawa barang.

Di foto itu, Ryan tidak menatap layar bioskop. Ryan menatapku.

Tamu-tamu tertawa. “Ya ampun, Nadira nangis!” teriak seseorang. Gilang mengambil mikrofon lagi dan bilang, “Ini dokumentasi historis bahwa Nadira menangis di film kartun, dan kami semua jadi saksi.” Semua orang tertawa lagi.

Aku tidak tertawa.

Aku menoleh, mencari Ryan di rooftop yang setengah gelap. Dia berdiri di dekat meja kue, di pinggir, seperti biasa. Lampu proyektor memantul di wajahnya, berganti-ganti warna setiap kali foto berganti.

Dia sedang menatap layar. Menatap foto itu. Lalu, seolah merasakan mataku, dia menoleh.

Kami saling menatap melintasi rooftop yang gelap, di antara tiga puluh tamu yang tertawa dan lampu-lampu emas dan suara saxophone yang pelan.

Dia yang memalingkan muka duluan.


Segmen sembilan: toast. Evan berdiri di depan dengan gelas mocktail emas, berterima kasih pada semua orang yang datang, berterima kasih pada panitia, berterima kasih pada Bu Ratna untuk kuenya. Suaranya tenang. Senyumnya lebar. Tapi tangannya yang memegang gelas sedikit gemetar, dan aku melihat Zaza, di samping panggung, menatap tangan itu.

Segmen sepuluh: kejutan.

Aku tahu ini segmen sepuluh karena Zaza menatapku dari seberang rooftop dan mengangguk sekali. Pelan. Seperti dirigen yang memberi aba-aba.

Aku tidak bergerak.

Aku berdiri di tempatku, dengan gelas mocktail di tangan, dengan naskah Zaza yang sudah kuhafal dan sudah kulupakan dan sudah kuhafal lagi, dan aku tidak bisa bergerak. Bukan karena takut. Aku sudah tidak takut pada jalan tol. Aku sudah tidak takut pada parkiran penuh ibu-ibu senam.

Aku tidak bergerak karena aku tidak tahu lagi kalimat apa yang ada di dadaku.

Lima tahun lalu, malam hujan itu, kamu nyelamatin aku, Van.

Aku tidak bisa mengatakannya. Aku tidak bisa mengatakannya tanpa melihat jaket merah di foto dengan cap waktu 21:24. Tanpa melihat garis pucat di bawah kaos hitam. Tanpa melihat tangan yang terulur dengan bungkus tisu di bioskop, delapan tahun lalu, dan mata yang tidak menatap layar.

Lalu seseorang menyentuh sikuku.

Evan.

“Nad,” katanya pelan. Dia sudah turun dari panggung. Di belakangnya, Zaza menatap kami dengan wajah pucat. “Boleh ngomong sebentar? Berdua?”


Dia membawaku ke pojok rooftop, di dekat pintu tangga darurat, di balik pot tanaman besar yang daunnya lebar-lebar. Lampu emas tidak sampai ke sini. Hanya cahaya kota dari bawah, oranye dan dingin, yang memantul di pagar kaca.

Evan berdiri di depanku. Dia tidak bersandar ke pagar. Dia berdiri tegak, dengan tangan di saku, persis seperti caranya berdiri di depan Ryan di belakang kantin waktu SMA. Aku tidak tahu itu. Aku hanya tahu dia terlihat seperti orang yang sedang berusaha sangat keras untuk berani.

“Nad,” katanya. “Sebelum kamu ngomong apa pun.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu kamu mau ngomong sesuatu malam ini. Gilang...” Dia tertawa kecil, tanpa suara. “Gilang nggak bisa nyimpen apa-apa. Dari minggu pertama aku udah tahu.”

“Oh,” kataku. Wajahku panas. Tapi tidak sepanas yang kubayangkan. Tidak sepanas waktu Ryan bilang kamu cantik kalau nyetir di jalan tol.

“Dan aku nggak mau kamu ngomong itu di depan semua orang terus aku harus jawab di depan semua orang.” Evan menarik napas. “Jadi aku jawab dulu. Di sini. Berdua.”

Aku menunggu.

“Aku sayang kamu, Nad.” Dia mengatakannya dengan hati-hati, setiap kata ditimbang. “Kamu salah satu orang paling penting di hidupku. Tapi sebagai sahabat. Cuma sahabat. Aku nggak bisa...” Dia berhenti. “Aku nggak ngerasain yang kamu harapin. Maaf.”

Itu dia.

Kalimat yang kutakutkan selama lima tahun. Kalimat yang kubayangkan dalam seratus versi berbeda di malam-malam tanpa tidur. Penolakan.

Aku menunggu rasa sakitnya datang.

Rasa sakit itu datang. Tapi bukan dari tempat yang kukira. Bukan dari dada, seperti di drama Korea. Rasanya lebih seperti... seperti jatuh dari tangga yang ternyata lebih pendek dari yang kau pikir. Kau menapak, dan kau kaget, dan lututmu sakit sebentar, tapi kau tidak hancur.

“Oke,” kataku.

Evan menatapku. “Oke?”

“Oke, Van.” Aku tersenyum, dan senyumku sedikit bergetar, tapi itu senyum. “Makasih udah bilang duluan. Makasih udah nggak bikin aku malu di depan orang.”

Evan tidak tersenyum balik. Wajahnya justru terlihat lebih sakit, seolah dia yang baru saja ditolak. Dia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

“Ada satu lagi,” katanya.

“Apa?”

“Aku bukan orang yang kamu kira, Nad.”

Angin malam bertiup dari bawah, membawa bau knalpot dan hujan yang belum turun. Daun-daun lebar tanaman di sebelah kami bergoyang.

“Maksudnya?”

“Lima tahun kamu lihat aku kayak...” Evan menelan. Matanya merah lagi, seperti di trotoar depan kosku pagi itu, seperti di api unggun Puncak. “Kayak aku orang baik. Kayak aku orang yang diam soal kebaikannya sendiri. Kamu bilang itu ke Zaza. Kamu bilang itu ke semua orang. ‘Evan itu rendah hati.’ ‘Evan nggak pernah pakai jaket merah lagi.’”

“Kamu memang—”

“Aku nggak pantas kamu kagumin, Nad.”

Suaranya pecah di tengah kalimat. Dia mengalihkan pandangan. Dan matanya, tanpa disengaja, seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara, bergerak melintasi rooftop. Melewati tamu-tamu. Melewati bar. Melewati panggung. Berhenti di dekat meja kue.

Di Ryan.

Aku mengikuti arah matanya.

Ryan berdiri di dekat piramida kue sus emas buatan ibunya, dengan kemeja hitam yang dikancingkan sampai satu di bawah leher. Dia tidak sedang menatap kami. Dia sedang membantu seorang tamu tua mengambil piring kertas. Tapi bahunya kaku. Dan waktu tamu itu pergi, dia tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana, menatap lantai kayu, dengan tangan menggenggam ujung meja.

“Van,” kataku. Suaraku tiba-tiba tipis. “Kamu nyelamatin aku.”

Evan menutup mata.

“Malam itu,” kataku, lebih keras. “Kamu nyelamatin aku. Jaketmu. Kamu di sebelahku di rumah sakit. Itu kamu.”

“Nad.”

“Itu kamu, kan, Van?“

Evan membuka mata. Dia menatapku. Dan di matanya, aku melihat sesuatu yang sama dengan yang kulihat di mata Ryan di atap jemuran malam itu. Sesuatu yang besar dan berat, yang berputar-putar di bawah permukaan, yang bertarung untuk naik ke atas.

“Tanya—” katanya.

Lalu dia berhenti. Rahangnya mengatup. Seperti seseorang yang menutup pintu dengan seluruh berat tubuhnya.

“Tanya apa?” desakku.

“Maaf, Nad,” bisiknya. “Maaf. Aku nggak bisa.”

Dia berbalik. Dia berjalan pergi, melewati pot tanaman, kembali ke cahaya emas, ke tamu-tamu, ke bar. Dia tidak menoleh.


Aku berdiri sendirian di pojok rooftop, di balik pot tanaman berdaun lebar, dengan gaun emas pucat dan gelas mocktail yang sudah hangat di tangan.

Aku bukan orang yang kamu kira.

Tanya—

Tanya siapa? Tanya apa?

Di kepalaku, potongan-potongan berputar seperti foto-foto di slideshow Gilang. Jaket merah, 21:24. Bu Ratna: Ryan nggak bawa motor ke Bandung. Garis pucat di bawah kaos hitam, di tengkuk, miring ke bawah. Zaza menghapus folder foto dengan tangan gemetar. Zaza di album rumah sakit, setiap hari. Zaza: Aku tahu. Evan di trotoar pagi itu, menatap Ryan dan menangis. Siapa yang ngajarin?

Ryan di atap jemuran. Bukan salahmu, Nad. Bukan salah kamu sama sekali.

Bukan salahmu. Bukan bukan salah kita. Bukan bukan salah siapa-siapa. Bukan salahmu.

Seolah ada orang lain yang salah. Seolah ada sesuatu yang dia tahu dan aku tidak.

Bagian belakang kepalaku berdenyut. Keras sekali, sekarang. Bukan ketukan lagi. Pukulan. Seperti seseorang di balik pintu yang terkunci sedang menggedor dengan dua tangan.

Aku tidak bisa bernapas.

Aku mencoba menghitung. Tarik empat. Napasku tersangkut di tiga. Tahan empat. Aku tidak bisa menahan. Buang enam. Yang keluar hanya isak kecil yang tidak sengaja.

Aku harus keluar dari sini.

Aku meletakkan gelas mocktail di pagar kaca. Aku berjalan keluar dari balik pot tanaman, menunduk, melewati tamu-tamu yang tertawa, melewati bar, melewati pos kesehatan Gilang. Gilang memanggil namaku. Aku tidak menoleh.

Di dekat meja kue, aku merasakan mata seseorang di punggungku.

Aku tahu siapa, tanpa menoleh.

Aku menekan tombol lift. Pintunya terbuka. Aku masuk. Di cermin dinding lift, perempuan dengan gaun emas pucat dan kilau emas di kelopak mata menatapku balik, dan maskaranya mulai luntur di sudut-sudut mata.

Pintu lift mulai menutup.

Di celah yang menyempit, aku melihat Ryan meninggalkan meja kue. Berjalan cepat. Berjalan ke arah lift. Langkahnya miring ke kanan, kaki kiri tertinggal sedikit, tapi dia berjalan secepat yang bisa dia lakukan.

Pintu lift menutup sebelum dia sampai.

Angka di atas pintu mulai turun.

14\. 13. 12.

Aku menyandarkan kepala ke dinding lift yang dingin dan menutup mata.

Aku tidak tahu ke mana aku mau pergi.

Aku hanya tahu bahwa ada sesuatu di bawah sana, di jalan, di malam yang mulai gerimis, yang sudah menungguku selama lima tahun.