← Udah, Aku di Sini

Chapter Twenty Eight

Bab 28 — Polling Darurat

POV: Nadira


Senin pagi, aku dimasukkan ke grup WhatsApp baru tanpa persetujuan.

Gilang membuat grup “Panitia Jodoh Ryan (JANGAN BILANG RYAN)” Gilang menambahkan Zaza, Evan, Nadira

Gilang: Selamat pagi, Bapak/Ibu panitia.

Gilang: Grup ini dibentuk berdasarkan kebutuhan mendesak. Situasi sudah darurat. Aku sudah konsultasi ke diriku sendiri dan diriku sendiri setuju.

Zaza: Lang kenapa ada Nadira di sini. Ini grup jodohin dia.

Gilang: Karena Nadira adalah stakeholder utama.

Aku: Aku stakeholder??

Gilang: Kamu yang ngejar. Kami cuma tim pendukung. Kayak suporter bola.

Evan: Aku nggak ngerti kenapa aku di sini

Gilang: Kamu sahabat terdekat Ryan sejak umur 15. Kamu punya data historis.

Evan: Data apa?

Gilang: Misalnya: Ryan pernah suka cewek lain nggak sebelum Nadira?

Evan: Nggak.

Gilang: Sama sekali?

Evan: Dari bioskop tahun kedua. Dia udah begitu. Aku tahu dari dulu.

Aku: ...

Aku: VAN KAMU TAHU DARI BIOSKOP?

Evan: Semua orang tahu, Nad. Kecuali kamu.

Zaza: Aku tahu.

Gilang: Aku nggak tahu 😭

Zaza: Kamu nggak tahu apa-apa, Lang. Itu brand kamu.

Aku menatap ponsel di meja kantor. Dimas melirik dari meja sebelah.

“Mbak,” katanya. “Mukamu kayak orang baru menang lotre tapi tiketnya hilang.”

“Diem, Dim.”


Selasa, Gilang membuat polling.

POLLING DARURAT: Menurut Anda, berapa lama lagi Ryan bertahan?

☐ Seminggu (dia lemah, kita semua tahu) ☐ Sebulan (dia keras kepala tapi manusia) ☐ Setahun (dia Ryan) ☐ Selamanya (kita harus pindah ke rencana B) ☐ Aku butuh magnesium

Hasil, setelah satu jam:

Seminggu: Zaza, Evan. Sebulan: — Setahun: — Selamanya: — Aku butuh magnesium: Gilang.

Aku: Lang kamu milih magnesium di polling-mu sendiri

Gilang: Aku pemilik polling. Aku boleh milih opsi yang mencerminkan kondisi emosionalku.

Aku: Terus aku milih apa?

Zaza: Kamu stakeholder. Kamu nggak boleh milih. Konflik kepentingan.

Evan: Rencana B itu apa, Lang?

Gilang: Aku belum mikirin. Tapi kedengerannya profesional.

Rabu, Gilang mengirim dokumen.

Gilang mengirim dokumen: STRATEGI_JODOH_RYAN_v1.pdf

Tiga halaman. Ada kolom “taktik”, “penanggung jawab”, dan “tingkat risiko”. Taktik pertama: Sticky note di termos (SUDAH BERJALAN — tingkat keberhasilan: TINGGI menurut laporan agen lapangan Fajar). Taktik kedua: Ganti perban dengan tatapan intens (SUDAH BERJALAN — catatan: pasien menunjukkan gejala takikardia dan telinga merah). Taktik ketiga: Parkiran BSD (SUDAH BERJALAN — catatan: intervensi ibu-ibu senam di luar rencana, efek samping: pasien tertawa).

Aku: LANG KOK KAMU TAHU SOAL PARKIRAN

Gilang: Ibu-ibu senam BSD posting di grup Facebook. Ada foto mobil merah. Ada caption “Pasangan muda dari BSD semoga langgeng 🥰”. Aku dapat dari sepupuku yang ikut senam di sana.

Aku: ADA FOTONYA??

Gilang: Buram. Muka kalian nggak kelihatan. Tapi telinga Ryan kelihatan merah dari jarak 50 meter.

Evan: Aku mau lihat

Zaza: Aku juga

Gilang mengirim foto

Foto itu buram, diambil dari jauh dengan kamera ponsel yang jelas tidak dirancang untuk zoom. Mobil merah kecil di bawah pohon ketapang. Dua sosok di dalamnya, sangat dekat. Dan di sisi penumpang, sesuatu yang memang, kalau kau menyipitkan mata, terlihat seperti telinga yang merah.

Aku menutup muka dengan bantal kantor yang kubawa untuk sandaran punggung. Dimas bertanya apakah aku mau tanaman plastiknya.


Jumat malam, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, circle kumpul di kafe Kemang.

Gilang yang mengusulkannya di grup yang lama, grup yang ada Ryan-nya, yang sudah diam selama tiga minggu. Pesannya sederhana. Tanpa emoji. Tanpa jurnal.

Gilang: Jumat. Kemang. Jam 8. Semua. Aku yang bayar.

Aku datang pukul delapan kurang sepuluh. Aku pikir aku yang paling awal.

Ryan sudah di sana.

Tentu saja. Meja paling pojok, dekat jendela, di bawah lampu gantung yang kabelnya ditempel selotip. Dia duduk di kursi di ujung, seperti biasa, dengan kaos hitam leher bulat, dengan plester yang sudah dilepas dari pipinya sehingga hanya ada garis merah muda tipis di sana. Di depannya, gelas-gelas sudah dipesan.

Teh tarik kurang manis. Es kopi susu dengan gula cair dipisah. Air putih hangat. Americano dingin tanpa gula.

Dan untuk dirinya sendiri, kopi tubruk.

Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Ryan memesan kopi tubruk di kafe Kemang. Bukan americano yang dia minum supaya Evan tidak merasa bersalah. Bukan air putih. Kopi tubruk, hitam, dengan ampas yang mengendap di dasar gelas.

Aku berhenti di depan meja.

Dia mengangkat kepala. Menatapku.

“Hai, Yan.”

“Nad.”

Ada kursi kosong di sebelahnya. Biasanya kursi Gilang, karena Gilang suka duduk di sebelah Ryan supaya bisa mengambil kacang yang dikupaskan. Aku menatap kursi itu. Lalu aku menatap kursi di sebelah kursi Evan, kursi yang lima tahun ini selalu kupilih.

Aku duduk di sebelah Ryan.

Dia tidak bilang apa-apa. Tapi aku melihat tangannya, yang tadinya di atas meja, pindah ke pangkuannya. Dan aku melihat telinganya.

Merah.


Zaza datang pukul delapan lewat lima. Dia berhenti di depan meja, melihat aku duduk di sebelah Ryan, dan alisnya naik satu senti. Hanya satu senti. Lalu dia duduk di seberang kami tanpa komentar, mengambil es kopi susunya, dan menuang gula cair dengan sangat hati-hati.

Gilang datang pukul delapan lewat tujuh. Dia melihat kursinya sudah diambil. Dia melihat siapa yang mengambilnya. Dia berhenti di tempat dengan mulut terbuka, lalu mengeluarkan ponsel, mengetik dengan sangat cepat, dan memasukkannya lagi.

Ponselku bergetar di saku.

Gilang (Panitia Jodoh Ryan): UPDATE LAPANGAN: Stakeholder utama duduk di sebelah target. Posisi strategis. Telinga target sudah merah. Mohon semua anggota bersikap normal.

Aku tidak berani membuka ponsel di depan Ryan. Aku hanya menahan tawa sampai pipiku sakit.

Evan datang pukul delapan lewat sepuluh. Tidak telat. Tidak tepat waktu. Di antara keduanya.

Dia berhenti di depan meja. Dia melihat kursi di sebelahku, di sebelah Ryan, sudah terisi. Dia melihat kursi lamanya, kursi yang lima tahun ini selalu di sebelahku, sekarang kosong. Dia melihat americano dingin di depan kursi itu.

Lalu dia tersenyum. Senyum yang kecil, lelah, dan entah kenapa, sangat lega.

Dia tidak duduk di kursi itu. Dia menariknya ke ujung meja yang lain, ke sebelah Zaza, dan duduk di sana. Lalu dia mengambil americano itu.

“Makasih, Yan,” katanya. “Masih inget.”

“Kamu selalu americano.”

“Iya.” Evan meminumnya. “Tapi kamu nggak harus minum juga lagi. Aku tahu kamu benci americano.”

Ryan menatapnya. Evan menatap balik. Dua sahabat sejak umur lima belas, di ujung-ujung meja yang berbeda.

“Iya,” kata Ryan. “Sekarang aku tahu kamu tahu.”


Malam itu canggung. Aku tidak akan berpura-pura tidak canggung.

Tidak ada yang bicara soal malam itu. Tidak ada yang bicara soal aspal di Senopati, atau apotek Gilang, atau bekas luka. Kami bicara soal hal-hal biasa, dengan cara yang terlalu hati-hati, seperti orang-orang yang berjalan di lantai yang baru dipel. Klien Zaza yang akhirnya memilih tema pernikahan “luar angkasa tapi syar’i” dan menyewa kostum astronot berhijab untuk bridesmaid. Pak RT yang sakit perut setelah memakan vitamin yang Gilang tinggalkan di etalase. Mbak Sinta yang mengirim email ke seluruh tim dengan subjek “Momen Refleksi Kolektif Tentang Penggunaan Mesin Fotokopi”.

Kami tertawa. Tapi tawanya sedikit lebih pelan dari biasanya.

Ryan mengupas kacang rebus. Satu per satu. Dan aku melihat piring kecilnya bergeser pelan-pelan ke arah Gilang. Seperti biasa.

Gilang melihatnya. Dia berhenti bicara di tengah kalimat tentang Pak RT. Dia menatap piring kacang itu.

Lalu dia mendorongnya kembali ke arah Ryan.

“Makan sendiri, Yan,” katanya. Suaranya aneh. “Kamu yang kupas. Kamu yang makan.”

Ryan menatapnya. “Kamu malas ngupas.”

“Aku bisa belajar.” Gilang mengambil satu kacang dari mangkuk, yang belum dikupas, dan mulai mengupasnya dengan jari-jari yang canggung. Kulitnya pecah ke mana-mana. Satu potong terbang ke gelas air putih Zaza. “Lihat. Aku belajar.”

Zaza mengambil potongan kulit kacang dari gelasnya dengan wajah datar. “Kamu belajar bikin aku haus.”

Gilang tidak tertawa. Dia terus mengupas. Dengan sangat serius. Dengan mata yang mulai merah.

Lalu tagihan datang.

Ryan mengeluarkan dompet. Gerakan otomatis. Delapan tahun.

Dan Gilang menangkap pergelangan tangannya.

“Aku yang bayar,” katanya. “Aku sudah bilang di grup.”

“Lang—”

“Aku yang bayar, Yan.” Gilang mengeluarkan dompetnya sendiri, dompet kulit cokelat yang sudah lusuh, dan menyerahkan kartu ke pelayan tanpa melepas pergelangan tangan Ryan. “Tepat waktu. Hari ini. Bukan tanggal dua lima.”

Lalu dia diam.

Semua orang di meja itu diam. Karena kami semua tahu kalimat apa yang biasanya datang setelah ini. Kalimat yang sudah lima tahun kami tertawakan setiap Jumat malam.

Dia kan butuh latihan bayar tepat waktu. Orangnya telat lulus.

Gilang tidak mengatakannya.

Dia hanya melepas pergelangan tangan Ryan, pelan, dan menatap meja, dan bahunya bergetar sedikit.

Ryan menatapnya lama. Lalu dia mengulurkan tangan dan menepuk bahu Gilang. Sekali. Lalu tangannya tetap di sana.

“Makasih, Lang,” katanya.

Gilang mengangguk tanpa mengangkat kepala.

Zaza mengambil tisu dari dispenser di meja dan menaruhnya di depan Gilang. Evan menatap gelas americano-nya. Aku menatap tangan Ryan di bahu Gilang, dan aku harus menggigit pipi bagian dalam keras-keras supaya tidak menangis di kafe Kemang untuk kedua kalinya dalam sebulan.


Kami keluar pukul sepuluh kurang. Udara Kemang lembap, sisa hujan sore masih menempel di aspal.

Gilang pamit duluan, dengan motor bebek dan minyak kayu putih dan helm yang tidak dikancingkan. Sebelum pergi, dia menatapku dan Ryan yang berdiri bersebelahan di trotoar, dan mengangkat alis dua kali, cepat. Agen rahasia. Lalu dia memakai helm dan pergi.

Zaza berjalan ke mobilnya yang diparkir di depan kafe.

Evan mengikutinya.

Aku dan Ryan berdiri di trotoar, menunggu Si Lumut yang diparkir sepuluh meter ke kiri. Ryan di sisi jalan, seperti biasa. Aku tidak protes. Malam ini, aku membiarkannya.

Lalu kami mendengar suara Evan.

“Za.”

Zaza berhenti dengan tangan di pintu mobil.

“Kamu bilang nanti,” kata Evan. Suaranya tidak keras. Tapi trotoar Kemang malam itu sepi, dan setiap katanya terdengar jelas. “Di bar. Di rooftop. Kamu bilang nanti. Kalau aku udah jadi diriku sendiri.”

Zaza tidak menoleh.

“Kapan nanti, Za?”

Aku melirik Ryan. Dia menatap Evan dan Zaza dengan wajah datar. Tapi tangannya, di sisi tubuhnya, menyentuh punggung tanganku. Sangat ringan. Seperti tidak sengaja.

Dia tidak menariknya.

“Kalau kamu udah jujur,” kata Zaza. Dia masih memunggungi Evan. “Sama semua orang.”

“Aku udah jujur. Soal malam itu. Soal Ryan. Semua orang tahu sekarang.”

“Bukan cuma itu, Van.” Zaza akhirnya berbalik. Di bawah lampu jalan, wajahnya pucat dan tajam. “Kamu bilang ke Ryan di apotek malam itu. ‘Ada yang lain juga. Yang aku belum bilang.’ Aku dengar.”

Evan membeku.

“Aku nggak tahu isinya,” kata Zaza. “Aku nggak mau nebak. Tapi aku tahu ada. Aku tahu dari mukamu tiap kali bapakmu nelpon. Aku tahu dari mukamu tiap Minggu malam sehabis makan di Menteng. Aku tahu dari mukamu waktu Kenzo ulang tahun dan kamu nggak datang.” Suaranya bergetar. “Kamu belum jadi dirimu sendiri, Van. Masih ada yang kamu simpan.”

Evan tidak menjawab. Dia berdiri di trotoar dengan tangan mengepal di sisi tubuh, menatap Zaza.

“Kalau aku bilang,” katanya akhirnya, sangat pelan. “Kalau aku bilang semuanya. Kamu bakal...”

“Bakal apa?”

“Kamu bakal masih di sini?”

Zaza menatapnya lama. Lalu dia tertawa. Tawa yang pecah di tengah, seperti piring yang jatuh.

“Van,” katanya. “Enam tahun.”

Evan mengedip.

“Enam tahun aku nunggu kamu,” kata Zaza, dan sekarang dia tidak memunggungi apa pun. Dia berdiri tegak di depan Evan, di bawah lampu jalan Kemang, dengan mata merah dan dagu terangkat, seperti jenderal di depan peta perang. “Dari tahun pertama. Dari sebelum kepanitiaan. Dari sebelum Nadira. Aku nunggu waktu kamu telat ke kelas. Aku nunggu waktu kamu sibuk sama bapakmu. Aku nunggu waktu Nadira suka kamu dan aku harus mundur. Aku nunggu lima tahun sambil dengerin sahabatku cerita soal kamu tiap Jumat.”

Evan tidak bergerak.

“Aku bisa nunggu seminggu lagi,” kata Zaza. Suaranya pecah di ujung. “Aku jago nunggu, Van. Itu satu-satunya hal yang aku lebih jago dari ngatur resepsi.”

Dia membuka pintu mobil. Dia masuk. Dia menutup pintunya.

Mesin menyala. Mobil itu berjalan pergi, pelan, meninggalkan Evan berdiri sendirian di trotoar Kemang di bawah lampu jalan.


Evan berdiri di sana lama. Satu menit. Dua menit. Menatap ujung jalan tempat mobil Zaza menghilang.

Lalu dia berbalik.

Dia melihat kami. Aku dan Ryan, berdiri di trotoar sepuluh meter jauhnya, di samping Si Lumut. Tangan Ryan masih menyentuh punggung tanganku. Aku tidak sadar sejak kapan. Aku tidak melepaskannya.

Evan berjalan ke arah kami. Langkahnya tidak lagi seperti Evan yang bintang circle, yang membuat barista menegakkan punggung. Langkahnya seperti anak SMA kurus yang dulu berdiri di depan sahabatnya di belakang kantin, lututnya gemetar, berpura-pura berani.

Dia berhenti di depan kami.

“Yan,” katanya. “Nad.”

Kami menunggu.

“Besok,” kata Evan. “Di rumahmu, Yan. Jam sepuluh pagi. Kalian berdua.”

“Ada apa, Van?” tanyaku.

Evan menatapku. Lalu menatap Ryan. Matanya merah, tapi tidak basah. Kering. Seperti orang yang sudah selesai menangis jauh sebelum malam ini, dan sekarang hanya tinggal memutuskan.

“Ada yang harus aku ceritain,” katanya. “Soal malam itu. Soal mobilnya.”

Tangan Ryan, di punggung tanganku, berhenti.

“Mobilnya?” kata Ryan pelan.

“Yang nabrak kamu.” Evan menarik napas panjang. Dadanya naik, berhenti, turun. Seperti orang yang belajar menghitung napas dari sahabatnya sendiri. “Aku tahu siapa yang nyetir, Yan. Aku tahu dari awal.”

Lampu jalan di atas kepala kami berkedip. Terang. Gelap. Terang.

“Dan aku diam lima tahun,” kata Evan, “bukan cuma karena kamu yang minta.”