← Udah, Aku di Sini

Chapter Twenty Four

Bab 24 — Kamu Nggak Berhak

POV: Nadira


Aku bangun di kasur Zaza dengan gaun emas pucat yang sudah kusut dan berbau antiseptik.

Kamar Zaza ada di lantai tiga ruko di Cipete, di atas kantor WO-nya, di balik pintu yang selalu dikunci dengan tulisan PRIBADI — KLIEN DILARANG MASUK (KECUALI BAWA KUE). Kamarnya rapi dengan cara yang membuatmu takut menyentuh apa pun. Dinding putih. Rak buku yang disusun berdasarkan warna. Meja rias dengan deretan botol skincare yang berjejer seperti tentara. Dan di dinding di atas meja, satu-satunya hal yang tidak rapi: papan gabus penuh foto yang ditempel dengan paku payung warna-warni.

Foto-foto circle. Foto-foto keluarga Zaza. Dan di pojok kanan bawah, setengah tertutup foto lain, sebuah foto lama dari kamera digital empat megapiksel.

Evan. Sendirian. Tertidur di kursi plastik di sebuah koridor rumah sakit, kepala bersandar ke dinding, mulut sedikit terbuka.

Aku menatap foto itu lama.

Pintu kamar terbuka. Zaza masuk dengan nampan berisi teh manis dan roti bakar. Dia memakai kaos kebesaran dan celana training, rambutnya diikat asal-asalan, matanya bengkak sampai hampir tertutup.

Dia melihatku menatap papan gabus. Dia melihat foto yang kutatap.

Dia meletakkan nampan di meja rias, pelan, tanpa bunyi.

“Pagi,” katanya.

“Jam berapa ini?”

“Jam sebelas.”

Aku tidak menjawab. Aku menatapnya. Zaza, sahabatku, yang kukenal delapan tahun, yang menendang kakiku di bawah meja dan memilihkan gaun untukku dan merapikan rambutku seperti merapikan rambut pengantin.

Zaza yang menghapus foto 21:24 dengan tangan gemetar.

Zaza yang membalas aku tahu dalam tiga detik.

Zaza yang ada di album foto Bu Ratna, setiap hari, menyuapi Ryan bubur.

“Kamu tahu,” kataku.

Zaza duduk di ujung kasur. Jauh dariku. Seolah dia tidak yakin dia boleh lebih dekat.

“Iya,” katanya.

“Dari kapan?”

“Dari malam itu.” Dia menatap tangannya. “Aku yang nemuin dia, Nad. Di seberang jalan. Di dekat got. Kakinya...” Dia berhenti. Menelan. “Aku yang telepon ambulans buat dia. Aku yang mangku kepalanya sampai ambulans datang. Dan sebelum dia pingsan, dia pegang tanganku dan minta aku janji. Jangan bilang kamu.”

“Dan kamu janji.”

“Aku janji.”

“Lima tahun.”

“Lima tahun.”

Aku menatap langit-langit kamar Zaza. Putih. Bersih. Tidak ada noda bocor, tidak ada cat yang mengelupas di pojok.

“Kamu dengerin aku cerita soal Evan,” kataku. “Lima tahun. Tiap Jumat. Tiap telepon malam. ‘Evan nyelamatin aku.’ ‘Evan rendah hati.’ Kamu dengerin semuanya. Dan kamu tahu.”

“Iya.”

“Kamu bilang ke aku dia sibuk skripsi. Waktu aku nanya kenapa kamu jarang jenguk aku. Kamu bilang sibuk skripsi.”

“Aku di rumah sakit lain.”

“Tiap hari.”

“Tiap hari.”

Aku duduk. Kepalaku pusing. Gaun emas pucat itu berderak di kulitku, kaku oleh antiseptik dan aspal yang kering. Aku menatap Zaza di ujung kasur, dan aku ingin marah, aku ingin berteriak, aku ingin melempar nampan teh dan roti bakar itu ke dinding putih yang bersih, tapi waktu aku membuka mulut, yang keluar adalah sesuatu yang lain.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”

Zaza mengangkat kepala.

“Bukan soal Ryan,” kataku. “Itu,” dan aku menunjuk papan gabus. Foto Evan tertidur di koridor rumah sakit. “Itu, Za. Kenapa kamu nggak pernah bilang?”


Zaza menatap foto itu. Lama.

Lalu dia tertawa. Tawa yang pecah di tengah, seperti piring yang jatuh.

“Kamu tahu?” katanya.

“Aku baru tahu. Barusan. Kamu pajang di dinding.”

“Aku nggak pernah ngajak siapa-siapa masuk kamar ini.”

“Kamu ngajak aku tadi malam.”

“Kamu nangis, Nad. Aku nggak mikir.”

Dia menutup wajah dengan dua tangan. Bahunya bergetar. Dan aku melihatnya, sahabatku, Zafrina Alatas, yang bisa merencanakan resepsi untuk seribu tamu dalam tiga minggu, yang memarahi vendor dan mengancam Gilang dan tidak pernah menangis di depan siapa pun, menangis di ujung kasurnya sendiri dengan kaos kebesaran dan rambut yang diikat karet gelang.

“Enam tahun,” katanya ke telapak tangannya. “Dari tahun pertama. Dari sebelum kita satu kepanitiaan. Dari sebelum kamu.”

“Za...”

“Terus malam itu terjadi. Dan kamu bangun di rumah sakit dan lihat jaket merahnya dan kamu jatuh cinta sama dia. Dan kamu hampir mati, Nad. Kamu hampir mati, dan kamu ketakutan, dan kamu butuh sesuatu buat dipegang. Jadi aku mundur.” Dia menurunkan tangannya. Wajahnya basah. “Aku pikir itu yang harus dilakuin sahabat.”

Aku tidak bisa bicara.

“Dan aku nyimpen rahasia Ryan,” lanjutnya, “dan aku nyimpen rahasiaku sendiri, dan lima tahun aku duduk di sebelah kamu dengerin kamu cerita soal laki-laki yang aku suka dan yang nggak pernah nyelamatin kamu, sambil tahu bahwa laki-laki yang beneran nyelamatin kamu duduk di ujung meja ngupasin kacang buat Gilang.” Dia tertawa lagi, pahit. “Kadang aku pikir aku orang paling bodoh di Jakarta.”

“Kamu nggak bodoh.”

“Aku bodoh, Nad. Aku nyimpen dua rahasia buat dua orang yang aku sayang, dan dua-duanya bikin kamu sayang sama orang yang salah.”

Aku menatapnya. Dan sesuatu di dadaku, sesuatu yang sejak tadi malam terasa seperti dibelah dua, terbelah lagi.

Aku tidak bisa marah pada Zaza. Aku mencoba. Aku tidak bisa.

Aku merangkak di kasur, melewati selimut yang kusut, sampai ke ujung, dan aku memeluknya. Kami berdua menangis. Lama. Di kamar putih yang bersih, dengan teh manis yang mulai dingin di nampan dan foto Evan yang tertidur di koridor rumah sakit menatap kami dari papan gabus.

“Maaf,” bisik Zaza ke bahuku. “Maaf, Nad.”

“Aku tahu.”

“Kamu marah?”

“Iya.” Aku menghapus mataku dengan punggung tangan. “Tapi bukan ke kamu.”


Aku pulang ke kos pukul tiga sore.

Zaza mengantarku. Dia membawakan tasku dari rooftop, dengan ponsel dan dompet dan lipstik dan naskah lipat yang sekarang sudah basah dan lusuh. Aku tidak membuka ponselku sepanjang jalan. Aku tahu ada pesan dari Ryan. Zaza bilang ada. Tujuh. Aku tidak siap membacanya.

Di kos, aku mandi selama satu jam. Aku menggosok kulitku sampai merah. Aku menggosok rambutku sampai bau antiseptik dan aspal hilang. Aku melepas gaun emas pucat itu dan menaruhnya di keranjang cucian, lalu mengeluarkannya lagi, lalu melipatnya dan menaruhnya di dasar lemari.

Lalu aku membuka ponsel.

Tujuh pesan dari Ryan.

Nad.

Nad kamu di mana.

Kamu luka?

Maaf.

Maaf.

Maaf, Nad.

Aku di sini.

Aku membaca pesan terakhir itu. Tiga kata. Aku membacanya sepuluh kali. Dua puluh kali.

Lalu aku membalas.

Aku: Datang. Kos. Jam tujuh.

Dia membalas dalam lima detik.

Ryan: Iya.


Dia datang pukul 18.52. Delapan menit lebih awal. Tentu saja.

Aku menunggunya di atap jemuran.

Lampu tumbler masih tergantung di tali jemuran, di antara daster Bu Kos dan seprai milik penghuni kamar empat. Aku tidak pernah mencabutnya sejak malam gladi resik. Aku menyalakannya. Kuning hangat, kecil-kecil, berkelip di senja yang mulai gelap.

Aku mendengar langkahnya di tangga besi. Pelan. Hati-hati. Satu langkah cepat, satu langkah lambat. Tap. Taaap. Tap. Taaap. Kaki kiri yang pasti sakit sekali hari ini, setelah semalam berlari di Senopati dan jatuh di aspal.

Dia sampai di atas. Dia berhenti di ujung tangga.

Kaos hitam leher bulat. Celana panjang abu-abu. Plester di pipi, sekarang plester biasa warna kulit, bukan tyrannosaurus. Bahu kanan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya, karena ada perban di bawahnya. Dia berdiri miring ke kanan, lebih miring dari biasanya.

Dia melihat lampu tumbler. Dia melihat aku, berdiri di tengah atap jemuran, di tempat yang sama di mana dia berdiri pura-pura jadi Evan tiga minggu lalu.

Dia tidak mendekat.

“Nad,” katanya.

Aku menatapnya.

Aku sudah menyusun kalimat sejak jam tiga sore. Di kamar mandi, di bawah air panas. Di kasur, menatap langit-langit. Aku menyusun kalimat seperti menyusun naskah iklan, dengan jeda tiga detik untuk efek dramatis dan catatan teknis di kolom samping.

Semuanya hilang.

“Kamu,” kataku. Suaraku bergetar. “Kamu nggak berhak.”

Ryan diam.

“Kamu nggak berhak, Yan.”

“Aku tahu.”

“Nggak. Kamu nggak tahu.” Aku melangkah maju. Satu langkah. “Kamu biarin aku sayang orang yang salah. Lima tahun. Kamu biarin aku bangun tiap pagi dan mikirin Evan. Kamu biarin aku nangis di depan Zaza soal Evan. Kamu biarin aku dandan dari jam lima sore buat ketemu Evan, terus dibatalin, terus nangis di mobilmu. Di mobilmu, Yan. Kamu ngasih aku tisu.”

“Nad—”

“Kamu ngasih aku tisu,” ulangku, dan sekarang aku menangis, dan aku tidak peduli, “sambil aku nangisin laki-laki yang nggak pernah nyelamatin aku, dan kamu duduk di situ, di sebelahku, dengan punggungmu, dengan kakimu, dan kamu ngasih aku tisu.”

Ryan menutup mata.

“Kamu putusin sendiri,” kataku. “Kamu putusin sendiri apa yang boleh aku rasain. Kamu putusin aku nggak boleh tahu. Kamu putusin aku bakal ngerasa berutang. Kamu putusin aku bakal kasihan. Kamu putusin semuanya, Yan, sendirian, di rumah sakit, dan kamu nggak pernah nanya aku. Nggak sekali pun.”

“Kamu waktu itu nggak sadar—”

“Lima tahun! Aku sadar lima tahun! Kamu punya lima tahun buat nanya aku!”

Suaraku menggema di atap jemuran. Di bawah, aku mendengar televisi tetangga dimatikan. Seseorang membuka jendela.

Ryan membuka matanya.

“Kalau aku bilang,” katanya pelan, “kamu bakal ngerasa berutang.”

“Mungkin!”

“Kamu bakal lihat aku pincang dan ngerasa bersalah. Tiap hari.”

“Mungkin!” Aku melangkah lagi. Sekarang kami hanya berjarak satu langkah. “Mungkin aku bakal ngerasa berutang, Yan! Mungkin aku bakal ngerasa bersalah! Mungkin aku bakal nangis tiap kali lihat kamu naik tangga! Tapi itu punyaku! Perasaan itu punyaku! Aku yang berhak ngerasain itu, bukan kamu yang berhak ngambilnya dari aku!”

Ryan menatapku. Wajahnya tidak datar. Wajahnya seperti tadi malam di apotek Gilang. Telanjang.

“Aku cuma nggak mau kamu sakit,” katanya. Suaranya pecah.

“Aku sakit sekarang!” Aku memukul dadanya. Pelan. Dengan kepalan tangan yang tidak punya tenaga. “Aku sakit sekarang, Yan. Lebih sakit dari kalau kamu bilang lima tahun lalu. Karena sekarang aku nggak cuma tahu kamu nyelamatin aku. Sekarang aku tahu kamu nyimpen itu sendirian lima tahun. Sekarang aku tahu kamu wisuda pakai tongkat dan aku nggak datang. Sekarang aku tahu kamu nggak bisa lari lagi dan aku nggak pernah nanya. Sekarang aku tahu Evan ngerasa kayak maling tiap aku senyum ke dia. Sekarang aku tahu Zaza mundur dari laki-laki yang dia suka karena aku. Sekarang aku tahu Gilang ketawain kakimu lima tahun dan dia nangis semalaman di lantai apoteknya.”

Aku memukul dadanya lagi. Lebih pelan.

“Kamu bikin semua orang bohong buat aku, Yan. Semua orang. Kamu, Evan, Zaza. Lima tahun. Buat ngelindungin aku. Dan aku nggak pernah minta dilindungin.”

Tanganku berhenti di dadanya. Di atas kaos hitam leher bulat. Aku bisa merasakan jantungnya, di bawah telapak tanganku. Cepat. Sangat cepat. Tidak dalam hitungan sama sekali.

Ryan tidak bergerak. Dia tidak menyingkirkan tanganku. Dia hanya berdiri di sana, di bawah lampu tumbler, dan menatapku dengan mata yang merah dan basah, dan dia tidak bilang apa-apa.

“Aku mau kamu pulang,” kataku.

Dia mengedip.

“Aku mau kamu pulang, Yan.” Aku menarik tanganku dari dadanya. “Aku nggak tahu apa yang aku rasain sekarang. Aku nggak tahu ini marah atau sedih atau bersalah atau... atau yang lain. Aku nggak tahu. Dan aku butuh waktu buat tahu. Sendiri. Tanpa kamu berdiri di sisi jalan buat aku.”

Ryan menatapku lama.

Lalu dia mengangguk.

“Oke,” katanya.

Dia berbalik. Dia berjalan ke tangga besi. Dia mulai turun, pelan, hati-hati, satu langkah cepat, satu langkah lambat.

Di tengah tangga, dia berhenti.

“Nad,” katanya, tanpa menoleh.

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak nyesel,” katanya. “Malam itu. Aku nggak nyesel lari. Aku cuma nyesel... sesudahnya.”

Dia turun. Aku mendengar langkahnya di tangga, lalu di koridor lantai dua, lalu di tangga lantai satu, lalu pintu depan kos. Lalu suara mesin Si Lumut, batuk sekali, menyala. Lalu menjauh.

Dia tidak menunggu lima belas menit di dalam mobil yang gelap.


Di atap jemuran, gerimis mulai turun.

Aku tidak bergerak. Aku berdiri di bawah lampu tumbler yang berkelip, di antara daster dan seprai yang mulai basah, dan membiarkan gerimis membasahi rambutku yang baru dicuci.

Lalu aku melihatnya.

Di ujung tangga besi, bersandar ke pagar, ada sesuatu yang tadi tidak ada di sana. Hitam. Panjang. Dengan gagang kayu.

Payung.

Payung hitam besar, payung lama yang dulu milik ayahnya, yang Bu Ratna simpan bertahun-tahun dan akhirnya diberikan pada Ryan waktu dia mulai kerja. Payung yang dia pakai di Senopati, tiga minggu lalu, waktu dia menyeberangkanku di bawah hujan dan bilang udah— lalu berhenti.

Dia meninggalkannya. Di sana. Sebelum naik ke atap. Mungkin karena dia tahu akan hujan. Mungkin karena kaki kirinya sudah memberitahunya sejak sore.

Mungkin karena dia selalu meninggalkan sesuatu untukku, di tempat yang bisa kutemukan, tanpa bilang apa-apa.

Aku berjalan ke ujung tangga. Aku mengambil payung itu. Gagang kayunya halus, licin oleh tangan yang memegangnya bertahun-tahun. Bapaknya. Lalu dia.

Aku membukanya.

Payung itu lebar. Cukup untuk dua orang, tapi hanya kalau dua orang itu berdiri sangat dekat.

Aku berdiri di bawahnya sendirian.


Malam itu, ponselku bergetar sekali.

Bukan Ryan. Gilang.

Pesan pribadi. Panjang. Tanpa emoji. Tanpa jurnal. Tanpa vitamin.

Gilang: Nad. Aku hapus grup Panitia HUT Evan.

Gilang: Aku juga hapus spreadsheet keterlambatan Evan.

Gilang: Aku nggak tahu kenapa aku ngelakuin itu. Aku cuma ngerasa harus ngelakuin sesuatu.

Gilang: Aku yang paling sering bilang telat lulus. Kamu tahu kan. Dari awal. Aku yang mulai. Waktu dia wisuda, aku yang bilang ke kalian “akhirnya si telat lulus lulus juga”. Kalian ketawa. Dia ketawa juga. Dia bilang iya iya.

Gilang: Lima tahun, Nad. Aku ketawain kakinya lima tahun. Dan dia bayarin makanku. Dan dia ngupasin kacangku. Dan dia nyelimutin aku pakai handuk tadi malam waktu aku ketiduran di lantai.

Gilang: Aku nggak bakal bilang telat lulus lagi.

Gilang: Nggak akan pernah.

Aku menatap pesan-pesan itu.

Telat lulus.

Dua kata yang selama lima tahun kudengar setiap Jumat malam di kafe Kemang, dan selama lima tahun membuatku tertawa. Lelucon lama. Lelucon kami. Ryan yang wisudanya cuma dihadiri ibunya dan Gilang.

Ryan yang wisuda dengan satu tongkat, setahun setelah kami, karena empat bulan di rumah sakit belajar jalan lagi. Karena tubuhnya berputar di tengah jalan di malam hujan dan memunggungi mobil yang mengejarku.

Telat lulus.

Aku menutup ponsel. Aku menaruhnya di dada. Aku berbaring di kasur kos dengan payung gagang kayu di sebelahku, terlipat, masih sedikit basah, dan aku menatap langit-langit yang catnya mengelupas di pojok.

Di luar, gerimis sudah jadi hujan.

Lampu jalan di depan kos berkedip-kedip lemah. Terang. Gelap. Terang.

Aku tidak takut lagi.

Tapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan hatiku.