← Udah, Aku di Sini

Chapter Eighteen

Bab 18 — Lulus

POV: Nadira


“Pemanasan,” kata Gilang di grup, hari Senin, “adalah fase krusial sebelum aktivitas berat. Atlet pemanasan sebelum lomba. Penyanyi pemanasan sebelum konser. Kita pemanasan sebelum pesta.”

Gilang mengirim dokumen: ITINERARY_PEMANASAN_HUT_EVAN_FINAL_v3.pdf

Aku membukanya. Empat halaman. Villa di Puncak, Sabtu-Minggu, satu minggu sebelum pesta rooftop. Jadwalnya disusun per jam, dengan kolom “kegiatan”, “penanggung jawab”, dan “catatan kesehatan”. Pukul 06.00 Minggu: Pengecekan tensi pagi (wajib, semua peserta). Pukul 20.00 Sabtu: Sesi refleksi diri dan apresiasi persahabatan (durasi: 45 menit, bawa tisu).

Zaza: Lang kamu bikin itinerary kayak retret kantor

Gilang: Retret kantor nggak ada pengecekan tensi

Zaza: Justru itu masalahnya

Evan: Aku ikut. Siapa yang nyetir?

Gilang: Mobilmu kan paling gede, Van. Kamu nyetir.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu, dengan jantung yang tiba-tiba berdebar keras sekali, aku mengetik:

Aku: Aku yang nyetir.

Grup itu diam. Lama. Satu menit. Dua menit.

Evan: Hah?

Gilang: 👀

Zaza: ❤️

Ryan tidak membalas. Tapi aku melihat centang biru di bawah namanya, dan entah kenapa aku membayangkan dia di meja kantornya di Kuningan, dengan peta zonasi di dua monitor dan kopi tubruk dengan gula aren dari termosku di sebelah keyboard, menatap ponselnya dengan sudut bibir yang bergerak dua milimeter.


Sabtu pukul tujuh pagi, SUV putih Evan berhenti di depan kosku.

Evan yang menyetirnya dari apartemennya, karena itu mobilnya dan dia tidak akan menyerahkannya padaku di Kuningan, katanya, “Karena Kuningan macet dan aku mau kamu mulai di jalan yang lurus.” Gilang sudah duduk di jok belakang, dengan kotak P3K oranye di pangkuan dan bantal leher berbentuk donat. Zaza di sebelahnya, memakai kacamata hitam besar dan topi jerami, seperti istri pejabat yang mau liburan.

Ryan berdiri di trotoar, di samping mobil, dengan tas ransel di bahu. Dia datang naik ojol. Dia tidak membawa Si Lumut.

Evan keluar dari kursi pengemudi. Dia berdiri di depanku, di trotoar, dan menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Kamu serius, Nad?”

“Serius.”

“Kamu nyetir. Ke Puncak. Lewat tol Jagorawi. Terus jalan Puncak yang berkelok-kelok.”

“Iya.”

“Kamu yang lima tahun nggak mau duduk di depan kalau naik taksi online.”

“Iya, Van.” Aku tersenyum. Aku sudah membayangkan saat ini sejak malam aku menelepon Ryan pertama kali. Aku sudah membayangkan wajah Evan waktu dia melihatku menyetir, dan aku sudah membayangkan diriku bilang lihat, aku udah sembuh, makasih ya. “Kejutan.”

Evan tidak tersenyum.

Dia menatapku. Lalu, pelan, matanya bergeser. Melewati bahuku. Ke trotoar di belakangku. Ke Ryan, yang berdiri dengan tangan di saku dan wajah datar.

“Siapa yang ngajarin?” tanya Evan.

Pertanyaannya ditujukan padaku. Tapi matanya masih pada Ryan.

“Ryan,” kataku. “Dua bulan. Tiap Sabtu jam enam pagi.”

Evan diam.

Aku menunggu. Aku menunggu dia tersenyum, menunggu dia bilang wah, hebat, Nad, menunggu sesuatu yang hangat. Tapi Evan hanya berdiri di trotoar dan menatap Ryan, lama, dengan ekspresi yang sama seperti waktu dia memotong kue pertama untuk Ryan di warung pecel lele. Ekspresi orang yang membayar sesuatu.

Lalu matanya merah. Tiba-tiba. Merah dan basah, dan dia menunduk, dan mengusap mata dengan jari, cepat, seperti ada debu.

“Van?”

“Nggak apa-apa.” Suaranya serak. Dia tertawa, pendek, tapi tawanya pecah di tengah. “Nggak apa-apa. Aku cuma... seneng. Kamu bisa nyetir lagi. Itu... itu bagus, Nad. Itu bagus banget.”

Dia menyerahkan kunci mobil padaku. Tangannya sedikit gemetar.

Lalu dia berjalan ke arah Ryan. Dia berdiri di depan Ryan di trotoar, dan mereka saling menatap. Dua sahabat sejak umur lima belas. Evan lebih tinggi sedikit, bahunya lebih lebar. Ryan berdiri miring ke kanan, seperti biasa.

Evan menepuk bahu Ryan. Sekali. Lalu tangannya tetap di sana, mencengkeram, lama.

Mereka tidak bicara. Tapi aku melihat Ryan menunduk sedikit, dan aku melihat rahang Evan mengeras, dan aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka, tapi rasanya seperti menonton dua orang yang sedang membaca surat yang tidak bisa dibaca orang lain.

“Kalian ngapain, sih?” teriak Gilang dari jok belakang. “Ayo! Kita udah telat tujuh menit dari itinerary!”

Evan melepas bahu Ryan. Dia naik ke jok belakang, di sebelah Zaza. Zaza menatapnya dari balik kacamata hitam, lalu, diam-diam, tanpa bicara, menaruh sebungkus tisu di pangkuannya.

Ryan naik ke kursi penumpang di depan. Di sebelahku.

Aku duduk di balik kemudi SUV Evan. Jauh lebih tinggi dari Si Lumut. Jauh lebih besar. Setirnya dibungkus kulit asli yang masih halus, belum mengelupas di jam sepuluh dan jam dua.

Tanganku berkeringat.

“Napas,” kata Ryan pelan. Hanya aku yang mendengar.

Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.

Aku menyalakan mesin. Di belakang, Gilang bertepuk tangan. Zaza bilang “Semangat, Nad“ dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. Evan tidak bilang apa-apa.

Aku jalan.


Tol Jagorawi pagi hari Sabtu lebih ramai dari JORR, tapi aku sudah tidak takut pada tol. Aku menyetir di lajur kiri dengan kecepatan delapan puluh, dan sesekali menyalip truk dengan lampu sein yang dinyalakan tiga detik sebelumnya, seperti yang diajarkan Ryan.

Di belakang, Gilang memutar playlist berjudul LAGU JALAN-JALAN SEHAT (BPM OPTIMAL UNTUK DETAK JANTUNG STABIL), yang ternyata isinya lagu-lagu dangdut koplo. Zaza memprotes. Gilang bilang dangdut koplo punya BPM yang paling cocok dengan detak jantung manusia saat santai. Zaza bilang itu bohong. Gilang bilang dia punya jurnal. Zaza mengancam akan melempar kotak P3K ke luar jendela.

Evan tertawa. Untuk pertama kalinya pagi itu, dia tertawa dengan sungguh-sungguh. Dan aku melihat di spion tengah, dia tertawa sambil menatap Zaza, bukan menatap Gilang yang sedang berdebat.

Aku tidak memikirkannya. Aku sedang menyetir.

Jalan Puncak, setelah keluar tol, adalah ujian sebenarnya. Berkelok-kelok, naik turun, dengan angkot yang berhenti mendadak di mana saja dan motor yang menyalip dari kiri dan kanan. Aku menyetir pelan. Ryan memberi instruksi dengan suara rendah: gigi dua di tanjakan ini, tahan, angkotnya mau berhenti, jangan nyalip di tikungan. Sisanya diam.

Di tanjakan Gunung Mas, ada truk sayur yang berhenti di tengah jalan. Aku mengerem. Tanjakannya curam. SUV Evan matic, tidak ada kopling, tapi aku tetap panik, karena di belakangku ada barisan mobil dan di depanku truk yang tidak bergerak.

“Rem tangan,” kata Ryan.

Aku menarik rem tangan.

“Bagus. Tunggu.”

Aku menunggu. Truk sayur akhirnya bergerak. Aku melepas rem tangan, menginjak gas pelan, dan SUV itu naik tanjakan dengan mulus.

Di belakang, Gilang bertepuk tangan lagi. “Itu namanya hill start! Itu teknik advanced! Aku saja nggak bisa!”

“Kamu nggak bisa nyetir, Lang,” kata Zaza.

“Itu sebabnya aku menghargai orang yang bisa!”

Aku tersenyum ke jalan. Aku melirik Ryan. Dia menatap ke depan, tapi tangannya, yang tadinya mengepal di atas lutut sejak kami keluar tol, sekarang terbuka. Rileks.


Villa yang disewa Gilang ternyata villa milik kenalan ibunya, di lereng bukit dengan pemandangan kebun teh, dengan kolam renang kecil yang airnya sangat dingin karena udara Puncak, dan teras kayu yang menghadap lembah.

Itinerary Gilang hancur dalam satu jam pertama.

Pukul 11.00, menurut jadwal: Makan siang sehat (sup sayur, ikan kukus, nasi merah). Kenyataan: Evan dan Zaza pergi ke warung sate maranggi di bawah bukit dan kembali dengan lima puluh tusuk sate dan nasi uduk.

Pukul 14.00: Jalan santai di kebun teh (durasi 60 menit, kecepatan sedang, jaga hidrasi). Kenyataan: Gilang tersesat di kebun teh selama satu setengah jam karena mengikuti seekor kucing yang menurutnya “mirip Pak RT”, dan kami harus mencarinya dengan senter ponsel.

Pukul 16.00: Berenang ringan (pemanasan wajib 10 menit). Kenyataan: Gilang, yang baru ditemukan dalam keadaan berkeringat dan malu, mendorong Evan ke kolam tanpa pemanasan. Evan menarik Zaza. Zaza berteriak dan menarik Gilang. Aku tertawa sampai perutku sakit, lalu Zaza menarik kakiku dari dalam kolam dan aku jatuh juga, dengan baju lengkap, ke air yang dinginnya seperti es batu cair.

Ryan berdiri di tepi kolam, di teras kayu, dengan tangan di saku.

“Yan!” teriak Gilang dari dalam air, giginya bergemeletuk. “Masuk!”

“Nggak.”

“Masuk! Ini wajib! Ini bonding!”

“Aku bonding dari sini.”

Gilang berenang ke tepi, keluar dari kolam, basah kuyup, dan berlari ke arah Ryan dengan tangan terbuka. Ryan mundur satu langkah. Gilang memeluknya dari depan, seluruh tubuhnya yang basah dan dingin menempel ke kaos abu-abu Ryan.

“Lang.“

“Sekarang kamu basah. Sekalian masuk.”

Ryan menatap kaosnya yang basah di bagian depan. Lalu dia menatap kami di kolam. Lalu, tanpa melepas kaos, tanpa melepas apa pun selain sandal, dia berjalan ke tepi kolam dan masuk. Pelan. Dari tangga, bukan melompat. Kaki kanan dulu. Kaki kiri menyusul, hati-hati.

Dia berenang dengan kaos masih di badan. Kaos abu-abu yang menempel di punggungnya, gelap karena basah.

Aku memperhatikan. Evan dan Gilang dan Zaza berenang dengan baju juga, karena mereka didorong. Tapi Evan sudah melepas kaosnya dan melemparnya ke tepi kolam. Gilang juga, dengan bangga memamerkan perut yang menurutnya “proporsional secara medis”. Ryan tidak.

Ryan berenang dengan kaos sampai keluar dari kolam. Lalu dia langsung masuk ke dalam villa, dan keluar sepuluh menit kemudian dengan kaos kering yang lain. Kaos hitam. Leher bulat. Tertutup sampai tengkuk.

Delapan tahun. Aku tidak ingat pernah melihat Ryan tanpa baju. Di pantai Pangandaran waktu kuliah, dia memakai kaos. Di kolam renang hotel waktu acara kantor Evan, dia tidak ikut berenang. Aku tidak pernah memikirkannya. Aku pikir dia cuma pemalu.

Punggungnya juga dijahit, kata Gilang di malam Kijang mogok. Dua puluh tiga jahitan, kata Bu Ratna.

Aku duduk di tepi kolam dengan handuk di bahu, menatap pintu villa yang baru saja ditutup Ryan, dan merasa sesuatu yang dingin turun dari dada ke perut, lebih dingin dari air kolam.


Sesi refleksi diri dan apresiasi persahabatan, pukul 20.00, ternyata adalah satu-satunya bagian itinerary Gilang yang benar-benar terjadi.

Kami duduk di teras kayu, membungkus diri dengan selimut villa yang bau kapur barus, di depan api unggun kecil yang Evan nyalakan di tungku batu. Gilang membagikan kertas kecil dan pulpen. “Tulis satu hal yang kalian syukuri dari masing-masing orang di circle ini,” katanya, dengan nada guru BK. “Anonim. Nanti aku baca.”

Kami menulis. Gilang mengumpulkan kertas-kertas itu di topi jerami Zaza, mengocoknya, dan mulai membaca.

“Untuk Gilang,” bacanya. “Makasih udah selalu bawa P3K. Walaupun lebay. Tapi waktu aku jatuh dari tangga kantor bulan lalu, plester dinosaurusmu satu-satunya yang aku punya.“ Gilang berhenti. “Siapa yang jatuh dari tangga kantor?”

“Anonim, Lang,” kata Zaza.

“Itu tulisanmu. Huruf g-mu kayak cacing.”

“Baca yang lain.”

Gilang membaca yang lain. Untuk Zaza: makasih udah galak, soalnya kalau nggak ada kamu, Gilang bakal nguasain dunia. Kami semua menatap Evan, dan Evan menatap api unggun dengan senyum kecil. Untuk Evan: makasih udah selalu jadi orang yang bikin ruangan terang. Itu tulisanku. Aku menunduk.

Untuk Nadira: makasih udah berani nyetir lagi. Kamu nggak tahu seberapa berarti itu. Tulisan Evan. Aku mengenali huruf-hurufnya yang miring ke kiri. Aku menatapnya, dan dia menatap api unggun, dan matanya merah lagi.

Lalu Gilang membuka kertas terakhir. Dia membacanya dalam hati dulu. Lalu dia diam.

“Lang?” tanya Zaza.

“Ini untuk Ryan,” kata Gilang pelan. Dia membacanya keras-keras, dengan suara yang tiba-tiba tidak seperti Gilang sama sekali. “Makasih udah selalu berdiri di sisi jalan.“

Api unggun berderak. Di bawah lembah, lampu-lampu kecil rumah penduduk berkelip di antara kebun teh.

Itu tulisanku.

Aku tidak tahu kenapa aku menulisnya. Aku memegang pulpen dan kertas kecil itu, dan aku memikirkan semua hal yang Ryan lakukan selama delapan tahun, dan semuanya terlalu banyak untuk ditulis di kertas sekecil itu, dan akhirnya tanganku menulis satu kalimat itu sendiri.

Tidak ada yang bicara. Gilang menatap kertas itu dengan dahi berkerut, seperti orang yang mencoba memahami resep yang ditulis dengan tulisan tangan dokter. Zaza menatapku, lalu menatap Ryan. Evan menatap api unggun dan tidak bergerak sama sekali.

Ryan, di ujung teras, dengan selimut di bahu dan kaos hitam leher bulat, menatap lembah.

“Sisi jalan?” kata Gilang akhirnya. “Maksudnya apa?”

“Anonim, Lang,” kata Ryan pelan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada yang tertawa.


Minggu siang, perjalanan pulang, Puncak macet.

Macet total. Satu jalur, buka-tutup, dengan antrean mobil yang tidak bergerak selama lima belas menit, lalu bergerak sepuluh meter, lalu berhenti lagi selama lima belas menit. Matahari siang menembus kaca depan. AC SUV Evan bekerja keras.

Di jok belakang, semua orang tidur. Gilang dengan bantal leher donatnya, mulut terbuka, mendengkur pelan. Zaza bersandar ke jendela, kacamata hitamnya miring.

Evan di tengah.

Dan di suatu titik, di antara Gunung Mas dan Cisarua, kepala Zaza jatuh dari jendela dan mendarat di bahu Evan.

Aku melihatnya di spion tengah. Evan tidak tidur. Matanya terbuka. Dia menatap kepala Zaza di bahunya, lama, dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajah Evan. Lalu, pelan sekali, dia memindahkan badannya sedikit, supaya bahunya lebih rendah, supaya leher Zaza tidak tertekuk.

Lalu dia menutup mata.

Aku menatap spion lama. Mobil di depanku maju sepuluh meter. Aku ikut maju sepuluh meter.

Di sebelahku, Ryan juga tertidur.

Dia bertahan lama. Dia memberi instruksi sampai tol Jagorawi masih terlalu jauh, sampai macet terlalu panjang untuk diinstruksikan. Lalu kepalanya mulai turun, pelan-pelan, terangguk-angguk, seperti orang yang sedang berusaha keras untuk tidak tidur dan kalah.

Lalu, waktu kami berhenti lagi di antrean buka-tutup, kepalanya jatuh ke samping.

Ke bahuku.

Aku membeku.

Kepalanya berat. Hangat. Rambutnya menggesek leherku, sedikit kasar, bau sampo yang sama dengan bau Si Lumut. Napasnya teratur, dalam, pelan, menyentuh tulang selangkaku setiap kali dia menghembuskannya.

Empat. Empat. Enam. Bahkan dalam tidur, dia bernapas dalam hitungan.

Aku tidak bergerak. Aku tidak berani bergerak. Mobil di depan maju sepuluh meter, dan aku harus mengikutinya, dan aku melakukannya dengan sangat pelan, sangat hati-hati, satu tangan di setir dan satu tangan di tuas transmisi, supaya kepalanya tidak jatuh dari bahuku.

Mobil berhenti lagi.

Aku menunduk sedikit, menatap kepalanya di bahuku. Bulu matanya panjang. Aku tidak pernah sadar bulu mata Ryan panjang. Ada bekas luka kecil di alis kirinya, sangat kecil, yang juga tidak pernah kusadari. Bibirnya sedikit terbuka. Wajahnya, waktu tidur, tidak datar. Wajahnya lelah, dan muda, dan sangat, sangat tenang.

Lalu aku melihatnya.

Kaos hitam leher bulat itu bergeser karena posisi kepalanya yang miring. Kerah belakangnya tertarik sedikit ke bawah, memperlihatkan tengkuknya, dan sedikit di bawah tengkuk, di bagian atas punggung, di dekat tulang belikat kanan—

Garis.

Pucat. Lebih terang dari kulit di sekitarnya. Sedikit menonjol, mengilap di bawah cahaya matahari yang masuk lewat kaca. Hanya ujungnya yang terlihat, dua atau tiga senti, sebelum menghilang di balik kain kaos hitam. Tapi aku bisa melihat arahnya. Miring. Turun. Ke bawah, ke arah pinggang di sisi yang lain.

Garis yang panjang. Sangat panjang.

Aku tidak bisa berhenti menatapnya.

Dua puluh tiga jahitan.

Mobil di belakangku membunyikan klakson. Antrean di depan sudah maju dua puluh meter. Aku tersentak, dan dengan hati-hati, sangat hati-hati, aku maju, dan kepala Ryan bergoyang sedikit di bahuku tapi tidak jatuh.

Aku menatap jalan. Aku menatap jalan dengan intensitas seorang pilot pesawat tempur, dan mataku perih, dan aku tidak tahu kenapa.

Punggungnya. Mobil yang kabur. Dia sedang jalan kaki pulang, kata Bu Ratna. Mobil itu menabraknya dari belakang. Masuk akal. Itu masuk akal. Itu sebabnya lukanya di punggung.

Itu masuk akal.

Tapi di bagian belakang kepalaku, tepat di titik yang dulu benjol sebesar telur puyuh, sesuatu berdenyut. Lebih keras dari sebelumnya. Seperti ketukan di pintu yang terkunci, berulang-ulang, tidak sabar.


Kami sampai di Jakarta pukul lima sore. Rencananya, aku menurunkan Ryan dulu di Pasar Minggu karena paling dekat dari tol, lalu Gilang di Tebet, Zaza di Cipete, dan Evan akan menyetir sendiri dari sana. Di jok belakang, ketiganya masih tidur. Ryan bangun di Cibubur, menyadari kepalanya di bahuku, dan langsung menegakkan duduk dengan wajah yang, untuk pertama kalinya, tidak bisa disebut datar. Merah. Sampai telinga.

“Maaf,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Bahumu pegel?”

“Nggak.”

Bahuku pegal. Bahuku sangat pegal. Aku tidak peduli.

Di mulut gang rumahnya, sebelum dia turun, aku menahan lengannya. Hanya sebentar. Ujung lengan kaosnya, seperti di atap jemuran.

“Yan.”

“Hm.”

“Makasih udah ngajarin aku nyetir.”

Dia menatapku. Matahari sore masuk dari jendela, menerangi setengah wajahnya.

“Kamu yang belajar, Nad,” katanya. “Aku cuma duduk di sebelah.”

“Kamu duduk di sebelah tiap Sabtu jam enam pagi. Dua bulan. Itu bukan cuma.”

Dia diam. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya bergerak. Bukan dua milimeter. Lebih.

“Kamu lulus,” katanya.

Dia turun. Dia berjalan ke gang dengan ransel di bahu, langkahnya sedikit miring ke kanan, kaki kiri sedikit lebih hati-hati dari kaki kanan. Gerobak bakso Pak Kasim sudah parkir di tengah gang, dan Ryan berjalan memutarinya dengan sabar.

Aku menatap punggungnya sampai dia menghilang di balik pagar rumah nomor 17.

Kaos hitam. Leher bulat. Tertutup sampai tengkuk.

Aku tahu apa yang ada di bawahnya sekarang. Sebagian. Dua atau tiga senti.

Aku tidak tahu kenapa itu yang membuatku menangis di balik kemudi SUV Evan, di mulut gang di Pasar Minggu, tanpa suara supaya tiga orang di jok belakang tidak terbangun, dengan mesin masih menyala dan lagu dangdut koplo dari playlist Gilang masih berputar pelan di radio.

Satu minggu lagi pesta Evan.

Aku sudah lulus nyetir.

Aku tidak tahu lagi apa yang mau kukatakan di atas rooftop itu.