← Udah, Aku di Sini

Chapter Thirty Four

Bab 34 — Nadira yang Nyetir

POV: Nadira


“Hari kedua,” kata Ryan di telepon, Kamis malam, “Sabtu. Jam setengah enam. Bawa baju ganti dua hari.”

“Dua hari?”

“Ujung Genteng.”

Aku duduk tegak di kasur. “Ujung Genteng yang di Sukabumi? Yang jauh banget itu? Yang jalannya katanya kayak ular kesurupan?”

“Itu.”

“Yan, itu enam jam.”

“Tujuh. Kalau macet di Cibadak.”

“Siapa yang nyetir?”

Dia diam sebentar. Aku mendengar bunyi kursi berderit, seperti dia bersandar.

“Kamu,” katanya.


Sabtu pukul 05.43, Si Lumut berhenti di depan kos.

Ryan tidak duduk di balik kemudi. Dia duduk di kursi penumpang. Dia sudah duduk di sana waktu Si Lumut datang, karena Pak Kasim yang menyetir Si Lumut dari Pasar Minggu ke kosku, dengan Ryan di sebelahnya, dan sekarang Pak Kasim keluar dari pintu pengemudi sambil menguap dan meregangkan punggung.

“Pak Kasim?”

“Mas Ryan minta tolong, Mbak,” kata Pak Kasim. “Katanya Mbak yang harus nyetir dari titik nol. Saya cuma kurir.” Dia menyerahkan kunci padaku dengan gantungan peta Pulau Jawa. “Saya pulang naik ojol. Udah dibayarin Mas Ryan. Plus bakso tiga mangkuk buat sarapan.”

“Pak, makasih—”

“Hati-hati di jalan, Mbak.” Pak Kasim mengedipkan sebelah mata. “Jalan Cikidang itu belokannya banyak. Pegang setir dua tangan. Kecuali kalau Masnya minta dipegang tangannya.”

Dia pergi. Aku berdiri di trotoar dengan kunci Si Lumut di tangan dan wajah panas.

Ryan menurunkan kaca jendela penumpang.

“Masuk,” katanya. “Kopimu di kiri.”


Tol Jagorawi pagi-pagi lancar. Tol Bocimi masih sepi. Aku menyetir di lajur kiri dengan kecepatan delapan puluh, dengan tangan di jam sepuluh dan jam dua, dengan kopi susu gula sedikit di dudukan gelas dan laki-laki yang selalu berdiri di sisi jalan duduk di sebelahku.

Laki-laki yang sekarang pacarku.

Aku belum terbiasa dengan kata itu. Aku memikirkannya setiap lima menit dan setiap kali memikirkannya, perutku melakukan sesuatu seperti Si Lumut yang melompat di parkiran BSD.

Pacarku.

“Kamu senyum sendiri,” kata Ryan.

“Nggak.”

“Udah dua puluh menit.”

“Aku lagi menikmati jalan tol.”

“Jalan tolnya lurus, Nad. Nggak ada yang bisa dinikmati.”

Aku meliriknya. Dia menatap jalan di depan dengan wajah datar. Tapi tangannya, di pangkuan, mengetuk-ngetuk lutut. Gelisah. Ryan tidak pernah gelisah.

“Yan.”

“Hm.”

“Tanganmu.”

“Kenapa tanganku?”

“Taruh sini.” Aku melepas tangan kiri dari setir dan menepuk lututku sendiri. Lutut kanan. Di atas celana jins.

Ryan menatap lututku. Lalu menatapku. Lalu menatap jalan.

“Kamu lagi nyetir.”

“Aku nyetir pakai tangan, Yan, bukan lutut.”

“Itu bikin kamu nggak fokus.”

“Yang bikin aku nggak fokus itu kamu ngetuk-ngetuk lututmu sendiri dua puluh menit kayak orang mau ujian.” Aku menepuk lututku lagi. “Taruh sini. Biar aku inget ada yang harus aku antar pulang utuh.”

Dia diam lama. Mobil di lajur kanan menyalip kami. Lalu, pelan, seperti orang yang sedang menyentuh panci panas, Ryan mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya di lututku.

Telapak tangannya hangat. Besar. Menutupi seluruh tempurung lututku.

Aku menyetir sepuluh kilometer dengan tangan Ryan di lututku dan jantung yang melakukan senam aerobik.

“Yan.”

“Hm.”

“Kalau tanganmu naik dikit lagi,” kataku, dengan mata lurus ke jalan dan suara yang sangat tenang, “aku nabrak pohon kelapa.”

Tangannya membeku di lututku.

“Di tol nggak ada pohon kelapa,” katanya akhirnya. Serak.

“Di Cikidang banyak.”

Aku melirik. Telinganya merah. Tapi tangannya tidak pindah. Tidak naik. Tidak turun. Tetap di sana, di lututku, hangat dan berat dan sangat, sangat diam.

Lalu ibu jarinya bergerak. Sekali. Melingkar pelan, di atas kain jins, di sisi dalam lutut.

Setirku oleng.

“Fokus,” kata Ryan.

“KAMU YANG—”

“Aku tahu.”


Jalan Cikidang memang seperti ular kesurupan.

Setelah keluar tol dan melewati Cibadak, jalannya mulai naik. Berkelok. Tanjakan curam, turunan curam, tikungan tajam di antara perkebunan sawit dan hutan karet dan jurang di satu sisi. Truk-truk pengangkut pasir. Angkot yang berhenti di mana saja. Motor-motor yang menyalip di tikungan seolah mereka punya nyawa cadangan.

Aku menyetir dengan dua tangan. Tangan Ryan pindah dari lututku ke pegangan di atas jendela, dan dia memberi instruksi dengan suara rendah: gigi dua, tahan, jangan nyalip truknya, klakson di tikungan.

Di tanjakan panjang dekat Cikidang, Si Lumut mulai batuk.

Jarum suhu naik. Merah. Asap tipis keluar dari celah kap mesin.

“Yan—”

“Minggir. Pelan. Ada warung di depan.”

Aku minggir di depan warung kayu kecil dengan bangku panjang dan spanduk kopi sachet yang sudah pudar. Ryan keluar, membuka kap mesin, dan asap putih menyembur ke udara pegunungan.

“Kepanasan,” katanya, mengipas-ngipas asap dengan tangan. “Radiatornya tua. Kita tunggu setengah jam.”

Ibu pemilik warung keluar. Perempuan paruh baya dengan kerudung cokelat dan senyum yang tinggal sedikit gigi. Dia menatap Si Lumut yang berasap, menatap Ryan yang membungkuk di atas mesin, menatapku yang berdiri di samping mobil.

“Pengantin baru ya, Neng?” tanyanya.

Aku tersedak udara.

“Bu—”

“Biasa itu, Neng, pengantin baru ke Ujung Genteng. Bulan madu. Mobilnya mogok di sini. Udah biasa.” Ibu itu mengangguk-angguk dengan bijak. “Duduk, duduk. Ibu bikinin kopi. Suaminya ganteng, Neng. Pincang dikit tapi ganteng.”

Ryan, di balik kap mesin, berhenti bergerak.

Aku duduk di bangku panjang. Ibu warung membuatkan dua gelas kopi hitam yang sangat manis dan sangat kental, dan sepiring pisang goreng yang masih panas. Ryan duduk di sebelahku setelah menutup kap mesin. Kami tidak saling menatap.

“Udah berapa lama nikahnya, Neng?” tanya Ibu warung.

Aku membuka mulut.

“Seminggu,” kata Ryan.

Aku menoleh, kaget. Ryan menatap kopinya dengan wajah sangat datar.

“Wah, masih hangat-hangatnya,” kata Ibu warung, senang. “Ibu dulu seminggu nikah, suami Ibu nggak mau lepas. Ke sawah aja Ibu diikutin.”

“Iya, Bu,” kata Ryan. “Saya juga begitu.”

Dia meminum kopinya. Aku menatapnya. Telinganya merah sampai ke leher.

Waktu Ibu warung masuk ke dalam untuk menggoreng pisang lagi, aku mendekat dan berbisik.

“Seminggu?”

“Biar dia nggak nanya-nanya lagi.”

“Kamu bohong ke ibu warung.”

“Aku bohong dengan muka datar. Itu keahlianku.”

“Telingamu nggak datar, Yan.”

Dia diam. Lalu, tanpa menoleh, dia mengambil pisang goreng dari piring, membaginya dua, dan menyerahkan bagian yang lebih besar padaku.

“Bohong yang dikit,” katanya pelan. “Bukan seminggu. Sembilan hari.”

Aku tidak bisa makan pisang goreng itu karena aku terlalu sibuk tersenyum.


Kami sampai di Ujung Genteng pukul dua siang.

Pantai itu panjang dan sepi, dengan pasir putih kekuningan yang membentang sampai ke ujung pandangan, pohon-pohon kelapa yang condong ke laut, dan ombak Samudra Hindia yang besar dan biru tua, pecah di karang dengan bunyi seperti guruh yang jauh. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada mal. Hanya beberapa homestay kayu, warung-warung ikan bakar, dan perahu-perahu nelayan yang ditarik ke pasir.

Homestay yang Ryan pesan ada di ujung pantai. Rumah panggung kayu dengan dua kamar, beranda yang menghadap laut, dan pemilik yang sudah tua dan tuli sebelah.

Dua kamar. Bersebelahan. Dengan dinding kayu tipis di antaranya.

“Kamu pesan dua kamar,” kataku.

“Iya.”

“Kenapa?”

Ryan menatapku. Wajahnya datar. Tapi matanya tidak.

“Karena Ibu nelpon pemiliknya kemarin,” katanya. “Buat mastiin.”

Aku tertawa sampai harus duduk di tangga beranda.


Sore itu, kami melepas tukik.

Di Pantai Pangumbahan, beberapa kilometer dari homestay, ada penangkaran penyu. Setiap sore, petugas melepas tukik, bayi-bayi penyu yang baru menetas, ke laut. Ratusan tukik kecil, sebesar telapak tangan, ditaruh di pasir dan dibiarkan merangkak sendiri ke ombak.

Kami duduk di pasir bersama puluhan wisatawan lain. Petugas memberiku satu tukik di telapak tangan. Kecil. Dingin. Kaki-kakinya yang seperti dayung bergerak-gerak, mencari air.

“Dia takut,” kataku.

“Dia nggak tahu caranya takut,” kata Ryan di sebelahku. “Dia cuma tahu harus ke laut.”

Aku menaruh tukik itu di pasir. Dia merangkak. Pelan. Terseok-seok. Ombak datang, menyapunya mundur. Dia merangkak lagi. Ombak datang lagi.

Lalu ombak yang ketiga menariknya, dan dia hilang di air biru tua.

Aku menangis. Tentu saja aku menangis. Aku menangis di film robot dan aku menangis di tukik dan aku akan menangis di setiap hal kecil yang berjuang keras untuk sampai ke tempat yang seharusnya.

Ryan tidak memberiku tisu.

Dia mengulurkan tangan dan menyeka pipiku dengan ibu jarinya. Pelan. Di depan puluhan wisatawan dan petugas penangkaran dan seorang anak kecil yang menatap kami dengan mulut terbuka.

“Dari bioskop,” katanya pelan. “Aku pengen ngelakuin ini.”

“Ngelakuin apa?”

“Nyeka. Bukan ngasih tisu.” Ibu jarinya berhenti di bawah mataku. “Delapan tahun aku ngasih tisu. Aku pengen nyeka.”


Matahari terbenam pukul enam kurang lima belas.

Wisatawan lain sudah kembali ke homestay mereka. Petugas penangkaran sudah menutup pagar. Kami berjalan di sepanjang pantai, ke arah ujung yang sepi, ke tempat pasir bertemu karang dan tidak ada siapa-siapa selain kami dan burung-burung laut yang terbang rendah.

Langit di barat berubah warna. Oranye. Merah muda. Ungu. Matahari turun pelan ke laut, besar dan bulat dan berwarna seperti kuning telur, dan cahayanya memantul di ombak dalam garis panjang yang berkilau sampai ke kaki kami.

Aku berhenti. Aku menatap matahari.

Ryan berhenti di sebelahku. Di sisi laut. Tentu saja. Di antara aku dan ombak.

“Yan,” kataku. “Ini hari kedua.”

“Iya.”

“Kamu bilang hari kedua kamu yang nentuin.”

“Iya.”

“Kamu nentuin tujuh jam nyetir, mobil mogok, bohong ke ibu warung, dua kamar, dan tukik.”

“Iya.”

“Itu udah semua?”

Ryan tidak menjawab.

Dia memutar badan. Dia menghadapku. Matahari terbenam di belakangnya, membuat siluetnya hitam dengan pinggiran oranye, seperti sesuatu yang terbakar pelan.

Dia mengangkat tangan. Dia menyentuh wajahku. Dua tangan. Satu di pipi kiri, di lesung pipi. Satu di belakang kepala, di tengkuk, jari-jari masuk ke rambutku yang kusut oleh angin laut.

“Belum,” katanya.

Lalu dia menciumku.


Bukan ciuman di zebra cross Menteng. Bukan ciuman hati-hati, pelan, gemetar, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang dia takut akan pecah.

Bukan juga ciuman di lift, yang aku mulai dan aku kendalikan dan dia hanya mengikuti.

Ini ciumannya.

Dia menciumku seperti orang yang sudah lima tahun berdiri di sisi jalan dan akhirnya menyeberang. Dalam. Lambat. Tanpa ragu. Bibirnya menekan bibirku, lalu terbuka, dan aku merasakan napasnya, panas, bercampur garam angin laut dan sisa kopi manis dari warung di Cikidang. Tangannya di tengkukku mengencang. Menarikku lebih dekat. Kepalaku miring, mengikuti tangannya, dan ciumannya makin dalam, sampai aku merasakan giginya di bibir bawahku, pelan, sebentar, lalu lidahnya.

Lututku lupa caranya jadi lutut.

Bukan karena takut. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, lututku lupa caranya jadi lutut bukan karena takut.

Aku mencengkeram kaosnya. Di dada. Lalu di bahu. Lalu tanganku naik ke lehernya, ke rambutnya di belakang kepala, dan aku menariknya turun, karena aku selalu lupa bahwa dia tinggi, dan aku tidak mau ada jarak sama sekali.

Dia mengeluarkan suara. Rendah. Dari dada. Di bibirku. Suara yang belum pernah kudengar dari Ryan. Suara yang membuat seluruh tubuhku merinding dari tengkuk sampai ke ujung kaki yang tenggelam di pasir basah.

Ombak datang. Menyapu kaki kami sampai ke betis. Dingin. Kami tidak bergerak.

Ombak mundur. Menarik pasir dari bawah kaki kami. Aku goyah. Dia menangkapku. Tangannya pindah dari pipiku ke pinggangku, melingkar, menahanku supaya tidak jatuh, menarikku sampai tidak ada udara sama sekali di antara tubuh kami.

Dan dia terus menciumku.

Aku tidak tahu berapa lama. Matahari sudah setengah tenggelam waktu kami mulai. Waktu dia akhirnya melepaskan bibirku, pelan, dengan dahi masih menempel di dahiku dan napas yang berantakan di antara kami, matahari sudah hilang sama sekali. Hanya tinggal garis oranye tipis di ujung laut, dan langit ungu tua di atas kepala, dan bintang pertama yang muncul di atas pohon kelapa.

“Yan,” bisikku. Suaraku tidak seperti suaraku.

“Hm.” Suaranya juga tidak.

“Itu...”

“Hari kedua.”

Aku tertawa. Napasku masih berantakan. Aku menyandarkan dahi ke dadanya, di atas kaos yang basah oleh percikan ombak, dan aku bisa mendengar jantungnya. Cepat. Sangat cepat. Tidak dalam hitungan sama sekali.

“Kamu bilang hari kedua lebih seru dari lift,” kata Ryan di atas kepalaku.

“Aku yang bilang.”

“Iya.” Tangannya mengusap punggungku. Pelan. Naik turun. “Lebih seru?”

Aku mengangkat kepala. Aku menatapnya. Bibirnya sedikit bengkak. Rambutnya berantakan karena tanganku. Matanya gelap, dan liar, dan menatapku seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang dia cari seumur hidup.

“Yan,” kataku. “Lututku masih gemeteran.”

Dia tersenyum. Bukan dua milimeter. Bukan tiga. Senyum yang penuh, yang membuat matanya menyipit dan ada kerutan kecil di sudutnya, senyum yang tidak pernah kulihat di wajahnya dalam delapan tahun.

“Bagus,” katanya.


Malam itu, ada kecoa di kamarku.

Kecoa besar. Cokelat. Dengan antena panjang yang bergerak-gerak dan kemampuan terbang yang tidak masuk akal untuk serangga sebesar itu. Aku menemukannya di dinding di atas kasur pukul sebelas malam, waktu aku baru selesai mandi dan memakai kaos tidur.

Aku keluar dari kamar dengan kecepatan yang mungkin memecahkan rekor lari 5.000 meter Ryan.

Aku mengetuk pintu kamar sebelah. Keras.

Ryan membuka. Dia memakai kaos abu-abu dan celana training, rambutnya basah habis mandi. Dia menatapku. Aku memakai kaos tidur kebesaran bergambar beruang dan celana pendek, rambut basah, tanpa riasan, dengan mata lebar dan napas terengah.

“Kecoa,” kataku.

“Di mana?”

“Di dinding. Di atas kasur. Dia terbang, Yan. Kecoa nggak seharusnya bisa terbang.”

Ryan masuk ke kamarku. Aku menunggu di beranda, di antara dua pintu, mendengar bunyi sandal yang dipukulkan ke dinding, bunyi sesuatu yang jatuh, bunyi Ryan yang mengumpat pelan untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan akhirnya bunyi jendela yang dibuka.

Dia keluar. “Udah.”

“Mati?”

“Aku buang ke luar jendela.”

“Dia bakal balik!”

“Dia nggak bakal balik, Nad.”

“Kecoa selalu balik, Yan! Itu sifat kecoa! Mereka bertahan hidup dari bom nuklir!”

Ryan menatapku lama. Lalu dia masuk ke kamarnya sendiri. Aku mengira dia mau tidur. Tapi dia keluar lagi dengan kursi plastik dari kamarnya, menaruhnya di beranda, tepat di depan pintu kamarku, dan duduk di sana.

“Tidur,” katanya. “Aku jaga.”

Aku menatapnya. “Kamu mau duduk di situ semalaman?”

“Kalau kecoanya balik, aku yang lihat duluan.”

“Yan...”

“Tidur, Nad.”

Aku masuk ke kamar. Aku menutup pintu. Aku berbaring di kasur. Aku menatap dinding di atas kasur, di tempat kecoa itu tadi berada.

Lalu aku menatap pintu.

Di balik pintu kayu tipis itu, ada laki-laki yang duduk di kursi plastik di beranda, dengan kaki kiri yang dipasangi dua pen, menjaga pintuku dari kecoa.

Aku tidak bisa tidur.


Pukul dua belas lewat, aku membuka pintu.

Ryan masih di sana. Duduk di kursi plastik, dengan kepala bersandar ke dinding kayu, dengan mata terbuka, menatap laut. Di langit di atas laut, bintang-bintang. Ribuan. Lebih banyak dari yang pernah kulihat di Jakarta seumur hidup.

Dia menoleh waktu pintu terbuka.

“Kecoa?”

“Nggak.” Aku membawa kursi plastik yang satunya dari kamarku. Aku menaruhnya di sebelah kursinya. Rapat. Lalu aku duduk. “Aku nggak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Ada yang jaga di depan pintu. Aku kepikiran terus.”

Dia tidak menjawab. Kami duduk berdampingan, menatap bintang-bintang di atas Samudra Hindia, mendengar ombak pecah di karang dengan bunyi seperti guruh yang jauh.

Lalu aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Bahu kiri. Yang tidak diperban. Hangat di bawah kaos abu-abu.

Dia tidak bergerak. Lalu, pelan, dia menurunkan bahunya sedikit. Supaya leherku tidak tertekuk.

Seperti Evan di macet Puncak. Seperti yang kulihat di spion.

“Yan,” kataku, mengantuk.

“Hm.”

“Di Puncak, kepalamu di bahuku. Sekarang gantian.”

“Iya.”

“Kita gantian terus ya. Kayak sisi jalan.”

Dia diam. Lalu aku merasakan pipinya menempel di puncak kepalaku. Pelan.

“Iya, Nad,” katanya. “Gantian terus.”

Aku tidak ingat kapan aku tertidur. Aku hanya ingat ombak, dan bintang, dan bahu yang hangat, dan napas di rambutku yang dihitung pelan-pelan. Empat. Empat. Enam.

Waktu aku bangun, matahari sudah terbit di atas laut, dan aku masih di kursi plastik, dengan selimut dari kamar Ryan melingkupiku, dan kepalaku masih di bahunya.

Dia masih bangun.

Dia tidak tidur sama sekali.

“Pagi,” katanya. Matanya merah karena tidak tidur. Bahunya pasti kaku seperti batu. “Kecoanya nggak balik.”