Chapter Sixteen
Bab 16 — Foto Angkatan
POV: Nadira
Ulang tahun Evan yang asli jatuh pada hari Rabu, dan kami merayakannya dengan cara yang paling tidak sesuai dengan tema Golden Twenty-Eight: makan pecel lele di warung tenda di pinggir jalan Tebet, dekat apotek Gilang.
Itu ide Evan sendiri.
“Aku nggak mau makan malam mewah,” katanya di grup. “Pestanya kan nanti. Hari ini yang biasa aja.”
Gilang protes sepanjang tiga puluh pesan, dengan argumen bahwa pecel lele mengandung minyak jelantah yang “berbahaya bagi kesehatan kardiovaskular jangka panjang”. Zaza membalas dengan satu kalimat: Yang ulang tahun yang milih, Lang. Gilang diam.
Jadi Rabu malam, kami berlima duduk di bangku kayu panjang di bawah terpal biru, dengan lima piring pecel lele, satu bakul nasi, dan sebuah kue tar kecil dari toko roti dekat apotek yang Gilang beli diam-diam. Kuenya rasa cokelat, dengan tulisan SELAMAT ULTAH EVAN 28 yang ditulis dengan krim putih dan sudah agak meleleh karena udara Jakarta.
Gilang menancapkan dua lilin angka. Dua dan delapan. Lilin delapan miring.
“Tiup,” kata Gilang.
“Nyanyi dulu,” kata Zaza.
Kami menyanyi. Gilang terlalu keras. Zaza terlalu pelan. Ryan tidak menyanyi, tapi bibirnya bergerak. Aku menyanyi dengan suara yang sedikit bergetar, karena aku duduk di seberang Evan dan lilin-lilin itu menerangi wajahnya dari bawah, membuatnya terlihat seperti foto lama.
Abang penjual pecel lele ikut menyanyi dari balik wajan. Dua pembeli lain di bangku sebelah ikut bertepuk tangan.
Evan tersenyum. Senyum yang lebar, yang membuat matanya menyipit. Tapi waktu dia menunduk untuk meniup lilin, senyumnya hilang sebentar, sangat sebentar, dan aku melihat wajahnya tanpa senyum di bawah cahaya lilin.
Wajah itu lelah. Lelah dengan cara yang tidak bisa dijelaskan dengan rapat sprint atau investor dari Singapura.
Dia meniup. Lilinnya padam. Kami bertepuk tangan.
“Make a wish?” tanya Gilang.
“Udah,” kata Evan.
“Apa?”
“Kalau dibilang nggak terkabul, Lang.”
“Itu mitos. Nggak ada data empiris yang mendukung—”
“Lang.” Zaza menyuapkan potongan kue ke mulut Gilang dengan garpu plastik. “Makan.”
Gilang makan.
Evan mengambil pisau plastik dan memotong kue. Potongan pertama, seperti biasa di ulang tahun, untuk orang yang paling istimewa. Dia mengangkat piring kertas kecil itu dan menatap kami satu per satu.
Jantungku berhenti.
Lalu dia menaruh potongan itu di depan Ryan.
“Buat yang paling sering nganterin aku pulang mabuk waktu kuliah,” katanya.
Ryan menatap kue itu. “Kamu cuma mabuk dua kali.”
“Dua kali yang memalukan.”
“Kamu muntah di Si Lumut.”
“Makanya kamu dapat potongan pertama. Kompensasi.”
Kami semua tertawa. Aku juga tertawa. Tapi waktu aku menatap Evan, dia sedang menatap Ryan dengan ekspresi yang aneh. Bukan ekspresi orang yang bercanda. Ekspresi orang yang sedang membayar sesuatu.
Potongan kedua untuk Zaza. Ketiga untuk Gilang. Keempat untukku.
“Nad,” katanya, dan menaruh piring kertas di depanku. Matanya bertemu mataku. Hanya sebentar. “Makasih udah datang.”
“Aku pasti datang, Van.”
“Iya.” Dia tersenyum. “Kamu selalu datang.”
Dia tidak menatapku lagi sepanjang sisa malam.
Setelah pecel lele, Gilang mengajak kami ke apoteknya.
“Aku mau nunjukin progres slideshow,” katanya, dengan wajah berbinar seperti anak kecil yang mau memamerkan gambar. “Evan nggak boleh ikut.”
“Kenapa aku nggak boleh ikut? Itu slideshow tentang aku.”
“Karena itu kejutan.”
“Lang, kamu udah nanya aku kue rasa apa lewat voice note.”
“Itu lain. Kue itu logistik. Slideshow itu emosional.” Gilang mendorong Evan ke arah mobilnya. “Pulang. Istirahat. Kamu sudah tua sekarang. Dua puluh delapan. Metabolismemu mulai turun.”
Evan pulang, sambil tertawa dan menggeleng. Ryan dan Zaza dan aku mengikuti Gilang ke apoteknya, dua ratus meter dari warung pecel lele.
Apotek Gilang kecil, di ruko satu lantai dengan papan nama hijau bertuliskan APOTEK SEHAT SENTOSA — Apt. Gilang Prasetyo, S.Farm. Di jendelanya ada stiker kucing oranye yang dicetak di kertas A4, dengan tulisan PAK RT — KUCING RESMI APOTEK INI. JANGAN DIKASIH MAKAN, DIA SEDANG DIET. Waktu kami masuk, kucing oranye gemuk yang sama sedang tidur di atas etalase vitamin dengan perut menghadap ke atas.
“Pak RT,” kata Gilang dengan suara lembut, mengusap kepala kucing itu. “Sudah minum vitaminnya?”
Pak RT membuka satu mata, menatap Gilang dengan pandangan penuh kebencian, lalu tidur lagi.
Di belakang etalase, ada ruangan kecil yang Gilang pakai sebagai kantor. Meja kayu, komputer tua, rak berisi kardus-kardus obat, dan dinding yang ditempeli puluhan foto lama yang sudah dicetak ulang. Foto-foto kami. Delapan tahun circle, dalam potongan-potongan kecil.
“Ya ampun, Lang,” kataku.
“Ini progres.” Gilang menyalakan komputer dengan bangga. “Dua ratus delapan puluh foto. Sudah aku scan semua. Sudah aku urutkan berdasarkan kronologi. Sudah aku kasih musik. Mau lihat?”
Kami melihat.
Slideshow itu dimulai dengan foto kami berlima di ruang sekretariat kampus dengan atap bocor, tahun kedua, semua masih kurus dan berjerawat. Zaza dengan poni rata. Aku dengan kacamata besar berbingkai hitam. Gilang dengan rambut belah tengah yang membuat Zaza menutup muka dan berteriak. Evan dengan senyum yang sama seperti sekarang, hanya lebih muda. Ryan di pojok, berdiri sedikit miring ke kanan, tangan di saku.
Lalu foto-foto lain. Kami di bioskop, aku menangis dengan tisu di tangan. Kami di kantin, Evan dan Ryan sedang adu panco dan Ryan menang. Kami di pantai Pangandaran, Gilang terbakar matahari dan dikerubungi semut karena ketiduran dengan permen di tangan. Kami di wisuda Zaza, Evan, dan aku, dengan toga hitam dan senyum lebar.
Ryan tidak ada di foto wisuda itu.
Aku menatap layar. Ryan tidak ada, karena Ryan masih di Bandung, belajar jalan lagi dengan tongkat. Ryan wisuda setahun kemudian, sendirian, dengan Ibu dan Gilang.
Gilang menekan tombol. Foto berikutnya: wisuda Ryan. Ryan dengan toga hitam, berdiri dengan satu tongkat di tangan kiri, di antara Bu Ratna dan Gilang. Dia tidak tersenyum. Tapi Bu Ratna di sebelahnya tersenyum lebar sekali, dengan mata berair.
Aku menunduk.
Zaza, di sebelahku, menggenggam tanganku di bawah meja. Diam-diam. Aku tidak tahu kenapa.
“Lang,” kataku waktu slideshow sudah selesai dan Gilang sedang menjelaskan teori pemilihan musik latar berdasarkan “frekuensi emosional”. “Yang malam keakraban, kamu jadi masukin?”
Gilang berhenti bicara.
“Nggak,” katanya. “Zaza bilang jangan.”
“Kamu masih punya fotonya?”
Gilang melirik Zaza. Zaza menatapku dengan dahi berkerut. Di pojok ruangan, Ryan, yang sejak tadi berdiri bersandar ke rak kardus obat dengan tangan di saku, menegakkan punggungnya.
“Punya,” kata Gilang pelan. “Ada di folder terpisah. Tiga foto. Dari kamera Zaza.”
“Aku mau lihat.”
“Nad,” kata Zaza.
“Aku nggak ingat malam itu, Za. Cuma potongan-potongan. Aku mau lihat aku sebelum...” Aku menelan. “Sebelum.”
Zaza membuka mulut. Ryan, di pojok, bilang, “Nad—”
Tapi Gilang sudah mengklik. Gilang, yang selalu ingin membantu, yang selalu ingin semua orang bahagia, yang tidak pernah tahu kapan harus berhenti. Folder terpisah terbuka. Tiga foto.
Foto pertama: suasana malam keakraban di lapangan parkir fakultas. Tenda putih besar, lampu-lampu kuning digantung di tiang bambu, ratusan mahasiswa berkerumun. Langit gelap, gerimis mulai turun, tetes-tetes air terlihat seperti bintang kecil di depan lampu kamera. Di pojok kanan bawah, cap waktu digital berwarna oranye: 21:03.
Foto kedua: aku dan Zaza, berpelukan, tertawa ke kamera. Aku memakai kardigan krem. Rambutku basah. Aku terlihat sangat muda, dan sangat bahagia, dan sama sekali tidak tahu bahwa empat puluh menit kemudian aku akan tergeletak di trotoar. 21:11.
Foto ketiga: foto kelompok. Kami berlima, berdiri di bawah tenda, berdesakan, berusaha masuk ke dalam bingkai. Gilang di depan dengan dua jari membentuk huruf V. Zaza di sebelahnya. Aku di tengah. Evan di kiriku, memakai kaos hitam polos. Dan Ryan di kananku, paling ujung, berdiri sedikit miring ke kanan—
Memakai jaket varsity merah.
Aku menatap layar. Aku mendekat. Aku memperbesar foto dengan jari-jariku di layar sentuh monitor Gilang yang sudah tua.
Jaket merah. Huruf-huruf putih nama angkatan di dada. Dan di dada kiri, bordir kecil, sedikit buram karena resolusi kamera empat megapiksel, tapi jelas terbaca.
EVAN.
Cap waktu: 21:24.
Enam belas menit sebelum malam itu.
Ruangan kecil di belakang apotek Gilang tiba-tiba sangat sunyi. Aku hanya bisa mendengar dengung komputer tua dan dengkur Pak RT dari etalase depan.
“Kok,” kataku. Suaraku terdengar jauh, seperti dari dalam air. “Kok Ryan yang pakai jaket Evan?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menoleh. Gilang menatap layar dengan mulut sedikit terbuka, seolah dia juga baru pertama kali benar-benar melihat foto itu. Zaza menatap lantai. Ryan—
Ryan menatapku.
Dia masih berdiri di pojok, bersandar ke rak kardus obat. Wajahnya datar. Sangat datar. Terlalu datar, seperti permukaan danau di hari tanpa angin, yang terlalu tenang untuk menjadi alami.
“Aku kedinginan,” katanya. “Kaosku basah. Evan pinjemin.”
“Oh.” Aku mengedip. Aku menatap foto lagi. Ryan dengan jaket merah. Evan dengan kaos hitam. “Oh. Iya. Masuk akal.”
Masuk akal. Ryan kedinginan, Evan meminjamkan jaketnya. Itu sangat Evan. Evan yang baik hati, yang selalu memberikan apa yang dia punya.
Lalu...
Lalu Evan pasti mengambil jaketnya lagi. Sebelum 21:40. Mungkin waktu Ryan pamit pulang. Ryan jalan kaki pulang, kata Bu Ratna. Ryan pasti mengembalikan jaketnya dulu sebelum pulang. Lalu Evan memakainya lagi. Lalu aku menyeberang ke minimarket. Lalu Evan melihat mobil hitam itu dan berlari dan—
Iya. Itu pasti.
Itu satu-satunya cara jaket merah itu bisa ada di samping ranjangku di rumah sakit.
“Tukeran,” kataku, setengah ke diriku sendiri. “Kalian pasti tukeran lagi. Sebelum kamu pulang.”
Ryan tidak menjawab.
“Iya kan, Yan? Kamu balikin jaketnya ke Evan sebelum kamu jalan pulang?”
Ryan membuka mulut.
Dan Zaza berdiri.
Dia berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang dan menabrak rak kardus obat, membuat dua kotak paracetamol jatuh ke lantai. Dia melewati aku, meraih mouse dari tangan Gilang, dan menutup folder itu. Lalu dia mengklik kanan, dan mengklik Delete, dan mengklik Yes di kotak dialog yang bertanya apakah dia yakin, dan semua itu dia lakukan dalam waktu kurang dari tiga detik.
“Za!” Gilang berteriak. “Itu arsip!”
“Ini bukan buat slideshow,” kata Zaza, dengan suara yang rendah dan dingin dan tidak seperti Zaza sama sekali. “Kita udah sepakat.”
“Aku cuma mau lihat—” kataku.
“Kamu udah lihat.”
“Za, aku—”
“Nad.” Zaza berbalik. Matanya merah. Matanya merah dan basah, dan rahangnya mengeras, dan dia menatapku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat di wajahnya dalam delapan tahun. Bukan marah. Sesuatu yang lebih buruk dari marah. Sesuatu seperti orang yang sedang menahan pintu dari dalam, dan pintu itu sedang didorong oleh sesuatu yang sangat berat. “Malam itu bukan buat dilihatin di foto. Oke? Udah. Cukup.”
Dia mengambil tasnya. Dia berjalan keluar dari ruangan, melewati etalase vitamin, melewati Pak RT yang terbangun dan mendesis padanya. Pintu kaca apotek berbunyi ting-ting waktu dia membukanya. Lalu dia pergi.
Kami bertiga diam.
Gilang membungkuk dan memungut dua kotak paracetamol dari lantai, pelan, seperti orang tua. “Aku,” katanya, lalu berhenti. “Aku masih punya backup-nya di Google Drive.”
“Lang,” kata Ryan.
“Aku tahu, aku tahu. Aku nggak bakal buka.” Gilang menaruh kotak-kotak itu kembali ke rak. Dia menatapku, lalu Ryan. Wajahnya bingung, seperti orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang penting tapi tidak bisa memahami apa. “Kenapa Zaza begitu? Aku cuma masukin tiga foto. Itu foto lucu. Kalian semua kelihatan bahagia.”
Aku menatap layar komputer yang sekarang hanya menampilkan desktop Gilang. Wallpaper-nya foto Pak RT dengan topi ulang tahun kertas.
Aku masih bisa melihat foto itu di kepalaku. Ryan dengan jaket merah. 21:24.
“Mungkin karena aku hampir mati malam itu,” kataku pelan. “Mungkin Zaza nggak suka ingat.”
Gilang mengangguk. Pelan. Tidak yakin.
Ryan tidak bilang apa-apa.
Ryan mengantarku pulang. Aku menyetir. Seperti biasa sekarang.
Kami tidak bicara selama sepuluh menit. Aku menyetir melewati Tebet, Pancoran, Mampang, dengan tangan di jam sepuluh dan jam dua, dengan napas dalam hitungan. Ryan duduk dengan kaki kiri diluruskan, kepala bersandar ke jendela, menatap lampu-lampu di luar.
“Yan,” kataku di lampu merah Kuningan.
“Hm.”
“Kamu balikin jaketnya ke Evan, kan? Malam itu.”
Diam.
Lampu merah. Hitungan mundur di tiang lalu lintas: 45. 44. 43.
“Aku nggak ingat banyak dari malam itu, Nad,” katanya akhirnya.
“Tapi kamu ingat kamu kedinginan dan Evan minjemin jaket.”
“Itu sebelum.”
“Dan sesudahnya?”
“Sesudahnya aspal.”
Hitungan mundur: 28. 27. 26.
Aku mencengkeram setir. Aku ingin bertanya lagi. Aku ingin bertanya, Kamu pulang jam berapa? Lewat jalan mana? Kamu dengar suara rem? Kamu dengar aku? Tapi aku melihat wajahnya di pantulan kaca jendela, dan wajah itu lelah dengan cara yang sama seperti wajah Evan di bawah cahaya lilin tadi.
Dua sahabat. Dua wajah lelah. Malam yang sama.
“Oke,” kataku.
Lampu hijau. Aku jalan.
Sisa perjalanan kami diam. Di depan kos, Ryan keluar dari mobil dan berjalan memutar untuk mengambil alih kemudi. Kami berpapasan di depan kap mesin, seperti biasa. Dan seperti biasa, bahunya hampir menyentuh bahuku.
Kali ini, aku berhenti.
Dia berhenti juga.
Kami berdiri di depan Si Lumut, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip lemah, berhadapan. Aku harus mendongak sedikit untuk menatap wajahnya.
“Yan.”
“Hm.”
“Kalau ada sesuatu yang aku harus tahu,” kataku pelan, “kamu bakal bilang, kan?”
Ryan menatapku. Lampu jalan berkedip. Terang. Gelap. Terang.
“Masuk, Nad,” katanya. “Udah malam.”
Dia melewatiku dan masuk ke Si Lumut.
Aku berdiri di trotoar dan menatap mobil hijau itu pergi. Lalu aku menatap lampu jalan di atas kepalaku, yang berkedip-kedip seperti selama dua tahun ini, dan merasakan bagian belakang kepalaku berdenyut.
Jaket merah. 21:24. Enam belas menit.
Aku tidak tahu apa yang kucari. Aku tidak tahu potongan apa yang hilang. Aku hanya tahu bahwa malam ini, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, cerita yang selama ini kupercaya terasa seperti jaket yang dipakai orang lain.
Pas di bahu. Tapi bukan punyaku.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan reading
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan