← Udah, Aku di Sini

Chapter Eight

Bab 8 — Hujan Jam Sembilan

POV: Ryan


Pelajaran kedua jauh lebih baik dari pelajaran pertama, dan itu membuatku khawatir.

Minggu pagi, komplek perumahan sepi di Bintaro, jalan selebar dua mobil dengan polisi tidur setiap lima puluh meter. Nadira hanya melompatkan Si Lumut dua kali di awal. Setelah itu dia menyetir dengan gigi dua, pelan, kedua tangan mencengkeram setir di posisi jam sepuluh dan jam dua, persis di tempat sarung setirnya sudah mengelupas karena tanganku.

Dia bicara sepanjang jalan. Itu caranya mengatasi takut, aku sudah tahu sejak kuliah: kalau Nadira takut, dia bicara. Tentang klien yang ingin logo “lebih gede tapi lebih kecil”. Tentang Dimas di kantornya yang menyiram tanaman plastik. Tentang drama Korea yang sudah ditontonnya tiga kali dan tetap membuatnya menangis di episode sebelas.

Dan tentang Evan.

“Dia ngajak ketemu, Yan. Berdua.”

Aku menatap jalan di depan. Polisi tidur. “Pelan.”

Dia mengerem. Si Lumut melewati polisi tidur dengan lembut. “Kamis malam. Di kafe dekat kantornya. Katanya ada yang mau diomongin.”

“Belok kiri di depan.”

“Kamu nggak penasaran?”

“Sein.”

Dia menyalakan lampu sein. Dia berbelok. Mulus. Dia tidak menyadari betapa mulusnya, karena dia terlalu sibuk menatapku dari sudut matanya.

“Yan. Kamu kan sahabatnya. Kamu pasti tahu dia mau ngomong apa.”

“Lihat depan, Nad.”

Dia melihat depan. Bibirnya mengerucut. “Kamu nyebelin.”

“Ada kucing.”

Ada kucing. Oranye, gemuk, sedang duduk di tengah jalan seperti pemilik komplek. Nadira mengerem, terlalu mendadak, dan Si Lumut berhenti dengan sentakan kecil. Kucing itu menatap kami dengan pandangan menghina, lalu berjalan pelan ke trotoar seolah dia yang memberi kami izin lewat.

Nadira tertawa. Lalu dia menoleh ke arahku dengan mata berbinar.

“Aku ngerem! Yan, aku ngerem pas ada kucing! Refleks!”

“Iya.”

“Aku hebat.”

“Lumayan.”

“Lumayan?!”

“Lumayan hebat.”

Dia memukul lenganku. Aku tidak menghindar. Lenganku sudah biasa jadi samsak Nadira sejak tahun kedua kuliah, dan aku diam-diam lebih suka itu daripada sebaliknya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya tentang Evan. Aku tahu jawabannya. Evan sudah memberitahuku Kamis lalu, di rooftop parkiran dengan Pak Udin dan senternya. Aku tolak baik-baik. Sebelum hari H.

Aku tidak menjawab, karena kalau aku membuka mulut, aku tidak tahu apa yang akan keluar.


Selasa malam, jam sepuluh tepat, ponselku berbunyi.

Aku sedang menyetir pulang dari kantor setelah lembur menyelesaikan peta zonasi kawasan industri di Karawang. Lampu merah Mampang. Aku menyalakan speaker.

“Ryan. Lagi apa?”

“Nyetir, Lang.”

“Oke. Bagus. Aku cuma mau ngecek. Ini Selasa.”

“Aku tahu ini Selasa.”

“Hari paling sepi secara emosional. Aku sudah bilang kan.”

“Sudah. Empat puluh tiga kali.”

“Kamu ngitung?”

“Kamu bilang itu setiap Selasa, Lang. Aku cuma perlu tahu sudah berapa Selasa.”

Gilang diam sebentar. Lalu, dengan nada yang lebih pelan dari biasanya, dia bertanya, “Kamu oke, Yan?”

Lampu hijau. Aku jalan.

“Kenapa nggak oke?”

“Nggak tahu. Feeling aja.” Aku mendengar bunyi kunyah di ujung sana. Kacang, mungkin. Atau permen jahe. “Kamu lagi sering diem.”

“Aku selalu diem.”

“Iya, tapi diemnya beda. Biasanya diem kamu kayak... kayak lemari. Sekarang diem kamu kayak lemari yang ada sesuatu di dalamnya yang mau keluar.”

Aku tidak menjawab. Aku melewati Kuningan, lampu-lampu gedung berkelebat di kaca depan.

“Aku apoteker, Yan,” lanjut Gilang. “Aku sudah lihat ribuan orang yang dateng ke apotek bilang ‘cuma pusing biasa’. Padahal bukan. Mukanya ngasih tahu.”

“Kamu nggak lihat mukaku sekarang.”

“Suaramu ngasih tahu.”

Aku diam lagi. Di ujung sana, Gilang menunggu. Untuk sekali itu, dia tidak mengisi diam dengan teori. Dia cuma menunggu.

“Aku oke, Lang,” kataku akhirnya. “Makasih udah nanya.”

“Oke.” Bunyi kunyah lagi. “Kalau nggak oke, bilang. Aku punya magnesium.”

“Kenapa magnesium?”

“Defisiensi magnesium bikin orang gelisah. Banyak orang yang ngira mereka galau, padahal cuma kurang magnesium.”

“Gilang.”

“Iya?”

“Kamu baik.”

Di ujung sana, hening yang aneh. Lalu: “Kamu yakin kamu nggak kurang magnesium? Kamu nggak pernah bilang aku baik.”

“Selamat malam, Lang.”

“Ryan—”

Aku mematikan telepon. Aku tersenyum ke jalan, sendirian di dalam Si Lumut, dan senyum itu bertahan sampai Pancoran.


Kamis pukul enam sore, Evan mengirimiku pesan.

Evan: Yan. Aku batalin.

Aku: Batalin apa.

Evan: Ketemu Nadira. Malam ini.

Evan: Aku nggak bisa.

Evan: Aku lihat mukanya, aku pasti ngaku semuanya. Aku tahu diriku. Aku nggak bisa bohong ke muka dia sambil nolak dia.

Aku: Kamu nggak perlu bohong. Kamu cuma perlu nolak.

Evan: Itu sama aja, Yan. Buat dia, nolak = bohong. Dia kira aku nyelamatin dia. Kalau aku nolak tanpa alasan, aku bohong tentang kenapa.

Evan: Aku butuh waktu. Minggu depan.

Aku menatap layar lama.

Aku: Kamu udah bilang ke dia?

Evan: Udah. Aku bilang ada urusan kantor mendadak.

Evan: Dia bilang nggak apa-apa.

Evan: Pakai emoji senyum.

Emoji senyum. Aku tahu emoji senyum Nadira. Itu emoji yang dia kirim kalau sesuatu sebenarnya apa-apa.

Aku melihat jam. 18.14. Aku melihat jendela kantor. Langit di atas Jakarta sudah mulai menghitam di arah timur, gelap dan berat, seperti seseorang menuang tinta ke kapas.

Kaki kiriku mulai bicara.


Kantor agensi Nadira ada di Senopati, gedung sepuluh lantai dengan lobi kaca dan resepsionis yang pulang jam tujuh. Tidak ada parkir di depan lobi untuk tamu. Parkir terdekat ada di seberang jalan, di lahan kosong yang dijaga tukang parkir dengan rompi oranye dan kursi plastik.

Aku memarkir Si Lumut di sana pukul 20.40.

Aku tidak bilang pada Nadira bahwa aku akan datang. Aku tidak tahu apakah dia masih di kantor. Tapi aku tahu satu hal: kalau Nadira kecewa, dia akan lembur. Dia akan menenggelamkan dirinya di pekerjaan sampai terlalu lelah untuk memikirkan hal lain. Dia melakukannya waktu putus dengan pacar yang tidak terlalu dia sukai. Dia melakukannya waktu kucingnya mati. Dia akan melakukannya malam ini.

Pukul 20.52, hujan turun.

Bukan gerimis. Hujan. Deras, mendadak, menghantam atap Si Lumut seperti seseorang menuang batu kerikil dari langit. Tukang parkir berlari ke bawah atap warung rokok. Jalan Senopati langsung berubah menjadi sungai lampu merah dan kuning, mobil-mobil merayap dengan wiper yang bekerja terlalu keras.

Kaki kiriku berhenti bicara. Sekarang dia berteriak.

Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.

Pukul 21.03, ponselku bergetar.

Nadira: Yan, kamu udah tidur?

Aku mengetik.

Aku: Belum.

Nadira: Hehe. Nggak apa-apa. Cuma nanya.

Aku: Kamu masih di kantor?

Nadira: Kok tahu?

Aku: Turun. Aku di seberang.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.

Nadira: ...kamu di mana??

Aku: Parkiran seberang. Si Lumut. Aku jemput ke lobi.

Aku mengambil payung dari jok belakang. Payung hitam, besar, gagangnya kayu, payung lama Bapak yang Ibu simpan bertahun-tahun dan akhirnya diberikan padaku waktu aku mulai kerja. Aku keluar dari mobil. Hujan langsung membasahi celanaku sampai lutut dalam lima detik.

Aku menyeberang. Jalan Senopati di malam hujan bukan jalan yang ramah. Mobil-mobil tidak berhenti, motor-motor menyelip di antaranya, lampu-lampu memantul di aspal basah sampai sulit membedakan mana lampu dan mana bayangannya. Kaki kiriku menolak setiap langkah. Aku berjalan pelan. Aku berjalan seperti orang yang menghitung.

Nadira sudah berdiri di bawah kanopi lobi waktu aku sampai.

Dia memakai blazer krem yang terlalu tipis untuk hujan seperti ini. Rambutnya yang sebahu sedikit berantakan, seperti dia mengikatnya dan melepasnya berkali-kali sepanjang sore. Riasannya sudah hilang separuh. Matanya sedikit merah di pinggir, dan aku tidak tahu apakah itu karena layar komputer atau karena hal lain.

Dia tetap perempuan paling cantik yang pernah kulihat berdiri di bawah kanopi lobi di malam hujan. Aku tidak tahu kenapa aku memikirkan itu. Aku selalu memikirkannya, sebenarnya. Aku cuma jarang membiarkan diriku tahu.

“Yan,” katanya. “Kamu kenapa ke sini?”

“Lewat.”

“Kamu lewat Senopati jam sembilan malam pas hujan.”

“Iya.”

“Rumahmu Pasar Minggu.”

“Aku lewat jalan yang jauh.”

Dia menatapku. Lalu dia tertawa, kecil dan basah, dan menyeka hidungnya dengan punggung tangan.

“Kamu bohong jelek banget,” katanya.

“Aku jago bohong. Kata Evan.”

“Evan salah.”

Dia mengatakannya begitu saja, tanpa berpikir, dan langsung terlihat menyesal, seperti kata itu terlalu berat untuk diucapkan malam ini. Dia menunduk menatap sepatunya. Sepatu datar. Dia memakai sepatu datar ke kantor sejak minggu lalu, sejak latihan pertama. Aku tidak pernah memintanya.

Aku membuka payung.

“Ayo,” kataku.


Kami berjalan ke tepi trotoar. Hujan menghantam payung di atas kami seperti genderang. Payung Bapak lebar, cukup untuk dua orang, tapi hanya kalau dua orang itu berdiri sangat dekat. Bahu Nadira menempel di lenganku. Aku bisa merasakan dinginnya blazer tipis itu menembus kemejaku.

Di depan kami, jalan Senopati. Empat jalur. Basah. Ramai. Lampu-lampu berkilat di aspal hitam seperti ribuan mata.

Dan Nadira berhenti.

Aku merasakannya sebelum aku melihatnya. Bahu yang menempel di lenganku tiba-tiba kaku. Napasnya berhenti di tengah. Kakinya tertanam di tepi trotoar seperti akar.

Aku menoleh. Wajahnya putih. Matanya menatap jalan, tapi aku tahu dia tidak melihat jalan Senopati. Dia melihat jalan lain. Jalan di depan gerbang kampus Bandung. Lampu yang berkedip. Mesin tanpa cahaya.

Hujan. Malam. Mobil.

Semuanya sama.

“Nad.”

Dia tidak menjawab. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara.

Aku memindahkan payung ke tangan kiri. Lalu, dengan tangan kanan, aku memegang sikunya.

Hanya sikunya. Aku tidak memeluknya. Aku tidak menariknya. Aku hanya memegang sikunya, cukup erat supaya dia tahu aku ada di sana, cukup longgar supaya dia tahu dia bisa melepaskan diri kapan pun dia mau. Aku bergeser ke kanan, ke sisi jalan, di antara dia dan arah datangnya kendaraan. Bahuku sedikit maju. Tubuhku tahu posisinya sendiri. Tubuhku selalu tahu.

Lalu, seperti lima tahun lalu, sesuatu naik dari dadaku ke tenggorokan. Tanpa direncanakan. Seperti napas.

“Udah—”

Kata itu keluar. Satu kata. Pelan, tertelan hujan.

Nadira menoleh. Sangat cepat. Matanya menatap wajahku, lebar, aneh, seperti dia baru saja mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ada di sini.

Aku menelan sisanya.

Aku menelannya seperti menelan batu. Rasanya turun pelan-pelan ke dada, dan berhenti di sana, dan berat.

“—ayo,” kataku.

Nadira masih menatapku. Hujan menetes dari ujung payung, membasahi bahunya yang tidak terlindungi. Lalu, pelan, dia mengedip, dan apa pun yang tadi ada di matanya hilang. Atau mungkin hanya tenggelam lagi.

“Ayo,” ulangnya, lemah.

Kami menyeberang. Aku tidak melepaskan sikunya. Aku berjalan selangkah di depan, di sisi kanan, payung miring ke arahnya sampai separuh punggungku basah. Kaki kiriku berteriak di setiap langkah. Aku tidak mendengarnya. Aku mendengar napas Nadira di sebelahku, pendek dan cepat, dan aku menghitungnya dalam kepala, seolah menghitung napasnya bisa membuatnya lebih teratur.

Empat jalur. Dua puluh enam langkah. Aku menghitungnya.

Lalu kami sampai di seberang, di lahan parkir berlumpur, di samping Si Lumut. Aku membuka pintu penumpang dan Nadira masuk. Aku menutup payung, berjalan memutar, masuk dari sisi pengemudi, dan duduk.

Kami basah. Si Lumut berbau hujan dan debu AC.

Nadira duduk dengan kedua tangan di pangkuan, menatap kaca depan yang buram oleh air.

“Tadi kamu bilang apa?” tanyanya pelan.

“Apa?”

“Di trotoar. Kamu bilang ‘udah’ terus berhenti.”

Aku menyalakan mesin. Aku menyalakan wiper. Aku menyalakan AC, lalu mengecilkannya, karena dia sudah kedinginan.

“Udah jalan,” kataku. “Maksudku, udah, jalan aja. Ayo.”

Dia diam. Lama.

“Oh,” katanya akhirnya.

Dia menyandarkan kepala ke jendela. Aku menyalakan pemanas, satu-satunya fitur Si Lumut yang masih bekerja dengan sempurna, dan udara hangat mulai mengisi mobil pelan-pelan.


Di tengah perjalanan ke kosnya, di lampu merah Blok M, Nadira mulai menangis.

Tidak keras. Tidak tersedu-sedu seperti di drama Korea. Hanya air mata yang turun diam-diam, satu-satu, dan dia menyekanya dengan lengan blazer seperti orang yang malu ketahuan.

Aku tidak bertanya kenapa. Aku mengambil sekotak tisu dari laci dasbor—di sebelah permen jahe Gilang dan kacang rebus pemberian ibu senam yang sudah pasti basi—dan menaruhnya di pangkuannya.

“Evan batalin,” katanya ke jendela.

“Iya.”

“Kamu tahu?”

“Dia bilang.”

“Urusan kantor mendadak.” Dia tertawa, basah. “Aku udah dandan dari jam lima, Yan. Aku bawa lipstik ke kantor. Aku nggak pernah bawa lipstik ke kantor.”

Aku diam. Lampu hijau. Aku jalan.

“Aku bodoh, ya?” tanyanya.

“Nggak.”

“Aku kayak anak SMA.”

“Kamu kayak orang yang nunggu lima tahun.”

Dia menoleh. Air mata masih di pipinya, mengilap di bawah lampu jalan yang lewat.

“Kok kamu tahu lima tahun?”

Aku mencengkeram setir. Di jam sepuluh dan jam dua, di tempat sarungnya sudah mengelupas.

“Semua orang tahu, Nad,” kataku. “Kamu nggak pernah jago nyembunyiin sesuatu.”

Dia tertawa lagi, dan kali ini tawanya sedikit lebih utuh. Dia menyeka pipinya dengan tisu. Lalu, pelan, dia bersandar ke jok dan menutup mata.

“Kamu selalu ada ya, Yan,” gumamnya.

Aku tidak menjawab.

“Kalau aku sedih. Kalau aku bodoh. Kalau aku kehujanan.” Suaranya mulai mengantuk. “Kamu selalu ada. Kayak... payung. Nggak pernah dipikirin, tapi pas hujan, eh, ada.”

“Payung,” ulangku.

“Payung yang bagus. Gagangnya kayu.”

Dia tertidur sebelum Fatmawati.


Aku mengantarnya sampai depan kos, membangunkannya pelan, dan menunggu sampai lampu kamarnya menyala di lantai dua. Lalu aku menyetir pulang. Jalan sudah lengang. Hujan sudah reda jadi gerimis.

Di rumah, Ibu sudah tidur. Ada botol air panas di atas kasurku, masih hangat, dibungkus handuk kecil. Ibu selalu tahu.

Aku duduk di ujung kasur dan menempelkan botol itu ke tulang kering. Celanaku masih basah. Punggungku masih basah. Payung Bapak tergeletak di lantai kamar, meneteskan air ke ubin.

Aku membungkuk dan menarik kotak sepatu dari bawah kasur.

Aku tidak membukanya. Aku cuma meletakkannya di pangkuan, di atas botol air panas, dan memeluknya seperti orang memeluk sesuatu yang tidak bisa dibuka.

Malam ini aku hampir mengatakannya.

Empat kata. Kalimat yang lima tahun lalu keluar tanpa kurencanakan, dan lima tahun ini kusimpan di bawah kasur bersama sepatu lari yang tidak pernah kupakai lagi.

Aku berhenti di kata pertama.

Dan kata pertama itu sudah cukup untuk membuat Nadira menoleh secepat itu, dengan mata selebar itu, seolah sesuatu di dalam dirinya mengenali suara yang sudah lama dia cari di tempat yang salah.

Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.

Aku menaruh kotak sepatu kembali ke bawah kasur.

Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi lagi.