← Udah, Aku di Sini

Chapter Eleven

Bab 11 — Evan Kenapa, Sih

POV: Nadira


Sprint review Evan selesai hari Selasa. Aku tahu itu karena dia mengunggah foto timnya di Instagram, semua orang memegang donat dan tersenyum lelah di depan papan tulis penuh sticky note, dengan keterangan “Shipped. Finally. 🍩”.

Rabu, dia tidak mengirim pesan.

Kamis, dia mengirim pesan.

Evan: Nad, maaf banget. Minggu ini bokap minta aku nemenin dia ketemu investor. Minggu depan ya. Pasti.

Pasti. Aku menatap kata itu lama. Evan jarang bilang pasti. Dia product manager; dia hidup di dunia “kemungkinan”, “estimasi”, dan “kita lihat di sprint berikutnya”. Kalau Evan bilang pasti, itu berarti sesuatu.

Atau itu berarti dia sedang berusaha sangat keras meyakinkan dirinya sendiri.

Aku membalas: Oke, Van. Nggak apa-apa 😊

Emoji senyum. Aku mengirimnya, lalu menatapnya, dan entah kenapa aku teringat Ryan di lobi kantor malam itu, berdiri di bawah hujan dengan payung gagang kayu, dan bagaimana dia bilang Kamu nggak pernah jago nyembunyiin sesuatu.


Jumat malam, circle akhirnya kumpul lengkap lagi di kafe Kemang.

Evan datang. Tepat waktu, untuk pertama kalinya dalam sejarah spreadsheet Gilang. Gilang sampai berdiri dan bertepuk tangan, dan dua pengunjung di meja sebelah ikut bertepuk tangan tanpa tahu kenapa.

“Kali pertama,” umum Gilang. “Aku harus update spreadsheet. Ini anomali statistik.”

“Mungkin aku sudah tobat,” kata Evan.

“Mungkin kamu sakit.” Gilang menyipitkan mata. “Tensi.”

“Lang, aku baik-baik aja.”

“Orang yang tiba-tiba tepat waktu setelah enam tahun telat itu nggak baik-baik aja, Van. Itu tanda perubahan perilaku mendadak. Bisa stres. Bisa—”

“Bisa jatuh cinta,” kata Zaza, tanpa mengangkat mata dari menu.

Seluruh meja diam.

Evan berhenti di tengah gerakan menarik kursi. Aku berhenti di tengah gerakan menyesap teh tarik. Gilang berhenti di tengah gerakan membuka kotak P3K. Hanya Ryan yang terus melakukan apa yang sedang dia lakukan, yaitu mengupas kacang rebus satu per satu, dengan wajah datar seperti tidak mendengar apa-apa.

“Bercanda,” kata Zaza, membalik halaman menu. “Ya ampun. Kalian kayak ngelihat hantu.”

Evan tertawa, pendek dan sedikit terlalu keras, dan duduk.

Bukan di kursi kosong di sebelahku. Di kursi di ujung meja. Di sebelah Zaza. Di tempat yang paling jauh dari aku.

Aku menatap kursi kosong di sebelahku. Americano dingin tanpa gula masih di sana, dipesan Ryan seperti biasa, berembun dan tidak tersentuh.

“Van,” kata Ryan, tanpa menoleh. “Kopimu di sini.”

“Oh.” Evan menatap gelas itu. “Iya. Nggak apa-apa, aku pesan baru aja. Aku lagi mau teh.”

Evan tidak pernah mau teh. Evan bilang teh adalah “air yang nggak punya pendirian”.

Ryan mengangguk. Lalu dia mengambil americano itu, menggesernya ke depannya sendiri, dan meminumnya. Pelan. Tanpa ekspresi. Seolah itu memang pesanannya dari awal.

Aku memperhatikan, dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa Ryan tidak suka americano. Ryan suka kopi tubruk. Kopi hitam yang ampasnya mengendap di dasar gelas, yang dia minum di warung dekat kantornya setiap pagi. Aku tahu itu karena dia pernah menyebutnya sekali, bertahun-tahun lalu, dan entah kenapa aku mengingatnya.

Dia meminum americano itu sampai habis. Tanpa protes.


“Kita punya masalah,” kata Zaza setelah makanan datang.

“Masalah apa?” tanya Gilang dengan mulut penuh kentang goreng.

“Masalah panitia.” Zaza melirik Evan dengan tajam. “Yang ulang tahun boleh tutup kuping.”

Evan menutup kuping dengan kedua tangan. Dengan sangat patuh. Lalu dia menatap ke luar jendela seperti anak kecil yang sedang dihukum, dan aku harus menggigit pipi bagian dalam supaya tidak tertawa.

“Rooftop-nya,” kata Zaza, merendahkan suara. “Dobel booking.”

“Hah?”

“Manajernya baru bilang tadi siang. Tanggal yang kita mau, sudah dipesan duluan sama klien nikahan. Nikahan, Lang. Mereka nggak mungkin ngalah. Nikahan selalu menang.”

“Terus?”

“Terus aku negosiasi tiga jam.” Zaza memijat pelipisnya. “Dapat tanggal pengganti. Tiga minggu setelah tanggal aslinya.”

“Tiga minggu setelah ulang tahunnya?” Gilang meletakkan kentang gorengnya. “Za, itu bukan pesta ulang tahun lagi. Itu pesta peringatan ulang tahun.”

“Kita rayain kecil-kecilan di tanggal aslinya. Makan malam berlima. Terus pesta besarnya di rooftop, tiga minggu kemudian. Dua kali perayaan.” Zaza menatap kami satu per satu. “Itu yang namanya strategi.”

“Itu yang namanya kamu gagal,” kata Gilang.

“Lang. Aku punya akses ke daftar vendor blacklist seluruh Jakarta Selatan.”

“Strategi yang brilian, Za. Sangat brilian.”

Aku tidak ikut berdebat. Aku sedang menghitung. Tiga minggu lebih lama. Jadi totalnya... delapan minggu dari malam aku bilang ke Zaza. Aku sudah memutuskan untuk bicara di hari H. Bukan di makan malam kecil berlima. Di rooftop, dengan lampu-lampu emas dan tema Golden Twenty-Eight, seperti yang sudah kubayangkan.

Tiga minggu lagi untuk menunggu.

Tiga minggu lagi untuk berlatih.

Aku tidak tahu kenapa, tapi waktu pikiran itu lewat, mataku melirik ke arah Ryan. Dia sedang menuang air putih ke gelas Gilang yang sudah kosong. Tanpa diminta.


Lalu Gilang hampir membocorkan semuanya.

Bukan sengaja. Gilang tidak pernah membocorkan sesuatu dengan sengaja. Gilang membocorkan sesuatu dengan cara yang sama seperti keran bocor: pelan, terus-menerus, dan tanpa sadar.

“Nad,” katanya, waktu kami sedang membahas jalan macet ke Bekasi. “Kamu ke klien Bekasi besok naik apa? Naik kop—”

Dia berhenti.

Aku menatapnya. Dia menatapku. Ryan, di sebelahku, menatap gelas kopinya yang sudah kosong.

“—kopi,” kata Gilang. “Naik... kopi. Maksudku. Kamu minum kopi dulu sebelum berangkat? Biar nggak ngantuk. Di jalan. Kopi lingkungan. Kopi... yang ramah lingkungan.”

“Kopi lingkungan?” tanya Zaza.

“Itu istilah,” kata Gilang, dengan keringat mulai muncul di dahinya. “Di jurnal—”

“Lang.”

“Oke, bukan istilah.”

Evan, yang sejak tadi diam, menatap Gilang dengan dahi berkerut. “Kamu kenapa, Lang?”

“Aku kurang magnesium,” kata Gilang cepat, dan mengambil botol kecil dari kotak P3K-nya, menelan dua butir tanpa air. “Lihat. Aku lagi menangani.”

Aku menendang kaki Gilang di bawah meja. Gilang menjerit. Aku pura-pura batuk. Zaza menatap kami bergantian dengan mata menyipit seperti detektif yang sudah tahu jawabannya tapi menunggu tersangka mengaku sendiri.

Ryan, dengan wajah sangat datar, mengambil kacang rebus terakhir di piring dan menaruhnya di depan Gilang.

“Makan,” katanya. “Biar mulutmu sibuk.”

Gilang makan.


Malam itu, tagihan datang lagi, dan seperti biasa ada perdebatan.

Ryan mengeluarkan dompet. Gilang menyambar, seperti biasa: “Biarin Ryan. Dia kan butuh latihan bayar tepat waktu. Orangnya telat lulus.”

Semua tertawa. Gilang. Zaza. Evan—tawa yang sedikit dipaksakan, tapi tawa.

Aku tidak tertawa.

Aku tidak merencanakannya. Aku hanya... tidak bisa. Lelucon itu, yang sudah kudengar ratusan kali selama empat tahun, tiba-tiba terdengar berbeda. Seperti lagu yang selalu kau nyanyikan lalu suatu hari kau benar-benar membaca liriknya dan sadar liriknya tentang orang yang meninggal.

Telat lulus. Empat bulan di rumah sakit. Dua pen. Tongkat di hari wisuda. Wisuda yang hanya dihadiri ibunya dan Gilang, karena kami bertiga sudah sibuk kerja di Jakarta. Karena aku sibuk kerja di Jakarta. Karena aku sibuk menangisi Evan.

Ryan bilang, “Iya, iya,” seperti biasa, dan menyerahkan kartu.

Dia tidak melihat bahwa aku tidak tertawa. Atau mungkin dia melihat. Dengan Ryan, aku tidak pernah tahu.

Tapi Zaza melihat. Waktu aku mengangkat kepala, mata Zaza sudah ada di wajahku. Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang sama seperti waktu dia tersedak gula cair: tertutup, seperti pintu yang dikunci dari dalam.


Waktu kami keluar dari kafe, Evan pamit duluan. Mobilnya diparkir di minimarket lagi, dan dia berjalan cepat ke sana dengan ponsel di telinga, tanpa menunggu siapa-siapa.

Dia tidak menawariku tumpangan.

Aku berdiri di depan kafe, menatap punggungnya, dan merasakan sesuatu yang dingin turun dari dada ke perut.

“Dia kenapa, sih,” gumamku.

“Siapa?” tanya Gilang, yang sedang mengoleskan minyak kayu putih ke tengkuk.

“Evan.”

Gilang berhenti mengoles. Dia menatapku, lalu menatap Ryan yang berdiri di sebelahku, lalu kembali menatapku. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Untuk sekali itu, Gilang tidak punya teori.

“Mungkin dia capek,” kata Zaza. Dia sudah membuka pintu mobilnya. “Kerjaan. Bapaknya. Ulang tahun. Orang kalau mau ulang tahun ke dua puluh delapan suka mikir aneh-aneh. Krisis seperempat abad yang kedua.”

“Itu bukan istilah, Za,” kata Gilang.

“Sekarang jadi istilah. Aku yang bikin.” Zaza menatapku dari balik pintu mobil. “Nad. Pulang sama aku?”

“Aku sama Ryan,” kataku.

Aku tidak tahu kenapa aku bilang itu. Aku tidak merencanakannya. Biasanya aku pulang naik ojol, atau Zaza mengantar, atau Evan menawarkan dan ditolak telepon ayahnya. Aku tidak pernah bilang aku sama Ryan. Tidak di depan circle.

Gilang mengangkat alis dua kali. Cepat. Agen rahasia.

Zaza menatapku lama. Lalu dia menatap Ryan. Lalu dia masuk ke mobil dan menutup pintunya tanpa bilang apa-apa.

Ryan, di sebelahku, tidak bereaksi. Dia hanya mengeluarkan kunci Si Lumut dari saku dan menyerahkannya padaku.

“Kamu nyetir,” katanya.


Aku menyetir. Ryan duduk di kursi penumpang dengan kaki kiri diluruskan, kepala bersandar ke jendela. Malam itu tidak hujan, dan kaki kirinya tidak bicara, katanya. Tapi aku memperhatikan, waktu dia masuk mobil, bahwa dia mengangkat kaki kirinya dengan dua tangan.

“Yan.”

“Hm.”

“Evan kenapa, sih?”

Ryan tidak langsung menjawab. Kami melewati Blok M, lampu-lampu toko berkelebat di kaca jendela.

“Kamu sahabatnya,” lanjutku. “Kamu pasti tahu. Dia jauhin aku. Dia duduk di ujung meja. Dia nggak minum kopinya. Dia nggak nawarin aku pulang. Dia bilang ‘pasti’ minggu depan tapi aku nggak percaya dia bakal datang.”

“Mungkin dia gugup.”

Aku melirik Ryan. Dia menatap jalan di depan, tidak menatapku.

“Gugup?”

“Kamu bilang sendiri. Dia mau ngomong sesuatu yang penting.”

“Iya.” Aku mencengkeram setir di jam sepuluh dan jam dua. “Iya. Dia gugup. Itu masuk akal kan? Orang kalau mau ngomong sesuatu yang penting, mereka gugup. Mereka ngehindar. Mereka duduk jauh-jauh karena takut keceplosan.”

“Mungkin.”

“Itu artinya dia juga ngerasain sesuatu.”

Ryan diam.

“Ya kan, Yan? Kalau dia nggak ngerasain apa-apa, dia nggak bakal segugup itu. Dia bakal biasa aja. Dia bakal duduk di sebelahku kayak biasa dan minum americano-nya kayak biasa dan nganter aku pulang kayak biasa.”

“Lampu merah,” kata Ryan.

Aku mengerem. Si Lumut berhenti pelan, mulus, tanpa lompatan.

Ryan masih menatap ke depan. Di bawah cahaya merah lampu lalu lintas, wajahnya terlihat lebih keras. Rahangnya mengeras sedikit, lalu mengendur.

“Nad,” katanya pelan.

“Hm?”

“Kamu nggak usah nunggu dia.”

Aku menoleh. “Maksudnya?”

“Kalau kamu mau ngomong, ngomong. Jangan nunggu dia ngomong duluan.” Dia akhirnya menoleh padaku. Matanya tenang, terlalu tenang, seperti air danau yang di bawahnya ada sesuatu yang sangat dalam. “Kamu sudah nunggu lima tahun. Jangan nunggu lagi.”

Lampu hijau. Aku tidak langsung jalan. Mobil di belakang membunyikan klakson, sekali, pendek.

“Jalan,” kata Ryan.

Aku jalan.

Sisa perjalanan kami diam. Tapi di dalam kepalaku, kata-kata Ryan berputar terus, dan sampai di depan kos aku sudah membuat keputusan.

Aku tidak akan menunggu Evan bicara minggu depan. Atau minggu depannya lagi. Aku tidak akan menunggu dia mengumpulkan keberanian, atau berhenti gugup, atau selesai menemani ayahnya bertemu investor.

Aku yang akan bicara. Di hari H. Di rooftop. Di bawah lampu-lampu emas.

“Makasih, Yan,” kataku, waktu Si Lumut berhenti di depan kos.

“Buat?”

“Udah dengerin. Udah ngasih saran.” Aku tersenyum. “Kamu bener. Aku yang harus ngomong duluan.”

Ryan mengangguk. Dia membuka pintunya, keluar, dan berjalan memutar ke sisi pengemudi untuk mengambil alih. Aku keluar dan berdiri di depannya, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip lemah.

Lampu jalan yang berkedip.

Aku menatapnya sebentar. Lampu kos ini selalu berkedip, sudah dua tahun, dan aku sudah terbiasa. Tapi malam ini, entah kenapa, kedipannya membuat bagian belakang kepalaku berdenyut pelan.

“Nad?”

“Hm? Oh. Nggak apa-apa.” Aku menggeleng. “Hati-hati di jalan, Yan.”

“Kamu juga. Masuk.”

Aku masuk. Aku naik tangga ke lantai dua. Aku menyalakan lampu kamar.

Dari jendela, aku melihat Si Lumut masih di sana. Lampunya mati. Mesinnya mati. Ryan duduk di balik kemudi, tidak bergerak, kepala sedikit tertunduk.

Lima menit. Sepuluh menit.

Baru setelah lima belas menit, lampu Si Lumut menyala, dan mobil hijau itu berjalan pelan meninggalkan gang.

Aku berdiri di jendela lama setelah itu, bertanya-tanya apa yang dia pikirkan selama lima belas menit di dalam mobil yang gelap.

Aku tidak bertanya. Aku tidak pernah bertanya.

Tapi untuk pertama kalinya, aku ingin.