Chapter Forty Seven
Epilog — Sisi Jalan
POV: Nadira
Tujuh hari sebelum akad, kami berjalan kaki ke rumah baru.
Rumah itu tiga gang dari rumah Bu Ratna. Rumah kecil satu lantai dengan cat putih yang baru kering, pagar besi hitam yang baru dipasang, dan halaman sempit dengan satu pohon jambu air yang sudah berbuah. Ruang tamu kecil. Dapur dengan kompor yang apinya tidak seperti naga. Dua kamar.
Dan di kamar yang lebih besar, jendela yang menghadap timur.
Ryan yang menemukannya. Dia mencari selama tiga bulan, dengan peta tata ruang Pasar Minggu di dua monitor kantornya dan spreadsheet yang—kata Fajar—”lebih rumit dari spreadsheet keterlambatan Evan milik Gilang”. Dia menghitung jarak setiap kandidat rumah ke rumah Bu Ratna, ke stasiun, ke klinik Mbak Ayu. Dia mencatat arah setiap jendela kamar dengan kompas.
“Kamu ngukur arah jendela pakai kompas?” tanyaku waktu dia menunjukkan spreadsheet itu.
“Kamu bilang matahari pagi.”
“Aku nggak bilang. Kamu yang bilang. Di dapur.”
“Iya.” Dia menatap layar. “Aku yang bilang. Jadi aku yang ngukur.”
Gang menuju rumah baru itu sempit. Cukup lebar untuk satu mobil, tapi tidak dua. Ada got di satu sisi, rumah-rumah di sisi lain, dan sesekali motor yang lewat dengan klakson yang terlalu keras.
Kami berjalan berdampingan.
Ryan bergerak ke kanan. Ke sisi jalan. Ke sisi dari mana motor-motor datang.
Aku menahan lengannya.
Dia menoleh.
Aku melangkah melewatinya. Aku berdiri di sisi kanan.
Dia menatapku. Lalu, dengan wajah sangat datar, dia melangkah melewatiku. Berdiri di sisi kanan lagi.
Aku melangkah lagi. Ke kanan.
Dia melangkah lagi. Ke kanan.
Kami sekarang berjalan miring. Hampir masuk ke got.
“Yan.”
“Hm.”
“Gantian. Kamu yang nulis.”
“Kemarin kamu yang di sisi jalan.”
“Kemarin di jalan raya. Ini gang.”
“Gang juga jalan.”
“Gang itu setengah jalan.”
“Berarti kamu setengah gantian.”
Aku berhenti. Aku menatapnya. Dia menatapku. Sebuah motor lewat di sebelah kami, membunyikan klakson panjang karena kami berdua berdiri hampir di tengah gang.
Dari sebuah rumah di pinggir gang, seorang ibu tua yang sedang menyapu teras berhenti menyapu dan menatap kami dengan heran.
Lalu Ryan tertawa. Dengan suara. Aku sudah berhenti menghitung berapa kali dia tertawa sekarang. Terlalu banyak untuk dihitung.
“Oke,” katanya. “Kompromi.”
Dia mengambil tanganku. Dia menggenggamnya. Lalu dia melangkah ke tengah gang. Bukan ke kanan. Bukan ke kiri. Ke tengah. Dan dia menarikku bersamanya, sehingga kami berjalan berdampingan di tengah gang sempit, bergandengan tangan, dengan satu orang di masing-masing sisi.
“Ini nggak efisien,” kataku. “Motor nggak bisa lewat.”
“Biarin. Nanti kita minggir.”
“Bareng?”
“Bareng.”
Kami berjalan di tengah gang. Motor yang datang dari belakang membunyikan klakson. Kami minggir. Bareng. Ke kiri. Motor lewat. Kami kembali ke tengah.
Ibu tua di teras tersenyum dan kembali menyapu.
Di depan rumah baru, ada pesan di ponselku.
Dari Zaza. Foto.
Foto itu diambil di sebuah gedung pernikahan, dengan dekorasi emas dan putih yang jelas-jelas rancangan Zaza sendiri. Di tengah foto, Zaza berdiri dengan blazer kerja hitam dan walkie-talkie di tangan dan wajah yang membeku dalam ekspresi paling kaget yang pernah kulihat di wajahnya. Di depannya, berlutut, Evan. Dengan kotak cincin terbuka.
Di belakang mereka, layar proyektor. Menampilkan rundown acara. Segmen sepuluh.
SEGMEN 10: KEJUTAN.
Zaza: NAD
Zaza: DIA NGELAMAR AKU DI NIKAHAN KLIENKU
Zaza: DI SEGMEN 10
Zaza: DIA NYOGOK KLIENKU BUAT NGGANTI ISI SEGMEN KEJUTAN
Zaza: KLIENKU SETUJU
Zaza: PENGANTINNYA NANGIS LEBIH KERAS DARI AKU
Aku: ZA KAMU TERIMA?
Zaza: ...
Zaza: Iya
Zaza: Ternyata segmen 10 itu emang buat diisi orang yang mau ngomong sesuatu
Zaza: Telat enam tahun dari rencanaku tapi iya
Aku menunjukkan layar itu pada Ryan. Dia membacanya. Lalu dia tersenyum. Dengan kerutan di sudut mata.
“Dia ngumpulin keberanian,” katanya.
“Lama.”
“Evan lambat.”
“Kalian berdua lambat.”
“Iya.” Ryan menatap foto itu lagi. Evan berlutut, di depan layar segmen sepuluh. “Tapi sampai.”
Kami membuka pintu rumah baru.
Kosong. Lantai keramik putih yang baru dipel. Bau cat yang belum hilang sepenuhnya. Jendela-jendela yang dibuka lebar, membiarkan angin siang masuk dan membawa bau pohon jambu air dari halaman.
Hanya ada tiga barang di dalam rumah itu.
Kasur dua meter, di kamar dengan jendela menghadap timur. Bu Ratna yang mengirimnya dari rumahnya, diangkat oleh Pak Kasim dan dua tukang bangunan, karena Bu Ratna bilang Ibu udah punya kasur sendiri, ini buat kalian, Ibu belinya memang buat kalian dari awal.
Rak kayu. Kecil. Dengan kaca di depannya. Di ruang tamu, di dinding yang menghadap pintu. Di dalamnya, hanya ada satu benda. Medali perunggu dengan pita oranye bertuliskan JAKARTA FUN RUN 5K — FINISHER. Di sebelahnya, ruang kosong. Banyak ruang kosong.
Dan jaket varsity merah. Digantung di gantungan kayu di samping pintu. Dengan bordir EVAN di dada kiri dan bayangan cokelat diagonal di punggung, menghadap ke dinding.
“Ruang kosongnya banyak,” kataku, menatap rak itu.
“Mbak Ayu bilang tahun depan sepuluh kilo,” kata Ryan.
“Kamu mau lari sepuluh kilo?”
“Mbak Ayu yang bilang.”
“Kamu mau?”
Dia menatap rak itu. Medali perunggu sendirian di dalamnya.
“Mau,” katanya. “Kalau kamu di sebelahku.”
Kenzo yang akan membuat kopi di akad. Dia menawarkan diri lewat Evan, dengan pesan yang sangat pendek dan sangat formal: Kak, kalau boleh, saya mau bikin kopi buat tamu. Gratis. Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa. Ryan membalas dengan satu kalimat: Bikin kopi tubruk. Gula aren. Setengah sendok.
Pak Hendrawan Wiratama menerima undangan. Dia membalas lewat pos. Surat tulisan tangan di kertas tebal berwarna krem, dengan huruf yang rapi dan kaku, seperti huruf orang yang tidak terbiasa menulis surat sendiri.
Saya akan datang. Saya akan duduk di belakang. Istri saya juga. Terima kasih sudah mengundang.
Untuk Ibu Ratna: saya masih ingat rasa kue sus yang gosong. Dan yang tidak.
Bu Ratna membaca surat itu tiga kali, lalu melipatnya, lalu menyimpannya di album foto bersampul kain cokelat. Di halaman tengah. Di sebelah foto-foto kekuningan dari rumah sakit Bandung.
Papa Hadi akhirnya bertemu Gilang. Di Bandung. Gilang datang bersama Laras, membawa sekotak vitamin dan sebungkus permen jahe. Papa bertanya rhesusnya. Gilang menjawab. Papa bertanya golongan darah Laras. Gilang menjawab sebelum Laras sempat. Papa menatapnya lama dan bilang, Kamu orang pertama selain Ryan yang tahu rhesus pasangannya. Gilang menangis. Laras menepuk punggungnya.
Mereka sudah kencan ketujuh. Gilang menanyakan tetanus di kencan ketiga. Tepat waktu.
Kami berdiri di kamar dengan jendela menghadap timur.
Siang hari. Matahari tidak masuk dari jendela itu sekarang. Matahari ada di atas kepala, panas, membuat bayangan pohon jambu air jatuh tepat di bawahnya. Tapi besok pagi, dan lusa, dan setiap pagi setelah tujuh hari lagi, matahari akan masuk dari jendela itu. Ke kasur dua meter. Ke kaki yang tidak lagi menggantung setengah jengkal.
Ryan berdiri di depan jendela. Aku berdiri di sebelahnya.
“Tujuh hari,” kataku.
“Iya.”
“Habis itu pintunya nggak dikunci lagi.”
Dia diam. Telinganya mulai merah.
“Rahasia negara,” kataku, pelan, dengan bibir yang sangat dekat dengan telinganya yang merah. “Tujuh hari lagi dideklasifikasi.”
“Nad.”
“Aku cuma ngingetin.”
“Aku orang sabar.”
“Aku tahu. Lima tahun.” Aku tersenyum. Lesung pipi kiriku muncul. Aku tahu dia melihatnya, karena matanya langsung turun ke sana, seperti selalu. “Enam hari, dua puluh tiga jam, lima puluh menit.”
Ryan menutup wajah dengan dua tangan.
Lalu, dari balik tangannya, dengan suara yang teredam dan sangat datar:
“Kamu ngitung.”
“Kamu yang ngajarin aku ngitung.”
Kami keluar dari rumah baru menjelang sore.
Di ujung gang, ada jalan yang lebih besar. Jalan dua jalur dengan angkot dan motor dan gerobak sayur. Kami harus menyeberang untuk kembali ke rumah Bu Ratna, tempat opor sudah dimasak dan kue sus sudah dipanggang dan Bu Ratna sudah menelepon dua kali bertanya kenapa kami lama sekali.
Kami berhenti di tepi trotoar.
Dulu, di tepi trotoar seperti ini, lututku lupa caranya jadi lutut.
Dulu, di tepi trotoar seperti ini, ada laki-laki yang muncul diam-diam di sisi kananku, di sisi jalan, dengan tangan di saku jaket dan wajah datar, dan bilang satu kata.
Sekarang, di tepi trotoar ini, aku tidak membeku.
Ryan tidak bergerak ke kanan. Aku tidak bergerak ke kanan. Kami hanya berdiri. Bergandengan. Menatap jalan.
Satu motor lewat. Satu angkot. Lalu kosong.
Aku tidak perlu menghitung napas. Dia juga tidak.
Kami melangkah turun dari trotoar. Bersama. Di tengah. Tangan bergandengan. Tidak ada yang di sisi jalan. Atau mungkin kami berdua di sisi jalan, masing-masing menjaga satu arah. Aku melihat ke kanan. Dia melihat ke kiri.
Gantian, tanpa harus memutuskan siapa duluan.
Lima tahun aku menyimpan empat kata.
Aku menyimpannya di bagian belakang kepala, di titik yang dulu benjol sebesar telur puyuh, di antara bau hujan dan warna merah. Aku menyimpannya untuk orang yang salah. Aku menyimpannya dengan sangat hati-hati, seperti menyimpan jaket di lemari dalam plastik dry cleaning yang menguning.
Sekarang empat kata itu tidak lagi disimpan.
Sekarang empat kata itu tinggal di rumah kecil dengan jendela menghadap timur, tiga gang dari rumah Bu Ratna. Di kasur dua meter. Di rak kayu dengan satu medali dan banyak ruang kosong. Di jaket merah yang digantung di samping pintu.
Di laki-laki yang menyeberang jalan di sebelahku sekarang, dengan langkah yang sedikit miring ke kanan, dan tangan yang tidak pernah melepaskan tanganku.
Kami sampai di seberang.
Dia menoleh dan menatapku. Dia tidak bilang apa-apa.
Dia tidak perlu.
Kami berdua sudah tahu kalimatnya.
Tamat.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan reading