Chapter Two
Bab 2 — Hitungan Napas
POV: Ryan
Kaki kiriku selalu tahu lebih dulu kalau mau hujan.
Ibu bilang itu kelebihan. “Kamu jadi kayak BMKG berjalan, Le.” Dia mengatakannya sambil tertawa, tapi setiap kali awan mulai menggantung rendah di atas Jakarta, aku melihatnya diam-diam menaruh botol air panas di dekat tempat tidurku.
Malam ini kaki kiriku mulai bicara sejak di kafe. Bukan sakit, belum. Lebih seperti ada orang kecil yang mengetuk-ngetuk tulang keringku dari dalam, sopan, tapi tidak mau berhenti. Waktu berjalan ke apotek bersama Nadira, ketukan itu berubah jadi dengungan. Waktu aku menyetir pulang ke Pasar Minggu, dengungan itu naik ke panggul.
Di lampu merah Pejaten, hujan turun lagi.
Aku menyandarkan kepala ke jok dan mulai menghitung.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Fisioterapis di Bandung yang mengajarkannya, lima tahun lalu, waktu aku masih belajar berdiri lagi dengan kaki yang rasanya seperti milik orang lain. Namanya Mbak Ayu. Dia bilang, “Napas itu satu-satunya hal yang bisa kamu kontrol waktu badanmu nggak mau nurut. Jadi kontrol itu.” Aku menghitung napas di ruang rehabilitasi selama empat bulan. Aku menghitung napas waktu wisuda sendirian. Aku menghitung napas waktu menolak tawaran klub lari yang dulu sudah setengah jalan merekrutku.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Lampu hijau. Klakson di belakangku. Aku jalan.
Rumah kami kecil, di gang yang cukup lebar untuk satu mobil dan satu gerobak bakso, tapi tidak keduanya sekaligus. Lampu teras menyala. Lampu dapur juga. Itu artinya Ibu belum tidur, dan itu artinya dia sedang mengerjakan pesanan kue.
Aku membuka pintu, dan bau mentega langsung menyerangku.
“Le? Sudah makan?”
“Sudah, Bu.”
“Makan apa?”
“Pisang goreng.”
Ibu muncul dari dapur dengan celemek bergambar bebek dan tangan penuh tepung. Dia menatapku dari atas ke bawah, lalu berhenti di kaki kiriku. Ibu selalu berhenti di kaki kiriku. Aku sudah berhenti mencoba berdiri tegak di depannya, karena tidak ada gunanya; matanya lebih tajam dari mesin rontgen.
“Pisang goreng itu bukan makan. Itu camilan,” katanya. “Duduk. Ibu panasi sayur asem.”
“Bu, aku kenyang.”
“Kamu kenyang, kaki kamu nggak. Duduk.”
Aku duduk. Melawan Ibu sama sia-sianya dengan melawan hujan.
Dia menaruh semangkuk sayur asem di depanku, lalu, tanpa bicara, menaruh botol air panas di pangkuanku. Aku menempelkannya ke tulang kering. Hangatnya merembes pelan, dan orang kecil di dalam tulangku berhenti mengetuk sebentar.
“Kenapa nggak bilang dari tadi kalau ngilu,” kata Ibu sambil kembali ke adonannya.
“Belum ngilu tadi.”
“Bohong. Kamu jalan kayak bebek kesleo dari pintu.”
“Bebek nggak bisa kesleo, Bu.”
“Bisa. Bebek Bu Darsih kemarin kesleo. Disuruh Pak Darsih lari dari anjing tetangga.”
Aku tidak tahu apakah itu benar. Dengan Ibu, aku tidak pernah tahu. Tapi aku menghabiskan sayur asemnya sampai tetes terakhir, karena itu satu-satunya cara supaya dia berhenti melirik ke arahku setiap tiga detik.
“Kue pesanan siapa?”
“Bu Lurah. Tiga ratus kue sus. Anaknya lamaran Minggu.” Ibu mendengus. “Lamaran pakai kue sus. Zaman Ibu dulu, lamaran pakai pisang satu tandan, sudah cukup.”
“Bapak dulu bawa pisang?”
“Bapakmu bawa pisang yang salah. Pisang kepok. Mbah Putri mau pisang raja.” Ibu tersenyum kecil, ke arah adonan, bukan ke arahku. “Tapi Ibu terima juga. Habis Bapakmu kelihatan mau pingsan.”
Bapak meninggal waktu aku sebelas tahun. Ibu tidak pernah menikah lagi. Dia bilang dia sudah terlalu tua untuk mengajari laki-laki lain membedakan pisang.
Aku mencuci mangkuk, mengecup puncak kepalanya yang berbau tepung, lalu masuk ke kamar.
Kamarku tidak banyak berubah sejak SMA. Rak buku dengan peta-peta lama. Meja dengan dua monitor dan tumpukan kertas kerja. Kasur yang terlalu pendek setengah jengkal, sehingga kakiku selalu menggantung di ujung. Dan di bawah kasur itu, kotak sepatu.
Aku tidak membukanya. Aku jarang membukanya. Tapi aku tahu isinya: sepasang sepatu lari biru tua dengan sol yang sudah aus di bagian depan, karena aku selalu lari dengan berat di ujung kaki. Sepatu yang kupakai di lomba terakhirku, sebulan sebelum malam itu. Waktu tempuhku di 5.000 meter hari itu: enam belas menit lima puluh dua detik. Pelatih klub mahasiswa menepuk bahuku dan bilang, “Tahun depan kamu di bawah enam belas, Yan. Saya jamin.”
Tahun depan, aku belajar jalan lagi di lorong rumah sakit dengan tongkat.
Aku membuka kemeja, dan di cermin lemari aku melihatnya.
Aku tidak sering melihatnya juga. Bekas luka itu ada di punggung, jadi aku harus memutar badan dan menoleh ke belakang untuk melihat semuanya, dan biasanya aku tidak repot-repot. Tapi malam ini, entah kenapa, aku memutar badan.
Garis panjang, dua puluh lima senti, dari belikat kanan turun miring ke pinggang kiri. Kulitnya sudah memucat, lebih terang dari kulit di sekitarnya, sedikit menonjol seperti jahitan pada kain yang dijahit terburu-buru. Dokter bilang itu dari kaca spion dan bagian depan mobil yang menyerempet waktu aku berputar. Dokter juga bilang aku beruntung, karena tiga senti lebih ke tengah, dan aku tidak akan pernah berjalan lagi.
Aku tidak merasa beruntung waktu itu. Sekarang, kadang-kadang, aku merasa begitu.
Kadang-kadang.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Ponselku bergetar di atas meja.
Aku memakai kaos, duduk di ujung kasur, dan membuka grup yang dibuat Gilang dua hari lalu tanpa persetujuan siapa pun. Panitia HUT Evan ke-28 (JANGAN BILANG EVAN).
Gilang: Pokoknya ada yang mau ngomong sesuatu ke Evan di hari H 🫢
Aku sudah tahu, Lang.
Bukan. Aku tidak mengetik itu. Aku cuma membacanya di kepala, karena itu yang terlintas.
Aku memang sudah tahu. Aku tahu sejak sebelum Nadira sendiri tahu. Aku tahu sejak dia mulai tertawa sedikit terlalu keras setiap kali Evan melempar lelucon yang tidak terlalu lucu. Sejak dia mulai duduk di kursi yang paling dekat dengan kursi Evan. Sejak dia berhenti bilang “Evan” dan mulai bilang “Van”, dengan suara yang sedikit lebih rendah, seperti orang yang menyimpan sesuatu di balik nama itu.
Aku tahu, dan aku tidak pernah melakukan apa-apa, karena memang tidak ada yang bisa kulakukan.
Pekerjaanku membuat peta. Aku sudah memetakan garis pantai utara Jawa dari citra satelit, kontur perbukitan di selatan Bogor sampai interval lima meter, aliran sungai yang berbelok-belok di Karawang sampai ke setiap tikungannya. Aku bisa memberitahumu kemiringan sebuah lereng hanya dari jarak antargaris di atas kertas. Aku bisa menemukan titik tertinggi di sebuah kabupaten dengan mata tertutup.
Aku tidak pernah bisa memetakan wajahnya.
Aku sudah mencoba. Diam-diam, di ujung meja kafe Kemang, setiap Jumat, delapan tahun. Tidak ada skala yang cukup. Rambutnya jatuh bergelombang ke bahu seperti garis kontur yang digambar tangan yang tidak pernah belajar menggambar lurus, dan entah bagaimana justru itu yang membuatnya sempurna. Matanya selalu menyimpan sesuatu yang belum selesai, tawa yang belum keluar, tangis yang belum turun, seperti langit sore yang belum memutuskan mau hujan atau tidak. Dan waktu dia tertawa, seluruh ruangan di sekitarnya berubah, dengan cara yang tidak bisa diukur alat apa pun yang kupunya: orang-orang di meja sebelah berhenti bicara, pelayan memperlambat langkah, bahkan lampu gantung dengan kabel berselotip itu seperti menyala sedikit lebih terang.
Malam ini ada laki-laki di meja tengah yang mengirim kue cubit dan tisu bertulisan. Itu yang keempat bulan ini, kata Gilang. Aku tidak perlu Gilang untuk tahu. Aku menghitung juga. Aku selalu menghitung.
Setiap peta butuh satu titik nol. Satu titik acuan yang tidak bergerak, tempat semua ketinggian lain diukur. Di Indonesia, titik itu ada di sebuah pilar beton tua di pelabuhan, tempat permukaan laut rata-rata pertama kali dicatat seratus tahun lalu.
Titik nolku ada di pipi kirinya.
Lesung pipi yang muncul kalau dia tertawa sungguhan, bukan tertawa sopan. Delapan tahun, semua hal lain dalam hidupku kuukur dari sana. Seberapa jauh aku boleh duduk. Seberapa lama aku boleh menatap. Seberapa dalam aku boleh jatuh tanpa ada yang tahu.
Jawabannya selalu sama. Ujung meja. Sebentar saja. Sedalam apa pun, asal diam.
Malam ini di kafe, aku melihatnya bicara dengan Zaza. Aku tidak bisa membaca gerak bibir seperti Gilang, tapi aku tidak perlu. Wajah Zaza waktu tersedak sudah cukup. Wajah Nadira, merah sampai telinga, sudah cukup.
Enam minggu lagi. Di ulang tahun Evan.
Zaza: Lang. Hapus.
Gilang: Kenapa?
Zaza: Hapus atau aku masukin kamu ke daftar vendor blacklist.
Gilang: Aku bukan vendor.
Zaza: Aku bisa bikin kamu jadi vendor, terus aku blacklist.
Gilang menghapus pesan ini.
Gilang: Udah. Tapi kalian semua sudah baca kan 😌
Nadira: AKU BENCI KAMU, LANG
Gilang: Kamu nggak benci aku. Kamu cuma panik. Ini normal. Mau aku kirimin vitamin B kompleks?
Aku menatap layar. Jempolku melayang di atas keyboard.
Aku mengetik: Bagus. Evan baik.
Lalu aku menatap dua kata itu lama.
Evan memang baik. Itu bukan bohong. Evan sahabatku sejak kami berumur lima belas, sejak dia menolongku dari tiga anak kelas sebelah yang memalakku di belakang kantin, padahal waktu itu tubuhnya juga kurus dan dia juga tidak bisa berkelahi. Dia cuma berdiri di depanku dan bilang, “Kalau mau, pukul aku duluan,” dan entah bagaimana itu berhasil. Evan yang mengajari aku cara bicara dengan perempuan, walaupun aku tidak pernah benar-benar berhasil. Evan yang duduk di samping ranjangku di rumah sakit, setiap hari selama dua minggu pertama, sampai perawat mengira dia saudaraku.
Evan yang lima tahun ini memikul sesuatu yang bukan miliknya, karena aku yang memintanya.
Aku menghapus pesan itu. Aku tidak mengirim apa-apa ke grup panitia.
Di grup circle yang biasa, aku mengetik: Nad sudah sampai?
Kirim.
Satu menit. Dua menit. Lalu:
Nadira: sudah 🙏 makasih ayah ryan
Aku menaruh ponsel di meja, telungkup.
Aku jarang membiarkan diriku mengingat malam itu dengan utuh. Ingatan itu seperti kotak sepatu di bawah kasur: aku tahu isinya, dan itu sudah cukup. Tapi malam ini kaki kiriku ngilu, hujan masih turun, dan grup WhatsApp yang dibuat Gilang membuat sesuatu di dadaku bergeser.
Jadi aku membiarkan satu potong muncul. Hanya satu.
Bukan mobilnya. Bukan rasa aspalnya. Bukan rumah sakitnya.
Hanya ini: kepala Nadira di antara kedua lenganku, rambutnya basah, tubuhnya ringan sekali dan gemetar, dan aku memeluknya seolah lenganku bisa jadi tembok. Aku ingat berpikir, dalam sepersekian detik sebelum segalanya jadi putih: Jangan kepalanya. Apa pun, jangan kepalanya.
Lalu aku bilang sesuatu padanya. Aku tidak merencanakannya. Itu keluar begitu saja, seperti napas.
Aku tahu dia ingat. Aku melihatnya kadang-kadang, di wajahnya, waktu dia menatap Evan dengan mata yang setengah jauh. Dia menyimpan kalimat itu. Dia menyimpannya dengan sangat hati-hati, untuk orang yang salah.
Dan itu salahku.
Itu yang kuputuskan, lima tahun lalu, di kamar rumah sakit yang berbau antiseptik, dengan kaki yang dipasangi pen dan punggung yang dijahit dua puluh tiga kali. Aku memutuskan bahwa dia tidak boleh tahu. Bahwa perempuan yang menangis kalau melihat kucing kehujanan tidak boleh hidup dengan pengetahuan bahwa ada orang yang kakinya rusak demi dia. Dia akan menebusnya. Aku kenal Nadira. Dia akan menebusnya seumur hidup, dengan cara yang tulus dan berlebihan dan menyakitkan, dan aku akan menjadi utang yang tidak pernah lunas di hidupnya.
Aku tidak mau jadi utang.
Kalau suatu hari dia memandangku, aku mau dia memandangku karena aku. Bukan karena kakiku. Dan karena aku tahu itu tidak akan terjadi—karena aku tahu orang seperti apa aku, dan orang seperti apa Evan—maka lebih baik dia tidak memandangku sama sekali.
Itu keputusan yang sederhana. Aku tidak pernah menyesalinya.
Hampir tidak pernah.
Ponselku bergetar lagi. Bukan grup. Pesan pribadi.
Evan: Yan. Kamu baca grup Gilang?
Aku menatapnya sebentar, lalu mengetik.
Aku: Baca.
Evan: Itu Nadira kan.
Aku: Kamu nggak ada di grup itu.
Evan: Gilang screenshot ke aku. Tanya aku sebaiknya pesan kue rasa apa. Dia lupa ini rahasia buat aku.
Aku menutup mata sebentar. Gilang adalah bencana yang berjalan dengan dua kaki dan satu kotak P3K.
Evan: Yan.
Evan: Aku nggak bisa.
Evan: Lima tahun aku diam. Aku nggak bisa biarin dia ngomong ke aku di depan semua orang terus aku nolak tanpa alasan. Itu jahat.
Aku: Tolak sebelum hari H. Baik-baik.
Evan: Dan bilang apa?
Aku: Bilang kamu nggak punya perasaan yang sama. Itu jujur kan?
Lama tidak ada balasan. Tanda sedang mengetik muncul, hilang, muncul lagi, hilang lagi.
Evan: Kita omongin langsung. Kamis. Rooftop kantorku.
Aku: Oke.
Aku menaruh ponsel lagi. Kali ini aku tidak menelungkupkannya. Aku menatap langit-langit kamar yang ada noda bocor berbentuk seperti Pulau Sulawesi, yang sudah ada sejak aku SD dan tidak pernah kami perbaiki karena Ibu bilang itu “tanda rumah ini punya sejarah”.
Hujan masih turun. Kaki kiriku masih bicara.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Lima tahun aku menyimpan satu kalimat.
Bukan untuk diucapkan. Hanya untuk diingat bahwa, sekali dalam hidupku, aku pernah mengatakannya dan benar-benar bersungguh-sungguh.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas reading
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan