Chapter Forty Two
Bab 42 — Garis Start
POV: Nadira
Hari Senin, Zaza mengirim pesan yang aneh.
Zaza: Nad. Ukuran jari manismu berapa?
Aku: Hah?
Zaza: Jari manis. Kiri. Ukuran cincin.
Aku: Buat apa??
Zaza: Sampel. Klien mau bikin cincin suvenir buat bridesmaid. Aku butuh ukuran jari perempuan umur 27 dengan tinggi 160 dan berat badan normal. Buat rata-rata.
Aku: Itu bukan cara kerja ukuran cincin, Za.
Zaza: Itu cara kerja ukuran cincin di dunia WO. Kamu nggak ngerti industri ini.
Aku: Kenapa nggak pakai jarimu sendiri?
Zaza: Jariku gede. Aku nggak representatif.
Aku menatap pesan itu lama di meja kantor. Dimas melirik dari meja sebelah.
“Mbak Nad. Mukamu kayak orang lagi mecahin teka-teki silang.”
“Dim. Kamu tahu cara ngukur jari manis?”
Dimas menatapku. Lalu wajahnya berubah. Matanya melebar. “Mbak mau dilamar?”
“Bukan! Temenku. Dia minta ukuran jariku. Buat sampel cincin klien.”
Dimas menatapku lebih lama. “Mbak,” katanya pelan, dengan nada orang yang menjelaskan sesuatu yang sangat jelas pada anak kecil. “Nggak ada klien yang butuh ukuran jari Mbak buat sampel.”
“Ada. Zaza bilang ada.”
“Zaza itu yang WO? Yang pacaran sama mas-mas yang dulu Mbak taksir?”
“Dia nggak... iya. Itu.”
Dimas menatapku dengan wajah penuh simpati. Lalu dia mengambil benang jahit dari laci mejanya—entah kenapa Dimas punya benang jahit di laci—dan memotongnya sepanjang telapak tangan.
“Lingkarin di jari, Mbak,” katanya. “Tandain pakai pulpen. Terus ukur pakai penggaris. Itu cara paling akurat.”
Aku melakukannya. Lima koma dua senti. Aku mengirimnya ke Zaza.
Zaza: Makasih. Klien pasti seneng.
Aku: Za.
Zaza: Hm?
Aku: Kamu mau dilamar Evan ya?
Zaza: ...
Aku: Kamu ngukur ukuran jari rata-rata biar Evan nggak salah beli! Biar kamu bisa bandingin sama jarimu! IYA KAN?
Zaza: Nad.
Aku: ZA AKU TAHU
Zaza: Kamu copywriter paling bodoh di Jakarta Selatan.
Zaza: Dan aku sayang kamu.
Zaza: Jangan tanya-tanya lagi.
Aku menatap pesan itu sambil tersenyum lebar. Zaza mau dilamar. Evan mau melamar Zaza. Enam tahun. Akhirnya.
Dimas, di meja sebelah, menggeleng-geleng pelan seperti orang tua yang kecewa, dan kembali ke monitornya.
Selasa, aku mendaftarkan Ryan ke Jakarta Fun Run 5K.
Aku sudah menyimpan foto brosur oranye itu di ponselku sejak kondangan Fajar. Aku membukanya setiap malam sebelum tidur. Jakarta Fun Run 5K. Untuk Semua Umur. Jalur Senayan. Aku membuka situs pendaftarannya tiga kali dan menutupnya tiga kali, karena aku tidak tahu apakah dia mau, dan karena dia belum pernah bilang dia mau, dan karena aku takut kalau aku mendaftarkannya, itu akan terasa seperti aku memutuskan sesuatu untuknya.
Seperti dia dulu memutuskan sesuatu untukku.
Tapi dia ke klinik Mbak Ayu tiga kali seminggu. Dia melakukan squat setengah dan angkat tumit dan push-up modifikasi. Dia berlari di treadmill sampai delapan ratus dua puluh meter, lalu satu kilometer, lalu satu koma lima. Dia menatap brosur oranye itu di papan gabus di gedung pernikahan dengan wajah yang sama seperti waktu dia menatap kotak sepatu biru tua.
Jadi aku mendaftarkannya.
Dua tiket. Satu untuknya. Satu untukku.
Konfirmasi datang lewat email dua menit kemudian. Selamat! Anda terdaftar di Jakarta Fun Run 5K. Nomor BIB: 2207 (Ryan Adiputra), 2208 (Nadira Kusumawardhani).
Aku menatap email itu dengan jantung berdebar. Lalu aku mengambil tangkapan layar dan mengirimnya ke Ryan.
Aku: Yan. Jangan marah.
Aku: [tangkapan layar]
Aku: Aku daftarin kita berdua. Kalau kamu nggak mau, aku bisa batalin. Serius. Aku nggak mau mutusin buat kamu.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Lalu:
Ryan: [tangkapan layar]
Aku membukanya.
Email konfirmasi. Dari Jakarta Fun Run 5K. Dikirim dua minggu lalu.
Selamat! Anda terdaftar di Jakarta Fun Run 5K. Nomor BIB: 1043 (Ryan Adiputra).
Aku menatap layar.
Aku: Kamu udah daftar??
Ryan: Dua minggu lalu.
Aku: KENAPA NGGAK BILANG
Ryan: Mau bilang pas aku udah bisa lari 3 kilo.
Ryan: Biar kalau kamu tanya “kamu yakin?”, aku bisa bilang yakin.
Aku: Sekarang kamu punya dua nomor
Ryan: Iya.
Ryan: 1043 sama 2207.
Aku: Itu nggak boleh kan? Satu orang dua nomor?
Ryan: Aku udah email panitia. Katanya 2207 bisa dialihkan ke orang lain.
Aku: Ke siapa?
Ryan: Tanya Gilang.
Gilang mengambil nomor 2207 dengan wajah orang yang baru saja dianugerahi medali.
“Aku,” katanya di grup circle, “akan berlari.”
Zaza: Lang kamu nggak pernah lari
Gilang: Aku jalan cepat tiap hari dari kos ke apotek. 200 meter.
Zaza: Itu 200 meter. Ini 5000.
Gilang: Itu cuma 25 kali lipat. Secara proporsional bisa dicapai.
Evan: Aku juga mau ikut
Zaza: Kamu?
Evan: Aku dulu lari pagi sama Ryan waktu SMA. Tiap pagi jam 5. Dia yang ngajarin aku ngatur napas.
Aku: Tarik empat tahan empat buang enam?
Evan: Itu yang Mbak Ayu ajarin dia di rehab. Waktu SMA dia ngajarin aku yang lain. Tarik dua buang dua. Lebih cepat.
Evan: Dia ngubah cara napasnya setelah kecelakaan.
Evan: Aku baru sadar sekarang.
Grup itu diam sebentar.
Zaza: Aku juga ikut.
Gilang: KAMU??
Zaza: Kalau semua orang ikut, aku nggak mau jadi satu-satunya yang nunggu di garis finis kayak ibu-ibu nungguin anaknya pulang sekolah.
Gilang: Tapi siapa yang jaga pos kesehatan?
Zaza: Pos kesehatan apa?
Gilang: AKU AKAN BIKIN POS KESEHATAN DI GARIS FINIS. AKU SUDAH DAPAT IZIN PANITIA. AKU APOTEKER BERLISENSI.
Zaza: Lang kamu juga lari
Gilang: Aku lari, terus aku buka pos. Laras yang jaga sampai aku sampai.
Ryan: Laras ikut?
Gilang: Laras mau bikin spanduk.
Zaza: Spanduk apa?
Gilang: Rahasia. Pokoknya besar.
Hari Kamis, di klinik Mbak Ayu, Ryan membawa kotak sepatu biru tua.
Dia meletakkannya di meja terapi. Dia membukanya. Mbak Ayu menatap sepatu lari biru tua di dalamnya, dengan sol yang aus di bagian depan dan tali putih yang sudah menguning.
“Kamu mau lari pakai ini?” tanya Mbak Ayu.
“Kalau bisa.”
Mbak Ayu mengambil sepatu kanan. Dia membaliknya. Dia menekan solnya dengan ibu jari. Busa di bagian dalamnya sudah keras, retak di beberapa tempat. Karet di ujung depan sudah tipis sampai hampir tembus.
“Nggak bisa, Yan,” katanya. Lembut. “Ini sepatu umur enam tahun. Busanya udah mati. Kalau kamu lari lima kilo pakai ini, lututmu yang bayar. Pen-mu yang bayar.”
Ryan menatap sepatu itu. Lama.
Aku melihat wajahnya. Aku melihat sesuatu di sana yang mirip dengan wajahnya waktu menatap angka 16:52 di sertifikat. Sesuatu yang dia simpan di bawah kasur selama lima tahun, dan sekarang harus dia lepaskan.
“Oke,” katanya pelan.
Mbak Ayu menatapnya. Lalu dia menatapku. Lalu dia menatap sepatu itu lagi.
“Tapi,” katanya.
Ryan mengangkat kepala.
Mbak Ayu menarik tali sepatu kanan. Pelan. Melepasnya dari lubang demi lubang. Tali putih yang sudah menguning, dengan ujung plastik yang sudah retak.
“Talinya,” kata Mbak Ayu, “nggak ngaruh ke lutut.”
Dia menyerahkan tali itu pada Ryan.
Sabtu, kami membeli sepatu baru di toko olahraga di Senayan.
Ryan mencoba tujuh pasang. Penjaga toko, laki-laki muda dengan rambut dicat pirang, mengukur kakinya, menganalisis cara jalannya di atas treadmill kecil di toko, dan merekomendasikan sepatu dengan bantalan ekstra di tumit dan stabilisasi di sisi dalam.
“Buat yang pernah cedera,” katanya. “Kaki kiri Mas agak overpronate. Ini bantu.”
Ryan membeli sepatu itu. Biru tua. Hampir sama warnanya dengan yang lama.
Di kasir, dia membuka kotaknya. Dia melepas tali putih baru yang masih kaku dan bersih, dan dia menggantinya dengan dua tali dari saku celananya.
Tali putih yang sudah menguning. Dengan ujung plastik yang retak.
Penjaga toko menatapnya. “Mas, tali barunya kenapa diganti? Itu tali bagus. Anti-lepas.”
“Yang ini juga bagus,” kata Ryan.
“Itu tali bekas, Mas.”
“Iya.”
Penjaga toko menatap tali menguning itu. Lalu menatap Ryan. Lalu menatapku, yang berdiri di sebelahnya dengan mata yang mulai berair di tengah toko olahraga di Senayan.
Penjaga toko tidak bertanya lagi. Dia hanya memasukkan tali putih yang baru ke dalam kantong plastik kecil dan menyerahkannya pada Ryan.
“Buat cadangan, Mas,” katanya. “Kalau yang lama putus.”
Latihan dimulai minggu itu.
Setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu, pukul lima pagi, di jalur lari di sekitar Gelora Bung Karno. Mbak Ayu yang menyusun programnya. Minggu pertama: jalan cepat dua kilometer, jogging lima ratus meter. Minggu kedua: jalan cepat satu setengah kilometer, jogging satu kilometer. Minggu ketiga: jogging dua kilometer dengan jeda jalan.
Aku ikut.
Aku tidak bisa lari. Aku tidak pernah bisa lari. Aku berhenti olahraga sejak SMA, setelah guru olahraga menyuruhku lari keliling lapangan lima kali dan aku pingsan di putaran ketiga.
Di minggu pertama, aku jogging lima ratus meter dan harus duduk di pinggir jalur dengan napas seperti orang yang baru dikejar anjing.
Ryan berhenti di sebelahku. Dia jongkok. Dia menatapku.
“Napas,” katanya.
“Aku... lagi... napas...”
“Napasmu pendek.”
“Aku... TAHU...”
Dia mengangkat tangan. Telapak menghadap ke bawah. Seperti di depan gerbang tol JORR.
“Tarik empat.”
Aku menarik napas.
“Tahan empat.”
Aku menahan.
“Buang enam.”
Tangannya naik dan turun di udara, seperti dirigen orkestra. Pelan. Sabar. Di pinggir jalur lari Gelora Bung Karno pukul lima pagi, dengan matahari yang belum terbit dan lampu-lampu jalan yang masih menyala dan pelari-pelari lain yang lewat dan menatap kami.
Aku tertawa di tengah hitungan. Napasku pecah.
“Kamu ketawa,” katanya.
“Kamu... ngajarin aku napas... di tempat lari...”
“Iya.”
“Delapan tahun lalu... aku nggak tahu kamu pelari...”
“Iya.”
“Sekarang kamu... ngajarin aku lari...”
Dia menatapku. Sudut bibirnya bergerak.
“Gantian,” katanya.
Di minggu keenam, Ryan berlari tiga kilometer tanpa berhenti.
Pelan. Sangat pelan. Kecepatan yang Mbak Ayu sebut “joging santai orang pensiunan”. Tujuh menit per kilometer. Dua puluh satu menit untuk tiga kilometer.
Enam tahun lalu, dalam dua puluh satu menit, dia bisa berlari lebih dari enam kilometer.
Tapi dia berlari tiga kilometer tanpa berhenti. Tanpa jalan. Tanpa duduk di pinggir jalur.
Aku tidak ikut berlari tiga kilometer itu. Aku berdiri di garis yang kami buat sendiri dengan kapur di jalur GBK, garis putih kecil yang aku sebut “finis”, dan aku menunggunya.
Dia datang dari tikungan. Kaos abu-abu basah kuyup. Rambut menempel di dahi. Langkah yang sedikit miring ke kanan, kaki kiri yang sedikit lebih berat, tapi bergerak. Terus bergerak. Wajahnya merah. Bibirnya bergerak tanpa suara.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Dia melewati garis kapur.
Dia tidak berhenti langsung. Dia melambat. Jogging. Jalan cepat. Jalan. Lalu berhenti, dengan tangan di lutut, membungkuk, terengah.
Aku berlari ke arahnya. Aku tidak memeluknya. Aku tahu dia tidak bisa bernapas kalau aku memeluknya sekarang.
Aku berdiri di depannya dan mengangkat tangan. Telapak menghadap ke bawah.
“Tarik empat,” kataku.
Dia mengangkat kepala. Menatapku. Lalu dia tertawa, terengah, pecah, dengan napas yang tidak bisa diatur sama sekali.
“Tahan empat,” kataku, menahan tanganku di udara.
Dia menahan. Dia menatapku sambil menahan napas, dengan mata yang merah dan basah.
“Buang enam.”
Dia membuang. Pelan. Panjang.
“Tiga kilo,” bisiknya.
“Tiga kilo.”
“Enam tahun.”
“Enam tahun, Yan.”
Tapi di minggu ketujuh, kakinya menyerah.
Kilometer tiga koma lima. Di tikungan dekat Istora. Aku melihatnya dari garis kapur. Langkahnya berubah. Kaki kiri mulai menyeret. Lalu berhenti menyeret dan mulai tertekuk ke arah yang salah, sedikit, tapi cukup.
Dia berhenti. Dia memegang lututnya. Dia duduk di pinggir jalur, di trotoar, dengan kaki kiri diluruskan dan wajah yang putih.
Aku berlari ke arahnya. Kali ini aku memeluknya.
“Nggak apa-apa,” katanya ke bahuku.
“Jangan bilang nggak apa-apa.”
“Kram. Cuma kram.”
“Yan.”
Dia diam. Napasnya terengah di bahuku. Lalu, sangat pelan, dengan suara yang tidak pernah kudengar dari Ryan sebelumnya:
“Nad. Kalau aku nggak bisa.”
Aku melepaskan pelukanku. Aku menatapnya.
“Kalau aku nggak selesai,” katanya. Matanya menatap jalur lari di depan kami, yang masih panjang, yang melingkar sampai ke tikungan berikutnya. “Di depan semua orang. Di depan Gilang yang bikin pos kesehatan. Di depan Laras yang bikin spanduk. Di depan Evan sama Zaza. Di depan Ibu.” Dia menelan. “Di depan kamu.”
“Yan—”
“Enam tahun lalu aku dijanjiin tahun depan,” katanya. “Pelatihku bilang, ‘Tahun depan kamu di bawah enam belas, Yan. Saya jamin.’ Terus aku nggak dapat tahun depan.” Dia menatapku. Matanya basah. “Kalau aku coba lagi, terus aku gagal lagi...”
Aku tidak menjawab langsung.
Aku duduk di trotoar di sebelahnya. Di pinggir jalur lari GBK, pukul enam pagi, dengan matahari yang baru terbit di balik gedung-gedung Senayan dan pelari-pelari lain yang lewat dan tidak tahu apa-apa.
Aku mengambil tangannya. Aku membalik telapak tangannya. Aku meletakkannya di atas lututku.
“Kamu tahu kenapa aku bisa nyetir lagi?” tanyaku.
Dia menatapku.
“Bukan karena aku nggak takut,” kataku. “Aku masih takut. Tiap kali aku duduk di balik setir, aku masih ingat lampu jalan yang berkedip. Aku masih denger suara mesin yang nggak ada cahayanya.” Aku menggenggam tangannya. “Aku bisa nyetir karena ada orang yang duduk di sebelahku dan bilang ‘kamu yang pegang kuncinya, bukan mesinnya yang pegang kamu’.”
Ryan tidak bergerak.
“Kamu nggak lari buat semua orang, Yan,” kataku. “Kamu nggak lari buat Gilang atau Laras atau Evan atau Zaza. Bahkan nggak buat aku.”
“Terus buat siapa?”
Aku menatapnya. Aku menatap laki-laki dua puluh delapan tahun dengan kaki yang dipasangi dua pen, duduk di trotoar dengan kaos basah dan wajah yang tidak datar sama sekali.
“Buat anak umur dua puluh satu tahun,” kataku pelan, “yang dijanjiin tahun depan.”
Matanya berubah.
“Buat anak yang lari jam lima pagi keliling kampus,” lanjutku. “Yang dapat beasiswa. Yang pelatihnya bilang bisa ke pelatnas. Yang lombanya terakhir enam belas menit lima puluh dua detik. Yang nggak pernah dapat tahun depannya karena dia lari lima belas meter ke arah yang salah.”
“Itu bukan arah yang salah,” bisiknya.
“Aku tahu.” Aku tersenyum. Air mataku turun. “Tapi dia nggak dapat tahun depannya, Yan. Kamu yang kasih ke dia sekarang.”
Ryan menatapku lama.
“Bukan enam belas menit,” kataku. “Bukan pelatnas. Bukan juara. Mungkin empat puluh menit. Mungkin empat puluh lima. Mungkin kamu harus jalan di kilometer empat. Mungkin kamu harus merangkak di kilometer lima.” Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Tapi kamu selesai. Dan anak umur dua puluh satu itu dapat tahun depannya.”
Ryan berdiri.
Pelan. Dengan tangan di bahuku. Dengan kaki kiri yang masih gemetar. Dia berdiri di trotoar di pinggir jalur lari, dan dia menatap ke depan, ke jalur yang melingkar sampai ke tikungan.
“Satu setengah kilo lagi,” katanya. “Ke garis kapur.”
“Yan, kakimu—”
“Aku jalan.”
Dia berjalan.
Pelan. Satu langkah. Dua. Kaki kiri yang menyeret. Tangan yang terkepal di sisi tubuh. Bibir yang bergerak tanpa suara.
Aku berjalan di sebelahnya. Di sisi kiri. Di sisi kaki yang sakit.
Kami berjalan satu setengah kilometer. Pelan. Dua puluh menit. Melewati Istora. Melewati pintu masuk stadion. Melewati pelari-pelari lain yang menyalip kami dan menatap kami dengan heran.
Di tikungan terakhir, dia mulai jogging lagi.
Aku tidak menghentikannya. Aku jogging di sebelahnya. Pelan. Sangat pelan. Kecepatan orang pensiunan yang jalan ke pasar.
Garis kapur putih kecil di jalur GBK.
Dia melewatinya.
Lima kilometer. Satu jam dua menit. Dengan dua puluh menit berjalan.
Dia berhenti. Dia berdiri di atas garis kapur. Dia menatap ke bawah, ke garis putih kecil di bawah sepatu barunya yang biru tua dengan tali putih yang sudah menguning.
Lalu dia mengangkat kepala. Dia menatapku.
“Satu jam dua menit,” katanya.
“Iya.”
“Itu lambat banget.”
“Iya.”
“Pelatihku bakal ketawa.”
“Biarin.”
Dia menatapku. Lalu dia tertawa. Keras. Terengah. Pecah. Di atas garis kapur di jalur GBK pukul tujuh pagi, dengan kaos basah dan kaki yang gemetar dan sepatu baru dengan tali lama.
“Masih ada tahun depan,” katanya. Mengulang kalimatku dari lantai ruang tamu Bu Ratna, dengan kaosnya di tubuhku.
Aku menggeleng.
“Bukan, Yan,” kataku. Aku melangkah ke garis kapur. Aku berdiri di sebelahnya. Di atas garis yang sama. “Ini tahun depannya.”
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start reading
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan