Chapter Thirty Six
Bab 36 — Kondangan
POV: Ryan
Fajar menikah hari Sabtu, dan aku harus memakai batik.
Bukan batik biasa. Batik yang Ibu pilihkan dari lemarinya sendiri, batik tulis warna cokelat tua dengan motif parang yang dulu milik Bapak. Ibu menyetrikanya selama setengah jam pagi itu, dengan semprotan air pewangi dan wajah serius seperti sedang menyiapkan baju untuk sidang.
“Bapakmu pakai ini waktu lamaran,” katanya, menyerahkan batik itu padaku. “Yang bawa pisang kepok.”
“Bu, ini kondangan Fajar. Bukan lamaran.”
“Ibu tahu.” Ibu merapikan kerahku yang belum dikancingkan. “Latihan.”
Aku menjemput Nadira pukul sepuluh.
Dia keluar dari kos memakai kebaya.
Kebaya brokat modern warna merah tua, dengan lengan tiga perempat dan potongan leher yang tidak terlalu rendah, tapi cukup untuk memperlihatkan tulang selangkanya. Kain batik sebagai bawahan, dililit sampai mata kaki, dengan belahan di samping yang memperlihatkan pergelangan kakinya waktu dia melangkah. Rambutnya disanggul longgar di tengkuk, dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan lepas di sekitar wajah. Anting kecil berbentuk tetes air. Dan bibirnya.
Merah tua. Sama dengan kebayanya.
Dia berdiri di trotoar depan kos, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip lemah meskipun sudah siang. Dia melihat Si Lumut. Dia melihatku di balik kemudi, dengan batik cokelat tua milik Bapak.
Dia berhenti.
“Yan,” katanya.
Aku tidak bisa bicara.
Dia berjalan ke pintu penumpang. Dia membuka. Dia masuk, pelan, karena kain batiknya sempit dan dia harus duduk menyamping dulu baru memutar kaki ke dalam. Belahan di samping kainnya tersingkap sedikit. Aku menatap jalan di depan dengan intensitas seorang pilot pesawat tempur.
“Batikmu,” katanya.
“Punya Bapak.”
“Bagus.” Dia mengulurkan tangan dan merapikan kerahku. Seperti Ibu tadi pagi. Jarinya menyentuh leherku sebentar. “Kamu ganteng kalau rapi.”
“Ibu yang bilang gitu.”
“Ibu benar.”
Aku menyalakan mesin. Tanganku sedikit gemetar di tuas persneling.
Dia melihatnya. Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya menaruh tangannya di atas tanganku di tuas, seperti aku dulu menaruh tanganku di atas tangannya di parkiran BSD.
“Napas,” katanya.
Pernikahan Fajar diadakan di gedung pertemuan di Cibubur, dengan dekorasi warna hijau mint dan emas yang menurut Nadira “pasti dirancang orang yang belum pernah ngobrol sama Zaza”. Ada pelaminan di ujung, dengan Fajar dan istrinya—perempuan bernama Sinta yang ternyata guru TK—duduk di kursi berukir dan tersenyum pada antrean tamu yang tidak habis-habis.
Ada prasmanan dengan tujuh meja. Ada stan es buah, stan kambing guling, stan bakso yang antreannya sampai ke pintu. Ada panggung kecil dengan organ tunggal dan penyanyi dangdut berbaju payet yang sudah menyanyikan tiga lagu sebelum kami sampai.
Dan ada seluruh kantorku.
Pak Bondan, memakai batik yang terlalu ketat di perut, berdiri di dekat stan kambing guling dengan piring penuh. Mbak Sari dari administrasi, dengan kebaya hijau mint yang sengaja disamakan dengan dekorasi. Mbak Lia dari resepsionis. Tujuh orang dari tim analisis.
Dan Tiara.
Dia berdiri di dekat stan es buah, dengan kebaya biru muda dan kacamata bulat yang tidak dia lepas bahkan untuk kondangan. Dia melihat kami masuk. Dia melihat tangan Nadira di lenganku. Dia melambaikan tangan, pelan, dengan senyum sopan.
Nadira melambaikan tangan balik.
Lalu dia menarik lenganku sedikit lebih erat.
Kami mengantre untuk bersalaman di pelaminan. Lima belas menit. Di depan kami, keluarga besar dari Garut yang membawa anak-anak kecil yang terus berlarian. Di belakang kami, ibu-ibu arisan yang membicarakan harga cabai dengan suara keras.
Nadira berdiri sangat dekat. Bahunya menempel di lenganku. Sesekali, waktu antrean maju, tangannya pindah dari lenganku ke punggungku, ke pinggangku, ke lenganku lagi. Seperti orang yang memastikan sesuatu masih ada di tempatnya.
“Yan,” bisiknya, waktu kami tiga orang lagi dari pelaminan.
“Hm.”
“Kebaya pengantinnya putih.”
Aku menatap pelaminan. Istri Fajar memakai kebaya putih dengan payet perak dan selendang panjang. Cantik. Fajar di sebelahnya memakai beskap putih dan blangkon, dan wajahnya seperti orang yang belum percaya ini sedang terjadi.
“Iya,” kataku.
“Nanti pas kita,” bisik Nadira, dengan bibir sangat dekat dengan telingaku, “aku pakai kebaya putih juga.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Antrean maju satu orang.
“Kamu tahu apa yang di balik kebaya putih?” bisiknya lagi. Lebih pelan. Lebih rendah. Napasnya hangat di telingaku.
Aku menatap lurus ke depan. Ke punggung bapak dari Garut yang sedang menyalami orang tua Fajar.
“Aku juga belum mutusin,” katanya.
Seorang pelayan lewat di sebelah kami dengan nampan berisi gelas-gelas es buah. Aku mengambil satu, entah kenapa, tanpa sadar, dan meminumnya.
Lalu aku tersedak.
Tersedak sungguhan. Biji selasih masuk ke tenggorokan yang salah. Aku batuk. Keras. Ibu-ibu arisan di belakang kami berhenti membicarakan harga cabai. Bapak dari Garut menoleh. Seorang anak kecil menatapku dengan mulut terbuka.
Nadira menepuk-nepuk punggungku dengan wajah sangat polos.
“Pelan-pelan, Sayang,” katanya, cukup keras supaya ibu-ibu arisan mendengar. “Es buahnya nggak lari ke mana-mana.”
Sayang.
Dia belum pernah memanggilku begitu.
Aku batuk lebih keras.
Di pelaminan, Fajar memelukku. Erat. Lama. Lebih lama dari yang pantas untuk rekan kerja.
“Yan,” bisiknya ke bahuku. “Aku seneng kamu datang.”
“Selamat, Jar.”
“Aku juga seneng kamu datang sama dia.” Fajar melepaskanku dan menatap Nadira di sebelahku. Lalu dia menatapku lagi, dengan mata yang tiba-tiba basah. “Kamu tahu nggak, Yan. Tiga tahun aku duduk di sebelahmu. Kamu nggak pernah senyum. Nggak pernah cerita apa-apa. Aku kira kamu robot.”
“Jar.”
“Sekarang kamu senyum ke monitor. Kamu bawa rantang. Kamu ciuman di lift.” Dia mengusap mata dengan ujung beskapnya. “Aku seneng, Yan. Aku seneng banget. Itu kado nikahan terbaik buat aku.”
Istrinya, Sinta, menatap Fajar dengan bingung. “Mas. Kamu nangis buat temen kantormu?”
“Ini bukan temen kantor biasa, Sayang,” kata Fajar. “Ini Ryan. Ini kisah cinta paling lambat di Kuningan.”
Kami makan di meja bundar di pinggir ruangan. Pak Bondan, Mbak Sari, Mbak Lia, dua orang dari tim analisis, dan Tiara.
Tiara duduk di seberang kami.
Nadira duduk di sebelahku. Sangat dekat. Kursinya sudah dia geser tiga kali sampai sekarang tidak ada jarak sama sekali di antara kursi kami.
“Mas Ryan,” kata Tiara, dengan senyum sopan. “Kopinya udah nggak dibikinin lagi ya? Aku lihat termos kucing tiap pagi.”
“Iya,” kataku. “Makasih, Tiara. Selama ini.”
“Sama-sama.” Tiara menatap Nadira. “Mbak Nadira, kopinya enak?”
Nadira tersenyum. Lebar. Dengan lesung pipi kiri yang dalam.
“Enak,” katanya. “Kopi tubruk. Gula aren. Setengah sendok.”
“Saya tahu,” kata Tiara. “Saya yang bilang.”
“Iya. Makasih.” Nadira menyendok kambing guling dari piringnya dan, tanpa bertanya, menaruhnya di piringku. Lalu dia menyendok nasi kebuli dan menaruhnya di piringku juga. Lalu sambal. Lalu dia mengambil tisu dan menyeka sudut bibirku, di mana—kata dia—ada sisa sambal, padahal aku belum makan apa-apa sama sekali.
“Pacarku,” katanya pada Tiara, dengan nada sangat ramah, “nggak bisa minum kopi mesin. Lambungnya sensitif.”
Mbak Sari tersedak es teh.
Pak Bondan berhenti mengunyah kambing guling.
Tiara menatap Nadira. Lalu, pelan, Tiara tertawa. Tawa yang sungguh-sungguh, dengan tangan menutup mulut dan bahu yang berguncang dan kacamata bulat yang miring.
“Mbak Nadira,” katanya di antara tawa. “Saya udah mundur. Dari minggu lalu. Mbak nggak usah ngerebut lagi. Udah menang.”
Nadira mengedip. Lalu wajahnya merah. Sampai ke leher. Sampai ke tulang selangka di atas kebaya merah tua.
“Aku nggak ngerebut,” katanya.
“Mbak nyeka sambal yang nggak ada di mukanya.”
“Itu... preventif.”
Pak Bondan mengeluarkan suara aneh dari tenggorokan. Aku menoleh. Bosku, laki-laki lima puluh dua tahun yang tidak pernah tersenyum di rapat mana pun, menutup mulutnya dengan serbet, dan bahunya berguncang.
Aku menatap Nadira, yang merah sampai ke tulang selangka dan menatap piringnya sendiri dengan intensitas seorang pilot pesawat tempur.
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku menyukai ini. Aku menyukai ini lebih dari yang seharusnya. Nadira yang cemburu. Nadira yang menggeser kursinya tiga kali. Nadira yang menyeka sambal yang tidak ada.
Lima tahun aku melihatnya memandang Evan. Lima tahun aku duduk di ujung meja.
Sekarang dia duduk di sebelahku, merah sampai ke leher, karena dia takut ada orang lain yang memandangku.
Aku menyendok kambing guling yang dia taruh di piringku dan memakannya. Pelan. Dengan senyum yang tidak bisa kusembunyikan.
“Kamu senyum,” bisik Nadira tanpa menoleh.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kamu cemburu.”
“Aku nggak cemburu.”
“Kamu geser kursi tiga kali.”
“Kursinya goyang.”
“Kursinya nggak goyang, Nad.”
Dia menendang kakiku di bawah meja. Pelan. Seperti dia menendang kaki Zaza di kafe Kemang.
Aku tidak menghindar.
Lalu ada Dodi.
Dodi adalah sepupu Fajar. Dua puluh enam tahun. Kemeja putih yang terlalu ketat di lengan, rambut yang ditata dengan pomade terlalu banyak, dan senyum yang terlalu lebar untuk wajahnya. Dia datang ke meja kami waktu Nadira sedang berdiri di stan es buah, mengambilkan es buah untukku—yang tanpa biji selasih, Yan, biar kamu nggak keselek lagi—dan dia berdiri di sebelah Nadira dengan cara yang membuatku tiba-tiba sangat sadar akan setiap otot di rahangku.
Aku melihat dari meja. Dodi bicara. Nadira tersenyum sopan. Dodi bicara lagi, lebih dekat. Nadira tertawa kecil, tawa sopan, tawa yang sama dengan yang dia berikan pada Dimas di kantornya. Dodi mengeluarkan ponsel.
Aku berdiri.
Kaki kiriku, yang sejak pagi diam, tiba-tiba tidak peduli apakah dia sakit atau tidak. Aku berjalan ke stan es buah. Tidak cepat. Tidak lambat. Tiga langkah, pelan, kaki kiri sedikit lebih hati-hati, seperti berjalan ke garis lane di tempat bowling.
Aku berhenti di sebelah Nadira. Di sisi Dodi. Di antara mereka.
Dodi menatapku. Dari atas ke bawah. Batik cokelat tua. Langkah yang sedikit miring ke kanan.
“Mas siapa?” tanyanya.
“Ryan.”
“Oh. Temennya Mas Fajar?” Dodi tersenyum lebar. Dia menoleh lagi ke Nadira, ponsel masih di tangan. “Jadi Mbak, nomornya berapa? Biar nanti kalau ada acara keluarga aku undang.”
Nadira membuka mulut.
“Nomornya,” kataku, “nomor saya.”
Dodi menatapku. Mengedip.
“Hah?”
“Kalau mau ngundang dia,” kataku, dengan suara yang sangat tenang dan sangat datar, “hubungin saya. Saya yang nganter.”
Dodi menatapku lama. Lalu menatap Nadira. Lalu menatap tangan Nadira, yang tiba-tiba sudah ada di lenganku, menggenggam batik cokelat tua milik Bapak.
“Oh,” kata Dodi. Senyumnya mengecil. “Oh. Oke. Maaf, Mas.”
Dia pergi.
Aku berdiri di stan es buah. Nadira berdiri di sebelahku. Dia tidak bicara. Dia menatapku, dengan mulut sedikit terbuka dan es buah tanpa biji selasih di tangannya.
“Yan,” katanya akhirnya.
“Hm.”
“Kamu barusan cemburu.”
“Nggak.”
“Kamu jalan dari meja ke sini, tiga langkah, kayak mau main bowling.”
“Kakiku pegal. Aku butuh jalan.”
“Kamu bilang nomorku nomormu.”
“Itu efisien.”
Dia menatapku. Lalu dia tertawa. Pelan. Lalu lebih keras. Lalu dia menyerahkan es buah itu padaku, berjinjit, dan mencium pipiku di depan stan es buah, di depan ibu penjaga stan, di depan Dodi yang menoleh dari kejauhan.
“Kamu cemburu,” bisiknya ke pipiku. “Aku seneng.”
Pukul dua siang, penyanyi dangdut berbaju payet turun dari panggung dan digantikan oleh penyanyi lain yang lebih muda, yang menyanyikan lagu pop lama dengan tempo pelan.
Lampu ruangan diredupkan. Pengantin turun dari pelaminan dan berdansa di tengah ruangan, Fajar menginjak kaki istrinya tiga kali dalam satu menit. Tamu-tamu lain mulai ikut. Pak Bondan, entah bagaimana, berdansa dengan Mbak Sari, dengan gerakan yang lebih mirip senam pagi daripada dansa. Mbak Lia merekam semuanya dengan ponsel.
Nadira menarik tanganku.
“Aku nggak bisa dansa,” kataku.
“Aku tahu.”
“Kakiku.”
“Aku tahu, Yan.” Dia menarikku ke sudut ruangan. Bukan ke tengah. Ke sudut, di dekat jendela besar yang menghadap taman, di tempat lampu tidak sampai dan tidak ada yang memperhatikan. “Nggak usah dansa. Berdiri aja.”
Aku berdiri.
Dia melangkah ke depanku. Dia meletakkan kedua tangannya di dadaku. Di atas batik cokelat tua. Lalu dia menyandarkan kepalanya di sana, di antara kedua tangannya, di atas jantungku.
“Aku yang goyang,” katanya.
Dan dia bergoyang. Pelan. Ke kiri. Ke kanan. Mengikuti lagu pop lama yang dinyanyikan pelan oleh penyanyi muda di panggung. Tubuhnya bergerak, dan karena dia bersandar padaku, tubuhku ikut bergerak sedikit, ke kiri, ke kanan, tanpa kakiku harus melangkah sama sekali.
Aku menaruh tanganku di punggungnya. Di atas kebaya brokat merah tua. Di antara tulang belikatnya.
Dia bergoyang. Aku berdiri. Kami berdansa, di sudut ruangan gedung pertemuan di Cibubur, tanpa satu langkah pun.
“Yan,” bisiknya ke dadaku.
“Hm.”
“Jantungmu kenceng.”
“Kamu cemburu tadi.”
“Itu bukan alasan jantungmu kenceng.”
“Kamu pakai kebaya.”
Dia mengangkat kepala sedikit. Menatapku dari bawah.
“Kamu suka?”
Aku tidak menjawab. Aku menatapnya. Kebaya merah tua. Bibir merah tua. Tulang selangka. Helai-helai rambut yang lepas di sekitar wajah. Lesung pipi kiri yang muncul pelan-pelan karena aku tidak menjawab.
Tujuh.
“Nad,” kataku akhirnya. “Kamu bilang tadi, di antrean. Soal kebaya putih.”
Lesung pipinya hilang. Matanya melebar sedikit.
“Iya?”
Aku menatap pelaminan di ujung ruangan. Kursi berukir yang sekarang kosong. Dekorasi hijau mint dan emas.
“Nggak usah buru-buru mutusin,” kataku pelan. “Aku nggak ke mana-mana.”
Dia menatapku lama.
Lalu dia menyandarkan kepalanya lagi ke dadaku. Lebih erat. Tangannya meremas batik cokelat tua di dadaku.
Kami terus berdansa tanpa langkah sampai lagu itu selesai. Lalu lagu berikutnya. Lalu lagu berikutnya lagi.
Waktu kami keluar dari gedung pukul tiga sore, ada papan pengumuman di dekat pintu keluar. Papan gabus dengan brosur-brosur yang ditempel asal-asalan. Les bahasa Inggris. Jasa katering. Penyewaan tenda.
Dan satu brosur warna oranye terang, di pojok kanan bawah, setengah tertutup brosur katering.
JAKARTA FUN RUN 5K. Untuk Semua Umur. Jalur Senayan. Tiga Bulan Lagi.
Aku berhenti.
Nadira berjalan dua langkah lagi sebelum sadar aku tidak ada di sebelahnya. Dia berbalik. Dia melihatku menatap papan gabus. Dia melihat brosur oranye itu.
Dia tidak bilang apa-apa.
Dia hanya berjalan kembali, berdiri di sebelahku, dan mengambil ponselnya. Dia memotret brosur itu. Lalu dia memasukkan ponsel ke tas kebayanya yang kecil, dan menggandeng tanganku lagi.
“Ayo, Yan,” katanya. “Pulang.”
Aku tidak bertanya kenapa dia memotretnya.
Dia tidak menjelaskan.
Tapi di Si Lumut, sepanjang jalan tol dari Cibubur ke Pasar Minggu, dengan dia yang menyetir dan aku di kursi penumpang dan tangannya yang sesekali pindah dari setir ke lututku, aku menatap jalan di depan dan memikirkan sepatu lari biru tua di bawah kasur, dengan sol yang aus di bagian depan.
Enam belas menit lima puluh dua detik.
Masih ada tahun depan, katanya, di lantai ruang tamu, dengan kaosku di tubuhnya.
Tiga bulan lagi.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan reading
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan