← Udah, Aku di Sini

Chapter Fourteen

Bab 14 — Empat Bulan

POV: Nadira


Gang rumah Ryan di Pasar Minggu cukup lebar untuk satu mobil dan satu gerobak bakso, tapi tidak keduanya sekaligus.

Aku tahu ini karena hari Sabtu pukul satu siang, waktu ojolku masuk ke gang itu, ada gerobak bakso di tengah jalan, dan di depannya ada mobil boks pengantar galon, dan di antara keduanya ada abang bakso dan sopir galon yang sedang berdebat sopan tentang siapa yang harus mundur. Abang ojolku berhenti di belakang mobil boks dan menatapku lewat spion dengan wajah pasrah.

“Turun sini aja, Mbak?”

“Iya, Bang. Makasih.”

Aku turun dan berjalan. Gang itu sejuk karena atap-atap rumah hampir bertemu di atas kepala, dan baunya campuran sabun cuci, tanah basah, dan sesuatu yang manis dan hangat, seperti mentega yang dipanggang.

Aku mengikuti bau itu.

Rumah nomor 17 bercat hijau muda yang sudah pudar, dengan teras kecil berisi tiga pot anggrek, satu kursi rotan, dan sebuah papan kayu kecil di samping pintu bertuliskan dengan cat putih: KUE BU RATNA — TERIMA PESANAN. NGGAK GOSONG (BIASANYA).

Aku tertawa sendiri di depan pintu.

Lalu pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk.


Bu Ratna lebih kecil dari yang kubayangkan. Rambutnya disanggul sederhana, dengan uban yang tidak disembunyikan. Wajahnya bulat, pipinya berisi, dan matanya—matanya sama dengan mata Ryan. Tenang, sedikit mengantuk, tapi di bawahnya ada sesuatu yang tajam dan tidak melewatkan apa pun.

Dia memakai celemek bergambar bebek.

“Nadira, ya?” katanya, sebelum aku sempat memperkenalkan diri.

“Iya, Bu. Saya—”

“Masuk, masuk. Panas. Ibu sudah siapin es teh.” Dia menarikku masuk dengan tangan yang masih sedikit bertepung, dan tiba-tiba aku sudah duduk di kursi rotan di ruang tamu yang kecil dan bersih, dengan segelas es teh manis di depanku dan sepiring kue sus yang ditata seperti bunga.

“Makan,” kata Bu Ratna.

“Bu, saya ke sini mau pesan kue—”

“Iya, pesan nanti. Makan dulu. Nyicipin dulu baru pesan. Itu namanya konsumen cerdas.”

Aku mengambil satu kue sus. Kulitnya renyah tapi lembut di dalam, dan isinya vla vanila yang tidak terlalu manis, dingin, dengan aroma yang membuatku ingin memejamkan mata.

“Ya ampun, Bu,” kataku dengan mulut penuh. “Ini enak banget.”

“Ya enak, wong Ibu yang bikin.” Bu Ratna duduk di kursi rotan di depanku dan menatapku dengan dagu ditopang tangan, persis seperti aku menatap Ryan makan ayam gosong di pantry kantornya. “Kamu lebih cantik dari yang Ryan ceritain.”

Aku tersedak vla.

“Ryan cerita soal saya?”

“Dulu. Waktu kuliah.” Bu Ratna mengibaskan tangan. “Ryan itu jarang cerita. Kalau ditanya ‘gimana kuliahnya, Le?’ jawabnya ‘baik’. ‘Temen-temennya gimana?’ jawabnya ‘baik’. ‘Makan apa tadi?’ jawabnya ‘nasi’. Kayak ngobrol sama tiang listrik.”

Aku tertawa. Itu Ryan. Itu persis Ryan.

“Tapi,” lanjut Bu Ratna, “sekali waktu dia pulang liburan, Ibu tanya ada temen yang lucu nggak, terus dia cerita panjang. Panjang banget, buat ukuran Ryan. Ada temen cewek, katanya, yang nangis nonton film kartun di bioskop. Film robot yang ditinggal sendirian di bumi, terus bersih-bersih sampah. Katanya temennya nangis dari awal sampai akhir, sampai orang di sebelahnya ngasih tisu.”

Aku membeku dengan kue sus setengah di mulut.

Aku ingat film itu. Tahun kedua. Kami berlima menonton di bioskop di Bandung karena Gilang memenangkan tiket gratis dari undian apotek. Aku menangis dari menit kelima. Aku menangis sampai lampu menyala. Dan orang di sebelahku, yang memberiku tisu, satu bungkus penuh, tanpa bicara sepatah kata pun—

“Itu kamu, kan?” tanya Bu Ratna.

“Itu saya,” bisikku.

“Nah.” Bu Ratna tersenyum puas. “Ibu langsung tahu begitu Ryan bilang namamu kemarin. Cuma ada satu Nadira yang bisa bikin anak Ibu cerita lebih dari tiga kalimat.”


Kami membicarakan kue. Bu Ratna mengeluarkan buku tulis bersampul plastik berisi daftar menu, ditulis tangan dengan huruf yang rapi dan miring, setiap halaman dihiasi gambar kecil kue yang digambar dengan pulpen biru. Aku memesan dua ratus kue sus berlapis cokelat putih dengan taburan emas untuk tema Golden Twenty-Eight, dan Bu Ratna mengangguk dengan serius, mencatat semuanya, lalu bertanya, “Yang ulang tahun suka pandan?”

“Nggak, Bu. Evan benci pandan.”

“Tapi Gilang pesan pandan.”

“Gilang yang salah.”

Bu Ratna mencatat: Pandan: JANGAN (Gilang salah).

Lalu dia bertanya apakah aku sudah punya pacar. Lalu dia bertanya apakah aku bisa masak. Lalu dia bercerita tentang bebek Bu Darsih yang kesleo karena dikejar anjing tetangga, dan aku tertawa sampai es tehku hampir tumpah.

Lalu dia berdiri. “Ibu ambilin contoh kotak kemasannya. Kamu mau pilih warna pita.”

Dia masuk ke dalam. Aku sendirian di ruang tamu.

Ruang tamu itu kecil, tapi setiap sudutnya terisi. Ada televisi tabung yang masih dipakai, ditutupi kain renda. Ada foto pernikahan hitam putih di dinding: Bu Ratna muda dengan kebaya, di sebelah laki-laki kurus berkacamata yang wajahnya mirip sekali dengan Ryan, terutama di cara dia tidak tersenyum tapi matanya tersenyum. Ada kalender dari toko emas. Ada jam dinding yang berdetak terlalu keras.

Dan ada rak kaca di pojok.

Aku berdiri dan mendekatinya tanpa sadar.

Rak itu penuh medali.

Bukan satu atau dua. Belasan. Medali emas, perak, perunggu, dengan pita warna-warni yang mulai pudar. Aku membaca tulisan di beberapa di antaranya. Kejuaraan Atletik Pelajar se-Jakarta Selatan, 5.000 m Putra, Juara 1. Lomba Lari 10K HUT Kota, Kategori Umum, Juara 2. Pekan Olahraga Mahasiswa Jawa Barat, 5.000 m, Juara 1.

Di tengah rak, ada foto berbingkai. Ryan, mungkin umur dua puluh, dua puluh satu, memakai kaos tanpa lengan bernomor dada, berlari di lintasan atletik merah dengan mulut terbuka dan wajah penuh keringat. Kakinya terangkat tinggi di udara. Kedua kakinya. Lurus. Kuat. Seperti tidak pernah ada yang bisa menghentikannya.

Aku menatap foto itu lama.

Ryan pelari.

Delapan tahun. Delapan tahun aku mengenalnya. Aku tidak tahu dia pelari.

“Itu dulu,” kata Bu Ratna di belakangku.

Aku berbalik. Dia berdiri di pintu dapur dengan tiga contoh kotak kue di tangan: putih, krem, dan emas.

“Ryan lari dari SMP,” katanya, berjalan mendekat dan berdiri di sebelahku di depan rak. “Pelatihnya bilang dia bisa ikut pelatnas. Dia dapat beasiswa atlet di kampus. Setiap pagi jam lima sudah lari keliling kampus. Ibu sampai kesel, wong anaknya pulang liburan juga masih lari jam lima pagi, bangunin tetangga.”

“Sekarang nggak lari lagi?”

Bu Ratna diam. Dia menatap foto Ryan di lintasan merah.

“Sejak kecelakaan,” katanya, “nggak pernah lagi.”

Jam dinding berdetak. Keras. Terlalu keras.

“Kakinya, ya, Bu?” tanyaku pelan. “Aku baru tahu kemarin dia dipasang pen.”

“Dua.” Bu Ratna mengangguk. “Tulang kering sama panggul. Punggungnya juga, dijahit dua puluh tiga jahitan.” Dia mengusap kaca rak dengan ujung celemeknya, pelan, seolah ada debu, padahal tidak ada. “Empat bulan dia di Bandung, Nduk. Ibu bolak-balik naik kereta tiap minggu. Kadang tidur di kursi rumah sakit. Waktu itu Ibu pikir dia nggak bakal jalan lagi.”

“Kecelakaan motornya parah banget ya, Bu.”

Bu Ratna berhenti mengusap kaca.

“Motor?” katanya.

Aku menatapnya. Dia menatapku. Di matanya, sesuatu bergerak. Seperti ikan di bawah permukaan air yang tenang.

“Iya, Bu. Kecelakaan motor. Ryan bilang dia kecelakaan motor waktu pulang dari acara kampus.”

“Ryan nggak bawa motor ke Bandung.” Bu Ratna mengatakannya pelan, seperti orang yang sedang mengingat sesuatu sambil bicara. “Motornya dijual pas semester tiga. Buat bayar kos. Dia jalan kaki ke mana-mana, wong kosnya dekat kampus. Yang nabrak dia itu mobil, Nduk. Malam-malam, hujan. Mobilnya kabur. Polisi nggak pernah nemu.”

Gelas es teh di tanganku tiba-tiba terasa sangat dingin.

“Mobil?” kataku.

“Mobil.” Bu Ratna menatapku lebih lama. Lalu, pelan, dia mengerutkan dahi. “Lho. Ryan bilang ke temen-temennya motor?”

Aku tidak bisa menjawab.

Malam itu. Malam yang sama. Hujan. Mobil yang kabur.

Mobil hitam. Tanpa lampu. Yang meraung dari kegelapan ke arahku.

“Bu,” kataku, dan suaraku keluar aneh, tipis. “Ryan ditabrak di mana?”

Bu Ratna membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Dia menatapku dengan mata yang sama dengan mata Ryan. Tenang. Sedikit mengantuk. Dan di bawahnya, sesuatu yang tajam, yang tidak melewatkan apa pun, sedang menimbang-nimbang.

“Ibu sudah tua,” katanya akhirnya. Pelan. “Ingatan Ibu sudah nggak bagus. Mungkin Ibu salah. Mungkin memang motor. Ryan yang lebih tahu.”

Dia meletakkan tiga contoh kotak kue di meja. Putih. Krem. Emas.

“Kamu mau warna apa, Nduk?”


Aku memilih emas. Aku tidak ingat kenapa. Aku tidak ingat apa yang Bu Ratna katakan selama setengah jam berikutnya, walaupun aku ingat aku mengangguk dan tersenyum dan tertawa di tempat yang mungkin tepat.

Yang aku ingat adalah album foto.

Bu Ratna mengeluarkannya waktu aku sudah mau pamit, mungkin karena dia merasa bersalah atas sesuatu, mungkin karena dia ingin menunjukkan sesuatu, mungkin karena dia hanya seorang ibu yang suka menunjukkan foto anaknya pada siapa pun yang mau melihat. Album bersampul kain cokelat, tebal, dengan sudut-sudut yang sudah lusuh.

“Ini waktu di rumah sakit,” katanya, membuka halaman di tengah. “Ibu fotoin terus. Biar nanti Ryan lihat, dia pernah sekuat itu.”

Foto-foto itu dicetak di kertas foto murah, warnanya sedikit kekuningan. Ryan di ranjang rumah sakit dengan kaki digantung tali. Ryan duduk di kursi roda di lorong. Ryan berdiri dengan dua tongkat, wajah pucat, berkeringat, tapi tidak menangis. Ryan di ruang fisioterapi dengan seorang perempuan muda berseragam putih, yang tangannya terangkat seperti dirigen orkestra. Mbak Ayu, tulis Bu Ratna di bawahnya dengan pulpen biru. Fisioterapis yang ngajarin napas.

Napas. Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.

Dan di beberapa foto, ada orang lain.

Evan, di kursi plastik di samping ranjang, tidur dengan kepala di tepi kasur. Di bawahnya Bu Ratna menulis: Nak Evan. Dua minggu nungguin terus.

Gilang, memegang kotak P3K oranye—yang sama, yang masih dibawanya sampai sekarang—dengan wajah serius seperti dokter yang sedang visit. Nak Gilang. Bawa vitamin terus. Kebanyakan.

Dan Zaza.

Zaza di banyak foto. Lebih banyak dari Evan. Lebih banyak dari Gilang. Zaza menyuapi Ryan bubur. Zaza membacakan sesuatu dari ponselnya. Zaza mendorong kursi roda di lorong. Zaza tertidur di sofa ruang tunggu dengan jaket menutupi badannya.

Nak Zafrina. Datang tiap hari. Nggak pernah absen. Anak baik.

Aku menatap foto-foto itu. Tanganku dingin.

Zaza tidak pernah bilang. Selama lima tahun, Zaza tidak pernah sekali pun bilang dia menjenguk Ryan setiap hari. Waktu aku masih di Bandung, pusing karena gegar otak, Zaza menjengukku dua kali. Dua kali. Dia bilang dia sibuk dengan skripsi.

Dia tidak sibuk dengan skripsi. Dia di rumah sakit lain. Setiap hari.

“Kamu nggak ada di sini,” kata Bu Ratna pelan.

Aku mengangkat kepala.

“Bukan nyalahin,” katanya cepat, menepuk tanganku. “Ibu tahu kamu juga kecelakaan malam itu. Ryan cerita. Kamu juga dirawat. Kamu juga sakit.” Dia tersenyum, tapi senyumnya sedih. “Ibu cuma bilang. Kamu nggak ada di foto-foto ini. Nanti kalau kamu ketemu Ryan, jangan merasa bersalah, ya. Dia nggak pernah nyalahin siapa-siapa.”

Dia menutup album itu.


Di jok belakang ojol, perjalanan pulang dari Pasar Minggu ke kos, aku menatap jalan dan tidak melihat apa pun.

Mobil.

Bukan motor. Mobil. Malam yang sama. Hujan. Kabur. Tidak pernah ditemukan.

Otakku menyusun potongan-potongan dengan kecepatan yang membuatku pusing.

Mobil hitam itu hampir menabrakku. Lalu seseorang—Evan—menarikku, memunggungi mobil itu. Mobil itu oleng. Kabur. Dan dalam pelariannya, di jalan yang gelap dan basah, mobil itu menabrak orang lain. Seseorang yang sedang berjalan kaki pulang dari acara kampus. Seseorang yang tidak punya motor.

Ryan.

Mobil yang sama. Pasti mobil yang sama. Berapa banyak mobil yang kabur dari tabrakan di sekitar kampus di malam yang sama, di hujan yang sama?

Dan Ryan tahu. Dia pasti tahu. Dia pasti tahu bahwa mobil yang menghancurkan kakinya, yang membuatnya kehilangan beasiswa dan medali dan lintasan lari merah, adalah mobil yang sama yang hampir menabrakku.

Dan dia bilang motor.

Dia bilang motor, supaya aku tidak menghubungkannya. Supaya aku tidak tahu bahwa kakinya rusak karena mobil yang mengejarku. Supaya aku tidak merasa bersalah.

Lima tahun. Lima tahun dia berbohong supaya aku tidak merasa bersalah.

Aku menutup mulut dengan tangan. Abang ojol menoleh sedikit lewat spion.

“Mbak? Nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Bang.” Suaraku pecah. “Debu.”

Aku menangis diam-diam di jok belakang ojol, dengan helm kebesaran yang menutupi setengah wajahku, sepanjang jalan dari Pejaten sampai Mampang.

Aku menangisi Ryan yang berlari di lintasan merah dengan kedua kaki terangkat tinggi. Aku menangisi medali-medali yang berdebu di rak kaca. Aku menangisi sepatu lari yang tidak pernah kulihat tapi entah bagaimana bisa kubayangkan. Aku menangisi foto-foto kekuningan di album kain cokelat, di mana ada Evan dan Gilang dan Zaza, dan tidak ada aku.

Dan aku menangisi kenyataan bahwa selama ini aku berpikir aku yang terluka paling parah malam itu.


Sampai di kos, aku membuka ponsel.

Aku: Yan. Aku udah dari rumah Ibu. Kuenya enak banget.

Dia membalas sepuluh menit kemudian. Mungkin dia memang sedang survei di Karawang, di bawah matahari, dengan peta dan alat ukur.

Ryan: 👍

Aku menatap jempol itu.

Aku mengetik: Yan, kenapa kamu bilang motor?

Aku menatap kalimat itu lama. Jariku di atas tombol kirim.

Aku menghapusnya.

Aku mengetik: Yan, mobil yang nabrak kamu itu mobil hitam?

Aku menghapusnya juga.

Aku mengetik: Maaf.

Hanya itu. Satu kata. Maaf karena tidak pernah menjengukmu. Maaf karena tidak pernah bertanya. Maaf karena tertawa setiap kali Gilang bilang telat lulus. Maaf karena mobil yang mengejarku menghancurkan kakimu dan kamu harus berbohong lima tahun supaya aku tidak tahu.

Aku tidak mengirimnya.

Aku menaruh ponsel di dada dan menatap langit-langit kos yang catnya mengelupas di pojok.

Dari jendela, lampu jalan di depan kos berkedip-kedip lemah. Dan di bagian belakang kepalaku, tepat di titik yang dulu benjol sebesar telur puyuh, ada sesuatu yang berdenyut.

Pelan. Seperti ketukan di pintu yang terkunci.